Wednesday, December 14, 2016

I Have a Lover Ep 35 Part 2

Sebelumnya...


Hae Gang diberitahu seketarisnya kalau Presdir Choi sedang menunggunya di dalam. Hae Gang terkejut, sesaat ia menghela napas panjang sebelum akhirnya masuk ke ruangannya. Presdir Choi menyuruh Hae Gang menandatangani kontrak pemindahan saham. Hae Gang terkejut, ia tidak menyangka bahwa Presdir Choi akan benar2 memberinya kekuasaan.

“Aku kira kau akan memberikan mereka uang dan menyelesaikannya, tapi setelah mendengar kau masuk ke pengadilan, aku sedikit terkejut.” Ucap Presdir Choi.

“Pihak tergugat tidak mau menyelesaikannya dengan uang damai, Presdir.” Jawab Hae Gang.


“Sejak kapan kau bertindak berdasarkan keinginan lawan? Kau yang aku kenal, selalu bertindak sesuai keinginanmu, bukan berdasarkan keinginan lawan. Kenapa kau tiba-tiba seperti ini? Aku ingin tahu.” ucap Presdir Choi.

Hae Gang termangu mendengarnya. Hae Gang pun mencari alasan, ia berkata bahwa pihak lawan mengumpulkan orang2 yang terkena efek samping Pudoxin sehingga membuatnya harus bersiap2 kalau ada tuntutan masal.


“Kalau kita menyelesaikannya dengan uang, dugaan korban akan bertambah besar dan memerlukan banyak biaya, Presdir. Kalau semua orang menyatakan bahwa mereka adalah korban, maka biaya yang dikeluarkan akan meningkat. Kalau kita tidak melakukannya, mereka akan beranggapan kita mampu. Maka setidaknya kita bisa menghadapi tuntutan dari beberapa orang saja, daripada semuanya maju.” Ucap Hae Gang.

“Tuntutan masal?” tanya Presdir Choi.

“Belum terlambat untuk mengatasinya dengan uang damai setelah persidangan ini, Presdir. Karena situasi dan keserakahan masing-masing orang berbeda, lebih mudah membuat mereka bertengkar soal uang.” Jawab Hae Gang.


“Aku mengerti, kalau memang begitu menurutmu. Mulai dari upacara pembukaan untuk tahun baru, singkirkan orang-orangnya Presdir Min, satu persatu.” Ucap Presdir Choi.

Hae Gang kaget, apa?

“Tugasmu adalah merekontruksi kembali perusahaan. Tidak perlu lunak pada mereka, yang tidak punya keahlian atau potensi, singkirkan mereka semua.” Ucap Presdir Choi.

Hae Gang tidak percaya dengan apa yang ia dengar.

“Pemimpin baru dengan anggota baru. Pikirkan baik-baik rencanamu dan gunakan kemampuanmu. Aku menaruh harapan besar padamu.” Ucap Presdir Choi.


“Baik, Presdir. Aku akan melakukannya. Sebagai gantinya, aku punya permintaan. Bahwa kau tidak akan ikut campur siapapun yang aku singkirkan, Presdir. Tolong berjanjilah padaku.” Pinta Hae Gang.

“Aku berjanji padamu.” Jawab Presdir Choi.


Produser Kim (ah tetap saja aku lebih suka memanggilnya produser) mengatakan pada Tae Seok bahwa Hae Gang pergi ke Stasiun Im Jin (lokasi terbunuhnya Sun Yong) karena tuntutan Pudoxin untuk mengantisipasi kalau muncul pembicaraan tentang Sun Yong di pengadilan nanti. Namun Tae Seok berpendapat lain karena Hae Gang berdiri di jembatan stasiun.

“Itu karena kau bisa melihat seluruh lokasi kejadian dari tempat itu. Dia mungkin berjalan kesana untuk melihat-lihat.” Jawab Produser Kim.

“Begitukah?” tanya Tae Seok.

“Itu pendapat saya.” jawab Produser Kim.

“Wakil Presdir Do Hae Gang adalah pengacara kita. Meski seandainya terungkap bahwa dia dibunuh dan bukannya bunuh diri, kau tahu bahwa dia tidak bisa memberikan informasi apapun. Dia akan melanggar kode etik pengacara dan tindakan criminal. Dia bisa dipenjara selama 3 tahun dan ijin pengacaranya juga akan dicabut selama 10 tahun. Menurutku akibatnya sangat berat.” Ucap Produser Kim.

