Monday, January 9, 2017

I Have a Lover Ep 43 Part 1

Sebelumnya...


Hae Gang tergesa2 keluar dari ruangannya. Setibanya diluar, ia melihat Jin Eon yang sedang terburu2 pula ke arahnya. Melihat Jin Eon, Hae Gang langsung menyembunyikan ponselnya yang berisi rekaman pengakuan Tae Seok yang didapatkannya dari Seol Ri. Hae Gang terdiam  saat Jin Eon menyerahkan daftar nama2 jaksa padanya.


“Lindungi dirimu sendiri dari ayahku. Kebencianmu dan rasa maluku, sepertinya tidak bisa bersama. Kau sangat bagus di persidangan tadi. Kau luar biasa. Sayang sekali kalau kau berhenti menjadi pengacara. Aku ingin kau terus melakukannya, bersama dengan Si Cahaya.” Ucap Jin Eon.

Setelah mengatakan itu, Jin Eon pun pergi. Hae Gang membeku….



Tae Seok berlutut, memohon agar Presdir Choi menyelamatkannya. Ia berkata bahwa dirinya bodoh karena sudah mengkhianati Presdir Choi. Tae Seok terus memohon. Tapi Presdir Choi enggan menyelamatkannya. Ia berkata bahwa dirinya sudah punya masalah sendiri.

“Ada file rekaman, kau sudah mendengar bahwa persidangan Pudoxin adalah jebakan. Itu adalah jebakan yang direncanakan Do Hae Gang sejak awal. Dia kembali untuk balas dendam. Do Hae Gang membalaskan dendam adik dan ayahnya padamu dan aku sekarang ini. Kau pikir Wakil Presdir Do hanya akan memasukkan aku  saja ke penjara? Dia berusaha memenjarakan kita berdua dan mengambil farmasi Cheon Nyeon untuk dirinya sendiri, pikirkanlah. Tidak seperti kita, Do Hae Gang akan segera di bebaskan. Kau tidak punya saham perusahaan setelah kau memberikannya kepada Adik Ipar dan Do Hae Gang. Bagaimana kau akan menghentikannya tanpa aku? Cara apa yang akan kau gunakan untuk mencegahnya? Adik Ipar berada di pihak Do Hae Gang. Apa kau akan membiarkan Farmasi Cheon Nyeon jatuh ke tangan Do Hae Gang? Kau harus membuat Adik Ipar berada di pihak kita. Begitulah kita bisa mempertahankan kekuatan manajemen kita.” ucap Tae Seok.


Hae Gang mengancam Jaksa Kim dengan daftar para jaksa yang menerima suap. Ia meminta penyelidikan dilakukan secara terbuka.

“Kau akan menyakiti dirimu sendiri Wakil Presdir Do. Apa kau tahu orang seperti apa yang ada dalam daftar itu? Orang-orang seperti kita akan dihancurkan berkeping-keping.” Jawab Jaksa Kim.

“Presdir Choi tidak bisa mengungkapkannya kepada public. Kalau dia mengungkapkannya, hukumannya akan bertambah berat dan orang yang menerima hadiah akan berpaling darinya. Kalau pajaknya di audit, dia akan berada dalam masalah besar. Apa yang harus kita lakukan? Aku kenal banyak orang. Haruskah aku meminta penggantian jaksa yang berwenang pada kasus ini setelah aku bertemu dengan dua atau tiga jaksa? Lalu, ayah jaksa Kim juga akan menjadi tersangka, apakah itu tidak apa-apa bagimu?” ancam Hae Gang.

“Apa yang kau inginkan dariku? Apakah Presdir Choi? Apakah aku harus mengusut Choi Man Ho?” tanya Jaksa Kim.

“Daripada itu, aku berharap kau menyelidiki ini dengan benar pada kasus ini. Jangan mempermudah aku ataupun Presdir. Biarkan kami secara adil menerima hukuman sesuai hukum.” Jawab Hae Gang.


Presdir Choi setuju, ia mau melindungi Tae Seok kali ini. Ia berkata bahwa ia bisa memanipulasi rekaman suara Tae Seok yang didapat Hae Gang dari Seol Ri. Hanya itu yang bisa ia lakukan. Ia meminta Tae Seok berusaha sendiri.

“Yang lain hanya bukti situasi, jadi kalau aku mengendalikan mulut Lee Jong Man dan Kim Hak Soo dengan baik, aku bisa lolos. Kejadian terburuknya, kalau aku muncul di pengadilan aku bisa diputuskan tidak bersalah.” Jawab Tae Seok.


Sebagai balasannya, pada rapat pemegang saham selanjutnya, pecat Do Hae Gang, dan jadikan Jin Eon penggantinya.” Ucap Presdir Choi.

“Apa? Lalu bagian R&D?” tanya Tae Seok.

 “Buat dia memegang dua jabatan.” Jawab Presdir Choi.

“Untuk memeriksa aku, kau menaruhnya di jabatan Wakil Presdir?” tanya Tae Seok.

