Tuesday, March 28, 2017

Defendant Ep 7 Part 1

Sebelumnya...


Jung Woo berniat menggantung dirinya karena mengira ia benar2 membunuh Ji Soo dan Ha Yeon. Namun tiba2 saja, Sung Gyu mengaku kalau ia lah yang membunuh istri dan anak Jung Woo. Jung Woo terkejut. Sung Gyo kemudian menyanyikan lagu. Jung Woo ingat saat ia mengantar Ha Yeon ke sekolah, Ha Yeon juga menyanyikan lagu itu.

Jung Woo lantas mendekati Sung Gyu. Ia menatap tajam Sung Gyu dan berteriak, siapa Sung Gyu. Sung Gyu diam saja. Teriakan Jung Woo membuat teman2 satu selnya terbangun. Jung Woo pun mencengkram wajah Sung Gyu dan meminta Sung Gyu mengaku. Namun Sung Gyu tetap diam. Tangis Jung Woo keluar.

Moongchi bergegas memisahkan mereka. Jung Woo terus berteriak2 memaksa Sung Gyu mengaku, tapi Sung Gyu tetap bungkam. Tak lama, petugas datang dan segera membawa Jung Woo keluar. Jung Woo meronta2, meminta petugas melepaskannya. Ia juga bertanya2 sambil berteriak, siapa Sung Gyu.

Kembali ke sel—Bangjang bertanya pada Sung Gyu, apa maksud Jung Woo. Sung Gyu berkata kalau ia juga tak tahu apa maksud Jung Woo. Moongchi lalu melihat plastic yang digantung Jung Woo yang tadinya akan digunakan Jung Woo untuk bunuh diri. Mereka pun langsung meminta penjelasan pada Sung Gyu. Sung Gyu terdiam.


Jung Woo dijebloskan ke sel isolasi. Di sana, Jung Woo berusaha mengingat sesuatu tentang siapa Sung Gyu. Jung Woo pun teringat saat ia sedang memeriksa berkas kasus Sung Gyu, Sung Gyu menyodorkan secangkir kopi padanya. Sung Gyu kemudian bertanya tentang kasus penculikan. Bangjang pun langsung menggeplak kepalanya.

“Sung Gyu-ya, seseorang melakukan kesalahan selama hidupnya namun ada 3 hal yang tidak boleh dilakukan. Satu membunuh…” ucap Bangjang.

Tatapan Wooruk dan Moongchi pun langsung mengarah pada Jung Woo.


“Dua memperkosa…” lanjut Bangjang, membuat Wooruk dan Moongchi saling menunjuk satu sama lain.

“Dan ketiga, menculik. Tiga kejahatan itu tidak bisa dimaafkan.” Ucap Wooruk.


“Aku hanya bertanya karena aku penasaran.” Jawab Sung Gyu.

“Jangan penasaran pada hal2 semacam itu.” ucap Wooruk.

Flashback end…


Jung Woo juga teringat pertanyaan Sung Gyu, kalau semua berjalan lancar, apa Sung Gyu akan bebas. Jung Woo lantas mulai berpikir.

Joon Hyuk menghadap Deputi Jaksa. Joon Hyuk sudah selesai mengurus kepindahannya ke New York. Deputi Jaksa senang mendengarnya. Deputi Jaksa lalu bertanya, sampai berapa lama Joon Hyuk akan melanjutkan pencarian. Joon Hyuk berkata, ia yang akan memutuskan kapan dirinya akan berhenti.

“Kalau jasadnya tidak ditemukan, apa kau berencana tidak akan pergi? Seorang jaksa dengan kemampuan sepertimu, tidak akan bisa mendapatkan posisi seperti itu.” ucap Deputi Jaksa.

“Deputi Jaksa.” Jawab Joon Hyuk.

“Aku punya banyak jaksa yang jauh lebih kompeten. Kau bahkan tidak sekompeten Jung Woo. Kau juga bukan berasal dari keluarga terpandang.” Ucap Deputi Jaksa.

Joon Hyuk kesal mendengarnya.

“Jaksa Kang, aku hanya berbicara sesuai dengan kenyataan. Kalau kau terus melanjutkan pencarian, public akan menyangka kalau Ha Yeon masih hidup. Kau seharusnya mengakhiri semuanya disaat waktunya sudah tepat.” Ucap Deputi Jaksa.

