Monday, December 12, 2016

I Have a Lover Ep 35 Part 1

Sebelumnya...


Hae Gang yang sedang menuju ruangannya seketika terdiam saat melihat Seol Ri berdiri di depan pintu ruangannya. Seol Ri berbalik, ia menatap Hae Gang dengan penuh kebencian. Hae Gang menanyakan hasil tes kesehatan Seol Ri, namun bukan jawaban yang di dapat Hae Gang, melainkan sebuah tamparan.

Tepat saat itu, Jin Eon muncul. Ia terkejut melihat Seol Ri menampar Hae Gang. Hae Gang tidak membalas Seol Ri, tapi hanya pasrah menatap Seol Ri.

“Kau menang. Apa kau puas? Sekarang di depanmu, yang tersisa hanyalah tulangku yang rusak, aku sudah hancur. Selamat karena balas dendammu berjalan sesuai harapanmu.”  Sinis Seol Ri.

“Kita bicara di dalam, jadi masuklah.” Jawab Hae Gang, lalu beranjak ke ruangannya.


Tapi kata2 Seol Ri membuat langkah Hae Gang terhenti.

“Kalau aku mati, kalau aku mati di hadapanmu, apa kau akan merasa sakit atas kematianku?” tanya Seol Ri.


“Tidak sama sekali, memangnya kenapa? Kau pikir kau siapa? Setelah semua yang kau lakukan padaku, kau ingin menunjukkan kematianmu padaku? Memangnya aku ini siapa, siapa aku dalam hidupmu?  Aku bahkan tidak berkedip, jadi matilah di tempat lain.” Jawab Hae Gang.

Seol Ri pun semakin kesal mendengar jawaban Hae Gang.

“Kang Seol Ri, ikutlah denganku. Kita harus bicara.” Ucap Jin Eon.


Jin Eon lantas mendekati keduanya.

“Maafkan aku, kau bisa pergi sekarang.” ucap Jin Eon pada Hae Gang.

Permintaan maaf Jin Eon membuat Seol Ri makin emosi.

“Maaf? Kau bisa pergi? Untuk apa kau meminta maaf? Memangnya siapa kau sampai meminta maaf begitu? Bagaimana bisa kau berkata begitu? Bagaimana bisa kalian berdua melakukan ini padaku?”

“Lalu bagaimana denganmu? Ada yang ingin kutanyakan, jadi ikutlah denganku.” Ucap Jin Eon.


“Kita bicara sama2. Dia datang ke sini karena dia mau mengatakan sesuatu padaku, jadi kita dengarkan sama2.” Jawab Hae Gang.

Hae Gang pun kembali menatap Seol Ri.

“Kondisimu, dia harus tahu. Lebih baik kau mendiskusikan kesehatanmu dengannya daripada denganku.” Ucap Hae Gang, membuat Seol Ri semakin kesal.


Seseorang menyabotase mobil Hae Gang, dia menusuk2 ban mobil Hae Gang dengan paku.


Woo Joo mengitari supermarket bersama Gyu Seok dan Yong Gi. Woo Joo dan Gyu Seok berjalan sambil bergandengan tangan, sedangkan Yong Gi tampak mendorong troli di belakang mereka. Saat melewati stand dimsum, Gyu Seok pun mengajak Woo Joo ke sana. Gyu Seok menyuapi Woo Joo dimsum, setelah itu gantian Woo Joo yang menyuapi Gyu Seok. Yong Gi pun terharu melihat kedekatan keduanya.

“Ibu juga harus mencobanya.” Ucap Woo Joo.

“Haruskah?” tanya Yong Gi.


Dan, Gyu Seok pun meminta satu tusuk dimsum lagi. Si penjual dimsum langsung menyarankan agar Gyu Seok membelinya sebungkus, tapi Gyu Seok menolak. Gyu Seok lalu menyuapi Yong Gi dengan muka terpaksa.

“Ibu, ini benar2 lezat, kan?” tanya Woo Joo.

“Bagi ibu biasa saja. Ibu mencium sedikit bau daging dan dia terlalu banyak menggunakan minyak saat memasak, jadi rasanya tidak begitu enak. Mandu buatan nenekmu jauh lebih lezat…”


Yong Gi kemudian tersadar dan melirik si penjual dimsum yang menatapnya dengan wajah kesal. Si penjual dimsum menggerutu, lalu menatap Woo Joo.

“Ayah dan ibumu sama saja.” Ucapnya. Yong Gi dan Gyu Seok pun dengan kompak membantahnya. Mereka mengatakan kalau mereka bukan pasangan.

