Friday, January 6, 2017

I Have a Lover Ep 42 Part 1

Sebelumnya...

Di episode sebelumnya, Tae Seok memberitahu Hae Gang bahwa Jaksa Kim adalah anak dari Sopir Kim, sopir pribadinya Presdir Choi. Jaksa Kim tidak akan bisa menyentuh Presdir Choi, karena Jaksa Kim adalah penerima beasiswa yang diberikan Presdir Choi. Tae Seok juga berkata, bukti yang diserahkan Hae Gang pada Jaksa Kim tidak berguna, Presdir Choi akan lolos dan kesalahan akan dilimpahkan pada Hae Gang. Hae Gang berkata, yang bisa menyelamatkannya adalah kartu yang dimiliki Tae Seok. Tae Seok memberitahu Hae Gang bahwa kartunya berupa daftar suap yang dilakukan oleh Presdir Choi, dan nama Jaksa Kim termasuk di dalamnya. Tae Seok kemudian menyuruh Hae Gang menghentikan Jin Eon. Apakah Hae Gang akan membantu Tae Seok??

~~~Episode 42~~~


Jin Eon terkejut melihat Hae Gang keluar dari ruangan Tae Seok. Jin Eon penasaran, ia ingin tahu alasan Hae Gang menemui Tae Seok. Tapi ia pun langsung tersadar, dan tak jadi mencari tahu alasan Hae Gang menemui Tae Seok. Jin Eon lantas menyuruh Hae Gang hati2 dalam menyetir karena jalanan yang sangat licin. Jin Eon beranjak pergi. Hae Gang terdiam sejenak, sebelum akhirnya ia menyusul Jin Eon ke lift.

“Ayo bicara. Tidak di sini, tapi di tempat yang sepi.” Ajak Hae Gang.

“Kita bicara di ruanganku.” Jawab Jin Eon.


Mereka segera pergi ke ruangan Jin Eon. Setibanya di sana, Jin Eon langsung dikejutkan dengan permintaan Hae Gang untuk membatalkan pemecatan Tae Seok. Jin Eon ingin tahu alasannya. Hae Gang beralasan kalau dia masih membutuhkan Tae Seok untuk saat ini.

“Karena itulah aku tanya alasannya. Apakah berhubungan dengan ayahku?” tanya Jin Eon.

“Itu benar, kau mungkin sudah menduganya, tapi ayahmu dan aku sedang berperang. Yang satu telah kadaluarsa tapi yang satunya lagi bisa membuat ayahmu membayar dosa2nya.” Jawab Hae Gang.

“Seseorang yang bertarung dengan iblis akan memegang tangan iblis lainnya? Untuk menangkap pembunuh ayahmu, kau akan berpegangan tangan dengan pembunuh tunangan adikmu?” tanya Jin Eon.

“Karena untuk memenangkan peperangan aku harus tetap hidup. Aku tidak mengatakan akan menutup mata selamanya, ini hanya sementara. Ada banyak cara untuk menangkap Min Tae Seok, tapi ayahmu… hanya ini satu2nya jalan. Bahkan setelah melakukan banyak dosa, dia bersikap seperti orang suci, bukannya pendosa. Dia memperhitungkan kebaikan dan keburukan, membuang kebaikan lalu mengatakan dia melakukannya sendiri. Dia tidak pernah berpikir untuk melakukan kesalahan yang dibuatnya. Tolong batalkan rapat pemegang saham. Dengan kata lain, saat sidang kedua selesai, dia akan diselidiki. Dia akan ditangkap.” Jawab Hae Gang.


“Aku tidak bisa membatalkannya, Wakil Presdir Do. Untuk alasan yang sama denganmu, aku tidak bisa membiarkan dia menjadi Presdir Cheon Nyeon Farmasi. Sebelum diselidiki, aku akan membuat dia turun dari jabatannya.” Ucap Jin Eon.

“Aku sudah bilang jangan ikut campur! Aku sudah melarangmu menginjakkan kaki di kubangan berlumpur ini. Itu adalah Kakak Iparmu, Ayahmu! Bagaimana kau akan menjalani hidup ke depannya? Aku akan melakukannya, aku bilang aku yang akan melakukannya, kumohon!” jawab Hae Gang.

“Aku hidup dengan baik sekarang dan akan terus hidup dengan baik. Jadi jangan cemas.” Ucap Jin Eon.


Jin Eon lalu beranjak pergi, namun Hae Gang membuat langkahnya berhenti dengan kata2nya.

“Aku dengar kau berkata pada ayahmu kalau kau akan mati! Apa maksudnya? Apa yang kau pikirkan sampai kau mengatakan hal aneh seperti itu?” ucap Hae Gang.

“Meskipun aku ingin mati, tapi aku tidak bisa melakukannya jadi kau tidak perlu cemas. Meski aku merasa begitu, aku menahannya dan berusaha yang terbaik untuk tetap hidup. Kau tidak perlu mengkhawatirkan aku. Ibuku sakit dan juga…” Jin Eon menghentikan kata2nya.

