Thursday, March 30, 2017

Defendant Ep 9 Part 2

Sebelumnya...


Di kamarnya, Eun Hye melihat foto Sung Gyu dan Ha Yeon. Ia pun bertanya2, dimana mereka sebenarnya? Apa mereka bersama? Bibi lalu masuk memberikan camilan untuk Eun Hye. Eun Hye bertanya, apa bibinya sudah bertemu dengan pria pemilik mata indah itu. Tapi bibi tidak mau menjawab dan menyuruh Eun Hye makan. Bibi lalu melihat berkas kasus Eun Hye dan berkomentar kalau Eun Hye sekarang terlihat seperti pengacara. Bibi pun tersenyum bangga.

“Semoga beruntung.” Ucap bibi kemudian.

“Terima kasih untuk makanannya.” Jawab Eun Hye.


Bibi pun keluar dari kamar Eun Hye. Eun Hye kemudian membaca berkas kasus milik klien barunya dan terkejut mengetahui kliennya ditahan di Woljeong, penjara yang sama dengan Jung Woo.


Jung Woo mendekam di toilet disaat semua orang sudah tidur. Ia menangis sendirian mengingat Ha Yeon. Puas melampiaskan emosinya dengan menangis, Jung Woo kembali tidur. Dalam tidurnya, ia kembali memimpikan Ha Yeon dan Ji Soo yang membangunkannya. Tak lama, Jung Woo pun terbangun dengan kaget. Kata2 dokternya pun terngiang di telinganya.

“Kau memimpikan saat-saat yang paling kau inginkan untuk kembali. Jawabannya mungkin ada dalam mimpi itu. Sebentar lagi kau akan kehilangan ingatanmu lagi.” Ucap dokter.

“Tidak.” Gumam Jung Woo.

Jung Woo lantas menatap Min Ho dengan tatapan marah.

Adegan pun berpindah pada Sung Gyu yang mengajak Ha Yeon makan di sebuah kedai. Ketika orang2 mulai mendatangi kedai, Sung Gyu pun langsung menutupi wajahnya dengan topinya. Melihat Ha Yeon yang makan dengan lahap, Sung Gyu berusaha menahan tangisnya.


Joon Hyuk diberi selamat oleh Deputi Jaksa atas penghargaan yang baru saja diterimanya. Joon Hyuk pun berterima kasih pada Deputi Jaksa. Deputi Jaksa berkata, itu semua berkat kerja keras Joon Hyuk sendiri jadi Joon Hyuk tak perlu berterima kasih padanya. Joon Hyuk lalu menanyakan kasus Min Ho. Deputi Jaksa pun meminta Joon Hyuk menangani kasus Min Ho sampai selesai dan melarang Joon Hyuk menekan Min Ho.

Eun Hye menemui Jung Woo setelah dia menemui kliennya yg lain di penjara itu. Eun Hye juga mengaku mampir untuk menanyakan sesuatu pada Jung Woo, tapi Jung Woo langsung berkata kalau ia ingat siapa pembunuh Ji Soo.  Jung Woo pun memberitahu pembunuhnya bernama Cha Min Ho dan sekarang Min Ho tinggal satu sel dengannya. Jung Woo juga berkata, kalau sekarang Min Ho menggunakan nama Seon Ho dan menjadi Presdir Grup Chamyung. Eun Hye terkejut.

“Kenapa? Kau mengenalnya?” tanya Jung Woo.

“Dia adalah klien… yang baru saja aku temui.” Jawab Eun Hye.

Flashback!

Eun Hye menemui Min Ho dan memperkenalkan dirinya pada Min Ho. Eun Hye lalu bertanya, kenapa orang seperti ‘Seon Ho’ memilih pengacara seperti dirinya, bukan dari firma hukum yang terkenal. Min Ho diam saja. Eun Hye pun berjanji akan mengerahkan seluruh kemampuannya.

Flashback end!


“Dia mungkin saja sengaja memilihmu karena aku.” jawab Jung Woo.

“Apa yang harus kulakukan?” tanya Eun Hye.

“Berpura-pura saja kau tidak tahu apa-apa. Kau tidak tahu soal ingatanku yang sudah kembali, dan kau tidak tahu dia Cha Min Ho. Aku akan fokus pada perpindahanku ke penjara lain.” Jawab Jung Woo.

“Aku tidak yakin kalau melarikan diri adalah pilihan yang benar.” ucap Eun Hye ragu.

“Kalau aku berhasil menemukan Ha Yeon, aku akan menyerahkan diri. Dan aku akan mengikuti sidang ulang. Kalau aku dinyatakan tidak bersalah, aku tidak akan dihukum karena melarikan diri dari penjara.” Jawab Jung Woo.


Eun Hye lalu menunjukkan foto tempat pisau. Ada dua tempat yang kosong di sana.

