Wednesday, November 16, 2016

I Have a Lover Ep 32 Part 2

Sebelumnya...


“Anakmu yang mencurinya! Anakmu yang sangat sukses itu, membuka tasku tanpa sepengetahuanku dan mencuri barang milikku!” ucap Yong Gi.

Nyonya Kim terkejut, Apa?

“Kau membesarkan anakmu dengan baik sebagai pencuri terdidik. Barang yang dia curi dariku adalah bayaran dari hidup ayahnya Woo Joo. Untuk menutupi perbuatannya, untuk menutupi kesalahannya, bagaimana bisa dia... padaku? Dia menyebut dirinya Eonni dan bagaimana bisa dia melakukan itu padaku? Kakak macam apa itu? Bagaimana bisa dia jadi kakakku?” protes Yong Gi.

Nyonya Kim syok.


“Aku akan melaporkannya ke polisi sekarang!” ucap Yong Gi.

“Yong Gi-ya! Tidak boleh.” Jawab Nyonya Kim.

Yong Gi pun kecewa mendengar jawaban Nyonya Kim.

“Dia kakakmu, dia kakak kandungmu. Dengarkan dulu perkataannya. Cari tahu penyebab kenapa dia melakukannya. Dan setelah itu… Yong Gi, kumohon. Aku, ibumu, memintamu seperti ini. Ibu memohon padamu seperti ini, Yong Gi-ya.” ucap Nyonya Kim.


Tangis Yong Gi pecah… Ia menatap Nyonya Kim dengan tatapan kecewa

“Ibu? Kau menyebut dirimu ibu sekarang? Karena aku akan melaporkannya ke polisi, sekarang kau jadi ibu? Ibu macam apa itu? Itu bukan ibu. Kau adalah ibunya, bukan ibuku! Kau menyebut dirimu ibu. Jangan sembarangan bicara, Ahjumoni!” teriak Yong Gi.


Yong Gi pun beranjak ke kamarnya. Di kamar, tangisnya pecah. Tangis Nyonya Kim juga pecah.


Woo Joo ada di kamar Gyu Seok. Ia terlihat seperti seseorang yang sedang ngambek sama pacarnya. Sementara itu, Gyu Seok berdiri di belakang Woo Joo.

“Bagaimana kau bisa membuat aku seperti ini? Pikiranku akan mengering, tapi kau tetap menutup mulutmu. Apa yang terjadi, katakanlah Woo Joo.” Ucap Gyu Seok.


Gyu Seok lantas duduk di depan Woo Joo.

“Makan malam seharusnya jam 7, tapi sekarang sudah jam 9:27 dan aku masih belum bisa makan. Kalau kau tidak mau berbicara, setidaknya keluarlah supaya kita bisa makan.” Ucap Gyu Seok.

“Polisi akan membawa bibi pergi.” Jawab Woo Joo.

“Huh? Kenapa polisi akan membawa bibimu pergi?” tanya Gyu Seok.

“Ibu bilang akan melaporkan bibi ke polisi. Karena dia mencuri.” Jawab Woo Joo.

Gyu Seok kaget, Apa??


Tepat saat itu, Gyu Seok menerima panggilan dari Hae Gang. Hae Gang mengajak Gyu Seok bertemu.


Kini, Hae Gang dan Gyu Seok duduk di sebuah kafe.

“Kau mendengar dari siapa aku yang mengambil barangnya?” tanya Hae Gang.

“Aku pergi untuk mengambilnya karena aku kira kakakku yang mengambilnya, saat itulah aku mendengarnya.” Jawab Gyu Seok.

“Apakah Yong Gi juga tahu?” tanya Hae Gang. Gyu Seok mengiyakan.

“Kau berbeda dari kakakmu.” Ucap Hae Gang.

“Kau juga berbeda dari adikmu.” Jawab Gyu Seok.

