Friday, March 16, 2018

My Golden Life Ep 48 Part 2

Sebelumnya...


Ji An minta maaf pada ayah dan ibu karena tidak bisa mengantar mereka pulang karena ia menggunakan mobil truk. Ayah tidak masalah dan menyuruh mereka membantu orang tua Ji Soo yang sedang terkena masalah. Hyuk menawarkan dirinya, mengantar ayah dan ibu pulang tapi ibu menolak karena ia mau kembali ke toko dan arah tokonya berlawanan. Ayah lalu menggandeng ibu pergi.


Ibu merasa bersalah karena tidak bisa membantu Ji An dan Ji Soo. Ayah yang mau pergi ke suatu tempat pun berkata, kalau ia hanya bisa mengantar ibu sampai ke halte.


Hyuk yang baru sampai di kantornya merasa bingung karena Ji An sudah sampai duluan di sana. Hyuk lantas mengajak Ji Soo turun.


Saat membuka sabuk pengamannya, Ji Soo teringat janjinya pada Hee untuk putus dari Hyuk jika identitasnya menyebabkan masalah lagi pada mereka.


“Kau sebaiknya pergi duluan. Katamu kau ada rapat.” Ucap Ji Soo.

“Aku membatalkannya.” Jawab Hyuk.

“Ini masalah keluargaku. Kau tidak perlu membatalkan rapatmu.” Ucap Ji Soo.

“Jika ini soal keluargamu, ini masalahku juga.” Jawab Hyuk.

“Tidak. Kita hanya berkencan. Kau tidak perlu merasa bertanggung jawab atas keluargaku. Aku mau kau fokus pada pekerjaanmu.” Ucap Ji Soo.

“Kita harus saling membantu karena berkencan.” Jawab Hyuk.


“Kau tidak bisa bekerja karenaku. Kau mengantarkanku ke Jeongseon dan bahkan banyak hal sebelum itu juga. Aku tidak mau menyita waktumu karena masalah keluargaku.” Ucap Ji Soo.

“Kau menyembunyikan sesuatu, bukan?” tanya Hyuk.

“Apa?” kaget Ji Soo.

“Kenapa kau memperlakukanku seperti orang asing? Yong Gook mengajukan diri untuk membantumu juga. Ji An tidak ada kaitannya dengan Do Kyung, tapi dia bergegas kemari. Bagaimana bisa kau menyuruh pacarmu tidak ikut campur?” jawab Hyuk.

“Aku merasa lebih tidak enak karena kau pacarku.” Ucap Ji Soo.

“Lantas, aku akan membantumu sebagai teman Ji An. Lantas, mari jangan menjadi pasangan selama menyelesaikan masalah ini. Makin banyak bantuan, makin baik.” Jawab Hyuk.

Hyuk lalu masuk duluan ke kantornya. Ji Soo tidak bisa lagi melarang Hyuk membantunya.


Yong Gook meletakkan daftar pemegang saham minoritas di atas meja dan berkata bahwa yang meminta bantuan pertama kali adalah Gi Jae.

“Ini lebih buruk dari dugaan kita.” Ucap Ji An.

“Memang jika mereka mendapatkan surat kuasa dari pemegang saham minoritas.” Jawab Hyuk.

“Apakah separah itu? Kukira Kakek punya banyak saham.” Ucap Ji Soo.

“Rumornya lebih buruk daripada dugaan keluarga Do Kyung. Ini pertarungan saham. Bibinya Do Kyung sudah siap.” Jawab Yong Gook.

“Karena Do Kyung tidak tahu, mereka tidak akan tahu berapa banyak saham yang bibinya punya.” Ucap Hyuk.

“Untungnya, aku punya saham Haesung FNB. Jadi, aku akan berusaha menghubungi pemegang saham minoritas, tapi jika sendirian, aku tidak bisa menghubungi semua orang di daftar ini.” Jawab Yong Gook.


Ji An lalu melihat daftar itu dan bertanya kapan rapat pemegang sahamnya.


Keempat orang ini mulai menjalankan tugasnya. Mereka menghubungi satu per satu orang yang ada di dalam daftar pemegang saham minoritas. Mereka berusaha membujuk orang2 itu untuk memihak pada Do Kyung.


Di tempat lain, Do Kyung juga membujuk pemegang saham dengan mengingatkan mereka pada prestasi Tuan Choi dan Nyonya No.