“Hubungan kami seperti ini, dia adalah menantu ibuku. Menantu.” Ucap Woo Joo memperjelas.

“Menantuku, mari kita pergi ke sana untuk makan bakso. Kenapa kau tidak memegang tangan anakku?” jawab Yong Gi.

“Woo Joo-ssi, ayo kita makan bakso.” Ucap Gyu Seok, lalu mengajak Woo Joo pergi.

“Menantu Min, ibu mertuamu juga mau ikut!” teriak Yong Gi, lalu menyusul menantu dan anaknya.

Si penjual makanan pun menatap mereka dengan tatapan heran.


Sekarang mereka ada di toko mainan. Woo Joo tampak asyik memilih2 boneka. Gyu Seok ingin membelikan mainan untuk Woo Joo, namun dilarang Yong Gi. Yong Gi berkata akan sulit bagi Woo Joo berpisah dari Gyu Seok jika Gyu Seok terlalu baik pada Woo Joo.

“Bagaimana kalau kita tidak berpisah?” tanya Gyu Seok.

“Kami harus segera pergi.” Jawab Yong Gi.

“Kau mau ke China atau Amerika?” tanya Gyu Seok.

“Amerika? Kenapa tiba2 jadi Amerika?” tanya Yong Gi bingung.

“Kau belum bicara dengan kakakmu?” tanya Gyu Seok.

“Tentang?” tanya Yong Gi.

“Bicarakan dulu dengan kakakmu.” Suruh Gyu Seok.

“Bagaimana aku bisa bicara dengannya? Kami tidak bisa bertemu. Dia bahkan mengabaikan teleponku, pesanku.” Jawab Yong Gi.


“Dia memintaku menghubungi rumah sakit tempat aku bekerja dulu. Dia ingin keponakannya mendapatkan perawatan yang terbaik dan teraman di dunia.” Ucap Gyu Seok.

Yong Gi terkejut, apa?

“Itu yang terbaik bagi kalian berdua. Kalau kau tidak punya siapapun di China, kurasa pergi ke Amerika adalah jalan terbaik.” Jawab Gyu Seok.

“Aku penasaran dia melakukannya untuk tujuan baik atau buruk.” Ucap Yong Gi.

“Apapun itu, itu yang terbaik untuk putrimu.” Jawab Gyu Seok.


“Aku tidak bisa Bahasa Inggris. Tidak sama sekali.” Ucap Yong Gi.

“Aku akan mengajarimu.” Jawab Gyu Seok.

“Kenapa?” tanya Yong Gi penasaran.

“Aku tidak tahu kenapa aku sangat peduli pada kalian berdua.” Jawab Gyu Seok, yang langsung membuat Yong Gi tertegun.


Tiba2, Woo Joo memanggil Gyu Seok. Gyu Seok pun bergegas menghampiri Woo Joo. Yong Gi tertegun menatap Gyu Seok.


Kembali ke Hae Gang dimana Seol Ri menatapnya dengan tajam. Hae Gang menyuruh Seol Ri bicara jika Seol Ri mau bicara. Seol Ri pun langsung bicara. Ia ingin tahu kenapa Hae Gang tidak mengatakan apapun padanya soal masalah Pudoxin.

“Kau menemukan obat itu di apartemenku. Kau mengambilnya tanpa sepengetahuanku dan tahu tentang obat itu. Pudoxin dari Farmasi Cheon Nyeon.” Jawab Seol Ri.

“Itu benar, karena hanya itu yang kulihat dari kamarmu yang menyedihkan itu.” ucap Hae Gang.


“Kau tahu bahwa Pudoxin memiliki efek samping, bahwa hasil tesnya dipalsukan.” Jawab Seol Ri.

Jin Eon terkejut, apa kau bilang? Pemalsuan uji klinis??


Jin Eon pun menatap Hae Gang.

“Kalau begitu, maksudmu data tes klinisnya dipalsukan?”


“Tidak ada yang seperti itu. Kami tidak tahu apapun tentang efek sampingnya atau pun pemalsuan hasil tes klinisnya. Aku memastikannya 4 tahun yang lalu. Dan setelah menangani kasusnya, aku memeriksanya lagi dan tidak ada yang salah dengan Pudoxin. Itu adalah pernyataan tanpa bukti. Tuntutan ini bukan masalah bagiku, karena orang yang seharusnya membuktikan bahwa obat ini bermasalah bukan aku tapi pengacara lawan.” Jawab Hae Gang.


"Do Hae Gang!" Jin Eon marah.


