Thursday, June 15, 2017

Ruler : Master Of The Mask Ep 11

Sebelumnya...

  
Episode ini diawali dengan Lee Sun dan Chung Woon yang latihan pedang. Kemampuan bela diri Lee Sun sudah semakin meningkat. Hal ini berkat bantuan Chung Woon. Seorang pedagang kemudian datang memberikan Lee Sun gulungan surat. Lee Sun marah.

“Departemen Pengadaan Air ingin para pedagang membayar hutang mereka sekaligus. Beberapa pemilik toko bahkan kehilangan lapak mereka. Apa alasan Dae Mok melakukan ini?”

“Dia ingin mengambil uang rakyat.” Jawab Chung Woon.

“Bahkan untuk seorang Dae Mok, tindakan ini memalukan dan terlalu beresiko. Dia pasti punya rencana.” Ujar Lee Sun.

“Bukankah Dae Mok memiliki harta rahasia? Anda mau memeriksanya?” tanya Chung Woon.

  
Mereka pun langsung memata-matai tempat penimbunan harta Pyunsoo-hwe. Chung Woon terkejut, itu tembaga. Lee Sun tambah yakin Pyunsoo-hwe merencanakan sesuatu. Di tengah pengintaian mereka, tiba2 saja mereka mendengar keributan. Mereka langsung memeriksanya. Betapa terkejutnya mereka melihat Ga Eun ditangkap bersama dua pedagang lain.

  
Ga Eun terus menunduk, ia takut Tae Ho mengenalinya. Woo Jae menginterogasi mereka, ia ingin tahu alasan mereka memata-matai tempat itu. Kedua pedagang itu berkata, kalau mereka hanya pedagang dan sedang beristirahat. Curiga pada Ga Eun yang terus menunduk, akhirnya Tae Ho mengangkat wajah Ga Eun.

“Siapa dia? Apa ini akan menimbulkan masalah?” tanya Woo Jae.

“Dia hanya putri seorang pengkhianat. Tidak akan ada yang mencarinya.” Jawab Tae Ho.

“Kalau sampai dia membuka mulut soal tempat ini, kau harus membayar mahal.” Ucap Woo Jae pada Tae Ho.

“Saya… akan mengurus ini dengan benar.” jawab Tae Ho.


Setelah Woo Jae pergi, Tae Ho menyuruh anak buahnya menghabisi Ga Eun dan kedua pedagang itu. Tepat saat mereka akan menghabisi Ga Eun dan dua pedagang lainnya, Lee Sun dan Chung Woon langsung keluar dari persembunyiannya dan menyerang mereka. Mereka jelas tidak mengenali Lee Sun dan Chung Woon, lantaran Lee Sun dan Chung Woon memakai cadar.

  
Tae Ho bersiap mencabut pedangnya, namun Ga Eun dengan sigap memungut pedang di tanah dan mengarahkan pedang itu ke leher Tae Ho. Tak punya pilihan lain, Tae Ho pun kembali menyarungkan pedangnya namun itu hanya taktik. Tae Ho menyingkirkan pedang Ga Eun dengan sarung pedangnya dan bersiap menebas Ga Eun. Tapi Lee Sun dengan cepat meraih tubuh Ga Eun dan mengarahkan pedangnya pada Tae Ho.

“Cepat pergi sekarang!” suruh Chung Woon.

Kedua pedagang itu langsung memanggil Ga Eun dan bergegas pergi. Lee Sun juga menyuruh Ga Eun pergi. Ga Eun bergegas pergi. Tak lama kemudian, Lee Sun menyusul. Tae Ho ingin mengejar, namun Chung Woon langsung mengarahkan pedang padanya. Setelah keadaan sedikit aman, Chung Woon juga langsung pergi.

Ga Eun berlari dengan terpincang-pincang. Orang2 Pyunsoo-hwe sudah tak jauh di belakangnya. Untunglah, Lee Sun dan Chung Woon langsung datang menghampirinya. Chung Woon mengulur waktu dengan melawan orang2 Pyunsoo-hwe.

  
Lee Sun mengajak Ga Eun pergi, namun Ga Eun ragu. Tapi dia juga tak bisa menolak karena situasinya genting. Akhirnya, Ga Eun setuju ikut dengan Lee Sun. Tae Ho tak tinggal diam. Ia langsung menyuruh pasukan pemanahnya memanah mereka. Sontak, Lee Sun langsung memeluk Ga Eun untuk melindungi gadis itu. Chung Woon berusaha menghalau panah2 itu sampai Lee Sun benar2 pergi. Setelah Lee Sun  pergi, Chung Woon memacu kudanya ke arah berlawanan.


