Saturday, June 4, 2016

I Have a Lover Ep 18 Part 2

Sebelumnya <<<


Hae Gang sedang menyiapkan kasur untuknya dan Seol Ri. Tak lama kemudian, Seol Ri datang. Hae Gang membagikan lotionnya pada Seol Ri. Kecanggungan sangat terasa diantara mereka. Hae Gang minta maaf karena kamarnya kecil yang membuat Seol Ri tidak nyaman. Seol Ri pun berkata dulu itu adalah kamarnya. Seol Ri lantas melirik ke ponsel Hae Gang. Keduanya lalu mulai berbaring. Hae Gang pun memejamkan matanya.


"Apa yang kau pikirkan? Aku tahu kau belum tidur." ucap Seol Ri.

"Aku tidak suka kau membaca pikiranku. Aku juga tidak suka perasaanku dicampuri." jawab Hae Gang.

"Wanita itu melakukannya kepadaku. Bahkan pikiran dan hatiku, dia ingin mengontrolnya. Dia datang untuk menggangguku dan mengawasiku. Tapi aku tahu kenapa dia melakukannya. Perasaannya dan kemarahannya, aku pikir aku mengerti sekarang." ucap Seol Ri.

"Yang dilakukan orang itu hari ini, bukan karena diriku, tapi karena istrinya." jawab Hae Gang.

"Lalu kenapa kau kecewa?" tanya Seol Ri, membuat Hae Gang langsung diam.

"Itu benar, dia melakukannya karena dirimu Eonni. Seandainya kau tidak ada di sana. Seandainya kau tidak muncul di depannya, kami akan menyelesaikan pertemuan keluarga dengan baik, memilih cincin, memilih hadiah pernikahan dan melupakan segalanya. Kami akan menunggu pernikahan kami. Kau menghancurkannya. Karena dirimu, semuanya hancur." ucap Seol Ri.


"Kau bertanya apa yang kupikirkan? Akan lebih baik seandainya aku adalah istrinya. Aku kehilangan ingatan, tapi karena dia mengingatku, seandainya demikian mungkin tidak akan begitu sulit. Itu yang aku pikirkan." jawab Hae Gang.

"Jangan melewati batas." ucap Seol Ri.

"Batas? Lalu apa yang akan terjadi jika aku melewati batas itu?" tanya Hae Gang.

"Wanita itu berusaha bunuh diri. Di depan kami, dia melompat ke dalam sungai." jawab Seol Ri.
Hae Gang pun terkesiap. Lalu tiba2, Hae Gang sulit untuk bernapas.

"Wanita itu berusaha bunuh diri tapi aku tidak akan melakukan itu.Kau hanya bisa menang kalau kau bertahan hidup.Mereka yang bertahan hidup adalah yang menang. Aku lebih memilih mati bersama daripada mati sendirian." ucap Seol Ri.

Tangis Hae Gang keluar, namun Seol Ri tidak menyadarinya.


Sementara itu, Jin Eon sedang memeriksa berkas2nya. Ruangannya masih berantakan. Sebagian berkas2 nya masih berserakan di lantai. Jin Eon lalu melirik ke ponselnya yang tergeletak di lantai, kemudian kembali meneliti berkas2nya. Wajahnya masih terlihat kesal.


Hae Gang dan Seol Ri saling membelakangi. Namun keduanya masih terjaga. Keduanya larut dalam pikiran masing2.

Keesokan harinya... Nyonya Kim sedang melihat foto2 Yong Gi. Tak lama kemudian, Gyu Seok pun datang. Gyu Seok mengingatkan Nyonya Kim kalau sudah jam tujuh. Nyonya Kim pun bergegas menyiapkan sarapan. Sembari menyiapkan sarapan, ia terus mengoceh dan bertanya tentang menu makan siang dan malam yang disukai Gyu Seok. Gyu Seok yang merasa terganggu dengan ocehan Nyonya Kim, memasang earphonenya dan menyetel musik. Nyonya Kim pun melepaskan earphone di telinga Gyu Seok. Ia lantas mengadu ttg lampur kamar mandi yang rusak, juga penyedot debu yang sudah tidak bisa digunakan. Gyu Seok pun memarahi Nyonya Kim. Ia menyuruh Nyonya Kim diam.


