Saturday, November 5, 2016

I Have a Lover Ep 27 Part 1

Sebelumnya...


Tae Seok mengunjungi Gyu Seok di rumah sakit. Tae Seok heran karena Gyu Seok tidak lagi makan siang di halaman rumah sakit. Gyu Seok berkata kalau Yong Gi tidak boleh melarikan diri lagi dari Tae Seok.

“Woo Joo tidak boleh berlari, itu berbahaya baginya. Woo Joo adalah pasienku. Kau pasti tahu penyakit itu, betapa beratnya penyakit itu. Woo Joo dan aku harus bersama selamanya.  Perusahaan Farmsi Cheon Nyeon telah menghalangi pasienku untuk datang, aku pastikan bahwa hal itu tidak akan pernah terjadi lagi. Jangan buat Woo Joo berlari lagi hanya karena dia pegawai Perusahaan Farmasi Cheon Nyeon.” Ucap Gyu Seok.

Tae Seok pun tertegun mendengarnya….


Hae Gang resah melihat tulisannya tentang Pudoxin di kaca. Tak lama kemudian, ia duduk di mejanya dan terdiam melihat berkas Moon Tae Joon yang menggugat Perusahaan Farmasi Cheon Nyeon atas efek samping Pudoxin. Seok yang sudah tidak tahan lagi akhirnya merebut berkas itu dari tangan Hae Gang dan merobeknya. Hae Gang pun marah.

“Lalu bagaimana denganmu? Apa yang akan kau lakukan pada Choi Jin Eon? Apa kau mencintainya? Lalu apa yang akan terjadi padanya karena ini semua? Dia tidak bisa berbuat apapun antara kau dan perusahaannya. Setiap hari akan terasa seperti neraka baginya. Apa kau akan baik2 saja dengan semua ini? Posisinya di perusahaan tidak akan nyaman karenamu. Pada akhirnya semua ini akan berpengaruh pada posisi Choi Jin Eon!”

Hae Gang diam saja….


“Kau bukan Dokgo Yong Gi lagi. Kau adalah Do Hae Gang! Kau akan melawan perusahaan itu sebagai dirinya. Semua orang tahu kau dulu adalah istrinya. Kau pikir semua pekerja akan membiarkan Choi Jin Eon sendirian? Kau akan menghancurkannya, kau yang membuatnya seperti itu!”

Hae Gang tetap kekeuh mau melawan perusahaan Jin Eon, meski tersirat kekhawatiran di wajahnya. Seok membujuk Hae Gang agar tidak melakukan itu.

“Aku percaya padanya. Dia memintaku untuk menyerahkan semua padanya . Dia bilang dia akan menyelesaikannya. Dia bukan seseorang yang akan diam saja. Ini berkaitan dengan nyawa seseorang. Seseorang mati karena kasus ini, Seok-ah! Aku harus melakukannya, kasus ini, aku harus melakukannya. Ini bukan karena Moon Tae Joon, tapi karena diriku. Semua kasus mengerikan yang aku menangkan, semua perbuatan jahat yang mungkin telah aku lakukan. Ini semua untuk mereka. Ini untuk ketakutan masa laluku.” Jawab Hae Gang.

Hae Gang lalu melihat berkas Kim Sun Yong yang dituduh melakukan penggelapan dana dan melakukan bunuh diri dengan cara melompat ke kereta api.


Di apartemen Seol Ri, Yong Gi juga sedang melihat berkas yang sama. Yong Gi tidak mengerti darimana Seol Ri mendapatkan semua itu. Seol Ri lantas menyuruh Yong Gi melihat berkas tentang pembunuh Eon Sol.

“Peneliti senior melakukan bunuh diri. Pembunuhnya berada di penjara, padahal sama sekali tidak bersalah. Ayahnya Woo Joo juga meninggal dengan cara yang sama. Ada kesalahan. Itu pembunuhan, bukan kecelakaan. Bagi wanita itu, dia bukan seseorang yang melakukan kesalahan. Maksudku yang membuat ayah Woo Joo pergi. Dia mengambil kehidupanmu, bahkan mengambil orang2 terdekatmu.  Dia membuat Woo Joo pergi ke China. Siapa yang membuat seperti itu? Apakah karena hilang ingatan, hal ini bisa dibiarkan begitu saja? Dia hidup dengan melangkahiku. Dia membuat semua orang di sekitarnya berdarah. Apakah hilang ingatan bisa membuatnya tidak bersalah? Hanya karena dia tidak ingat, bukan berarti dia bebas dari hukuman.” Hasut Seol Ri.


