Tuesday, September 6, 2016

Fantastic Eps 2 Part 1

[Sebelumnya]


“Baek Seol!” ucap So Hye kaget. Mi Sun pun juga panic menyadari kalau si pengemudi mobil naas adalah Seol. So Hye dan Mi Sun pun bergegas mengecek kondisi Seol. Keduanya kaget melihat wajah Seol yang penuh darah. Mi Sun berusaha menyadarkan Seol. Tak lama kemudian, petugas medis datang. Tubuh Seol pun langsung digotong ke dalam ambulance.


Dari kejauhan, Jin Tae mengawasi Seol yang digotong ke ambulance. Ponsel Seol berdering. So Hye langsung mengambil ponsel Seol dan menjawab panggilan Jin Tae.

“Aku Lee So Hye, sahabat Seol. Seol baru saja mengalami kecelakaan.” Ucap So Hye.

Jin Tae pura2 terkejut, ia bertanya apa istrinya terluka parah.

“Aku tidak yakin. Aku akan menghubungimu lagi nanti setelah tiba di rumah sakit.” Jawab So Hye.


Mi Sun yang sudah berada di ambulance, memanggil So Hye. So Hye pun bergegas naik ke ambulance. Hae Sung menahan So Hye, ia bertanya bagaimana dengan mobilnya yang mengalami kerusakan parah. So Hye pun menyuruh Hae Sung menghubunginya nanti. So Hye bergegas naik ke ambulance. Hae Sung hanya bisa menatap kepergian So Hye dengan wajah frustasinya.


Namun wajah frustasi Hae Sung lenyap seketika ketika seseorang menyadari siapa dirinya. Orang2 pun langsung berkerumun dan mengambil gambar Hae Sung. Hae Sung memakai kacamatanya dan tersenyum lebar pada para fansnya.


Di rumah sakit, Jin Tae berbicara dengan seseorang di telepon. Entah dengan siapa dia bicara, namun yang jelas wajahnya terlihat tegang. Usai berbicara dengan orang itu, Jin Tae langsung menyapa So Hye dan Mi Sun dengan ramah. Wajah tegangnya lenyap seketika.

“Kalian pasti terkejut.” Ucap Jin Tae.

“Untung saja lukanya tidak parah.” Jawab So Hye.

“Tapi ada yang tidak beres dengan mobilnya. Kecepatan mobilnya di luar batas.” Ucap Mi Sun.

“Dia itu belum mahir menyetir. Dia pengecut. Aku sudah mengirimkan supir untuknya, tapi dia tidak sabar menunggu.” Jawab Jin Tae.


So Hye dan Mi Sun heran mendengar kata2 Jin Tae. Mereka pun langsung membahas hal itu setelah Jin Tae masuk ke ruangan tempat Seol dirawat. So Hye berkata, bahwa Seol jago mengendarai motor dengan satu tangan. Tak lama kemudian, Jin Tae keluar sambil mendorong kursi roda yang diduduki Seol.


“Kalian pasti terkejut, kan? Setelah sekian lama tidak bertemu kalian, aku malah menciptakan masalah untuk kalian.” Ucap Seol.

“Masalah apanya? Yang terpenting kau baik2 saja. Apa itu sakit?” jawab So Hye.

“Aku baik2 saja.” Jawab Seol.

“Aku senang melihat wajah cantikmu tidak apa2. Aku pikir aku akan kehilangan anakku.” Ucap Mi Sun.

“Tidak heran kau telat memiliki anak.” Ucap Jin Tae sambil menertawakan Mi Sun.

“Bukan itu maksudku.” Jawab Mi Sun.


Jin Tae lalu membawa Seol ke kamar rawat Seol. Seol terlihat muak dengan perlakukan manis Jin Tae padanya. So Hye tersenyum melihat perlakuan manis Jin Tae pada Seol. Seol ingin pulang, tapi Jin Tae melarang. Jin Tae berkata bahwa Seol harus tetap berada di rumah sakit sampai Seol benar2 dinyatakan sehat. So Hye setuju dengan Jin Tae.

“Suamiku bilang dia akan menghancurkan ku kalau aku sakit, jadi aku tidak pernah sakit.” Ucap Mi Sun.

“Itu tidak mungkin. Apalagi yang berharga bagi seorang suami selain istrinya?” jawab Jin Tae.


Seol tersenyum sinis mendengarnya. Melihat senyum sinis Seol, So Hye langsung menyadari ada yang tidak beres. Jin Tae yang sadar So Hye curiga, langsung mengalihkan kecurigaan So Hye dengan menyuruh Seol istirahat karena Seol terlihat lelah. Seol menatap muak Jin Tae.

