Senin, 10 Oktober 2016

Fantastic Ep 11 Part 2

Sebelumnya...


Mi Sun dan So Hye sama2 mau meminjamkan uang mereka untuk biaya perawatan ibu Seol. Mi Sun memiliki 16 juta won, sedangkan So Hye punya 15 juta won. Mi Sun yang tahu kebutuhan So Hye pun khawatir, karena So Hye tidak punya uang lagi selain yang 15 juta won itu. So Hye mengaku, kalau ia akan menerima royalty dalam bulan ini.


Sementara itu di kamar, Joon Gi tampak serius membaca sebuah novel. Sedangkan Hae Sung sibuk menghubungi So Hye. Hae Sung heran karena So Hye tidak bisa dihubungi. Hae Sung lantas melirik Joon Gi yang serius membaca.

“Aku tidak bisa mengatakan kepribadianmu menyenangkan atau aneh.” Ucap Hae Sung.



“Aku?” tanya Joon Gi sambil menatap heran Hae Sung.

“Kau terlihat seperti orang normal, jadi aku tidak tahu.” jawab Hae Sung.


“Apakah aku memiliki wajah yang keren? Kudengar wajahku tidak seperti orang sakit.” Ucap Joon Gi.

“Jadi itu sebabnya kau sering bertemu So Hye?” tanya Hae Sung.

“Kami memiliki pemahaman yang tidak akan bisa kau mengerti. Hubungan kami sangat lengket karena kami sama2 penderita kanker.  Haruskah kukatakan, aku sudah menjadi kekasih kanker daripada senior kanker?” jawab Joon Gi.

Hae Sung pun tertawa sebal….


Joon Gi lantas menyodorkan sebuah minuman pada Hae Sung. Hae Sung menolaknya. Ia berkata, tidak ingin minum itu. Tapi ternyata Joon Gi bukan mau memberikan minuman itu untuk Hae Sung. Joon Gi hanya mau Hae Sung membukakan tutup botolnya saja. LOL LOL…



Tak hanya itu, Joon Gi juga menyuruh Hae Sung meninggikan kasurnya. Hae Sung protes karena disuruh ini itu sama Joon Gi. Tapi ia langsung diam begitu Joon Gi memberinya tatapan galak.


“Bagaimana cara meninggikannya?” tanya Hae Sung.

“Ini saja kau tidak tahu, jadi bagaimana kau bisa menjadi wali So Hye.” jawab Joon Gi.

“Ini pertama kalinya aku melihat ini, jadi tentu saja aku tidak tahu. Biarkan aku melihatnya terlebih dahulu.” Ucap Hae Sung membela diri.


“Di sini ada tanda panah… jika aku memencet ini.. ah ini sangat mudah.” Ucap Hae Sung begitu berhasil menaik turunkan ranjang Joon Gi.


Joon Gi tersenyum geli melihat kelakuan ajaib Hae Sung. Berikutnya, Joon Gi menyuruh Hae Sung membawanya ke kamar mandi. Hae Sung menolaknya dengan keras. Joon Gi pun mengalah. Ia turun sendiri dari tempat tidur, tapi begitu kakinya menginjak lantai, ia langsung pura2 jatuh. Hae Sung pun langsung memegangi lengan Joon Gi. Joon Gi protes.


“Kenapa kau menarik lenganku? Seharusnya kau memegang pinggangku, jadi aku bisa bersandar padamu.” Ucap Joon Gi sambil meletakkan tangan Hae Sung ke pinggangnya.


“Aku harap kau tahu berapa yang harus kau bayar padaku untuk semua ini.” jawab Hae Sung.

“Berapa?” tanya Joon Gi.

“Kau tidak akan bisa menggantinya meskipun kau membayarnya miliaran.” Jawab Hae Sung.

“Lakukan dengan benar! Sudah kubilang pegang pinggulku.” Ucap Joon Gi sambil menarik paksa tangan Hae Sung ke pinggulnya.


Hae Sung yang geli, ogah melakukannya. Tapi Joon Gi tetap memaksa. Hae Sung pun tak punya pilihan lain selain mengantarkan Joon Gi ke toilet, meski sambil ngedumel. Sementara Joon Gi tampak puas bisa mengerjai Hae Sung.



Mi Sun dan So Hye menemani Seol menemui dokter. Seol meminta dokter merujuk ibunya ke rumah sakit terbaik agar sang ibu bisa segera di operasi.


