Saturday, December 3, 2016

The Legend Of The Blue Sea Ep 3 Part 2

Sebelumnya...


Joon Jae dan kedua rekannya kembali bersiap2. Kali ini, Joon Jae akan berperan sebagai seorang pilot. Di dalam lemari pakaiannya, berjejer rapi berbagai jenis seragam, mulai dari hakim, pilot, seragam militer bahkan dokter. Di garasinya pun berbagai jenis kendaraan terparkir. Mulai dari mobil polisi, bahkan ambulance.


"Hari ini Nyonya Jang Jin Ok akan latihan golf jam satu. Jam 3.30, dia akan mendapatkan pijat di Spa Gangnam. Gangnam Empire." ucap Nam Doo.

"Setelah kami tiba, kau pergilah ke atap dan segera mulai mengerjakan lift." ucap Joon Jae ke Tae Ho.

"Dan kau, Hyung. Terus periksa untuk memastikan rencananya tidak berubah." ucap Joon Jae ke Nam Doo.


"Aku senang kita kembali bekerja." ucap Nam Doo.

"Senang, apanya? Pikirkan tentang membereskan barang2mu dan pergi dari rumahku setelah ini." ketus Joon Jae.


Sim Chung menanyakan Joon Jae pada orang2 yang lewat. Tak lama kemudian, mobil yang dinaiki Joon Jae bersama dua rekannya terhenti di pinggir jalan. Sim Chung terus berjalan tanpa sadar ada Joon Jae di belakangnya. Sim Chung mengambil selebaran yang dibagikan orang2 padanya. Sim Chung kemudian melewati penjual makanan. Si penjual menyebutkan harga 1000 won yang harus dibayar Sim Chung. Dengan polosnya, Sim Chung memberikan selebaran di tangannya. Si penjual kesal dan mengusir Sim Chung.


Sim Chung sedih, ia berbalik dan bingung harus melakukan apa. Bersamaan dengan itu, mobil yang dinaiki Joon Jae berlalu begitu saja dari hadapannya. Sim Chung tak menyadarinya.


Sim Chung menyusuri jalanan kota dengan perut kelaparan. Lalu tiba2, ia melihat gerombolan pelajar sedang membully junior mereka. Tak lama kemudian, anak yang dibully itu memberikan uang pada mereka. Sim Chung mengangguk2kan kepalanya tanda mengerti.


Sim Chung pun langsung menirunya. Ia merebut tas seorang anak kecil dan merangkul anak kecil itu persis seperti yang dilakukan gerombolan pelajar tadi. Sim Chung lantas meminta uang pada anak kecil itu karena lapar.

"Eonni, apa kau memeras anak kecil?" protes anak kecil itu.

"Apa itu memeras?" tanya Sim Chung.

"Ini pemerasan!" ucap anak kecil itu.


Anak kecil itu lantas mentraktir Sim Chung makan ramen di sebuah toserba dengan kartu kredit ibunya. Sim Chung makan ramennya dengan lahap, namun ia terheran2 saat anak kecil itu berbicara soal kartu kredit ibunya.

"Eonni, bagaimana bisa kau tidak tahu apapun? Kartu kredit ibuku. Mom-ca!" jawab anak kecil itu.

"Apa kartu kredit ibu lebih baik daripada uang?" tanya Sim Chung.

"Seperti itulah, jangan lakukan itu lagi." jawab anak kecil itu.

"Baiklah, aku tidak akan melakukannya." ucap Sim Chung.


"Uang adalah sesuatu yang diperoleh dengan susah payah. Ibuku bekerja keras untuk mendapatkan uang. Bahkan tidak punya waktu bertemu denganku. Dari pagi hingga petang hanya bekerja mencari uang." jawab anak kecil itu.

"Kenapa ibumu bekerja keras untuk mendapatkan uang?" tanya Sim Chung polos.

"Eonni, menurutmu kenapa kita mencari uang? Dia mencari uang jadi aku dan ibuku bisa bahagia." jawab anak itu.

"Tapi apa bisa disebut bahagia jika yang kau lakukan dari pagi hingga petang hanya untuk mencari uang?" tanya Sim Chung.

Anak kecil itu pun kebingungan menjawabnya.


Sebelum berpisah, anak kecil itu memberikan Sim Chung uang dan berpesan agar Sim Chung mencari pekerjaan untuk mendapatkan uang mulai sekarang. Anak kecil itu juga berdoa agar Sim Chung bisa secepatnya bertemu Joon Jae.


Anak kecil itu kemudian bertabrakan dengan Joon Jae.

"Ahjussi, hati2 kalau jalan." ucap anak kecil itu.

"Hei, Nak! Kau lah yang harusnya hati2. Bagaimana bisa kau memanggilku ahjussi!" protes Joon Jae.