“Aku minta maaf. Aku akan menemukan jasad Ha Yeon dan menyerahkanya pada keluarganya.” Jawab Joon Hyuk.

Lalu Kepala Choi datang meminta penjelasan Joon Hyuk yang merahasiakan pengakuan Jung Woo di sidang pertama. Deputi Jaksa menegur Kepala Choi karena mempermasalahkan kasus yang sudah selesai.

“Apakah tidak cukup baginya menerima hukuman disipliner atas perbuatannya?” tanya Kepala Choi.

“Dia bilang dia melakukan itu agar Jung Woo mendapatkan hukuman yang setimpal. Tidak begitu buruk. Ini adalah cara untuk membuktikan kita tidak pilih kasih meskipun Jung Woo bekerja di sini.” Jawab Deputi Jaksa.

“Itu sama saja kau memberi contoh pilih kasih pada orang yang bekerja di sini.” Ucap Kepala Choi.

Kepala Choi lalu meminta penjelasan Joon Hyuk apa Joon Hyuk melakukan itu agar Jung Woo mendapatkan hukuman yang setimpal. Joon Hyuk diam saja. Kepala Choi bertanya lagi, apa masih ada lagi yang Joon Hyuk sembunyikan.

Deputi Jaksa menyela dengan mengatakan apalagi yang mau disembunyikan Joon Hyuk. Deputi Jaksa lalu menyuruh Joon Hyuk pergi karena Joon Hyuk harus bersiap2 ke New York. Kepala Choi membujuk Joon Hyuk. Ia berkata, semua masih belum terlambat. Tapi Joon Hyuk kekeuh dengan keputusannya menuntut hukuman mati untuk Jung Woo.


Diluar, Joon Hyuk teringat Jung Woo yang memintanya menemukan Ha Yeon. Joon Hyuk pun menghela napas dan meneruskan langkahnya.

Hakim membacakan putusannya. Sung Gyu hanya dijatuhi denda 5.000 dollar karena tidak bertindak sesuai aturan. Jaksa yang menangani kasus Sung Gyu pun hanya bisa terdiam menahan malu mendengar putusan hakim.

Sementara itu, Seok menerobos masuk ke ruang sidang, namun sidang sudah berakhir. Seok kemudian meninggalkan ruang sidang dan berlari dengan terburu2.


Jung Woo divonis hukuman mati. CEO Cha yang menonton berita vonis mati Jung Woo di TV, langsung memanggil Min Ho. Begitu Min Ho datang, CEO Cha langsung meminta pendapat Min Ho soal vonis mati Jung Woo.

“Aku juga sudah mendengarnya.” Jawab Min Ho.

“Bagaimana bisa dia membunuh keluarganya? Aku tidak mengerti.” Ucaap CEO Cha.

CEO Cha lalu menatap tajam Min Ho.

“Menurutmu, apa motifnya?” tanya CEO Cha.

“Aku juga tidak tahu.” jawab Min Ho.

“Dan juga, jasad putrinya masih belum ditemukan.” Ucap CEO Cha.

“Aku tidak yakin apakah hukum sudah bertindak dengan semestinya.” Jawab Min Ho.


CEO Cha kemudian menyuruh Min Ho duduk. Min Ho duduk, namun ponselnya tiba2 saja berdering. Seok lah yang menghubungi Min Ho. Seok memberitahu tentang Sung Gyu yang menghilang Min Ho terkejut. Seok curiga Sung Gyu pergi ke suatu tempat. Min Ho pun menyuruh Seok mencari Sung Gyu.

CEO Cha langsung menatap curiga Min Ho. Ia ingin tahu siapa yang menelpon Min Ho. Min Ho berkata, itu bukanlah sesuatu yang penting.

“Sesuatu yang tidak penting itu mungkin akan kembali dan menggigitmu.” Ucap CEO Cha.

Setelah keluar dari ruangan CEO Cha, Min Ho menghubungi Kepala Tahanan. Min Ho menanyakan Jung Woo. Kepala Tahanan mengaku bahwa ia langsung memasukkan Jung Woo ke dalam sel isolasi setelah mendapat telepon dari Min Ho pagi tadi.

