Sunday, November 20, 2016

I Have a Lover Ep 33 Part 1

Sebelumnya...


Jin Eon terkejut mengetahui Hae Gang sudah meninggalkan hotel.


Sementara itu, di tempat barunya, Hae Gang tertegun saat melihat sebuah foto. Tak lama kemudian, tangisnya pecah.


Jin Eon langsung pergi ke rumahnya di Buamdong. Ia berusaha mencari tahu alamat baru Hae Gang lewat Nyonya Kim. Tapi Nyonya Kim juga tidak tahu tempat tinggal Hae Gang yang baru. Nyonya Kim berkata, Hae Gang tidak mau memberitahunya karena takut ia akan memberitahukan alamat itu pada Jin Eon.

“Kapan Hae Gang akan mulai bekerja? Kenapa tidak kau ikuti dia dan cari tahu? Kau tidak akan menyerah kan? Kau akan menunggu dia sampai akhir kan? Jin Eon-ah.” Ucap Nyonya Kim.

“Kalau itu yang diinginkannya, kalau dia menginginkan aku, ibu... Aku tidak tahu apa yang sebenarnya diinginkannya. Aku tidak tahu dia ingin aku melakukan apa, ibu. Aku bahkan tidak tahu apakah benar bagiku untuk melakukan apa yang ia inginkan.Aku tidak tahu apapun.” Jawab Jin Eon.


Sementara itu di kamarnya, Hae Gang tersenyum menatap fotonya bersama dengan Jin Eon dan Eun Sol.

“Ibu mencintaimu, Eun Sol! Aku mencintaimu, Yeobo.” Gumam Hae Gang.


Dan Jin Eon, pria itu melangkah gontai keluar dari rumahnya di Buamdong. Namun langkahnya terhenti saat tiba di luar pagar. Pria itu kemudian berbalik dan menatap ke arah rumahnya. Ingatannya seketika melayang ke masa lalu.

Flashback On….


“Yeobo!” panggil Hae Gang seraya keluar rumah dengan terburu2.

“Panggil aku sekali lagi, Hae Gang-ah!” jawab Jin Eon yang berdiri di depan pintu.

“Sayang!” panggil Hae Gang.”

Flashback end….

Jin Eon membeku, benaknya lantas memutar kembali kenangannya yang lain.

Flashback On…


Jin Eon dan Hae Gang sedang membacakan dongeng untuk Eun Sol yang masih berada di perut Hae Gang. Jin Eon membacakan dongeng sambil mengelus2 perut Hae Gang yang sudah membesar.

“Bayiku, bayiku, apa kau tahu betapa ibu mencintaimu? Seperti ranting pohon yang membuat sarang burung aman, ibu mencintaimu. Seperti gelombang yang dengan lembut menyapu pasir di pantai, aku mencintaimu. Seperti angin yang bertiup, aku mencintaimu. Seperti bumi yang mengelilingi matahari, aku mencintaimu. Seperti bintang kecil yang memelukmu, aku mencintaimu. Bayiku, anakku, dimanapun dirimu, apapun yang kau lakukan, kami mencintaimu, kami mencintaimu. Kami mencintai semua tentang dirimu.” Ucap Jin Eon dan Hae Gang bersamaan.


Usai membaca dongeng, Jin Eon berkata kalau ia sangat mencintai Hae Gang.

“Aku tahu.” jawab Hae Gang.

“Itu saja?” tanya Jin Eon.

Hae Gang mengangguk.

Apakah sesulit itu? Apakah sulit sekali bagimu mengakui kalau kau mencintaiku?” tanya Jin Eon.

“Hentikan, aku ingin bayi kita mendengarkan musik.” Jawab Hae Gang.


Hae Gang lantas bangkit dari duduknya dan mulai memutar sebuah lagu…. Hae Gang membeku, lalu tak lama kemudian ia memejamkan matanya menikmatu alunan lagu. Jin Eon kemudian memeluk erat Hae Gang dari belakang. Mereka berdua larut dalam suasana romantic yang mereka ciptakan sendiri.

Flashback end….


Sekarang, Jin Eon sedang menikmati harinya di padang ilalang. Ia menyusuri padang ilalang sendirian…


Di sisi lain, kita juga melihat Hae Gang yang sedang menyusuri padang ilalang. Ingatan Hae Gang seketika melayang ke saat2 dimana ia dan Jin Eon menyusuri padang ilalang itu bersama ketika dirinya masih amnesia.

Flashback On….


“Kali ini jangan lelah dengan cintamu. Bahkan setelah ingatanku kembali.” Pinta Hae Gang.

“Aku tidak akan lelah. Kali ini aku akan melindungimu sampai akhir.’ Jawab Jin Eon.

Flashback end…


Langkah Jin Eon terhenti begitu melihat Hae Gang. Tak lama kemudian, ia tersenyum haru.

“Aku pikir kau tidak ingat, aku kira kau tidak mencintaiku.” Batin Jin Eon.


Hae Gang lantas kembali berjalan. Bersamaan dengan itu, air matanya mengalir. Dan Jin Eon, ya!! Pria itu mengikuti Hae Gang. Dengan senyum merekah, Jin Eon mengikuti Hae Gang.


Jin Eon terus mengikuti Hae Gang hingga ke jalan raya. Ia buru2 bersembunyi di balik pohon ketika langkah Hae Gang berhenti. Hae Gang menerima panggilan dari Seok.

“Ya, Seok-ah.” Sapa Hae Gang.