Di tengah pelarian mereka, cadar yang digunakan Lee Sun pun terbang terbawa angin. Bersamaan dengan itu, Ga Eun menoleh padanya. Ga Eun terkejut menyadari pria bercadar yang menolongnya adalah Chun Soo yang dirindukannya.

  
Begitu sampai di tempat aman, Lee Sun langsung menurunkan Ga Eun. Ia mengulurkan tangannya untuk membantu Ga Eun. Ga Eun terus memandangi Lee Sun. Tak lama kemudian, ia memanggil Lee Sun dengan nama Chun Soo.

“Aku tidak tahu siapa maksudmu, tapi aku bukanlah Chun Soo.” Jawab Lee Sun.

Ga Eun masih ingin bicara tapi Lee Sun dengan tegas menolaknya dan bergegas pergi. Ga Eun bingung sendiri, ia terus memandangi kepergian Lee Sun. Tak lama kemudian, dua pedagang itu datang. Mereka senang karena Ga Eun masih hidup.

  
Genderang ditabuh untuk menyambut kedatangan Lee Sun. Semua orang membungkuk, memberinya hormat dan memanggilnya Kepala. Lee Sun pun merasa tidak nyaman dan meminta mereka berhenti bersikap formal padanya. Pria temennya Woo Bo mengaku kalau ia juga tidak nyaman, tapi mereka semua menunggu Lee Sun.

“Aku sering dengar bahwa meski sedang tidak melakukan apa-apa, aku tetap terlihat tampan dan berwibawa.” Ucap Lee Sun.

Sontak, pria itu sebal dan langsung menyuruh Lee Sun berhenti bicara.


Lee Sun menggelar rapat bersama para pedagang. Ia meminta mereka untuk tidak lagi menerima mata uang Sangpyeong Tongbo. Para pedagang terkejut. Seorang pedagang bertanya, apa yang akan mereka dapatkan.

“Kepada Sangpyeong Tongbo sejak zaman dulu, kita menjual kain katun yang bagus. Untuk transaksi besar, terima emas atau perak saja.” Jawab Lee Sun.

“Apa itu akan menyelesaikan masalah? Pasarnya saja sudah sepi, uang dari sana tidak lagi banyak.” ujar pria temannya Woo Bo.

“Jika kalian melakukan sesuai kataku, keadaan akan kembali normal seperti sedia kala. Saat memiliki kesempatan usai menyelidiki yang sebenarnya terjadi, akan kujelaskan langkah selanjutnya.” Jawab Lee Sun.

  
Lee Sun lalu bertanya pada pria temannya Woo Bo, apakah ada yang menjual tembaga secara bebas.

“Tidak. Aku tidak tahu sebabnya, tapi setahuku tak ada lagi yang menjualnya secara bebas sejak tiga tahun terakhir. Kalau dipikir lagi, bahkan sudah lama aku tidak lihat mangkuk kuningan.” Jawab pria itu.

“Tembaga Joseon biasanya ditambang dimana?” tanya Lee Sun.

“Biasanya ditambang di wilayah timur, tapi jumlahnya juga tidak banyak, jadi biasanya sih diimpor dari Jepang.” Jawab pria itu.

“Maksudnya, tembaga adalah otoritas Biro Perdagangan?” tanya Lee Sun.

“Entahlah. Para petugas di sana diganti beberapa tahun lalu. Entah ada rahasia apa di baliknya, tapi mereka semua terlalu takut untuk buka mulut, jadi kami tidak dapat informasi apa-apa dari Biro Perdagangan.” Jawab pria itu.

“Bila ada informan yang sekiranya tidak saya kenal, tolong cari tahu tentang transaksi tembaga.” Suruh Lee Sun.

Ga Eun akhirnya sampai di pasar tempat Lee Sun bermukim. Pada seorang pedagang, ia bertanya dimana bisa menemui Kepala Pedagang. Pedagang itu menunjukkan tempat tinggal Kepala Pedagang, namun ia sedang rapat.

  
Ga Eun terpaksa duduk menunggu. Saat mendengar suara pintu yang dibuka, ia menoleh dan terkejut melihat Chun Soo nya keluar dari sana. Beberapa orang menyapa Chun Soo nya dengan ramah dan memanggil Chun Soo nya Kepala Pedagang.