“Jangan pernah kau keluarkan dia sampai aku memberi izin. Kau juga tidak boleh membiarkan dia menerima kunjungan atau menerima telepon.” Ucap Min Ho.


Usai berbicara dengan Min Ho, Kepala Tahanan marah2 karena Min Ho memerintahnya seenak jidat. Kepala Tahanan lalu bertanya pada sipir yang membenci Jung Woo, haruskah mereka mengecek Jung Woo. Sipir pun bergegas mengecek Jung Woo.

Sementara di ruangannya, Min Ho sedang melihat rekaman Ji Soo yang berdarah2. Min Ho bertanya2, darimana Jung Woo mendapatkan rekaman itu? Apakah ingatan Jung Woo sudah kembali?

Di sel isolasi, Jung Woo memohon izin pada petugas untuk menghubungi seseorang. Tak lama kemudian, Kepala Tahanan dan sipir datang. Kepala Tahanan memberikan ponselnya pada Jung Woo. Namun saat Jung Woo hendak mengambilnya, Kepala Tahanan malah menjauhkan ponsel itu dari tangan Jung Woo dan menertawakan Jung Woo.

“Tahanan 3866, kasusmu sudah berakhir. Sebaiknya kau membiasakan diri tinggal di sini.” Ucap Kepala Tahanan.

Kepala Tahanan lalu pergi. Sebelum pergi, Kepala Tahanan meminta sipir mengawasi Jung Woo. Ponsel Kepala Tahanan tiba2 berbunyi. Kepala Tahanan kesal membaca nama Min Ho di layar ponselnya. Kepala Tahanan lalu beranjak pergi.

Di sel, Jung Woo merasa pernah mendengar nada dering Kepala Tahanan. Jung Woo berusaha mengingat dimana ia pernah mendengar nada dering itu.

Flashback…

[Hari Penahanan Jung Woo]

Jung Woo duduk di ruang interogasi kejaksaan. Tak lama kemudian, ia mendengar suara Ha Yeon yang memanggil2 dirinya dari balik kaca. Jung Woo pun berusaha menggedor2 pintu dan juga kaca, namun sia2 saja. Jung Woo lantas kembali duduk dan berbicara dengan Ha Yeon lewat mic.

“Ayah, aku merindukanmu. Cepatlah datang.” pinta Ha Yeon.

“Ayah akan segera ke sana secepatnya.” Jawab Jung Woo.


“Apa Ibu juga akan datang?” tanya Ha Yeon
“Ibu? Ibu… Ibu sedang agak sakit.” Jawab Jung Woo di sela tangisnya.

“Apa dia sakit?” tanya Ha Yeon.

“Sedikit. Jadi, Ha Yeon-ah,  kau harus bersikap pemberani
dan tunggu kami.” jawab Jung Woo.

“Baiklah.” Ucap Ha Yeon.


“Ha Yeon-ah, Kalau kita bertemu nanti, kita akan jalan-jalan dan membeli kucing.” Janji Jung Woo.

“Benarkah?” tanya Ha Yeon.

“Ayah janji.” Jawab Jung Woo.

“Ayah, apa Ayah menangis?” tanya Ha Yeon.

“Tidak, tidak. Ayah tidak menangis.” Jawab Jung Woo.


Lalu tiba2 saja, suara Ha Yeon menghilang. Dan Jung Woo pun mendengar nada dering itu. Jung Woo marah. Ia mengambil kursi dan berusaha memecahkan kaca dengan kursi itu, namun sia2.

“Kau harusnya mengaku saja kalau kau mau Ha Yeon tetap hidup.” ucap seseorang.

Jung Woo pun langsung terduduk lemas mendengarnya. Tak lama kemudian, Joon Hyuk datang dan terheran2 mendapati Jung Woo yang duduk di lantai dengan wajah syok.

Flashback end…


“Aku ingat. Aku ingat sekarang.” gumam Jung Woo.

Adegan lalu berpindah pada Tae Soo yang sedang menunggui ibunya di rumah sakit. Sang ibu menyebut2 nama Ha Yeon, sebelum akhirnya ia membuka matanya.

“Ibu. Apa Ibu baik-baik saja? Tetanggamu menelpon. Mereka memberitahuku kalau Ibu pingsan di restoran.” Ucap Tae Soo.