“Kita juga tidak boleh lupa bagaimana dia hidup. Bagaimana dia bertahan, kita harus tahu. Bagaimana dia tidak pernah menyesal atas perbuatannya pada pria itu, kita tidak boleh melupakannya.” Jawab Yong Gi.

Seol Ri tersenyum puas karena berhasil menghasut Yong Gi.

“Kalau dia tidak ingat, aku yang akan membuatnya ingat. Aku bisa menjelaskan itu padanya. Aku akan menemui Do Hae Gang, bahkan Min Tae Seok. Aku tidak mau melarikan diri lagi. Aku akan mengungkapkan kebenaran dan menerima akibatnya. Aku akan mengembalikannya, seperti yang sudah aku terima, aku akan mengembalikannya.” Ucap Yong Gi berapi2.

Dan Seol Ri pun merasa puas karena Yong Gi mulai termakan omongannya.


Yong Gi yang baru pulang terkejut melihat Gyu Seok berdiri di halaman rumahnya. Gyu Seok bertanya, apa Yong Gi bisa mempercayainya. Yong Gi tertegun mendengarnya. Gyu Seok lantas beranjak mendekati Yong Gi dan mengulangi pertanyaannya.

“Aku ingin percaya padamu.” Jawab Yong Gi pelan.

“Kalau begitu, ayo hidup bersama.” Ajak Gyu Seok.

Gyu Seok masuk ke rumah Yong Gi begitu saja. Begitu melihat Gyu Seok, Woo Joo tersenyum dan langsung menghampiri Gyu Seok. Gyu Seok menggendong Woo Joo dan menyuruh Yong Gi mengemasi barang2. Yong Gi awalnya menolak, tapi ia tak bisa berbuat apa2 selain menuruti pilihan Gyu Seok.


Gyu Seok membawa Woo Joo dan Yong Gi kembali ke rumah Nyonya Kim. Nyonya Kim mengaku bahwa dirinya lah yang menyuruh Gyu Seok menjemput Yong Gi. Nyonya Kim berkata, akan lebih baik bagi Woo Joo tinggal di rumahnya, karena Gyu Seok bisa selalu mengawasi Woo Joo. Yong Gi pun tak punya pilihan lain selain menuruti kata2 Nyonya Kim.


Hae Gang turun dari bis. Wajahnya nampak tegang.


Woo Joo sudah tidur lelap. Yong Gi duduk disamping Woo Joo, menemani Woo Joo.


Hae Gang sudah tiba di rumahnya. Yong Gi keluar dari kamar karena mendengar bunyi bel. Yong Gi terkejut melihat wajah Hae Gang di layar intercom. Hae Gang menunggu di depan rumah. Tak lama kemudian, Yong Gi keluar dengan wajah tegang. Hae Gang terkejut melihat Yong Gi yang berjalan ke arahnya. Sementara Yong Gi menatap Hae Gang penuh kebencian.

“Aku ingin berbicara denganmu, tapi tidak di sini. Ada kafe di dekat taman, kita bicara di sana.” Ucap Yong Gi.

Hae Gang terlihat senang karena akhirnya bertemu dengan Yong Gi.


Hae Gang yang sudah di kafe duluan teringat kata2 Seok bahwa Yong Gi masih belum tahu bahwa ia memiliki saudara kembar. Seok berkata, ia tidak bisa memberitahu Yong Gi karena takut Yong Gi akan trauma jika tahu Hae Gang terluka karena Yong Gi. Tak lama kemudian, Yong Gi pun datang dan duduk di depan Hae Gang.

“Ini ada hubungannya dengan Do Hae Gang, kan?” tanya Yong Gi.

“Benar. Meskipun belum lama…”


Belum selesai Hae Gang bicara, Yong Gi sudah memotong perkataan Hae Gang.

“Istri dari pewaris Perusahaan Cheon Nyeon.” Ucap Yong Gi.