“Kalian bertemu lagi setelah sekian lama tapi kami malah membuat kalian berada dalam masalah.” Ucap Jin Tae.

“Jangan bicara seperti itu. Kami ini sahabat. Jangan cemaskan itu.” jawab So Hye.

So Hye lalu minta diri. Mi Sun yang tidak ngeh tidak setuju kalau mereka harus pulang secepat itu. So Hye pun langsung memberi kode dengan menyikut lengan Mi Sun. Mi Sun mengerti. Sebelum pergi, Jin Tae berkata akan mengundang So Hye dan Mi Sun ke rumah mereka. So Hye mengangguk, kemudian menatap Seol. Seol berkata akan menelpon So Hye nanti.


Setelah So Hye dan Mi Sun pergi, Seol ngamuk. Ia membanting semua barang yang ada di sekitarnya. Jin Tae berusaha menenangkan Seol. Seol marah, ia bilang Jin Tae sangat menjijikkan hingga membuatnya ingin muntah.

“Beraninya kau mengatakan itu!” Jin Tae marah.

“Keluar!” teriak Seol.


“Aku mabuk saat itu. Ini bagian dari bisnisku. Aku membuat kesalahan. Kau tahu kan pria sering melakukan itu. Ini satu dari beberapa kesalahan yang kubuat. Kau sendiri, apa kau sempurna? Kau mandul, ayahmu punya banyak hutang dan ibumu terbaring di tempat tidur. Aku yang mengurusnya.” Jawab Jin Tae.

“Aku tidak munafik sepertimu! Jangan pernah memaksaku!” teriak Seol sambil menatap tajam Jin Tae.

“Baiklah, baiklah. Istirahat lah selama beberapa hari. Aku akan bicara pada ibu.” Jawab Jin Tae.


Ponsel Jin Tae berdering. Jin Tae menerima panggilan dari Seketaris Yang. Jin Tae menyuruh Seketaris Yang mencari rumah perawatan untuk ibu mertuanya. Ia menyuruh Seketaris Yang mencari tempat yang bagus dan dekat dari Seoul. Seol langsung terdiam mendengarnya. Jin Tae juga meminta Seketaris Yang mencarikan pengasuh untuk ibu Seol.


So Hye menunggu Mi Sun masuk ke taksi. Setelah Mi Sun pergi, barulah So Hye menaiki taksinya. Namun saat ia hendak membuka pintu taksi, ia dikejutkan dengan kehadiran Chang Suk. Chang Suk membawa So Hye ke bengkel. Di sana, sudah menunggu Hae Sung yang meminta pertanggungjawaban So Hye.

“Kau seharusnya menghubungiku.” Protes So Hye.

“Kau harus melihatnya secara langsung bagaimana seriusnya masalah ini. Sahabatku, Baobin. Apakah bagimu itu tidak mengerikan? Dia membutuhkan perawatan karena organ dalamnya pecah.” Jawab Hae Sung. Wkwkwkw…


“Biarkan perusahaan asuransi yang mengurusnya.” Ucap So Hye kesal.

“Bintang top dunia, mereka menulis pneumonia ketika aku sedang batuk. Kenapa aku menyebabkan masalah ini?” jawab Hae Sung.

Hae Sung lalu memberikan rincian biaya perbaikan yang totalnya 16.45 juta won dan menyuruh So Hye mendapat biaya perbaikan itu. So Hye terkejut. Hae Sung bilang kalau itu belum termasuk biaya sewanya. So Hye pun mengalah, ia bilang ia akan bertanggung jawab atas kerusakan mobil Hae Sung. Tapi saat So Hye ingin pergi, Hae Sung malah menahannya dan berkata kalau mereka harus meeting membahas ide2nya yang setara dengan penulis film2 terkenal Hollywood.  Hahahah….


“Ini waktunya bagimu untuk menunjukkan kemampuanmu dan aku akan menunggu perbaikan script nya.” Ucap Hae Sung lagi.

Setelah mengatakan itu, Hae Sung kembali menangisi Baobin nya. So Hye pun makin gondok. Hahahahaha….


So Hye kembali ke rumahnya dengan marah2. “Bintang top dunia apanya? Kau bintang top dunia yang bodoh! Kenapa dia mengikutiku ke sana dan menyebabkan kecelakaan! Perbaikan script? Dia tidak akan bisa menanganinya meskipun aku melakukannya!”

Lalu tiba2, sesuatu terlintas dalam pikiran So Hye. So Hye pun tersenyum jahil.