“Tae Soo-ya, ibu bermimpi. Jung Woo mengatakan sesuatu yang aneh. Dia tidak melakukannya, kan? Bukan dia pelakunya, kan?” jawab sang ibu.

Tae Soo diam saja dan menunduk sedih.


Di sel, Jung Woo berusaha mengingat2 siapa Sung Gyu.

Flashback…

Sung Gyu berkata pada Jung Woo yang mempelajari berkas kasusnya kalau ia harus keluar dari penjara bagaimana pun caranya. Moongchi bertanya, bagaimana cara Sung Gyu mendapatkan biaya transplantasi untuk sang adik.


“Kau bilang kau punya banyak rumah judi. Apakah kau tidak punya setumpuk uang yang kau sembunyikan entah di mana?” ucap Wooruk pada Bangjang.

“Hei, kau ini yang benar saja.” Jawab Bangjang.

Bangjang lalu bicara pada Sung Gyu.

“Sung Gyu-ya, kalau aku masih punya bisnis sebanyak itu, aku pasti akan langsung memberikan uangnya padamu. Tapi sekarang aku di sini. Aku jadi gila karenanya.” Ucap Bangjang.

“Kau harusnya menguburkan uangnya.” Jawab Wooruk.

“Aku baik2 saja. Aku hanya perlu keluar dari penjara saja kali ini.” ucap Sung Gyu.

Flashback end…

Jung Woo pun berusaha mengingat2 berkas kasus Sung Gyu yang sempat dipelajarinya.

“Lee Sung Gyu. Angkanya 901216 dan 11... Apa ini? Persimpangan Mokhwa. Nomornya adalah 901216 dan 11. Nomornya adalah 901216 dan 11.” Ucap Jung Woo.

Tiba2, Jung Woo mendengar suara petugas. Jung Woo pun langsung mendekati pintu dan berteriak memanggil petugas. Petugas yang datang adalah Tae Soo. Tae Soo membuka pintu sel dan memukuli Jung Woo secara membabi buta.

“Kalau kau memanggil nama Ha Yeon sekali saja,akan kubunuh kau.” ancam Tae Soo.

“Aku harus menyelamatkan Ha Yeon.” Pinta Jung Woo.

“Diam kau, pembohong.” Ucap Tae Soo.

“Aku harus menyelamatkan Ha Yeon. Izinkan aku melakukan satu panggilan saja.” Pinta Jung Woo.

“Aku bilang tutup mulutmu!” teriak Tae Soo.

Tae Soo pun akhirnya berhenti memukuli Jung Woo setelah Jung Woo jatuh tersungkur. Dengan wajah yang babak belur, Jung Woo terus memohon agar ia diizinkan menghubungi seseorang untuk menyelamatkan Ha Yeon.


Eun Hye frustasi karena tidak bisa memenangkan kasus Jung Woo. Tak lama kemudian, bibinya datang dan meminta Eun Hye tidak berlebihan begitu karena ini bukan pertama kalinya Eun Hye kalah dalam sidang.

“Kali ini berbeda.” Jawab Eun Hye.

“Apa bedanya kasus ini dengan yang lain? Aku tadinya tidak mau mengatakannya padamu tapi aku tidak begitu suka kau membela seorang pria yang membunuh anak dan istrinya sendiri. Dia adalah seorang pembunuh, kan?” ucap bibi.

Eun Hye diam saja.

“Lihat. Kau bahkan tidak bisa membantahnya. Kalau kau pengacaranya sendiri tidak bisa menjamin dia tidak bersalah, lantas siapa yang akan percaya?” ucap bibi.

“Bibi, ucapan Bibi kasar sekali.” Protes Eun Hye.

Bibi lalu membereskan kertas2 di meja Eun Hye dan menemukan surat pengunduran diri Eun Hye. Bibi menasehati Eun Hye, kalau Jung Woo bukanlah satu2nya klien Eun Hye dan meminta Eun Hye melupakan kasus Jung Woo.


Milyang berkata pada teman2nya kalau ia penasaran apakah Jung Woo baik2 saja karena Jung Woo sudah terlalu lama mendekam di sel isolasi.

“Benar. Sudah berapa hari dia di sana?” ucap Moongchi.

“Satu, dua, tiga, empat… Astaga. Sudah 4 hari.Dia pasti sangat menderita sekarang.” jawab Wooruk.

