Monday, March 27, 2017

Defendant Ep 6

Sebelumnya...

(3 hari setelah insiden pembunuhan di Wolha-dong)


Joon Hyuk mendampingi Jung Woo ke suatu tempat. Joon Hyuk berkata, atasan mereka tidak tahu soal itu. Jung Woo berterima kasih pada Joon Hyuk yang sudah membantunya. Joon Hyuk menguatkan Jung Woo yang masih terguncang.

Sementara di pemakaman, ibu Ji Soo terduduk lemas. Tak lama kemudian, Joon Hyuk datang. Ibu berterima kasih atas kedatangan Joon Hyuk.  Jung Woo menghampiri ibu Ji Soo. Ibu Ji Soo berharap bukan Jung Woo pelakunya. Jung Woo hanya bisa meminta maaf pada ibu Ji Soo seolah2 dia memang melakukannya. Tangis ibu Ji Soo pun pecah.

“Aku ingin mengucapkan  selamat tinggal pada Ji Soo.” Ucap Jung Woo, lalu menghadap foto Ji Soo.

“Itu menyakitkan, bukan? Ji Soo-ya, aku minta maaf. Ini semua salahku.  Ha Yeon kita. Aku akan pastikan untuk menemukan Ha Yeon.” Ucap Jung Woo.

Tangis Jung Woo pun mengalir dari pelupuk matanya. Jung Woo lantas kembali menghampiri ibu mertuanya. Ibu mertuanya masih tidak percaya Jung Woo melakukannya. Jung Woo menyalami ibu mertuanya dan menyelipkan kertas kecil diam2 ke tangan ibu mertuanya. Ibu Ji Soo terkejut.

“Maafkan aku, Bu.” Ucap Jung Woo sambil menatap ibu Ji Soo penuh arti.

Ibu Ji Soo seolah paham maksud Jung Woo. Joon Hyuk dan Jung Woo beranjak pergi. Bersamaan dengan itu, Tae Soo datang dan emosi melihat Jung Woo. Ia meneriaki Jung Woo, bahkan ingin membunuh Jung Woo. Untunglah ada rekan2 Tae Soo yang langsung menghalangi Tae Soo.


Ibu Tae Soo terkejut membaca surat yang diselipkan Jung Woo.

“Ibu. Pastikan kau tidak membersihkan rumah.”



Kembali ke masa sekarang—Joon Hyuk dan beberapa petugas langsung mendatangi lokasi dimana koper yang diduga berisi jasad Ha Yeon ditemukan. Namun setelah diperiksa, koper itu kosong.

Joon Hyuk : Dimana Tae Soo?

Tae Seo melabrak Jung Woo di sel. Ia berpikir Jung Woo membohonginya lagi. Jung Woo sendiri bingung maksud ucapan Tae Soo. Tae Soo berkata, kopernya kosong. Sambil mencengkram seragam Jung Woo, ia bertanya dimana Ha Yeon. Dua rekan Tae Soo dibantu teman satu sel Jung Woo berusaha memisahkan Jung Woo dan Tae Soo.

“Tae Soo-ya, apa yang kau bicarakan? Kenapa ada koper di sana?” tanya Jung Woo bingung.

“Apa maksudmu ada koper? Kau yang bilang begitu! Beritahu aku! Di mana Ha Yeon!” teriak Tae Soo.

“Tae Soo. Tenanglah.” Ucap rekan Tae Soo, lalu membawa Tae Soo pergi.

Wooruk menatap Jung Woo dengan kesal. Ia yakin, Jung Woo sudah membuat masalah lagi. Sung Gyu menatap iba Jung Woo. Dan Jung Woo, dia bingung sendiri kenapa bisa ada koper di lokasi yang ia katakan pada Tae Soo.

Eun Hye menunggui Detektif Go yang masih belum sadarkan diri. Ia bertanya2 apa yang mau dikatakan Detektif Go padanya. Ia yakin Detetif Go mau mengatakan soal Jung Woo. Tak lama kemudian, Min Kyung yang baru selesai bicara dengan polisi menghampiri Eun Hye.

“Apa mereka menemukan tersangka tabrak lari?” tanya Eun Hye.

“Itu daerah terpencil. Tidak ada kamera CCTV maupun saksi.” Jawab Min Kyung.

“Mengapa dia pergi ke ruang referensi NFS? Tak ada alasan baginya untuk pergi ke sana.” Ucap Eun Hye.
“Apa dia mengatakan sesuatu via telepon?” tanya Min Kyung.

“Setelah dia menelepon, kecelakaan itu terjadi.” Jawab Eun Hye.

“Kenapa ini terjadi padanya? Dokter mengatakan, dia  mungkin tidak dapat pulih.” Ucap Min Kyung.

“Min Kyung-ah, bisa kau cari tahu ini? Sepertinya itu bukan kecelakaan biasa.” Pinta Eun Hye.

Eun Hye melewati lobi di rumah sakit. Dan di sana, ia melihat berita soal penemuan koper itu.

Ibu juga menonton berita itu di restoran. Ia langsung menghubungi Tae Soo untuk mengkonfirmasi kebenaran berita itu.

Min Ho membaca berita itu di internet. Ia tak habis pikir, bagaimana mereka bisa membiarkan ini terjadi.


Jung Woo tak bisa tidur. Pikirannya terus tertuju pada koper itu.

“Ada sebuah koper di  lokasi yang aku katakan. Itu berarti, aku sudah menguburnya di sana. Tapi di mana Ha Yeon? Di mana Ha Yeon kira-kira? 16K. Itu beratnya Ha Yeon. Apa... Apa yang sudah terjadi?” ucap Jung Woo.

Semakin memikirkannya, Jung Woo semakin frustasi.


Tae Soo membuka pintu sel. Ia meminta Jung Woo berpikir baik2, apa Jung Woo benar2 membunuh Ha Yeon.

“Koper itu kosong. Itu artinya, Ha Yeon masih hidup, kan?” ucap Tae Soo.

Jung Woo diam saja, ia sendiri tidak tahu harus mengatakan apa. Tae Soo kemudian berlutut, ia berkata akan memaafkan Jung Woo kalau Ha Yeon memang masih hidup. Ia meminta Jung Woo mengembalikan Ha Yeon padanya. Tae Soo kemudian menangis. Jung Woo ingin menyentuh pundak Tae Soo, tapi ia menahan dirinya dan hanya bisa mengepalkan tangannya.