Jin Hee juga tidak mau kalah. Ia membujuk para pemegang saham untuk memihak padanya.


Tuan Choi akhirnya berhasil menghubungi Yang Joon Ho, pemilik 1% saham yang sebelumnya dibilang Do Kyung sedang berada di Spanyol.


Do Kyung menjalankan pesan mamanya untuk tetap menjalankan tugasnya sebagai Presdir Haesung.


Yong Gook menerima daftar dari orang2 yang bersedia memberikan surat kuasa dari Hyuk, Ji An dan Ji Soo.


Tuan Choi memberitahu anak dan istrinya kalau Yang Joon Ho ada di pihak mereka. Nyonya No juga memberitahu mereka kalau ia sudah menerima telepon dari Gil Min Ah

“Lantas, kita setidaknya punya jarak dua persen.” Ucap Do Kyung.


Di rumah kos, Yong Gook merasa bingung dengan sikap Hyuk dan Ji Soo yang tidak saling bicara satu sama lain. Ia berhenti makan dan terus memperhatikan mereka berdua.


Ji An baru saja sampai di rumah ketika Do Kyung menelponnya. Do Kyung berkata, kalau dia sudah menerima surat kuasa dari beberapa pemegang saham minoritas yang Ji An kirimkan. Ji An pun berharap kalau surat kuasa itu bisa membantu Do Kyung.

“Ini melebihi dari cukup. Kau tidak perlu mencari lagi. Kami akan bicara dengan pemegang saham utama dengan suara penentu.” Ucap Do Kyung.

“Sungguh? Syukurlah.” Jawab Ji An.


“Aku akan berterima kasih kepadamu setelah rapat.” Ucap Do Kyung.

“Tidak perlu. Aku tidak melakukannya agar mendapat ucapan terima kasih. Ini soal Ji Soo.” Jawab Ji An.


Tuan Seo mendengarkan pembicaraan Ji An di kamar. 



Setelah yakin Ji An sudah selesai bicara dengan Do Kyung, Tuan Seo pun keluar dari kamar dan menanyakan perkembangannya.

“Mereka mendapatkan dukungan yang mereka perlukan. Cukup.” Jawab Ji An.

“Bibinya Ji Soo sudah lama merencanakannya. Persiapan mereka pasti matang.” Ucap Tuan Seo.

“Kurasa sudah tidak masalah karena Pimpinan punya banyak. Beberapa orang punya suara penentu, tapi mereka punya 2,5 persen.” Jawab Ji An.

“Apa dia menghitung saham yang bibinya beli dengan nama pinjaman?” tanya Tuan Seo.

“Aku yakin sudah. Kami juga sudah memberinya beberapa surat kuasa.” Jawab Ji An.


Tuan Seo lalu melihat daftar pemegang saham minoritas. Ji An bilang, ia menandai orang yang sudah setuju memberikan dukungannya pada Do Kyung tapi belum memberikan surat kuasa. Ji An yang merasa lelah, lantas pamit ke kamarnya.


Tuan Seo menyusul Ji An ke kamar. Ia memberikan amplop berisi uang 20.000 dollar pada Ji An. Ji An terkejut. Tuan Seo melarang Ji An bekerja paruh waktu untuk mencari biaya hidup di Finlandia. Ia menyuruh Ji An hidup di sana dengan uang yang ia berikan dan menyuruh Ji An pergi secepat mungkin.

“Dari mana Ayah mendapatkan ini?” tanya Ji An.

“Seok Doo dan ayah menjual aksesori sepeda motor bersama-sama di luar negeri. Pabrik Vietnam Seok Doo memproduksi barang yang ayah ambil. Begitulah ayah menghasilkan 10.000 dolar kali terakhir.” Jawab Tuan Seo.

“Sungguh?” tanya Ji An.


“Ya, jadi, ayah meminta bayaran di muka karena ini milik ayah.” Jawab Tuan Seo.

“Lantas, Ayah kembali berbisnis?” tanya Ji An.

“Ya.” Jawab Tuan Seo sembari tersenyum.

Ji An pun tersenyum lega karena kondisi ayahnya sudah mulai membaik.


Begitu turun ke lantai bawah, Tuan Seo kembali membaca daftar pemegang saham minoritas itu. Tuan Seo membaca alamat salah satu pemilik saham  yang tinggal di Heungin Villa, Bomyeong-dong.