Ibu Seol dirujuk ke rumah sakit Joon Gi. Begitu sampai di sana, Jamie dan beberapa dokter lainnya langsung menyambut ibu Seol. Tak lama kemudian, Hae Sung dan Joon Gi keluar. So Hye terkejut dengan kehadiran Hae Sung dan Joon Gi. Hae Sung bergegas membawa Joon Gi menghampiri So Hye.


“Kau tidak tahu? Rumah sakit ku terkenal dengan operasi terbaiknya.” Ucap Joon Gi.

“Kau pasti sangat cemas, kan?” tanya Hae Sung pada Seol.


“Jangan terlalu cemas. Aku sudah menerima rekam medis ibumu dari rumah perawatan. Dia akan baik2 saja setelah dioperasi.” Jawab Joon Gi.


“Dia adalah direktur rumah sakit ini, dan dia adalah dokter yang memberiku nasehat medis untuk dramaku.” Ucap So Hye pada Seol.


“Aku menyesal karena datang dengan kondisi seperti ini. Tapi itu benar, aku seorang dokter.” Jawab Joon Gi pada Seol.

“Tidak apa2. Terima kasih.” Ucap Seol.


Seol lantas mengikuti Jamie yang membawa ibunya masuk ke dalam rumah sakit.


“Kenapa kau tidak memberitahuku soal ini?” tanya Joon Gi pada So Hye.
 
“Kau sedang tidak baik, jadi aku…”

“Tapi kau bisa menelponku, kan?” tanya Hae Sung ke So Hye.
 
“Saat aku mendengarnya dari Chang Suk, kami langsung berlari ke sini. Berterima kasih lah padanya, sekarang aku punya nyeri otot.” Ucap Hae Sung lagi.


Mi Sun pun langsung mendekati Hae Sung dengan gaya seolah2 dia mau memukul Hae Sung. LOL LOL…. Mi Sun lantas ingin tahu apa Hae Sung sakit. Hae Sung pun dengan lebay nya langsung bercerita kalau ia hampir mati karena jatuh dari ketinggian 100 meter di lokasi shooting. Mi Sun menarik napas lega karena Hae Sung hanya jatuh dari ketinggian 100 meter saja.


Seol menunggu di depan ruang UGD ditemani Mi Sun dan So Hye. Seol berterima kasih pada kedua sahabatnya. So Hye pun berkata, kalau mereka tidak melakukan apa2. So Hye lantas memberikan sebuah amplop pada Seol. So Hye mengaku, ia mendapatkan amplop itu dari suster yang merawat ibu Seol di rumah perawatan. Seol pun membuka amplop itu. Isinya beberapa jumlah uang dan sebuah surat.

Putriku tersayang, Baek Seol. Aku merasa baik hari ini. Aku akhirnya bisa menuliskan surat ini untukmu. Anakku yang cantik dan baik. Kau pasti sudah banyak menderita karena aku. Kalau aku mati, tolong kremasi aku. Dengan cara itu, aku bisa pergi dengan tenang. Jangan habiskan uang untuk pemakamanku. Jangan pernah mengemis pada keluarga suamimu. Jangan menahan semuanya atau kau akan sakit. Hiduplah dengan kepala terangkat tinggi. Bentangkan sayapmu dan hiduplah bahagia.  Ibu mencintaimu.


Tangis Seol pecah usai membaca surat ibunya. So Hye dan Mi Sun berusaha menguatkan Seol. Tak lama kemudian, Jamie keluar dari ruang UGD. Jamie memberitahu Seol bahwa kondisi ibu Seol baik2 saja, jadi ibu Seol bisa segera dioperasi. Seol tersenyum haru dan berterima kasih pada Jamie.




So Hye datang menemui Joon Gi dan Hae Sung. So Hye datang untuk memberikan kabar gembira tentang ibu Seol. Joon Gi berterima kasih pada So Hye karena So Hye sudah memberikan kesempatan baginya untuk menolong orang lain. 




Hae Sung gak mau kalah, ia menyebut2 dirinya yang mendorong kursi roda Joon Gi. LOL LOL… tetep ye si Hae Sung…


“Aku akan pulang ke rumah bersama kedua temanku. Aku lega karena kalian ada di kamar yang sama.” Ucap So Hye.

“Pulanglah. Kau sudah menderita hari ini. Pulanglah dengan hati2.” Jawab Hae Sung.

“Telpon aku jika kalian membutuhkan sesuatu.” Ucap So Hye.


So Hye pun beranjak pergi….

“Telepon aku setelah kau sampai di rumah.” Pinta Hae Sung.

“Aku akan menelponmu juga.” ucap Joon Gi gak mau kalah.

“Hanya menelponku.” Balas Hae Sung.


So Hye, Mi Sun dan Seol ngobrol di ruang tengah. Seol heran darimana ibunya tahu masalahnya, padahal ia sudah berusaha keras menutupi masalahnya dari sang ibu. So Hye pun berkata, karena dia seorang ibu. Mi Sun setuju dengan ucapan So Hye.

“Meskipun Seok Won datang dan berbohong padaku, aku bisa mengetahuinya. Aku ibu yang melahirkannya, bagaimana aku tidak tahu?” ucap Mi Sun.


“Aku akan bercerai.” Ucap Seol, membuat kedua sahabatnya terkejut.

“Aku bersyukur karena mereka membayar lunas tagihan rumah sakit dan hutang kami. Karena aku bersyukur, aku menjadi pembantu mereka sebagai gantinya. Tapi sekarang aku ingin menjalani hidupku yang berbeda.” Ucap Seol lagi.

“Tapi perceraian lebih mudah dikatakan daripada dilakukan. Karena itu aku selalu meyakinkan orang2 yang menentangnya, tapi aku setuju. Pria itu sudah tidak punya harapan. Ibunya menjadikanmu pembantu karena dia membayar hutang ayahmu. Dasar keluarga gila!” maki Mi Sun.


“Aku tidak akan kehilangan apapun. Aku akan mengakhirinya.” Ucap Seol.

“Tidak, kau harus lebih rasional kali ini.” jawab So Hye.

“Itu benar. Saat wanita membicarakan perceraian karena emosi, mereka tidak akan mendapatkan tunjangan.” Ucap Mi Sun.

“Apa mereka terlihat seperti orang yang akan memberiku tunjangan? Bahkan meskipun aku harus melayani mereka, aku tidak mau hidup dengan menerima bantuan orang lain.” Jawab Seol.

“Ini bukan soal tunjangan. Bagaimana kalau dia tidak mau bercerai? Bukankah kau bilang dia mencalonkan diri sebagai walikota? Apakah dia akan membiarkanmu merusak karir politiknya? Kita butuh rencana.” Ucap So Hye.


“Seol-ah, apa dia memukulmu?” tanya Mi Sun.

“Kalau seseorang menggunakan kekerasan, itu mungkin aku. Aku Baek Seol!” jawab Seol, yang membuat kedua sahabatnya tertawa.

“Lalu apa yang dilakukan ibu mertuamu dan kakak iparmu?” tanya Mi Sun.

“Mereka biasanya tidak menggunakan kekerasan.” Jawab Seol.

“Kalau begitu, kita lakukan cara ini.” ucap So Hye.
  

Cara apa?? Belum sempat kita mengetahuinya, kita sudah dialihkan pada adegan Jamie yang bingung karena mendapati kamar sang kakak kosong. Jamie lalu kesal karena menemukan banyak bungkus camilan di atas meja.


Joon Gi dan Hae Sung tampak sibuk melahap ramen yang baru mateng di rumah kaca. Baru menyantap ramennya sedikit, Jamie sudah datang dan menatap galak keduanya. Hahahah….

“Kau tidak mengunci pintunya?” tanya Joon Gi.

“Bukankah kau bilang ini tempat rahasia?” ucap Hae Sung.

“Bagaimana mungkin aku merahasiakan tempat ini dari adikku.” Jawab Joon Gi.


“Cepat jatuhkan sumpitmu dan kembali ke kamarmu!” suruh Jamie galak.

“Tapi kami belum menghabiskan ini.” ucp Hae Sung.

Hae Sung pun langsung diam saat Jamie menatapnya dengan galak. LOL LOL…



Hae Sung memapah Joon Gi ke tempat tidur. Jamie mengancam akan memukul mereka jika mereka jalan2 keluar lagi. Setelah Jamie pergi, Hae Sung mengirimi So Hye pesan sedangkan Joon Gi memilih tidur.

“Princess So Hye, minum obatmu dan tidurlah.” Ucap Hae Sung.

“Kau juga harus tidur, bintang papan atas. Dan jangan lupa, perlakukan Dokter Hong dengan baik.” Jawab So Hye.


Usai ber-SMS ria dengan So Hye, Hae Sung melirik Joon Gi yang sudah mulai terlelap. Hae Sung kemudian teringat kata2 yang pernah dikatakan Joon Gi padanya saat ia dipaksa melakukan pemeriksaan darah.

“Kau bisa mencintai seseorang hanya ketika kau sehat. Kebahagiaan seorang wanita adalah bersama pria yang sehat.” Ucap Joon Gi.


Hae Sung lantas turun dari tempat tidurnya dan menyelimuti Joon Gi. Tak hanya itu, Hae Sung juga mencoba mendengarkan nafas Joon Gi. Tiba2 saja, Joon Gi terbatuk membuat Hae Sung terkejut setengah mati.


“Apa yang kau lakukan? Apa kau sudah lupa pertolongan pertama yang kuajarkan sebelumnya?” tanya Joon Gi sambil tertawa geli.


“Kau benar2 ingin aku melakukannya padamu!” jawab Hae Sung kesal, lalu menekan2 dada Joon Gi.

“Aku baik2 saja sekarang.” ucap Joon Gi, tapi Hae Sung masih terus menekan dada Joon Gi. Hae Sung baru berhenti ketika Joon Gi merasa kesakitan. Tapi Joon Gi malah ketawa geli melihat ekspresi Hae Sung.

“Kau benar2 lupa yang kuajarkan padamu sebelumnya?” tanya Joon Gi lagi.

“Kau menakutiku. Jantungku berdetak cepat.” Jawab Hae Sung sambil naik ke kasurnya.


Malam semakin larut. Hae Sung mulai terlelap. Tapi tidak dengan Joon Gi. Joon Gi lantas memanggil Hae Sung, tapi karena Hae Sung diam saja Joon Gi pun mengira kalau Hae Sung sudah tidur. Tak lama kemudian, Hae Sung menyahut dengan mata tetap terpejam.

“Aku sudah bertanya2 selama ini. Apa kau tahu CEO yang mengancam So Hye?” tanya Joon Gi.

“CEO Choi Jin Sook.” Jawab Hae Sung.

“Kenapa dia bisa berinvestasi di Hitman?” tanya Joon Gi.


“Kenapa kau mau tahu?” tanya Hae Sung.

“Aku hanya penasaran berapa banyak. Biarkan aku memberimu beberapa uang.” Ucap Joon Gi.

“Berhentilah bicara omong kosong dan tidurlah.” Jawab Hae Sung.


Malam kian larut. Joon Gi dan Hae Sung sudah terlelap. Tapi beberapa saat kemudian, Hae Sung terbangun dan memanggil Joon Gi. Joon Gi menyahut dengan mata tetap terpejam. Hae Sung menanyakan soal dana yang dibicarakan Joon Gi tadi. Joon Gi tertawa geli.

“Aku sedang berdebat apakah aku harus mendirikan sebuah rumah produksi dan membeli Hitman dari CEO Choi?” ucap Hae Sung.

“Kedengarannya menarik.” Jawab Joon Gi.
  

“Tapi itu tidak semudah yang dikatakan. Aku bahkan belum pernah membeli tiket pesawat tanpa manajerku. Bisakah aku melakukannya? Jika semuanya tidak berjalan dengan baik, aku bisa kehilangan semua uangku.” Ucap Hae Sung.

“Bukankah kau bilang itu berarti bagimu? Kenapa kau tidak mau mencoba?” tanya Joon Gi.

“Kau begitu enteng melakukan ini karena peduli pada orang lain?” tanya Hae Sung.

“Kalau aku jadi kau, aku akan benar2 melakukannya. Untuk wanita yang kau cintai, untuk pekerjaanmu dan untuk kebahagiaanmu sendiri. Hae Sung-ssi, kepalkan tanganmu.” jawab Joon Gi.


“Tanganku? Untuk apa?” tanya Hae Sung sambil mengepalkan tangannya.

“Mereka yang mencintai bintang, tidak takut pada malam. Kalau kau masih takut pada malam, kau selalu bisa mencintai bintang yang lebih.” Jawab Joon Gi.

Hae Sung pun tertawa, begitu pula Joon Gi.


“Hyung, apa kau juga menceritakan cerita yang membuat So Hye datang padamu?” tanya Hae Sung.

Bukannya menjawab, tapi Joon Gi malah pura2 tidur. Hae Sung protes dan melarang Joon Gi bersikap manis pada So Hye. Joon Gi hanya tertawa geli. Joon Gi lantas melirik Hae Sung dan berkata kalau ia punya banyak uang.

“Katakan padaku kalau kau membutuhkannya. Aku punya banyak property. Aku bisa meminjamkannya padamu secara cuma2.” Ucap Joon Gi.


Hae Sung mengangguk saja, tapi beberapa saat kemudian ia baru ngeh dengan omongan Joon Gi.

“Jangan lakukan itu lagi!” protes Hae Sung yang membuat Joon Gi ketawa lebar.

Bersambungke part 3

Tidak ada komentar:

Posting Komentar