Min Ho mendapatkan dokumen pengambil alihan jasad Seon Ho dari anak buahnya yang bernama Kim Seok. Ia memuji kinerja Seok dan langsung membakar dokumen itu. Seok lalu bertanya apa yang harus mereka lakukan pada Eun Hye karena Eun Hye adalah orang terakhir yang berbicara dengan Detektif Go.

“Aku akan cari tahu itu.” jawab Min Ho.

Min Ho kemudian berkata lagi…

“Seok-ah, kau tahu? Aku tadi menonton berita dan tampaknya ada masalah.”

“Apa itu?” tanya Seok.

“Kau belum melihatnya?” tanya Min Ho.

“Maaf.” Jawab Seok.

“Kau tahu seberapa keras aku bekerja untuk sampai sejauh ini? Bagaimana bisa kau  mengurusnya seperti itu!” teriak Min Ho, lalu mengambil kayu yang setengah terbakar dari tong dan memukulkannya pada Seok.

“Kenapa semua orang mencoba  membuatku menjadi orang jahat? Kenapa? Kenapa?  Kenapa kau!” teriak Min Ho sembari memukuli Seok berulang kali dengan kayu itu.

Puas memukuli Seok, ia menyuruh Seok mencari bukti2nya. Seok mengerti. Min Ho beranjak pergi. Seok menatap kepergian Min Ho dengan tajam. Min Ho kemudian menerima telepon dari seseorang. Setelah itu, ia pun bergegas pergi.


Deputi Jaksa memanggil Kepala Jaksa Choi dan Joon Hyuk. Ia ingin tahu apa yang akan dilakukan Joon Hyuk karena media sudah tidak lagi mempercayai penyelidikan mereka. Apa kau akan mempertahankan tuntutanmu? Tanya Deputi Jaksa. Joon Hyuk mengiyakan. Kepala Choi tidak setuju. Ia mengajak Joon Hyuk menyelidikinya lagi. Ia merasa ada sesuatu yang aneh dan meminta Joon Hyuk menyelidiki kecelakaan Detektif Go.

“Tak akan ada yang berubah  di persidangan bandingnya.” Jawab Joon Hyuk.

“Koper itu kosong!” teriak Kepala Choi.

Kepala Choi lalu menurunkan volume suaranya. Ia ingin Joon Hyuk menjawab pertanyaannya sebagai temannya Jung Woo, dan bukan sebagai jaksa.  Ia bertanya, apa ada kemungkinan Jung Woo bukan pelakunya.

“Kepala Jaksa Choi, apa yang kau bicarakan?” tegur Deputi Jaksa.

“Bisakah anda diam sebentar?” jawab Kepala Choi.

“Tidak.” Ucap Joon Hyuk yakin.

“Sedikit pun? Jika ada 1 persen kemungkinan  bahwa dia bukan pelakunya, ayo kita lakukan investigasi ulang. Aku akan bertanggung jawab.” Ucap Kepala Choi.

“Tidak. Tidak sama sekali.” Jawab Joon Hyuk.

Deputi Jaksa marah dan menegur keduanya. Deputi Jaksa  lalu menyuruh Joon Hyuk pergi, namun sebelum Joon Hyuk pergi, ia mengingatkan Joon Hyuk soal makan malam mereka. Joon Hyuk mengerti. Setelah Joon Hyuk pergi, Deputi Jaksa menegur Kepala Choi dengan keras. Kepala Choi diam saja. Ia yakin bahwa Jung Woo tidak bersalah.

Joon Hyuk kembali ke ruangannya dan terkejut melihat Eun Hye yang sudah menunggunya. Eun Hye ingin dilakukan tes pada koper yang ditemukan.

“Kau pikir aku belum melakukannya?” tanya Joon Hyuk.

“Aku tidak tahu.” jawab Eun Hye.

“Aku kira, kau mungkin berpikir seperti itu. Kau percaya, aku memalsukan  penyelidikan di TKP.” Ucap Joon Hyuk.

“Jika tak ada yang ditemukan kau akan mengubah tuntutanmu? Tuduhan soal Ha Yeon?” tanya Eun Hye.

“Tidak.  Bahkan jika kita tidak menemukan apa pun,takkan ada yang berubah. Tidak masalah jika koper itu kosong. Kau bisa lihat itu dengan jelas dari catatan kasus.” Jawab Joon Hyuk.

“Biarkan aku tahu ketika laporan analisis keluar.” Ucap Eun Hye dingin, lalu beranjak pergi.

“Beritahukan ini pada Jung Woo. Tidak akan ada yang berubah.” Suruh Joon Hyuk.

“Kau sudah seyakin itu? Kupikir, kau hanya tidak mau mengakui kesalahanmu.” Tuduh Eun Hye.

“Ini persidangan yang tidak bisa kau menangkan.” Ucap Joon Hyuk.
“Kita lihat saja nanti.” Jawab Eun Hye lalu beranjak pergi.

Eun Hye kembali menemui Jung Woo di sel. Jung Woo bertanya2, kenapa ia mengubur koper kosong.

“Apa kau benar-benar  membunuh Ha Yeon?” tanya Eun Hye.

Jung Woo kaget, apa?

“Jika tubuh Ha Yeon ada di sana, pertanyaan ini pasti sudah tidak penting. Aku pikir, kita telah  menemukan harapan. Itu sebabnya, kau meninggalkan bukti itu.” ucap Eun Hye.

Eun Hye lalu memperlihatkan rekaman CCTV saat Jung Woo memindahkan koper kosong itu dari rumah ke mobil.  Eun Hye merasa aneh, menurutnya koper itu terlalu ringan dibandingkan dengan berat badan Ha Yeon. Jadi tidak mungkin Jung Woo mengangkat koper yang berisi jasad Ha Yeon semudah itu.

“Kalau itu kosong, berarti Ha Yeon...”

“Kita harus menemukannya. Kita harus cari tahu di mana dia.”


Eun Hye lalu memberikan catatan yang diselipkan Jung Woo ke tangan ibu Ji Soo. Eun Hye berkata, Jung Woo memberikan catatan itu diam2 tiga hari setelah insiden itu, sebelum Jung Woo kehilangan ingatan. Jung Woo pun bingung memikirkan apa maksud ia menulis catatan itu.