Hae Gang tampak putus asa. Ia tak tahu lagi harus bagaimana.


“Aku tahu sulit bagimu memohon padaku, tapi maaf, aku tidak bisa melakukannya.” Ucap Jin Eon.

“Sudah terlalu banyak yang aku minta padamu dari awal. Tidak apa2, aku akan mengurus semuanya.” jawab Hae Gang.


Di ruangannya yang gelap, Tae Seok menyendiri sambil minum2. Tak lama kemudian, ia menghubungi Gyu Seok. Gyu Seok saat itu tengah duduk di depan layar laptopnya. Dan Woo Joo, dia asyik bermain dengan stiker2nya. Gyu Seok berkata kalau dia sedang menulis email untuk ke pusat perawatan penyakit yang tidak dapat disembuhkan di Yale.

Gyu Seok terkejut, Amerika? Kau mau kembali ke sana?

“Bukan aku, tapi Yong Gi dan Woo Joo.” Jawab Gyu Seok.

“Mereka tidak akan dirawat olehmu, tapi akan pergi ke Amerika?” tanya Tae Seok.

“Benar.” jawab Gyu Seok.

“Bagus sekali, itu bagus! Aku merasa lega seperti gigiku yang sakit baru saja dicabut.” Ucap Tae Seok senang.

“Meski begitu tetap saja terasa sakit walau telah dicabut.” Gumam Gyu Seok.

“Kau bilang apa, aku tidak bisa dengar.” Ucap Tae Seok.

“Katakan saja kenapa kau menelpon?” tanya Gyu Seok.


“Aku tidak ingat.” Jawab Tae Seok.

“Apanya?” tanya Gyu Seok.

“Terakhir kali aku merasa bahagia.” Jawab Tae Seok.

“Artinya bukan hanya saat ini saja.” Ucap Gyu Seok.

“Lalu kau?” tanya Tae Seok.

“Aku? Sekarang.” jawab Gyu Seok.

“Sekarang? Karena bicara denganku?” tanya Tae Seok.

“Pikirkanlah sesukamu.” Jawab Gyu Seok.

“Maaf.” Ucap Tae Seok.

“Untuk apa?” tanya Gyu Seok.

“Karena aku kakakmu.” Jawab Tae Seok.


“Dulu, saat aku makan kue ikan kau bilang aku menggigit bagian sampingnya sedikit seperti kau, melihat itu membuatmu bahagia. Aku tidak bisa melupakan senyum di wajah itu. Itu adalah ekspresi yang bahkan membuatku bahagia. Bahwa kau adalah orang yang seperti itu, aku harap sering mengingatnya. Lupakan berusaha melakukan sesuatu untuk menggantikan ayah, kenapa kau harus menjalani kehidupan ayah? Aku harap kau menjalani hidupmu sendiri. Ayah juga pasti tidak menginginkan itu. Aku bahkan tidak tahu bagaimana wajah ayah. Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi aku tahu itu pastinya.” Ucap Gyu Seok.

Air mata Tae Seok pun menyeruak keluar…

“Kenapa hari ini kau banyak bicara? Akan kututup teleponnya.” Jawab Tae Seok.


Jin Eon dan Hae Gang sama2 menunggu di lift. Begitu lift terbuka, Hae Gang masuk duluan dan Jin Eon tidak mau se-lift dengan Hae Gang. Ia menyuruh Hae Gang turun duluan. Hae Gang setuju. Pintu lift kemudian tertutup.

“Salju terakhirmu, kau tahu itu adalah milikku, benarkan? Jangan lupakan kau pernah mengatakan akan melihat salju bersamaku. Hari itu dingin, tapi saljunya hangat pada hari itu. Sepanjang hari, kau setuju bermain salju bersama-sama. Ingatlah itu Choi Jin Eon.” ucap Hae Gang.

Sementara Jin Eon, ia tampak tertegun di depan lift.


Di mobilnya, Hae Gang teringat kata2 Tae Seok tentang Jaksa Kim yang tidak akan bisa menyentuh Presdir Choi. Hae Gang pun langsung kesal, ia mengunci pintu mobilnya dengan kasar, kemudian melajukan mobilnya.

Sementara itu, Jin Eon masih terpaku di depan lift. Tak lama kemudian, Tae Seok datang.


“Jadi apa sekarang? Apakah aku harus pulang dan menyiapkan konferensi pers, Adik Ipar?” tanya Tae Seok.

‘Tidak, kau tidak perlu melakukannya.” Jawab Jin Eon.

“Benarkah? Aku tahu itu Kau tidak bisa menolak permintaan Wakil Presdir Do Hae Gang.” ucap Tae Seok.

“Aku yang akan menyiapkan rencana konferensi persnya. Mari kita diskusikan waktu dan tempatnya, Kakak Ipar.” Jawab Jin Eon.

“Apa? Kau melakukannya?” kaget Tae Seok.

Jin Eon : Iya

“Kau adalah anak ayahmu, garis darah tidak bisa menipu.” Sindir Tae Seok.