(Jangan2 So Hye mau balik ngerjain Hae Sung nih dengan menulis perubahan script sesuai dengan yang diminta Hae Sung)


Hae Sung masuk ke tempat nge-gym dengan gaya narsisnya. Tiba2, para gadis datang dan berebut meminta tanda tangan Hae Sung. Para gadis itu menjerit histeris saat Hae Sung mengatakan ‘I love you’ ke salah satu dari mereka. Chang Suk lalu datang dan menarik Hae Sung menjauhi para gadis itu. Chang Suk memberitahu Hae Sung kalau hari ini Hae Sung harus melakukan yang namanya reading script.

“Apa revisinya sudah terbit?” tanya Hae Sung yang langsung diiyakan Chang Suk.

Hae Sung pun menyuruh Chang Suk membuat janji dengan salon kecantikan untuk merubah style rambutnya. Hae Sung juga minta penata gayanya datang membawakan pakaian mewahnya. Hae Sung ingin menunjukkan pada So Hye kalau ia sangat fashionable. Chang Suk menyambut gembira ide Hae Sung itu.


So Hye yang baru keluar dari lift bersama Sang Hwa langsung dikejutkan oleh Hae Sung yang mengarahkan pistol mainan padanya. So Hye memandang jijik Hae Sung. Hae Sung dengan pedenya bertanya apa yang sedang dipikirkan So Hye. Ia bertanya, apa So Hye sedang memikirkan “Hitman’ yang berdiri di hadapannya.

“Kau sudah menyiapkan semuanya?” tanya So Hye sambil menahan tawa.


Tak lama kemudian, penata gaya Hae Sung datang membawakan pakaian mewah Hae Sung.

“Setelah pembacaan script selesai, kami juga ingin membicarakan konsep style kami.” Ucap Hae Sung.

So Hye pun langsung menyuruh Sang Hwa memberikan script nya pada Hae Sung.


Sesuai dugaan So Hye, Hae Sung mulai keringat dingin. So Hye memberi pengarahan, ia minta dua bintang utamanya untuk focus dan berakting senatural mungkin untuk adegan emosional. Min Ah yang duduk disamping So Hye bertanya, apa maksud ia akan memainkan dua karakter berbeda. So Hye berkata, kalau Min Ah akan menjadi cinta pertamanya K.

“Ini menarik.” Ujar Min Ah.

“Bisakah kita mulai sekarang?” tanya Sutradara Yoon.


“Kita akan mulai sekarang. Suatu hari di tepi tebing, sebuah mobil bak terbuka berhenti. K seolah2 muncul dari sebuah majalah dan keluar dari mobil. Ia menatap Sesuatu. Min Ah berdiri di pinggir tebing dengan berurai air mata.” ucap tim produksi.

Hae Sung mulai berakting. “Jadi pada akhirnya kau memutuskannya? Pernikahan?”

“Min Ah diam saja dan hanya menangis.”


Min Ah pun menangis, tak butuh waktu lama bagi Min Ah mengeluarkan air matanya. Tangisan Min Ah membuat Hae Sung bertambah gugup. Adegan selanjutnya, K harus menahan tangisnya. Tapi Hae Sung bukannya menahan tangis, malah melotot. Chang Suk yang sedari tadi duduk di belakang Hae Sung bersama Sang Hwa pun berbisik menyuruh Hae Sung menangis. Hae Sung mulai tegang. Hae Sung selanjutnya diminta beradegan menangis sambil menertawakan dirinya sendiri. Tapi Hae Sung malah tertawa, bukan menangis. So Hye pun berusaha menahan tawanya melihat Hae Sung berakting.

“Jadi begini? Apa ini cinta yang kau maksud? Apa ini takdir?” ucap Hae Sung sembari membaca dialognya, lalu tertawa.


Sutradara Yoon mulai kesal. Ia menyuruh Hae Sung untuk menghayati karakter K. Sedangkan So Hye berusaha sekuat mungkin menahan tawanya. Latihan pun kembali dimulai. Min Ah diharuskan beradegan menatap K dengan mata berkaca2.

“Tinggalkan aku. Hanya itulah yang bisa kau lakukan untukku.” Ucap Min Ah sambil membaca dialognya.


“Tidak boleh! Jangan pergi! Berhenti!” balas Hae Sung.

Dan K pun semakin emosional.

“Berhenti! Berhenti! Berhenti!” teriak Hae Sung, yang langsung membuat kesal Sutradara Yoon.

So Hye masih berusaha sekuat mungkin menahan tawanya yang hampir pecah. Hae Sung ingin mencobanya sekali lagi. Sutradara Yoon memberinya kesempatan. Namun lagi2 Hae Sung membuat kecewa Sutradara Yoon. Tawa So Hye pun akhirnya pecah. Min Ah yang duduk disamping So Hye juga ikut tertawa. Wajah Hae Sung pun seketika merah padam.