“Aku membangun vila itu bertahun-tahun lalu.” Ucap Tuan Seo.

Tuan Seo merasa aneh karena pemiliknya memegang saham yang cukup banyak.


Lantas, Tuan Seo pergi ke villa itu. Tuan Seo mengaku, diutus oleh Jin Hee untuk mengambil surat kuasa. Wanita bernama Lee Go Eun itu mengatakan, bahwa dia sudah memberikan surat kuasanya.

“Apa No Jin Hee meminta Anda membeli saham?” tanya Tuan Seo.

“Kenapa kau menanyakan itu?” tanya Lee Go Eun.

“Ini amat penting. Itu bukan uang Anda, bukan?” tanya ayah.

“Tidak, itu uangku.” Jawab Lee Go Eun gugup.

“Lantas, kenapa kau memberikan surat kuasa kepada Bu No?” tanya ayah.

“Aku bisa melakukan apa pun yang kuinginkan dengan itu.” Jawab Lee Go Eun.

“Tapi Anda berjanji memilih mempertahankan jabatan No Myung Hee.” Ucap ayah.

“Aku berubah pikiran.” Ucap Lee Go Eun, lalu buru-buru menutup pintu rumahnya.


Tuan Seo pun terpaksa pergi. Dan, di depan rumah ia melihat seorang anak laki-laki turun dari mobil jemputan. Sang guru mengucapkan sampai jumpa pada anak yang bernama Yoon Ho itu.

“Dah, sampai jumpa pekan depan. Sampai jumpa pekan depan.”

Yoon Ho terus mengulang kalimat itu sampai ia masuk ke rumahnya Go Eun.


Tuan Seo lalu pergi ke tempat mencurigakan lainnya.


Di tengah jalan, Tuan Seo lagi2 muntah.

“Apa Anda membeli saham-saham ini untuk orang lain? Anda bisa terlibat masalah jika dituntut.” Ucap Tuan Seo pada seorang wanita yang ia temui. Dan wanita itu pun buru2 menutup pintu rumahnya.


Lalu, dengan tertatih2 Tuan Seo menaiki tangga dan pergi ke rumah lainnya.


Ayah lalu duduk di depan sebuah toko dan memakan makanan lunak. Kemudian, Seok Doo menelponnya dan mereka bertemu di sebuah restoran.


“Ji An menelepon. Untuk menanyakan apakah kita berbisnis bersama. Apa aku membayarmu 20.000 dolar di muka. Jadi, kubilang, ya.” Ucap Seok Doo.

Tuan Seo pun lega, “Bagus.”

“Dari mana kau mendapatkan 20.000 dolar itu?” tanya Seok Doo.

“Aku meminjamnya dari seseorang.” Jawab Tuan Seo.

“Kau tidak bisa ke mana-mana. Ada apa denganmu? kau tampak tidak sehat.” Ucap Seok Doo.

“Apa aku tampak seburuk itu?” tanya Tuan Seo.

“Kau tampak buruk.” Jawab Seok Doo.


“Lantas, aku sebaiknya berfoto sebelum tampak lebih buruk.” Ucap Tuan Seo.

“Kau diberi uang asuransi untuk diagnosis kankermu? Apa uang itu yang kau berikan ke Ji An?” tanya Seok Doo.

Tuan Seo pun mengangguk, mengakui semuanya. Ia berusaha tegar.


Hyuk dan Ji An kembali membahas masalah Haesung dengan Yong Gook. Yong Gook bilang, jika Tuan Jung menjadi CEO dan mengubah kebijakan perusahaan, maka orang tua Do Kyung dan CEO No tidak akan pernah bisa kembali ke Haesung.

Ji An pun terkejut.

“Itulah alasan kita harus memberikan suara guna mencegah Myung Soo menjadi CEO.” Ucap Yong Gook lagi.


Lalu Ji An dihubungi ayahnya dan mereka bertemu di kafe. Tuan Seo memberikan daftar nama pemegang saham minoritas yang sudah diselidikinya. Tuan Seo bilang, bibinya Do Kyung menggunakan nama pinjaman. Lebih lanjut, Tuan Seo menjelaskan kalau ia yg membangun salah satu flat di area tersebut dan orang2 yang menghuni flat itu tidak bisa membeli saham senilai 300 ribu dollar.

“Mereka bilang begitu?” tanya Ji An.