Yong Gi pun tersenyum sinis.

“Aku akhirnya bertemu dengan Dokgo Yong Gi yang asli. Aku penasaran dan ingin bertemu denganmu.” Ucap Hae Gang.

“Bagaimana kau tahu namaku?” tanya Yong Gi.

“Dari Seok. Bagaimana kepribadianmu, apa yang kau sukai dan tidak kau sukai, selama 4 tahun aku mempelajari semua itu. Karena aku hidup sebagai dirimu, karena aku berusaha keras untuk meniru, untuk menjadi seperti dirimu. Mungkin itu sebabnya, meskipun ini pertemuan pertama kita, aku merasa seperti menemui teman lama. Begitulah kau bagiku. Yong Gi-ssi, tentang kita… sejujurnya kita….”

“Benarkah? Saat kau hidup sebagai diriku, aku meninggalkan nama dan pekerjaanku. Aku hidup sebagai pelarian di China, setiap hari hidup dalam ketakutan. Aku terpaksa hidup sebagai Zhang Min di China, berusaha menghindari Perusahaan Farmasi Cheon Nyeon yang mau membunuhku, menghindari orang2 dari Perusahaan Farmasi Cheon Nyeon, dan mungkin menghindarimu!”

Hae Gang terkejut mendengar penuturan Yong Gi.


Kita lalu dialihkan pada adegan Nyonya Kim yang baru pulang belanja. Nyonya Kim menanyakan Woo Joo dan Yong Gi pada Gyu Seok. Nyonya Kim ingin tahu apa Gyu Seok sudah memberitahu yang sebenarnya pada Yong Gi. Gyu Seok menggeleng. Nyonya Kim pun berterima kasih ada Gyu Seok.


Tak lama kemudian, Woo Joo keluar dan merengek mencari ibunya. Gyu Seok berkata, bahwa Yong Gi sedang keluar sebentar. Gyu Seok lalu menyuruh Woo Joo duduk disampingnya. Gyu Seok berkata, Yong Gi akan kembali setelah Woo Joo selesai menghitung sampai 100.


Hae Gang meminta Yong Gi memberitahunya tentang apa yang sudah ia lakukan pada Yong Gi dan Woo Joo.

“Kau menyelamatkan hidupku dan anakku. Karena aku, kau bahkan ditikam, hanya saja kau mengambil ayah dari anakku.” Jawab Yong Gi.

“Apa maksudmu?” tanya Hae Gang.


“Dia peneliti di Perusahaan Farmasi Cheon Nyeon. Dia mati karena membuka sebuah rahasia. Dia dibunuh, tapi kemudian dibuat seolah2 dia melakukan bunuh diri. Sebelum membunuhnya, mereka menuduhnya melakukan penggelapan dana, dia menerima dakwaan tertulis. Saat itu, Ketua Tim dari Departemen Hukum adalah Do Hae Gang. Untuk membuktikan bahwa dia tidak bersalah, aku bahkan menerima ancaman pembunuhan. Untuk melindungi bayi di rahimku, aku melarikan diri ke China. Aku sangat kesepian, ketakutan dan menjadi korban. Aku kasihan pada anakku. Karena aku sudah ketahuan, aku tidak punya tempat untuk melarikan diri lagi. Aku akan mengungkapkan kebenarannya. Meskipun kau tidak ingat bahwa kau sudah melakukan kesalahan, kau harus menerima bayarannya. Aku akan berterima kasih padamu nanti, setelah kau membayar semua kejahatanmu.” Ucap Yong Gi dengan mata berkaca2.

Yong Gi lantas beranjak pergi. Sementara Hae Gang syok mendengar penuturan Yong Gi itu.


Yong Gi kembali ke rumah Nyonya Kim. Ia sangat heran dengan ekspresi Hae Gang tadi saat ia menceritakan semuanya. Beberapa saat kemudian, ia dikejutkan dengan suara Nyonya Kim yang mengajaknya makan ubi manis. Yong Gi pun duduk di depan Nyonya Kim.

“Empat tahun lalu, aku mencuri mobil seorang wanita dan melarikannya. Aku sedang dikejar2 waktu itu. Wanita itu mengalami kecelakaan dan bukannya aku.” ucap Yong Gi.