“Aku mengerti kalau itu adalah Presdir Choi Jin Eon, tapi kenapa wakil presdir Do Hae Gang. Karena akan mengungkapkan kebenaran yang bisa membahayakan posisinya di perusahaan? Aku yakin dia tidak lupa bahwa dia bisa saja membahayakan hidupnya lagi, berdasarkan pengalamannya. Dia sudah melaluinya dua kali.” Ucap Produser Kim.

“Karena melibatkan adiknya.” gumam Tae Seok.

“Kau berpikir bergitu karena kau sangat perhatian pada saudaramu sendiri. Ada banyak orang yang tidak seperti itu.” ucap Produser Kim.

“Kalau dulu dia mati. Kalau saja aku membunuhnya saat dia menjadi Dokgo Yong Gi... Do Hae Gang, apa sebenarnya tujuanmu? Apa yang kau inginkan?” gumam Tae Seok.




Nyonya Kim berbicara dengan seseorang di telepon. Nyonya Kim heran karena orang itu tiba2 menyuruh Yong Gi datang ke Pyeongchang-dong. Nyonya Kim bertanya, kenapa bukan orang itu saja yang menemui Yong Gi di rumahnya. Nyonya Kim lalu berhenti bicara dan  pergi kamar Yong Gi.


Di kamar, Yong Gi lagi menemani Woo Joo bermain. Nyonya Kim pun memberikan telepon itu pada Yong Gi. Yong Gi terheran karena seseorang yang mengaku sebagai teman ayahnya ingin berbicara padanya. Namun, saat ia mengetahui yang menelponnya adalah Presdir Farmasi Cheon Nyeon, ia terkejut. Presdir Choi menyuruh Yong Gi datang ke rumahnya. Yong Gi terkejut, ia ingin tahu alasannya diundang ke rumah Presdir Choi.

“Karena kau adalah anaknya Ji Hoon. Kalau kau anaknya, maka kau juga anakku. Meski sudah sangat terlambat, aku ingin mendengar ceritamu.” Jawab Presdir Choi.


Yong Gi mondar mandir dengan gelisah. Ia bingung harus memenuhi undangan Presdir Choi atau tidak. Saat melihat ibunya sedang sibuk mengepak makanan, Yong Gi pun secara perlahan mendekati ibunya. Tepat saat itu, Gyu Seok pulang dan memperhatikan Yong Gi yang sedang mengobrol dengan Nyonya Kim.

“Apa itu semua? Apa kau berencana membuka toko makanan?” tanya Yong Gi.

“Bawakan ini ke kantornya. Aku yakin lemari esnya kosong.” Jawab Nyonya Kim.


Yong Gi pun langsung protes.

“Apa bagusnya dia? Kau benar-benar memanjakannya. Dia bukan anakmu, tapi tuanmu.” Ucap Yong Gi.

“Jangan berpikir yang bukan-bukan. Pakailah baju dan sepatu yang dibelikan kakakmu.” Jawab Nyonya Kim.

“Kenapa? Karena aku mungkin saja menghancurkan gaya dari kakak tiga menitku?” sewot Yong Gi.

“Jadilah cantik dan percaya dirilah, jangan terintimidasi. Dia bilang akan menyelesaikan semua ketidakadilan yang terjadi padamu.” Jawab Nyonya Kim.


“Aku tidak mau pergi, bukankah mereka semua adalah pimpinan Farmasi Cheon Nyeon? Mereka adalah orang yang paling aku benci di dunia ini.” ucap Yong Gi.

“Kalau begitu kau seharusnya mengatakan bahwa kau tidak akan pergi, kenapa kau bilang kau akan pergi?” tanya Nyonya Kim.

“Waktu itu aku tidak tahu kalau mereka tinggal di rumah yang sama!” jawab Yong Gi.

“Siapa? Siapa?” tanya Nyonya Kim.

“Aku tidak mau pergi, aku rasa lebih baik aku tidak pergi. Tolong telpon mereka, katakan terjadi sesuatu dan bahwa aku menyesal karena tidak bisa pergi.” Pinta Yong Gi.