“Tidak, sudah jelas mereka menyangkalnya. Tapi mereka bilang mereka memberimu surat kuasa dan memberikannya kepada No Jin Hee.” Jawab Tuan Seo.

“Mungkin mereka berubah pikiran.” Ucap Ji An.

“Bukan seperti itu. Ada empat orang di sana. Ayah menemukan empat orang yang mencurigakan. Tapi tidak ada cara untuk membuktikannya. Jadi, hubungi kakaknya Ji Soo dan suruh dia memeriksa mereka.” Suruh Tuan Seo.


“Kenapa Ayah sampai serepot ini? Ini pasti butuh berhari-hari.” Ucap Ji An.

“Pikiran orang berubah seperti air yang mengalir. Bahkan kerikil bisa mengubah arusnya. Lebih baik bersiap daripada menyesal nantinya.” Jawab Tuan Seo.

“Apa Ayah takut aku tidak pergi ke Finlandia? Bahwa aku tidak bisa pergi jika sesuatu terjadi kepadanya? Apa Ayah takut aku tidak akan pergi karena aku menyukainya? Kenapa Ayah bertindak sejauh ini?” tanya Ji An.

“Mereka orang tuanya Ji Soo. Itu juga melibatkan pria yang kau cintai.” Jawab Tuan Seo.

Ji An kaget, Ayah.

“Dia harus tenang di sini agar kau bisa pergi dengan tenang. Serta ayah berutang kepada keluarga itu.” Ucap Tuan Seo.


Do Kyung sedang rapat dengan tim pemasaran saat ia menerima pesan dari Ji An. Dalam pesannya, Ji An bilang akan menelpon Do Kyung untuk membahas sesuatu.


Do Kyung bergegas ke ruangannya dan menelpon Ji An. Do Kyung terkejut mengetahui Tuan Seo bertindak sejauh itu. Ji An berkata, itu karena ayahnya sudah melalui banyak hal saat berbisnis dulu. Tapi Do Kyung bilang, akan sulit menemukan bukti kalau bibinya menggunakan nama pinjaman. Do Kyung juga bilang kalau mereka sudah mendapatkan saham yang mereka butuhkan. Ji An pun lega. Tapi Do Kyung tetap meminta Ji An mengirimkannya foto2 nama yang dipinjam bibinya. Do Kyung berkata, akan menyuruh tim legal memeriksanya.

“Baik.” Ucap Ji An.

“Terima kasih. Sampaikan terima kasihku kepada ayahmu juga.” Jawab Do Kyung.




Seketika, suasana mereka berubah canggung. Ji An beralasan, itu karena Ji Soo lalu buru2 memutuskan sambungan teleponnya. Do Kyung pun hanya bisa menghela nafas dan menatap nama Ji An di layar ponselnya.


Ji Soo cemas, ia takut kalau kakaknya tidak akan memeriksa nama2 itu. Ji An berkata, kalau Do Kyung pasti akan memeriksanya untuk membuat rencana cadangan. Ji An lalu bertanya, apa Ji Soo masih menghubungi para pemegang saham. Bukan menjawab, Ji Soo malah nanya apa Ji An marah karena kakaknya balik ke Haesung.

“Kami putus setelah pekan yang sudah kami sepakati. Untuk apa aku kesal?” jawab Ji An.

“Tetap saja, perasaan tidak bisa begitu. Dia harus bertanggung jawab atas perasaannya.” Ucap Ji Soo.

“Kenapa aku harus menjadi beban? Aku tidak masalah dengan itu. Aku mengerti alasan Do Kyung berbuat seperti itu dan kami bahkan berkencan walaupun hanya sebentar. Aku akan melupakannya dan melanjutkan hidupku sendiri.” Jawab Ji An.

“Hanya membayangkan harus putus dengan Hyuk saja sudah membuatku mau menangis.” Ucap Ji Soo.

“Lantas, kenapa kau menjauh?” tanya Ji An.

“Aku berjanji kepada kakaknya. Jika aku menjadi beban baginya karena masalah keluargaku lagi, kubilang aku akan meninggalkannya.” Jawab Ji Soo.

“Itulah alasannya dia amat marah.” Ucap Ji An.

“Aneh sekali. Aku Seo Ji Soo, tapi mengkhawatirkan keluarga Choi Eun Seok.” Jawab Ji Soo.


