I Have a Lover Ep 40 Part 2

Sebelumnya....


Sambil membersihkan lantai, Yong Gi latihan bicara dalam Bahasa Inggris.

Yong Gi : Oh No, calm down, I see I see. Here you are. Would you like something drink? Oh, are you hungry? What is this? My name is Yong Gi Dokgo.

Tapi si Yong Gi malah geli sendiri menyebut namanya seperti itu.

“Ada apa ini, Yong Gi Dokgo? Aneh sekali, nama macam apa itu, namaku Yong Gi Dokgo, apa-apaan itu?” ucapnya.

Dan, Woo Joo yang lagi asyik membaca komik pun tertawa.


“Jangan tertawa, kau juga harus mengatakannya, my name is Woo Joo Dokgo-ya.” ucap Yong Gi.

“Ibu tahu, aku rasa ibu lebih imut daripada Kitty. Ibu sangat imut sekali.” Jawab Woo Joo.

“Benarkah? Karena matamu masih bagus, kau mungkin benar.” ucap Yong Gi.

“Ya, tapi profesor bilang pada ibu hanya boleh bicara Bahasa Inggris hari ini. Pokoknya hanya berbicara Bahasa Inggris.” Jawab Woo Joo.

“Itu yang dia bilang, tapi ibu boleh menggunakan bahasa Korea?” tanya Yong Gi.

“Dia tidak tahu, dia tidak dengar.” Jawab Woo Joo.

“Benar, dia tidak dengar.” Ucap Yong Gi.


Tak lama kemudian, Nyonya Kim datang dan menyuruh Yong Gi membersihkan kamar Gyu Seok. Tapi Yong Gi malah menolak, ia menyuruh Nyonya Kim yang membersihkan kamar Gyu Seok. Nyonya Kim beralasan, kalau telinganya berdengung sejak tadi pagi dan suara yang keras akan membuat kondisi telinganya semakin parah.

“Kenapa telingamu berdengung? Seberapa keras dan bagaimana berdengungnya?” tanya Yong Gi cemas.

“Kenapa kau sangat mengkhawatirkan telinga ahjumonni ini berdenging, dia bukan ibumu. Tidak apa-apa, nanti juga sembuh, pergilah” ucap Nyonya Kim.

Tak lama kemudian, Yong Gi pun berseru, Headphones! Aku bisa memakai headphones!


Yong Gi lalu masuk ke kamar Gyu Seok dan mulai menyalakan penyedot debunya. Gyu Seok yang sangat itu tengah berkutat dengan buku2nya menyuruh Yong Gi mematikan penyedot debu karena ia harus mempersiapkan dirinya untuk seminar besok. Tentu saja, Gyu Seok mengatakannya dalam Bahasa Inggris.


Yong Gi pura2 tidak mendengar. Gyu Seok lalu bangkit dari duduknya dan melepaskan headphone Yong Gi.

“Please leave and come back  in two hours, okay?” ucap Gyu Seok.

“What?” ucap Yong Gi kebingungan. Namun tak lama kemudian ia pun berkata, Oh, yeah, yeah. Okay. I’m quick. You shut the mouth and sit down please. Me clean, you are study. Go! Let’s go!


“No, no, no! Do your cleaning in two hours. You’re distracting me. Take this and leave.” Suruh Gyu Seok.

“I’m sorry. I don’t know.  You’re speaking very, very quick. Doctor, slowly. Sloowwwly.” Jawab Yong Gi.

“You are distracting me. Please take this and get out.” Ucap Gyu Seok pelan2.

“Get out? Kau menyuruhku pergi?” tanya Yong Gi.

“Yes.” Jawab Gyu Seok.

“You get out! I have to clean. Okay, Man?” teriak Yong Gi.


Gyu Seok pun mengalah. Ia mengambil buku2nya dan beranjak keluar, tapi baru saja mau melangkah keluar, Yong Gi malah berseru, BAD GUY! Gyu Seok pun langsung menatap Yong Gi. Yong Gi yang sadar dirinya baru keceplosan pun buru2 meralat ucapannya.


“He is bad guy, you know!” ucapnya sambil menunjuk miniature spiderman yang ada di meja Gyu Seok.


Gyu Seok pun hanya menatap aneh Yong Gi. LOL LOL LOL….


Gyu Seok pindah ke ruang tengah. Disaat dia lagi asyik mempelajari berkasnya, Woo Joo datang membawa setumpuk buku2 ceritanya. Woo Joo kemudian mengambil salah satu buku ceritanya dan menanyakan judul buku cerita itu pada Gyu Seok. Tapi Woo Joo sepertinya tak suka dengan buku2 itu.  Woo Joo kemudian mengambil buku yang lain dan menanyakan judulnya pada Gyu Seok.

“Doran, Doran, mau kah kau mendengar cerita ayahmu.” jawab Gyu Seok.

Wajah Woo Joo pun langsung muram.



“Bagaimana kau mendengar cerita ayahmu, profesor? Aku tidak pernah mendengarkannya Profesor, apa kau pernah mendengar cerita ayahmu dalam bisikan?” tanya Woo Joo.

“Tidak, aku juga tidak pernah mendengar cerita ayah dalam bisikan.” Jawab Gyu Seok.

“Apakah ayahmu juga meninggal?” tanya Woo Joo.

“Apa kau tahu artinya meninggal, Woo Joo?” tanya Gyu Seok.

“Kau pergi ke surga dan menjadi malaikat di siang hari. Dan dimalam hari kau menjadi bintang dan melihat orang-orang yang kau cintai.” Jawab Woo Joo.