So Hye berjalan ke parkiran bersama Min Ah. Min Ah kecewa karena acting memalukan Hae Sung. So Hye membela Hae Sung, ia berkata itu karena Hae Sung baru pertama kali mendapatkan peran seperti ini. Tanpa mereka sadari, Hae Sung dan Chang Suk mendengarkan pembicaraan mereka. So Hye dan Min Ah masih terus menertawakan acting memalukan Hae Sung. Hae Sung yang melihat tawa mereka pun kecewa berat.

Chang Suk yang sedang menyetir mobil, sesekali melihat ke arah Hae Sung yang duduk di belakang sambil memejamkan mata. Chang Suk merasa kasihan pada Hae Sung. Tak lama kemudian, Hae Sung membuka matanya dan menyuruh Chang Suk menepikan mobilnya. Chang Suk awalnya enggan menghentikan mobil, ia mengkhawatirkan Hae Sung. Namun Hae Sung memaksa Chang Suk menghentikan mobil.


Mobil akhirnya berhenti di tepi Sungai Han. Begitu mobil berhenti, Hae Sung langsung melonjak turun dan berlari ke arah Sungai Han. Di tepi Sungai Han, Hae Sung meluapkan segala kekecewaannya. Chang Suk berkaca2 menatap Hae Sung.


Seol mengirimkan pesan untuk So Hye. Dalam pesannya, ia menyuruh So Hye datang sebelum ia kembali ke rumah. Seol mengaku banyak yang mau dikatakannya tapi ia tidak bisa mengatakannya kemarin. Namun belum sempat Seol mengirimkan pesan itu, Mi Do datang mengejutkan Seol.

“Aku ada di sini sekarang. Aku sadar, aku tahu diriku wanita jalang. Aku tahu aku memalukan. Aku memahami perasaanmu, tapi aku bukanlah tipe yang akan melarikan diri dari masalah, untuk itulah aku kemari. Tolong bermurah hati lah dan maafkan aku. Aku mabuk saat itu. Kita lupakan saja masalah ini.” ucap Mi Do.

Mi Do lantas memeluk Seol, tapi Seol langsung mendorongnya dan menatapnya tajam.

“Aku datang ke sini untuk meminta maaf. Berani2nya kau… ada apa dengan sikapmu. Ada apa dengan matamu?” bentak Mi Do.

“Apa kau sudah gila!” Seol balas membentak Mi Do.


Plaaak! Mi Do menampar Seol dengan keras. Mi Do juga menghina Seol yang tidak bisa melakukan tugas sebagai seorang wanita. Seol pun syok dengan perlakukan Mi Do. Mi Do juga berkata, ia tidak akan menampar Seol kalau Seol mau memaafkannya. Mi Do lalu mengancam Seol, ia berkata kalau sampai ada yang tahu apa yang terjadi kemarin, maka bukan hanya tamparan yang akan diterima Seol. Seol pun terluka, tapi ia tak bisa melakukan apa2. Yang bisa ia lakukan hanyalah menangis.


Hae Sung mengurung diri di kamarnya. Untuk menghibur diri, ia menyalakan miniature kereta apinya. Tapi tetap saja ia tak bisa melupakan yang terjadi hari itu. Kata2 Min Ah dan So Hye tentang acting buruknya terngiang2 di telinganya. Hae Sung kecewa dan memukul2kan kepalanya ke bantal. Tak lama kemudian, Chang Suk datang memberitahu Hae Sung kalau CEO Choi ingin bertemu.

Hah? CEO Choi?? Apa dia Choi Jin Tae suaminya Seol??


Hae Sung langsung bangkit dari kasurnya dan menatap tajam Chang Suk. Chang Suk ketakutan.

“Kenapa kau melakukan itu padaku? Apa? Apa yang kulakukan?” tanya Hae Sung.

“Bukan begitu tapi itu karena kau sedang marah.” Jawab Chang Suk.

“Aku tidak marah. Aku sedang berakting sekarang. Bagaimana menurutmu? Apa kau masih berpikir aku si Foot Acting?” tanya Hae Sung.

Chang Suk diam saja, ia mengerti perasaan Hae Sung. Hae Sung mulai berkaca2.

(Kasihan juga si Hae Sung).

Jin Sook memanggil Penulis Kim ke ruangannya. Ia kecewa dengan naskah Penulis Kim. Penulis Kim hampir menangis saat Jin Sook membentaknya cukup keras. Penulis Kim menjelaskan kalau ia hanya menulis apa yang ingin dia tulis. Mendengar itu, Jin Sook semakin marah dan berencana menuntut Penulis Kim.