Ji Ho lagi di warnet, membaca berita Haesung. Ji Ho cemas, ia takut Seohyun nangis lagi. Ji Ho lalu meraih ponselnya, hendak menelpon Seohyun tapi ragu. Ji Ho kemudian menepuk2 dadanya. Ia heran sendiri dengan perasaannya.


Ji Ho lalu mengingat2 saat ia mulai terpesona pada Seohyun. Ternyata saat itu, Seohyun mengajaknya minum bir tapi Ji Ho menolak dengan alasan ada rapat keluarga. Seohyun protes karena Ji Ho sudah berjanji akan menghiburnya. Seohyun lalu meyakinkan Ji Ho kalau rumor yang beredar soal ibunya itu salah. Ia yakin, ibunya tidak akan berbuah sejauh itu.

Flashback end...


Ji Ho kemudian bicara sendiri. Ia mengatai dirinya bodoh karena tidak berani menghubungi Seohyun. Ji Ho lalu memaksakan dirinya untuk menghubungi Seohyun. Tapi tetap saja, ia tak bisa menghubungi Seohyun karena gugup dan itu membuatnya stress sendiri.


Di kamarnya, Ji An mengirimkan formulir untuk kontes desain Unelma.


Tuan Seo kembali menyelidiki nama2 di daftar pemegang saham minoritas. Ia mendatangi flat itu lagi dan tanpa sengaja melihat bis jemputan anak2 yang ternyata milik Yayasan Angel.

Beralih ke CEO No yang ingin menghadiri rapat pemegang saham. Ia ingin berusaha sendiri meyakinkan para pemegang saham tapi dokter melarangnya pergi.

“Duduk dalam ruang rapat saja bisa membuat jantung Ayah tertekan.” sahut Tuan Choi.

“Kalian begitu tidak percaya diri? Kenapa kau tidak mengizinkan ayah menghadirinya?” tanya CEO No.

“Kudengar Bu Gil dan Pak Yang mengunjungi Kakek kemarin. Tidak perlu terlalu khawatir.” Jawab Do Kyung.

“Harga saham kita turun sejak Ayah dipecat. Media bereaksi negatif dan menyebutnya penggulingan.” Ucap Nyonya No.



Rapat pun dimulai. Nyonya No dan Jin Hee tampak begitu percaya diri.

Gi Jae dan Yong Gook juga ada di sana.

Nyonya No lalu menyuruh Do Kyung menunggu Nyonya Gil dan Tuan Yang diluar. Do Kyung pun berdiri dari mejanya, tapi tiba2 Nyonya Gil datang. Nyonya No berdiri dan mau menghampiri Nyonya Gil tapi Nyonya Gil malah pergi ke meja Jin Hee. Sontak, Do Kyung dan kedua ortunya kaget.


Begitu pula Tuan Yang yang juga memihak kubu Jin Hee.

“Berakhir sudah.” Ucap Tuan Choi.


Tuan Seo menghubungi Ji An. Ia meminta nomor Do Kyung.


Moderator menyuruh para hadirin yang setuju Tuan Choi dan Nyonya No dipecat untuk berdiri.

Jin Hee lah yang berdiri duluan, lalu diikuti Tuan Jung dan para pemegang saham lainnya.


Pemecatan Tuan Choi dan Nyonya No dikabulkan. Nyonya No syok.

“Pembahasan selanjutnya adalah penunjukan CEO baru. CEO Jung Myung Soo adalah kandidat tunggal.” Ucap moderator.


Tepat saat itu, Do Kyung dapat SMS dari Tuan Seo. 




Entah apa yang dikirimkan Tuan Seo, tapi setelah membaca pesan itu, Do Kyung langsung berdiri dan mengajukan dirinya untuk posisi CEO.

Sontak, semua yang hadir terkejut.


Do Kyung lantas maju ke depan dan memperkenalkan dirinya sebagai Presdir Haesung.

“Aku presdir Haesung Apparel, Choi Do Kyung. Aku mengajukan diriku sendiri untuk kandidat CEO.” Ucap Do Kyung lantang.


Tuan Choi dan Nyonya No tersentak.


Sementara Jin Hee nampak penasaran dengan rencana Do Kyung.


Yong Gook dan Gi Jae bingung, mereka tidak punya gambaran apa rencana Do Kyung.


Do Kyung dan Tuan Jung pun saling melemparkan tatapan tajam.

Bersambung.........

No comments:

Post a Comment