Nyonya Kim menanggapinya dengan santai dan memberikan ubi yang baru saja dikupasnya pada Yong Gi.

“Karena kecelakaan itu, wanita itu kehilangan ingatannya dan hidup sebagai aku.” ucap Yong Gi.


Nyonya Kim terkejut, apa?

“Wajah kami mirip. Putrimu masih hidup. Do Hae Gang hidup sebagai diriku selama 4 tahun. Maafkan aku. Aku benar2 minta maaf.” Ucap Yong Gi.

Nyonya Kim pun syok…..


Keesokan harinya, Yong Gi bercerita pada Seol Ri bahwa jantungnya berdebar2 saat melihat wajah Hae Gang di layar intercom. Seol Ri ingin tahu apa yang dikatakan Yong Gi. Yong Gi berkata kalau ia mengatakan apa yang mau dikatakannya.

“Aku sangat gugup setelah mendengar ucapanmu. Bedanya, dia tetap diam tanpa berkata apapun seperti orang yang telah berbuat kesalahan. Aku rasa dia sangat terkejut dengan dirinya sendiri.” Ucap Yong Gi.

“Dia harus tahu tentang siapa dirinya. Lebih dan lebih akurat lagi. Kita tidak bisa membiarkannya begitu saja hanya karena dia kehilangan ingatannya. Sehingga dia bisa berpura-pura menjadi baik, benar atau bersih dan tidak tahu apa-apa. Wanita itu membuat aku merinding.” Jawab Seol Ri dengan wajah puasnya.


“Tapi dia mungkin benar-benar telah berubah. Sikapnya padaku terlihat tulus. Aku hanya membenci masa lalunya, apa yang telah dilakukannya pada Sun Yong.” Ucap Yong Gi.

“Kita akan mencari tahu, kapan ingatannya kembali, apakah dia akan berubah, atau dia akan berubah lagi.” Jawab Seol Ri.


Seol Ri lantas menanyakan rencana Yong Gi. Ia ingin tahu apa Yong Gi akan menghukum Hae Gang dan orang2 yang terlibat dengan kasus Pudoxin.

“Media lebih cepat daripada polisi, benarkan?” tanya Yong Gi.

“Reaksinya akan besar dan akan susah untuk ditutup-tutupi.” Jawab Seol Ri.

“Selama aku tidak di khianati.” Ucap Yong Gi.

“Menurut Song Mi Ae, ada video yang tidak disiarkan, apa kau memilikinya? Kalau itu disiarkan, jaksa akan memulai penyelidikan.” Jawab Seol Ri.

“Aku anggap aku akan baik-baik saja, tapi kalau itu disiarkan, maka akan berakibat buruk pada farmasi Cheon Nyeon, apa tidak apa-apa bagimu?” tanya Yong Gi.

“Aku tidak bisa mendapatkan segalanya. Aku tidak memerlukan uang, posisi ataupun kekuasaan. Mengajar, dan mengadakan penelitian yang aku inginkan, aku puas hidup seperti itu.” jawab Seol Ri.

“Lalu apa yang kau perlukan?” tanya Yong Gi.

“Harga diriku yang telah diinjak-injaknya... Cintaku yang telah menjadi kesalahan bagi kisah cintaku…” jawab Seol Ri.


Tak lama kemudian, ponsel Seol Ri berdering. Yang menghubungi Seol Ri siapa lagi kalau bukan Jin Ri. Jin Ri menyuruh Seol Ri datang. Seol Ri pun mengaku bahwa ia tidak bisa datang karena sedang kurang enak badan. Jin Ri pun kesal.

“Dikatakan bahwa seseorang yang bekerja mati karena terlalu banyak bekerja, tapi tidak banyak yang kau lakukan. Patuhi saja kalau aku menyuruhmu untuk datang. Apa kau dalam situasi dimana kau bisa memilih antara makanan yang benar dan makanan sampah?” ucap Jin Ri.

“Semakin menyedihkan situasinya, lebih baik aku memakan makanan yang benar. Kalau aku tidak merawat diriku sendiri, siapa yang akan merawatku?” jawab Seol Ri.