Anak kecil itu pun berlalu. Joon Jae kesal, Nam Doo pun segera menenangkan Joon Jae. Joon Jae dan kedua rekannya pun kembali berjalan. Mereka tak bertemu Sim Chung karena Sim Chung sudah berjalan ke arah lain.


Di taman, Sim Chung ketemu lagi dengan si tukang bully. Sim Chung memperingatkan mereka kalau apa yang mereka lakukan itu tidak baik. Gerombolan tukang bully kesal dan mau menghajar Sim Chung. Sim Chung dengan polosnya bertanya apa mereka tidak punya kartu kredit ibu. Sim Chung bahkan memukul mereka. Seorang diantara tukang bully terlempar jauh karena pukulan Sim Chung.

Sim Chung kemudian meremas mulut tukang bully yg satu lagi dan memperingatkannya untuk tidak melakukan itu lagi. Si tukang bully itu berkilah, ia berkata kalau dirinya berteman dengan si korban bully.

"Chingu? Kau memakan mereka?" tanya Sim Chung bingung.

Gerombolan tukang bully itu pun kabur karena ketakutan mengira Sim Chung orang gila. Sim Chung terus teriak2, berkata kalau mereka tidak boleh memakan teman mereka. Si korban bully juga ikutan kabur karena takut.


Salah satu si tukang bully ternyata anaknya Jin Ok. Anak itu berbohong, ia mengaku pada sang ibu kalau dirinya ada di sekolah. Jin Ok meminta anaknya jangan berteman dengan anak nakal.

"Lihat saudaramu. Anak baik hati itu dijebak. Dia pasti menderita." ucap Jin Ok.

Jin Ok pun menyudahi pembicaraan dengan anaknya dan masuk ke lift. Saat pintu lift akan menutup, Joon Jae datang dan masuk ke lift.

Sementara di atap, Tae Oh mulai bekerja menghack lift. Lift pun berhenti tak lama setelah beroperasi. Setelah liftnya berhenti, Joon Jae pun langsung membuka kacamatanya dan menunjukkan wajahnya.


"Kau bajingan yang menipuku! Kudengar kau sudah mati." ucap Jin Ok heran.

"Maaf, tapi aku tidak akan mati semudah itu." jawab Joon Jae sambil memainkan pemantik apinya.

"Berani sekali kau datang ke sini!" maki Jin Ok. Dan, tepat saat itu lampu pun padam. Joon Jae mulai beraksi. Ia menghipnotis wanita itu.


Akibat pengaruh hipnotis Joon Jae, Jin Ok berhalusinasi. Ia melihat putranya bergelantungan di atas gedung. Jin Ok berusaha menarik putranya ke atas, tapi gagal dan putranya terjatuh. Jin Ok syok. Joon Jae mulai mensugesti Jin Ok.


"Ingatlah rasa sakitmu sekarang. Anak yang mati karena anakmu. Seorang anak yang menemui ajalnya karena jatuh dari lantai 17. Ibu anak itu sama sengsaranya seperti dirimu sekarang... dan selamanya akan dirundung duka." ucap Joon Jae.


Jin Ok menangis. Joon Jae lantas mendekati Jin Ok. Ia memegang pundak Jin Ok dan terus mensugesti Jin Ok.

"Sekarang, mulai sekarang, mereka yang telah bersalah padamu, kau akan melupakan mereka semua. Untuk mereka yang menderita karena dirimu, ingatlah rasa penyesalanmu." ucap Joon Jae.


Joon Jae pun mengakhiri hipnosisnya. Ia membukakan pintu lift. Begitu keluar dari lift, Jin Ok langsung menyuruh anak buahnya membatalkan tuntutan pada Joon Jae. Tak hanya itu, Jin Ok juga meminta nomor kontak seorang ibu yang kehilangan anak karena anaknya. Sontak, anak buah Jin Ok langsung terheran2.


Nam Doo memuji kehebatan Joon Jae dalam menghipnotis. Tae Oh ingin tahu cara Joon Jae melakukannya. Nam Doo berkata, bahwa Tae Oh pasti penasaran cara Joon Jae melakukannya. Namun, tatapan Tae Oh lebih mirip tatapan seseorang yang sedang waspada. Joon Jae pun memberitahu bagaimana cara ia melakukannya.


Joon Jae berkata, setelah Jin Ok menerima sebuah pesan spam angka 17 di ponselnya dan tepat di lantai 17, disitulah hipnotisnya bekerja. Selanjutnya, menciptakan situasi yang sulit diduga dan menghipnotis menggunakan alam bawah sadar.

"Orang itu masuk ke dunia fantasi yang kubuat. Semuanya dimulai dari mata. Mencari, memulai rayuan." ucap Joon Jae sambil menatap mata Tae Oh.