Mendengar itu, Jin Eon emosi. Ia langsung menekan leher Tae Seok dan menyudutkan Tae Seok ke dinding.

“Jangan mengatakan seolah-olah kau memotong hidungmu karena jengkel pada wajahmu, Kakak Ipar Pikirkan tentang anak-anakmu, lalu bukalah mulutmu. Kalau kau tidak mau membuat Hyoek dan Ji Woo menjadi seperti aku, serahkan dirimu secepat mungkin.” ucap Jin Eon.

“Aku tidak bisa bernafas! Lepaskan! Lepaskan!” Tae Seok meronta2.


Jin Eon pun melepaskan Tae Seok. Mereka kemudian masuk lift bersama.

“Karena ayah lolos dan membuat Wakil Presdir Do yang mengambil semua kesalahan, dia berencana untuk menyelesaikan kasus farmasi Mido. Kau akan menutup matamu, kau lebih memilih ayahmu ketimbang mantan isterimu, benarkan?” ucap Tae Seok.

“Apa yang kau bicarakan?” tanya Jin Eon.

“Wakil Presdir Do tidak memberitahumu? Kalau begitu apa yang kalian berdua bicarakan selama ini?” jawab Tae Seok.

“Mereka berdua tengah diselidiki oleh jaksa dan Hae Gang memiliki bukti kuat keterlibatan ayahku. Tapi apa yang kau bicarakan?” ucap Jin Eon.

“Jaksa yang bertugas adalah anaknya Supir Kim.” Jawab Tae Seok.


Jin Eon terkejut, Apa?

“Mereka berdua sedang membuat peti mati untuk Wakil Presdir Do. Dalam beberapa hari, dia akan ditahan untuk penyelidikan. Dia harus disingkirkan supaya Wakil Presdir Do Hae Gang bisa melemparnya ke Ayah Mertua. Aku punya pelampung yang bisa menyelamatkan wakil presdir Do, Adik Ipar. Jadi, mari kita lupakan tentang permohonan pemecatan. Aku akan menyelamatkan Wakil Presdir Do dan kau akan menyelamatkan aku.” ucap Tae Seok, membuat Jin Eon tak berkutik.


Yong Gi menghampiri Woo Joo yang tiduran di kasur Gyu Seok. Woo Joo bilang kalau ia mengantuk. Yong Gi pun menyuruh Woo Joo tidur di bawah, ia tak suka Woo Joo berbaring di kamar Gyu Seok disaat Gyu Seok tidak ada.

“Karena aku menyukai tempat tidur Profesor. Ibu juga cobalah berbaring. Kantuk akan datang menghampiri.” Jawab Woo Joo.

“Setelah kau datang ke Korea, kau belajar banyak Bahasa Korea.” Ucap Yong Gi sambil menggelitiki Woo Joo.


Woo Joo kemudian memeluk Yong Gi, Ibu tahu… Aku sangat, sangat, sangat menyukai ibu…

“Kalau begitu tidak apa-apa kalau hanya ada kita berdua? Kau dan ibu akan naik pesawat dan terbang ke Amerika. Tapi nenek dan profesor tidak akan ada di sana, hanya ada kita berdua, apa tidak apa-apa?” tanya Yong Gi.

“Seperti waktu di Cina?” tanya Woo Joo dengan wajah sedih.

“Seperti waktu kita di Cina.” Jawab Yong Gi.

“Kalau begitu, mereka bisa ikut dengan kita ke Amerika. Dengan nenek dan profesor, bersama-sama.” Ucap Woo Joo.

“Kalau nenek pergi, bibimu akan merasa sedih. Kalau profesor pergi, maka kakaknya professor dan pasiennya akan merasa sedih. Kita tidak boleh membuat orang lain sedih supaya kita bahagia. Benarkan?” jawab Yong Gi.


Tapi Woo Joo tetap saja sedih. Yong Gi lantas meletakkan tangan Woo Joo di dada Woo Joo.

“Ini adalah hatimu, kalau kita menaruh nenek, bibimu dan profesor di sini dan pergi ke Amerika, kapanpun kau merindukan mereka, kenanganmu akan membawa mereka kepadamu. Itu sebabnya disebut kenangan kasih sayang.” Ucap Yong Gi.

“Kenangan kasih sayang?” tanya Woo Joo.


Yong Gi pun mengangguk. Woo Joo berkaca2. Yong Gi pun mengelus pipi Woo Joo, kemudian memeluknya.


Presdir Choi yang sedang bersantap pagi bersama keluarganya (minus Jin Eon) bertanya, apa Tae Seok sudah menyiapkan semuanya dengan baik untuk menghadapi persidangan hari itu. Tae Seok pun menyuruh Presdir Choi menanyakannya pada Hae Gang. Seketika ingatan Presdir Choi pun melayang pada kata2 Hae Gang.

“Kau adalah pembunuh dan pencuri yang licik. Bayarlah dosa-dosamu, Presdir Choi Man Ho!” ucap Hae Gang.