“Seok-ah? Bukan pengacara Baek, tapi hanya Seok-ah? Ketahuan kau sekarang!” ucap  Jin Eon.

“Tidak, aku sudah selesai berbenah, santai saja dan datanglah kemari.” Jawab Hae Gang.

“Datanglah? Kemana?” ucap Jin Eon gondok.

“Kemana? Baik, mari kita lakukan itu, mari kita bersantai dan melepaskan stress dari pikiran dan tubuh kita. Baiklah, sampai jumpa nanti.” Jawab Hae Gang.


Hae Gang lantas masuk ke apartemennya tanpa menyadari ada Jin Eon yang berdiri di luar apartemennya. Tak lama kemudian, Hae Gang keluar sambil membawa peralatan mandinya.


Jin Eon mengikuti Hae Gang sampai ke tempat sauna!! Hae Gang masuk ruang sauna dan duduk di pojokan tanpa menyadari Jin Eon yang mengintipnya dari depan pintu. Tak lama kemudian, Jin Eon masuk sembari menutupi kepala dan wajahnya dengan handuk kecil. Jin Eon kemudian duduk disamping Hae Gang.

Beberapa jam kemudian, Jin Eon mulai kepanasan… Hahahha…


Hae Gang berbaring. Tak lupa ia menutupi wajahnya dengan handuk. Melihat Hae Gang berbaring, Jin Eon ikut berbaring. Tak lama kemudian, Jin Eon mulai menggeser tubuhnya ke dekat Hae Gang. Jin Eon dengan sengaja bernapas keras2. Hae Gang pun mulai kesal mendengarnya. Tapi ia cuek saja awalnya dan kembali tidur. Jin Eon pun menatap Hae Gang dan bernapas lagi dengan keras. Hae Gang menyibak handuknya. Jin Eon buru2 menutupi wajahnya dengan handuk.

“Permisi,  Ahjussi, bergeserlah lagi. Cepat bergeser.” Suruh Hae Gang.


Jin Eon pun menggeser tubuhnya menjauhi Hae Gang. Hae Gang pun kembali tidur, namun tak lama kemudian ia bangun dan memperingatkan para cewek yang satu ruangan dengannya kalau Jin Eon adalah pria mesum! Hae Gang pun beranjak pergi tanpa sadar pria yang dikatainya mesum itu adalah Jin Eon. Cewek2 itu pun langsung berebut keluar mendengar ada pria mesum di dekat mereka.

Tak lama setelah Hae Gang keluar, Jin Eon ikut keluar. Jin Eon celingak celinguk mencari Hae Gang. Senyumnya mengembang ketika mendapati Hae Gang sedang duduk sendirian. Namun senyumnya itu langsung hilang ketika melihat Seok menghampiri Hae Gang.

“Tidakkah kau lelah? Aku sudah bilang ini akan membantumu dan keras kepalamu.” Ucap Seok.

“Setelah aku berkeringat, aku merasa lebih baik.” Jawab Hae Gang.


Jin Eon lantas duduk tak jauh dari Hae Gang…

“Haruskah kita menaruh handuk di kepala kita?” tanya Seok.

Seok lantas melipat handuk itu menyerupai topi dan memakaikannya ke kepala Hae Gang. Jin Eon gondok melihatnya. Hahahaha….

“Cantik sekali!” puji Seok.

“Aku yakin aku terlihat cantik.” Jawab Hae Gang.


“Hei, apa kau bertemu dengan orang yang ikut dalam tes klinis dan berhenti?” tanya Hae Gang.

“Aku berencana menemui 2 orang besok, salah satunya sekarang dirawat karena kerapuhan tulang. Tidak ada yang menuntut karena mereka yang menginginkannya.” Jawab Seok.

Wajah Hae Gang pun seketika berubah sedih… Tiba2, ponsel Seok berdering. Seok menggerutu membaca nama yang muncul di layarnya.

“Kenapa? Siapa?” tanya Hae Gang.

“Choi Jin Eon.” Jawab Seok.

“Lagi?” tanya Hae Gang.

“Ini ke empat kalinya hari ini. Aku tidak menjawabnya, bagaimana denganmu?” ucap Seok.

“7 kali, mungkin aku harus mengganti nomorku.” Jawab Hae Gang.

“Haruskah aku juga?” tanya Seok.


“Dia akan segera tahu alamatmu, setelah kau bekerja, dia akan mengetahuinya dengan mengikutimu.” Ucap Seok.

“Aku tahu. Kalau aku akan menyakinkan orang itu, aku harus memperjelas diriku seperti ini. Lebih kejam, aku harus lebih tegas.” Jawab Hae Gang.

“Sudah lama kita tidak ke spa.” Ucap Seok.

“Aku tahu, sekarang sedang libur panjang, aku dan anak-anak sering datang kemari. Bagaimana kabar mereka?” tanya Hae Gang.

“Mereka baik-baik saja.” Jawab Seok, tapi Hae Gang tidak percaya.

“Sungguh, kau tahu lebih baik bagaimana caranya tegas pada mereka daripada aku.” ucap Seok.


Namun Hae Gang tetap saja sedih. Seok pun mengembalikan tawa Hae Gang dengan caranya. Ia melihat handuk sauna menyeruapi ayam dan menirukan suara ayam. Tawa Hae Gang pun meledak. Jin Eon makin cemburu.

“Lihatlah itu!” suruh Seok.

Begitu Hae Gang lengah, Seok memukulkan telur rebus ke kepala Hae Gang.

“Hei!” protes Hae Gang.