Nyonya Hong masuk ke kamar Jin Eon. Ia pun terkejut karena tidak mendapati Jin Eon di sana. Jin Ri pun datang. Jin Ri menduga Jin Eon sedang bersama Hae Gang. Nyonya Hong pun kaget mendengar kata2 Jin Ri. Nyoya Hong lantas mencari ponselnya. Ia ingin menelpon Jin Eon, tapi tidak dapat menemukan ponselnya. Ia lalu menyuruh Jin Ri menghubungi ponselnya, namun tidak terdengar suara ponsel Nyonya Hong. Nyonya Hong pun keluar dari kamar Jin Eon. Begitu Nyonya Hong keluar, Jin Ri pun langsung memikirkan cara untuk memperburuk kondisi Nyonya Hong.

Nyonya Hong mencari ponselnya di lantai bawah, namun ia tak dapat menemukannya. Pelayannya pun datang mengembalikan ponselnya. Pelayan bilang ponsel Nyonya Hong ada di dalam mesin pencuci piring. Nyonya Hong kaget. Pelayan Nyonya Hong langsung menenangkan Nyonya Hong dengan berkata ponsel Nyonya Hong mungkin saja jatuh saat Nyonya Hong meletakkan cangkir.

Nyonya Hong lalu menelpon ke rumah Seol Ri. Kebetulan Hae Gan yang menjawab saat itu. Nyonya Hong pun terkejut begitu mengetahui Hae Gang yang menjawab teleponnya. Nyonya Hong lalu bertanya, apa Hae Gang mampir ke tempat lain setelah acara pertemuan keluarga tadi malam. Hae Gang yang tidak mengetahui Nyonya Hong lah yang menelponnya pun heran. Saat Nyonya Hong mengenalkan dirinya sebagai ibu Jin Eon, Hae Gang terkejut dan hendak memanggil Tuan Baek. Namun Nyonya Hong melarang. Nyonya Hong pun berkata ingin bicara dengan Hae Gang. Ia mengajak Hae Gang bertemu.


Nyonya Hong dan Hae Gang bertemu di kantor Baek Seok. Nyonya Hong berkata, kantor Baek Seok terasa nyaman walaupun tidak besar. Hae Gang membuatkan teh untuk Nyonya Hong. Ia lalu duduk di hadapan Nyonya Hong.

"Kau puas dengan wajahmu? Aku tidak suka dengan wajahmu. Aku tidak setuju dengan wajahmu itu. Aku tak bisa membiarkanmu hidup dengan wajah itu. Pergi lah operasi plastik, kau akan lebih cantik dari sekarang. Lebih cantik daripada selebriti. Aku akan melakukannya untukmu." ucap Nyonya Hong.


"Apa?" tanya Hae Gang heran.

"Kupikir aku bisa bernafas lega jika kau melakukan operasi kecil untuk matamu. Kalau matamu sedikit beda, kupikir aku bisa hidup. Biar aku yang menanggung biaya operasinya." jawab Nyonya Hong.

"Jadi inikah alasanmu datang mencariku?" tanya Hae Gang.

"Aku pikir itu satu2nya cara untuk menghentikan perasaan putraku." jawab Nyonya Hong.

"Tolong katakan saja alasanmu mencariku, Nyonya Hong." ucap Hae Gang.

"Bukankah Jin Eon menelponmu semalam?" tanya Nyonya Hong.

"Tidak." jawab Hae Gang.

"Aku khawatir kalau kalian pergi bersama." ucap Nyonya Hong.

"Dia tidak pulang ke rumah semalam?" tanya Hae Gang.

"Dia tidak pulang. Ponselnya juga tidak bisa dihubungi. Aku sudah menelpon ke kantornya, tapi tidak ada yang mengangkat. Setelah membuat keributan seperti, pastilah perasaannya tidak tenang. Kalau dia menghubungimu, jangan kau angkat. Kalau dia mengajakmu bertemu, tolak saja. Tolong jauhi dia." jawab Nyonya Hong.


Hae Gang pun tertegun. Entah apa yang dirasakannya saat itu. Namun yang pasti hatinya tidak tenang. Semua itu terlihatt dari wajahnya.


Jin Eon sendiri masih berada di kantornya. Ia tidur kursi, ruangannya masih berantakan seperti tadi. Hae Gang di kantornya, tidak bisa tenang. Ia cemas memikirkan Jin Eon. Ia lantas memberanikan dirinya menelpon ponsel Jin Eon, namun seperti kata Nyonya Hong. Ponsel Jin Eon mati.