Ga Eun lantas mendekati Chun Soo nya.

“Tuan Muda Chun Soo? Tuan Muda. Benar kau Tuan Muda Chun Soo?” tanya Ga Eun.

“Kau sudah salah orang.” Jawab Lee Sun.

  
Namun Ga Eun tak menyerah. Ia bertanya, apa karena surat yang ia tinggalkan untuk Chun Soo atau karena ia tak menepati janjinya hingga Chun Soo bersikap seolah2 tidak mengenalnya.

“Sudah kubilang kau salah orang. Aku tidak pernah membuat janji dengan Nona, maupun menerima surat semacam itu.” ucapnya.

  
Pandangan Lee Sun tak sengaja mengarah ke bawah. Ia terkejut melihat kaki Ga Eun terluka karena menggunakan sepatu jerami, namun Lee Sun malah beranjak pergi. Ia ingin mengabaikan Ga Eun. Bersamaan dengan itu, tangis Ga Eun mengalir. Lee Sun baru beberapa langkah, kembali menoleh pada Ga Eun. Ia tak tega meninggalkan Ga Eun. Akhirnya, ia membawa Ga Eun masuk ke dalam.


Lee Sun mengganti sepatu jerami Ga Eun dengan sepatu yang layak. Ga Eun terkejut. Agar Ga Eun tidak salah paham dan percaya kalau ia bukan Chun Soo, Lee Sun pun buru2 mengatakan kalau ia bukan Chun Soo.

“… tapi aku akan membantu semampuku, jadi katakan saja tujuanmu datang kemari.” Ucap Lee Sun.

  
Ga Eun tidak menjawab dan hanya memandangi Chun Soo nya penuh kerinduan. Tepat saat itu, Chung Woon masuk dan ia langsung menghentikan langkahnya saat mendapati Lee Sun dan Ga Eun saling bertatapan.

  
Malam harinya, Chung Woon menghampiri Lee Sun yang sedang memandangi langit.

“Apa anda bingung karena bertemu Nona Ga Eun lagi?” tanya Chung Woon.

“Kenapa aku merasa kecewa? Hidup bahagia... tanpa aku lagi selamanya, itulah yang aku ingin lakukan untuknya. Orang yang Ga Eun panggil Chun Soo dan pura-pura tidak mengenalnya, juga aku. Tapi kenapa... aku merasa kecewa?” ucap Lee Sun pedih.

“Kenapa tidak menghampirinya dan katakan anda bukan Chun Soo, tapi Putra Mahkota? Hamba kira anda akan bersyukur tak ketahuan olehnya. Rupanya hamba salah.” Jawab Chung Woon.

“Ya. Aku sangat bersyukur tidak ketahuan olehnya meski kami bertemu kembali.” Ucap Lee Sun sembari menahan air matanya.

  
Ga Eun sendiri tak bisa tidur. Ia terus memikirkan sikap Chun Soo nya yang berpura2 tidak mengenalnya. Ga Eun menghela nafas, kemudian beranjak keluar. Tanpa sengaja, Ga Eun melihat seekor kunang2 yang terbang tak jauh darinya. Ga Eun tersenyum, kemudian berlari mengejar kunang2 itu. Kunang2 itu membawa Ga Eun menuju Lee Sun.

  
Lee Sun masih merenung di tempatnya. Ia meremas kalung bulan dan matahari yang sebelumnya ia berikan pada Ga Eun. Wajahnya terlihat pilu. Saat hendak beranjak pergi, barulah Lee Sun menyadari Ga Eun berdiri di depannya dan tengah menatapnya.


“Kau menatapku lagi. Apa aku sangat mirip dengan pria bernama Chun Soo itu? Dari tatapan mata Nona, dia pasti cinta pertamamu.” Ujar Lee Sun.

Ga Eun membenarkan.

“Meski sangat mirip dia, kau bersikukuh bukan Chun Soo. Segenap hatiku merindukan orang itu.” ucap Ga Eun, membuat Lee Sun semakin terpojok.

“Kudengar, besok kau akan ke ibukota?” tanya Ga Eun.

  
“Aku hendak menyelesaikan masalah yang dialami para pedagang. Nona, kau tidak usah kemana-mana dan...”

Belum lagi Lee Sun selesai berbicara, Ga Eun langsung menyela ucapannya.

“Tidak. Aku harus menyaksikan sendiri caramu menyelesaikan masalah kami.” ucap Ga Eun.