“Apa?” tanya Seok.

Dan POOK!! Hae Gang langsung kepala Seok dengan telur rebus. Seok tertawa.


“Mari kita hargai semuanya, Ong Gi-ya. Jangan hanya berusaha untuk membuangnya atau berusaha melupakannya. Aku bilang, simpanlah dia di salah satu sudut hatimu. Choi Jin Eon.” Ucap Seok.

Hae Gang mengangguk. Jin Eon pun lega mendengarnya. Seok lantas memberikan telur rebus itu ke Hae Gang. Tak hanya itu, mereka juga berbagi minuman. Jin Eon kembali memandangi mereka, kemudian menghela napas lalu menutup wajahnya dengan handuk.


Adegan lalu berpindah pada Gyu Seok yang baru tiba di rumah. Begitu masuk rumah, ia mendengar nyanyian Yong Gi. Ingatan Gyu Seok seketika melayang pada kata2 Woo Joo.

“Ibuku sedang sedih belakangan ini dokter. Meski ibu tidak mengatakannya, dia benar-benar bersedih.”

Gyu Seok lantas beranjak ke depan kamar Yong Gi.

“Apa kau melaporkan kakakmu pada polisi?” tanya Gyu Seok.

“Ya, benar, memangnya kenapa? Dia itu pencuri. Setelah melakukannya, tiba-tiba saja aku bernyanyi.” Jawab Yong Gi.

Yong Gi lalu kembali melanjutkan nyanyiannya.

“Aku akan masuk.” Ucap Gyu Seok.

“Lakukan saja sesukamu, masuk, keluar atau usir saja aku dari rumah ini.” jawab Yong Gi.


Gyu Seok kemudian masuk dan mendapati Yong Gi sedang melipat sesuatu.

“Setiap satu ini dihargai 4 ribu won, jadi kalau aku membungkus 10 ribu, maka 40 ribu. Aku tidak perlu bekerja lagi.” Ucap Yong Gi.

“4 ribu won?” tanya Gyu Seok heran.

“Aku harap aku bisa membungkus 20 setiap harinya, bahkan ada orang yang bisa melukis dengan kakinya. Betapa bagusnya kalau kaki ini tidak bermalas-malasan dan bisa membungkus juga. Kalau aku berlatih, aku juga bisa membungkusnya dengan jempol kakiku kan dokter?” jawab Yong Gi.


“Dimana Dokgo Woo Joo?” tanya Gyu Seok.

“Dia pergi ke mini market dengan ibu si pencuri itu, Do Hae Gang. Dia suka sekali pergi kesana meski aku melarangnya. Dia memegang erat tangan ibu si pencuri itu, Do Hae Gang. Tunggu saja kalau dia kembali.” Jawab Yong Gi.

“Apa kau bertemu dengan Do Hae Gang?” tanya Gyu Seok.

“Kalau aku melakukannya, dia pasti sudah kutangkap, aku dengar dia sudah pergi dari hotel. Bahkan ibu tidak tahu dimana anaknya itu tinggal. Karena dia orang yang menyedihkan, dia juga tidak tahu aku dimana. Kalau bukan demi Woo Joo, aku sudah berkemas dan pergi ke Cina sekarang juga.” jawab Yong Gi.


Beberapa detik kemudian, Yong Gi tersadar. Ia pun segera meminta maaf pada Gyu Seok karena sudah ngomel2 pada Gyu Seok padahal semua masalahnya bukan urusan Gyu Seok.

“Siapa yang ada di Cina sana?” tanya Gyu Seok.

“Tidak ada siapa-siapa. Bukan karena ada seseorang di sana makanya aku mau pergi, tapi karena tidak ada siapa-siapa di sana. Ibu dan kakakku tidak ada di sana, itu sebabnya.” Jawab Yong Gi.


“Menyanyilah, Dokgo Yong Gi-ssi.  Menyanyilah kalau kau mau, kau tidak boleh berhenti. Teruslah bernyanyi.” Ucap Gyu Seok.

“Kau belum mendengarku bernyanyi?” tanya Yong Gi.

“Aku sudah dengar.” Jawab Gyu Seok.

“Dan kau masih mau aku bernyanyi?” tanya Yong Gi.

“Benar.” jawab Gyu Seok.

“Ini pertama kalinya seorang pria memintaku menyanyi.” Ucap Yong Gi.

“Pria?” tanya Gyu Seok.

“Karena kau bukan seorang wanita.” Jawab Yong Gi.

“Itu benar.” ucap Gyu Seok gugup.

Yong Gi lantas menatap Gyu Seok dengan tatapan teduh. Tak lama kemudian, Yong Gi kembali melanjutkan pekerjaannya dan bernyanyi. Ternyata yang dilipat Yong Gi adalah topeng. Gyu Seok yang salah tingkah akhirnya ikut membantu Yong Gi melipat topeng2 itu dan bernyanyi.


Tak lama kemudian, Nyonya Kim dan Woo Joo pulang. Woo Joo terdiam mendengar suara nyanyian ibunya dan Gyu Seok. Nyonya Kim terheran2 dengan kedekatan mereka berdua.

“Itu karena bersedih, karena terlalu banyak kesedihan, karena ibu bersedih, dokter juga pasti bersedih, nenek.” Jawab Woo Joo dengan wajah sedih.


Jin Eon masih berdiri di luar apartemen Hae Gang. Tak lama kemudian, layanan delivery datang dan Jin Eon langsung mendekatinya.

