Thursday, April 6, 2017

Defendant Ep 16 Part 1

Sebelumnya...


Jung Woo duduk meringkuk di lantai sambil mencoba meyakinkan dirinya kalau Sung Gyu baik2 saja. Tak lama, Kepala Choi datang membawa kabar kematian Sung Gyu. Tangis Jung Woo langsung pecah.

Joon Hyuk langsung menggelar konferensi pers terkait kematian Sung Gyu. Ia mengumumkan kematian Sung Gyu karena bunuh diri. Media meragukannya, bagaimana bisa tersangka yang mengaku sebagai kaki tangan melakukan bunuh diri. Joon Hyuk menjelaskan, rekaman CCTV menunjukkan kalau Sung Gyu memang bunuh diri dan rekaman saat Sung Gyu mengancam Jung Woo juga telah ditemukan. Media penasaran dengan nasib Jung Woo.


Jung Woo bicara pada Kepala Choi dan Eun Hye kalau Sung Gyu tidak bunuh diri. Kepala Choi pun berpikiran begitu, tapi tak ada bukti yang bisa membuktikan hal itu karena petugas yang berjaga mengaku ada di sana sepanjang waktu. Jung Woo marah, ia menggebrak meja. Kepala Choi dan Eun Hye mengerti kemarahan Jung Woo.

“Itu pasti Cha Min Ho.” Ucap Jung Woo yakin.

“Aku akan coba selidiki lebih dalam. Hasil otopsi akan segara keluar.” Jawab Kepala Choi.

Kepala Choi lantas menyuruh Eun Hye focus pada sidang ulang Jung Woo. Eun Hye mengangguk. Kepala Choi lalu beranjak pergi meninggalkan Jung Woo dan Eun Hye. Eun Hye berpikir, kejaksaan akan memproses kematian Sung Gyu sebagai bunuh diri.

“Itulah yang diinginkan Cha Min Ho. Dia ingin memastikan dirinya tidak akan muncul di persidangan.” Jawab Jung Woo.
“Jika itu benar terjadi, dan kau mengakui itu, kau bisa dibebaskan.” Ucap Eun Hye.

Tapi Jung Woo tak bisa melakukannya. Jung Woo lantas bangkit dari duduknya dan berdiri di depan jendela dengan wajah tertekan. Ingatannya memutar kembali kebersamaannya dengan Sung Gyu saat di penjara, saat mereka tengah bersembunyi di ruang penyimpanan obat bersama Ha Yeon yang tidur pulas di pangkuan Sung Gyu, saat ia menemukan Sung Gyu yang sudah bersimbah darah kena tikam, terakhir saat ia melihat jasad Sung Gyu yang dibawa keluar sel.

Di kantor, Min Ho dihubungi Deputi Jaksa. Min Ho memberi perintah agar semua dilanjutkan sesuai rencana. Deputi Jaksa mengatakan tentang Jung Woo yang akan dibebaskan.

Usai bicara dengan Deputi Jaksa, Min Ho menatap berkas pernyataan dari dana gelap sang ayah yang didapatnya dari Yeon Hee. Tak lama kemudian, Min Ho berjalan menuju ruangan sang ayah. Namun setibanya di depan ruangan sang ayah, ia mendengar suara Yeon Hee. Yeon Hee mengaku dialah orangnya.


Min Ho buru2 masuk ke dalam. Bersamaan dengan itu, CEO Cha mau menampar Yeon Hee lagi. Min Ho pun langsung menghentikannya. Yeon Hee terlihat memegangi pipinya yang sakit usai ditampar CEO Cha. CEO Cha memberitahu Min Ho perihal Yeon Hee yang membocorkan dokumen Chamyung ke kejaksaan.

“Aku sudah tahu.” jawab Min Ho.

“Apa? Kau tahu?” tanya CEO Cha kaget. Min Ho membenarkan.

“Kenapa kau tidak melakukan apa-apa!” sentak CEO Cha.


Min Ho menyuruh Yeon Hee menunggu diluar. Yeon Hee menurut dan bergegas keluar dari ruangan CEO Cha. Diluar, Yeon Hee mendengar kemarahan CEO Cha pada Min Ho. CEO Cha berkata, Min Ho bukan hanya membunuh Seon Ho, tapi juga berniat merusak Chamyung. Wajah Yeon Hee terlihat dingin. Tak lama, Yeon Hee pun pergi.