Hae Sung melihat keributan itu dari luar jendela. Setelah Penulis Kim pergi, Hae Sung langsung masuk ke ruangan Penulis Kim. Hae Sung bertanya, apa Jin Sook orang2 menyebutnya apa. Jin Sook tersenyum dan berkata orang2 menjulukinya si Nona Penuntut.

“Kau seharusnya menjaga martabatmu. Aku akan memberimu banyak uang.” Ucap Hae Sung.

“Kudengar kau sudah melakukan pembacaan naskah. Apa Lee So Hye bertingkah lagi? Katakan padaku kalau kau tidak menyukainya. Aku punya banyak penulis lain yang bisa menggantikannya.” Jawab Jin Sook.

“Jangan lakukan apapun. Aku mulai menyukai drama ini.” ucap Hae Sung.

“Membuat drama juga sebuah bisnis.” Jawab Jin Sook.

“Gunakan yang lain untuk membuat bisnismu. Jika kau mengganti produser atau penulisnya lagi, aku tidak akan menunda jadwalku diluar negeri.” Ancam Hae Sung.


“Aku kecewa mendengarnya. Kudengar kau mengalami kecelakaan. Kau punya Chang Suk, kenapa kau menyetir sendiri?”

“Aku akan mengurusnya dengan uangku jadi jangan cemas.”

“Kudengar kau bersama Lee So Hye.” Ucap Jin Sook, yang membuat senyuman Hae Sung langsung hilang.

“Kau tahu kenapa aku memanggil diriku si Nona Penuntut? Apa kau masih punya perasaan padanya?” tanya Jin Sook.

“Apa kau ingin menulis novel juga? Lanjutkan saja tuntutanmu itu. Aku permisi.” Jawab Hae Sung.

Jin Sook tersenyum, tapi di matanya terlihat sebuah kekecewaan.


So Hye yang menyusuri jalanan sendirian masih saja tertawa geli atas acting memalukan Hae Sung kemarin. So Hye lalu bertanya2 sendiri, apa ia terlalu keras pada Hae Sung. Ponsel So Hye berdering. Satu pesan masuk, dari Hae Sung. So Hye kesal karena Hae Sung tak pernah memberikan waktu untuknya istirahat. So Hye memaki Hae Sung dengan sebutan dungu. Tepat saat itu, seorang pria dengan penutup di wajahnya dan berjaket lengkap melintas di depan So Hye. Pria itu menghampiri So Hye setelah mendengar makian So Hye.

“Apa yang kau bilang?” tanya pria itu sambil melepaskan penutup wajahnya.

“Kenapa kau datang ke sini?” ucap So Hye kesal.


“Aku datang untuk mengambil uangku. Aku tidak punya mobil, jadi aku berlari ke sana kemari. Aku sangat lelah.” Protes pria yang ternyata Hae Sung.

“Dia masih sakit jadi aku tidak bisa bicara ganti rugi sekarang.” jawab So Hye.

“Bagaimana dengan sahabatku, Baobin. Dia juga sedang sakit. Berikan aku uangnya sekarang. Kau bisa minta ganti pada temanmu.” Ucap Hae Sung.

“Berikan nomor rekeningmu.” Jawab So Hye.

Bukannya memberikan nomor rekeningnya, Hae Sung malah mengalihkan topic pembicaraan mereka dengan melarang So Hye mengganggu CEO Choi. Hae Sung menyuruh So Hye focus pada naskah romantic drama nya. Hae Sung bahkan meledek So Hye dengan tangannya. So Hye menghela napas kesal.

“Berikan aku uang untuk naik taksi.” Pinta Hae Sung.

“Apa?” kaget So Hye.

“Apa kau ingin aku pulang dengan berjalan kaki?” tanya Hae Sung.

So Hye pun dengan terpaksa memberi Hae Sung uang. Hae Sung berkata, karena dia bintang top dunia jadi dia akan memesan taksi yang mahal. So Hye kesal dan terpaksa menambahkan uangnya. Hae Sung lantas mengingatkan ganti rugi yang harus dibayar So Hye. So Hye pun langsung menatap tajam Hae Sung.

Hae Sung lalu beranjak pergi. Dia naik perosotan kesana kemari membuat So Hye geleng2 kepala melihat tingkahnya. Hahaha… ngakak sengakak2nya aku pas adegan ini…


So Hye pergi ke perusahaan travel. Ia memesan tempat di hari pertama bulan depan. Petugas yang melayani So Hye pun senang karena kali ini So Hye benar2 akan pergi. So Hye juga meminta rekomendasi hotel, restoran dan guide terbaik. So Hye berkata, tujuan wisatanya adalah Salar De Uyuni.

(Oh jadi lukisan yang dilihat So Hye itu lukisan Salar De Uyuni toh)


So Hye duduk di sebuah ruangan yang menampilan video Salar De Uyuni. So Hye tak sendiri, ia bersama dengan pengunjung yang lain. Mata So Hye tampak berbinar2 melihat rekaman itu. Tak lama kemudian, Joon Gi datang dan duduk tak jauh dari So Hye. So Hye terkejut melihat Joon Gi. Begitu Joon Gi menatap ke arahnya, ia langsung menutupi wajahnya dengan buku panduan Salar De Uyuni, tapi hanya beberapa detik saja karena So Hye langsung tersenyum setelah itu.

“Bukankah kau sibuk dengan pekerjaanmu? Kenapa kau pergi tanpa memberitahuku?” tanya Joon Gi.

“Karena aku tahu kau akan memarahiku.” Jawab So Hye.


“Kau punya waktu? Tidak, tidak. Ayo kita pergi bersama meskipun kau tidak punya waktu. Aku harus mengirimkan paket ini. Ayo pergi bersama dan biarkan aku memarahimu untuk setiap hal kecil yang kau lakukan.” ucap Joon Gi.

“Apa kau mau mengajakku berkencan? Karena kesalahanku, jadi aku tidak akan lari lagi.” Jawab So Hye sambil tertawa.

Joon Gi pun menggandeng lengan So Hye.


Joon Gi dan So Hye berjalan menyusuri taman Joseon. Sambil mengaduk minumannya, So Hye bertanya sejak kapan Joon Gi merencanakan pergi berlibur. Joon Gi berkata ia sudah merencanakannya beberapa tahun yang lalu. Tempat dimana langit dan tanah bertemu, Salar De Uyuni. Joon Gi berkata ia ingin pergi ke sana. So Hye terkejut.

“Kenapa?” tanya Joon Gi heran.

So Hye pun menunjukkan wallpaper Salar de Uyuni di ponselnya. Joon Gi tertawa dan menunjukkan wallpaper yang sama di ponselnya. Mereka pun sama2 tertawa.

“Wah, aku tidak tahu ada tempat seindah ini di Seoul.” Ucap So Hye sambil menatap sekeliling taman Joseon.


“Itu karena kau terlalu monoton dengan pekerjaanmu. Ada Dulle-gil trail. Jika kau ke sana, kau akan menemukan tempat2 yang bagus.” Jawab Joon Gi.

“Itu benar. Aku terjebak diantara pekerjaanku. Aku pikir aku harus pergi ke tempat2 yang indah sebelum aku mati. Seperti Saint Exupery, penulis yang tidak pernah kembali dari liburannya. Bukankah itu cool?” ucap So Hye.


Joon Gi hanya tertawa. So Hye bertanya, kenapa?

“Aku juga memikirkan hal yang sama ketika aku divonis mengidap kanker paru2.” Jawab Joon Gi yang membuat So Hye terkejut.

“Kau tidak tahu? Ini sudah menjadi rahasia umum.” Ucap Joon Gi.

“Kau bercanda, kan?” tanya So Hye.

“Aku tahu kalau diriku pria yang humoris. Tapi sayangnya ini benar. Saat itu, aku menyalahkan Tuhan. Bukankah itu aneh dokter yang mengidap kanker mengambil specialis kanker?” jawab Joon Gi, membuat So Hye syok.


Joon Gi mengajak So Hye ke sebuah rumah yang lebih mirip sebuah taman. Rumah itu dipenuhi banyak bunga. So Hye lantas duduk di atas hammock. Joon Gi duduk di meja di depan So Hye.

“Bukankah rasanya seperti menyentuh langit?” tanya Joon Gi.


“Wow, itu benar. Ini seperti Salar de Uyuni.” Jawab So Hye sambil melihat ke arah langit.

“Aku turut bersedih untukmu, tapi itu membuat perasaanku lebih baik. Dokter yang juga mengidap kanker. Aku tidak merasakan sakit sendirian.” Ucap So Hye, yang disambut tawa Joon Gi.

“Tapi kau tidak menandai harimu?” ucap So Hye lagi.

“Aku mengidap kanker stadium empat. Awalnya aku pikir aku hanya punya waktu setahun, tapi nyatanya aku sudah hidup selama 5 tahun. Mulanya aku berpikir, saat aku meninggal dan sahabatku akan datang menangisiku aku akan lebih baik dan memperoleh kesadaranku.” Jawab Joon Gi.