“Apa hubunganmu dengan adikku? Mendengar kau langsung menemui kakakmu.” Tanya Hae Gang.

Gyu Seok :  Doker, pasien, wali, tidak kurang tidak lebih. Aku selalu bisa menemui kakakku. Apapun yang kakakku lakukan, atau apapun yang kau lakukan dengan kakakku bukanlah urusanku. Aku hanya ingin merawat pasienku dengan aman dan selamat.


Hae Gang : Apakah sulit untuk merawat penyakit yang tidak ada obatnya di Korea?

Gyu Seok : Itu sebabnya aku datang ke Korea.

Hae Gang : Di Amerika kau di rumah sakit mana?

Gyu Seok : Rumah sakit John Hopkins, bagian penyakit yang tidak dapat disembuhkan. Pusat Mckusick, spesialisasi pada panyakit yang tidak dapat disembuhkan seperti penyakit Gaucher.

Hae Gang : Aku ingin mengirim Woo Joo dan Yong Gi kesana. Bisakah kau membuat koneksi di sana? Tidak perduli berapa banyak biayanya. Daripada di Korea, lebih baik rumah sakit terpercaya di sana. Aku rasa perawatannya akan lebih baik. Untuk Woo Joo… Juga untuk Yong Gi, aku rasa itu yang terbaik. Karena kau pernah di sana, kalau kau mengirimkan email aku rasa semuanya akan diproses dengan cepat

Gyu Seok : Kalau Dokgo Yong Gi menginginkannya, maka aku akan mengirim email. Tolong bicarakan dulu dengan adikmu.

Hae Gang : Baiklah


Gyu Seok : Kenapa kau mengambilnya? Siapa yang berusaha kau lindungi? Apakah kau sendiri atau adikmu?

Hae Gang : Siapapun yang memegangnya akan berada dalam bahaya, yang terbaik adalah menyingkirkannya.

Gyu Seok : Kenapa kau memutuskan seperti itu?

Hae Gang : Karena aku adalah kakaknya.


Gyu Seok ; Sejak awal, bukankah kau kakaknya yang melakukan ini pada adikmu?

Hae Gang : Dulu aku tidak tahu kalau dia adalah adikku. Tapi karena sekarang aku tahu, aku harus melindunginya.

Gyu Seok : Dengan kakakku?

Hae Gang terdiam.

“Lupakan saja. Kalau kau sudah selesai bicara, aku akan pergi.” Ucap Gyu Seok.

Wajah Gyu Seok menyiratkan bahwa ia menyadari alasan Hae Gang dekat dengan kakaknya.


Tanpa Hae Gang sadari, si pembunuh Eun Sol duduk tak jauh darinya. Begitu Hae Gang pergi, Shin Il Sang langsung mengikutinya. Namun ponsel Shin Il Sang tiba2 berdering. Ia pun batal mengikuti Hae Gang. Shin Il Sang terkejut karena yang menghubunginya adalah ayah Eun Sol.


“Sudah lama, aku bertemu denganmu di penjara Seoul. Sudah lima tahun.” Ucap Shin Il Sang.

“Kau sudah dibebaskan, benarkan?” tanya Jin Eon.

.Ya, benar.” jawab Shin Il Sang.

Tapi bagaimana kau bisa mendapatkan nomorku? Apa kau mendapatkannya dari penjara Daejeon?” tanya Shin Il Sang.

“Temuilah aku.” pinta Jin Eon.

“Kenapa? Kenapa aku harus menemuimu lagi, ayahnya Eun Sol?” tanya Shin Il Sang.

“Aku sudah membayar utangku. Orang yang bersikap seolah-olah tidak terjadi apapun setelah melakukan kesalahan, bukan aku, tapi isterimu.” Ucap Shin Il Sang.

“Apa itu artinya kau sudah bertemu dengan isteriku?” tanya Jin Eon cemas.

“Ya, aku bertemu dengannya. Isterimu tidak mengenali aku.” jawab Shin Il Sang.