“Kau satu2nya orang yang merusak Chamyung.” Jawab Min Ho.

“Beraninya kau. Aku seharusnya tidak membiarkanmu... ketika kau membunuh kakakmu. Aku juga seharusnya tidak mengurus pisau itu untukmu. Aku salah.” Sesal CEO Cha.

“Bahkan jika aku membunuh Seon Ho, tak peduli apa yang kulakukan, yang kau pedulikan hanyalah Chamyung Group. Yang kau pedulikan, apa yang akan  terjadi pada perusahaan karena aku!” protes Min Ho.

CEO Cha semakin marah. Ia mengambil tongkatnya dan memukul Min Ho. Tapi Min Ho tak merasa sakit sama sekali. CEO Cha terkejut. Ia pun mau memukul Min Ho lagi tapi kali ini Min Ho menahan tangan sang ayah. Min Ho menghempaskan tangan CEO Cha, hingga tongkat CEO Cha terjatuh. CEO Cha terkejut.

“Aku bukan Min Ho yang menangis saat kau memukulku. Aku Cha Seon Ho sekarang.” jawab Min Ho.

CEO Cha langsung memegangi dadanya yang nyeri. Min Ho gak peduli sama sekali melihat ayahnya yang menahan sakit. Ia menyuruh ayahnya itu segera membuat keputusan.

“Jika kau ingin hidup sebagai Seon Ho, bertanggung jawablah dan masuk penjara seperti janjimu. Atau beritahu semua orang apa yang telah kau lakukan, dan kembali ke kehidupanmu sebagai Min Ho.” Jawab CEO Cha.

“Tidak. Aku takkan melakukan semua itu.” ucap Min Ho.


Min Ho lalu melemparkan berkas yang dibawanya ke meja CEO Cha.

“Ini pernyataan dana gelapmu. Jika ini diketahui, kau tidak akan bertahan.” Ucp Min Ho.

“Apa yang kau lakukan?” tanya CEO Cha.

“Jika kau ingin mendorongku ke jurang, kau harus ikut denganku. Apa yang akan terjadi pada Chamyung... tanpa kau atau aku?” jawab Min Ho.

“Cha Min Ho!” teriak CEO Cha.

“Kau sangat mencintai Chamyung. Jadi jika seseorang harus berkorban untuk itu, siapa yang harus? Pikirkan itu.” jawab Min Ho.

“Semuanya... Semua yang aku lakukan itu untuk kalian berdua.” Ucap CEO Cha sambil menahan rasa sakit.

“Untuk kami? Aku tak pernah mengharapkan Chamyung.  Tidak sama sekali dalam hidupku. Itu yang kau inginkan. Kau tahu apa yang aku alami karenamu? Kau tahu kenapa aku menjadi seperti ini?” teriak Min Ho.

CEO Cha makin kesakitan. Tapi Min Ho terus saja bicara kalau sang ayah hanya membutuhkan seseorang untuk menjalankan Chamyung.

“Karena Seon Ho tidak ada, aku mengatakan, akan menjalankan tempat ini. Pikirkan apa yang terbaik untuk Chamyung.” Ucap Min Ho.

Min Ho melangkah pergi. Namun langkahnya terhenti saat mendengar CEO Cha yang jatuh ke lantai. Min Ho menoleh dan mendapati ayahnya mengerang kesakitan. Ingatan Min Ho langsung melayang ke saat2 ia memukul Seon Ho dengan botol kaca. Tak lama, Min Ho tersadar dari lamunannya dan bergegas mendekati ayahnya. Min Ho menggenggam tangan sang ayah.

“Ayah, hyung juga membantuku. Tidak ada yang tahu soal itu.Takkan ada yang tahu soal ini juga. Bisakah kau menolongku cukup sekali lagi? Terima kasih, Ayah. Aku akan menjaga Chamyung.” Ucap Min Ho.

Perlahan2, Min Ho melepaskan genggamannya dan beranjak pergi. Tapi CEO Cha menahan langkah Min Ho dengan memegang kaki Min Ho. Min Ho ketakutan, tapi tak lama kemudian, CEO Cha…. Kehilangan kesadaran! Min Ho menarik napas lega, kemudian buru2 meninggalkan ruangan sang ayah. Namun, ia malah bertemu Pengacara Yeo di depan ruangan sang ayah.