“Pasti ada alasan, kenapa kau memintanya  untuk tidak membersihkan rumah. Jawaban untuk keberadaan Ha Yeon mungkin.” ucap Eun Hye.

Jung Woo pun memegang tangan Eun Hye. Ia menatap tajam Eun Hye dan berkata kalau dirinya harus pulang ke rumah. Jung Woo ingin mencari tahu alasan kenapa ia melarang ibu mertuanya membersihkan rumah.

“Tapi bagaimana kau akan pergi?” tanya Eun Hye.

“Temui Detektif Go Dong Yoon.” Suruh Jung Woo.

“Detektif Go terlibat kecelakaan. Tabrak lari. Dia koma.” Ucap Eun Hye.

Jung Woo terkejut. Eun Hye bertanya apa Jung Woo tidak ingat kalau Detektif Go sering mengunjungi Jung Woo. Jung Woo pun mengaku kalau sampai saat ini ia masih belum bisa mengingat apapun. Jung Woo lalu menyuruh Eun Hye meminta bantuan Kepala Jaksa Choi agar ia bisa pulang ke rumah. Ia yakin, Kepala Jaksa Choi bisa membantu mereka.


Deputi Jaksa makan malam dengan Min Ho. Ia memberitahu Min Ho bahwa Seo Eun Hye adalah pengacara yang tidak tahu apa2. Deputi Jaksa bilang, Detektif Go kecelakaan setelah menghubungi Eun Hye. Min Ho menarik napas lega. Tak lama kemudian, Joon Hyuk datang dan Deputi Jaksa memperkenalkan Min Ho sebagai Seon Ho.

“Dia orang yang merekomendasikan posisi untukmu di PBB.” Ucap Deputi Jaksa.

“Kenapa aku?” tanya Joon Hyuk.

“Ini tidak benar, jika orang yang kompeten dibiarkan. Kudengar, ini kesempatan bagus. Ini impian setiap jaksa.” Jawab Min Ho.

“Ini bukanlah posisi untuk sembarang orang.” Ucap Deputi Jaksa pada Joon Hyuk.

Min Ho lalu menanyakan soal sidang banding Jung Woo. Joon Hyuk pun langsung menatap Min Ho. Deputi Jaksa membela Min Ho. Ia berkata, Jung Woo masih terus mengganggu Seon Ho setelah Min Ho meninggal.

“Kudengar, kalian sudah lama berteman. Pasti sulit bagimu, untuk mengambil kasus ini.” ucap Min Ho pada Joon Hyuk.

“Ini bukan seperti kita menjebak orang yang tidak bersalah. Jaksa Kang, aku tidak perlu khawatir soal banding, kan?” tanya Deputi Jaksa pada Joon Hyuk.

Joon Hyuk mencium bau busuk, tapi ia diam saja.

Joon Hyuk yang sedang menuju mobilnya, dapat panggilan dari sang ibu. Sang ibu memberitahu Joon Hyuk bahwa ayah Joon Hyuk mabuk lagi, dia memukul orang dalam keadaan mabuk dan sekarang ditahan.

“Apa yang akan kulakukan dengannya? Aku tidak bisa hidup  karena hal memalukan ini. Bisa kau telepon sekarang? Kau tahu Petugas Kim, kan? Dan… apa kau punya uang? Mereka ingin uang kompensasi. Tapi kemarin, kami baru memperbaiki pemanas. Kami tidak punya uang. Bisa kau kirim 5,000 won?” pinta sang ibu.

Joon Hyuk langsung mematikan panggilannya tanpa menjawab kata2 sang ibu. Ia menghela nafas dua kali setelah mematikan panggilan dari sang ibu.

Eun Hye menemui Kepala Jaksa Choi. Kepala Jaksa Choi meminta Eun Hye menjaga Jung Woo dengan baik. Eun Hye berjanji akan melakukan yang terbaik. Kepala Choi lalu menanyakan kabar Jung Woo. Apa Jung Woo baik2 saja. Eun Hye terdiam. Kepala Choi mengerti kalau Jung Woo tidak baik2 saja. Eun Hye lalu memberitahu Kepala Choi kalau Jung Woo meminta bantuan Kepala Choi.

“Jung Woo? Dia benar2 meminta bantuanku?” tanya Kepala Choi terharu. Eun Hye mengiyakan.


Di ruangannya, Joon Hyuk sedang memandangi surat penunjukkannya sambil mengingat kalimat Min Ho kalau tidak benar menyia2kan orang yang kompeten seperti dirinya.  Joon Hyuk juga ingat sang ibu yang meminta uang darinya dan kata2 Deputi Jaksa kalau penunjukan itu adalah impian setiap jaksa. Joon Hyuk pun menghela napas. Ia bingung harus mengambil keputusan apa.

Tak lama kemudian, Kepala Jaksa Choi masuk dan meminta penjelasan kenapa Joon Hyuk tidak memberitahunya kalau pelaku yang melakukan rekonstruksi bukanlah Jung Woo. Joon Hyuk beralasan, ia melakukannya karena Jung Woo yang kehilangan ingatan.

“Pengacara Jeong Woo akan mengajukan protes resmi. Aku membujuknya untuk saat ini dengan menjanjikannya untuk  membawa Jung Woo ke TKP.” Ucap Kepala Jaksa.

Joon Hyuk tidak setuju Jung Woo dibawa ke TKP.

“Dia bilang, tidak akan membuat masalah jika kita melakukan itu. Kita hanya akan tunjukkan padanya seperti waktu itu. Joon Hyuk-ah, kita urus ini diam-diam.” Ucap Kepala Jaksa Choi.


Di kantornya, Min Ho mendapatkan informasi dari seseorang tentang Jung Woo yang pergi ke kantor kejaksaan.

Kepala Jaksa Choi langsung memeluk Jung Woo dengan erat. Kepala Jaksa Choi meminta maaf karena tidak berhati2 dalam menyelidiki kasus Jung Woo. Kepala Choi lalu menyemangati Jung Woo. Sebelum pergi, Kepala Choi berharap Jung Woo akan mengingat sesuatu setelah tiba di TKP.