“Semua bukti menyatakan kalau kaulah pelakunya tapi aku yakin akan menemukan sesuatu dari penyelidikan ini dan aku menemukan ini. Dua pisau hilang. Aku sudah bertanya pada Nyonya Oh Jeong Hee soal ini. Dia bilang, sebelumnya pisaunya ada di sana. Kalau satu lagi dijadikan barang bukti, pisau yang satunya lagi ke mana?” ucap Eun Hye.

“Aku yang menyembunyikannya.” Jawab Jung Woo.

Eun Hye kaget, apa?

“ Itu adalah pisau yang digunakan Cha Min Ho untuk menikam Ji Soo. Aku menyembunyikannya. Ada darah Cha Min Ho di pisau itu.” jawab Jung Woo.

“Jadi maksudmu…?” tanya Eun Hye.

“Itu akan jadi bukti kunci di persidangan. Aku menyembunyikan hasil penyelidikan yang menunjukkan adanya identitas Cha Min Ho di pisau itu.” jawab Jung Woo.


“Di mana kau sembunyikan itu?” tanya Eun Hye.

“Pertama, aku akan fokus untuk proses transferku ke rutan yang baru.” Jawab Jung Woo.

Jung Woo lalu menyuruh Eun Hye mencari Ha Yeon. Eun Hye mengerti. Jung Woo juga minta Eun Hye hati2 pada Min Ho.


Sementara itu, di ruangan Kepala Sipir, Min Ho yang berdiri di depan jendela berkata kalau Jung Woo dan Eun Hye hanya melakukan hal bodoh.

Di sisi lain, kita melihat Joon Hyuk yang menerima penghargaan dari Kepala Jaksa. Usai menerima penghargaan itu, Joon Hyuk dan seluruh teman2 jaksanya pergi makan2. Tak lama, Deputi Jaksa memanggil Joon Hyuk dan membawa Joon Hyuk ke ruangan yang diperuntukkan khusus untuk para petinggi kejaksaan.

Usai berpesta, Joon Hyuk kembali ke ruangannya. Sampai di ruangannya, ia menelpon sang ibu untuk memberitahu tentang dirinya yang mendapat penghargaan. Sang ibu pun mengaku bangga pada Joon Hyuk. Joon Hyuk lantas menanyakan ayahnya. Sang ibu bilang kalau ayah Joon Hyuk pergi minum2 lagi.

“Bilang padanya jangan terlalu banyak minum. Kalian berdua harus datang mengunjungiku kalau aku sudah di Amerika nanti. Kalian berdua bisa jalan-jalan.” Ucap Joon Hyuk.

“Mendengarnya saja aku sudah merasa senang.” Jawab sang ibu.

Joon Hyuk lantas ingin mengatakan sesuatu, tapi sang ibu langsung menyudahi pembicaraan mereka dengan alasan agar Joon Hyuk bisa istirahat. Joon Hyuk tampak tertekan.

Tak lama, ponsel Joon Hyuk kembali berdering. Dia mengira yang menghubunginya adalah ayahnya. Mata Joon Hyuk pun langsung terbelalak mengetahui yang menghubunginya Ha Yeon. Tapi Ha Yeon belum sempat bicara apa2, Sung Gyu sudah datang dan memutuskan teleponnya. Sung Gyu lalu melihat buku Ha Yeon. Ternyata Ha Yeon membawa buku kecil berisi nomor telepon orang2 yang harus ia hubungi kalau ia tersesat.

“Ha Yeon. Kau menelpon siapa?” tanya Sung Gyu lembut.

“Ayahku benar pergi untuk menangkap orang jahat, kan?” tanya Ha Yeon.

“Apa?” Sung Gyu kaget.

“Ayah tidak menjawab telponnya. Ibu juga tidak. Ayah tidak melakukan itu pada Ibu, kan? Aku melihatnya di gereja. Apa yang kulihat di TV itu semua bohong, kan? Yang kau katakan padaku adalah kebenarannya, kan? Kau bilang kalau aku bersikap baik, Ayah dan Ibu akan datang menjemputku.” Ucap Ha Yeon.

Ha Yeon pun menangis. Sung Gyu iba dan langsung memeluk Ha Yeon. Ia menenangkan Ha Yeon dan meminta Ha Yeon hanya percaya padanya.


Di ruangannya, Joon Hyuk benar2 syok dengan fakta tentang Ha Yeon yang masih hidup. Joon Hyuk lantas menatap piagam penghargaannya dan berkata, seandainya Ha Yeon menghubunginya lebih cepat… Joon Hyuk lantas membanting semua barang2nya di meja termasuk piagam penghargaannya. Joon Hyuk tampak begitu menyesal. Dengan wajah menyesal, ia terus2an menyebut nama Ha Yeon.