Presdir Choi pun menyuruh Tae Seok mencari pengacara lain pada sidang ketiga.

“Tidak banyak pengacara yang hebat seperti Pengacara Do, Ayah. Apa kau memiliki perasaan yang berat tentang pengacara Do? Aku dengar kau dan pengacara Do tengah diperiksa oleh jaksa.” Ucap Tae Seok.


“Apa? Diselidiki kejaksaan? Kenapa jaksa menyelidikimu? Bersama dengan Hae Gang juga? Karena apa?” tanya Nyonya Hong.
 
Tepat saat itu, Jin Eon turun ke bawah dan menatap lirih sang ayah.


“Mulai dari minggu lalu, karena gosip, harga saham dipasaran turun. Kita kehilangan beberapa milyar hanya dengan duduk di sini.” Jawab Jin Ri.

“Itukah sebabnya harga saham menurun? Bagaimana mereka menemukan informasi seperti itu?” tanya Nyonya Hong heran.


“Itu karena Farmasi Mido, benarkan?” tanya Tae Seok.

“Apa? Farmasi Mido? Itu sebabnya Hae Gang... Apakah Jin Eon juga mengetahuinya?” tanya Nyonya Hong.

“Aku tidak tahu apakah dia tahu atau tidak.” Jawab Presdir Choi.

“Apa yang dikatakan jaksa?” tanya Presdir Choi pada Tae Seok.


“Kalau ini tidak berasal dari atas, dan jaksa sendiri yang menyelidikinya, kau bisa dengan mudah menutupinya.” Jawab Tae Seok.

“Aku harus menutupinya. Aku harus berusaha menutupinya.” Ucap Presdir Choi.

“Tapi kenapa kau mengatakan untuk mengganti pengacara pada persidangan ketiga? Apakah ada perubahan pada sisi Wakil Presdir Do? Kenapa? Apakah jaksa mengatakan bahwa salah satu dari kalian harus pergi?” tanya Tae Seok.

Nyonya Hong kaget, Apa? Pergi?

“Itu sebabnya kau membuat Wakil Presdir Do yang bertanggung jawab?” tanya Tae Seok.

“Aku akan mengurus urusanku sendiri. Kau urus saja persidangannya. Di Farmasi Cheon Nyeon yang didirikan oleh Choi Man Ho, obat dengan efek samping itu tidak pernah ada Kalau terjadi kesalahan pada persidangan ini, kau harus bertanggung jawab.” Jawab Presdir Choi.

“Itu tidak akan terjadi. Karena Pudoxin yang aku buat tidak ada efek sampingnya.” Ucap Tae Seok.


Mendengar itu, Jin Eon pun murka. Ia beranjak mendekati ayahnya.

“Apa kalian membandingkan siapa yang lebih buruk? Bagiku, kalian berdua sama saja. Memanipulasi kenyatan, menutupi kebenaran dan membunuh. Dan kemudian, aku tidak melakukannya, aku tidak ingat, jadi aku tidak melakukannya. Tidak ada bukti, jadi aku tidak melakukannya. Meskipun kebenaran di gunung hanya diketahui oleh ayah, masalah Farmasi Mido diketahui banyak orang. Bagaimanapun kau mengatakan bahwa tidak ada efek samping, kenyataannya ada orang yang sakit, ada orang yang mati. Jika kalian sampai akhir tidak mengakuinya, aku harus memaksa kalian mengakuinya.” Ucap Jin Eon.

“Apa yang kau katakan?” seru Presdir Choi.


“Aku akan melupakan permohonan pemecatan, pakailah pelampung.” Ucap Jin Eon pada Tae Seok.

Tae Seok pun tersenyum penuh kemenangan…


Nyonya Hong datang berkunjung ke rumah Nyonya Hong. Ia membawakan beberapa hadiah untuk Nyonya Kim.

“Apa hubungan kita sampai bertukar hadiah?” tanya Nyonya Kim.

“Aku berharap bisa bertukar hadiah, tapi tidak bisa. Tapi aku harus memberikannya kepadamu. Meskipun itu tidak cukup, kalau aku tidak memberikannya padamu...” kata2 Nyonya Hong terputus.

“Apa kau terkena penyakit? Apa kau akan mati? Kenapa tiba-tiba kau seperti ini?” tanya Nyonya Kim.

“Meskipun aku tidak akan mati karenanya, itu sesuatu yang membuatku ingin mati.” Jawab Nyonya Hong.

“Minumlah tehmu dan pergi.” Ucap Nyonya Kim.

“Aku menderita alzheimer, Gyu Nam.


Nyonya Kim terkejut, Apa?!