“Ayahku tak ada di sini.” Ucap Min Ho.

“Apa? Dia memintaku datang.” jawab Pengacara Yeo.

“Dia juga memintaku datang, tapi dia tak ada di sini.” Ucap CEO Cha.

Pengacara Yeo ingin memeriksa ke dalam, tapi Min Ho mengajaknya pergi. Pengacara Yeo pun tak bisa apa2 selain pergi bersama Min Ho. Sementara di dalam, tak seorang pun tahu CEO Cha tergeletak di lantai.


Min Ho menyendiri di ruangannya. Ia mencoba menenangkan diri atas kematian sang ayah.


Pemakaman CEO Cha pun digelar. Pengacara Yeo yang datang melayat memberitahu Min Ho kalau penyelidikan kejaksaan pada Chamyung pun sudah berakhir dengan kematian CEO Cha.

“Penipuan dan penggelapan dana yang konon dikatakan perintah dari Ketua Cha Yeong Woon. Kejaksaan memutuskan untuk menutup kasus ini. Kau pasti hancur.” Ucap Pengacara Yeo.

“Terima kasih atas kerjamu.” Jawab Min Ho.


Lain halnya dengan Yeon Hee yang merasa bersalah atas kematian CEO Cha.


Di sisi lain, pengadilan ulang Jung Woo digelar. Sambil menatap Jung Woo dengan berkaca2, Eun Hye bertanya apakah Sung Gyu yang sudah membunuh Ji Soo dan mengancam Jung Woo. Jung Woo diam saja. Eun Hye pun menanyakannya sekali lagi. Jung Woo teringat kata2 Sung Gyu di ruang interogasi kejaksaan.


“Ayo kita lakukan ini. Dengan begitu, kau akan bebas,  dan kau bisa temui Ha Yeon.” Ucap Sung Gyu.


Dengan berat hati, Jung Woo pun mengatakan Sung Gyu lah pembunuh Ji Soo.

2 bulan kemudian…

Jung Woo bebaas! Ia sedang menuju ke upacara pelantikan ‘Seon Ho’ sebagai CEO yang baru. Orang2 di sekitar Jung Woo langsung berkasak kusuk begitu melihat Jung Woo. Yeon Heed an Min Ho yang sedang menyalami para tamu bersama Pengacara Yeo terdiam saat melihat Jung Woo yang sudah berdiri di depan mereka. Min Ho lantas menghampiri Jung Woo.

“Halo, Presiden Cha. Tunggu, kau sekarang CEO.” Sapa Jung Woo.

“Lama tidak berjumpa. Aku harus memanggilmu apa?” tanya Min Ho.

“Aku? Aku hanya... Park Jeong Woo, jaksa kasus pembunuhan.” Jawab Jung Woo.


Jung Woo lantas mengulurkan tangan kirinya. Mengajak Min Ho bersalaman.
“Kau tidak akan bertahan satu bulan. Upacara besar semacam ini tampaknya tidak diperlukan.” Ucap Jung Woo.

“Aku tidak yakin apa itu akan menjadi sebulan atau 10 tahun. Kau harus tunggu dan lihat.” Jawab Min Ho.


Yeon Hee menatap Min Ho dengan pandangan cemas.


Min Ho lalu mengajak Jung Woo makan bersama. Min Ho berkata, bahwa ia mendengar Jung Woo kembali bekerja setelah berjanji tidak akan bertengkar lagi dengan Chamyung.

“Aku tidak pernah bertengkar dengan Chamyung. Aku dulu mengejar satu orang.” Jawab Jung Woo santai.

“Adikku Min Ho? Seperti yang kau mungkin tahu, pasti terjadi kesalahan selama operasi tiroidku. Suaraku tidak seperti dulu lagi. Aku tak bisa berbicara dengan baik. Dan aku yakin... kau tahu betul soal tanganku. Dan sayangnya, catatan gigiku sudah hilang, dari RS Chamyung tepat pada saat ini. Bahkan aku bisa setuju bahwa hal-hal tidak menjanjikan.” Ucap Min Ho.