“Seandainya kau mengatakan satu kata saja. Jangan meminumnya, hati2 dengan obat itu, seandainya kau mengatakan itu padaku! Kau mau balas dendam padaku, kan? Karena itu aku, karena itu aku makanya kau sengaja menutup mulutmu! Untuk menghancurkanku, menghancurkan tubuhku dan menghancurkan hidupku!”


Seol Ri menangis. Jin Eon menatap iba pada Seol Ri.

“Aku hancur seperti yang kau inginkan. Aku mungkin akan bertambah hancur nantinya. Apa kau sudah puas sekarang? Apa kau sudah melepaskan kemarahanmu sekarang!”


Hae Gang lalu mendekati Seol Ri…

“Kau merasa ini tidak adil? Kau merasa ingin balas dendam? Kalau begitu jangan coba2 menjauh dariku dengan tulang hancur. Berdirilah dengan kakimu dan pikirkan bagaimana caranya untuk membalas dendam. Memalukan sekali kalau berakhir seperti ini. Hidupku atau hidupmu belum berakhir, hancur di hadapanku dan dia. Tidakkah kau merasa hidupmu menyedihkan? Berusahalah untuk mengalahkanku sekali saja, Kang Seol Ri.” Ucap Hae Gang.


“Apa ada masalah dengan kesehatanmu?” tanya Jin Eon pada Seol Ri.

Namun Seol Ri tak menjawab. Ia diam saja dan berusaha menenangkan dirinya. Seol Ri kemudian bangkit dan beranjak pergi dengan langkah gontai. Jin Eon menatap Hae Gang. Tak lama kemudian, ia pergi menyusul Seol Ri. Hae Gang terpukul.


“Saat ini, tidak ada yang bisa membantunya bertahan. Kali ini mari kita bersikap dewasa, seperti manusia, Yeobo.” ucap Hae Gang.


Seol Ri terduduk lemas tak jauh dari ruangan Hae Gang. Ia terpukul dengan apa yang terjadi padanya. Tak lama kemudian, Jin Eon datang. Seol Ri menatap Jin Eon dengan tatapan terluka. Jin Eon kemudian membantu Seol Ri berdiri.


“Kau mencintai wanita seperti itu?” tanya Seol Ri.

“Aku mencintainya.” Jawab Jin Eon.

“Kau lebih menakutkan dari wanita itu.” ucap Seol Ri.

“Aku juga merasa begitu. Ayo pergi, biar kuantar kau pulang.” Jawab Jin Eon.


Seol Ri menyuruh Jin Eon menghentikan mobilnya, tapi Jin Eon menolak. Jin Eon berkata akan mengantarkan Seol Ri sampai ke rumah, menemui ayah Seol Ri dan berbicara dengan kakak Seol Ri.

“Kenapa begitu tiba2? Kau bilang kau akan meninggalkanku. Dulu kau memperlakukanku seperti sampah dan sekarang aku benar2 menjadi sampah. Buang saja aku! Buang aku lagi!” ucap Seol Ri.

“Kau benar. Kau memang sampah. Sampah yang membuat kepalaku sakit. Aku akan membuangmu lagi, tapi bukan sekarang.” jawab Jin Eon.


Perkataan Jin Eon membuat Seol Ri sakit hati. Ia menyuruh Jin Eon menghentikan mobilnya, bahkan membanting setir yang nyaris membuat mereka mengalami kecelakaan. Jin Eon pun akhirnya menghentikan mobilnya dan menyuruh Seol Ri turun.


“Pukul 2 malam di laboratorium yang gelap, aku melihat kau menangis. Kau terlihat sangat sedih, membuatku tidak bisa bernapas. Bahkan setelah hari itu, meski kau marah, kau terlihat sedih. Saat kau tertawa, kau terlihat sedih. Saat kau makan, kau terlihat sedih. Saat kau tidur siang, kau terlihat sedih. Hari itu, tanpa peringatan, cintaku dimulai tanpa alasan. Aku ingin menarikmu keluar dari kesedihan itu. Aku ingin membuatmu bahagia. Tapi kemudian Do Hae Gang datang padaku, dia membawakanku dua pasang sepatu dan memintaku melepaskan sepatu yang kau pasangkan untukku. Dia merendahkanku dan meremehkan cintaku. Kesombongan wanita itu membuatku marah. Wanita dingin dan kejam itu, dengan pandangan merendahkan, menyalakan api dalam diriku. Itu sebabnya aku tanpa takut menghampirimu. Jika Do Hae Gang tidak datang ke kafe hari itu, cinta bertepuk sebelah tanganku akan berakhir. Semuanya dimulai pada hari itu, dia yang memulainya. Kalian berdua sangat kejam. Itu bukan aku, bukan aku yang merusak rumah tangga kalian. Tapi kalian berdua yang merusak rumah tangga kalian. Penyebabnya bukan aku, tapi kalian berdua. Kalian yang menghancurkan hidupku. Kenapa hanya aku yang dihukum? Sedangkan dia baik2 saja. Kenapa aku? Kalian berdua baik2 saja, kenapa aku? Kau juga seharusnya dihukum! Kalian berdua yang harusnya dihukum!”