Tae Soo baru saja kembali ke ruangannya sehabis berkeliling. Tae Soo lantas mengecek ponselnya dan mendapati ada 3 panggilan tak terjawab. Mungkinkah itu dari Ha Yeon????

Ha Yeon sudah tidur pulas sementara Sung Gyu masih terjaga. Sung Gyu ingin menghubungi 112, namun ia mengingat kembali hari kematian adiknya. Ternyata alasan Sung Gyu mau menculik Ha Yeon karena Seok berjanji akan menyelamatkan adik Sung Gyu, tapi adik Sung Gyu malah meninggal.  Seok beralasan, kalau operasi adik Sung Gyu berhasil, tapi adik Sung Gyu meninggal karena kondisi yang terlalu lemah.

“Aku memperingatkanmu untuk jaga-jaga. Kau sebaiknya jangan melakukan sesuatu yang bodoh. Misalnya, menyerahkan diri karena adikmu sudah meninggal. Jangan melakukan sesuatu macam itu. Kalaupun kau melakukan itu, kaulah yang akan disalahkan atas semua ini. Apa yang kami inginkan.. hanyalah agar Jaksa Park menjadi tersangkanya.” Ucap Seok saat itu.


Dan Sung Gyu pun membatalkan niatnya menghubungi nomor 112. Sung Gyu lalu menatap Ha Yeon. Ia menyelimuti Ha Yeon dan berkata kalau ayah Ha Yeon akan segera datang.

Kembali ke sel, dimana Bangjang cs bertanya2 dimana Min Ho. Sementara Jung Woo berdiri menghadap keluar jendela. Tak lama, Petugas Moon—rekannya Tae Soo—datang memberitahu kalau ada tamu untuk Jung Woo.

“Astaga, dia selalu kedatangan tamu.  Aku harap kau juga kedatangan tamu, Tahanan 2835.” Ucap Moongchi pada Wooruk.

“Di sini terlalu jauh. Siapa yang akan repot-repot berkunjung. Semua orang ingin mengunjungiku, tapi aku melarang mereka. Aku akan segera keluar.” Jawab Wooruk.

“Dia tidak punya keluarga.” Ucap Moongchi, membuat Wooruk langsung menatapnya galak.

Diluar sel, Jung Woo ingin tahu siapa tamunya. Sayangnya, Petugas Moon tidak tahu. Rekan Petugas Moon berkata, kalau yang ia tahu tamunya adalah seorang anak kecil. Jung Woo terkejut, tapi kemudian Jung Woo langsung sadar kalau itu hanya jebakan. Benar saja! Min Ho mengawasi Jung Woo dari lantai atas. Jung Woo pun langsung mengamuk dan berkata kalau Ha Yeon sudah mati. Bangjang cs yang mengintip dari sela pintu pun merasa kalau Jung Woo kehilangan ingatan lagi. Karena Jung Woo terus mengamuk, petugas akhirnya menjebloskannya ke sel isolasi.

“Cha Min Ho.  Semua tidak akan berjalan seperti kemauanmu.” Gumam Jung Woo setelah berada di sel isolasi.

“Ha Yeon, tunggu Ayah. Ayah akan segera menemuimu.” Ucap Jung Woo lagi.

Min Ho duduk di pojokan sambil membaca buku, sementara Bangjang cs sibuk membahas Jung Woo yang masih belum kembali.  Moongchi yakin kalau Jung Woo tidak akan dibebaskan dari sel isolasi karena terus membuat masalah sepanjang waktu. Wooruk menyahut tentang Jung Woo yang akan segera dipindahkan.

“Mungkin memang sebaiknya begini. Kita jadi punya ruang yang lebih luas di sini. Dan lebih tenang kalau dia tidak ada.” Ucap Wooruk.

“Tapi aku ingin bertemu dengannya sebelum dia pindah. Kita ini berteman dengannya.” Jawab Bangjang.

“Dia hanya membuat kita stres saja. Dia jadi gila karena persidangan itu.” ucap Bangjang.

“Apa maksudmu?” tanya Bangjang.

“Maksudku waktu dia membuat keributan soal roti itu. Dia bahkan tidak pernah makan roti sebelumnya. Kenapa dia mengamuk hanya karena roti?” ucap Wooruk heran.

“Dia akan membusuk di penjara. Siapa yang tidak akan gila kalau jadi dia?” jawab Moongchi.


“Apa dia akan dipindahkan?” tanya Min Ho.

“Ya. Karena dia sudah divonis mati. Tidak ada ruang eksekusi di rutan ini.” jawab Bangjang.

“Kita tidak akan bisa melihat wajahnya lagi. Selesai.” Ucap Wooruk.