“Beberapa hari yang lalu, aku menumpahkan jus di bajuku. Aku tidak bisa mengingat, aku bersama siapa saat itu atau dimana kejadiannya. Yang luar biasa adalah aku ingat saat kita SMA, aku ingat dengan jelas tanpa melupakannya. Kenapa begitu? Kemana masa emas itu dalam hidupku? Aku meminum obatku dan berbaring dan aku ingat bermain sepatu roda bersamamu dan itu membuatku menangis. Aku juga ingat musiknya. Aku ingat kau sangat cantik saat bermain sepatu roda di sana. Kenapa itu membuatku menangis?” ucap Nyonya Hong.

“Apakah keluargamu tahu?” tanya Nyonya Kim.
 
“Tapi mereka berpura-pura tidak tahu, supaya tidak menyakiti harga diriku. Kau tahu, aku bisa seperti ini dan tiba-tiba menghilang. Jangan terkejut dan jangan bersedih. Karena aku tidak bisa mengingatnya, tidak apa-apa. Aku akan menganggap itu sebagai hukuman. Bahwa aku sedang dihukum. Bahwa Jin Eon sedang dihukum.” Jawab Nyonya Hong.


“Kau akan dihukum karena siapa? Bahkan Jin Eon?” tanya Nyonya Kim bingung. Dan Nyonya Hong terdiam saat mendengar pertanyaan itu.


Hae Gang sedang berkomunikasi dengan Seok lewat telepon. Hae Gang berkata, permainan akan berubah selama Seok memiliki catatan Kim Sun Yong.

“Yeah, dari tuntutan Pudoxin menjadi tuntutan Min Tae Seok.” jawab Seok.

“Meski begitu, kasus Pudoxin sulit, tindakan dan tujuan Min Tae Seok yang tertulis di catatan ini dengan jelas mengungkapkan efek samping Pudoxin.” Ucap Hae Gang.

“Haruskah aku mempertanyakan kematian Kim Sun Yong? Kalau aku menyatakan kemungkinan pembunuhan daripada bunuh diri.” Tanya Seok.

“Aku akan menyangkal dengan kuat bahwa itu tidak berhubungan dengan kasus ini.” jawab Hae Gang.

“Kemudian hakim, untuk memproses kasus itu, mungkin akan menghentikan kita dengan mengatakan untuk menyerahkan kasus itu kepada jaksa.” Ucap Seok.

Seol Ri yang tampak membantu Seok memakai dasi, diam saja mendengarkan pembicaraan Seok dan Hae Gang.

“Mari kita lakukan yang terbaik.” Ucap Hae Gang.

“Tentu saja, ini adalah persidangan pertama dimana Pengacara Do Hae Gang akan kalah.” Jawab Seok.

“Ini juga akan menjadi persidangan terakhirku sebagai pengacara.” Ucap Hae Gang sedih.

“Apakah pengacara yang baru baik-baik saja? Aku khawatir apa yang akan terjadi padanya supaya dia tidak bisa hadir dipersidangan.” Ucap Hae Gang lagi.

“Dia memiliki sabuk hitam dalam Tae Kwon Do, jangan khawatirkan dia. Akan kelihatan jelas sekali kalau itu perbuatannya, dia tidak akan melakukan hal yang sama.” Jawab Seok.


Seol Ri melihat bukti yang bisa memberatkan Seok, yaitu sertifikat kematian Kim Sun Yong dan foto2 truk container yang menabrak mobil Yong Gi yang dikemudikan Hae Gang. Seol Ri berkata, kalau bukti2 itu harus dimasukkan sebelum persidangan dimulai.

“Hakim dan kedua belah pengacara melihatnya sebelum memasuki persidangan, benarkan?” tanya Seol Ri.

“Kenapa kau menanyakan itu?” tanya Seok.

“Tidak, tidak ada apa-apa.” Jawab Seol Ri.

“Sepertinya tidak begitu.” ucap Seok.

“Pakai saja mantelmu.” Jawab Seol Ri, lalu memakaikan mantel itu ke tubuh sang kakak.


Seorang pria yang baru saja keluar dari kantornya, tiba2 saja dilempari kue oleh seorang wanita. Pria itu pun meringis kesakitan karena matanya yang perih, dan kembali masuk ke dalam kantornya. Tanpa ia sadari, wanita itu tengah bersembunyi mengawasi dirinya. Wanita itu Jin Ri. Sudah bisa ditebak, jika pria itu adalah pengacara baru yang akan menggantikan tugas Seok di persidangan.


Hae Gang tiba2 lebih awal di ruang persidangan. Hmm… sepertinya dia memang sengaja datang lebih awal. Hae Gang mengedarkan pandangannya, menatap setiap sudut ruang sidang dengan tatapan sedih. Tak lama kemudian, Presdir Choi datang mengejutkannya.

“Presdir dan aku akan segera berhadapan di pengadilan.” ucap Hae Gang.

“Berada di sana tidaklah penting. Yang terpenting dimana kau berada. Tidak ada yang berubah bagiku, tapi aku berpikir semua akan berubah untukmu.” Jawab Presdir Choi.

“Kau berbicara dengan nyaman seolah-olah kau adalah jaksa yang berwenang.” Sindir Hae Gang.