“Tu-tu-tunggu. Apa ini untuk rumah nomor 203?” tanya Jin Eon.

“Ya, apa kau dari 203? Dua Jjajang, satu ekstra besar?” jawab pria pengantar makanan itu.

“Bukan yang besar, tapi yang biasa, apakah dia meminta untuk mengeluarkan dagingnya?” tanya Jin Eon.

“Tidak, hanya meminta tambahan acar.” Jawab pria pengantar makanan.

Jin Eon pun langsung tersenyum kesal.

“Bukankah kau yang memesan yang besar?” tanya pria pengantar makanan.

“Mienya akan mengembang nak.” Jawab Jin Eon.

“Apa itu? Kau yang menahanku.” Ucap pria pengantar makanan, lalu pergi.

“Apa? "Kau?" protes Jin Eon.


Di dalam, Hae Gang meletakkan dua cangkir di atas meja. Saat melihat Seok mengaduk2  dua jjajang, Hae Gang seketika teringat Jin Eon. Ia pun tersenyum teringat kenangannya bersama Jin Eon saat mereka makn jjajang di kantor Jin Eon.


“Kalau aku selesai kerja besok, aku akan mengganti bak cuci dan keran kamar mandi untukmu. Ah, dan aku rasa kau harus menambah kunci untuk pintumu. Tidak ada orang dan itu membuatku cemas.” Ucap Seok.

Namun Hae Gang diam saja.

“Apa kau tidak makan?” tanya Seok.

“Ya, aku makan.” Jawab Hae Gang dengan raut yang sedih.


“Ini pertama kalinya, apa kau tidak takut sendirian? Haruskah aku tinggal? Hari ini saja. Apakah kita semalaman membicarakan rencana kita atau minum sampai pingsan?” tanya Seok.

“Aku harus terbiasa hidup sendiri.” Jawab Hae Gang.

“Apa kau bersungguh-sungguh? Apa kau benar-benar ingin hidup terpisah dari Choi Jin Eon?” tanya Seok.

Hae Gang mengangguk.

“Aku menaruh foto Eun Sol di sampingku untuk pertama kalinya. Mulai sekarang, aku ingin terus melihatnya. Aku ingin memanggil namanya, dan mengatakan aku rindu padanya. Bahwa aku menyesal, bahwa aku salah. Aku tidak bisa melakukan itu kalau orang itu ada di sampingku. Di depannya, aku tidak bisa melakukannya.” Ucap Hae Gang.


“Kalau begitu, mari kita adakan resepsi. Maksudku, mari kita perjelas semuanya dengan Choi Jin Eon.” Ucap Seok.

Hae Gang terkejut….

“Kita tidak menikah, hanya resepsi saja, resepsi untuk Choi Jin Eon.” Ucap Seok.

“Apa kau bodoh? Apa yang akan terjadi padamu kalau begitu?” jawab Hae Gang tidak setuju.

“Sudah lama aku berhenti berpikir apa yang akan terjadi padaku. Aku memutuskan hanya memikirkan apa yang bisa kulakukan untukmu. 4 tahun yang aku curi darimu. Dan bagaimana aku membayarnya, itu saja yang aku pikirkan. Hei, kau bisa memanfaatkan aku. Aku juga akan memanfaatkanmu. Pikirkanlah, karena aku berencana untuk menjadi temanmu sampai seratus tahun kedepan.” Jawab Seok.

Jin Eon yang masih menunggu diluar, melihat Seok beranjak pergi meninggalkan apartemen Hae Gang. Setelah Seok pergi, Jin Eon pun langsung bergegas ke apartemen Hae Gang.


Hae Gang yang lagi berkutat dengan berkas2nya terkejut mendengar suara bel. Ia pikir Seok meninggalkan sesuatu. Hae Gang pun bangkit, ia mengambil barang Seok yang memang tertinggal di sofanya dan membukakan pintu tapi yang datang bukanlah Seok, melainkan Jin Eon. Jin Eon terus berjalan mendekati Hae Gang, Hae Gang berjalan mundur.

“Bagaimana kau menemukan rumah ini? Apa kau mengikuti aku? Apa kau benar-benar akan tetap seperti ini? Aku membencinya, aku tidak tahan, aku tidak tahan! Tidakkah kau tahu? Aku tidak tahan padamu Choi Jin Eon! Biarkan aku pergi, huh? Tolong biarkan aku pergi, aku mohon padamu. Aku mohon padamu, Choi Jin Eon. Pergilah, dia akan segera kesini. Jangan membuat aku menjadi orang bodoh lagi di hadapannya. Jaga sikapmu, aku memintamu untuk menjaga jarak.” Ucap Hae Gang.


“Maafkan aku. Aku tidak bisa memenuhi janjiku. Aku bilang kali ini tidak akan lelah, tapi aku merasa sedikit lelah.” Jawab Jin Eon.

Hae Gang terhenyak mendengar perkataan Jin Eon.

“Aku mengerti. Aku akan melepaskanmu, aku menyerah. Maaf sudah membuatmu menderita. Aku minta maaf... Sudah membuatmu merasa muak padaku. Berhahagialah, dengan si cahaya itu, Do Hae Gang. Aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu. Aku masih mencintaimu sekarang. Mulai sekarang, Aku akan berusaha untuk tidak mencintaimu. Sampai jumpa di perusahaan,  Wakil Presdir Do Hae Gang.” ucap Jin Eon.


Hae Gang syok. Jin Eon lantas beranjak pergi. Tanpa disadari Hae Gang, Jin Eon tersenyum saat beranjak meninggalkannya.