“Tidak biasanya kau mencemaskannya. Padahal kau baru saja bilangkalau sel-nya akan jadi lebih luas tanpanya.” Ucap Bangjang, yang langsung membuat Woorukterdiam.

“Omong-omong apa itu benar?” tanya Bangjang.

“Apanya?” tanya Wooruk.

Bangjang pun menunjuk ke sebuah ruangan.

“Apa kau ditipu oleh semua orang seumur hidupmu? Beritanya kan sudah menyebar kemana-mana.” Jawab Wooruk.

“Apa yang kau bicarakan?” tanya Milyang. Moongchi juga terlihat penasaran.

“Berita tentang petugas kesehatan baru yang katanya cantik.” Jawab Wooruk.

“Kau ini. Semua yang pakai rok kau bilang cantik.” Ucap Moongchi.


Dua petugas yang mendampingi mereka pun tertawa geli mendengar jawaban Moongchi.


“Aku mengatakan yang sebenarnya. Kudengar dia juga harum.” Ucap Wooruk.

“Dia harum?” tanya Bangjang.
Bangjang pun bergegas masuk ke dalam. Tak lama kemudian, ia keluar dan mengacungkan jempolnya pada teman2nya yang menanti jawabannya. Wooruk langsung masuk, tak lama kemudian ia keluar dengan wajah bahagia. Moongchi ingin masuk, tapi Milyang mendahuluinya. Milyang pun keluar dengan wajah tersipu malu. Giliran Moongchi yang masuk.


Moongchi tak henti2nya memandangi wajah cantik dokternya Jung Woo.Sementara dokter Jung Woo sedang memeriksa catatan kesehatan Moongchi.

“Apa kau Cheon Pil Jae?” tanya dokter Jung Woo.

“Kau bisa memanggilku Moongchi.” Jawab Moongchi.

“Bagaimana?” tanya dokter.

“Kau cantik, tentu saja.” Jawab Moongchi.

“Tak apa. Seseorang mungkin saja merasa aku ini cantik.” Ucap dokter.

Dokter lalu bertanya, apa keluhan Moongchi. Moongchi mengaku kalau ia sangat kuat. Moongchi lalu menunjukkan otot kuatnya, tapi ujung2nya dia membentuk tanda love dengan tangannya. Dokter Jung Woo pun tertawa geli melihatnya.

Moongchi lantas keluar dari ruangan dokter dengan wajah ceria. Kedua petugas pun mengajak mereka kembali ke sel. Para tahanan pun bertanya2, apa jadwal mereka selanjutnya. Petugas pun memberitahu kalau terapi seni sudah disiapkan untuk para tahanan.

“Terapi seni? Kami lebih suka kelas menari daripada terapi.” Jawab Wooruk.

Keempat tahanan itu pun mulai menarikan Cheer Up milik Twice.

Kembali ke dokternya Jung Woo yang meminta bertemu dengan Jung Woo. Sipir beralasan kalau mereka mengisolasi Jung Woo karena Jung Woo membuat masalah.

“Dia adalah Jaksa Park Jung Woo yang terkenal itu, kan? Bisa aku menemuinya? Aku melihat catatannya,tapi tidak ada catatan medis sama sekali. Kudengar dia kehilangan ingatannya karena insiden itu tapi di sini tidak ditulis. Aku tidak mengerti.” Ucap dokter.

“Kedengarannya aku sengaja menghalanginya untuk mendapatkan penanganan medis. Bukankah begitu maksudmu?” tanya sipir.

“Aku hanya mau bertemu dengan mereka semua.” Pinta dokter.

“Kau bisa bertemu dengannya setelah dia lebih tenang.” Jawab sipir.

“Aku adalah dokter di sini!  Bawa dia ke ruanganku. Biar aku yang menentukan!” ucap dokter dengan nada tegas.

“Aku harus melaporkannya lebih dulu.” Jawab sipir.

“Kau kan kepala keamanan di sini. Dan sepertinya kau tidak sepenuhnya punya kuasa di sini.” Ucap dokter.


Sipir pun tak punya pilihan lain selain menuruti perintah dokter. Begitu bertemu Jung Woo, dokter terkejut melihat wajah Jung Woo yang babak belur.