“Bajingan yang membeli saham kita, cepat buat dia berada di pihak kita.” jawab Presdir Choi.

“Kau ingin memberikannya pada Adik Ipar? Adik Ipar tidak berada di pihakmu. Adik Ipar sekarang sedang membantu Do Hae Gang. Dia berusaha melindungi Do Hae Gang darimu dan membantunya secara diam-diam. Itu seperti menyuruh rubah menjaga kandang ayam.” Ucap Tae Seok.



Jin Eon berkata pada Hyun Woo bahwa ia akan menarik  Pudoxin dari pasaran. Ia juga sudah meminta Seok menyerahkan jurnal dan catatan milik Kim Sun Yong, dan selanjutnya ia akan membandingkannya dengan data milik mereka.

“Aku dengar kita harus membayar biaya asuransi lebih dari ₩100 milyar. Kalau kita mengakuinya, perusahaan akan terbelah dua.” Jawab Hyun Woo.

“Mari kita lakukan.” ucap Jin Eon.

“Sebelum itu terjadi, kau yang akan dipotong-potong oleh direktur.” Jawab Hyun Woo.

“Itu sebabnya aku ingin menjadi Presdir dari grup perusahaan untuk pekerjaan ini. Pada rapat pemegang saham, ajukan pemberhentian Presdir dari jabatannya. Karena aku tidak bisa, kau yang melakukannya untukku. Dengan hasil pemalsuan tes klinis Pudoxin.” Ucap Jin Eon.

“Kalau mereka bertarung, kau pikir kau bisa menang?” tanya Hyun Woo.

“Bisa, singkirkan akar yang busuk, daging yang terkontaminasi, semuanya. Mari kita mulai ulang, Hyun Woo. Meski aku harus menggunakan uang pribadiku, aku akan memberikan kompensasi kepada semua korban, jadi tidak perlu takut mengeluarkan uang.” Jawab Jin Eon.



Tak lama kemudian, Jin Eon menerima telepon dari rumahnya. Usai menerima telepon itu, ia panic dan buru2 pergi. Namun sebelum pergi, ia meminta Hyun Woo menggantikannya memimpin rapat. Ia memberitahu Hyun Woo bahwa ibunya sudah menghilang 4 jam.

“Jadwal ulang pertemuan pagi ini untuk tim klinikal untuk besok pada jam yang sama.” Ucap Jin Eon.


Setibanya di rumah, Jin Eon langsung disamperin Jin Ri. Jin Ri mengaku bahwa ia sudah menelpon polisi. Jin Eon pun bergegas pergi untuk mencari ibunya, namun Jin Ri menahan langkahnya dan menanyakan kabar Tae Seok, tapi Jin Eon tidak menjawab dan bergegas pergi untuk mencari ibunya.


Jin Eon menyusuri sepanjang jalanan. Ia berlari kesana kemari tapi tak jua menemukan ibunya. Ia memeriksa toilet umum, juga masuk ke sebuah toko tapi tak menemukan ibunya di sana. Setelah berlari kesana kemari selama beberapa menit, ia akhirnya menemukan ibunya yang duduk dibalik stand makanan sambil mengunyah makanan.



Nyonya Hong menatap Jin Eon, tapi Nyonya Hong bersikap seolah2 Jin Eon adalah orang asing. Jin Eon berusaha sekuat mungkin menahan tangisnya. Nyonya Hong memesan sebungkus makanan lagi. Jin Eon bergegas melepas jaketnya dan memakaikan jaketnya ke tubuh sang ibu.


“Apa ibu menungguku? Dulu, aku tidak suka kalau ibu menungguku di dekat gerbang sekolah. Aku berpura-pura tidak melihat ibu, tapi aku berterima kasih. Bahwa ibu sudah menungguku. Ibu masih menungguku. Mulai sekarang, aku akan terus bersama ibu, jadi ibu tidak perlu menunggu di udara dingin lagi. Aku tidak akan pergi meninggalkan ibu. Aku tidak akan pergi kemanapun, jadi aku tidak akan membuat ibu menunggu.” Ucap Jin Eon sambil merapatkan jaket sang ibu.



Nyonya Hong hanya menatap Jin Eon dengan bingung. Jin Eon lantas melirik kaki ibunya. Karena sang ibu hanya mengenakan sandal dan sebelah kaus kaki, Jin Eon pun memutuskan menggendong ibunya sampai mereka mendapatkan taksi agar sang ibu tidak keinginan.



“Ibu tidak boleh sakit. Ibu tidak boleh sakit, mengerti?” ucap Jin Eon.

“Aku lelah.” Jawab Nyonya Hong.

“Benarkah? Tidurlah.” Ucap Jin Eon.

“Terima kasih, Hyeon Soo-ya.” jawab Nyonya Hong.

Mendengar sang ibu memanggilnya dengan nama Hyeon Soo, tangis Jin Eon nyaris pecah, tapi lagi2 ia berusaha sekuat tenaga menahan tangisnya agar tidak pecah.