Setibanya diluar, Jin Eon tersenyum sembari menatap ke arah apartemen Hae Gang..

“Aku tidak akan pergi kemanapun. Jadi matikan lampumu dan tidurlah Aku akan menempel padamu seperti permen karet dan aku akan menunggumu. Jadi tidurlah sekarang.Aku mencintaimu, Do Hae Gang.” ucap Jin Eon.


Sementara di dalam, tangis Hae Gang pecah karena berpikir Jin Eon benar2 menyerah.


Seol Ri protes karena diseret ke rumah sakit pagi2 buta. Menurutnya, itu hanya buang2 waktu dan uang saja. Seok menyuruh Seol Ri menunggu.

“Oh ya, di sini ditanyakan, apakah kita pernah minum obat. Ayah tidak, bagaimana denganmu? Apa ada obat yang kau minum?” tanya Seok.

“Aku? Obat sakit perut.” Jawab Seol Ri.


“Obat sakit perut?” tanya Seok cemas.

“Apa kau punya penyakit perut?” tanya Tuan Baek.

“Kadang-kadang sakit, kadang-kadang tidak, begitulah sekarang semua orang hidup.” jawab Seol Ri.

“Itu sebabnya jangan melewatkan makan, kau selalu melewatkan makan. Dan saat kau makan, selalu saja makan kimbap. Kalau kau makan seperti itu,tunggu saat kau tua, kau akan sakit parah.” Ucap Tuan Baek.


Sementara Seok menatap Seol Ri cemas.

“Aku makan makanan rumah tanpa melewatkannya sekarang ini. Semua orang yang hidup sendiri seperti itu.” jawab Seol Ri.

“Obat sakit perut apa yang kau minum?” tanya Seok.


“Oh, obat Pudoxin.” Jawab Seol Ri, yang membuat Seok semakin cemas.

Tak lama kemudian, Seol Ri pun disuruh perawat masuk ke ruang periksa.


“Aku harus pergi. Ayah, semoga hasil tesnya bagus. Ku harap tidak terjadi apapun pada kalian. Dan kalian tidak boleh sakit, mengerti?” ucap Seol Ri.

“Baiklah.” Jawab Tuan Baek.

Seol Ri pun menjalani CT Scan…


Sementara itu, di Cheon Nyeon Farmasi… Semua karyawan berjejer di luar. Tae Seok berdiri di depan pintu, dengan wajah kesal tentunya. Jin Ri bertanya pada Produser Kim, apakah itu perintah Presdir Choi. Produser Kim berkata, Wakil Presdir yang baru tidak mau melakukan upacara pelantikan.

“Jadi semua ini untuk Do Hae Gang? Di cuaca sedingin ini, bahkan di dalam ruangan, tapi menyeret kita keluar. Membuat kita membeku dan menunggu seperti anjing.” Gerutu Jin Ri.

Produser Kim mengiyakan.

“Apa-apaan ini? Artinya semua orang di sini harus menundukkan kepalanya kepada Do Hae Gang?” gerutu Jin Ri.

“Ini bukan untuk Presdir, tapi lebih untuk Wakil Presdir. Ini untuk kedatangannya. Direktur eksekutif tidak punya pilihan lain selain menundukkan kepalanya, pada wakil presdir yang baru. Begitulah kami akan merespon permintaan Presdir.” Jawab Produser Kim.


Tak lama kemudian, yang ditunggu2 pun tiba. Hae Gang datang bersama Presdir Choi. Ketegangan pun semakin terasa. Jin Eon dan Hae Gang saling melirik. Presdir Choi meminta Hae Gang untuk berjalan disampingnya. Hae Gang mengerti. Tak hanya itu, Presdir Choi juga meminta Jin Eon berjalan di sampingnya.


Presdir Choi, Jin Eon dan Hae Gang pun mulai berjalan disambut dengan bungkukan hormat ribuan staf. Jin Ri dan Tae Seok terlihat kesal. Ribuan staf mengantarkan mereka ke lift. Saat pintu lift hendak menutup, Tae Seok menahannya dan ingin ikut bersama Presdir Choi karena ada yang mau ia katakan.

“Ini adalah lift pribadi, jadi kau pakailah lift untuk pegawai. Ada yang ingin kukatakan pada mereka juga, jadi mari kita bertemu di atas.” Ucap Presdir Choi.


Hae Gang menyeringai lewat matanya melihat penolakan Presdir Choi pada Tae Seok. Tae Seok pun memukul pintu lift begitu pintu lift menutup. Para staf kaget. Tae Seok yang menyadari hal itu langsung menyuruh para staf kembali bekerja. Jin Ri menghampiri Tae Seok.


“Ayahku membuat pernyataan perang dengan menggunakan lift. Kalau mereka adalah rekannya, maka berarti kita adalah musuhnya. Dia memotong kepalamu dua kali di depan semua pegawaimu. Aku minta maaf padamu untuk hari ini.Itu sebabnya aku menyuruhmu untuk tidak membawa Do Hae Gang masuk!” ucap Jin Ri.

“Kita bisa memanfaatkannya sebagai kuda Trojan, kita mengirimnya ke Presdir. Menaruh Ssanghwasan ditangannya.” jawab Tae Seok sambil menunjuk banner Ssanghwasan yang terpajang di depan pintu masuk.


“Presdir ingin menyingkirkan kita melalui Do Hae Gang,tapi dia akan kehilangan kepalanya karena Do Hae Gang, lihat saja nanti.” ucap Tae Seok lagi.