Hae Gang pun menelpon ke ruangan Jin Eon. Jin Eon terbangun dari tidurnya begitu mendengar bunyi teleponnya. Wajah Jin Eon terlihat pucat sekali. Jin Eon mengangkat teleponnya, namun ia tak menjawabnya. Hae Gang pun mencoba berbicara, tapi tiba2 teleponnya mati. Ya, Jin Eon memutuskan kabel teleponnya.

Hae Gang akhirnya memutuskan pergi ke kantor Jin Eon. Saat tiba di depan ruangan Jin Eon, ia menahan dirinya untuk tidak masuk ke sana. Namun pikirannya terus memaksanya masuk ke sana. Ia pun akhirnya masuk ke ruangan Jin Eon.


Begitu masuk ruangan Jin Eon, ia terkejut melihat ruangan Jin Eon yang berantakan. Pandangannya lalu mengarah pada Jin Eon yang tertidur di kursi panjang. Perlahan2, Hae Gang pun mendekati Jin Eon. Ia mengambil jaket Jin Eon, dan menyelimuti Jin Eon. Jin Eon pun terbangun dan menatap tajam ke arah Hae Gang. Hae Gang terdiam dengan wajah tertunduk.

"Jangan tanyakan kenapa aku datang. Aku juga tidak tahu kenapa." ucap Hae Gang.

"Kita pergi makan, perutku terasa lapar." jawab Jin Eon.


Hae Gang diam saja. Jin Eon lalu mendekati Hae Gang. Ia meminta ponsel Hae Gang. Begitu mendapatkan ponsel Hae Gang, Jin Eon pun mengeluarkan baterainya agar tidak ada yang bisa menghubungi mereka. Hae Gang terkejut. Namun belum sempat ia protes, Jin Eon sudah menarik tangannya pergi.


Hae Gang dan Jin Eon dalam perjalanan ke suatu tempat. Selama perjalanan, mereka tidak bicara sepatah kata pun.


Baek Seok tiba di kantornya. Ia terkejut melihat proposal Jin Eon ada di meja Hae Gang. Ia pun langsung menelpon ke ponsel Hae Gang, namun ponsel Hae Gang tak aktif. Ia lalu menelpon ke ruangan Jin Eon, tapi sama saja. Ia pun mulai cemas.


Seol Ri masuk ke ruangan Jin Eon. Ia terkejut melihat ruangan Jin Eon yang berserak. Hatinya pun terluka begitu menemukan ponsel Hae Gang di meja Jin Eon.


Hae Gang menunggu Jin Eon di depan sebuah mini market. Sedangkan Jin Eon sedang membeli banyak makanan. Sembari Jin Eon datang, Hae Gang pun menyiapkan mie ramen untuk Jin Eon.

Jin Eon datang. Hae Gang terkejut melihat Jin Eon membeli banyak makanan. Jin Eon pun berkata itu untuk makan malam mereka. Mereka akan kembali setelah menghabiskan semua makanan itu. Hae Gang pun mendengus kesal. Ia semakin kesal saat Jin Eon menatapnya ketika ia sedang makan.

"Kenapa kau menatapku begitu? Bukankah kau yang menghentikan mobilnya karena lapar. Kukira kita akan pergi ke tempat yang luar biasa. Lain kali kalau kau mengajakku makan, akan kusita kunci mobilmu." omel Hae Gang.


Hae Gang pun berhenti mengomel saat menyadari Jin Eon tersenyum kepadanya. Jin Eon pun berkata kalau ramennya sangat manis. Manis seperti madu, membuat Hae Gang tertegun.


Sekarang Jin Eon dan Hae Gang berjalan2 di sebuah taman. Jin Eon berjalan di depan, sedangkan Hae Gang di belakangnya. Jin Eon terus menjawab tidak tahu saat Hae Gang bertanya mereka akan dimana, mereka akan kemana dan dimana Jin Eon memarkirkan mobilnya.

"Lalu apa yang kau tahu, Choi Jin Eon?" ucap Hae Gang mulai kesal.

"Kau." jawab Jiin Eon singkat sambil terus berjalan.