Eun Hye sendiri sudah menanti kedatangan Jung Woo di TKP. Tak lama kemudian, Jung Woo datang. Dan bersama2, mereka menuju TKP yang tak lain adalah rumah Jung Woo. Jung Woo terdiam sejenak sebelum akhirnya ia membuka pintu rumahnya.  Begitu masuk ke rumahnya, kenangan akan Ji Soo dan Ha Yeon pun langsung membayanginya. Kenangan itu seakan nyata. Jung Woo bahkan merasa kalau ia sedang memeluk Ha Yeon.


Tangis Jung Woo pun pecah menyadari itu hanya bayangannya saja.
“Ha Yeon-ah, ayah merindukanmu. Ji Soo-ya, Ha Yeon-ah…” tangis Jung Woo.

Joon Hyuk memperingatkan Jung Woo kalau mereka tidak punya banyak waktu. Eun Hye meminta Joon Hyuk memberikan Jung Woo waktu sedikit lagi. Jung Woo berusaha menenangkan dirinya. Namun tangisnya kembali pecah saat ia masuk ke kamar Ha Yeon. Jung Woo sekuat tenaga menahan kesedihannya, namun tangisnya kian membuncah saat ia melihat tempat dimana Ji Soo tergeletak bersimbah darah.


Joon Hyuk memperingatkan sekali lagi kalau mereka tidak punya banyak waktu. Eun Hye meminta Joon Hyuk memberikan tambahan waktu pada Jung Woo. Jung Woo berusaha menenangkan dirinya, meski itu sulit. Saat hendak pergi, tiba2 saja langkahnya terhenti dan ia menoleh ke meja tamu. Ingatan Jung Woo pun kembali. Ingatan saat ia menemukan Ji Soo yang bersimbah darah.

Flashback…


Jung Woo memeluk tubuh Ji Soo yang bersimbah darah itu sambil menangis. Tak lama kemudian, seorang satpam menemukan mereka. Satpam itu begitu terkejut melihat pembunuhan yang terjadi di rumah itu. Ia pun bergegas memanggil polisi. Sementara itu, Jung Woo yang masih meratapi Ji Soo bertanya2, apa yang harus ia lakukan.


Jung Woo lantas kembali membaringkan Ji Soo di lantai. Ia mencium pipi Ji Soo cukup lama, sebelum akhirnya ia merangsek ke meja mengambil kamera videonya. Jung Woo memutar kameranya. Sementara itu, suara sirine polisi terdengar meraung2 diluar. Jung Woo lantas mematikan kameranya. Tak lama setelah itu, polisi pun datang menangkapnya.

Flashback end…

Jung Woo pun akhirnya mengerti  kenapa ia melarang ibu Ji Soo membersihkan rumahnya. Ia lantas mencari2 sim card nya di sekitar meja, tapi ia tak menemukannya di sana. Itu membuat Jung Woo frustasi.

Waktu Jung Woo habis. Ia pun dibawa kembali ke mobil tahanan. Namun Eun Hye meminta waktu sebentar untuk berbicara dengan Jung Woo. Eun Hye mendekati Jung Woo. Ia bertanya, apa Jung Woo mengingat sesuatu. Jung Woo diam saja sembari menatap tajam Eun Hye. Eun Hye mengerti dan berkata akan mengunjungi Jung Woo besok.

Di ruang interogasi kejaksaan, Jung Woo mencoba mengingat2 dimana ia menyembunyikan sim card nya. Tak lama kemudian, Deputi Jaksa datang dan mengaku mencemaskan Jung Woo. Deputi Jaksa lalu menyuruh Jung Woo duduk dan menyalakan pengeras suara diam2. Jung Woo pun langsung menatap curiga Deputi Jaksa.

“Aku sudah dengar. Itu bagus untuk mengunjungi  TKP ketika kau tidak ingat. Aku harusnya datang lebih awal. Jadi apa kau ingat sesuatu?” tanya Deputi Jaksa.

Jung Woo sadar seseorang tengah mengawasinya pun mengaku kalau ia tidak ingat apa2. Ia beralasan kalau dirinya hanya ingin pulang ke rumah saja.

“Sidang banding akan segera dimulai. Aku juga bingung karena kau terus kehilangan  ingatanmu.”  Jawab Deputi Jaksa.

Jung Woo diam saja sambil menebak2 siapa gerangan yang mengawasinya diluar sana.

“Jung Woo-ya, Detektif Go Dong Yoon  mengalami kecelakaan. Itu tabrak lari. Saat itu,  dia baru kembali dari NFS. Dia masih koma.” Ucap Deputi Jaksa.

“Aku tidak tahu.” jawab Jung Woo.

“Apa mungkin kau tahu sesuatu tentang kecelakaan itu? Karena dia tidak ada urusan dengan NFS. Beritahu aku jika kau ingat sesuatu. Itu akan membantu investigasi.” Ucap Deputi Jaksa.

“Siapa jaksa yang menangani itu?” tanya Jung Woo.
“Jaksa Yeo Min Kyung.” Jawab Deputi Jaksa.

“Tapi kenapa kau menemuiku?” batin Jung Woo sambil menatap curiga Deputi Jaksa.

“Kau pasti terkejut juga. Kau dan Dong Yoon  berteman dekat, bukan?” pancing Deputi Jaksa.

“Wakil Jaksa, bisa kau berikan  aku segelas air putih?” pinta Jung Woo.

Deputi Jaksa pun beranjak pergi. Setelah Deputi Jaksa pergi, Jung Woo menatap tajam ke arah kaca. Ia bertanya2, siapa yang sedang mengawasinya di balik kaca. Sementara itu, di balik kaca, Min Ho juga tengah menatap tajam Jung Woo.


Sebelum pergi, Deputi Jaksa meminta Jung Woo memberitahunya kalau Jung Woo ingat sesuatu, entah itu yang berhubungan dengan kasus Detektif Go atau kasus Jung Woo sendiri. Jung Woo mengerti. Petugas pun mulai membawa Jung Woo pergi. Namun tiba2 saja, Jung Woo mendorong dua petugas yang mengawalnya dan menerobos masuk ke bilik pengawas, namun sayangnya Min Ho sudah pergi dari sana.