“Haruskah aku memberitahu Jin Eon dulu atau Do Hae Gang dulu kalau ternyata mereka berdua adalah musuh?” tanya Jin Ri.

“Mari kita beritahu Dokgo Yong Gi dulu.Kita akan mengawasi gerakan Do Hae Gang dan lalu mengguncang semuanya.” jawab Tae Seok.

Jin Ri pun setuju dengan ide suaminya itu.


Presdir Choi menyuruh Hae Gang duduk di bangku pimpinan. Jin Eon yang berdiri di depan pintu diam saja menatap Hae Gang yang duduk di kursi Wakil Presdir.Presdir Choi lantas menyuruh Jin Eon masuk.


“Untuk menjaga jarak, dia milik seseorang sekarang dan juga pimpinanku. Berada di dekatnya, terasa sangat sulit bagiku. Hanya datang kesini saja, kakiku rasanya hampir menyerah. Aku sudah menyerah pada Hae Gang ayah, aku membuat keputusan untuk melepaskannya. Aku juga sudah mengakhiri semuanya. Kalau ada yang ingin kau katakan, silahkan, aku akan mendengarkannya dari sini.” Jawab Jin Eon.


Hae Gang hanya diam sambil menatap Jin Eon dengan tatapan penuh luka…


“Aku berencana untuk keluar dari semua yang berhubungan dengan perusahaan sekarang. Aku berencana membagi dua sahamku sama rata pada kalian berdua. Ingatlah kata-kataku, kau tidak akan mampu melakukannya sendirian. Siapapun dia, tidak seorangpun bisa mengambil kursiku sendirian. Kalian harus menggabungkan kekuatan untuk mendapatkan apa yang kalian inginkan. Singkirkan perasaan pribadi dan tolong lindungi Farmasi Cheon Nyeon. Rubahlah perusahaan ini, kalian berdua.” Ucap Presdir Choi.

Hae Gang dan Jin Eon saling melirik. Jin Eon lantas menundukkan kepalanya tanda setuju dengan ucapan sang ayah. Sementara Hae Gang tampak berpikir. Setelah terdiam sejenak, Hae Gang akhirnya setuju dengan keputusan Presdir Choi.


Sementara itu, Jin Ri masih membahas soal Hae Gang dengan Tae Seok.

“Menurut ibu tiri, Baek Seok atau siapapun itu yang berkencan dengan Do Ha Gang, yang menangani kasusnya? Kenapa? Untuk apa? Apa tujuannya? Pasti ada yang diinginkannya. Mari kita rubah pandangan kita dari Baek Seok ke Do Hae Gang. Tidak mungkin dia tidak tahu tentang kasus ini. Ini sudah direncanakan oleh mereka berdua. Lalu kenapa Do Hae Gang mengijinkan kasus ini tanpa menghentikannya? Ada yang mencurigakan di sini, tidakkah kau berpikir begitu? Apa rencana Do Hae Gang? Untuk memiliki farmasi Cheon Nyeon. Bukankah seharusnya dia menghalanginya dengan tangannya sendiri? Seluruh perhitungan mati.” Ucap Jin Ri.

Setelah mendengar kata2 Jin Ri, Tae Seok pun langsung pergi. Jin Ri kesal karena Tae Seok pergi begitu saja di tengah2 pembicaraan.


Tae Seok berdiri disamping Jin Eon. Di depan pintu, mereka melihat Presdir Choi mengembalikan pulpen itu ke Hae Gang. Hae Gang tertegun. Presdir Choi meminta Hae Gang tidak menghilangkan pulpen itu lagi. Hae Gang mengerti. Sementara Tae Seok mulai menghasut Jin Eon.

“Kenapa dia lebih memikirkan Pengacara Do daripada anaknya sendiri? Apa kau tidak berpikir kalau itu aneh?” ucap Tae Seok.

“Dari cara bicaramu, sepertinya ada sesuatu, apa aku benar?” tanya Jin Eon.

“Memang ada. Alasan yang sangat special.” Jawab Tae Seok.

“Apa itu?” tanya Jin Eon.

“Ini bukan sesuatu yang bisa kita bicarakan di depan mereka, mari kita bicarakan sambil minum.” Jawab Tae Seok sembari tersenyum menyeringai.


Tae Seok lantas beranjak masuk, menemui Presdir Choi.

“Apa kau kesini untuk menemuiku atau pemilik ruangan ini?” tanya Presdir Choi.

“Mari kita lihat bersama-sama. Karena ini adalah sesuatu yang harus kau ketahui, silahkan duduk. Adik ipar juga, Pengacara Do, silahkan duduk.” Jawab Tae Seok.


“Kenapa kau diam saja Pengacara Do? Maksudku, Wakil Presdir Do?” tanya Tae Seok.

“Apa yang kau bicarakan?” tanya Hae Gang.

“Tentang fakta bahwa pria yang kau kencani adalah perwakilan dari kasus efek samping Pudoxin. Pengacara Baek Seok.” Jawab Tae Seok.


“Apa? Apakah itu benar? Apakah kau benar-benar berkencan dengan seseorang? Dan pria itu menuntut kita?” tanya Presdir Choi.

Hae Gang dengan wajah tegang mengiyakan.

“Meski mengetahuinya, kau bahkan tidak mengatakannya dan menerima semua permintaanku?” tanya Presdir Choi.