Min Ho lalu menawari Jung Woo bergabung ke dalam tim legal perusahaannya. Min Ho berkata, nanti Jung Woo bisa membelanya di kejaksaan.

“Aku akan pergi ke pengadilan denganmu. Sebagai jaksa.” Jawab Jung Woo.

“Sebagai jaksa? Tapi Jaksa Park, bagaimana jika aku tidak pernah  berbuat salah selama sisa hidupku? Bagaimana jika aku tidak harus pergi ke pengadilan? Apa yang akan kau lakukan?” tanya Min Ho.

“Kau akan hidup damai?” tebak Jung Woo.

“Bahkan, aku tak pernah membuat masalah. Hanya saja... ada beberapa kecelakaan.” Jawab Min Ho.

Min Ho lalu bertanya, bukankah ini sangat menarik?

“Ini tidak seperti ada yang tahu siapa aku sebenarnya. Tapi mereka semua sibuk menutupi masalah itu. Kecuali satu orang.” Ucap Min Ho.

Jung Woo yang mulai kesal pun berhenti makan dengan alasan makanannya tidak enak. Tak lama setelah mengatakan itu, ia menyindir Min Ho kalau yang tidak enak bukan makanannya, tapi seseorang yang makan bersamanya. Jung Woo lalu membayar makanannya sendiri, kemudian beranjak pergi. Namun sebelum pergi, ia berkata kalau mereka akan bertemu di pengadilan.

Jung Woo mengunjungi rumah abu Ji Soo. Ia teringat kata2 Ji Soo saat ia meminta mendapat Ji Soo terkait tawaran bergabung di firma hukum nya Pengacara Yeo.

“Uang? Aku juga bisa menghasilkan uang. Ini hanya jumlah uang. Kau terlihat lebih baik ketika berada di kejaksaan. Jangan pernah memikirkan itu.” ucap Ji Soo.


Jung Woo lalu menempelkan buket bunga kecil di samping pintu lemari abu Ji Soo dan duduk di depan lemari abu Ji Soo.

“Benar. Aku akan buat dia membayar perbuatannya. Tae Soo dan ibumu mengurus Ha Yeon dengan baik. Jangan cemaskan kami. Aku sangat merindukanmu, Ji Soo-ya.” ucap Jung Woo.


Usai mengunjungi rumah abu Ji Soo, Jung Woo mengunjungi rumah abu Sung Gyu. Jung Woo ingat kata2 Sung Gyu saat mereka mendekam di sel kejaksaan.

“Aku juga percaya padamu sama seperti kau percaya padaku. Ketika ini semua berakhir, izinkan aku bertemu Ha Yeon untuk terakhir kalinya.” ucap Sung Gyu.


Jung Woo lalu menempelkan post card yang sudah digambari Ha Yeon. Ha Yeon menggambar Sung Gyu yang memegang tangannya di post card itu.

“Ha Yeon bilang, dia sangat merindukanmu. Aku akan kembali... dengan Ha Yeon nantinya.” Ucap Jung Woo, lalu pergi.


Wooruk sedang merapikan rambutnya di depan cermin. Bangjang ingin tahu, kapan Wooruk akan kembali. Wooruk berkata, ia akan kembali besok pagi. Milyang menasehati Wooruk agar jangan pernah kembali ke penjara.

“Meskipun aku akan bebas hari ini, takkan ada yang menyambutku. Takkan ada yang mempekerjakan aku. Hidup di sini lebih menyenangkan.” Jawab Wooruk.

“Setiap orang ada di perahu yang sama di tempat ini. Kau harus mencobanya sekalipun. Siapa tahu? Mungkin ada orang yang mau mempekerjakanmu.” Ucap Milyang.

“Pasti.” Jawab Wooruk.

“Dia cuma bilang begitu. Dia akan berakhir di penjara besok pagi.” Ucap Bangjang.

Wooruk pun langsung berpose dengan tangan membentuk huruf V di depan hidungnya dan mulut tertawa.

“Ngomong-ngomong, sejak Moongchi pergi, kita tidak dengar kabar darinya.” Ucap Bangjang.

“Orang berubah sepanjang waktu karena uang.” Jawab Wooruk.