“Bagaimana bisa kau membiarkannya dalam kondisi seperti ini?” protes dokter.

Dokter lalu berbicara pada Jung Woo.

“Park Jung Woo-ssi, kau ingat padaku? Kita pernah bertemu beberapa kali dengan Jaksa Kang Joon Hyuk.Aku akan menolongmu.” Ucap dokter.


Jung Woo diam saja. Dokter yang mengerti menyuruh petugas meninggalkan mereka. Petugas melarangnya dengan alasan Jung Woo orang yang berbahaya.
“Aku tidak merasa dia berbahaya sama sekali. Aku tidak akan melaporkan ini ke Departemen Hukum.” Ancam dokter.


Petugas pun tak punya pilihan lain selain keluar dari ruangan itu. Begitu petugas keluar, Jung Woo pun langsung membekap mulut dokternya. Sang dokter terkejut.

“Kau bilang kau mau menolongku. Biarkan aku membuat satu panggilan.” Pinta Jung Woo.


Eun Hye sudah menyerahkan surat pengunduran dirinya. Tepat saat itu, Jung Woo menghubunginya. Eun Hye pun langsung mengambil kembali surat pengunduran dirinya saat Jung Woo bertanya, apakah ia masih pengacaranya Jung Woo.

“Ya, tentu saja.Apa yang terjadi?” tanya Eun Hye.

“Aku menemukan seseorang.” jawab Jung Woo.

“Siapa?” tanya Eun Hye.

“Namanya Lee Sung Gyu. Dia tinggal bersama denganku di dalam sel,tapi dia baru saja dibebaskan. Dia tahu apa yang terjadi di malam pembunuhan itu. Dia tahu soal Ha Yeon. Kita harus menemukannya.” Jawab Jung Woo.

“Kau tahu nomor KTPnya?” tanya Eun Hye.

“Nomornya 901216….” Jawab Jung Woo.

“Itu saja?” tanya Eun Hye.

“Mohon temukan dia secepat yang kau bisa.” pinta Jung Woo.

“Aku akan segera ke sana begitu aku menemukannya.” Ucap Eun Hye.

Selesai menelpon, Jung Woo pun kembali menatap dokternya. Sang dokter pun mulai mempercayai Jung Woo. Hal itu terlihat dari tatapan matanya.


Sipir yang gelisah karena Jung Woo sudah terlalu lama di dalam, akhirnya menerobos masuk dan menemukan dokter yang sedang mengobati luka Jung Woo.

“Lukamu akan sembuh dalam  beberapa hari. Sampai ketemu lain kali.” Ucap dokter.

“Terima kasih.” Jawab Jung Woo, lalu beranjak pergi.

“Kepala Keamanan, aku punya permintaan. Kondisi psikologisnya sedang tidak stabil sekarang, karena vonisnya dan masalahnya yang lain. Sangat bahaya membiarkan dia sendirian sekarang ini.” pinta dokter.

“Apakah kau akan membuat laporan ke Departemen Hukum?” tanya sipir.

“Ini adalah permintaan.” Jawab dokter.

Sipir pun beranjak pergi dengan wajah tak senang.

Eun Hye pergi menemui Jung Woo. Ia meminta penjelasan Jung Woo terkait video pengakuan Jung Woo yang membunuh Ji Soo dan Ha Yeon.Eun Hye berkata, kalau ia tahu sejak awal ada video itu, Jung Woo pasti bisa menghindari hukuman mati.

“Aku sudah memberitahumu. Ini adalah sidang yang tidak akan bisa kau menangkan.” Jawab Joon Hyuk.

“Jadi sekarang kau sudah puas?” tanya Eun Hye.

“Puas? Aku kehilangan dua temanku dan juga Ha Yeon. Apa menurutmu aku puas sekarang.” ucap Joon Hyuk.

“Maksudku adalah…”

“Sidangnya sudah berakhir.”

“Tidak, ini belum berakhir. Masih ada banding terakhir.” Jawab Eun Hye.

“Kau mau melakukannya?” tanya Joon Hyuk.

“Aku belum memutuskan.” Jawab Eun Hye.

“Lakukan saja. Saat itu, Jung Woo mungkin sudah menerima hukumannya. Jagalah dia dengan baik.” Ucap Joon Hyuk, lalu beranjak pergi.

No comments:

Post a Comment