Tae Oh pun langsung menghindari kontak mata dengan Joon Jae. Joon Jae tersenyum geli dan berkata kalau tidak semua orang bisa dihipnotis.


Di seberang jalan, tak jauh dari tempat Joon Jae berdiri, Sim Chung sedang mengubek2 tempat sampah guna mengambil pakaian bekas dan berbicara dengan tunawisma. Tunawisma itu bertanya asal Sim Chung. Sim Chung berkata kalau dirinya dari air. Tapi si tunawisma mengira bahwa maksudnya Sim Chung berasal dari luar negeri.


Si tunawisma kemudian bercerita bahwa dulu saat masih muda, dirinya sering berbelanja barang2 bermerek di Milan dan Paris. Lalu kemudian, ia jatuh bangkrut dan tinggal di jalanan. Sim Chung mendengarkan cerita si tunawisma dengan wajah bingung. Si tunawisma lalu bertanya alasan Sim Chung datang ke Seoul.

"Aku mencari Heo Joon Jae." jawab Sim Chung.

"Pacarmu? Dimana dia tinggal di Seoul? Daechi-dong? Cheongdam-dong?" tanya si tunawisma.

"Dia hanya bilang kalau dia tinggal di Seoul." jawab Sim Chung.


"Nomor teleponnya?" tanya tunawisma, tapi Sim Chung yang tidak mengerti diam saja kebingungan.

"Aigoo, dia tidak memberikan nomor kontak dan lari. Tapi kau tidak menyadari itu dan datang ke sini? Aigoo, kau harus melakukan penyelidikan." ucap si tunawisma.

"Apa itu?" tanya Sim Chung.

"Dia tidak pernah berbicara tempat tertentu sebelumnya? Tanpa sadar, dia pasti menjatuhkan petunjuk ke tempat yang sering dia kunjungi. Kau harus pergi ke tempat2 itu dan bermalam di sana." jawab si tunawisma.

"Gedung 63?" gumam Sim Chung.


Sim Chung pun pergi ke tempat itu naik bus menggunakan uang yang diberikan anak kecil tadi, namun uangnya tak cukup. Supir bis yang merasa kasihan akhirnya membiarkan Sim Chung naik. Di bus, Sim Chung terkagum2 melihat keindahan malam Kota Seoul. Ia bahkan membuka kaca jendela dan merasakan angin dingin yang menerpa wajahnya.


Di teras rumahnya, Joon Jae sedang menatap gelang giok Sim Chung.


Sim Chung pergi ke sea world. Dia pun menarik napas lega melihat ikan2 kecil yang ada di dalam akuarium besar. Sim Chung berkata, bahwa ia pikir ia akan mati kelaparan. Sim Chung pun memutuskan berenang di sana.


Sementara itu, Shi A menyuruh Yoo Ran membuatkan sup rumput laut karena temannya berulang tahun. Yoo Ran berkata bahwa anaknya juga berulang tahun hari itu. Shi A lalu bertanya apa yang dimasukkan Yoo Ran ke dalam sup. Yoo Ran berkata bahwa ia memasukkan bulu babi karena anaknya menyukai itu.


Tak lama kemudian, Jin Joo datang. Ia menebak bahwa Shi A akan memberikan sup itu pada pria yang Shi A taksir. Shi A sembari menahan kesal menyuruh Yoo Ran memasukkan sup itu ke dalam termos, lalu beranjak pergi. Tapi Jin Joo terus saja menggoda Shi A.

"Agasshi, daripada membawakannya makanan lebih baik kau menyuntik botoks. Aku mengatakan kau harus lebih mencintai dirimu sendiri." ucap Jin Joo.

"Kelompok belajar yang kuajari, ada anak yang berulang tahun. Jadi aku mau memberikan sup itu padanya. Siapa yang merayu seorang pria dengan makanan? Kekanak2an sekali." sangkal Shi A.


Shi A memberikan sup itu pada Joon Jae. Joon Jae bertanya darimana Shi A tahu alamatnya. Shi A berkata ia mengetahuinya dari Nam Doo. Joon Jae pun mengumpat kesal. Joon Jae kemudian mencicipi sup ramput laut yang dibawa Shi A. Ia pun terkejut mengetahui rasanya. Rasanya sama persis dengan sup buatan ibunya. Shi A mengaku kalau sup itu buatannya. Ingatan Joon Jae pun langsung melayang ke masa lalu.


Flashback...

"Ibu, kita akan pergi ke sana hari ini, kan?" tanya Joon Jae kecil.

Saat itu adalah hari ulang tahunnya. Ia sedang menikmati sup rumput laut bersama ayah dan ibunya.

"Ayahmu sibuk lagi hari ini jadi kita hanya akan pergi berdua." jawab sang ibu.

"Kemana kalian akan pergi?" tanya sang ayah.

"Itu rahasia." jawab Joon Jae.

Flashback end...


Tak lama kemudian, Nam Doo datang dan mengajak Joon Jae pergi untuk merayakan hari ulang tahun. Shi A berkata ada bar yang bagus di daerah Gyeongridan-gil. Ia mengajak Joon Jae ke sana, namun Joon Jae menolak dan mengaku sudah ada janji. Shi A langsung kecewa. Setelah Joon Jae pergi, Nam Doo pun berkata kalau Joon Jae tidak akan jatuh hati semudah itu karena sup itu.

"Apa dia sudah punya pacar?" tanya Shi A curiga.

"Sulit baginya untuk memiliki pacar berdasarkan struktur otaknya. Dia tidak bisa memutuskan atau tetap fokus. Dia akan membiarkan setiap wanita melewati batas itu tapi tidak pernah ada wanita yang melewati batas itu." jawab Nam Doo.


Nam Doo lalu bertanya apa benar Shi A yang memasak sup itu. Barulah Shi A mengaku kalau sup itu buatan pembantunya.


Di halaman belakang, Yoo Ran sedang melihat fotonya bersama dengan Joon Jae kecil. Ingatannya pun terbang ke masa lalu, saat ia dan Joon Jae pergi ke sea world.


Joon Jae pergi ke sea world, tempat yang dulu sering dia kunjungi bersama sang ibu. Matanya tampak berkaca2 saat ia mengenang masa kecilnya ketika datang ke tempat itu bersama sang ibu.


Sim Chung masih berenang di akuarium besar itu. Para pengunjung mengira Sim Chung adalah putri duyung yang akan melakukan atraksi di dalam kolam. Seorang gadis kecil terkejut saat melihat Sim Chung memakan ikan2 kecil. Ibu gadis kecil itu pun meyakinkan si gadis kecil kalau putri duyung berteman dengan semua ikan2 kecil itu.


Para staff sendiri mengira bahwa penyelam mereka sudah turun 30 menit sebelum pertunjukan dimulai. Mereka lantas terkejut saat melihat penyelam yang sesungguhnya datang dengan kostum duyung. Mereka pun mulai bertanya2 siapa yang ada di bawah.


Para pengunjung mulai memotret Sim Chung. Ketika itulah, Sim Chung melihat Joon Jae yang berjalan diluar kolam. Sim Chung segera mengikuti jejak langkah Joon Jae, bahkan mengetuk dinding kaca untuk menarik perhatian Joon Jae.


Joon Jae akhirnya melihat Sim Chung. Namun sayang sekali, ia tak mengenalnya dan beranjak pergi begitu saja.


Para staff masih meributkan siapa yang terjun ke kolam. Tak lama kemudian, Sim Chung keluar dan dia langsung dicecar pertanyaan para staff.


Joon Jae baru mendapat kiriman foto dirinya bersama Sim Chung di Spanyol dari Nam Doo. Nam Doo mendapatkannya dari Thomas, teman Joon Jae. Joon Jae terkejut melihat foto itu dan langsung pergi mencari Sim Chung.


Si penyelam wanita ingin Sim Chung ditangkap. Ia yakin, Sim Chung adalah mata2 perusahaan lain. Salah satu staff mau menangkap Sim Chung, namun ia terlempar ke kolam saat menyentuh Sim Chung. Sim Chung langsung meminta maaf dan lari.


Joon Jae masih mencari2 Sim Chung. Sim Chung terus berlari dari kejaran para staff hingga akhirnya ia bertemu Joon Jae. Sim Chung berkaca2 menatap Joon Jae.


Kita lalu diperlihatkan flashback, setelah Sim Chung menyelamatkan Joon Jae yang tenggelam. Sim Chung minta maaf karena Joon Jae mungkin tidak akan bisa mengingatnya. Sim Chung juga yang memakaikan gelang gioknya ke tangan Joon Jae.


"Kau mungkin tidak akan mengingatku. Tetap saja... aku akan menetapi janjiku. Aku akan menemuimu. Meskipun aku harus melalui hujan badai, meskipun matahari dapat membakar kulitku... meski aku kesepian dan tak seorang pun di sisiku, dan bahkan jika aku ada di tempat asing... aku akan menahannya dan kupastikan aku akan menemuimu. Aku mencintaimu." ucap Sim Chung.


Sim Chung menangis... dan perlahan2, Sim Chung mulai meninggalkan Joon Jae.


Tepat setelah Sim Chung pergi, Joon Jae tersadar dan terkejut mendapati dirinya berada di pinggir pantai. Sebuah mutiara terlihat di sebelah Joon Jae, sebagai penanda ingatan Joon Jae akan Sim Chung sudah terhapus.

Bersambung................

No comments:

Post a Comment