Langkah Hae Gang pun terhenti seketika. Jin Eon pun berhenti melangkah begitu menyadari langkah Hae Gang berhenti. Jin Eon lantas berbalik, kemudian menatap Hae Gang dan bertanya kenapa Hae Gang berhenti melangkah. Hae Gang pun mendengus kesal dan pergi meninggalkan Jin Eon. Jin Eon pun terkejut dan langsung meneriakkan nama Hae Gang. Dipanggil dengan nama Hae Gang, membuat Hae Gang marah.

"Aku bukan Hae Gang, namaku Dokgo Yong Gi! Panggil namaku dan jangan panggil nama seseorang yang tidak ada di sini." protes Hae Gang.


Jin Eon pun mendekati Hae Gang. Keduanya lalu saling bertatapan.

"Walaupun aku ada di sini, walaupun aku memandangmu, aku tak ingat dirimu. Aku tidak ingat apapun. Seperti katamu, kalau aku istrimu, seharusnya aku ingat padamu. Aku tidak mengetahui orang lain, tapi kau.. seharusnya aku mengingat dirimu. Kau bukan suamiku, Choi Jin Eon. Aku bukan istrimu. Aku Dokgo Yong Gi. Kalau kau terus bersikap begini, aku akan pergi." ucap Hae Gang.

Mata Hae Gang mulai berkaca2. Jin Eon diam saja sembari menatap Hae Gang dalam2. Hae Gang pun mengerti dan berniat pergi, tapi Jin Eon melarangnya. Ia mengajak Hae Gang memulai semuanya dari awal. Hae Gang pun semakin merasa tertekan.


Baek Seok duduk di depan rumahnya dengan wajah kecewa. Ia sedang menunggu Hae Gang. Tak lama kemudian, Seol Ri pun datang, juga dengan wajah kecewa. Seol Ri lalu memberikan ponsel Hae Gang pada Baek Seok. Baek Seok pun semakin kecewa.

"Usir dia dari rumah. Usir juga dia dari kantor. Aku tak bisa memaafkannya. Tak bisa! Kenapa dia melakukan ini! Kenapa!" teriak Seol Ri.

Seol Ri lalu masuk ke dalam rumah. Baek Seok ingin menangis.


Di kamar Hae Gang, Seol Ri merobek semua pakaian Hae Gang. Ia juga merusak earphone Hae Gang dengan cara menarik2 talinya, hingga tangannya memerah karena menarik tali earphone milik Hae Gang.


Sementara itu, Jin Eon dan Hae Gang duduk di pinggir lapangan, sambil menikmati sosis dan melihat beberapa bocah bermain basket.

"Apa itu menyenangkan?" tanya Hae Gang.

"Kau ingin mencobanya agar tahu apa rasanya menyenangkan atau tidak?" jawab Jin Eon.

"Tapi mereka sedang asyik bermain." ucap Hae Gang.

"Sekotak pizza pasti cukup." jawab Jin Eon.


Jin Eon dan Hae Gang pun mulai bermain basket, sementara anak2 yang tadi main basket asyik melahap pizza yang diberikan Jin Eon. Keduanya terlihat bahagia. Jin Eon lalu menantang Hae Gang. Jika Hae Gang bisa memasukkan satu bola saja ke dalam keranjang dalam waktu semenit, ia menganggap Hae Gang menang. Tapi jika Hae Gang gagal, maka Hae Gang harus melakukan satu permintaannya. Hae Gang pun menerima tantangan Jin Eon.

Jin Eon melemparkan bolanya pada Hae Gang. Hae Gang tampak begitu bersemangat memasukkan bola, namun sayang bolanya berhasil direbut oleh Jin Eon.


Malam pun tiba, Baek Seok masih duduk di depan rumah menunggu Hae Gang. Sementara yang ditunggu masih bersama dengan Jin Eon. Jin Eon mengajak Hae Gang mencari restoran, namun Hae Gang menolak. Hae Gang ingin pulang. Lalu dengan santainya, Jin Eon berkata mereka kehabisan bahan bakar.


"Apa? Bukankah tadi kau sudah mengisinya?" tanya Hae Gang kaget.

"Aku menyuruh mereka mengeluarkannya." jawab Jin Eon.

"Kenapa kau melakukannya?" tanya Hae Gang.

"Aku tidak punya ponsel, jadi tidak bisa menelpon siapapun. Kita harus bermalam di mobil." jawab Jin Eon.