Jin Eon menatap ibunya yang sudah tertidur dengan tatapan lirih. Tak lama kemudian, Jin Ri datang dan menyuruh Jin Eon mencari rumah sakit karena kesehatan sang ibu akan semakin memburuk.

“Kalau kau ragu dengan fasilitasnya, maka kirim dia keluar negeri. Karena tidak bisa kalau jauh, kirim dia ke rumah sakit di Jepang, kau bisa sering-sering menemuinya.” Ucap Jin Ri.

“Aku akan mengeluarkan perabotannya, hanya tinggalkan tempat tidur dan keluarkan semuanya.” jawab Jin Eon.
 
“Mungkin lebih baik dia menderita alzheimer, dia tidak perlu menyaksikan kekacauan ini. Meski Do Hae Gang mengasah pisaunya, ayah tidak akan ditahan kan? Berapa banyak yang sudah diberikannya kepada jaksa selama ini? Semuanya berantakan, keluarga kita, perusahaan, semua karena Do Hae Gang. Apa aku bilang? Aku bilang dia kembali untuk balas dendam.” Ucap Jin Ri.


“Jaga ucapanmu, itu bukan karena Hae Gang, tapi karena ayah dan kakak ipar.” Jawab Jin Eon.

“Dia seharusnya tidak melakukannya saat kau ada di sini. Dia seharusnya tidak berbuat sejauh ini. Dia mengungkapkan kesalahan perusahaan, ayah dan kakak iparmu. Dia sedang berusaha menelan perusahaan sendirian sekarang. Kau seharusnya tida berada di pihaknya, bukankah kau bagian dari keluarga kita? Yang perlu kau lindungi sekarang bukanlah Do Hae Gang yang baik-baik saja, tapi rumah kita yang akan hancur, kau harus melindungi perusahaan kita!” ucap Jin Ri.

Jin Eon pun menatap noona-nya itu dengan tatapan nanar.

“Diamlah, Noona. Apa kau tidak melihat ibu sedang tidur? Apa kau tidak melihat ibu sedang sakit? Kenapa kau seperti itu? Kenapa semua orang menjadi seperti itu?” ucap Jin Eon.

Jin Ri pun mengalah dan memilih pergi.



Yong Gi lagi minum soju sama eonni nya. Hae Gang berkata, kalau ia ingin menghabiskan waktu bersama Woo Joo besok. Yong Gi setuju, ia mengizinkan Hae Gang membawa Woo Joo jalan2, karena besok ia akan mengunjungi kuil tempat nenek mereka dimakamkan.


“Tapi, kau memesan tiket untuk kelas bisnis. Hei, berapa itu harganya? Apakah kelas bisnis cocok untukku? Seseorang harus hidup sesuai kemampuannya. Kalau aku duduk di sana, aku akan mual selama 4 jam, jadi aku akan menggantinya dengan kelas ekonomi.” Ucap Yong Gi.

“Ambil sajalah, kalau kau duduk di kelas ekonomi, itu akan berbeda.  Aku memesan tiket itu dengan poin.” Jawab Hae Gang.

“Kalau begitu itu gratis?” tanya Yong Gi.


Hae Gang membenarkan. Yong Gi pun langsung berseru senang. Ia bahkan bernyanyi kecil, membuat eonni nya tertawa geli.

“Apakah tidak apa-apa memberi barang-barangmu padaku seperti itu?” tanya Yong Gi.

“Karena kita bersaudara.” Jawab Hae Gang.

“Karena kita bersaudara. Benarkan? Kita ini saudara kan? Nona saudaraku, mari kita minum dalam sekali tegukan. One shot! One shot! Kakakku, cepat, cepat!” ucap Yong Gi.


Hae Gang pun menegak sojunya dalam sekali teguk.

Aku mencintaimu, Eonni.” Ucap Yong Gi, membuat senyum Hae Gang semakin merekah lebar.

“Maaf, karena menukar mobilmu dengan mobilku 4 tahun yang lalu. Karena kau hampir mati gara-gara aku.” ucap Yong Gi lagi.

“Tidak perlu. Malahan aku berterima kasih padamu, karena mengeluarkan diriku, menyadarkan aku.” jawab Hae Gang.

“Woo Joo, kaulah yang membuat dia terlahir kedunia ini. Benar, itu semua karena kau.” ucap Yong Gi.

“Ada dua tubuh di jagat raya yang saling tertarik dengan kekuatan. Aku untukmu, dan kau untukku. Mari kita berpikir untuk saling berbagi, aku untukmu dan kau untukku. Kita tidak tahu akan pergi kemana, tapi selama kita bersama, kita tidak akan pernah berhenti.” Jawab Hae Gang.

“Saat aku pergi ke Amerika, aku akan mengirimkan pesan telepati, jadi jangan merasa kesepian.” Ucap Yong Gi.

“Kau juga.” jawab Hae Gang.


Woo Joo tidur bersama Nyonya Kim. Sambil memegangi tangan Woo Joo, Nyonya Kim berkata bahwa Woo Joo pasti senang sekali karena besok akan berkencan dengan Hae Gang. Tapi Woo Joo sama sekali tidak antusias. Ia justru terlihat cemas.

Woo Joo : Tapi bibi tidak menyukaiku, nenek. Bagaimana kalau bibi lagi-lagi bilang, "apa kau tidak akan pergi?”…

“Berikan bibimu pelukan. Dan pegang tangan bibi dengan erat, dan berikan dia ciuman dan berkediplah pada bibi dan kapanpun kau melihat bibi, banyak-banyaklah tersenyum padanya, maka bibi tidak bisa berbuat apa-apa, selain menyayangi Woo Joo. Bagaimana? Kau mau mencobanya?” jawab Nyonya Kim.

“Aku benar-benar ingin membuat bibi menyayangiku, nenek.” Ucap Woo Joo.

“Baik, pastikan kau melakukannya. Janji.” Jawab Nyonya Kim.



Sementara Yong Gi tidur dengan Hae Gang. Hae Gang tidur di atas dan menatap langit2 kamarnya. Tak lama kemudian, Yong Gi datang membawa minuman. Melihat ekspresi Hae Gang, Yong Gi pun penasaran dan bertanya kenapa Hae Gang memasang ekspresi seperti itu. Menurutnya, Hae Gang seperti orang yang kehilangan lotre saja. Hae Gang pun bangkit dari tidurnya dan duduk di kasur.

“Aku?” tanya Hae Gang sambil menatap Yong Gi yang mulai berbaring di kasur bawah.

“Benar, kau. Aku dengar ini adalah ruang belajar Choi Jin Eon, orang yang hampir menjadi Kakak Iparku.” Ucap Yong Gi.

“Apa-apaan itu,  Choi Jin Eon? Hanya karena aku memanggilnya Choi Jin Eon, apa artinya kau juga boleh memanggilnya begitu?” protes Hae Gang.

“Lalu aku harus memanggilnya apa? Hyeongbu? Choi Jin Eon-ssi? Choi Jin Eon-nim? Sebenarnya usia dia sama denganku, kau tahu.” jawab Yong Gi.

“Apa, dia?" protes Hae Gang lagi.

“Kapan ulang tahunmu? Kau lebih tua daripada dia, benarkan?” tanya Yong Gi.

“Aku rasa begitu.” jawab Hae Gang.

“Sejujurnya, dia terlihat lebih tua daripada aku. Dia terlihat lebih tua daripada Seok dan dia terlihat lebih tua daripada kita berempat, wajah tua, itulah dia.” ucap Yong Gi.

Hae Gang pun hanya menghela napas pelan.


“Apakah lamaran yang kau dapatkan sudah berlalu?” tanya Yong Gi.

Hae Gang mengangguk, mengiyakan.

“Kenapa?” tanya Yong Gi.

“Kau bilang untuk tidak hidup bersama pria yang sama dua kali, sepertinya kau benar.” jawab Hae Gang.

“Jadi maksudmu itu gara-gara aku? Aigoo, sejak kapan kau mendengarkan aku? Lalu kalau aku menyuruhmu untuk hidup bersama dengannya lagi, kau akan melakukannya?” tanya Yong Gi.

Hae Gang lagi2 mengangguk.

“Apa-apaan itu? Sebenarnya bagaimana perasaanmu?” tanya Yong Gi sebal sambil duduk di kasurnya.

“Tidak masalah apa yang aku pikirkan sekarang. Ada kenyataan yang membuat kami tidak bisa bersama.” Jawab Hae Gang.


“Apa kau merindukannya?” tanya Yong Gi.

Hae Gang mengangguk.

“Dan kau masih mencintainya?” tanya Yong Gi.

Hae Gang kembali mengangguk.

“Tapi kau tidak bisa bersamanya?” tanya Yong Gi. Hae Gang lagi2 mengangguk.

“Dia belum mati dan tidak menghilang, jadi kenapa? Kau bisa menemuinya dalam waktu 20 menit dengan mobil, jadi kenapa tidak? Dengan telpon kau bisa mendengar suaranya, jadi kenapa? Kenapa menahannya? Untuk apa dan untuk siapa kau menahannya? Kalau demi kebaikanmu, maka tahanlah. Kalau demi kebaikannya, baik, maka tahanlah. Tapi kalau bukan karena itu, jangan menahannya. Kenapa? Karena kalau kau mati, kau tidak akan bisa melakukannya. Kalau satu orang menghilang, maka kau tidak bisa berbuat apapun.” Ucap Yong Gi.


Wajah keduanya pun langsung berubah serius…

“Maaf.” Ucap Hae Gang.

“Tidak perlu. Bersatu sajalah.  Saat kau bisa bersama dengannya, lakukan saja.Bersatu saja dengannya dan cobalah menyelesaikannya.” Jawab Yong Gi.


Yong Gi lantas bercerita saat Kim Sun Yong meninggal, ia tidak tahu apapun.

“Bahwa dia dalam kesulitan, bahwa hidupnya dalam bahaya. Meski dia mungkin melakukannya demi aku, tetap saja itu terasa berat bagiku. Kalau saja dulu aku tahu, kalau saja aku menyadarinya, mungkin aku bisa menyelamatkannya. Jangan sampai kehilangan kebahagiaan yang ada di depan matamu. Karena tidak ada kebodohan yang lebih besar daripada itu.” ucap Yong Gi.


Tangis Yong Gi pun pecah. Ia memeluk lututnya, kemudian menyembunyikan wajahnya di sela kedua lututnya. Hae Gang menatap iba Yong Gi, sebelum akhinya ia mendekati Yong Gi dan memeluk Yong Gi dengan erat. Tangis Yong Gi semakin kencang dalam dekapan sang kakak.


Keesokan harinya, Jin Eon membawa sang ibu ke kantor polisi. Sang ibu jelas heran karena dibawa ke sana oleh sang anak. Jin Eon pun berkata, bahwa mereka harus mendaftarkan demensia sang ibu. Nyonya Hong terdiam. Jin Eon pun mengaku bahwa ia sudah tahu  penyakit yang diidap ibunya.

“Ibu sudah tahu kalau kau sudah mengetahuinya.” Jawab Nyonya Hong.

“Begitukah? Siapa yang memikirkan siapa?” gumam Jin Eon.

“Apa kau baik-baik saja?” tanya Nyonya Hong.

“Aku sudah mengetahuinya.” Jawab Jin Eon.

“Ibu minta maaf.” Ucap Nyonya Hong.

“Sudahlah, mari kita masuk dan mendaftar dulu. Kalau ibu melakukannya, aku bisa menemukan ibu saat ibu tersesat dan berada di jalanan.” Jawab Jin Eon.



Yong Gi yang duduk berdua di kamar dengan Woo Joo, menyuruh Woo Joo untuk memanggil Jin Eon dengan sebutan Imobu, bukan Ahjussi. Woo Joo pun mengangguk.

“Kalau begitu, ibu akan menelponnya dan kau lakukan sesuai perintah ibu.” Ucap Yong Gi lagi.


Begitu teleponnya tersambung, Yong Gi pun langsung menyuruh Woo Joo bicara dengan Jin Eon.

“Imobu, ini Woo Joo.  Imobu sedang apa hari ini? Sekarang hari sabtu, apa imobu pergi bekerja?” tanya Woo Joo.

“Hari ini dan besok, ahjussi tidak akan bekerja, kenapa?” jawab Jin Eon.

“Kalau begitu, bisakah kau berkencan denganku nanti?” tanya Woo Joo.

“Kencan? Kau ingin berkencan dengan ahjussi?” tanya Jin Eon.

“Ya, aku ingin berkencan dengan ahjus… imobu. Setelah tidur empat malam lagi, ibu dan aku akan pergi ke Amerika. Aku hanya punya waktu hari ini saja. Meskipun imobu sibuk, bisakah imobu berkencan denganku?” rengek Woo Joo.

“Kalau begitu, ahjussi akan menjemputmu nanti jam 1.” Jawab Jin Eon.



Woo Joo dan Yong Gi pun girang mendengarnya.



Nyonya Hong akhirnya mendapatkan kartu identitas untuk pasien Alzheimer. Petugas mengatakan, jika Jin Eon pergi ke pusat Alzheimer di Jongno-gu, maka Jin Eon akan mendapatkan gelang untuk pasien Alzheimer yang dilengkapi dengan GPS. Jin Eon mengangguk. Nyonya Hong kemudian mengajak Jin Eon sarapan. Jin Eon mengajak sang ibu makan sup ikan segar.


Woo Joo tampak menunggu Hae Gang di dalam kamar. Ia duduk dengan wajah tertunduk lesu di kasur. Tak lama kemudian, Hae Gang datang membawakannya jaket.

“Apa ibu dan nenek pergi keluar?” tanya Woo Joo.

Hae Gang mengiyakan. Woo Joo pun semakin tak bersemangat.

“Woo Joo, apa kau merasa tidak nyaman hanya berdua saja dengan bibi?” tanya Hae Gang.

Woo Joo mengangguk. Hae Gang kemudian duduk disamping Woo dan bertanya apa yang harus mereka lakukan kalau mereka merasa canggung seperti itu. Woo Joo lantas tersenyum pada Hae Gang. Hae Gang pun mengedipkan matanya pada Woo Joo. Woo Joo tertawa lebar.


Hae Gang lalu membantu Woo Joo memakai jaket. Dan Woo Joo pun tiba2 mendaratkan ciumannya di pipi Hae Gang. Tangis Hae Gang seketika pecah. Dan Hae Gang pun balas mencium  pipi Woo Joo.


“Kenapa bibi menangis?” tanya Woo Joo.

“Karena Woo Joo cantik. Woo Joo sangat, sangat cantik.” Jawab Hae Gang dengan suara bergetar.


Dan Woo Joo pun memeluk erat Hae Gang.



Hae Gang dan Woo Joo lalu keluar kamar. Tiba2 terdengar suara bel. Hae Gang terkejut melihat wajah Jin Eon di layar intercom nya. Sementara Woo Joo tersenyum senang. Jin Eon pun sama kagetnya begitu ia tiba di dalam dan melihat Hae Gang.

“Kenapa kau ada di sini? Apa kau menginap di sini?” tanya Jin Eon.

“Bagaimana dengan kau, sayang… maksudku kenapa Choi Jin Eon-ssi ada di sini?” tanya Hae Gang.

“Aku memanggil paman untuk berkencan bersama-sama. Tidak bisakah kita bertiga pergi berkencan, bibi?” ucap Woo Joo.


Woo Joo lalu memberikan senyum manisnya pada Jin Eon. Jin Eon yang tadinya terpaku menatap Hae Gang, kini mengalihkan pandangannya pada Woo Joo. Hae Gang pun bertanya, haruskah mereka pergi dengan mobilnya. Dan Jin Eon berkata, mereka akan pergi dengan mobilnya.


Woo Joo tak hentinya mencomblangi paman dan bibinya.

“Bibi cantik yang sangat mirip dengan ibuku sangat mencintai paman sebanyak bibi mencintai Woo Joo.” Ucap Woo Joo.


Hae Gang pun kaget mendengarnya.


“Paman tahu itu.” jawab Jin Eon sambil menatap Hae Gang.

“Kalau begitu tinggalah bersama bibi dengan bahagia, dan penuh kasih sayang.” Ucap Woo Joo.

“Apa?” tanya Jin Eon sambil tersenyum.


“Kalau paman terus hidup sendiri, paman akan menjadi... orang tua... atau kelihatan lebih tua.” Jawab Woo Joo.

Hae Gang pun tertawa geli.

“Aigoo, anak-anak tahu tentang penuaan.” Gumam Hae Gang.

“Orang tua dan terlihat lebih tua?” tanya Jin Eon.


Tawa Hae Gang pun pecah. Jin Eon juga ikut tertawa. Keduanya lantas saling melirik, dan juga tertawa.


Woo Joo lalu melihat pertunjukan animasi ikan bersama paman dan bibinya.

“Itu lumba-lumba Woo Joo-ya. Disebelah sana, di sana, cumi-cuminya paman.” Seru Hae Gang.


“Oh. Itu ikan punya bibi, itu sangat, sangat cantik. Seperti bibi, ikannya sangat, sangat cantik.” Jawab Woo Joo.

Woo Joo lalu meminta pendapat Jin Eon. Jin Eon pun membenarkan kalau ikan itu cantik seperti Hae Gang.



Hae Gang dan Jin Eon lalu mengajak Woo Joo melukis di atas pasir. Potret keluarga bahagia, seperti itulah ketiganya terlihat. Usai melukis di atas pasir, mereka pergi menonton pertunjukan topeng monyet. Setelah itu, mereka mengunjungi taman bermain. Jin Eon dan Hae Gang tak lupa mengabadikan momen saat Woo Joo bermain perosotan. Selang beberapa detik, Jin Eon dan Hae Gang pun kembali curi2 pandang.



Nyonya Kim dan Yong Gi ada di sebuah boutique. Nyonya Kim tampak sibuk memilih2 beberapa mantel. Sementara Yong Gi menunggu dengan wajah bosan. Tak lama kemudian, Nyonya Kim memanggil Yong Gi dan menyuruh Yong Gi mencoba mantel pilihannya.

“Aku sudah bilang aku tidak memerlukannya, kenapa kau terus menyuruhku...itu bukan baju tapi beban. Tasku sudah penuh, jadi tidak ada tempat untuk barang lagi, dan kau menghabiskan uangmu untukku... Kembalikan dan cepatlah keluar.” Ucap Yong Gi.

“Kalau begitu, biarkan ibu pergi bersamamu. Aku tidak bisa hanya mengirim kalian berdua saja. Hanya sampai kau siap, lalu ibu akan kembali.” Jawab Nyonya Kim.

“Apa yang akan kau lakukan dengan Eonni?” tanya Yong Gi.

“Ibu akan pergi dan kembali lagi.” Jawab Nyonya Kim.

“Kau tetaplah di sini, aku punya Woo Joo, tapi eonni... maksudku Dokgo Ong Gi dia orang yang canggung. Dari luar dia terlihat sangat kuat tapi di dalamnya dia selembut tahu. Mengatakan ingin pergi bersamaku sudah cukup bagiku. Terima kasih sudah mengatakan itu.” ucap Yong Gi.



Gyu Seok yang baru tiba di rumah, langsung menuju kamar Yong Gi. Karena tak ada jawaban saat ia memanggil, ia pun akhirnya membuka pintu kamar Yong Gi dan tertegun saat melihat koper dan tiket Yong Gi.


Yong Gi keluar dari kamar pas. Ia terlihat sangat cantik dengan blazer pilihan sang ibu. Tak lama kemudian, keduanya pun tersenyum haru satu sama lain.



Gyu Seok sedang melihat tiket pesawat Yong Gi. Ia tampak berat melepaskan kepergian Yong Gi dan Woo Joo ke Amerika.


Mobil Jin Eon tampak melaju menuju rumah Hae Gang. Dari dalam, terdengar suara Hae Gang dan Woo Joo yang tengah bernyanyi. Begitu mobil berhenti, mereka berhenti bernyanyi dan Hae Gang pun memakaikan jaket merah itu ke Woo Joo. Jin Eon kembali menatap Hae Gang. Hae Gang pun menatap Jin Eon, lalu keduanya saling tersenyum satu sama lain.

“Bibi tidak akan turun? Cepatlah, aku mau memperlihatkan hadiah paman dan bibi pada ibu dan nenek.” Ucap Woo Joo.

“Baiklah, bibi akan turun.” Jawab Hae Gang.


Ketiganya pun turun dari mobil. Hae Gang dan Jin Eon pun kembali bersikap canggung. Dengan mata berkaca2, Woo Joo mengucapkan salam perpisahan pada Jin Eon. Jin Eon juga ikut berkaca2 mengucapkan selamat tinggal pada Woo Joo.

“Paman sangat senang bertemu denganmu, Woo Joo. Karena Woo Joo, paman bahagia. Paman akan bekerja keras untuk membuat obat supaya Woo Joo tidak sakit.Tunggulah dengan berani seperti sekarang.” ucap Jin Eon.


Tangis Woo Joo pecah. Woo Joo lalu memeluk erat Jin Eon. Hae Gang terharu menatap mereka. Jin Eon lalu menyuruh Woo Joo masuk ke rumah karena cuaca yang semakin dingin. Woo Joo pun mencium pipi Jin Eon, sebelum ia akhirnya masuk ke rumah. Saat tiba di depan pintu, Woo Joo melambaikan tangannya ke Jin Eon. Hae Gang menatap Jin Eon sejenak, sebelum akhirnya ia menutup pintu rumahnya.



Seol Ri sedang mengikat dasi kakaknya agar sang kakak lebih mudah memakainya. Seok lantas menatap penyangga lengannya dan berbicara sendiri.

“Kembalilah, sadarlah, biarkan aku makan, biarkan aku memakai kaos kaki sendiri. Karena kau, aku tidak bisa mengikat tali sepatuku.” Ucap Seok.

“Kau merasa sangat frustasi, benarkan?” tanya Seol Ri.

“Itu adalah serangan tangan kanan, siapa yang membayangkan bajingan ini mengendalikan hidupku seperti ini.” jawab Seok.

Seok lalu mengumpat penyangga tangannya.

“Kau bajingan hebat, sekarang tolong kembalilah, toilet kita bukan perlengkapan seperti yang kau tahu. Karena kau, aku tidak bisa makan sebanyak yang aku mau.” ucap Seok.

“Ah, jinja!” rutuk Seol Ri sambil menatap aneh sang kakak.

“Kenapa? Kau merasa kotor? Bagimu itu kebersihan, bagiku itu bertahan.” Ucap Seok.

“Lagipula kau memiliki hati yang kuat, kau terlahir dengan mental yang kuat.” Jawab Seol Ri.

“Terima kasih sudah mengikatkan dasiku.” Ucap Seok.


“Kalau aku mengenalkan seorang wanita padamu, apa kau akan menemuinya?” tanya Seol Ri.

Seok terdiam.

“Mungkinkah kau masih menunggunya? Kalian berdua sudah terpisah.” Ucap Seol Ri.

“Kenalkan padaku.” Jawab Seok.

“Jinja?” tanya Seol Ri. Seok pun mengangguk.

“Jangan berubah pikiran, Oppa.” Jawab Seol Ri.

Setelah mengatakan itu, Seol Ri pun beranjak pergi. Setelah Seol Ri pergi, Seok langsung menatap ke arah fotonya bersama Hae Gang ketika mereka main pistol air saat Hae Gang masih menjadi Yong Gi. Seok kemudian mengambil foto itu dan menyimpannya di laci.



Tuan Baek marah2 saat membaca artikel tentang tuntutan Pudoxin. Seol Ri yang melihat ayahnya itu marah2 pun penasaran dan bergegas mendekati sang ayah. Rupanya yang membuat Tuan Baek kesal karena di dalam artikel itu tidak diceritakan tentang Kim Sun Yong ataupun Moon Tae Joon sedikit pun. Tuan Baek juga kesal karena artikel itu memuji2 keampuhan Pudoxin dalam mengobati asam lambung.

“Ini memang sudah bisa kami duga. Itu sebabnya Oppa dan Do Hae Gang mengungkapkan catatan Kim Sun Yong di pengadilan dengan mempertaruhkan nyawa mereka. Untuk mengungkapkan kebenaran dengan penyelidikan kejaksaan.” Jawab Seol Ri.

“Ayah sangat marah membaca ini, jadi ayah akan mengukus mandu saja.” Ucap Tuan Baek, kemudian bangkit dari duduknya.

“Ayah mau pergi ke toko? Ada berita di internet yang memberitahu secara detil tentang persidangan, periksalah Y-Media. Meskipun memakan waktu lama, semuanya pasti akan terungkap ayah.  Dia akan segera tertangkap, dia pasti akan tertangkap!” jawab Seol Ri.

Di kamarnya, Tae Seok sedang berbicara dengan seseorang.

“Selesaikan masalahmu dan cepatlah pergi keluar negeri. Kalau dia tahu Presdir Choi dan aku menjadi satu tim, dia akan segera menyerahkan rekaman suara itu kepada jaksa. Kalau kau tertangkap, maka aku tamat, maka jangan sampai tertangkap, mengerti? Kalau kau percaya diri bisa tidak menyebutkan namaku, baru kau boleh tertangkap, mengerti?” ucap Tae Seok.


Jin Ri kemudian masuk, dan Tae Seok memberitahu Jin Ri kalau Presdir Choi lah yang akan mengurus rekaman suaranya soal hasil tes klinis palsu Pudoxin juga pembunuhan berencana Moon Tae Joon dan si kembar. Namun Jin Ri hanya menatap sebal Tae Seok saja.

“Itu bukan kebohongan, itu benar-benar terjadi. Jaksa Korea tahu bagaimana caranya bekerja. Saat aku terlahir kembali, aku akan lahir di Korea.” Ucap Tae Seok.


Jin Ri pun menyuruh Tae Seok turun ke bawah. Jin Ri berkata bahwa Presdir Choi dapat panggilan dari kejaksaan. Tae Seok terkejut.

 “Aku pikir masalah ayah sudah selesai.” Ucap Tae Seok.

“Kalau begitu, pasti masalahnya belum selesai. Dan dia tidak memberikan kita pendahuluan terlebih dulu, tiba-tiba saja ada telpon tadi pada jam 10. Ini tidak bisa dinegosiasikan terlebih dulu, tapi bersifat perintah, situasinya mungkin kebalikannya. Apa ada sesuatu yang kau ketahui?” tanya Jin Ri.

“Daftar suap.” Jawab Tae Seok.

“Aku melihat kau memberikan sesuatu pada Jin Eon saat Jin Eon berbicara kasar waktu kita sarapan. Itu tidak mungkin menusuk matamu sendiri, benarkan?” ucap Jin Ri.


Jin Ri lalu menirukan kata2 Jin Eon saat di meja makan kemarin."Aku akan melupakan permohonan pemberhentian, jadi pakaikan pelampung padanya."

“Jin Eon mengatakan itu, jadi apa perjanjianmu dengannya?” tanya Jin Ri.

“Daftar suap, daftar pengaturan jaksa.” Jawab Tae Seok.

“Kalau ayah tahu, apa dia akan berusaha menyelamatkanmu?” sindir Jin Ri.

“Tutup mulutmu, mengerti? Aku berada di es yang kecil. Dimana-mana ada ranjau, kalau aku salah melangkah, aku akan segera mati.” Ucap Tae Seok.

“Bukannya kau memang sudah salah langkah?” tanya Jin Ri.

“Ayah masih belum mengetahuinya. Dan jaksa tidak akan mengakui dengan mulutnya sendiri. Adik Ipar dan Do Hae Gang tidak akan menunjukkan rencana mereka pada ayah. Ayah memerluka kita. Jadi jaga ekspresi wajahmu dan mari kita mencoba melewati ini dengan tenang.” Jawab Tae Seok.


Nyonya Hong yang sedang membantu Presdir Choi berpakaian tampak cemas karena suaminya itu lagi2 dipanggil orang kejaksaan. Namun Presdir Choi meyakinkan istrinya kalau tidak akan terjadi apa2.


Presdir Choi dan Nyonya Hong pun keluar dari kamar. Setibanya diluar, Tae Seok yang sudah menunggu sedari tadi meyakinkan Presdir Choi tidak akan terjadi apa2.

“Melihat pemanggilan tiba-tiba ini untuk menghindari media, mereka tidak punya keinginan untuk menyelidiki. Jangan khawatir dan kembalilah dengan nyaman.” Ucap Tae Seok.


Tiba2, Jin Eon datang dan mengajak sang ayah pergi bersama. Presdir Choi ingin tahu  alasannya kenapa ia harus pergi dengan Jin Eon. Jin Eon menjawab dengan tenang karena dirinya adalah anak Presdir Choi. Presdir Choi tertegun.

“Sampai penyelidikannya selesai, aku tidak akan beranjak dari kursiku dan akan menunggumu. Ayah aku masih belum menyerah pada ayah. Jadi, supaya aku bisa hidup sebagai anakmu sampai akhir, tolong jangan menyerah padaku.” Ucap Jin Eon.


Jin Eon lalu mengajak sang ayah pergi. Jin Ri terlihat kesal mendengar kata2 Jin Eon. Sementara Tae Seok? Dia hanya berdiri mematung.

No comments:

Post a Comment