“Kasus yang menjadi perhatian memang seperti itu. Terlalu membebani untuk memasukkan Presdir ke penjara karena semua orang melihatnya, jadi mereka harus memasukkan seseorang kesana. Bisanya, mereka ingin menyelesaikannya pada levelmu.” Jawab Presdir Choi.

“Ada banyak jaksa yang tegas.” Ucap Hae Gang.

“Aku rasa Jaksa Kim sepertinya tidaklah tegas.” Jawab Presdir Choi.

“Lebih mudah berurusan dengan jaksa yang kelihatan bingung ingin mendaki posisi yang lebih tinggi.” Ucap Hae Gang.

“Aku harap kau ingat ini, kau tidak berurusan dengan jaksa, tapi berurusan denganku.” Jawab Presdir Choi.

“Ya, aku pasti akan mengingatnya.” Ucap Hae Gang.


Satu per satu orang2 mulai memasuki ruang sidang. Tae Seok tampak berbicara dengan seseorang, sepertinya Jin Ri.. Ia kesal karena Jin Ri melakukan sesuatu yang tak dimintanya. Tak lama kemudian, ia dikejutkan dengan kehadiran Seok di ruang sidang.


“Aku pikir kau dipecat, kenapa kau ada di sini?” tanya Tae Seok.

“Aku bisa mendengarnya dengan bebas kan?” ucap Seok.

“Kau datang untuk melihat?” tanya Tae Seok.

“Karena aku khawatir. Apakah pengacara yang baru akan dipukul dengan tongkat baseball dan tidak bisa datang kesini, aku khawatir.” Jawab Seok.

Tae Seok terdiam. Seol Ri lalu mengajak Seok duduk.


Sementara itu, Jin Ri tampak berusaha menghalangi pengacara itu. Disaat pengacara itu sudah masuk ke mobil dan bersiap pergi ke persidangan, Jin Ri tiba2 menerobos masuk ke mobil dan meminta diantarkan ke rumah sakit karena akan melahirkan. Si pengacara pun mau tak mau pergi mengantar Jin Ri ke rumah sakit.


Di ruang sidang, Seok, Seol Ri, Hae Gang dan kerabat Moon Tae Joon mulai cemas. Sementara Presdir Choi dan Tae Seok terlihat senang. Saat hakim memutuskan melanjutkan persidangan tanpa kehadiran pengacara penggugat, tiba2 Seok berseru kalau pengacaranya sudah datang.


“Yang mulia, penggugat memecat pengacara Park Seung Won dan kembali mengangkat pengacara Baek Seok.” Ucap kerabat Moon Tae Joon.

Seok pun terhenyak!!


“Yang Mulia, aku mengerti pengacara Baek Seok sudah mengundurkan diri.” Ucap Hae Gang.

“Aku minta maaf, meski semuanya tiba-tiba menjadi seperti ini, seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja dan pengacaranya belum datang, jadi aku setidaknya akan mewakili penggugat.” Jawab Seok.

“Aku tidak menyetujui ini.” ucap Hae Gang.


Tapi hakim menyetujui permohonan Seok. Tae Seok kembali terhenyak. Sementara Hae Gang dan Seok saling melirik…
 
Jin Ri sudah tiba2 di rumah sakit diantar pengacara itu. Ia masih pura2 mau melahirkan. Saat pria itu lagi bicara dengan resepsionis, Jin Ri kabur.


Rekaman pengakuan Kim Sun Yong diputar di pengadilan!!
 
“Aku adalah peneliti dari tim pengembangan obat baru di Farmasi Cheon Nyeon. Tahun 2007, Farmasi Cheon Nyeon pertama kali mengembangkan Pudoxin, obat untuk radang lambung dengan 100% menggunakan tekhnologi kami sendiri. Akan tetapi, pada hasil tes klinis Pudoxin, menunjukkan kemungkinan besar adanya kerapuhan tulang apabila dikonsumsi dalam jangka waktu lama.” Ucap Kim Sun Yong.

Setelah rekaman itu selesai diputar, Seok dan Hae Gang pun mulai ‘bertarung’.


“Peneliti Kim Sun Yong adalah pembuka rahasia perusahaan yang mengungkapkan efek samping Pudoxin.” Ucap Seok.


“Itu terjadi setelah dia menggelapkan dana 600 juta dari perusahaan dan kalah dalam judi internet. Dia melakukan balas dendam pada perusahaan yang memecatnya dengan tidak adil. Sebagai peneliti yang tahu lebih baik dari siapapun bahwa efek samping sulit dibuktikan, dia dengan mudahnya melaporkan tentang efek samping. Karena itu sulit untuk dibuktikan, tapi sangat mengguncang kekuasaan.” Jawab Hae Gang.


Di luar pengadilan, Jin Eon masuk ke mobil ayahnya. Supir Kim yang sedang menunggu Presdir Choi di mobil pun terkejut. Ia ingin tahu apa yang akan dilakukan Jin Eon selanjutnya.