"Kalau begitu aku akan berjalan pulang. Kalau kau tidak mau ikut ya sudah." ucap Hae Gang.

"Pergilah kalau kau berani." jawab Jin Eon.


Hae Gang pun mendengus kesal, namun seperti yang diduga Jin Eon, Hae Gang tidak berani pergi.
Ternyata Seol Ri memang merekam pengakuan Tae Seok waktu itu. Ia mendengarkan kembali rekaman itu sambil memikirkan sesuatu.


Di dalam mobil, Jin Eon dan Hae Gang tak saling bicara. Mereka larut dalam pikiran masing2. Hae Gang lalu memecah keheningan dengan bertanya apa yang Jin Eon pikirkan. Jin Eon pun berkata ia ingin memeluk Hae Gang. Hae Gang mendengus kesal.

"Baiklah, aku akan memegang tanganmu saja selagi kita tidur, seperti orang bodoh." ucap Jin Eon.

Jin Eon pun memegang tangan Hae Gang. Hae Gang mulai gugup tapi ia diam saja tangannya dipegang Jin Eon. Jin Eon pun memejamkan matanya dan menyuruh Hae Gang tidur. Hae Gang lalu berkata kalau ia mulai merasa gugup karena Jin Eon. Jin Eon pun membuka matanya dan menatap Hae Gang.

"Kupikir hatiku sudah membeku. Kupikir aku sudah meninggalkannya dalam masa laluku yang kelam berikut ingatanku tapi setelah bertemu denganmu hatiku sakit dan bergetar. Aku tak tahu kenapa tapi aku merasa gugup karena dirimu." ucap Hae Gang.


Jin Eon pun berkaca2 mendengar penuturan Hae Gang. Jin Eon lalu memeluk Hae Gang. Tangis Hae Gang keluar. ia lantas merebahkan kepalanya di bahu Hae Gang.

Baek Seok terus menunggu Hae Gang, sampai pagi. Begitu pun dengan Seol Ri.


Jin Eon mengantar Hae Gang ke rumah Baek Seok. Hae Gang pun menyuruh Jin Eon pulang. Ia berkata Jin Eon tak mungkin masuk ke kantor dengan pakaian yang sama 3 hari berturut2.

"Soal bahan bakar, kau berbohong kan?" tanya Hae Gang.

Jin Eon pun tersenyum, membuat Hae Gang juga tersenyum kesal.


Keduanya lalu turun dari mobil. Dan mereka terkejut melihat Baek Seok yang masih duduk di depan rumah. Baek Seok melihat mereka dengan mata berkaca2. Hae Gang pun mendekati Baek Seok dengan wajah tertunduk. Namun Jin Eon menghalanginya. Hae Gang pun berhenti melangkah dan Jin Eon mendekati Baek Seok.

"Aku tidak akan membuat alasan. Seperti yang sudah kau lihat. Aku akan membawa Hae Gang pergi secepat mungkin." ucap Jin Eon.

Baek Seok yang sudah tak tahan lagi, akhirnya memukul Jin Eon. Jin Eon diam saja dipukuli Baek Seok, sedangkan Hae Gang menangis tapi tak bisa berbuat apapun untuk menghentikan kemarahan Baek Seok.


"Siapa istrimu! Dia bilang bukan! Mengapa kau tak percaya padanya! Harus berapa kali kukatakan padamu bangsat! Istrimu sudah meninggal!" teriak Baek Seok.

Jin Eon pun kaget, apa katamu barusan?

"Istrimu sudah meninggal empat tahun yang lalu. Begitu bercerai darimu, dia tewas dalam kecelakaan! Hanya kau yang tidak tahu! Mereka merahasiakannya darimu karena takut kau terluka!" teriak Baek Seok.


Jin Eon terkejut, ia lalu menatap Hae Gang dengan wajah terpukul.


Baek Seok lalu membawa Jin Eon ke colombarium. Jin Eon pun terkejut melihat ke rumah abu Hae Gang. Baek Seok pun berkata, Hae Gang ada di sana. Hae Gang kesepian di sana. Selama 4 tahun.


"Istri yang kau sia2kan, dia sudah tak berada di dunia ini lagi. Dia pergi. Dia pergi sejak lama." ucap Baek Seok dingin.


Tangis Jin Eon pun pecah. Ia menangis menatap foto Hae Gang.

Bersambung ke episode 19

No comments:

Post a Comment