“Ini kasus yang tidak akan bisa dimenangkannya, Presdir.Tuntutan ini telah ada dari dulu dan dilanjutkan karena orang tua penggugat memintanya. Semuanya bisa diselesaikan dengan perjanjian.” Jawab Hae Gang.

“Karena orang yang meminta Moon Tae Joon untuk menuntut kita adalah Pengacara Do, masalahnya tidak semudah itu Presdir.” Ucap Tae Seok.

“Apa? Siapa melakukan apa?” tanya Presdir Choi.

“Kapan aku melakukannya? Apa yang kau bicarakan? Aku tidak mengetahui tentang masalah itu Presdir.” Protes Hae Gang.

“Kau mungkin tidak tahu, tapi seluruh karyawan mengetahuinya. Ini adalah waktu yang tepat untuk meragukan ketulusan Pengacara Do.Tidak ada jaminan bahwa rahasia kita tidak akan dibocorkan kepada pria yang kau kencani. Jabatannya sebagai Wakil Presdir juga sulit dipertahankan saat ini. Aku meminta dia ditangguhkan mulai besok, dan sampai pertanyaan tentang pengacara Do terjawab, membiarkannya bekerja di sini adalah mustahil. Pengacara Do yang aku kenal, bukanlah seseorang yang akan mengatasinya dengan cara seperti ini Presdir. Sebelum menjadi masalah, dia akan mengatasinya sebelum orang lain mengetahuinya.” Ucap Tae Seok.


Hae Gang pun langsung menatap kesal Tae Seok. Jin Eon membela Hae Gang.

“Sungguh anjing petarung. Kapanpun kau dapat kesempatan, kau akan menggigit dan mencakar, apakah itu sebenarnya yang ingin kau katakan? Kau mengatakan bahwa Do Hae Gang merencanakan ini untuk menjadi Wakil Presdir? Apa? Dia bukan orang berbudi luhur. Meski begitu, dia bukan seseorang yang akan mengorbankan dirinya demi orang lain. Dia sangat yakin dengan tujuannya, sampai ke tingkatan yang menakutkan. Kau tahu kenapa aku menyerah padanya, kakak ipar? Karena dia berkencan dengan orang lain? Itu karena dia mencuri dokumen dan video Kim Sun Yong dari adiknya sendiri.” Ucap Jin Eon.

Hae Gang terperangah mendengar ucapan Jin Eon.


“Apa yang kau bicarakan?” tanya Presdir Choi bingung.

“Dimana bukti itu? Kepada siapa dia memberikannya, kakak ipar? Kalau sesuai dengan kecurigaanmu, bukankah seharusnya dia memberikannya kepada pengacara Baek Seok? Tapi dia malah memberikannya kepadamu. Untukmu, untuk farmasi Cheon Nyeon dan untuk masa depannya. Dia tidak berubah sedikitpun. Hanya aku yang berkhayal kalau dia sudah berubah. Sadarlah, Do Hae Gang tetaplah Do Hae Gang.” jawab Jin Eon.

“Kau tanganilah kasus ini.” suruh Presdir Choi.


Hae Gang jelas menolak. Ia berkata kalau sekarang dirinya adalah Wakil Presdir.

“Orang-orang akan melihat dan kau sendiri harus menghapus kecurigaan pada dirimu. Gunakan bakatmu dan amankan posisimu. Ini adalah krisis dan kesempatan pertamamu.” Ucap Presdir Choi.

Jin Eon dan Hae Gang pun langsung cemas. Sedangkan Tae Seok berada di atas angin.


Tae Seok kembali ke ruangannya dengan wajah berseri2. Jin Ri pun heran. Tae Seok pun berkata kalau Hae Gang yang akan menangani kasus Pudoxin. Jin Ri terkejut. Tae Seok berkata kalau Hae Gang sampai membocorkan informasi, maka Hae Gang akan dituntut berdasarkan kode etik pengacara.

“Selama dia bertanggung jawab, dia harus menang untuk membuktikan kalau dia tidak bersalah. Itu artinya Pudoxin dan aku menjadi aman.” Ucap Tae Seok.

“Melegakan sekali! Inilah hari dimana akhirnya Do Hae Gang menjadi berguna bagi kita. Kalau begitu, pengacara Baek Seok dan pengacara Do Hae Gang akan saling berhadapan.” Jawab Jin Ri.

“Kalau tuntutan tidak dibatalkan, aku rasa begitu.” ucap Tae Seok.


Di ruangan barunya, Hae Gang stress memikirkan kasus Pudoxin yang akan ditanganinya.

Jin Eon juga ikut stress memikirkan kasus Pudoxin yang akan ditangani Hae Gang di ruangannya.


Seol Ri kembali menemui Nyonya Hong.

“Kau pasti tidak kesepian karena kau bersama dengan keluargamu.” Ucap Nyonya Hong.

“Ya, dengan semua kekacauan dengan anak-anak disana, tidak ada kesempatan untuk merasa kesepian. Seseorang selalu saja membuat masalah di sekolahnya, kacau sekali di sana.” Jawab Seol Ri.

“Kau berani dan kuat.” Puji Nyonya Hong.


Nyonya Hong lantas berkata soal Hae Gang.

“Kenyataan bahwa dia hidup di sana seperti itu selama 4 tahun. Instingnya untuk bertahan tidak ada bandingannya. Dia tidak bisa merawat anaknya sendiri, tapi dia malah merawat 5 anak orang lain. Tapi kemudian dia kembali ke kepribadian lamanya yang mengerikan.”

“Mari kita bicarakan tentang hal lain saja.” Pinta Seol Ri.