“Hidup dan mati bukanlah sesuatu yang bisa kita putuskan. Mengatakan terang2an siapa yang tidak menandai harinya. Tidak seorang pun yang tahu kapan dan bagaimana mereka akan mati. Jadi seharusnya kau berterima kasih untuk harimu dan hiduplah bahagia.” Ucap Joon Gi lagi.

“Jadi aku bisa melakukan perjalanan?” tanya So Hye.

“Tentu saja, tidak ada alasan untuk tidak pergi. Tapi kau harus pergi dengan doktermu ini.” jawab Joon Gi.

“Dokterku? Jadi kau akan pergi denganku?” tanya So Hye.

“Biayanya akan sangat banyak kalau aku pergi denganmu, tapi karena kita sama2 pejuang kanker, haruskah relawanku ikut?” jawab Joon Gi yang disambut tawa So Hye.

“Tapi apakah kita benar2 bisa pergi?Apakah aku masih hidup bulan depan?” tanya So Hye, yang langsung membuat Joon Gi terdiam.


“Apa gejala yang akan kualami?” tanya So Hye lagi.

“Jika kau tidak melakukan pengobatan, pertama2 kau akan terserang pneumonia dengan demam tinggi dan hemoptisis.” Jawab Joon Gi.

So Hye berusaha menanggapinya dengan santai.

“Ayo kita bicarakan tentang perjalanan kita sebagai gantinya. Tentang Salar de Uyuni.” Ucap So Hye.

“Itu benar. Itu sempurna! Pertama, untuk pergi ke Salar de Uyuni, kita harus makan dengan baik. Untuk pasian seperti kita, takut pada ketinggian akan berakibat buruk. Kedua, kita harus makan dengan baik untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh kita. Ketiga, ayo makan sesuatu yang enak.” Jawab Joon Gi.

Tawa So Hye pun langsung pecah…


Jin Tae dan seketarisnya dengan terburu2 menuju kamar rawat Seol. Setibanya di sana, Jin Tae panic karena tidak mendapati Seol. Seketarisnya berkata, sudah mengecek rekaman CCTV dan Seol pergi satu jam yang lalu. Seol juga mematikan ponselnya dan tidak ada daftar panggilan di ponselnya. Saat perawat datang, Jin Tae pun berpura2 seolah tidak terjadi apa2. Jin Tae bilang kalau Seol kembali ke rumah karena merasa bosan di rumah sakit.


So Hye sedang mendengarkan lagu yang direkomendasikan Joon Gi padanya. Joon Gi bilang lagu itu akan membuat So Hye merasa tenang. So Hye mendengarkan lagu itu sambil menggerakkan sedikit tangannya. Sang Hwa yang melihat itu pun langsung merasa heran, menurutnya So Hye sedikit berbeda akhir2 ini.


“Benarkah?” tanya So Hye.

“Bagaimana ya cara mengatakannya. Menurutku, kau terlihat lebih hidup. Kau terlihat lebih sehat.” Jawab Sang Hwa.

“Aku terlihat lebih sehat?” tanya So Hye.

“Itu benar. Kau terlihat lebih cantik juga. Kau seperti seseorang yang sedang jatuh cinta.” Jawab Sang Hwa.

So Hye pun tertawa menanggapi ucapan Sang Hwa.


Jin Tae kesal karena orangnya belum berhasil menemukan Seol. Pada sang ibu, Jin Tae berbohong. Ia berkata kalau Seol masih harus melakukan serangkaian test di rumah sakit. Jin Sook merasa hal itu hanya membuang uang saja karena luka Seol tidak terlalu parah. Sang ibu pun setuju dengan ucapan Jin Sook.

“Jangan begitu. Dia sedang sakit. Memangnya dia pelayan kita?” jawab Jin Tae.

“Kenapa? Apa dia mengatakan itu. Dia bilang kami memperlakukannya seperti pelayan?” tanya Jin Sook kesal.

Jin Tae pun langsung kehilangan selera makannya dan beranjak pergi.

Sang ibu pun merasa heran dengan sikap Jin Tae yang mendadak memperhatikan Seol. Ia yakin Jin Tae sudah melakukan sebuah kesalahan.


So Hye pergi ke sebuah restoran. Di sana, rekan2 satu timnya sudah menunggu. So Hye heran karena tiba2 tim mereka melakukan makan malam. Sutradara Yoon berkata, itu karena Hae Sung. Sutradara Yoon bercerita kalau Hae Sung sangat depresi setelah script reading kemarin, jadi mereka harus menghibur Hae Sung. So Hye tidak percaya.

“Depresi? Dia penuh dengan energy.” Jawab So Hye.