Petugas Kim pun datang menjemput Wooruk. Sebelum pergi, Wooruk melarang Bangjang dan Milyang melihatnya pergi. Bangjang lantas berpesan, kalau Wooruk tak boleh lagi kembali ke penjara. Wooruk menanggapi pesan Bangjang itu dengan bercanda. Ia berkata, bahwa Bangjang pasti akan menangis sambil menyebut2 namanya.

“Aku akan segera bebas.” Balas Bangjang.

“Bagaimana Miryang?” tanya Wooruk.

“Jangan cemaskan aku.” jawab Milyang.


Wooruk pun akhirnya pergi. Setibanya di depan pintu lorong, barulah Wooruk merasa sedih karena harus berpisah dengan teman2nya yang sudah seperti keluarganya. Ia berhenti melangkah dan menatap ke arah selnya. Petugas Kim pun memanggilnya dengan menyebutkan namanya.


“Ya... Aku Woo Byung Joo. Betul. Ini namaku.  Sudah lama sekali aku tidak mendengarnya.” Ucap Wooruk.

“Ayo pergi.” Ajak Petugas Kim.

“Tolong jaga mereka baik-baik.” Pinta Wooruk.

Setibanya diluar, Wooruk merasa sedih karena tak satu pun yang datang menjemputnya. Namun tiba2 saja, seseorang berpakaian rapi sedikit menabraknya. Wooruk terus berjalan karena merasa tidak mengenali sosok itu, tapi kemudian sosok yang menabraknya itu memanggilnya dengan nama Wooruk. Wooruk pun langsung menoleh ke sosok itu. Sosok itu pun melepas kacamata hitamnya dan senyum Wooruk langsung mengembang menyadari sosok di depannya adalah Moongchi. Moongchi tertawa lebar dan mendekati Wooruk.

“Bagaimana bisa kau tidak mengenali temanmu?” protes Moongchi.


Moongchi lalu menyodorkan tahu pada Wooruk dan menyuruh Wooruk memakannya. Wooruk menolak karena yakin ia akan kembali ke sel bulan depan. Wooruk mengaku senang hidup di penjara. Tapi Moongchi memaksa dan Wooruk pun akhirnya memakan tahu itu.

Di sel, Bangjang dan Milyang merasa kesepian. Tak lama, petugas datang memberitahu ada seseorang yang mengunjungi Milyang. Baik Milyang, maupun Bangjang terkejut karena selama ini Milyang tak pernah dapat kunjungan.


Ternyata orang yang mengunjungi Milyang adalah Eun Hye. Eun Hye memperkenalkan siapa dirinya dan juga mengaku kalau dulu ia adalah pengacaranya Jung Woo. Milyang pun langsung menanyakan keadaan Jung Woo.

“Ya. Dia kembali bekerja. Dia sehat dan baik-baik saja. Tolong jangan khawatir.” Jawab Eun Hye.

“Tapi, kenapa kau ingin bertemu aku?” tanya Milyang.

“Jaksa Park meminta bantuanku.” Jawab Eun Hye.

“Dia memintanya?” tanya Milyang kaget.

Flashback!

Setelah bebas, Jung Woo minta bantuan Eun Hye untuk membela Milyang. Jung Woo bercerita, ada seorang pria yang dijebak sepertinya dan tinggal satu sel dengannya. Jung Woo ingin Eun Hye mengambil kasus itu dan memohon persidangan ulang.

“Aku?” tanya Eun Hye kaget.

“Itu tidak akan mudah.” Jawab Jung Woo.

“Kenapa kau ingin aku melakukan itu?” tanya Eun Hye.

“Kaulah satu2nya yang ...merubah pikiranku. Kau, Eun Hye-ssi.” Jawab Jung Woo.

Flashback end!

“Aku sudah tinggal di sini  selama 20 tahun terakhir.” Ucap Milyang.

“Kudengar, kau dijebak sama seperti Jung Woo. Demi istrimu.” Jawab Eun Hye.

Milyang terdiam sejenak, sebelum akhirnya berkata kalau dirinya baik2 saja. Milyang lalu bangkit dari duduknya. Namun Eun Hye tak menyerah begitu saja. Ia memberitahu Milyang kalau kasus Milyang akan segera kadaluarsa. Kalau tak sekarang, Milyang tak akan bisa lagi mengajukan sidang ulang. Eun Hye lalu bertanya, siapa jaksa yang menangani kasus Milyang.