“Hal lain atau bukan, aku memanggilmu kemari untuk memintamu menghentikan kakakmu.” Jawab Nyonya Hong

“Kenapa dengan kakakku?” tanya Seol Ri.

“Mereka berkencan! Dia dulu adalah menantuku dan bukan dengan orang lain, tapi dengan kakakmu! Lupakan perasaanku, tapi demi hidup kakakmu lebih baik kalau dia tidak ada di sana. Aku menyuruhmu untuk menghindarinya selagi kau bisa.” jawab Nyonya Hong.

“Kakakku dengan kejam telah dicampakkan Do Hae Gang, apa kau tidak tahu?” ucap Seol Ri.

“Sepertinya mereka memulai lagi.” Jawab Nyonya Hong.

“Tidak, tidak mungkin.” sangkal Seol Ri.


“Apa maksudmu tidak mungkin? Hae Gang mengatakannya dengan mulutnya sendiri. Dia bilang ingin berjalan baik dengan kakakmu dan menyuruhku mengawasi anakku yang seperti lintah. Dia berkata omong kosong saat duduk di sana. Kau pikir dia hanya mengatakannya padaku saja? Dia mengatakannya di depan seluruh keluarga.” Jawab Nyonya Hong.

“Apa? Dia ingin hubungannya berjalan baik dengan kakakku?” ucap Seol Ri syok.

“Hentikan kakakmu, beritahu ayahmu dan pisahkan mereka. Aku tidak mau daftar keluargaku menjadi rusak dan lebih dari apapun aku tidak mau bertemu dengannya. Saat aku masih normal, aku ingin kau menjadi menantuku, jadi singkirkan dia supaya aku tidak perlu melihat wajahnya di rumahmu ataupun di pernikahan.” Jawab Nyonya Hong.


Tak lama kemudian, Jin Ri datang dan berkata kalau konsep iklan untuk Nyonya Hong sudah keluar. Nyonya Hong langsung berseri2. Jin Ri yang menyadari ada Seol Ri pun langsung menyapa Seol Ri.

“Sudah lama tidak berjumpa, Kang Seol Ri.” Ucap Jin Ri.

“Apa kabarmu baik?” tanya Seol Ri.

“Dasar bermuka dua, apa kau belum mendengarnya? Do Hae Gang menjadi wakil presdir di perusahaan mulai hari ini, menduduki kepalaku. Kepalaku mau hancur dan yang bisa kau katakan adalah apakah kabarku baik?” jawab Jin Ri.

“Wakil Presdir?” Seol Ri kaget.

“Apa kau tidak tahu? Aku yakin kau tidak akan bisa menang melawannya kalau kau ketinggalan informasi seperti ini. Kau akan hancur tanpa sayap dan dia akan terbang tinggi ke angkasa dengan sayapnya.” Jawab Jin Ri.


Jin Ri lantas memberikan konsep iklannya pada Nyonya Hong. Nyonya Hong terkejut membacanya.

“Apa ini? Menari? Menari bebas, dengan penuh kebahagiaan, menari dengan bebas. Saat disorot, menarilah dengan bebas, terus menari dengan bebas. Apa-apaan ini? Aku pikir konsepnya adalah Miss Korea?” ucap Nyonya Hong.

“Memang, Miss Korea tahun 1975, Hong Se Hee. Meminum "Otak Chong Chong 100' dan tetap membuat pikirannya muda seperti saat itu. Digambarkan dengan menari gembira pada konsep ini.” jawab Jin Ri.


“Aku tidak bisa menari dengan baik.” Ucap Nyonya Hong.

“Kau tidak perlu menari dengan baik, tujuan utama iklan ini adalah bahwa kau tidak bisa menari.” Jawab Jin Ri.

 “Haruskah aku ikut kelas tari?” tanya Nyonya Hong.

“Tarian bebas, apa kau tidak tahu tarian bebas? Seperti ini.Begini, seperti ini.” jawab Jin Ri sambil menari2 di depan Nyonya Hong.


Jin Ri lantas mengajak Seol Ri bicara di ruang baca. Seol Ri terkejut mendengar Hae Gang akan menangani kasus Pudoxin. Jin Ri berkata bahwa Hae Gang dan Seok akan berhadapan di pengadilan, kecuali kalau Seok menarik tuntutan itu.

“Apakah ada efek sampingnya?” tanya Seol Ri cemas.

“Tidak ada, efek samping apa? Mereka hanya berusaha mendapatkan uang dari kami.” jawab Jin Ri.

“Kakakku bukan orang yang seperti itu. Kalau kakakku menangani kasusnya pasti karena obat itu benar-benar bermasalah.” Ucap Seol Ri.

“Setiap obat punya efek samping. Kau seharusnya tahu itu lebih baik daripada aku.” jawab Jin Ri.


Seol Ri tercengang. Ia lantas teringat kata2 kakaknya saat mereka melakukan pemeriksaan ke rumah sakit. Saat itu, Seok tanya tentang obat yang diminum Seol Ri.

“Kenapa kau tidak pergi? Apa kau tidak akan pergi, Kang Seol Ri?” tanya Jin Ri.

Seol Ri cemas… 

Bersambung ke part 2...

2 comments:

  1. Admint tolong dilanjutkan nulis sinopsisnya dunks.....ceritanya lagi seruu niehh

    ReplyDelete
  2. Admint tolong dilanjutkan nulis sinopsisnya dunks.....ceritanya lagi seruu niehh

    ReplyDelete