“Mari kita bertemu dan bicara. Kau ada dimana? Mari kita bicara.” Ajak Jin Eon.

“Jangan khawatir, aku bukan pembunuh. Aku tidak berusaha untuk membunuh isterimu. Aku berusaha hidup, aku berusaha hidup dengan ini. Jadi tolong jangan menelponku lagi.” Ucap Shin Il Sang.

Jin Eon pun makin cemas karena Shin Il Sang memutuskan pembicaraan begitu saja.

Usai bicara dengan Jin Eon, Shin Il Sang kembali mencari Hae Gang.


Jin Eon berusaha menghubungi Hae Gang, namun tidak ada respon. Akhirnya, Jin Eon mengirimi Hae Gang pesan. Ia memberitahu tentang kebebasan Shin Il Sang dan meminta Hae Gang untuk berhati2.


Keesokan harinya, Tae Seok terkejut saat Produser Kim memberitahunya tentang adanya tuntunan Pudoxin. Produser Kim berkata, bahwa ibu Moon Tae Joon yang mengambil alih tuntutan.

“Dalam sebulan, kita harus memasukkan kertas jawaban.” Ucap Produser Kim.

“Memukul batu memakai telur? Siapkan tim hukum.” Suruh Tae Seok.

“Ya.” jawab Produser Kim.

“Firma mana yang ingin mendapatkan uang dengan memegang telur?” tanya Tae Seok.

“Firma hukum yang sama, Firma hukum Baek Seok.” Jawab Produser Kim.

Tae Seok terkejut.

“Baek Seok? Kita harus memberikan kasus ini kepada Pengacara Do. Ya, mari kita lihat bagaimana Do Hae Gang keluar.” Ucap Tae Seok.


Tae Seok lantas memberitahu Jin Eon tentang tuntutan Pudoxin yang dilayangkan Seok pada mereka.

Tae Seok : Tidakkah ini berbau mencurigakan? Bagaimanapun aku memikirkannya, tuntutan ini sepertinya ditujukan kepadamu. Pengacara Baek Seok tidak punya perasaan yang baik padamu. Kenapa dia membuang-buang waktunya dengan kasus yang tidak mungkin dia menangkan? Tidak ada korban di sini. Apa yang akan dilakukannya dengan kehilangan keluarga? Bukankah ini terlalu serampangan? Aku rasa tuntutan serampangan ini. Bukan pada keadilan tapi kepada kejahatan.Aku berpikir untuk memberikan kasus ini kepada pengacara Do. Bagaimana menurutmu? Bukankah ini menyenangkan?

Tae Seok pun beranjak pergi.


Setelah Tae Seok pergi, Jin Eon terduduk dan mulai memikirkan semuanya. Dimulai dari Hae Gang yang sumringah menerima bunga dari Seok. Kemudian saat Seok menggenggam erat tangan Hae Gang di depannya, dan saat ia memergoki Hae Gang menangis melihat foto di kameranya.

Jin Eon : Hei, Hyun Woo-ya. Mereka berdua berkencan tapi yang memasukkan tuntutan melawan Pudoxin adalah pengacara Baek Seok. Apakah itu masuk akal?

Hyun Woo : Itu benar


Jin Eon lantas beranjak pergi. Ia pergi ke hotel Hae Gang. Dan ia terhenyak saat pelayan memberitahunya bahwa Hae Gang sudah check out.

Bersambung………

Preview Ep 33


Jin Eon : Maaf karena aku tidak bisa menepati janjiku untuk tidak lelah denganmu. Aku mulai lelah. Aku akan melepaskanmu. Aku menyerah. Sampai jumpa di kantor, Wakil Presdir Do Hae Gang.

Hae Gang syok... Tanpa ia sadari itu hanyalah sandiwara Jin Eon. Ya, Jin Eon tersenyum saat beranjak pergi meninggalkan Hae Gang.

4 comments: