Monday, October 10, 2016

Fantastic Ep 11 Part 3

Sebelumnya...


Keesokan harinya… So Hye yang baru saja tiba di rumah sakit, terkejut mendapati Joon Gi dan Hae Sung yang masih tidur. So Hye menatap Joon Gi sejenak, kemudian beralih menatap Hae Sung. 




So Hye menatap Hae Sung cukup lama, sembari tersenyum. 




Tak lama kemudian, So Hye mengambil ponselnya dari dalam tas memotret Hae Sung yang masih tidur dengan gaya imut. Suara kamera So Hye membuat Hae Sung dan Joon Gi terbangun.
 
“Kapan kau datang?” tanya Hae Sung sembari bangun dari tidurnya.


“Apa yang kalian lakukan? Ini sudah siang.” Jawab So Hye.

“So Hye-ssi, bisakah kau membawa pria ini pergi? Aku ingin istirahat.” Pinta Joon Gi.

“Apa maksudmu? Kau ingin aku menjalani tes lagi?” tanya Hae Sung.

“Bukan itu. Kau bisa berjalan dan berlari dengan baik kemarin. Jika kau masih ingin menginap, carilah ruangan lain. Suara dengkurannya sangat keras.” Jawab Joon Gi.


“Ini konyol sekali. Kau menggesekkan gigimu sepanjang malam. Terakhir kali, saat kita tidur bersama di villa, aku pikir itu suara serangga tapi ternyata itu suara gesekan giginya.” Ucap Hae Sung.


So Hye pun ketawa geli melihat tingkah ajaib dua pria di hadapannya ini. Hae Sung lantas bangkit dari duduknya dan mau berganti pakaian. Sebelum pergi, ia meminta So Hye dan Joon Gi menjaga jarak. Ia juga melarang So Hye dan Joon Gi mengatakan sesuatu seperti kepalkan tanganmu.


Begitu Hae Sung pergi, So Hye mendekati Joon Gi.

“Dokter Hong.” Panggil So Hye.

“Jangan cemas. Calon nomor dua tidak akan mati semudah itu.” Jawab Joon Gi.

“Jangan membuatku menjadi pasien menyedihkan tanpa keluarga dokternya. Mengerti.” Ucap So Hye.

“Itu tidak akan terjadi.” Jawab Joon Gi.


“Hae Sung tidak mengganggumu, kan?” tanya So Hye cemas.

“Kau mengatakannya lagi. Dia jenis pria yang cerewet! Dia menggangguku sepanjang malam!” teriak Joon Gi sambil melirik ke arah toilet.


Tak lama kemudian, Hae Sung keluar dari toilet dan membela dirinya. Ia berkata kalau Joon Gi lah yang terus berbicara padanya sepanjang malam. Joon Gi tertawa geli.


“Ngomong2 aku bisa menahan efek dari serangan jantung karena dia. Dia tidak membiarkanku merasakan rasa sakit. Bisakah lain kali dia menemaniku?” ucap Joon Gi.

“Khusus untukmu, aku akan meminjamkan dia padamu.” Jawab So Hye.

“Siapa yang mengizinkannya? Kau tidak tahu betapa mahalnya honorku?” ucap Hae Sung, membuat So Hye ketawa.


Jin Tae masuk ke kantornya bersama ibu, kakak dan beberapa orang di belakangnya yang mengelu2kan namanya. Dengan wajah bangga, Jin Tae berkata kalau akhirnya ia dipilih menjadi kandidat walikota. Semua karyawan pun ikut gembira, kecuali Sang Wook yang terlihat kesal.

“Sekarang, aku akan memenangkan pemilihan ini! Bersama kalian, aku akan membuat dunia dimana hak asasi manusia yang begitu penting diabaikan menjadi pemenangnya.” Ucap Jin Tae.

Sang Wook tampak muak dengan kata2 Jin Tae itu. Jin Tae juga berniat mentraktir karyawannya makan siang. di restoran mewah untuk mendapatkan dukungan. 




Sementara itu, Seol akhirnya kembali ke rumah Jin Tae. Sebelum masuk, ia menghela napasnya dan membulatkan tekadnya.


Sang Wook mengirimi Seol pesan.

Noona-ssi, kau terkejut hari itu, kan? Aku telah memikirkan banyak hal setelah dari rumahmu saat itu. Sekarang aku mengerti maksud kata2mu itu. Aku sangat mencemaskanmu…


Seol tampak bahagia membaca pesan Sang Wook.

Noona-ssi, tolong jangan ingat diriku sebagai seseorang yang lebih muda darimu. Ingat aku sebagai Jaksa Kim Sang Wook. Jika kau butuh bantuan, hubungi aku. Aku akan meninggalkan motormu di tempat itu. Aku harap kau bahagia.


Tampak Sang Wook yang melintasi jalan yang dikelilingi persawahan dengan sepada.


Seol yang sedang membersihkan rumah dikejutkan dengan seruan Jin Tae.

“Choi Jin Tae! Choi Jin Tae!” seru Jin Tae sambil masuk ke rumah bersama keluarganya. Seol pun langsung menghampiri mereka. Mi Do langsung kesal begitu melihat wajah Seol. Sementara ibu dan kakak Jin Tae diam saja sambil menatap Seol.


“Bagaimana ibumu?” tanya Jin Tae.

“Dia tidak memerlukan operasi.” Jawab Seol.

“Apa kubilang? Kau hanya menghabiskan uang untuk hal yang tidak berguna.” Ucap Nyonya Kwak lalu pergi.


“Sekarang kau istri anggota dewan. Ini bagus untukmu.” Ucap Jin Sook, lalu beranjak pergi.


Seol menatap tajam Mi Do. Jin Tae meminta izin Seol untuk membiarkan Mi Do kali ini berada di rumahnya. Tapi Seol sudah tidak peduli lagi dan beranjak masuk ke dalam.



Seol masuk ke ruang penyimpanan anggur. Ia berpikir sejenak, sebelum akhirnya mengeluarkan semua anggur dari dalam lemari.



Sementara di ruang tengah, Jin Tae sedang merayakan keberhasilannya bersama ibu dan kakaknya, juga Mi Do. Tak lama kemudian, bawahan Jin Sook masuk memberitahu bahwa ada banyak kiriman bunga dan tanaman dari para pejabat. Mi Do pun mengaku bahwa ia yang meminta para pejabat itu memberikan dukungan untuk Jin Tae.


Jin Sook tersenyum senang dan berkata akan memastikan para pejabat itu melihat potensi dalam diri adiknya. Nyonya Kwak menyuruh bawahan Jin Sook membawa tanaman2 itu masuk. Saat tanaman itu dibawa masuk, Seol datang membawa beberapa botol anggur. Wajah Seol menyiratkan bahwa ia akan melakukan sesuatu dengan anggur2 itu.


Jin Tae yang ingin mengucapkan terima kasih untuk keluarganya, memutuskan menyanyikan sebuah lagu. Nyonya Kwak memuji ketampanan Jin Tae saat melihat Jin Tae bernyanyi.   




Saat mereka asyik menikmati nyanyian Jin Tae, Seol mengambil sebotol anggur, kemudian mengguncang2kannya, lalu mengarahkan tutupnya ke wajah Jin Tae. Jin Tae langsung berteriak kesakitan saat tutup botol itu menembaki jidatnya. 




Tak hanya itu, Seol juga menyiram mereka semua dengan anggur.


“Apa yang kau lakukan! Apa kau sudah gila!” teriak Jin Sook.

“Ya, aku sudah gila. Seseorang dengan pikiran seperti ini tidak bisa lagi tinggal di rumah ini, kan?” jawab Seol enteng.


Nyonya Kwak ketakutan… Hahha…

“Jin Tae-ya, apa kau memberinya minuman?” tanya Nyonya Kwak.


“Apa kau mabuk, Yeobo?” tanya Jin Tae.

Seol diam saja dan mengambil satu botol anggur lagi.


“Harga wine yang kalian habiskan dalam sepuluh menit, itu sama dengan biaya operasi ibuku. Tidakkah hidup ibu mertuamu lebih berharga dari wine ini? Kau lebih menghargai wine ini dari hidup seseorang?” ucap Seol.


Seol lantas membanting wine itu dengan entengnya. Seolah masih belum cukup, Seol mengambil sebotol wine lagi. Jin Sook mengancam Seol. Ia berkata, jika Seol tidak meletakkan kembali anggur itu, Seol akan mati. Tapi Seol tidak peduli dan kembali memecahkan botol wine itu.

“Aku lebih suka mati daripada hidup bersama kalian.” Jawab Seol.


Seol lantas menatap Jin Tae.

“Tapi kenapa aku harus mati? Memikirkan tentang hidupku yang menyedihkan sepanjang tahun, aku akan hidup baik mulai sekarang. Choi Jin Tae-ssi, ayo bercerai.” Ucap Seol.

“Yeobo, berani sekali kau mengatakan itu di depan ibuku!” rengek Jin Tae.


“Ibu Mertua, kau sudah menemukan menantu idamanmu. Gadis yang ingin kau masukkan dalam keluargamu, dia memiliiki hubungan gelap dengan anakmu.” Ucap Seol.


Jin Sook dan Nyonya Kwak kaget. Mi Do membantahnya, tapi Jin Sook dan Nyonya Kwak tidak percaya.

“Ibu Mertua, semoga ibu panjang umur. Aku akan keluar dari hidupmu.” Ucap Seol.


Seol lantas beranjak keluar meninggalkan rumah itu sambil memecahkan beberapa botol wine lagi.


Setibanya diluar, Seol melepasakan hanboknya dan membuka pintu pagar dengan wajah penuh binar. Ia mengeluarkan sebuah buku catatan berwarna hitam dan melepaskan ikatan rambutnya dengan wajah bahagia.

Seol kemudian menemui So Hye, Mi Sun dan Pil Ho yang sudah menunggunya sedari tadi.

“Kau membawanya?” tanya So Hye.

“TA-DA!!” teriak Seol sambil menunjukkan buku hitam itu.


Kita kemudian dialihkan pada adegan sehari sebelum Seol balik ke kediaman Jin Tae.

So Hye menyuruh Seol kembali ke rumah Jin Tae untuk mencari sesuatu yang berpengaruh di sana. Seol pun mengaku ada sebuah buku. Buku yang semua isinya ditulis sendiri oleh Nyonya Kwak. Sebuah buku yang menunjukkan berapa sebenarnya jumlah nilai kekayaan keluarga Jin Tae.


Sementara itu, Jin Tae dan keluarganya masih syok atas pemberontakan Seol. Mereka meratapi anggur2 yang dipecahkan Seol. Saat Jin Tae memunguti pecahan kaca dari botol anggurnya, ia menjerit lantaran tangannya terluka. Mi Do langsung menghampiri Jin Tae dan mengelus jari Jin Tae yang terluka. Melihat itu, Jin Sook pun langsung mengusir Mi Do. Mi Do yang diusir oleh Jin Sook tampak kesal.


Setelah Mi Do pergi, Nyonya Kwak menyadari sesuatu. Ia membuka lacinya dan terkejut mendapati buku catatannya hilang.


Mi Sun memuji Seol yang sudah melakukan pekerjaan bagus. Mi Sun, Seol dan So Hye kemudian melakukan high-five, kemudian menari sembari berputar. Pil Ho ikut bergembira bersama ketiga wanita cantik itu.


Di ruang baca, So Hye tampak senang mendengar kabar dari Seol tentang kondisi ibu Seol yang sudah membaik. So Hye berjanji akan menjenguk ibu Seol besok pagi. Tak lama kemudian, Hae Sung datang membawakan So Hye minuman. Hae Sung ikut senang mendengar kabar membaiknya kondisi ibu Seol.

“Lalu bagaimana dengan Princess So Hye? Apa tanganmu masih merah2?” tanya Hae Sung.

So Hye menggelengkan kepalanya. So Hye lantas meminum minuman yang dibawakan Hae Sung, kemudian melanjutkan tugasnya membaca naskah yang ditulis Sang Hwa. Hae Sung terdiam, ia teringat akan kata2 Joon Gi.


Flashback…

Saat itu, Joon Gi dan Hae Sung yang masih mengenakan seragam pasien ada di rumah kaca. Joon Gi menanyakan perasaan Hae Sung yang sedang berbaring di dalam peti mati. Hae Sung berkata rasanya seperti menyantap ramen. Joon Gi tertawa mendengar jawaban Hae Sung. Joon Gi lalu berkata, kematian yang baik mencerminkan seseorang hidup dengan baik.

“Makan apapun yang kau inginkan. Habiskan waktu bersama orang terdekatmu.” Ucap Joon Gi.

Joon Gi lantas memberitahu Hae Sung tentang kemungkinan So Hye yang akan berjuang keras melawan penyakitnya. Joon Gi meminta Hae Sung tidak panik jika hal itu terjadi dan menyuruh Hae Sung segera memberi pertolongan pada So Hye. Hae Sung pun langsung keluar dari peti mati dan menghampiri Joon Gi setelah mendengar itu.

“Kenapa kau mengatakan hal yang aneh? Kau yang akan menolongnya jika hal itu terjadi.” Ucap Hae Sung.

Hae Sung lantas memasakkan ramen untuk mereka berdua…

“Aku dan So Hye, kami hidup di ambang kematian. Jangan menunda apapun. Lakukan dan katakan apa yang ingin kau katakan sekarang. Jangan sampai kau menyesal nantinya.” Ucap Joon Gi.

Flashback end…


Hae Sung lantas mengaku pada So Hye bahwa saat dirinya mengalami kecelakaan di lokasi shooting, ia merasa bahwa ia akan mati. Dan pada saat itu, ada sesuatu yang ingin dikatakannya pada So Hye. So Hye langsung menatap Hae Sung.

“Menikahlah denganku.” Ucap Hae Sung lagi.


So Hye tertegun mendengarnya…

Bersambung……..

Episode ini bikin aku ngakak setengah mati…. Si Joon Gi demen amat ngerjain Hae Sung.. dan Hae Sung mau2nya lagi dikerjain Joon Gi….

Aku rasa, yang paling terluka kalau Joon Gi sampai kenapa2 adalah Hae Sung….

Seol akhirnya berontak juga… tapi aku yakin Jin Tae tidak akan semudah itu melepaskan Seol….

Di episode ini, Seol bilang kalau dia bersyukur keluarga Jin Tae sudah melunasi hutang ayahnya dan membiayai perawatan ibunya, kan? Apakah ini artinya Seol menikah dengan Jin Tae karena alasan itu? Maybe yess, maybe no..
 

[Spoiler]

No comments:

Post a Comment