“Park Jung Woo!  Apa yang kau lakukan!” tegur Deputi Jaksa.

“Bukan apa-apa.” Jawab Jung Woo, lalu melangkah pergi bersama petugas.

Jung Woo dan petugas yang mengawalnya ada di lift. Tak lama kemudian, pintu lift terbuka dan Min Ho sudah berdiri di sana. Min Ho dan Jung Woo saling bertatapan dengan tajam, sebelum akhirnya Min Ho masuk ke lift. Ingatan Min Ho pun melayang ke saat ia bicara dengan dokternya Jung Woo.

Flashback…

Min Ho mengaku kehilangan ingatannya pada dokter Jung Woo. Ia bertanya, apa ada cara untuk mengembalikan ingatannya yang hilang itu. Dokter berkata, hal itu tergantung pada ingatan yang ingin Min Ho lupakan. Semakin banyak kejutan yang dialami Min Ho, maka kecil kemungkinan untuk mengingat semuanya.

Flashback end…


Pintu lift pun terbuka. Jung Woo keluar duluan. Min Ho menatap kepergian Jung Woo dengan seringai lebar bersamaan dengan pintu lift yang kembali tertutup.


Malam harinya, Sung Gyu sedang mempersiapkan dirinya untuk persidangannya nanti.

"Yang Mulia, tuduhan tabrak lari yang jaksa tuduhkan tidak berdasar. " ucap Sung Gyu.

Bangjang, Moongchi, Wooruk dan Milyang bertepuk tangan. Milyang berkata, Sung Gyu cocok menjadi pengacara.  Bangjang menyarankan agar Sung Gyu menjadi pengacara saja setelah bebas nanti. Wooruk menambahkan, akan lebih sempurna kalau Sung Gyu memiliki wajah yang tampan.


"Jika penampilanmu seperti aku, kau bisa jadi jaksa atau pengacara." ucap Moongchi.

"Apa kau gila? Kau itu seperti kera." ejek Wooruk.

"Maksudmu ibuku gorila?" tanya Moongchi.

"Dia mulai lagi deh." jawab Wooruk sebal.

"Kakekku babon dan nenekku gorila gunung?" tanya Moongchi lagi.

"Aku bilang, kau seperti kera." jawab Wooruk.

"Kau menghinaku!" protes Moongchi.

"Aku tidak menghina keluargamu." jawab Wooruk.

"Itu barusan kau menghinaku." ucap Moongchi.


"Kau mau lanjutkan?" lerai Banjang sambil meletakkan kakinya di bahu Moongchi. Moongchi langsung diam. Bangjang lalu menatap Wooruk , bagaimana denganmu? Moocnghi dan Wooruk pun langsung bersalaman.

Tak lama kemudian, Jung Woo datang. Miilyang memberitahu Jung Woo kalau Sung Gyu sedang latihan. Sung Gyu melakukannya persis seperti yang Jung Woo ajarkan. Milyang lalu bertanya, apa semuanya berjalan dengan baik. Jung Woo mengiyakan. Banjang bertanya, kapan persidangan Sung Gyu. Sung Gyu bilang dia akan disidang di hari yang sama dengan Jung Woo. Milyang berharap persidangan keduanya berjalan dengan baik.

"Jika kalian berdua keluar sekaligus, di sini pasti sepi." ucap Banjang.

"Apa maksudmu sepi? Itu bagus dan jadi lebih luas." jawab Wooruk.

"Hey, berhenti bicara!" sentak Bangjang.

"Kalau aku bebas, aku akan sering mengunjungimu." ucap Sung Gyu.

"Jangan pernah datang kemari." jawab Moongchi.

Disaat teman2nya sibuk berdebat, Jung Woo tampak serius memikirkan sesuatu.


Sementara itu, Min Ho menunggu ayahnya di parkiran. Begitu sang ayah datang, ia langsung menyambut sang ayah, tapi sang ayah malah bersikap dingin. Min Ho pun meminta maaf soal yang kekalahannya di malam pendukung kemarin. Ia mengaku sedikit lelah.

"Kau akan memimpin Chamyung. Bagaimana bisa kau begitu? Kau tahu, berapa banyak orang yang mengawasi langkahmu?" ucap CEO Cha sembari menatapnya dengan tajam.

"Aku akan pastikan, itu takkan terjadi lagi." janji Min Ho.

CEO Cha beranjak pergi tanpa mengatakan apapun. Hal itu membuat Min Ho gelisah sekaligus kesal. Min Ho lalu kembali ke ruangannya. Setibanya di sana, ia melihat Yeon Hee yang sudah menunggunya di ruangan rahasia. Min Ho mendekati Yeon Hee. Ia tampaknya tidak suka Yeon Hee ada di ruangan itu.

"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Min Ho.

"Tempat Seon Ho biasa istirahat sudah berubah menjadi ini." jawab Yeon Hee.

Min Ho lalu menarik Yeon Hee keluar. Setibanya diluar, ia menutup pintu ruangan rahasianya sembari menatap tajam Yeon Hee.

"Jangan khawatir. Aku juga berharap, kau tidak akan ketahuan." ucap Yeon Hee.

"Sampai kapan kau akan melakukan ini?" tanya Min Ho.

"Sampai anakku mewarisi Chamyung Group." jawab Yeon Hee berkaca2.

Min Ho lantas memeluk Yeon Hee.

"Yeon Hee-ya,  semuanya sudah kembali  ke tempatnya sekarang, termasuk kau, Eun Soo, dan aku sendiri." ucap Min Ho.

Yeon Hee pun menarik dirinya dari pelukan Min Ho dan berkata kalau Min Ho sudah gila.

"Hanya aku? Bagaimana denganmu? Kau pikir kau tidak?" tanya Min Ho.

Yeon Hee tak habis pikir dengan Min Ho. Ia lalu menghempaskan tangan Min Ho dan beranjak pergi.

"Berapa banyak waktu  yang dia butuhkan?" gumam Min Ho.


Jung Woo dan Cheol Sik kembali mengikis lantai. Cheol Sik penasaran kenapa Jung Woo tak lagi menanyakan apa yang tertulis di lantai. Cheol Sik mengaku kalau ia tidak membutuhkan rokok. Ia berjanji tidak akan menyuruh Jung Woo melakukan hal yang susah. Ia lalu berkata, bahwa ada napi yang tidak bisa ia tangani sendirian karena tubuh napi itu sangat besar. Jadi Cheol Sik ingin pindah sel. Ketika salah satu napi di sel Jung Woo keluar, ia mau pindah ke sel Jung Woo karena itulah ia meminta bantuan Jung Woo.