“Baiklah, aku mengerti.” Jawab Nyonya Kim.


Gyu Seok yang paham akan kekhawatiran Yong Gi pun mengajak Yong Gi pergi bersamanya. Gyu Seok menyuruh Yong Gi berdandan yang cantik. Yong Gi pun sewot karena disuruh dandan ala2 Hae Gang.

“Bukan, bukan wajah kakak tiga menitmu, tapi wajahku. Berhentilah bicara omong kosong dan tolong buat dirimu terlihat cantik. Aku ingin kau terlihat cantik dimata hyung dan kakak iparku. Kalau aku pergi denganmu, mereka mungkin akan salah paham dan aku rasa kesalahpahaman mereka adalah yang terbaik bagiku dan juga bagimu.” Jawab Gyu Seok.


Yong Gi terheran. Lalu beberapa saat kemudian, ia pun mengerti maksud ucapan Gyu Seok. Yong Gi pun berkata kalau dia akan dandan secantik mungkin dan langsung lari ke kamarnya dengan wajah penuh semangat.


“Kebahagiaanku tiba-tiba saja berubah menjadi kekecewaan.” Gumam Nyonya Kim.


Yong Gi keluar dari kamarnya dengan wajah malu. Ia menghampiri Gyu Seok dan bertanya bagaimana penampilannya. Tapi Gyu Seok malah pasang ekspresi biasa dan berkata kalau mereka harus menyudahi soal kecantikan ini. 


Yong Gi langsung kesal. Woo Joo menghibur ibunya dengan berkata kalau hati ibunya sangat cantik.


Tae Seok dan Jin Ri syok melihat Gyu Seok datang membawa Yong Gi dan Woo Joo. Tae Seok meminta penjelasan pada Gyu Seok. Gyu Seok pun berkata bahwa Yong Gi dan Woo Joo adalah dua orang yang disayanginya. Tae Seok pun murka. Sementara Yong Gi memeluk Woo Joo sambil menatap Tae Seok dengan tajam.


Sekarang kita melihat Presdir Choi yang sedang berbicara dengan Yong Gi.

“Aku menerima laporan dan aku tahu secara kasar, tapi semuanya berjalan terlalu jauh... Aku tidak tahu kalau itu adalah kau. Aku tidak pernah membayangkan kalau itu adalah anaknya Ji Hoon. Kalau aku tahu, seandainya saja aku tahu sejak awal...” ucap Presdir Choi.

“Presdir, maksudku, Ahjussi. Kau pasti kenal ayahku dengan baik. Aku bahkan tidak tahu wajahnya. Karena aku tidak tahu wajah ayahku, aku selalu membayangkan dan memikirkannya, dan merindukannya.” Jawab Yong Gi.


Mendengar itu, Presdir Choi pun langsung menunjukkan fotonya bersama Ji Hoon.


“Jadi beginilah wajah ayahku. Terasa asing seperti ini. Kenapa dia pergi ke gunung dan meninggal? Bagaimana terjadinya, di gunung?” tanya Yong Gi.

“Saat kami mendaki, ada masalah dengan tali pengamannya. Kalau kami bertahan, sepertinya kami berdua akan mati. Ayahmu yang memotong talinya terlebih dulu. Sejak hari itu, aku tidak pernah bisa tidur nyenyak lagi. Aku hidup sebagai pendosa selamanya.” Jawab Presdir Choi.


Yong Gi terperangah mendengarnya.

“Yong Gi-ya.” panggil Presdir Choi.

“Ya, Presdir.” Jawab Yong Gi.

“Aku mau kau memanggilku Ahjussi. Alasan aku ingin kau memanggilku Ahjussi karena itu mengingatkan aku padanya dan aku merasa dia ada bersama kita. Jadi aku merasa dekat.” Ucap Presdir Choi.

Dan Yong Gi pun langsung memanggil Presdir Choi dengan panggilan Ahjussi.

“Aku harus membayar hutangku padanya, padamu. Apakah ada sesuatu yang ingin kau lakukan? Kalau ada, katakan rencanamu padaku. Aku akan mendukungmu penuh.” Ucap Presdir Choi.