“Itu berbahaya. Sebaiknya kau istirahat...”

“Kalau begitu, sampai jumpa besok.” Sela Ga Eun lagi, lalu beranjak pergi.


Lee Sun pun tersenyum melihat keras kepalanya Ga Eun.

“Dia masih saja keras kepala.” Ujar Lee Sun.


Di istana, Menteri Choi mengadu pada Ratu tentang Raja yang selalu saja mengabulkan keinginan Dae Mok. Ia bertanya, apa yang harus mereka lakukan? Raja masih berada di bawah kendali Dae Mok. Ratu menghela nafas dan berkata andai Raja memahami intrik2 politik… Ratu lalu berkata akan menemui Raja.

  
Keesokan harinya, Sun membaca setiap gulungan yang diajukan para pejabat. Gulungan pertama berisi permohonan mengganti Jung Hong Soon dengan Soh Soo sebagai menteri keuangan. Sun yang lelah, mengiyakannya saja, apalagi setelah melihat kode titik tiga di tepian kertasnya.

  
Gulungan kedua, isinya daftar nama2 para pencuri air dari Departemen Pengadaan Air. Para pejabat ingin mereka dihukum berat. Sun awalnya setuju, tapi kemudian ia menarik ucapannya dan membaca lagi isi gulungan itu. Sun pun langsung teringat akan ayahnya yang dibunuh oleh Departemen Pengadaan Air. Seketika, emosinya meluap.

“Kalian semua itu dibayar oleh negara. Namun bukannya peduli para rakyat, kalian hanya peduli pada Departemen itu dan obsesi mereka. Menghukum orang-orang yang mencuri dari waduk mereka!”

“Departemen Pengadaan Air bahkan memiliki hak peradilan sendiri. Sebagai formalitas, kami meminta izin dahulu sebelum menghukum mereka.” Jawab Menteri Joo.

“Mereka tetap harus mematuhi hukum negeri ini! Mereka sama sekali tidak berhak merenggut nyawa siapapun karenanya! Sekarang juga... bebaskan semua orang tidak bersalah itu!” teriaknya geram.

Para pejabat itu pun terkejut dengan pemberontakan Sun.

  
Ratu langsung memuji sikap berani Sun itu. Ia berharap Sun akan seterusnya begitu.


Sun meninggalkan istana untuk menemui Dae Mok. Tanpa ia sadari, seorang pengawal istana mengawasinya. Begitu bertemu Dae Mok, Sun langsung melepas topengnya dan membungkuk dalam. Namun wajah Sun terlihat pucat.
“Apa kau ingin menyelamatkan mereka dan menyerah atas hidupmu sendiri? Jika hari ini kau tidak minum anggur poppi, nyawamu akan langsung melayang.” Ujar Dae Mok.

  
Seketika, Sun ambruk dan rasa nyeri menyerang dadanya. Sun memohon ampun atas tindakannya itu. Dae Mok memperingatkan Sun untuk tidak lagi menentang Pyunsoo-hwe. Setelah itu, barulah DaeMok memberikan pil bunga poppi. Sun pun harus merangkak mengambil pil itu, tapi Dae Mok dengan sengaja menendang bamboo berisi pil itu ke arah lain. Ia tersenyum sinis melihat Sun merangkak mengambil pil itu.

  
Dae Mok berpapasan dengan Woo Jae dan langsung menanyakan keberadaan Hwa Gun. Dae Mok pun kesal karena sekarang ini sulit sekali bertemu Hwa Gun. Woo Jae membela Hwa Gun dengan mengatakan Hwa Gun punya acara penting sendiri.

“Ayah, apakah anda tidak bangga pada Hwa Gun? Tanpa bantuan siapa-siapa, dia bisa mengurus sebuah kelompok besar seperti itu.”

Tapi begitu melihat tatapan tajam Dae Mok, Woo Jae langsung berhenti bicara.


Di sebuah dermaga, Hwa Gun sedang melakukan barter dengan orang Jepang. Ia menawarkan barter antara katun dengan perak. Semua berjalan mulus berkat Hwa Gun yang jago dalam tawar menawar. Selesai melakukan barter, Hwa Gun melangkah ke tepi dermaga. Pandangannya langsung berubah sedih.

  
Ga Eun mengeluh karena mereka harus melewati jalur yang sulit. Lee Sun yang tak mau disalahkan, langsung membela diri dengan mengatakan bahwa sebelumnya ia sudah memberitahu kalau perjalanan mereka sangat berbahaya.
“Maksudku kenapa aku harus menunggang bersama Tuan Muda?” ucapnya.