Tapi saat asyik mengoceh mau pindah ke selnya Jung Woo, Jung Woo melihat selembar kertas di saku Cheol Sik. Jung Woo pun langsung mengambilnya di saat Cheol Sik lemah. Di sana tertulis, Nemo!! Jung Woo pun berusaha mengingat2. Ingatannya pun kembali. Ia ingat saat memberikan makan ikan2nya bersama Ha Yeon.

"Itu dia. Nemo. Di sana tempatnya." gumam Jung Woo.


Tepat saat itu, seseorang datang mengunjungi Jung Woo. Sipir menatap tajam Jung Woo yang dibawa ke ruang kunjungan. Ternyata yang mengunjungi Jung Woo adalah Eun Hye. Pada Eun Hye, ia mengaku bahwa ia sudah ingat kenapa ia melarang ibu Ji Soo membersihkan rumah.

Flashback--saat dibawa petugas, Jung Woo diam2 menjatuhkan sim card nya ke dalam akuariumnya--flashback end.

Jung Woo berkata, pasti ada di akuarium. Sim card nya.

"Aku akan menemukannya." janji Eun Hye.

"Aku mohon bantuanmu." pinta Jung Woo.

Min Ho di ruangannya menerima panggilan dari Deputi Jaksa. Deputi Jaksa meyakinkan Min Ho kalau Jung Woo tidak akan pernah bisa memenangkan kasusnya, jadi Min Ho tidak perlu khawatir. Min Ho senang mendengarnya. Usai bicara dengan Deputi Jaksa, ia dihubungi oleh Kepala Tahanan. Kepala Tahanan memberitahu Min Ho tentang Eun Hye yang sering datang mengunjungi Jung Woo.

"Banding akan datang. Apa yang harus kulakukan? Haruskah aku mengirimnya ke sel hukuman?" tanya Kepala Tahanan.

"Tidak usah. Biarkan saja dia. Aku akan menanganinya kali ini." jawab Min Ho, lalu mematikan panggilannya.

"Semakin mereka bersiap untuk kasus ini, akan semakin hancur mereka setelah kalah nanti." ucap Min Ho, lalu tersenyum sinis.


Usai mengunjungi Jung Woo, Eun Hye langsung ke rumahnya Jung Woo. Setibanya di sana, ia mencari2  sim card di dalam akuarium. Dan tak lama, ia pun menemukan apa yang dicarinya.

Di sel,  Banjang memberikan tofu untuk Jung Woo dan Sung Gyu yang akan bebas sebentar lagi. Wooruk heran bagaimana bisa Bangjang mendapatkan tofu. Sambil menatap Jung Woo, Bangjang  berkata jangan tofu, rokok saja bisa dijual di tahanan. Bangjang lalu menyuruh Jung Woo yang memakan tofunya duluan. Jung Woo memakan tofunya dengan perasaan haru.

Banjang pun menitikkan air mata karena akan kehilangan Jung Woo dan Sung Gyu. Moongchi dan Wooruk pun mulai meledek Bangjang yang menangis. Bangjang pun berkata, kalau hidungnya sedang meler. Tapi Wooruk dan Moongchi yakin Bangjang menangis. Miryang menggenggam tangan Jung Woo. Jung Woo berterima kasih atas bantuan Miryang selama ini.

Tae Soo menatap Jung Woo dengan mata berkaca2 saat Jung Woo hendak naik ke bus tahanan. Namun Tae Soo tidak mengatakan apapun saat Jung Woo memanggilnya. Setelah Jung Woo dan Sung Gyu naik, Tae Soo ikut naik ke bus tahanan. Bus tahanan pun melaju pergi.


Sementara Eun Hye mematung di depan cermin.

"Seo Eun Hye. Tidak masalah jika kau kalah di kasus lain,tapi kau harus menang hari ini. Kau bisa melakukannya." ucap Eun Hye menyemangati dirinya.

Eun Hye lalu keluar dari kamarnya. Begitu keluar, sang bibi menyuruhnya duduk sebentar saja. Sang bibi pun berkata, tidak heran kalau Eun Hye selalu saja kalah di persidangan. Bibi meminta Eun Hye berkaca. Eun Hye bingung sendiri, apa hubungannya persidangan dengan dandanannya.

"Ini bukan segalanya, tapi tak ada salahnya berdandan. Kau sudah lihat betapa bagusnya jaksa dalam menangani kasus. Pastikan kau memenangkan persidangan hari ini!" ucap sang bibi sambil memoleskan lipstick di bibir Eun Hye.

Setibanya di pengadilan, Eun Hye langsung menemui Jung Woo. Eun Hye memberikan hasil analisis gen dari koper yang ditemukan. Gen Ha Yeon tidak ditemukan di sana. Tae Soo yang mendampingi Jung Woo terkejut mendengarnya. Eun Hye juga memberitahu kalau kejaksaan meminta analisis ulang, jadi dibutuhkan beberapa waktu.

" Dan, aku menemukan ini. Kau harus perjuangkan kasusmu." ucap Eun Hye sambil memberikan sim card itu.

Namun Jung Woo takut melihat sim card itu. Ia takut kalau pria yang ada di dalam video itu memang benar dirinya.  Eun Hye tertegun mendengarnya.


Persidangan pun dimulai... Sung Gyu menjalani sidangnya tanpa didampingi oleh pengacara. Jaksa membacakan tuntutannya atas tabrak lari yang dilakukan Sung Gyu. Sung Gyu berkata, kalau ia tak lari dari tempat kejadian.

Anda mengakui tuduhan." ucap jaksa.

"Saat itu..." Sung Gyu mulai bercerita, meski sedikit gugup.


Flashback...

Di ruang interogasi, Sung Gyu tampak dibentak2 oleh jaksa yang menangani kasusnya.

"Anda pikir hanya Anda yang sedang buru-buru? Saya juga sedang buru-buru! Apakah Anda melarikan diri  dari TKP atau tidak!"

Flashback end...