Presdir Choi lantas memberikan Yong Gi sejumlah uang. Ia mengaku bahwa uang itu bukan pemberiannya, melainkan pemberian ayah Yong Gi untuk Yong Gi. Namun Yong Gi tidak mau menerima uang itu. 




Sebagai gantinya, ia ingin Presdir Choi menangkap orang yang sudah membunuh ayah Woo Joo.


Jin Ri heran kenapa adik iparnya bisa menyukai wanita seperti Yong Gi. Jin Ri berkata, bahwa Gyu Seok sudah gila karena menyukai wanita yang memiliki anak. Jin Ri ingin tahu apa yang disukai Gyu Seok dari Yong Gi.

“Yang paling aku sukai adalah bahwa dia adalah ibunya Woo Joo.” Jawab Gyu Seok.

“Apa kau bilang?” kaget Jin Ri.

Tae Seok mengajak Gyu Seok bicara di dalam. Namun Gyu Seok menolak bicara dengan Tae Seok dan meminta Tae Seok menerima apa yang terjadi hari ini. Tae Seok pun kaget bukan kepalang.

“Tidak ada yang perlu dibicarakan sayang. Sungguh tidak masuk akal ceritanya! Bagaimana aku bisa menjadi ipar dengan wanita rendahan itu? Tidak bisa, tidak boleh. Langkahi dulu mayatku, adik ipar. Apa kau mengerti?” ucap Jin Ri.

“Aku kesini bukan minta ijinmu. Aku datang untuk memberitahumu. Jadi ketahuilah, mulai dari sekarang, Yong Gi dan Woo Joo akan bersama denganku. Aku datang untuk mengatakan itu pada kalian.” Jawab Gyu Seok, yang membuat kedua kakaknya makin syok.


Tak lama kemudian, Nyonya Hong datang memberitahu kalau makan malam sudah siap. Berbeda dengan Jin Ri dan Tae Seok, Nyonya Hong bersikap ramah pada si kecil Woo Joo.


Gyu Seok menyuapi Woo Joo makan. Jin Ri semakin kesal melihatnya. Sementara Nyonya Hong menatap lembut Woo Joo. Sepertinya kehadiran Woo Joo membuat Nyonya Hong merindukan Eun Sol, cucunya. Namun tak tampak batang hidung Tae Seok di ruang makan. Kemanakah dia??


Dia menemui Yong Gi yang baru saja keluar dari ruang Presdir Choi!! Yong Gi terkejut saat Tae Seok mendorongnya ke dinding. Dengan nada mengancam, Tae Seok berkata bahwa Yong Gi tidak bisa melawannya. Yong Gi pun menyuruh Tae Seok melepaskannya, karena ia akan berteriak kalau Tae Seok tidak melepaskannya.

“Berteriaklah, silahkan berteriaklah!” suruh Tae Seok.


Yong Gi mau teriak, Tae Seok pun langsung mencekiknya.

“Tinggalkan adikku, jangan ganggu dia. Kau pikir kau siapa? Berania kau pada adikku, menyingkirlah darinya. Menjauhlah dari adikku, apa kau mengerti?” ucap Tae Seok.


Emosi Yong Gi pun memuncak. Dengan beraninya, ia menendang betis Tae Seok dan berkata bahwa dirinya akan terus menempel pada Gyu Seok. Ia akan menempel pada Gyu Seok selamanya. Ia menegaskan bahwa dirinya akan berada dekat, benar2 dekat dengan Tae Seok karena hanya itu satu2nya cara agar ia bisa mencekik Tae Seok setiap hari.

“Kalau kau tidak mau melihatku, maka cepatlah bayar dosa-dosamu. Kalau kau ingin menyelamatkan adikmu, maka segera akui dosamu dan serahkan dirimu, mengerti?” ucap Yong Gi.

Tae Seok semakin geram…


Seol Ri mencari berita di internet tentang penjualan Pudoxin yang meningkat tajam karena efektif untuk penyembuhan. Seol Ri lantas teringat kata2 Seok bahwa hasil uji klinis Pudoxin dipalsukan oleh Tae Seok. Seol Ri juga mengingat kata2 Hae Gang.


“Tidak ada yang seperti itu. Kami tidak tahu tentang efek sampng ataupun pemalsuan data.” Ucap Hae Gang.