“Bukankah kau penasaran dengan pembunuh Eun Sol, yang telah dibebaskan? Kau ingin bertemu dengannya.” Ucap Jin Ri.

Seol Ri pun terkejut, Apa?

“Kau harus menemuinya untuk membuat Do Hae Gang berada di jalan berduri. Kau harus menaruh batu di sepatunya dan mengeringkan darahnya sampai mati, cepatlah kemari.” Suruh Jin Ri.


Tak lama kemudian, Tae Seok datang. Tae Seok menanyakan apa menu makanan hari ini. Jin Ri menjawab dengan enteng kalau menu makanannya adalah Do Hae Gang. Tae Seok meminta Jin Ri tidak ikut campur soal Hae Gang.

“Jin Eon menyalakan api, jadi kita harus mematikannya. Kalau aku membiarkannya, suamiku akan mati terbakar, aku harus melakukan sesuatu. Tapi, kenapa mereka tidak berbuat apa-apa?” ucap Jin Ri.

“Apa maksudmu?” tanya Tae Seok.

“Kenapa Do Hae Gang dan Jin Eon tenang sekali?” jawab Jin Ri.

“Mereka tidak punya bukti kuat bagaimanapun mereka menggalinya. Dia sudah mengambil umpannya, tapi adik ipar bukanlah lawanku, kecuali pengacara Do.” Ucap Tae Seok.

“Apakah itu yang kau banggakan? Apa yang kau lakukan dengan baik dan membicarakannya?”  tanya Jin Ri.

“Kau bilang untuk hidup seperti binatang. Kita harus bertahan dengan insting binatang, bukan manusia, kau benar. Kita dalam permainan ayam sekarang, dia menarikku untuk mati bersama-sama dengannya. Dia menantang duluan untuk membuat kita mati sama-sama.” Jawab Tae Seok.

“Siapa yang kau bicarakan? Aku pikir Jin Eon bukanlah lawanmu? Tapi, apakah Do Hae Gang yang mengatakan itu?” tanya Jin Ri.

“Ayah mertua!” jawab Tae Seok.

“Apa? Ada apa dengan ayah?” tanya Jin Ri bingung.

“Ayah mertua, ingin menjadi Nongae.” Jawab Tae Seok.

“Nongae?” tanya Jin Ri bingung.

“Dia berusaha menahanku dan melemparkan kita pada kematian.” Jawab Tae Seok.

“Jangan berbelit-belit, langsung jawab saja pertanyaanku! Ada apa dengan ayah? Apa yang dilakukan ayah?” tanya Jin Ri.


Presdir Choi terkejut menerima kabar bahwa Hae Gang masih hidup. Nyonya Kim yang terburu2 keluar dari rumahnya karena ingin menemui Hae Gang berkata bahwa ia akan menghubungi Presdir Choi setelah bertemu dengan Hae Gang. Presdir Choi senang dengan kabar bahwa menantunya itu masih hidup.


Jin Ri gemetaran mengetahui ayahnya telah membunuh ayah Hae Gang dan mencuri hak paten obat yang dikembangkan ayah Hae Gang. Tae Seok berkata, karena itulah Presdir Choi mau menghancurkannya lewat kasus Pudoxin. Karena ia memegang rahasia Ssang Hwa San, jadi Presdir Choi mau menyingkirkannya. Tae Seok juga berkata, bahwa Presdir Choi bisa saja memberikan Perusahaan Farmasi Cheon Nyeon kepada Hae Gang, bukan kepada Jin Ri atau pun Jin Eon.


Tuan Baek yang sedang membuat dimsum dikejutkan dengan suara teriakan Nyonya Kim yang mencari Hae Gang. Tuan Baek berkata, bahwa Hae Gang tidak berada di rumah sekarang. Bahwa Hae Gang sedang pergi keluar. Nyonya Kim terduduk lemas.

“Rumah? Dimana rumahnya? Ini bukan rumahnya. Ini bukan rumah anakku. Rumah apanya. Bagaimana bisa ini menjadi rumahnya? Bagaimana dia… kenapa Hae Gang ku….”

Tangis Nyonya Kim pun pecah.