"Pada waktu itu, saya pikir jika Anda menyebabkan kecelakaan  dan meninggalkan TKP, itu tabrak lari. Agar tabrak lari menjadi valid, korban harus terluka. Saya belajar tentang ini. Saat itu, pengemudi lain... jelas tidak terluka." ucap Sung Gyu.

Hakim pun langsung meminta diagnosa medis korban pada jaksa. Jaksa terkejut. Jaksa lalu berbisik pada rekan di sebelahnya, apa Sung Gyu belajar hukum. Rekan di sebelahnya pun berkata kalau Sung Gyu hanya lulusan SMA.

Sementara itu, Sung Gyu teringat kata2 Jung Woo saat mengajarinya.
"Hukum tidak begitu sulit. Melindungi keluargamu yang justru lebih sulit. Kau melakukannya dengan baik. Kau juga mengurus adikmu." ucap Jung Woo.

Beralih ke persidangan Jung Woo. Eun Hye berkata, kalau Jung Woo belum pernah mengakui tuduhan yang dialamatkan padanya. Eun Hye bilang, tuduhan itu didasarkan hanya pada spekulasi jaksa. Eun Hye juga bilang kalau Jung Woo membantah semua tuduhan dan menegaskan dirinya tidak bersalah.

"Koper yang dilklaim jaksa berisi tubuh Ha Yeon ternyata kosong.  Dan, DNA Ha Yeon tidak terdeteksi." ucap Eun Hye.

"Memang benar bahwa  DNA-nya tidak terdeteksi. Namun, hanya karena DNA Ha Yeon tidak ditemukan itu tidak membuktikan bahwa dia tidak ada di dalam koper.Ini satu-satunya rekaman dari terdakwa." ucap Joon Hyuk.


Joon Hyuk lalu memutar rekaman saat Jung Woo memindahkan koper itu dari rumah ke mobil.

"Selain ini, keberadaan Ha Yeon tidak dapat ditemukan. Lalu, di mana Ha Yeon? Koper adalah satu-satunya jawaban. Jika ia dimasukkan ke dalam koper, sudah meninggal dan dibungkus sesuatu,itu akan sulit untuk mendeteksi DNA-nya." jawab Joon Hyuk.


Jung Woo menangis mendengar tuduhan Joon Hyuk.

"Itu bisa saja benar. Namun, sekali lagi itu hanya asumsi jaksa. Itu sudah jelas, karena koper kosong, jaksa gagal membuktikan pembunuhan Ha Yeon." jawab Eun Hye.

Semua mata pun langsung tertuju pada Joon Hyuk. Mereka menantikan jawaban Joon Hyuk.

Kembali ke persidangan Sung Gyo dimana jaksa menyerang Sung Gyu dengan tuduhan Sung Gyu yang menyerang polisi setelah meninggalkan TKP. Sung Gyu pun berkata, kalau ia hanya mendorong polisi itu saja. Jaksa yang tidak percaya, langsung meminta izin hakim untuk menghadirkan polisi yang diserang Sung Gyu sebagai saksi.

"Saat berpatroli, saya melihat  terdakwa melarikan diri dari TKP kecelakaan mobil. Jadi saya mengejarnya dan mengikutinya. Dalam proses penangkapan, dia menolak secara agresif dan itu menyebabkan  perkelahian fisik." ucap polisi yang mengaku diserang Sung Gyu.

"Seperti yang hadirin baru saja dengarkan bahwa terdakwa menyerang polisi yang melaksanakan tugasnya. Oleh karena itu, saya percaya  terdakwa harus dihukum berat karena melawan hukum, mengganggu petugas dalam melaksanakan tugasnya." ucap jaksa.

Sung Gyu membela diri dengan berkata, bahwa ia tidak diberitahu tentang Peraturan Miranda pada saat penangkapan.


Hakim lalu bertanya pada saksi, apa saksi menginformasikan terdakwa mengenai peraturan miranda?

"Pada saat itu, saya mencoba untuk mengontrol terdakwa yang menolak agresif, dan tidak punya waktu." jawab saksi.

Jaksa panic dan langsung mendekati Sung Gyu.

"Anda... Apa Anda tahu apa itu Peraturan Miranda?" tanya jaksa kesal.

"Pada saat penangkapan, saya tidak diberitahukan alasan penangkapan dan bahwa saya  memiliki hak untuk seorang pengacara. Oleh karena itu, pelaksanaan  tugas resminya tidak sah. Ini berarti, saya menolak  tuduhan melanggar hukum. Saya dengan ini menyatakan  bahwa itu membela diri." ucap Sung Gyu lantang, membuat jaksa semakin panic saja.

Kembali ke persidangan Jung Woo. Hakim memanggil Eun Hye dan Joon Hyuk. Ia meminta mereka melewatkan bukti yang sudah didengar pengadilan karena itu adalah persidangan banding. Hakim lalu bertanya apa ada bukti baru. Baik, Eun Hye mau pun Joon Hyuk sama2 mengiyakan. Hal itu, membuat Joon Hyuk terkejut. Sementara Eun Hye tersenyum puas.

Eun Hye lalu memutar rekaman video yang direkam saat kejadian. Joon Hyuk tidak menyangka kubu Jung Woo memiliki bukti itu. Ibu Ji Soo menangis melihat rekaman itu. Dalam rekaman itu terlihat Ji Soo yang sudah berlumuran darah menggapai ke arah kamera.

"Diasumsikan bahwa, Yoon Ji Soo menekan tombol rekam sebelum dia meninggal. Diasumsikan, baterai rendah  dan itu segera dimatikan. Saya akan memutar ulang." ucap Eun Hye.

Eun Hye lalu kembali memutar ulang video itu. Terlihatlah sepasang kaki pria bersepatu hitam berjalan di sekitar Ji Soo yang tidak berdaya.


"Karena kartu memori sudah lama disimpan dalam air,file audio tidak dapat dipulihkan. Namun,seorang suami yang membunuh istrinya setelah pertengkaran panjang tidak akan  pernah mengenakan sepatu di rumahnya. Dan jejak kaki dari sepatu ini tidak ditemukan di dalam rumah. Pada saat polisi tiba, terdakwa memegang istrinya dalam pelukannya tanpa melarikan diri. Apakah ada kemungkinan terdakwa melenyapkan jejak kaki? Orang yang memakai sepatu itu adalah pelakunya, bukan terdakwa." ucap Eun Hye.