Gyu Seok pun membenarkan. Yong Gi yang baru keluar dari kamar Gyu Seok pun tak sengaja mendengar kata2 Woo Joo. Tangis Yong Gi seketika pecah.


“Kematian digambarkan dengan hangat seperti itu. Pertama kali aku mempelajarinya hari ini karena Woo Joo. Terima kasih, Woo Joo.” Ucap Gyu Seok.

“Profesor, apa kau juga merindukan ayahmu?” tanya Woo Joo.

“Apa kau merindukan ayahmu?” tanya Gyu Seok.

Woo Joo pun mengangguk.

“Kalau malam hari tidak ada bintang, aku menangis karena aku merindukan ayahku. Alangkah senangnya kalau ayahku bisa membacakan ini untukku.” Jawab Woo Joo.

Air mata Woo Joo mulai mengalir. Untuk menghibur Woo Joo, Gyu Seok pun menawarkan dirinya membacakan buku itu untuk Woo Joo. Senyum Woo Joo langsung merekah. Ia kemudian duduk disamping Gyu Seok. Yong Gi pun tersenyum haru melihat Gyu Seok yang bersikap seperti seorang ayah untuk Woo Joo-nya.


Tae Seok dan Jin Eon berada dalam satu lift. Jin Eon terkejut saat Tae Seok memberitahunya bahwa anak Supir Kim menerima beasiswa dari Presdir Choi.

“Anak laki-lakinya seorang jaksa dan anak perempuannya profesor di sekolah kesehatan. Bahkan biaya pernikahan dan rumah yang mereka tempati adalah pemberian dari Presdir. Dia bilang bhawa dia memintanya untuk menjaga Ssanghwasan sebelum dia mati. Tidakkah itu sesuatu yang bahkan bisa membuat anjing tertawa? Dia ingin kita percaya itu? Bahkan jika orang berbohong, mereka mengatakan uang tidak berbohong. Apa? Apa kau memberitahu wakil presdir Do Hae Gang? Wakil presdir Do akan berusaha menghukum ayah mertuanya daripada ayahnya dan Presdir bukan tipe orang yang akan diam saja dan menerimanya. Untuk memberi dan menerima, terpotong dan memotong, memakan dan dimakan, angin berdarah akan bertiup. Siapa yang akhirnya akan masuk penjara? Wakil Presdir Do? Ayah mertua?” ucap Tae Seok.

“Aku rasa Kakak Ipar yang akan masuk penjara. Semoga beruntung dengan penyelidikan polisi, kakak ipar.” Jawab Jin Eon.


Di ruangannya, Hae Gang terkejut melihat harga saham Cheon Nyeon Farmasi yang mengalami penurunan. Hae Gang pun langsung menghubungi orang suruhannya. Ia menyuruh orang suruhannya membeli saham itu sekarang juga.

“Tunggulah sebentar, harganya akan semakin jatuh.” Ucap pria itu.

“Tidak bisa, beli sekarang. Kalau itu terjadi, aku harus membaginya dengan Min Tae Seok. Aku tidak berusaha mendapatkan uang, jadi beli sekarang, sekarang juga.” jawab Hae Gang.


Di ruangannya pula, Tae Seok juga lagi memantau pergerakan saham. Tae Seok lantas menghubungi seseorang.

“Apa yang kau lakukan? Aku sudah mengatakan padamu bahwa saham kita tidak boleh diambil, meskipun kita mengaturnya, kau tidak perduli pada yang lain? Sampai penutupan pasar modal, kalau kau kehilangan satu saham saja, kau tahu apa yang akan terjadi kan?” ucap Tae Seok.


Hae Gang dihubungi Jaksa Kim Sun Woo dari kantor kejaksaan pusat. Jaksa Kim ingin menanyakan soal Pancillate Monodipin, obat yang dikembangkan Farmasi Mido. Jaksa Kim menyuruh Hae Gang datang ke kantornya.

Hae Gang kaget, Farmasi Mido?

“Ya, aku punya dokumen rahasia perusahaan itu. Selasa depan jam 2 atau rabu pagi jam 11 atau kamis jam 3, kapan kau bisa?” tanya Jaksa Kim.

“Apa kau memanggilku sebagai tersangka atau sebagai saksi?” tanya Hae Gang.

“Untuk sekarang, aku rasa sebagai tersangka.” Jawab Jaksa Kim.

“Apa hanya aku tersangkanya?” tanya Hae Gang.

“Ya, untuk sekarang hanya Do Hae Gang.” jawab Jaksa Kim.

“Kalau kau akan menyelidiki aku, maka panggil juga Presdir Choi Man Ho. Maka aku akan datang tanpa ragu-ragu Aku memiliki rekaman telpon yang membuktikan kecurigaan terhadap Presdir Choi Man Ho. Kalau kau memanggil kami bersama-sama, aku bersedia bekerja sama untuk penyelidikanmu.” Ucap Hae Gang.


Tak lama kemudian, usai Hae Gang menerima telepon dari Jaksa Kim, Presdir Choi tampak masuk ke ruangan Hae Gang. Jin Eon yang juga tengah menuju ruangan Hae Gang pun terkejut melihat ayahnya masuk ke ruangan Hae Gang.


Hae Gang sedang menatap rekaman telpon yang bisa membuktikan kecurigaan terhadap Presdir Choi.  Seketaris Shin kemudian memberitahu Hae Gang soal kedatangan Presdir Choi.


0 Comments:

Post a Comment