“Itu hanya diluarnya saja. Dia dipermalukan di depan semua orang kemarin. Perasaannya pasti kacau.” Ucap Sutradara Yoon.

“Dia bukan anak2. Kenapa kau jadi bersikap manis padanya? Lupakan itu. Aku harus pergi. Kau bilang kau yang akan menangani Ryoo Hae Sung.” ucap So Hye kesal.

“Penulis Lee, aku tahu kau menulis naskah itu untuk menipu Hae Sung. Kali ini aku akan membiarkanmu.” Jawab Sutradara Yoon.

“Aku tidak berniat melakukan itu, bukan itu maksudku.” Ucap So Hye.

“Kau sengaja melakukannya kan untuk mengganggunya.” Jawab Sutradara Yoon.

“Baiklah, baiklah!” ucap So Hye kesal.


Sutradara Yoon pun tersenyum puas karena berhasil membuat So Hye makan malam dengan mereka. Begitu So Hye datang, Hae Sung langsung menyambut So Hye dengan gaya lebay nya. Hae Sung menawari So Hye minum, tapi So Hye menolak. Hae Sung memaksa, ia bilang jika So Hye tidak mau minum dengannya itu artinya So Hye ingin drama mereka gagal. Hae Sung juga bilang So Hye harus menari dengan gaya seperti kepiting jika tidak mau minum dengan mereka.

“Memaksa seseorang minum, bukankah itu tidak sesuai? Seseorang harusnya minum minuman yang mereka sukai.” Jawab So Hye, lalu beranjak ke tempat duduk.


Hae Sung pun duduk disamping So Hye dan berkata So Hye sangat membenci dirinya. So Hye manatap kesal Sutradara Yoon yang mengerling padanya. So Hye lantas menyuruh Hae Sung menuangkan minum untuknya. Disaat tim nya mulai minum untuk merayakan kesuksesan Hitman, So Hye tidak minum dan menaruh gelasnya di meja.

“Apa kau membawa uang cash?” tanya Hae Sung, membuat semuanya bingung.

“Penulis Lee menghancurkan Baobin ku yang berharga. Tapi dia tidak mau membayar ganti rugi.” Ucap Hae Sung.

“Aku kan sudah bilang akan membayarnya nanti. Aku belum membicarakan hal ini karena temanku masih sakit.” Jawab So Hye kesal.

“Kau belum memberitahunya? Hey, bukannya ini kasus tabrak lari? Ayo kita membuat laporan ke polisi.” Ucap Hae Sung.

“Baiklah, baiklah! Aku akan membayarnya! Kau puas!” teriak So Hye, lalu beranjak pergi.


Chang Suk pun memarahi Hae Sung karena membuat So Hye kesal dan bergegas menyusul So Hye. So Hye pergi mengambil uang. Tepat saat itu, Chang Suk datang dan memberitahu So Hye kalau biaya perbaikan sudah dibayar oleh perusahaan. So Hye terkejut dan langsung berpikir Hae Sung berusaha mendapatkan biaya perbaikan double.


Chang Suk pun panic dan berusaha menjelaskan kalau Hae Sung hanya bercanda. So Hye tidak percaya dan langsung melabrak Hae Sung. Tapi Hae Sung malah membuat So Hye semakin kesal dengan berkata kalau So Hye sudah melanggar kontrak mereka. Sutradara Yoon dan tim lainnya tentu saja bingung dengan kontrak yang dimaksud Hae Sung.

“Itu bukan apa2. Kontrak apa? Itu hanya omong kosong. Hae Sung sudah mabuk sepertinya.”  Jawab So Hye.

“Aku tidak mabuk. Penulis Lee, aktingmu benar2 luar biasa.” Ucap Hae Sung sambil tertawa puas.


So Hye semakin kesal diolok2 begitu oleh Hae Sung.

“Asisten Sutradara, kirimkan pesan padaku..” Suruh Hae Sung.

Tak lama kemudian, ponsel Hae Sung berdering. Ringtone nya, suara So Hye yang mengakui kesalahan dan meminta maaf. So Hye pun terkejut. Sementara Hae Sung tertawa puas dan semakin mengolok2 So Hye. Hae Sung menyuruh asisten sutradara menghubungi ponselnya untuk mendengarkan ringtone yang lebih panjang.


So Hye ngamuk, ia berusaha merebut ponsel Hae Sung namun gagal. Chang Suk menatap cemas ke arah Hae Sung. So Hye yang sudah tak bisa menahan dirinya lagi akhirnya membenturkan kepalanya dengan keras ke kepala Hae Sung. Hae Sung pun jatuh pingsan dan harus berakhir di rumah sakit.

Bersambung ke part 2

No comments:

Post a Comment