Seol Ri kemudian ingat saat dirinya tanpa sengaja mendengarkan percakapan Tae Seok dan Produser Kim.

“Pada saat seperti ini, apa yang akan kau lakukan kalau ingatan Dokgo Yong Gi kembali? Pemalsuan hasil tes klinis Pudoxin, kematian Kim Sun Yong dan bahkan siaran yang kau buat, wanita itu tahu, dia mengetahui semuanya! Orang terakhir yang ditemui Do Hae Gang sebelum dia mati adalah wanita itu, Dokgo Yong Gi.” ucap Tae Seok.

Seol Ri pun melirik ke arah ponselnya.


Tae Seok sedan minum2 ketika Seol Ri menghubunginya. Seol Ri mengajak Tae Seok ketemuan, namun Tae Seok menolaknya. Seol Ri pun berkata bahwa ia ingin Tae Seok mendengarkan sesuatu. Tae Seok ingin tahu apa yang harus ia dengar.

“Suaramu.” Jawab Seol Ri.


Seol Ri bertemu ayahnya diluar. Pada sang ayah, ia hanya berkata ada janji penting dengan seseorang. Demi janji pentingnya itu, ia bahkan sampai menolak memakan sup tulang yang sudah susah2 disiapkan sang ayah untuknya.


Jin Eon yang sudah bersiap2 pulang, tiba2 teringat pengakuan ayahnya tentang kematian ayah Hae Gang.


Tae Seok terkejut mendengarkan rekaman suaranya dari ponsel Seol Ri.

“Dia sedang mengejar aku sekarang. Kalau dia tahu aku membunuh Do Hae Gang bukannya Dokgo Yong Gi. Kalau adik ipar mengetahuinya, kita tidak bisa membiarkan Moon Tae Joon dan Dokgo Yong Gi hidup. Tidak pernah! Kalau kita membiarkan mereka berdua tetap hidup, maka aku yang akan mati. Aku!”

Seol Ri mengancam, ia berkata haruskah dirinya memberikan rekaman itu pada Jin Eon? Atau pada Hae Gang? Atau Seok? Ataukah pada jaksa?


“Melihat kau tidak melakukannya dan datang kepadaku, itu artinya ada sesuatu yang kau inginkan dariku. Apa yang kau inginkan dariku, Kang Seol Ri?” jawab Tae Seok.

“Do Hae Gang, Choi Jin Eon. Hancurkan mereka berdua. Cabik-cabik mereka, injak-injak mereka Maka aku akan menguburnya. Aku akan menguburnya sampai aku mati.” Ucap Seol Ri dengan sorot mata yang penuh dendam.


Jin Eon yang masih di ruangannya, menghubungi Tae Seok. Ia mengajak Tae Seok minum. Tae Seok berkata akan segera datang ke ruangan Jin Eon, tapi Jin Eon bilang ia sendiri yang akan ke ruangan Tae Seok.


Karena itulah Seol Ri buru2 pergi. Bersamaan dengan itu, Hae Gang berdiri di depan lift. Keduanya pun bertemu. Seol Ri lagi2 menatap Hae Gang penuh kebencian. Sedangkan Hae Gang hanya menatap biasa Seol Ri.


Bersambung….

Tuh kan tuh kan, sejak awal Seol Ri udah tahu hasil tes klinis Pudoxin dipalsukan… dia gak sengaja nguping pembicaraan Tae Seok dan Produser Kim, dan dari sana dia tahu tentang hasil tes klinis Pudoxin yang dipalsukan. Tapi anehnya, saat itu dia malah sibuk menghasut orang sana sini buat menghancurkan Hae Gang, tanpa memikirkan dirinya yang juga ikut mengkonsumsi Pudoxin… Dia baru syok saat mendengar tentang efek samping Pudoxin dari mulut Jin Ri…

Dan yang lebih lucu lagi, dia protes… dia nuduh Hae Gang gak ngasih tau dia soal efek samping Pudoxin karena mau balas dendam… tanpa ingat perbuatannya pada Hae Gang dulu..

Seol Ri menderita ya karena ulahnya sendiri… apa yang terjadi pada Seol Ri sekarang, aku menganggapnya sebagai hukuman atas perbuatannya di masa lalu… 

Preview Ep 36

1 comment: