Monday, December 26, 2016

I Have a Lover Ep 38 Part 1

Sebelumnya...


Hae Gang menggenggam tangan Jin Eon. Jin Eon pun tertegun. Hae Gang mengajak Jin Eon pergi. Ia mengaku akan memasakkan makan malam untuk Jin Eon. Jin Eon membeku mendengarnya. Hae Gang juga berkata akan membuatkan sarapan pagi untuk Jin Eon.

"Ayo pergi." ajak Hae Gang.

Hae Gang~Jin Eon keluar dari ruangan sambil bergandengan tangan. Sontak saja, hal itu membuat Manajer Byeon dan Mi Ae terkejut. Begitu Hae Gang~Jin Eon pergi, Manajer Byeon langsung mendengus kesal.


"Apa-apaan ini? Pejabat tinggi berpegangan tangan tanpa gengsi." dengusnya.

"Bukankah itu hanya sebuah pertunjukan?" ucap Mi Ae.

"Pertunjukan?" tanya Manajer Byeon heran. Namun tak lama, Manajer Byeon menyahut lagi, pertunjukan politik!

"Ada rumor beredar tentang persaingan diantara mereka. Mereka memperlihatkan persekutuannya secara tidak langsung." jawab Mi Ae.

"Kau benar. Di siang bolong begini, itu bukan jalan2 penuh cinta tapi jalan2 politik." ucap Manajer Byeon.


Manajer Byeon lantas menatap ke arah ruangan Tae Seok.

"Pernyataan perang telah ditunjukkan kepada pihak lawan. Kalau begitu sudah waktunya bagiku berbaris di barisan lain." gumam Manajer Byeon.


Di depan lift, Jin Eon~Hae Gang saling menatap penuh cinta. Tapi begitu lift terbuka, mereka pun langsung melepaskan genggaman tangan mereka karena sosok Presdir Choi yang tiba2 aja nongol di depan mereka. Presdir Choi heran melihat keterkejutan keduanya. Hae Gang beralasan kalau dirinya hanya kebingungan saja melihat Presdir Choi yang tiba2 muncul.

"Kau mau masuk atau keluar?" tanya Presdir Choi pada Hae Gang.

"Kami akan keluar." jawab Hae Gang.

"Apa yang membawamu ke sini?" tanya Jin Eon.

"Kenapa kau tidak menjawab teleponmu? Kami berniat mencari udara segar dan makan malam diluar. Ibumu menekanku agar aku membawamu ikut serta karena dia berutang makan malam padamu. Dia menunggumu di parkiran." jawab Presdir Choi.

"Aku sudah ada janji. Hanya ayah dan ibu yang akan pergi makan malam." ucap Jin Eon.

"Janji? Kalian berdua?" tanya Presdir Choi.


Hae Gang pun mengiyakan. Tak lama kemudian, pintu lift terbuka. Presdir Choi menyuruh mereka masuk ke lift, tapi Jin Eon hanya diam saja seperti patung di depan lift. Hae Gang menyuruh Jin Eon masuk. Barulah Jin Eon masuk ke lift.

"Entah itu karena bisnis atau hal pribadi, lumayan menyenangkan melihat kalian bersama2 seperti ini. Semua orang mengawasi kalian, jadi berhati-hati lah dengan tindakan kalian." ucap Presdir Choi.

Jin Eon diam saja  sambil menatap lurus ke depan dengan raut wajah pedih. Melihat ekspresi Jin Eon, Hae Gang pun mengerti dengan apa yang dirasakan Jin Eon sekarang.


Di parkiran, Nyonya Hong mendengus kesal karena Presdir Choi tidak menjawab teleponnya, Sopir Kim yang menemani Nyonya Hong menunggu Presdir Choi dan Jin Eon pun menyuruh Nyonya Hong masuk ke mobil dengan alasan udara yang cukup dingin. Namun Nyonya Hong menolak, ia mengaku bahwa dirinya baik2 saja.

"Bukankah anak lelakimu yang jaksa dan anak perempuanmu yang dokter itu sudah menyuruhmu berhenti bekerja?" tanya Nyonya Hong kemudian.

"Akhir2 ini mereka sudah tidak banyak protes lagi Berkat siapa mereka berhasil? Uang sekolah, biaya pernikahan... kami selalu berterima kasih pada Presdir." jawab Sopir Kim.

"Mereka berhasil karena memiliki otak yang pintar." jawab Nyonya Hong.


Tak lama kemudian, Presdir Choi datang dan Nyonya Hong langsung sebal melihat kehadiran Hae Gang. Presdir Choi memberitahu istrinya itu bahwa hanya mereka yang akan pergi makan malam karena Jin Eon sudah ada janji.

"Dengan siapa? Dia?" sewot Nyonya Hong.

"Bukan urusan pribadi, tapi perjalanan bisnis." jawab Jin Eon.


"Kau ahli dalam mengecawakanku! Kalau kau mengangkat teleponmu, kami tidak akan menyia2kan perjalanan!  Periksa teleponmu dan lihat berapa kali ayahmu menelponmu! Aku sangat khawatir, sehingga aku jauh2 datang kemari karena takut terjadi sesuatu padamu!" omel Nyonya Hong.


Presdir Choi lantas menyuruh Nyonya Hong masuk ke mobil. Sebelum masuk mobil, Nyonya Hong menyindir Hae Gang yang berhasil mendapatkan jabatan sebagai Wakil Presdir dan saham sebesar 10.5 %. Tapi setelah menyindir Hae Gang, Nyonya Hong malah menyemangati Hae Gang dengan menyuruh Hae Gang giat bekerja.


Setelah mereka pergi, Hae Gang bertanya pada Jin Eon, apakah mereka akan pergi dengan mobilnya. Jin Eon mengiyakan, ia juga menyuruh Hae Gang yang menyetir dan mengaku bahwa dirinya habis minum. Hae Gang terkejut karena Jin Eon minum2 di tengah hari. Namun Jin Eon diam saja saat Hae Gang meminta penjelasan kenapa Jin Eon minum2 di tengah hari begitu.


Nyonya Hong penasaran apa Hae Gang~Jin Eon janjian diluar karena urusan pekerjaan. Presdir Choi diam saja dan memejamkan matanya. Nyonya Hong terus mengoceh. Ia curiga bahwa Jin Eon~Hae Gang janjian diluar bukan untuk pekerjaan. Menurutnya, urusan pekerjaan semestinya sudah dilakukan di perusahaan.


Presdir Choi sendiri sedang memikirkan pertanyaan Hae Gang tentang kata2 terakhir Ji Hoon. Saat itu, Presdir Choi berkata bahwa Ji Hoon menyuruhnya menjaga Hae Gang dan Yong Gi. Hae Gang menjawab, bahwa ayahnya tidak tahu nama Hae Gang. Bahwa nama yang diberikan ayahnya adalah Dokgo On Gi.


"Hae Gang, dia menanyakan ayahnya. Pesan terakhir ayahnya." ucap Presdir Choi.

"Apa pesan terakhirnya?" tanya Nyonya Hong.

Presdir Choi pun terdiam.

"Kenapa tidak menjawab? Katakan apa pesan terakhirnya?" tanya Nyonya Hong.

"Dia menyuruhku menjaga Ssanghwasan dengan baik." jawab Presdir Choi.


Sopir Kim pun langsung melirik Presdir Choi dari spionnya.

"Jadi kau tidak mencurinya? Kenapa kau tidak bilang? Kau membuatku ikut merasa bersalah? Kalau dia memintamu menjaga Ssanghwasan, seharusnya kau memberitahu Jin Eon.


Jin Eon~Hae Gang sibuk berbelanja. Jin Eon ingin tahu apa yang akan Hae Gang masak untuk makan malam mereka. Hae Gang pun memberitahu apa saja yang mau ia masak untuk makan malam mereka. Hae Gang kemudian merangkul lengan Jin Eon, membuat Jin Eon tertegun.

"Kenapa? Aku tidak boleh merangkulmu? Kau bilang kau tahu isi hatiku. Aku juga ingin membuatmu bahagia. Aku mencintaimu, Choi Jin Eon." ucap Hae Gang.

Jin Eon terharu mendengarnya. Ia kemudian memeluk erat Hae Gang.


Namun tiba2, seorang ibu2 yang kesal melihat mereka bermesraan pun dengan sengaja menabrak troli mereka dengan trolinya. Ibu2 itu ngomel. Jin Eon tersenyum, ia kemudian meminta maaf pada ibu2 itu dan berkata bahwa istrinya sangat cantik. Ibu2 itu makin kesal. Hae Gang langsung menatap Jin Eon.

"Siapa yang istrimu?" protes Hae Gang.

"Hanya hari ini. Kau istriku untuk hari ini." jawab Jin Eon.


Hae Gang pun mengangguk setuju. Jin Eon kemudian menyuruh Hae Gang merangkul lengannya. Hae Gang pun merangkul lengan Jin Eon dengan senang hati. Keduanya pun beranjak pergi dengan senyum lebar di wajah.


Kini keduanya sudah berada di apartemen Hae Gang. Hae Gang tampak sibuk membelah ikan. Sementara Jin Eon yang duduk di ruang makan tak henti memandangi Hae Gang sambil memetik tauge.

"Yeobo." panggil Jin Eon.

Hae Gang pun tertegun. Tak lama kemudian, ia berbalik menatap Jin Eon dan balas memanggil Jin Eon yeobo. Jin Eon berterima kasih karena Hae Gang sudah membuatnya bahagia hari itu.

"Bagaimana bisa kau bahagia? Aku bahkan belum memasak untukmu." jawab Hae Gang.

"Aku berharap waktu berhenti saat ini juga." ucap Jin Eon.

Tangis Hae Gang pun nyaris pecah, namun ia berusaha sekuat mungkin agar tangisnya tidak pecah.


Hae Gang kemudian berbalik dan mencoba tersenyum. Jin Eon berkata bahwa itu adalah makanan terakhir yang dimasak Hae Gang untuknya. Hae Gang tertegun, ia kemudian berkata bahwa besok ia akan membuatkan sarapan untuk Jin Eon. Hae Gang kemudian bertanya apa Jin Eon mau pergi.

"Tergantung bagaimana kau melakukannya." jawab Jin Eon.

"Kau mau kuhajar dengan ikan ini?" tanya Hae Gang.

"Sebaiknya aku pergi, aku tidak boleh diperlakukan begini." jawab Jin Eon, membuat Hae Gang tersenyum geli.


Jin Eon kemudian beranjak mendekati Hae Gang. Ia mencari2 kain lap, tapi karena tidak menemukannya, akhirnya ia mengelap tangannya di celemek Hae Gang. Jin Eon lalu memeluk Hae Gang.

"Taugenya seharusnya cukup untuk kau makan sendiri. Terlalu banyak ikan untuk kau makan sendiri. Simpan untuk membuat rebusan besok pagi dan makanlah sendiri. Inilah kebahagiaan yang kuinginkan. Tidak lebih dan tidak kurang. Hanya kebahagiaan kecil ini saja." ucap Jin Eon.


Anak buah Tae Seok masih berjaga di depan apartemen Hae Gang. Tak lama kemudian, ia dikejutkan dengan remaja laki2 yang membawa pot bunga. Remaja yang menghampiri Hae Gang di parkiran Cheon Nyeon Farmasi, yang membuat Hae Gang ketakutan. Remaja itu kemudian meletakkan pot bunga yang dibawanya di depan pintu apartemen Hae Gang. Tak lupa ia menyelipkan pesan di bunganya.


Setelah remaja itu pergi, anah buah Tae Seok pun membaca pesan itu.


Jin Eon menyantap masakan Hae Gang dengan lahap. Hae Gang hanya melihat Jin Eon makan dengan tatapan bahagia. Tak lama kemudian, Jin Eon meminta Hae Gang berhenti menatapnya seperti itu dan menyuruhnya makan.

"Dari sekian banyak wanita, terima kasih sudah memilihku." ucap Hae Gang.

"Setelah mengejarmu mati2an selama setahun 7 bulan, terima kasih sudah menerima cintaku." jawab Jin Eon.

"Terima kasih untuk cintamu yang berlimpah." ucap Hae Gang.

"Di Piala Dunia 2002, Korea melawan Spanyol, dalam kemenangan tendangan penalti 5-3 yang menakjubkan, di hari itu, terima kasih juga sudah memberikanku keajaiban. Setelah 6 tahun karena memberiku berkat, kupikir aku telah memasuki nirwana dan menghasilkan pusaka buddha dalam tubuhku. Bagaimana selama 6 tahun, jika kuambil satu langkah, kau mendorongku mundur 10 langkah. Bagaimana bisa kau tidak menjengukku sama sekali selagi aku tugas militer?" jawab Jin Eon.


"Untukku yang telah kehilangan ingatan, karena kembali padaku, karena mencintaiku lagi, karena membolehkan mencintai Choi Jin Eon lagi, seperti saat pertama, terima kasih." ucap Hae Gang.

"Sekarang ayo makan. Jangan membuatku bicara. Aku harus makan." jawab Jin Eon.

"Bukan karena dirimu, namun karena diriku, aku putus denganmu sehingga aku bisa meluruskan hidupku meskipun terlambat, sehingga aku bisa memaafkan diriku. Tidak ada bagian hatiku yang membencimu. Jadi jangan salahkan dirimu. Perpisahan kita terjadi karena aku. Itu bukan karenamu. Dan juga aku sudah berpisah denganmu. Saat ingatanku kembali, aku sudah mengucapkan salam perpisahan padamu." ucap Hae Gang.

Tangis keduanya pecah. Jin Eon melahap makanannya sambil menangis. Dan Hae Gang menatap Jin Eon dengan tangisnya.


Anak buah Tae Seok langsung melapor pada Tae Seok. Ia berkata, bahwa tanaman yang ditinggalkan di depan pintu apartemen Hae Gang adalah jenis tanaman beracun. Tae Seok pun kaget. Anak buah Tae Seok berkata, bahwa pernah ada kasus pembunuhan dengan menggunakan tanaman itu.

Tae Seok terkejut, pembunuhan?


Shin Il Sang yang lagi makan sama Tae Seok pun terkejut mendengar kata2 Tae Seok.

"Jadi anak itu adalah anak yang sama dengan yang kau lihat di parkiran?" tanya Tae Seok.

"Anak yang menggemboskan ban." jawab anak buah Tae Seok.

"Cepat cari tahu siapa dia." suruh Tae Seok.


Anak buah Tae Seok lantas mengirimkan foto bunga itu ke Tae Seok. Dan Tae Seok pun langsung membahasnya dengan Shin Il Sang. Shin Il Sang berkata, itu adalah tanaman pembunuh karena memiliki toksin 6000 kali lebih kuat dari sianida. Dan racun yang ada di dalam tanaman itu disebut oleandrin. Jika tertelan, dapat menimbulkan sakit perut dan gangguan saraf setelah itu terjadi serangan jantung.

"Menurut dokumen, seseorang diam2 membawa Zolpidem ke rumah Kepala Peneliti mu. Hal itu bukan dilakukan Do Hae Gang, aku yakin itu adalah orang suruhan Presdir.Kita harus membuatnya berada di pihak kita." jawab Tae Seok.

"Aku bertemu ibu mendiang Kim Eun Joo dan orang Korea-China yang bekerja sebagai pembantu. Mereka tidak tahu apa2 soal itu. Mereka percaya pernyataan Jaksa kalau dia tewas karena overdosis." ucap Shin Il Sang.

"Siapa jaksanya?" tanya Tae Seok.

"Yoon Hak Seong." jawab Shin Il Sang.

"Banyak Jaksa yang menerima beasiswa dari Presdir Choi. Jika kita memeriksa daftar penerima beasiswa, kita bisa tahu dia ada di pihak Presdir Choi atau tidak." ucap Tae Seok.


"Dia mengusirku seperti tikus dengan menyatukan penyiar, jaksa dan pialang saham." jawab Shin Il Sang.

"Diantara mereka yang menempati jabatan berkuasa, tidak ada satu pun yang tidak busuk." ucap Tae Seok.

"Apa kau pernah mengalaminya?" tanya Shin Il Sang.

"Sayangnya, kita semua pernah mengalaminya." jawab Tae Seok.


Hae Gang menyiapkan pakaian ganti untuk Jin Eon. Tapi Jin Eon memilih pergi. Hae Gang ingin tahu alasannya. Jin Eon berkata karena ia takut tidak bisa melepaskan Hae Gang. Hae Gang tertegun. Jin Eon kemudian beranjak pergi.


Setibanya diluar, Jin Eon melihat tanaman itu di depan pintu. Jin Eon kemudin membaca pesan yang terselip di bunga itu.

Bunga merekah di musim panas. Floriografi 'berbahaya' jadi tolong rawat dengan baik dan sehat.
 
Tak lama kemudian, Jin Eon pun menyadari bahwa bahaya mengintai Hae Gang setelah membaca pesan itu.


Hae Gang berdiri mematung. Tak lama kemudian, ia menyambar jaketnya dan beranjak pergi menyusul Jin Eon. Di luar, ia menemukan Jin Eon duduk di tangga sambil melihat sesuatu di ponsel. Jin Eon sedang mencari sesuatu tentang bunga itu di internet.

"Masuklah ke dalam. Aku akan memanggil polisi." ucap Jin Eon.

"Polisi?" tanya Hae Gang heran.

"Aku baru saja mencari tahu dan tanaman ini sangat beracun. Kurasa seseorang sengaja meninggalkannya di sini untuk mengancammu. Apa hal seperti ini pernah terjadi sebelumnya?" ucap Jin Eon.

Hae Gang diam saja. Jin Eon menyuruh Hae Gang bicara. Hae Gang pun mengangguk. Jin Eon menyuruh Hae Gang masuk, tapi Hae Gang menolak dan mengajak Jin Eon ke kantor polisi sama2. Jin Eon tidak setuju dan menyuruh Hae Gang masuk. Hae Gang pun menurut.


Tae Seok baru saja mengetahui bahwa remaja yang meletakkan tanaman beracun di pintu Hae Gang adalah putranya Shin Il Sang. Ia pun berniat memanfaatkan putra Shin Il Sang untuk mencegah Seok datang ke pengadilan. Ia yakin jika sesuatu terjadi pada Hae Gang, maka kecurigaan akan mengarah pada putranya Shin Il Sang.


Jin Eon memutuskan menemani Hae Gang malam itu. Hae Gang menyuruh Jin Eon mengenakan lotion. Tapi Jin Eon diam saja sembari menatap Hae Gang dengan tatapan cemas. Karena Jin Eon diam saja, Hae Gang pun bangkit dan berniat memakaikan lotion ke wajah Jin Eon. Namun Jin Eon memegang tangannya.

"Lakukan apa saja yang kau putuskan. Apapun yang kau pilih dan apapun yang akan kau lakukan mulai sekarang, aku akan berada di sisimu dan aku akan melindungimu. Jadi tolong katakan sulit jika kau merasa sulit dan katakan takut jika kau takut. Biarkan aku melakukan sesuatu untukmu. Meskipun aku sudah bukan lagi suamimu, setidaknya biarkan aku melakukannya untukmu." ucap Jin Eon.

Hae Gang pun mengangguk sembari tersenyum.

Hae Gang lalu bertanya apa Jin Eon serius mau tidur di sofa. Jin Eon meminta Hae Gang tidak mengganggunya. Hae Gang mengaku bahwa dirinya tidak punya selimut. Jin Eon bilang ia bisa selimutan dengan jaket tebalnya. Hae Gang lantas berkata bahwa ia hanya akan memegang tangan Jin Eon seperti orang bodoh. Jin Eon pun berkata sebaiknya Hae Gang menepati janjinya bahwa hanya akan memegang tangannya saja.


Jin Eon~Hae Gang akhirnya tidur satu ranjang. Hae Gang tampak menatap Jin Eon yang sudah memejamkan mata sembari menggenggam tangan Jin Eon. Tapi ternyata Jin Eon belum tidur. Ia hanya memejamkan mata saja dan menyuruh Hae Gang tidur.

"Aku yang salah." ucap Hae Gang. Jin Eon pun langsung menatap Hae Gang.

"Aku lebih salah." jawab Jin Eon.

"Maafkan aku. Aku hanya hidup seperti itu." ucap Hae Gang.

"Kemarilah." suruh Jin Eon.

Hae Gang pun mendekatkan dirinya ke dalam dekapan Jin Eon.

Bersambung ke part 2....

No comments:

Post a Comment