“Aku tidak bisa tidur sekejap pun tadi malam, tapi tiba-tiba aku menjadi sangat ngantuk. Aku akan pergi setelah tidur siang, jadi jangan ganggu aku.” ucap Jin Eon, lalu memejamkan matanya.

“Aku tidak tahu apapun, dan tidak ada lagi yang ingin kukatakan. Dia sering datang ke gunung, jadi kami menjadi dekat. Itu benar.” ucap Supir Kim.

“Ya, aku mengerti. Aku tidak akan bertanya apapun lagi tentang itu.” jawab Jin Eon.

Supir Kim heran, Apa?

“Bukan karena ayahku, tapi karena anakmu, benarkan? Karena pergelangan kaki anakmu mungkin akan tertangkap karena dirimu, Supir Kim. Itu sebabnya kau terus menutup mulutmu.” Jawab Jin Eon.

Supir Kim terkejut, tapi ia masih berpura2 tidak tahu apa2.

“Anakmu tidak tahu kan? Bahwa ayahnya yang membawa Zolpidem ke rumah peneliti Farmasi Mido. Seorang anak tidak bisa menyelidiki ayahnya secara adil dan benar. Kita harus memasukkan permohonan penggantian jaksa yang berwenang pada kasus itu. Kalau aku melakukannya, aku akan menghalangi masa depan anakmu. Kau harus mengakuinya sendiri, supaya jaksa Kim Sun Ho akan melepaskan kasus ini secara diam-diam. Karena jaksa yang berbeda bisa memimpin penyelidikan.” Ucap Jin Eon lagi.

Supir Kim pun terhenyak.


Catatan Kim Sun Yong dipertunjukkan di pengadilan. Seok berkata, bahwa sangat penting mengungkapkan kematian Kim Sun Yong karena bunuh diri atau dibunuh, karena itu bisa memutuskan apakah hasil tes klinis Pudoxin dipalsukan atau tidak. Lebih lanjut, Seok berkata bahwa Kepala Direktur Min dari Farmasi Cheon Nyeon mengakui kehilangan data.

“Dia juga menawarkan padanya 1 juta won dan jabatan direktur. Pada tanggal 17 Januari, peneliti Kim Sun Yong yang menolak tawarannya, dan dipecat dari Farmasi Cheon Nyeon. Dan satu bulan kemudian, dia meninggal dan mendadak menghilang dari dunia ini.” ucap Seok.


Hae Gang tersenyum puas mendengar penuturan Seok.


“Yang Mulia, apakah catatan itu milik Mendiang Kim Sun Yong, belum ada yang memastikannya. Tolong keluarkan catatan dari bukti penggugat dan lakukan analisis tulisan tangannya terlebih dahulu. Apakah bukti itu bisa dimasukkan atau tidak pada persidangan berikutnya, berikan penilaian sejujurnya.” Jawab Hae Gang.

Giliran Seok yang tersenyum mendengar penuturan Hae Gang.

“Tolong keluarkan catatannya.” Pinta Hakim.


Hae Gang pun berdiri, dan mulai mengkoreksi catatan Kim Sun Yong.

“Seperti yang terlihat, penyebab kematiannya adalah tertabrak kereta api.” Ucap Hae Gang.


“Lihatlah pada beberapa bagian, Yang Mulia. Jari lepas dan patah, dari kereta api yang berjalan dengan kecepatan 200 km. Tidak masuk akal luka seperti itu akan terjadi.” Pinta Seok.

Hae Gang kemudian menatap Seok.

“Pengacara penggugat mengabaikan catatannya dan hanya bersikap keras kepala. Catatan polisi yang telah diverifikasi oleh dokter menyatakan itu adalah bunuh diri. Pengacara mengabaikan penilaian para ahli, tapi apakah kecurigaan dan imajinasi pengacara masuk akal?” ucap Hae Gang.


Tiba2, Jin Eon membuka ruang pintu persidangan. Dan, perhatian Hae Gang pun langsung tertuju pada Jin Eon.
 
“Terutama sekali, ada jembatan diatas stasiun kereta api di Imjingang. Peneliti Kim Sun Yong bergantung di jembatan di atas rel kereta api tepat di atas stasiun kereta api. Dia dipukul oleh seseorang dan terjatuh. Saat itu, kereta api umum sedang berjalan. Pembunuhannya bisa disamarkan menjadi bunuh diri dengan memanfaatkan kesempatan itu.” ucap Seok.


Hae Gang lalu menatap hakim.

“Yang Mulia, kematian peneliti Kim Sun Yong tidak ada hubungannya dengan kasus efek samping Pudoxin. Ini membuat pengadilan ini benar-benar tergangguIni adalah pengadilan sipil, bukan pengadilan kejahatan yang mencari pembunuh. Tolong hentikan pengacara penggugat bermain detektif di sini.” Ucap Hae Gang.


“Mendiang adalah pembuka rahasia perusahaan yang merupakan orang yang pertama kali mengetahui efek samping Pudoxin Bagaimana mungkin kematian mendiang tidak ada hubungannya dengan kasus ini? Kau benar-benar berpikir seperti itu pada kasus ini?” jawab Seok.

Hae Gang pun kembali menatap Seok dengan penuh keyakinan.


“Kebenaran? Tolong lebih jujur lagi. Karena kau tidak percaya diri membuktikannya dengan hukum, kau dengan tidak masuk akal menggiring pengadilan ini sampai ke titik pembunuhan ataupun bunuh diri, benarkan?” ucap Hae Gang.

“Kasus ini adalah kasus kriminal seperti yang dikatakan pengacara tergugat. Kami akan menyerahkannya kepada kejaksaan, dan kita akan kembali ke masalah Pudoxin.” Jawab hakim.

Seok pun setuju. Seok lalu mengerlingkan matanya pada Hae Gang.


Sidang pun ditunda… di mobilnya, Presdir Choi kesal karena Hae Gang membuka jalan untuk mengungkapkan kebenaran yang terjadi Farmasi Cheon Nyeon. Ia pun berkata, bahwa Hae Gang adalah manusia yang tak tahu berterima kasih.

Hae Gang keheranan, ia takut terjadi sesuatu pada Pengacara Park yang harusnya menggantikan tugas Seok. Seok pun berkata, bahwa saat Pengacara Park bersiap menuju persidangan, seseorang memukul wajahnya dengan kue cokelat.

“Dia berganti pakaian dan terburu-buru pergi kesini, dan ada wanita hamil yang mengatakan bayinya akan segera keluar dan membawanya ke rumah sakit. Wanita hamil itu lalu menghilang. Dan dia dengan marah mencarinya. Dia melalui banyak kesulitan seperti kita.” jawab Seok.


Lalu tiba2, Tae Seok datang melabrak Hae Gang.

“Kau merencanakannya dari awal, benarkan? Memanfaatkan Pudoxin untuk menangkapku. Memanfaatkan Kim Sun Yong untuk menangkapku dan menyerahkannya kepada jaksa untuk diselidiki.” Ucap Tae Seok.

Hae Gang membenarkan.


“Dan kau memberikan catatan itu sejak dari awal.” Ucap Tae Seok.

Hae Gang lagi2 membenarkan.

“Untuk menipuku, kau menyuruh Moon Hyeon untuk memecat Baek Seok. Kau menyuruhku membayar uang damai kepada keluarga itu.” ucap Tae Seok.


Hae Gang kembali membenarkan.

“Ini melanggar kode etik pengacara.” Ucap Tae Seok.

“Lagipula ini adalah persidangan terakhirku.” Jawab Hae Gang.

Tae Seok marah, Apa kau bilang?!

“Saat penyelidikan dimulai, akui dosa-dosamu. Mintalah maaf pada adikku dengan berlutut sebelum kau masuk penjara.” Ucap Hae Gang.

“DO HAE GANG!!!” teriak Tae Seok.

“Supaya tidak berlanjut ke persidangan ketiga, akui pemalsuan hasil tes klinis. Apakah kau mengakuinya atau tidak, kau sudah berakhir. Setidaknya sampai kau berusaha, hiduplah seperti manusia sebelum masuk ke penjara. Karena kejahatanu sangat buruk, saat kau masuk penjara, kau tidak akan bisa keluar lagi.” Jawab Hae Gang.


Tae Seok murka,  ia mau menampar Hae Gang tapi Seok menghalanginya. Tae Seok yang sudah dikuasai emosi, mendorong Seok hingga bahu Seok membentur kursi.


Hae Gang pun marah, ia menampar Tae Seok. Tae Seok mau membalas, tapi tiba2 saja terdengar suaranya soal pemalsuan hasil tes klinis Pudoxin, kematian Kim Sun Yong. Tae Seok dan Hae Gang sama2 terkejut. Seol Ri dengan cool nya, masuk ke ruang sidang dan memperdengarkan rekaman itu.


“Sebelum Do Hae Gang mati, orang terakhir yang dia temui adalah Dokgo Yong Gi! Adik Ipar sedang mencari tahu tentang Pudoxin dan Do Hae Gang. Dia sedang menargetkan aku sekarang. Kalau dia tahu aku membunuh Do Hae Gang bukannya Dokgo Yong Gi…. Kalau Adik Ipar tahu… Kita tidak bisa membiarkan Moon Tae Joon dan Dokgo Yong Gi hidup, tidak akan pernah! Kalau kita membiarkan mereka hidup, maka aku yang akan mati, aku yang akan mati!” teriak Tae Seok.


Hae Gang pun langsung menatap geram Tae Seok. Tae Seok terhenyak.


“Seol Ri-ya.” ucap Seok.


“Aku mengirimkan rekaman ini ke email mu. Aku akan menghapus milikku. Do Hae Gang-ssi, lakukan sesukamu dengan orang ini.” ucap Seol Ri pada Hae Gang.


Tae Seok pun terhenyak menatap Hae Gang. Dan Hae Gang, dia menatap Seok dengan penuh kebencian.

No comments:

Post a Comment