Joon Hyuk terdiam. Ibu Ji Soo meminta Tae Soo percaya pada Jung Woo. Joon Hyuk terdiam sejenak, memikirkan sesuatu sebelum akhirnya ia kembali maju ke depan dan berbicara kembali. Tangis Jung Woo mulai bercucuran.


"Itu mungkin saja benar. Lalu mengapa terdakwa tidak bicara tentang video ini ketika ia ditangkap? Itu bisa menjadi bukti substansial yang menguntungkan terdakwa. Dia tidak bisa berbicara tentang itu karena itu dia dalam video. Terdakwa mengatakan sesuatu sebelum terdakwa hilang ingatan. Saya memiliki rekaman videonya." ucap Joon Hyuk.

Joon Hyuk lalu memutar rekaman video saat Jung Woo mengakui dirinya membunuh Ji Soo dan Ha Yeon. Ibu Ji Soo menangis melihat rekaman itu. Sementara Kepala Choi yang menontonnya hanya bisa menghela napas. Jung Woo menangis. Dan Eun Hye syok menatap Jung Woo.
Flashback...

Saat Joon Hyuk menginterogasi Jung Woo. Jung Woo mengaku bahwa ia membunuh Ji Soo dan Ha Yeon. Joon Hyuk ingin tahu alasan Jung Woo melakukannya.  Jung Woo berkata, ia melakukannya karena meragukan Ji Soo. Jung woo lalu mengaku bahwa ia memasukkan Ha Yeon ke dalam koper dan mengubur Ha Yeon, tapi ia tidak ingat dimana mengubur Ha Yeon karena hari sudah malam.

Flashback end...

Joon Hyuk lalu mendekati Jung Woo. Dengan sedikit emosional, ia berkata pemilik sepatu dalam video itu adalah Jung Woo. Jung Woo syok. Ia bertanya2, apa itu memang dirinya? Eun Hye merasa keberatan dengan tuduhan Joon Hyuk. Hakim pun bertanya, kenapa Joon Hyuk tidak menunjukkan video itu di persidangan sebelumnya.

"Meskipun terdakwa mengakui kejahatannya selama penyelidikan,terdakwa membantah semua tuduhan atas dasar bahwa terdakwa hilang ingatan. Kejaksaan tidak bisa mempercayai kebohongan keji terdakwa bahwa ia kehilangan ingatannya. Untuk memastikan bahwa terdakwa tetap dihukum tanpa pengecualian,kejaksaan memutuskan untuk tidak menunjukkan video pada sidang pertama.Namun, terdakwa terus menolak untuk mengakui kejahatannya.Oleh karena itu, kami merasa perlu untuk menunjukkan rekaman video." jawab Joon Hyuk.

Eun Hye tidak bisa berkata apa2 lagi. Sementara ibu terus menangis dalam pelukan Tae Soo. Dan Tae Soo menatap tajam Jung Woo. Sedang Kepala Choi menanti jawaban Jung Woo. Jung Woo menangis. Ia bertanya2 sendiri, apa itu benar2 dirinya.


Hakim pun mulai membaca putusan. Jung Woo dijatuhi hukuman mati bersadarkan bukti itu.

Jung Woo dan Sung Gyu kembali ke sel. Jung Woo turun dari bus tahanannya dengan perasaan terguncang. Tae Soo hanya diam menatap Jung Woo.

Di sel, Wooruk, Bangjang, Moongchi dan Milryang bersiap menyambut Jung Woo dan Sung Gyu. Begitu masuk, Sung Gyu langsung menghentikan teman2nya yang berpikir mereka dibebaskan. Miryang menatap iba Jung Woo. Jung Woo sendiri masih bertanya2, apa benar dia membunuh Ji Soo dan Ha Yeon.

"Aku salah. " ucap Jung Woo.

Jung Woo lalu teringat saat ia memberitahu Joon Hyuk kalau ada seseorang yang bertamu ke rumahnya malam itu. Saat itu, ia mengaku sempat mendengar langkah kaki seseorang. Jung  Woo juga ingat petunjuk2 yang ditulisnya di lantai sel isolasi, serta catatan yang diberikannya pada ibu Ji Soo yang melarang ibu Ji Soo membersihkan rumah.  Ia juga ingat rekaman video saat Ji Soo berdarah2.

Tangis Jung Woo pun kembali berjatuhan....


Wooruk menanyakan soal Jung Woo pada Sung Gyu. Sung Gyu berkata, kalau ia tidak yakin. Wooruk lalu menanyakan bagaimana persidangan Sung Gyu. Sung Gyu berkata, putusan akan dibacakan besok dan jika semua berjalan dengan lancar, ia akan segera bebas. Bangjang bersuka cita mendengarnya. Wooruk langsung menyuruh Bangjang diam.

Jung Woo masih terus menangis. Sung Gyu merasak tidak enak hati pada Jung Woo.

Malam harinya, disaat teman2 satu selnya sudah tidur, Jung Woo mempersiapkan seutas tali. Ia mau gantung diri karena berpikir ia memang membunuh Ji Soo dan Ha Yeon. Tepat saat ia akan menggantungkan lehernya di tali, seseorang tiba2 mengaku kalau dia lah yang melakukannya. Jung Woo menoleh ke bekalang dan melihat Sung Gyu yang duduk sambil menatap ke arahnya.

"Kenapa kau mau membunuh dirimu? Kau tidak melakukannya. Itu aku." ucap Sung Gyu.

"Sung Gyu-ah." ucap Jung Woo sambil menatap Sung Gyu dengan tatapan heran.


Sung Gyu lalu menyanyikan sebuah lagu. Jung Woo teringat saat Ha Yeon menyanyikan lagu itu ketika ia mengantarkan Ha Yeon ke sekolah. Jung Woo lantas mendekati Sung Gyu. Ia bertanya, siapa Sung Gyu sebenarnya. Sung Gyu diam saja sembari menatap Jung Woo. Jung Woo lantas mencengkram leher Sung Gyu, juga menatap tajam Sung Gyu.

"SIAPA KAU!!" teriak Jung Woo.

No comments:

Post a Comment