Jin Eon hanya bisa menghela napas mendengarnya, ia merasa bersalah pada Seol Ri.


Hae Gang masuk ke mobilnya yang sudah disabotase. Ia menenangkan pikirannya sejenak, sebelum akhirnya menjalankan mobilnya. Baru beberapa menit berjalan, Hae Gang menyadari ada yang tidak beres dengan mobilnya. Ia berusaha menghentikan mobilnya. Mobil Hae Gang berhenti tepat setelah menabrak dinding pembatas. Tak lama, seseorang melemparkan batu ke kaca mobilnya.


Hae Gang ketakutan. Tak lama kemudian, Jin Eon menghubunginya. Hae Gang ingin menjawabnya tapi entah kenapa ia urung menjawabnya. Hae Gang terus menggenggam ponselnya erat2 dengan wajah ketakutan.


Keesokan harinya, Nyonya Hong yang sedang sarapan bersama keluarganya bercerita bahwa ia sudah bertemu dengan Yong Gi. Jin Ri pun menyahut, kau sudah bertemu dengannya? Dia tidak menarik dan kasar kan?

“Dia terlihat aneh dan murahan, mungkin karena dia sudah memiliki anak jadi dia terlihat seperti ahjumma.” Jawab Nyonya Hong.

“Do Hae Gang juga sudah punya anak. Wanita itu saja (Yong Gi) yang gayanya mengerikan” ucap Jin Ri.

“Matamu yang salah. Menilai dua orang yang sama persis.” Jawab Presdir Choi.

“Dia bilang kau memperlakukan mereka secara berbeda.” Ucap Nyonya Hong.

“Apa maksudmu?” tanya Presdir Choi.

“Dia ingin aku menyampaikan ini padamu. Dia bilang dia juga anak dari temanmu tapi kenapa kau memperlakukannya begitu. Dia juga bilang tidak akan memaafkan apa yang sudah dilakukan Farmasi Cheon Nyeon pada ayah dari anaknya. Memangnya apa yang sudah dilakukan perusahaan kita padanya?” ucap Nyonya Hong.

Seketika wajah Tae Seok berubah tegang. Presdir Choi pun melirik Tae Seok.


“Berani sekali dia mengatakan itu tanpa berpikir apa yang sudah diucapkannya. Dia si pembuka aib, wanita hamil yang datang ke acara itu.” jawab Jin Ri.

“Omo, jadi dia orangnya?” tanya Nyonya Hong kaget.

“Tapi apa maksudnya kalau dia juga anak dari temanmu?” tanya Jin Eon.

Presdir Choi diam saja. Wajahnya terlihat tegang.


“Ada apa ini? Kalau begitu, artinya ayah dan ayah mereka adalah teman dekat. Do Hae Gang adalah anak dari teman ayah?” tanya Jin Ri

“Kenapa ayah menyembunyikannya selama ini?” tanya Jin Eon.

“Karena ibu mertuamu yang memintanya. Dia tidak mau Hae Gang mengetahui keberadaan teman ayah itu.” jawab Presdir Choi.

“Lalu kenapa ayah sangat menentang pernikahan kami?” tanya Jin Eon.

“Kami mendaki gunung bersama2. Teman ayah itu meninggal saat kami mendaki gunung. Hanya ayah yang selamat.” Jawab Presdir Choi.


Jin Eon masuk ke kamarnya. Tiba2 saja, kata2 Tae Seok terngiang di telinganya.

“Menurutmu kenapa ayah lebih memikirkan Pengacara Do ketimbang anaknya sendiri?” tanya Tae Seok.


Tak lama kemudian, Tae Seok masuk ke kamar Jin Eon dan menyuruh Jin Eon menemuinya di ruangan Presdir Choi sebelum berangkat ke kantor. Jin Eon menanyakan sosok ayah mertuanya pada Tae Seok.

“Namanya Dokgo Ji Hoon. Aku rasa dia adalah seniormu. Dia senior di universitas dan jurusanmu, dia pengembang obat sepertimu.” Jawab Tae Seok.

Jin Eon terkejut, apa?

“Dia meninggal tahun 1981. Itu saja yang kutahu.” Jawab Tae Seok.

“Itu saja, sepertinya ada lagi yang harus aku ketahui. Katakan saja, Kakak ipar.” Ucap Jin Eon.

“Kau sangat sensitif, tidak ada yang seperti itu. Cepatlah turun.” Jawab Tae Seok, lalu pergi.


Presdir Choi menyuruh Tae Seok bicara setelah Jin Eon masuk ke ruangannya. Tae Seok berkata, kalau tuntutan Pudoxin masuk ke persidangan tanpa ada penyelesaian.

“Apa? Kenapa melakukan hal yang sulit, kalau ada cara yang lebih mudah?” tanya Presdir Choi.

“Itulah maksudku. Dia mengatakannya sendiri, bahwa tuntutannya akan berakhir dengan mudah dengan uang damai. Kenapa dia tidak bisa membujuk mereka dengan uang damai? Itu juga yang menjadi pertanyaanku. Kalau dia tidak ingin berlarut-larut, seharusnya dia menyelesaikannya dengan cepat. Dan konsentrasi pada pekerjaannya sebagai wakil presdir, demi kebaikannya sendiri. Itu mengangguku bahwa Pengacara Do tidak bisa menyelesaikannya dengan uang damai. Presdir, tolong tanyakan padanya apa alasannya. Kalau kau tidak ingin dikhianati, kau harus mencari tahu sebelum melangkah, benar begitukan ayah?” jawab Tae Seok.


“Apakah benar hasil tes klinisnya dipalsukan?” tanya Jin Eon.

“Siapa yang bilang begitu? Pengacara Do?” tanya Tae Seok.

“Apakah itu benar? Tolong jawab aku.” jawab Jin Eon.
“Tidak, sama sekali tidak.” Ucap Tae Seok.

“Video dan catatan harian Kim Sun Young, aku juga harus melihatnya. Tolong berikan itu padaku, kakak ipar.” Pinta Jin Eon.

“Aku tidak memilikinya, siapa yang dengan bodoh masih menyimpannya? Segera setelah ada ditanganku, aku akan menghancurkannya.” Jawab Tae Seok.


“Aku melihat artikel dan jurnal ilmiah. Aku menemukan penelitian yang menyatakan bahwa penghambat yang digunakan untuk mengobati lambung, dapat menyebabkan kerusakan pada tulang pinggul, pergelangan tangan dan tulang belakang. Juga dikatakan bahwa pasien tidak boleh mengkonsumsi obat itu lebih dari setahun. Kita harus menarik peredaran Pudoxin sekarang.” ucap Jin Eon.

Tae Seok emosi, Bicaralah yang masuk akal! Hanya asuransinya saja yang harus kita bayar kembali senilai lebih dari 100 miliar won. Siapa yang mau mengkonsumsi obat kita lagi di masa yang akan datang? Siapa yang mau? Farmasi Cheon Nyeon akan hancur.Semua akan hancur, adik ipar!


Jin Eon lantas membujuk ayahnya agar melakukan penyelidikan terhadap Pudoxin dengan benar.

“Aku akan melakukannya, aku akan melakukannya ayah. Kalau kita melakukan kesalahan, akui kalau kita bersalah dan memulai lagi dari awal, itulah yang benar ayah. Kita harus melakukannya meskipun perusahaan akan hancur. Meski kita dikritik dan hancur, kita harus melakukannya ayah. Meski kita melakukan itu, Cheon Nyeon tidak akan hancurkan?” ucap Jin Eon.

“Hukum yang akan menentukannya. Mari kita lihat perkembangan tuntutan yang dilakukan Hae Gang. Pada saat itu, kalau kita dinyatakan bersalah, maka belum terlalu terlambat untuk meminta maaf. Ini bukan berada di tanganku, tapi di tangan Hae Gang.” jawab Presdir Choi.

“Wakil Presdir Do Hae Gang benar sekali. Adik ipar seharusnya dikurung di departemen penelitian. Sadarlah. Kau pikir Farmasi Cheon Nyeon adalah laboratorium penelitian? Beraninya kau bicara sembarangan? Ini sebabnya aku tidak menyukai anak yang terlahir dari keluarga kaya. Sebelum aku menghancurkanmu, berhati-hatilah adik ipar.” Ucap Tae Seok.

“Kau harus punya rasa malu, kakak ipar. Kalau kau manusia, kau seharusnya punya rasa malu.” Jawab Jin Eon.


Jin Eon lantas menatap ayahnya dengan penuh harap. Presdir Choi sepertinya bisa mengerti apa yang dirasakan anaknya. Hal itu terlihat dari tatapannya.


Di kantor Seok, Yong Gi sedang melihat2 meja yang dulu menjadi meja kerja Hae Gang. Tak lama kemudian, Yong Gi duduk di meja Hae Gang.

“Aku dengar kalian berdua berkencan.” Tanya Yong Gi.

Bukannya menjawab tapi Seok malah menawarkan kopi untuk Yong Gi.


“Kalau kau membawanya kemari, aku akan meminumnya, kalau tidak, aku akan kesana untuk mengambilnya.” Jawab Yong Gi sambil melirik foto Seok dan Hae Gang yang bertengger manis di meja.

“Kenapa dengan dahimu?” tanya Yong Gi.

“Aku terpeleset dan terbentur.” Jawab Seok.


Seok lalu berkata bahwa ia memanggil Yong Gi untuk menjadi saksinya. Yong Gi pun bersedia menjadi saksi di pihak Seok. Yong Gi lalu menanyakan kembali apa Seok dan Hae Gang benar2 pacaran.


“Apa bagusnya dia? Selain penampilannya, semua tentang dia adalah kotoran, sifatnya, kepribadiannya, dan juga dia pencuri. Semua yang dilakukannya, semua yang diucapkannya adalah kotoran! Dimana rumah si kotoran itu? Kau pasti tahu kemana dia pindah kan? Aku harus menemuinya dan menarik rambutnya untuk mendapatkan barang milikku kembali!”


Seok malah tersenyum geli mendengar sumpah serapah Yong Gi.


“Di dalam jurnal itu ada catatan. Siapa yang dia temui, atau siapa yang mengancamnya di farmasi Cheon Nyeon ada di dalam catatan itu. Bagi kami, itu adalah bukti kuat bahwa dia dibunuh.” Ucap Yong Gi lagi.


“Percayalah padaku, aku pasti akan mengungkapkannya. Aku juga tidak tahu dia pindah kemana, tapi satu hal yang pasti adalah bahwa sekarang ini Dokgo On Gi berjuang untuk Dokgo Yong Gi. Kau harus percaya pada kakakmu. Kau harus mempercayainya, Yong Gi-ya.” jawab Seok.


“Bagaimana aku bisa percaya padanya? Apa yang harus aku percaya? Lihatlah apa yang dilakukannya! Pikirkan perbuatannya padaku! Dia melakukannya untuk menutupi kesalahannya, apa kau tidak tahu? Dia ingin menutupi kebenaran, hei, bagaimana bisa dia menjadi pengacara? Dimana ada aku dan kau? Apanya yang berjuang untukku? Bagaimana itu disebut berjuang untukku? Itu tidak masuk akal!” ucap Yong Gi.


“Dia bilang untuk menangkap harimau, dia harus masuk ke sarang harimau. Dia bilang untuk melindungimu, dia harus berada di sisi Min Tae Seok. Dia memintaku untuk memenangkan tuntutan ini, aku harus menang, Yong Gi-ya.” jawab Seok.

“Dan dia menjadi pengacara lawan? Hei, dengan kepalaku, itu sulit kumengerti atau kupahami, mustahil, mustahil! Kalau saja dia bukan kakakku!” ucap Yong Gi.

“Meski kau berkata begitu, sejujurnya, kau ingin mempercayainya, benarkan? Kau ingin percaya padanya, benarkan?” tanya Seok.


Yong Gi terdiam, tapi tak lama ia menyangkal perkataan Seok.

“Apa aku sudah gila? Diperlakukan seperti itu dan mempercayainya lagi?” ucap Yong Gi.

“Ini masalah karena orang itu adalah kakakmu. Ada yang bilang saudara kembar bahkan bisa melakukan telepati. Cobalah pasang telingamu untuk menangkap telepati yang dikirimkan kakakmu kepadamu.” Jawab Seok.

“Apa kau tidak mendengar ucapanku? Dia tidak nyata, dia itu bukan manusia!” ucap Yong Gi.

“Kalau begitu kau sama! Jangan lupa kalau kalian berdua adalah kembar.” Jawab Seok.


Yong Gi pun menghela napas kesal. Seok lagi2 tersenyum geli melihatnya.

“Kalau kau melihat laporan otopsi Kim Sun Yong, penyebab kematiannya adalah…”

 “Penyebab kematiannya gagal jantung, kerusakan organ, kecelakaan kereta api dan dia mati ditempat.” Jawab Yong Gi memotong kata2 Seok.

“Kau mengingat itu semua?” tanya Seok. Yong Gi mengangguk.


“Kalau kau melihat di sini, kedua jari-jari tangannya patah. Dan kedua telapak tangan memar dan kedua tangan terpotong. Apa kau melihat dengan matamu sendiri?” tanya Seok.

“Aku tidak bisa. Karena aku sedang hamil, nenek tidak mengijinkanku.” Jawab Yong Gi.

“Karena itu aneh. Apakah dia melompat, atau di dorong ke kereta api, jari-jari tangannya yang patah... Ini, sepertinya ada sesuatu. Ini, rahasia dari hari itu.” ucap Seok.


Hae Gang pergi ke lokasi tewasnya Kim Sun Yong.

“Dia berdiri di peron dan seseorang mendorongnya dari belakang... Dia tertabrak kereta api dan tewas seketika.” Ucap Hae Gang.


Hae Gang juga menanyai Kepala Stasiun. Dari kesaksiannya, diketahui bahwa stasiun ditutup sekitar pukul tujuh dan tidak ada satu pun orang di sana.


“Kalau dia tidak dibunuh di sana, Itu artinya dia dibunuh di sini dan dilempar ke bawah. Tapi kenapa jari-jarinya patah, kenapa? Dan kenapa ada memar di kedua tangannya, kenapa?” tanya Hae Gang.


Hae Gang kemudian memegang besi pembatas. Ia berpikir bahwa saat Kim Sun Yong bergelantungan di sana, kedua tangannya dipukul oleh seseorang. Seketika Hae Gang terkejut, ia langsung melepaskan pegangannya pada besi pembatas saat menyadari apa yang terjadi.


Tanpa disadari Hae Gang, seorang pria… pria yang sama dengan pria yang membunuh Sun Yong memotretnya dari belakang. Pria itu lantas melaporkan temuannya pada Tae Seok. 



Tae Seok panic melihat foto2 Hae Gang di lokasi kecelakaan Sun Yong.


Jin Eon menatap meja Hae Gang dengan tatapan tajam. Kata2 Seol Ri terngiang di telinganya.

“Kau mengetahuinya.  Bahwa Pudoxin memiliki efek samping, bahwa laporannya dipalsukan. Seandainya kau mengatakan satu kata saja, hati-hati, jangan meminumnya, seandainya kau mengatakannya. Kau balas dendam padaku. Kau sangat kejam. Bukan aku penyebab kalian berdua terguncang. Kalian sendirilah penyebabnya.” Ucap Seol Ri.

Jin Eon kemudian menghubungi Hae Gang yang sayangnya tidak dijawab.


Jin Eon berdiri di depan lift dengan tatapan kecewa. Manajer Byeon keluar dari lift dan terkejut melihat Jin Eon di hadapannya. Manajer Byeon membukakan pintu lift, namun Jin Eon berkata bahwa ia tidak akan masuk. Jin Eon berkata dirinya tidak akan kemana2.

Jin Eon terus berdiri di depan lift. Saat pintu lift terbuka, tiga orang karyawannya keluar dan langsung menatapnya dengan segan. Jin Eon sedang menunggu Hae Gang.

Di dalam lift, Hae Gang teringat kesaksian para pekerja di stasiun bahwa stasiun ditutup pada pukul tujuh. Hae Gang lantas menatap laporan kematian Sun Yong. Sun Yong tewas pada tanggal 2 Mei 2011, sekitar pukul setengah delapan malam. Hae Gang lalu kembali teringat kesaksian para pekerja stasiun tentang orang2 yang tidak boleh berada di peron.


Jin Eon masih menunggu Hae Gang di depan lift. Ia terus menunggu dan menunggu hingga akhirnya Hae Gang pun keluar dari lift.

“Kalau kau bertemu pimpinanmu, tolong beri salam, Presdir Choi Jin Eon” ucap Hae Gang.

“Apa kau tahu tentang pemalsuan hasil tes klinis? Meski kau mengetahuinya, tapi kenapa kau menutup mulut dan telingamu? Aku sedang berbicara tentang pemalsuan tes klinis, wakil presdir Do Hae Gang!” ucap Jin Eon dengan suara keras.

“Pelankan suaramu.” Jawab Hae Gang.


“Apa kau sengaja tidak memberitahu Kang Seol Ri? Apa kau benar-benar mengetahuinya dan sengaja menutup mulutmu? Tolong jawab aku!” pinta Jin Eon.