Adegan langsung berpindah pada Deputi Jaksa yang tertawa senang karena Min Ho terpilih sebagai CEO Chamyung. Deputi Jaksa yakin Min Ho akan mengirim Joon Hyuk ke Cheong Wa Dae (Blue House). Deputi Jaksa bilang Joon Hyuk pantas menerimanya. Joon Hyuk merendah.

“Menurutmu, apa yang terpenting bagi jaksa untuk sukses?” tanya Deputi Jaksa.

“Entahlah.” Jawab Joon Hyuk.

“Kompetensi? Koneksi? Bukan. Kau harus melupakan bahwa kau seorang jaksa. Apa kau ingat Sumpah Jaksa? Saya bersumpah...... Saya akan berusaha menjadi jaksa yang berani menerangi kegelapan. Seorang jaksa baik hati yang peduli pada orang-orang kecil. Seorang jaksa yang adil... yang selalu mengikuti kebenaran.” Ucap Deputi Jaksa.

Joon Hyuk terdiam mendengarnya.

“Semuanya terdengar bagus. Namun, aku tak perlu menjadi jaksa tersebut. Itu untuk orang-orang yang lahir dengan hati seperti itu. Seperti dia.” Deputi Jaksa menyindir Jung Woo.

“Ini hari pertama Jung Woo bekerja, kan?” tanya Deputi Jaksa lagi.

“Ya. Ini hari pertamanya.” Jawab Joon Hyuk.

“Kenapa dia datang ke kantor ini?” tanya Deputi Jaksa.

“Dia mungkin ingin kembali ke kantor lamanya.” Jawab Joon Hyuk.


Saat meninggalkan ruangan Deputi Jaksa, Joon Hyuk teringat saat ia dan Jung Woo mengucapkan sumpah jaksa. Tak lama kemudian, ia terpaku saat melihat Jung Woo berjalan ke arahnya.

Joon Hyuk mengajak Jung Woo ke ruangannya.

“Itu tidak banyak berubah.” Ucap Jung Woo sembari melihat2 ruangan Joon Hyuk.

“Aku tidak berpikir kita ada dalam hubungan untuk mengobrol begini.” Jawab Joon Hyuk.

“Lee Sung Gyu. Kau sungguh berpikir dia bunuh diri?” tanya Jung Woo.

“CCTV dan penjaga semuanya ada. Dan hanya dia dan kau yang ada  di pusat penahanan malam itu. Apa yang harus kucurigai?” jawab Joon Hyuk.

“Cha Min Ho, kau juga tahu ini. Kau tahu dia melakukannya.” Ucap Jung Woo.

“Entahlah. Bukankah jaksa berdebat dengan bukti? Aku hanya percaya bukti untuk kasusmu juga.” jawab Joon Hyuk.

“Bukti? Kau hanya percaya bukti yang ingin kau percayai?” tanya Jung Woo.

“Agak aneh bagiku mendengar darimu yang sudah terbukti tidak bersalah di pengadilan ulang. Kau juga menyatakan, Lee Sung Gyu pembunuh aslinya. Bukannya kau sama sepertiku? Kau mungkin ingin bebas untuk menangkap Cha Min Ho. Aku paham itu. Tapi bagaimana jika kau tidak? Bagaimana Lee Sung Gyu? Dia akan selamanya diingat sebagai pembunuh.” Jawab Joon Hyuk.

“Kang Joon Hyuk!” tegas Jung Woo.

“Bagaimana bisa kau berbeda sekali dariku?” tanya Joon Hyuk.

“Aku akan selidiki segalanya satu per satu.  Siapa berbuat apa dan siapa yang menutupi semuanya. Dan aku harap kau bukan salah satu yang masuk dalam penyelidikanku.” Jawab Jung Woo.

“Kalau aku masuk?” tanya Joon Hyuk.

Jung Woo pun diam saja sambil menatap Joon Hyuk.

“Semuanya sama seperti delapan bulan lalu. Dan itu akan selalu sama.” Ucap Joon Hyuk.

“Begitukah? Lalu kita akan bicara lagi pada saat itu.” jawab Jung Woo, lalu beranjak dari ruangannya.


Begitu Jung Woo keluar, Joon Hyuk langsung mengepalkan tangannya karena kesal dan juga cemas.

No comments:

Post a Comment