“Bagaimana bisa kau bersikap sedingin itu?” protes Bangjang.

“Dan dia juga tidak punya sopan santun.” Sambung Moongchi.

“Urus saja urusanmu sendiri. Akulah yang jahat di sini.” Sewot Wooruk.

Min Ho pun sadar kenapa Jung Woo begitu menahan diri. Itu semua karena dia akan segera dipindahkan.

Jung Woo mendapat jatah makan, tapi ia tak langsung memakannya. Tae Soo yang melihat itu, menyuruh Jung Woo makan yang banyak karena Jung Woo akan segera dipindahkan. Jung Woo langsung memanggil Tae Soo. Tae Soo pun meminta Jung Woo tidak menyebut namanya lagi.

“Semua sudah berakhir sekarang. Saat kau dipindahkan, kau akan merindukan tempat ini. Secercah cahaya kecilpun tidak ada di sana. Bahkan petugas penjara pun enggan dikirim ke sana.” Ucap Tae Soo.

“Apa maksudmu?” tanya Jung Woo.

“Mereka sudah mengubah penjara barumu. Kau akan dipindahkan ke Rutan Jinpoong.” Jawab Tae Soo.

Jung Woo kaget, Jinpoong?

“ Kau akan tahu kalau kau sudah tiba di sana. Kau pasti akan merasa ingin mati saja.” Ucap Tae Soo.

“Aku sudah menyerah untuk banding. Aku memang harus ke penjara yang memiliki ruang eksekusi.” Jawab Jung Woo.


Tapi Tae Soo tidak menjawab dan malah melangkah pergi. Jung Woo bertanya2, kenapa ia dipindahkan ke Jinpoong. Tak lama, Jung Woo pun sadar kalau semua itu ulah Min Ho.

Dan benar saja! Itu memang ulah Min Ho. Min Ho kini sedang bicara dengan Kepala Sipir di ruangan Kepala Sipir. Kepala Sipir pun berkata, kalau ia sudah memerintah orang2 di rutan Jinpoong untuk mengawasi Jung Woo dengan baik. Sebagai imbalan, Min Ho pun memberikan kartu nama firma hukum terkenal, Lee & Park, pada Kepala Sipir.

“Kenapa sebuah firma hukum membutuhkan aku?” tanya Kepala Sipir.

“Mereka bukan hanya bertugas membela klien di pengadilan. Mereka juga mengurus klien di penjara kalau mereka mendapat masalah.” Jawab Min Ho.

Kelapa Sipir pun tersenyum senang.


Di sel isolasi, Jung Woo mencari cara bagaimana agar ia tidak jadi dipindahkan ke Rutan Jinpoong.


Akhirnya, tibalah saatnya bagi Jung Woo dipindahkan ke Rutan Jinpoong.  Petugas Moon dan rekannya menjemput Jung Woo. Petugas Moon bahkan sampai mengucapkan salam perpisahan segala. Saat hendak dibawa menuju bus, Jung Woo bertemu dengan Milyang yang sudah menunggunya. Milyang memberikan barang2 Jung Woo. Milyang terlihat sedih dan meminta Jung Woo jaga diri baik2.

Jung Woo pun naik ke bus. Tak lama, bus yang dinaiki Jung Woo pun mulai melaju. Min Ho yang melihat kepergian Jung Woo dari ruangan Kepala Sipir bertanya2, apakah Jung Woo akan pergi begitu saja.


Setelah Jung Woo pergi, Kepala Sipir langsung memindahkan Min Ho ke sel khusus orang kaya. Di sana ada tempat tidur dan juga listrik, tempat terbaik yang Woljeong punya. Tapi tetap saja Min Ho tak menyukainya. Kepala Sipir lalu menyuruh Kepala Penjara menyiapkan air panas untuk Min Ho mandi. Tak lama, Kepala Penjara mendapatkan informasi kalau ada masalah di sel isolasi Jung Woo. Kepala Sipir pun langsung memberitahukannya pada Min Ho.


Min Ho masuk ke sel isolasi Jung Woo. Setibanya di sana, ia langsung berteriak kesal memanggil nama Jung Woo.


Sementara di bus, Jung Woo yakin kalau Min Ho akan memanggilnya kembali.


Dugaan Jung Woo benar. Min Ho langsung memerintahkan Kepala Sipir untuk memanggil Jung Woo kembali ke Rutan Woljeong. Kepala Sipir awalnya merasa bingung, tapi ia tetap melakukan perintah Min Ho tanpa bertanya apapun.

Min Ho lantas tertawa kesal sambil melihat tulisan nama aslinya di dinding sel isolasi Jung Woo. Jung Woo menuliskan nama Min Ho dengan darahnya.

Sementara di bus, Jung Woo melihat jari2nya yang terluka semua.


No comments:

Post a Comment