“Aku bilang pelankan suaramu.” Jawab Hae Gang.

“Karena kesehatan dan hidup seseorang tidak boleh dihancurkan tanpa alasan. Karena orang yang sudah sakit tidak boleh dibuat lebih sakit lagi. Kita tidak boleh menghancurkan hidup seseorang dengan kekuasaan dan uang! Itu bukan kata-kataku, itu adalah kata-kata wakil presdir Do Hae Gang, jadi itu adalah pemikiranmu! Yang harus segera kita tangani bukanlah tuntutan. Kita harus menarik Pudoxin dari pasaran! Itu untuk melindungi kesehatan orang-orang, wakil presdir.” Ucap Jin Eon.

“Bicaralah yang masuk akal, siapa yang mengizinkannya. Apakah para pemegang saham akan mengizinkannya? Tanyakan pada karyawan sekarang. Perusahaan akan hancur, tiket makanku akan lenyap, sahamku akan menjadi seperti tisu, siapa yang akan mengijinkannya? Tidak ada yang memihak kita, kau pikir apakah itu bisa? Baik, mari kita anggap mereka menyerah dan melaksanakan keinginanmu, lalu apa? Setelah itu bagaimana? Kau dan aku akan dilempar keluar dari pemegang saham. Kita akan hancur dan Pudoxin versi yang lain akan dibuat. Aku tidak tahu apakah itu pemikiranku, tapi berdasarkan posisi kita, dimana kita berdiri, kita harus merubah cara berpikir kita untuk memenangkan kompetisi, Presdir Choi Jin Eon! Kalau kita tidak bisa mempertahankan kursi kita, maka kita tidak bisa berbuat apapun dan tidak bisa merubah apapun!” jawab Hae Gang.


Seketika Jin Eon pun tersadar.

“Kenapa kau menatapku seperti itu?” tanya Hae Gang.

“Karena kau cantik.” Jawab Jin Eon.

“Apa?” tanya Hae Gang bingung.

“Dipihak kita, di posisi kita, kau bilang begitu. Kata-kata itu menentramkan dan cantik, karena kata-katanya cantik, maka orang yang mengatakannya juga cantik.” Jawab Jin Eon.

Hae Gang pun berusaha meralat kata2nya. Ia berkata bukan begitu maksudnya.

“Siapapun yang menjadi Presdir Farmasi Cheon Nyeon, kita harus secara strategis menentukan rekan kerja. Kita tidak bisa melakukannya sendirian.” Ucap Hae Gang.

“Kenapa kau tidak menjawab panggilanku?” tanya Jin Eon.

Tepat saat itu, Hyun Woo muncul dan menatap heran keduanya.


“Maaf sudah membuatmu bingung, aku membuat kesalahan. Aku minta maaf, dan tidak akan melakukannya lagi, aku tidak akan terguncang lagi, sungguh. Lupakan hari itu, hapus semuanya, kumohon.” Jawab Hae Gang.

“Yang mana tepatnya yang ingin kau hapus? Saat kau menciumku? Atau sulit bagimu berada di tempat yang sama denganku sampai kau melarikan diri? Kalau bukan itu, lalu karena kau ingin bersamaku, kau ingin tidur denganku, maka kau kembali? Tapi, lalu kau ditolak olehku? Yang mana yang ingin kau hapus? Bagian mana yang harus kuhapus, katakan padaku dengan jelas, dengan jelas. Apa sebenarnya yang kau ingin aku hapus? Bagian mana yang harus kuhapus? Huh? Katakan padaku dengan jelas, Hae Gang, dengan jelas.” Ucap Jin Eon.

Hae Gang pun gelagapan, ia tak tahu harus menjawab apa. Hyun Woo melangkah mundur. Tapi Hyun Woo malah membuat suara berisik. Ia bersender di pintu lift dengan keras. Hae Gang pun terkejut.


“Bagian mana yang harus kuhapus? Katakan padaku dengan jelas. Apa sebenarnya yang kau ingin aku hapus? Katakan padaku dengan jelas, Hae Gang-ssi.” Ucap Hyun Woo menirukan kata2 Jin Eon.


Hae Gang pun menatap Jin Eon dengan galak, lalu beranjak pergi. Tapi tak lama, Hae Gang kembali menghampiri Jin Eon. Jin Eon menatap Hae Gang dengan mata berbinar2, tapi Hae Gang?? Dia malah menendang kaki Jin Eon.

Bersambungke part 2……….

No comments:

Post a Comment