“Orang yang tidak mau disuruh istiahat saja adalah Nona sendiri. Dan pasti lebih tidak nyaman kalau berbagi kuda dengan kakak yang itu! Memangnya ada pilihan lain? Atau kau lebih suka kutinggal di sini saja?” jawab Lee Sun.

“Rumor mengatakan, Kepala Pedagang bisa menyelesaikan semua persoalan dan sebagai gantinya dia hanya menginginkan kesetiaan saja. Rumor itu tidak benar?” tanya Ga Eun.

“Itu bukan sekedar rumor. Seperti itulah reputasiku.” Jawab Lee Sun.

“Kau ingin menjadi orang paling populer di Joseon?” tanya Ga Eun.

“Ya. Di sana. Aku harus menjadi sepopuler mungkin sampai temanku di istana akan mendengar tentangku. Sekarang, kita akan lanjut ke ibukota tanpa istirahat sama sekali. Pegangan yang kuat.” Jawab Lee Sun, lalu meneruskan perjalanan mereka.


Sun nampak tertekan. Ia berdiri di tepian tebing tempat Putra Mahkota jatuh dan berniat menjatuhkan dirinya disana.Namun tepat saat itu, seorang prajurit yang tadi mengawasinya langsung menariknya.

  
“Kau siapa? Siapa yang memerintahkanmu mengikutiku!” bentaknya.

Prajurit itu langsung bersujud mohon ampun.
 
“Hamba mengikuti Yang Mulia karena ingin memberi hormat. Yang Mulia telah membebaskan tahanan Departemen Pengadaan Air dan salah satunya... adalah ayah hamba. Terima kasih telah menyelamatkan ayah hamba, Yang Mulia.”


Air mata Sun langsung menggenang. Ia tak percaya keputusan yang diambilnya telah menyelamatkan nyawa orang lain.

“Seandainya ini Yang Mulia, dia tak akan jadi Raja sepertiku.” Ucap Sun. Tangisnya pun pecah.


Para pedagang di tempat Ga Eun ketar ketir. Kebanyakan dari mereka belum bisa membayar hutang sepenuhnya, ditambah lagi tak ada kabar dari Ga Eun. Ibu Sun menenangkan mereka, ia berkata mereka harus menunggu Ga Eun sampai besok pagi.

  
Lee Sun membawa Ga Eun ke tempat perkumpulan para pedagang besar.  Ga Eun pun kesal Lee Sun membawanya kesana karena yang dia inginkan adalah menyelamatkan para pedagang kecil.

“Para saudagar itu pun pasti juga penasaran alasan mereka harus membayar hutang sekaligus  pada Departemen Pengadaan Air.” Jawab Lee Sun.

Kepala Pedagang. Para saudagar masih memiliki kemampuan bertahan.Namun orang-orang miskin mungkin akan jadi gelandangan akibat krisis seperti ini.” ucap Ga Eun.

“Aku tahu.” jawab Lee Sun.
“ Lalu? Kenapa bukannya ke Pasar Seomun, tapi kau malah kemari? Kau merasa membantu mereka akan membuatmu lebih populer daripada menolong orang-orang miskin?” tuduh Ga Eun.

“Pikirmu, aku ini siapa? Aku bukanlah Raja negeri ini, tidak berkuasa, maupun kaya raya. Kenapa kau berpikir aku akan menyelesaikan masalah ini?” jawab Lee Sun membuat Ga Eun diam.


Hwa Gun memimpin jalannya pertemuan dengan para saudagar kaya. Dia menjelaskan bagaimana pembagian bahan makanan yang akan mereka lakukan. Salah seorang dari mereka sudah mengkalkulasikannya. Jika mereka membayar hutang ke Departemen Pengadaan Air, mereka hanya memiliki 37 perak.

“Kita harus bersiap untuk krisis agar tidak jatuh saat mereka mendadak menarik hutang ada kita. Lebih baik, selama beberapa ke depan, tidak meminjam uang lagi dari Departemen itu.” ucap Hwa Gun.

“Yakin bisa melewati krisis itu?” tanya seseorang yang muncul tiba2.

  
Hwa Gun pun terkejut melihat sosok Putra Mahkota yang dikiranya sudah tiada ternyata masih hidup.

“Yang Mulia...” desisnya.


No comments:

Post a Comment