“Dia seseorang yang bahkan tidak bisa tidur di tempat asing. Dia bahkan tidak bisa pergi ke kamar kecil di tempat yang asing. Aku bahkan tidak tahu kalau dia sedekat ini denganku. Aku tidak tahu dia masih hidup. Seperti ini… seperti ini… aku sangat terkejut bahwa dia…”

Nyonya Kim terus menangis… sampai dadanya terasa sesak…

Hae Gang kini berada di depan kantor Jin Eon. Jin Eon sendiri sedang menuju ke suatu tempat di kantornya. Perlahan2, Hae Gang berjalan menuju kantor Jin Eon. Salah satu seketaris Jin Eon mengenali Hae Gang.

“Kau mengenalku?” tanya Hae Gang.

“Tentu saja, tidak ada yang tidak kenal denganmu di gedung ini. Mungkin tidak termasuk karyawan baru.” Jawab seketaris Hae Gang.

Hae Gang lantas menoleh pada Manajer Byeon. Dengan wajah terpaksa, Manajer Byeon membungkuk memberi hormat pada Hae Gang. Seketaris Jin Eon berkata, bahwa Manajer Byeon datang dari Pabrik Guri, jadi dia tidak mengenali Hae Gang.

“Apa yang kau bicarakan. Kau benar2 salah orang. Aku tahu semua yang harus diketahui.” Jawab Manajer Byeon.

“Kau datang untuk bertemu Presdir Choi Jin Eon?” tanya Manajer Byeon.

“Aku datang untuk menemui Presdir Min Tae Seok.” Jawab Hae Gang.


Tae Seok pura2 menyambut Hae Gang dengan ramah. Ia berkata, tidak tahu harus memberi Hae Gang jabat tangan atau pipi. Hae Gang menyuruh Tae Seok memberikan posisinya. Tae Seok terkejut.

“Kalau tidak, berikan hidupmu. Perbuatan yang telah kau lakukan padaku.” Ucap Hae Gang.

“Ini bukan kata2 yang keluar dari seorang pengacara. Ah, hilang ingatan. Kau ingat namaku, tapi tidak ingatanmu. Patuhlah pada hukum, Direktur Do. Silahkan duduk. Karena dosa2ku, kakiku jadi gemetaran. Jadi ayo duduk.” Jawab Tae Seok.


Jin Eon masuk ke bagian Departemen Hukum dengan terburu2. Karuan saja, tim Departemen Hukum terkejut dengan kehadiran Jin Eon yang tak lain adalah atasan mereka. Jin Eon masuk ke sebuah ruangan, ia melihat laptop pria itu.


“Aku rasa semua dokumen yang dibuat Departemen Hukum ada di sini. Dokumen yang kau kirimkan padaku, aku merobeknya tanpa membacanya. Apa isi dokumen itu? Sepertinya itu dokumen rahasia, sesuatu yang tidak boleh diketahui orang lain. Kau mengirimkannya padaku pasti karena kau ingin aku mengetahuinya, kan?” pancing Jin Eon.

Pria itu mulai gugup… Tanpa basa basi, Jin Eon melihat laptop pria itu dan meminta password laptopnya. Pria itu pun akhirnya mengaku bahwa dokumen yang dicari Jin Eon tidak ada padanya.

“Itu artinya, dokumen itu bukan berasal dari sini? Itu dibawa dari tempat lain dan dibuat baru supaya terlihat berasal dari Departemen Hukum?” tanya Jin Eon.

Pria itu pun mengiyakannya.

“Aku tahu siapa yang memerintahkannya, jadi aku tidak akan bertanya. Jangan beritahu orang itu karena aku akan berpura2 tidak tahu.” ucap Jin Eon.


“Pemalsuan laporan kematian, dua kali tabrak lari, pembunuhan berencana, kita bicarakan itu setelah aku bisa membuktikannya.” Ucap Hae Gang sambil menatap tajam Tae Seok.

“Kau mau melakukanya? Baiklah kalau begitu, aku akan menunggu. Tunjukkan semua bakatmu, Pengacara Do. Sekarang aku mengakui betapa aku merindukannya. Direktur Do yang berdarah dingin. Kau sangat brutal di pengadilan.” Jawab Tae Seok.

Hae Gang mulai takut… takut pada dirinya sendiri…

Bersambung ke part 2.............

4 comments: