Thursday, March 24, 2016

I Have a Lover Ep 14

Sebelumnya <<<


“Dimana Hae Gang, ibu? Apakah dia benar2 pergi ke China? Catatan dan foto2 Hae Gang, kenapa dihapus? Siapa yang menghapusnya? Apakah Hae Gang yang melakukannya? Apakah ibu yang melakukannya? Apa yang terjadi pada Hae Gang, ibu?” tanya Jin Eon.
Nyonya Kim diam saja. Wajahnya terlihat kecewa dan marah. Jin Eon pun berlutut dan mengakui kesalahannya. Ia terus menanyakan Hae Gang. Nyonya Kim menghapus air matanya dan menuliskan catatan untuk Jin Eon. Setelah itu, Nyonya Kim masuk ke kamarnya. Jin Eon pun merasa bersalah. Jin Eon lalu membaca tulisan Nyonya Kim.
[Dia bertemu dengan seorang pria yang baik dan dia hidup dengan bahagia. Jadi berhentilah. Aku mohon padamu]
Namun jawaban dari Nyonya Kim tak begitu memuaskan hatinya.

Baek Seok menyusul Hae Gang yang duduk di luar rumah. Namun ia tak menghampiri Hae Gang. Ia hanya menatap lirih Hae Gang dari kejauhan. Hae Gang sendiri tak menyadari kehadiran Baek Seok. Sementara itu, Jin Eon keluar dari rumahnya yang dulu ditempatinya bersama Hae Gang dengan wajah sedih.
Keesokan harinya… di kediaman Presdir Choi. Seol Ri sedang memasak. Nyonya Hong yang duduk di depan Seol Ri, terus memperhatikan Seol Ri. Ia tidak menyangka Seol Ri akan mengajaknya makan siang. Ia pikir Seol Ri akan marah padanya, atas kejadian kemarin dimana dirinya memanggil Seol Ri dengan nama Hae Gang.
“Celemeknya kelihatan cocok denganmu. Sangat cantik. Dari sepanjang waktu aku melihatmu, kau paling cantik saat ini. Karena kau berpakaian seperti itu, kau jadi terlihat seperti menantuku. Sering2lah memakainya, mengerti?” ucap Nyonya Hong.
“Apakah ibu akan suka jika aku hanya melakukan pekerjaan rumah?” tanya Seol Ri.
“Aku tidak menyuruhmu melakukan pekerjaan rumah tangga. Aku hanya khawatir kau akan sibuk dengan pekerjaanmu sampai2 kau tidak punya waktu di rumah. Tak peduli apapun pekerjaannya, jika ingin menjadi yang terbaik kau harus melakukannya dengan baik. Jadi tentu saja, pada akhirnya kau akan mengabaikan pekerjaan rumah dan pernikahanmu akan hancur.” Jawab Nyonya Hong.
“Apa yang ibu katakana memang benar, tapi ini pasti standar ganda.” Ucap Seol Ri.
“Standar ganda, maksudmu?” tanya Nyonya Hong.
“Ibu selalu menyuruh putra ibu untuk menjadi yang nomor satu. Jika aku putrimu, kau akan menyuruhku sebaliknya kan? Itu sebabnya berlawanan dan standar ganda.” Jawab Seol Ri.
“Aku tidak tahu karena aku tidak punya anak perempuan. Jadi aku yakin itu standar tunggal.” Ucap Nyonya Hong.
“Bukankah ibu memiliki Hyungnim? Hyungnim juga putri ibu kan?” tanya Seol Ri.
“Iya kau benar. Tapi dia tidak kelihatan seperti anak perempuan. Dia kelihatan seperti anak laki2. Aku selalu berpikir mempunyai dua putra.” Jawab Nyonya Hong.
“Kalau begitu aku tak memiliki jalan lain. Untuk menutup celah diantara kita, aku harus bekerja keras dan menjadi anak perempuan ibu saja.” Ucap Seol Ri.
“Anak menantu ya anak menantu, bukan putri. Itu tidak masuk akal.” Jawab Nyonya Hong.
“Tapi ibu, kapan kami akan menikah? Dimana kami akan tinggal?” tanya Seol Ri.
“Kenapa? Kau sedang mencari jalan keluar jika aku memintamu untuk tinggal bersama kami?” ucap Nyonya Hong.
“Bukankah kami akan tinggal di sini? Aku ingin tinggal dengan ibu dan ayah.” Jawab Seol Ri.
“Benarkah? Aku tidak menyangka kau berpikir seperti itu. Tentu saja kalian boleh tinggal di sini. Aku akan memperbaiki paviliunnya jadi kau bisa tinggal di sana. Meskipun dengan rumah yang sama, dengan taman yang memisahkan kita, kau akan memperoleh ruang sendiri. Jadi kita akan sama2 nyaman.” Ucap Nyonya Hong.
Nyonya Hong lalu memegang tangan Seol Ri. Ia pun berkata mulai hari ini, Seol Ri adalah putrinya. Seol Ri sedikit kaget dengan kata2 Nyonya Hong, tapi ia tetap mengiyakan kata2 Nyonya Hong dan terlihat senang.
Jin Ri memberikan proposalnya pada Presdir Choi. Ia berkata sengaja menamai produknya Ki-Kuh 180 agar menjadi jelas dan terlihat sederhana. Ditambah lagi, produk itu akan membuat seseorang tumbuh hingga 180 cm. Jin Ri lalu menunjukkan bahan utama produknya. Bahan utama produknya adalah ekstrak kompleks yang disebut YJP251 yang menjadikan hasil cepat.
“Aku akan memeriksanya. Kau bisa pergi.” Jawab Presdir Choi.

Jin Ri pun beranjak pergi, namun sebelum pergi ia berkata Presdir Choi sudah membuat keputusan yang tepat untuk kembali ke kantor karena itu akan mendongkrak rasa percaya diri Jin Eon. Presdir Choi pun menatap Jin Ri dan meminta Jin Ri mengatakan sesuatu dengan jelas.
“Aku tak ingin mengatakannya pada ayah tapi kupikir ayah harus tahu hal ini. Jin Eon telah mencari2 mantan istrinya sejak tiba di sini. Dia masih belum sadar dan tidak tahu apa yang dia lakukan. Suamiku berusaha menghentikannya tapi bagaimana jika dia tak bisa membedakan mana yang benar dan salah serta pergi menemui ibu mertuanya? Aku hanya khawatir dia akan menumpahkan minyak ke dalam api. Seharusnya dia konsentrasi saja ke perusahaan. Kalau ayah memikirkannya, dia lebih membuat onar dibandingkan dengan diriku. Ngomong2, aku bertemu ibu mertuanya beberapa hari yang lalu. Dia melotot padaku seperti ingin membunuhku seolah2 diriku adalah Jin Eon. Dia bersumpah akan membalas dendam pada Jin Eon.” Hasut Jin Ri.
Setelah mengatakan itu, Jin Ri pun beranjak pergi dengan muka puas. Sementara Presdir Choi terlihat kaget.

Nyonya Hong membantu Seol Ri memasak. Tak lama, Jin Ri pun datang. Jin Ri berkata siapa yang peduli dengan gelar Seol Ri jika Seol Ri harus memakai celemek dan membuat dimsum seperti pembantu untuk mendapatkan poin.
“Mengapa mereka harus selalu memakai celemek saat menginjakkan kaki di rumah ini. Bukankah itu terlalu kentara. Rencananya mudah sekali dibaca. Aku jadi kesal.” Sindir Jin Ri.
Nyonya Hong pun meminta Jin Ri diam. Tapi Seol Ri terus mengoceh. Ia berkata celemek itu tak cocok dikenakan Seol Ri. Seol Ri pun kesal. Jin Ri lantas meminta Seol Ri melepaskan celemek itu sebelum ayahnya datang. Seol Ri semakin kesal, tapi ia mencoba sabar.
“Kau tahu apa bagusnya menjadi lebih tua? Kau bisa melihat segalanya lebih jelas. Kami melihat semua yang coba kau lakukan.” Ucap Seol Ri lagi.
Seol Ri berusaha sabar. Sambil tersenyum, ia melepas celemeknya dan berkata akan memanggil Presdir Choi. Setelah Seol Ri pergi, Jin Ri menyuruh Nyonya Hong menginjak Seol Ri, agar Seol Ri tidak bertingkah.

Seol Ri dengan takut2 berjalan ke ruangan Presdir Choi. Sementara itu, Presdir Choi sedang menatap passport Hae Gang. Ia lalu berteriak marah dan melemparkan passport Hae Gang ke lantai depan pintu. Seol Ri pun terkejut melihat passport Hae Gang. Presdir Choi lalu bangkit dari duduknya dan mengambil kembali passport Hae Gang. Seol Ri terus mengintip Presdir Choi. Ia melihat Presdir Choi menyimpan passport Hae Gang di laci.
Seol Ri kembali ke ruang makan sendirian. Jin Ri pun menanyakan ayahnya. Seol Ri beralasan ia lupa kalau harus memanggil Presdir Choi dan malah pergi ke kamar Jin Eon. Nyonya Hong pun heran kenapa Seol Ri bisa lupa. Nyonya Hong lalu bertanya apa Seol Ri mengidap Alzheimer. Mendengar ini, Jin Ri pun tertawa geli. Seol Ri lalu menyuruh Nyonya Hong memanggil Presdir Choi. Ia beralasan akan menghangatkan dimsum untuk Presdir Choi.
Seol Ri memanaskan dimsum sambil memikirkan yang terjadi di ruangan Presdir Choi. Jin Ri bertanya, apa Seol Ri sudah memutuskan mau pergi ke mana. Jin Ri berkata Jin Eon mempekerjakan orang lain untuk jabatan Direktur Penelitian dan Pengembangan. Jin Ri lalu bertanya apa Seol Ri tahu alasannya. Tapi Seol Ri yang masih memikirkan kejadian di ruangan Presdir Choi tadi diam saja. Jin Ri pun marah.

“Kau sudah sangat berkembang. Dulu kau sangat takut padaku. Berani sekali kau bersikap tidak sopan padaku. Apa kataku? Jangan begitu angkuh di hadapanku. Karena diriku, kau berada di sini sekarang. Apa kau lupa, aku memfoto kalian, menyebarkannya dan menyalahkan Do Hae Gang atas hal itu. Mengapa Jin Eon begitu gerah pada istrinya? Jika bukan karena aku, kau tidak akan bisa pergi keluar negeri dengan Jin Eon.” Ucap Seol Ri.
“Bukankah kau melakukannya atas keinginanmu? Bukan hal yang baik untuk dilakukan dan bukan hal yang bagus untuk kau sombongkan.” Jawab Seol Ri.
Jin Ri pun marah, apa? Mereka bilang kau tak ingat masa lalumu ketika kau besar. Berani sekali kau melawanku, dasar sampah! Apakah kau melakukannya karena sekarang kau orang penting? Karena sekarang sudah sukses, kau jadi tak peduli dengan apapun?”
“Bahkan ketika aku sampah, aku bisa melawan orang lain. Bukannya aku telah berubah, tapi memang selalu seperti ini. Dan tidak menyenangkan mendengarkan kau bicara padaku dengan begitu tidak formal. Jaga sikapmu, Hyungnim.” Ucap Seol Ri.
Jin Ri makin kesal, apa!
Pertengkaran itu pun terhenti karena Presdir Choi dan Nyonya Hong datang. Presdir Choi bertanya kenapa mereka ribut. Jin Ri pun menyuruh ayahnya menanyakan pada Seol Ri yang membuat keributan. Seol Ri menghidangkan dimsum untuk Presdir Choi. Presdir Choi menatap tajam Seol Ri.
“Makan dengan baik ayah, ibu juga.” Ucap Seol Ri.
“Kenapa kau tidak makan?” tanya Nyonya Hong.
“Aku akan makan nanti.” Jawab Seol Ri.

Seol Ri pun beranjak pergi. Nyonya Hong menyalahkan Jin Ri yang sudah membuat Seol Ri pergi. Jin Ri pun membela diri dengan mengatakan dirinya tak mengatakan apa2.  Seol Ri masuk ke ruangan Presdir Choi. Ia mengambil passport Hae Gang dan membawa passport itu ke kamarnya.
“Dia bahkan tidak pergi ke China. Kenapa mereka bilang dia pergi ke China? Kenapa mereka berbohong? Lalu bagaimana dengan Dokgo Yong Gi? Bagaimana dengan tanda pengenal itu?” gumam Seol Ri bingung setelah memeriksa passport Hae Gang.

Baek Seok berbicara dengan kliennya via telepon. Ia berkata mereka membutuhkan rekam medis kliennya untuk membuktikan tuduhan malpraktik. Hae Gang menatap Baek Seok. Ia teringat kata2 Baek Seok semalam.
“Yong Gi-ya, aku tidak peduli siapa dirimu sebelumnya. Meskipun kau sudah menikah, aku tidak peduli. Datanglah padaku sekarang. Hanya padaku.” Ucap Baek Seok.
Usai menelpon, Baek Seok pun menatap Hae Gang.
“Ada apa?” tanya Baek Seok menyadari Hae Gang menatapnya.
“Tidak apa2 apa.” Jawab Hae Gang.

Hae Gang lalu berkata akan pergi menjenguk Ha Yoon di rumah sakit. Ia meminta Baek Seok mengatakannya sekarang jika Baek Seok membutuhkan sesuatu. Baek Seok pun meminta Hae Gang mengumpulkan tentang kasus malpraktik mulai besok.
“Kau akan memeriksa dokumen yang kita ajukan ke pengadilan untuk berdebat dalam kasusnya Lee Geum Bok?” tanya Hae Gang.
Baek Seok pun mengiyakan.
“Di catatan sampingnya, ada dokumen mengenai Pudoxin di bagian bawah. Jangan lupakan itu.” Ucap Hae Gang.
“Aku meletakkannya di mesin penghancur kertas. Seol Ri akan menjadi menantu pemilik Cheon Nyeon Farmasi. Jadi aku tidak bisa mengambil kasus itu.” Jawab Baek Seok.
“Aku tidak menyukainya ataupun keluarga itu. Dia anak orang kaya dan tukang selingkuh. Aku tak perlu melihatnya untuk tahu kisahnya. Menjengkelkan dan membuatku marah kalau kita tak bisa mengambil kasus yang semestinya kita ambil gara2 dia. Kita tak bisa melindungi masyarakat yang seharusnya kita lindungi.” Ucap Hae Gang.
“Pria itu, aku berniat menemuinya saat makan malam. Kau mau ikut denganku?” tanya Baek Seok.
“Kenapa? Kau ingin bicara tentang Pudoxin dengannya? Kau tidak boleh melakukannya.” Jawab Hae Gang.
“Hei, aku ingin pengacara.” Ucap Baek Seok.
“Pengacara yang sangat mencintai adiknya. Temui saja dia sendiri. Aku tak suka keluarga kaya dan tukang selingkuh. Dia termasuk ke dalam dua2nya.” Jawab Hae Gang.
Baek Seok lalu teringat malam itu. Saat Hae Gang dan Jin Eon pulang bersama. Baek Seok pun heran karena dirinya tak bisa memberitahu Hae Gang bahwa Jin Eon lah pacar Seol Ri. Sementara itu, Hae Gang sedang sibuk mengurus beberapa dokumen. Baek Seok pun menghela napas.

Di ruangannya, Jin Eon menyuruh Hyun Woo mencari tahu kenapa Perusahaan Farmasi Il Gwang menghentikan penelitian tentang penyakit gaucher. Jin Eon pun berencana menemui Gyu Seok.
“Kekurangan enzim glucocerebrosidase.” Jawab Hyun Woo.
“Beberapa tahun lalu, perusahaan Amerik, Genzyme, mengembangkan sebuah obat tapi obat yang dikembangkan Profesor Min Gyu Seok mungkin selangkah lebih maju. “ ucap Jin Eon.
“Kita tak akan bisa memperoleh dana. Tidak banyak penderita OSD di Korea.” Jawab Hyun Woo.
“Itulah sebabnya kita harus mengembangkannya dan membantu pasien. Kita bisa mengkhawatirkan soal dana nanti, kita harus konsentrasi pada pengembangan obat yang bagus dan menjualnya di luar negeri. Jika kita tidak bisa mengembangkannya sendiri lantaran kurang menjual kita akan terus2an berakhir dengan obat generic merek luar negeri.” Ucap Jin Eon.
“Itu benar, tapi apa mereka akan setuju?” tanya Hyun Woo.
“Profesor Min Gyu Seok adiknya Min Tae Seok.” Jawab Jin Eon.
“Benarkah? Kalau begitu ada kemungkinan. Tapi mereka tidak mirip sama sekali. Aku sudah tiga kali bertemu dengannya di lab.” Ucap Hyun Woo.
“Ngomong2 apa artinya bila catatan pribadi dihapus dari situs portal?” tanya Jin Eon.
“Mungkin orangnya sudah meninggal atau pemerintah sudah menyapunya bersih.” Jawab Hyun Woo.

Seol Ri diam2 mengikuti Hae Gang yang keluar dari kantor Baek Seok. Hae Gang sendiri tidak sadar dirinya diikuti Seol Ri dan terus berjalan. Sementara itu, Jin Eon yang hendak pergi dapat telepon dari Baek Seok. Baek Seok mengajak Jin Eon minum soju nanti malam. Jin Eon pun bertanya apa Baek Seok akan datang sendiri. Dengan wajah kesal, Baek Seok berkata ia akan datang sendiri.

Seol Ri mengikuti Hae Gang sampai ke rumah sakit. Hae Gang lalu masuk ke sebuah kamar. Seol Ri mengintipnya dari luar. Ayah Ha Yeon berterima kasih karena Hae Gang berhasil mendapatkan uangnya dari Presdir Lee. Hae Gang lalu menanyakan operasi Ha Yoon. Ayah Ha Yoon pun berkata tanggal operasi Ha Yoon sudah ditentukan. Hae Gang pun senang mendengarnya.

Sementara itu diluar, Seol Ri bertanya2 apa Hae Gang sudah berubah atau Hae Gang benar2 Yong Gi. Seol Ri pun menghela napas dan beranjak pergi. Di koridor rumah sakit, ia berpapasan dengan Gyu Seok. Seol Ri senang karena bisa bertemu lagi dengan Gyu Seok di Korea. Ia berkata mereka bertemu beberapa kali di konferensi.
“Apa kau berhasil masuk ke Departemen Genetika Kedokteran?” tanya Seol Ri.
Gyu Seok pun mengiyakan.
“Kalau begitu kau pasti juga memberikan kuliah. Bolehkah aku menghadiri kuliahmu? Aku harus melakukan beberapa studi dalam penelitianku saat ini dan tidak begitu banyak ahli yang bisa kumintai saran di Korea.” Ucap Seol Ri.
“Itu bukan urusanku. Aku harus melakukan kunjungan sekarang.” Jawab Gyu Seok dingin, lalu beranjak pergi.
Seol Ri pun mendengus kesal.

Sementara itu Hae Gang masih menemani Ha Yoon. Tak lama, Gyu Seok pun datang. Hae Gang pun memberikan kartu namanya pada Gyu Seok dan meminta Gyu Seok melakukan operasi Ha Yoon dengan baik. Gyu Seok pun berkata bukan dia yang akan melakukan operasi. Hae Gang terkejut. Ayah Ha Yoon menjelaskan kalau Gyu Seok yang pertama mendiagnosa penyakit Ha Yoon. Hae Gang pun mengangguk. Gyu Seok melihat kartu nama Hae Gang. Melihat kartu nama Hae Gang, Gyu Seok langsung menatap Hae Gang.
“Aku Dokter Min Gyu Seok, Dokgo Yongi-ssi. Dimana Woo Joo-ya?” tanya Gyu Seok.
Hae Gang pun heran, Woo Joo-ya? Woo Joo ( luar angkasa) adanya di langit. Tidak, jauh melampaui langit.
“Ini bukan waktunya bercanda.” Ucap Gyu Seok.
“Aku tidak bercanda. Dokter lah yang bercanda.Kau mendadak bertanya dimana luar angkasa.” Jawab Hae Gang.
“Begitu rupanya. Aku yang bercanda.” Ucap Gyu Seok dingin, lalu kembali memeriksa pasiennya.

Seol Ri menghubungi Kedutaan Besar China untuk mencari tahu soal Hae Gang. Kata2nya  pun terputus dan langkahnya juga terhenti begitu melihat Jin Eon. Wajahnya terlihat cemas. Ya apalagi. Dia takut Jin Eon bertemu Hae Gang. Sementara itu, Hae Gang berjalan ke arah luar. Keduanya pun bertemu. Jin Eon lalu teringat kata2 Nyonya Kim kalau Hae Gang sudah bertemu pria yang baik dan hidup bahagia.
“Terima kasih atas bantuanmu waktu itu. Mungkin aku takkan bisa mendapatkan uangnya jika pergi sendirian tapi aku sudah memberikan uang itu pada seseorang yang berhak menerimanya dan anaknya akan segera di operasi.” Ucap Hae Gang.
Jin Eon diam saja, menatap Hae Gang dengan dingin. Jin Eon lalu teringat kata2 Seol Ri tentang Hae Gang dan Baek Seok yang terlihat seperti pasangan suami istri.
“Bagaimana lukamu? Kenapa kau pergi ke rumah sakit? Apa kau terluka di bagian lain sehingga kau datang ke sini?” tanya Hae Gang.

Jin Eon tetap diam dan menatap Hae Gang dingin. Hae Gang pun kesal dibuatnya. Jin Eon lalu meminta KTP Hae Gang. Hae Gang tidak mau memberikannya. Jin Eon memaksa, tapi Hae Gang tetap menolak. Hingga akhirnya, Jin Eon merampas tas Hae Gang dan memeriksanya. Ia mengambil dompet Hae Gang. Namun belum sempat ia memeriksa dompet Hae Gang, Seol Ri sudah datang.
“Jin Eon Sunbae.” Panggil Seol Ri, membuat Hae Gang terkejut.
“Yong Gi Eonni. Apa yang terjadi? Kenapa kalian bisa ada di sini?” tanya Seol Ri.
“Kalau begitu Choi Jin Eon-ssi adalah…”
“Benar. Orang yang kusebutkan waktu itu…” ucap Seol Ri.
Seol Ri lalu menggandeng mesra lengan Jin Eon. Dan Jin Eon terlihat tegang.
“… lelaki bermasalah yang paling kucintai di seluruh dunia.” Ucap Seol Ri lagi.
Hae Gang pun langsung menatap Jin Eon kesal. Tak lama kemudian, ia beranjak pergi. Jin Eon membisu. Seol Ri pergi menyusul Hae Gang.

Gyu Seok masuk ke ruangannya dan mendapati Jin Eon sudah menunggunya di sana. Jin Eon pun mengajak Gyu Seok bekerja sama mengembangkan obat untuk penyakit gaucher. Kamera lalu berpindah pada Hae Gang yang duduk sendirian di taman. Ia teringat pertemuannya dengan Jin Eon di depan apartemen Seol Ri malam itu.

Tak lama kemudian, Seol Ri pun datang membawakannya minuman. Hae Gang terlihat jengah dengan semua tindak tanduk Jin Eon. Seol Ri lalu berkata kalau Hae Gang sangat mirip dengan mantan istri Jin Eon. Hae Gang terkejut mendengarnya dan langsung menatap Seol Ri.
“Itulah kenapa dia bersikap demikian padamu. Aku tidak ingin kau salah paham. Aku juga terkejut saat pertama melihatmu. Sekarang aku tahu kau pasti orang yang berbeda. Tapi kalian berdua sangat mirip.” Ucap Seol Ri.
Hae Gang pun teringat pertemuannya dengan Jin Eon di perpustakaan. Saat itu, Jin Eon meminta Hae Gang menatapnya selama 30 detik. Hae Gang pun bertanya apa Jin Eon mengenal dirinya. Jin Eon juga menanyakan hal yang sama. Apa Hae Gang mengenal dirinya.
Hae Gang tertawa heran. Ia tidak mengerti kenapa Jin Eon bisa menyangkanya begitu. Ia merasa itu tidak masuk akal. Seol Ri pun heran. Ia bertanya kenapa Hae Gang begitu tersingung, memangnya apa yang sudah dilakukan Jin Eon. Hae Gang sendiri tidak mengerti kenapa ia marah. Seol Ri lalu mengajak Hae Gang dan Baek Seok makan malam bersama. Tapi Hae Gang menolak.
Hae Gang lalu beranjak pergi. Langkahnya langsung terhenti begitu melihat Jin Eon. Begitu pula dengan Jin Eon. Seol Ri juga terkejut melihat kemunculan Jin Eon. Seketika wajahnya berubah menjadi cemas. Ia pun bergegas menghampiri mereka. Ia mengajak Hae Gang makan malam bersama. Jin Eon menolak. Ia berkata sudah ada janji makan malam dengan Baek Seok. Seol Ri tetap memaksa ingin Hae Gang ikut makan malam dengan mereka. Jin Eon menolak. Ia berkata tidak akan nyaman jika Hae Gang juga ikut makan malam dengan mereka. Jin Eon lalu beranjak pergi. Mendengar itu, Hae Gang pun menjadi kesal dan langsung menerima ajakan makan malam Seol Ri.
Hae Gang dan Seol Ri sudah masuk duluan ke restoran. Sedangkan Jin Eon masih di bawah memarkir mobilnya. Seol Ri lantas menelpon Jin Eon. Ia memberitahu Jin Eon kalau mereka masuk ke restoran lobster. Jin Eon pun terkejut mendengarnya dan berkata mereka tidak akan makan di sana. Seol Ri pun langsung melirik Hae Gang yang sedang melihat daftar menu.
Baek Seok yang masih di kantornya, teringat pertanyaan Jin Eon di telepon tadi. Jin Eon bertanya apa Baek Seok akan datang sendirian. Baek Seok juga ingat saat Seol Ri menelponnya, Seol Ri memberitahu kalau ia, Hae Gang dan Jin Eon sedang dalam perjalanan. Seol Ri juga bilang mereka akan makan malam bersama. Baek Seok pun terlihat cemas.
“Bagaimana bisa kita batalkan kalau sudah memesan hidangannya?” tanya Seol Ri pada Jin Eon.

Jin Eon lalu memanggil pelayan. Ia bertanya apa ada menu yang lain selain lobster. Pelayan berkata hanya ada bola2 nasi. Jin Eon pun meminta bola2 nasi dan melarang pelayan memasukkan lobster ke dalamnya. Seol Ri pun langsung mengerti apa yang terjadi. Ia menatap Jin Eon dengan kesal.
“Kau pikir dia Do Hae Gang, bukan hanya mirip. Baiklah, kita akan cari tahu apakah dia akan sakit setelah makan lobster.” Batin Seol Ri.
Hae Gang menegur Seol Ri. Ia memberitahu ponsel Seol Ri yang berdering. Seol Ri mendapat telepon dari kedutaan besar Korea di China. Seol Ri pun langsung beranjak pergi. Bersamaan dengan itu, pelayan datang mengantar pesanan mereka. Hae Gang menatap lobster itu dengan penuh minta. Sementara Jin Eon menatap Hae Gang dengan cemas.
Seol Ri akhirnya mendapatkan jawaban kalau Hae Gang tidak pergi ke China. Ia pun heran kenapa Presdir Choi memiliki passport Hae Gang.

Jin Eon melarang Hae Gang makan lobster. Hae Gang pun kesal. Hae Gang semakin kesal saat melihat Jin Eon menjauhkan piring lobster itu darinya. Tak lama kemudian, Seol Ri dan Baek Seok pun datang. Melihat Hae Gang yang kesal, Baek Seok pun berbisik haruskah ia meninju Jin Eon. Hae Gang langsung tertawa mendengarnya.
Jin Eon semakin cemas saat melihat Hae Gang mulai menyantap lobster itu. Seol Ri menatap Jin Eon dengan kesal. Hae Gang terus menyantap lobster itu, membuat Jin Eon semakin dan semakin cemas.

Hae Gang sedang mencuci tangannya di toilet. Ia pun terkejut saat melihat bintik2 merah di lehernya. Seol Ri menyusul Hae Gang ke toilet. Ia juga terkejut melihat alergi Hae Gang yang mulai kumat.
Baek Seok meminta Jin Eon menjaga Seol Ri. Ia berkata selama ini Seol Ri sudah hidup sangat menderita. Jin Eon diam saja dan wajahnya terlihat cemas. Jin Eon lalu menanyakan bagaimana Baek Seok bisa mengenal Yong Gi. Baek Seok tidak menjawab dan hanya berkata sangat penasaran kenapa Jin Eon ingin mengetahuinya.
“Aku merasa seperti mengenalnya.” Jawab Jin Eon.
“Bagaimana kau bisa mengenalnya?” tanya Baek Seok.
“Aku rasa tidak semestinya kukatakan dia orang yang kukenal.” Jawab Jin Eon.

Tak lama kemudian, Hae Gang pun masuk dengan tubuh yang lemas dan wajah yang pucat. Jin Eon langsung menatap cemas ke arah Hae Gang. Sementara Baek Seok terlihat heran melihat kondisi Hae Gang yang seperti itu. Hae Gang akhirnya pingsan.
“Hae Gang/Yong Gi!” teriak Jin Eon dan Baek Seok bersaman seraya menghampiri Hae Gang.

Baek Seok mendorong tubuh Jin Eon yang ingin memeluk Hae Gang. Baek Seok berteriak, menyuruh seseorang memanggil ambulance. Seol Ri terkejut melihatnya dan langsung menatap ke arah Jin Eon.

Baek Seok menunggui Hae Gang yang terbaring lemas. Tak lama kemudian, Hae Gang membuka matanya. Baek Seok memberitahu Hae Gang apa yang dikatakan dokter. Dokter berkata Hae Gang alergi udang dan kerang.
“Ini bisa terjadi lagi sewaktu2 kan? Apa yang menantiku selanjutnya? Masalahnya aku harus mencari tahu tentang diriku sendiri. Cuma masalahnya aku tidak tahu. Choi Jin Eon-ssi, dia melarangku memakannya. Dia memintaku agar memakan bola2 nasi saja. Ini hanya kebetulan kan?” ucap Hae Gang.
Baek Seok pun terkejut mendengarnya.

Seol Ri meminta penjelasan pada Jin Eon kenapa Jin Eon begitu marah pada Hae Gang. Seol Ri juga berkata Jin Eon bukanlah orang yang pemarah. Jin Eon orang yang baik, sabar dan tidak pernah marah. Jin Eon tidak marah sekali pun padanya. Meskipun ia bilang akan pergi ke London, meskipun ia menaruh namanya sebelum nama Jin Eon di makalah, dan meskipun ia membuat Jin Eon sengsara karena Hae Gang, tapi Jin Eon tak pernah marah padanya.
“Yong Gi Eonni adalah pacar kakakku. Dia hidup bersama kakakku. Dia adalah wanita yang dicintai kakakku seolah2 dia adalah hidupnya.” Ucap Seol Ri.
“Apapun yang kukatakan, itu akan menyakitimu. Jadi itu sebabnya aku berhati2 dalam ucapanku. Aku tak bisa menjelaskannya, tapi aku akan memberitahumu apa adanya. Dia adalah Hae Gang. Dia bukan Dokgo Yong Gi. Aku tahu Seol Ri, aku sangat tahu. Aku harus tahu kenapa dia bersikap demikian dan kenapa dia hidup seperti itu. Begitu aku mengetahui dan memahaminya, aku akan bisa menerima situasi ini. Aku hanya ingin tahu yang sebenarnya. Aku akan suka jika dia melakukannya dengan sengaja. Aku tidak akan pernah mengganggu mereka berdua.” Jawab Jin Eon.
Seol Ri yang sudah tahu sejak awal pun tetap saja terkejut mendengar penjelasan Jin Eon.
“Tidak, kau sedang kebingungan saat ini. Ini hanya khayalanmu yang salah dan sia2. Dia sendiri yang bilang namanya Dokgo Yong Gi. Kakakku bilang dia Dokgo Yong Gi. Semua teman2 kakakku bilang dia Dokgo Yong Gi. Aku bahkan memeriksa KTPnya. Mengapa kau tak bisa percaya? Mengapa kau tak percaya? Ini karena kau tak ingin percaya. Ini karena kau ingin percaya dia adalah Do Hae Gang.” Ucap Seol Ri.
“Bukan begitu. Pasti terjadi sesuatu pada Hae Gang.” Jawab Jin Eon yakin.
Seol Ri pun semakin terluka mendengar ucapan Jin Eon.

Hae Gang yang sedang berbaring di kamarnya memberitahu Baek Seok kenapa Jin Eon bersikap seperti itu padanya. Hae Gang bilang itu karena dirinya mirip dengan Do Hae Gang. Baek Seok pun terdiam. Hae Gang lalu bertanya pada Baek Seok apa itu masuk akal Jin Eon menganggap ia istrinya. Hae Gang pun merasa itu kesalahpahaman.
“Ya, dia salah paham, berspekulasi dan mengatakan hal yang tidak masuk akal. Pikirannya tidak waras.” Jawab Baek Seok.
“Kenapa kau begitu yakin?” tanya Hae Gang.
“Karena istrinya sudah meninggal. Akibat kecelakaan, tak lama setelah perceraian mereka.” Jawab Baek Seok.
Hae Gang pun kaget, apa?
“Kurasa Seol Ri juga tidak tahu.” Jawab Baek Seok.

Jin Eon tidak bisa tidur. Berkali2 ia mengubah posisi tidurnya, tapi tetap saja ia tidak bisa tidur. Akhirnya, ia beranjak dari kasurnya dan pergi mengambil kartu nama Yong Gi di lacinya. Ia pun pun menelpon Yong Gi. Hae Gang sendiri juga belum tidur. Ia pun terbangun lantaran ponselnya yang berdering.

Awalnya Jin Eon tidak mau bicara. Tapi akhirnya ia bicara lantaran Hae Gang mau menutup teleponnya. Hae Gang pun kaget mendengar suara Jin Eon. Jin Eon menanyakan keadaan Hae Gang. Setelah mengetahui Hae Gang baik2 saja, Jin Eon pun menutup teleponnya. Namun wajah Jin Eon masih terlihat sedih. Hae Gang juga merasakan apa yang dirasakan Jin Eon.
Paginya, Presdir Choi mencari2 passport Hae Gang. Ia menanyakan passport Hae Gang pada pembantunya. Namun pembantunya mengaku tidak pernah melihat passport itu. Presdir Choi pun curiga pada Tae Seok.
Tae Seok sendiri sedang bersiap2 di kamarnya. Jin Ri pun heran melihat suaminya yang pergi ke kantor di hari libur. Tae Seok berkata tidak ada hari sabtu atau pun minggu baginya karena ia seorang pengusaha.
“Wajahmu tidak kelihatan seperti akan pergi berbisnis. Diluar musim gugur, tapi wajahmu dipenuhi angin musim semi. Kenapa? Kau akan menemui kekasihmu yang dulu?” tanya Jin Ri sambil mengeratkan dasi Tae Seok, membuat Tae Seok tercekik.
(Hahaha, suka klo pasangan ini udah saling ngebully satu sama lain)

Tiba2, Presdir Choi datang. Dengan wajah kesal, Presdir Choi menyuruh Jin Ri meninggalkan mereka berdua. Setelah Jin Ri pergi, Presdir Choi langsung menanyakan passport Hae Gang. Tae Seok pun terkejut mendengar passport Hae Gang hilang.
“Jika passport Hae Gang hilang, berarti mereka mencurigai sesuatu. Apakah itu adik ipar?” ucap Tae Seok.
Presdir Choi langsung syok mendengar jawaban Tae Seok.
Seol Ri datang lagi ke rumah Jin Eon. Nyonya Hong meminta Seol Ri memasak untuk makan siang. Namun Seol Ri mengajak Nyonya Hong makan siang diluar bersama Jin Eon. Ia berkata mereka juga bisa pergi nonton dan berbelanja.
“Tapi Jin Eon kan pergi bekerja.” Ucap Nyonya Hong.
“Ini kan Hari Sabtu, ibu. Kenapa dia harus pergi bekerja.” Jawab Seol Ri heran.
“Dia tidak memiliki Hari Sabtu jika berusaha mengejar ketinggalan dari Presdir Min.” ucap Nyonya Hong.
Seol Ri langsung kecewa. Melihat itu, Nyonya Hong pun berkata mereka bisa pergi belanja tanpa Jin Eon.
“Apa kau ingin aku membelikanmu sesuatu?” tanya Nyonya Hong.
“Belikan aku gaun pengantin ibu.” Jawab Seol Ri.
“Jadi Jin Eon sudah melamarmu?” tanya Nyonya Hong.
“Belum. Aku yang akan melamarnya. Tolong percepat pernikahan kami, ibu.” Jawab Seol Ri.

Baek Ji menghampiri Hae Gang yang sedang membuat kimbab untuk makan siang dengan wajah cemberut. Gadis itu mengeluh kalau polisi menyuruhnya menuliskan catatan terima kasih. Dan orang pertama yang ditulis haruslah si pemilik dompet yang dicurinya. Ia juga bilang si pemilik dompet harus menandatanganinya.
“Apa yang harus kutulis? Maafkan aku, aku bersalah? Bukan hal seperti itu. Apa yang harus kutulis dalam dua halaman?” keluh Baek Ji.
“Tulis saja tentang dirimu. Mengapa kau tidak ingin pergi ke sekolah? Mengapa kau memakai riasan? Oh ya! Bukankah kau menyukai EXO? Jika kau menulis tentang personil EXO, maka kau bisa mengisi 2 halaman.” Jawab Hae Gang.
“Dia tidak akan menandatanganinya jika aku menuliskan tentang itu. Berikan informasi kontaknya.”ucap Baek Ji.
Jin Eon tersenyum menatap Baek Ji dan memberikan tanda tangannya di tugas Baek Ji. Setelah selesai, Jin Eon pun menghampiri Baek Ji. Baek Ji pun mengaku ia ditampar Hae Gang karena merobek foto di dompet Jin Eon.
“Hal ini telah mengganggumu karena mengatakan berbagai hal pada kakakmu?” tanya Jin Eon.

Baek Ji pun mengangguk. Jin Eon lalu menyuruh Baek Ji menulis catatan terima kasih untuk Hae Gang. Baek Ji pun menolak. Ia mengaku tak bisa melakukan hal itu karena sudah berkata sangat kasar pada Hae Gang. Jin Eon pun bertanya kata2 kasar apa yang dikatakan Baek Ji pada Hae Gang.
“Bahwa saat ingatannya kembali, dia akan mengkhianati kakakku.” Jawab Baek Ji.
Jin Eon pun heran, saat ingatannya kembali?
“Bahwa saat menemukan keluarganya, dia akan menelantarkan kami. Bahwa dia tidak akan menerima perasaan kakakku karena berencana meninggalkan kami.” Jawab Baek Ji.
“Jadi Yong Gi Eonni kehilangan ingatannya?” tanya Jin Eon kaget.
“Dia mengidap amnesia dan tidak ingat apapun.” Jawab Baek Ji.
Jin Eon mengantarkan Baek Ji pulang. Dari situlah ia tahu dimana Hae Gang tinggal. Setelah Baek Ji masuk ke rumahnya, Jin Eon tak langsung pulang. Ia turun dari mobilnya dan menatap rumah yang ditinggali Hae Gang.

Tepat saat itu, Hae Gang pulang bersama anak2. Jin Eon pun tertegun melihat keceriaan Hae Gang bersama anak2 itu. Langkah Hae Gang langsung terhenti begitu melihat Jin Eon. Baek Jo pun mengajak kakak dan adik2nya masuk ke rumah.
Jin Eon menatap Hae Gang dengan tatapan sedih. Sementara Hae Gang menatap Jin Eon dengan heran. Perlahan2, Jin Eon pun mendekati Hae Gang. Jin Eon lalu berlutut dan mengikatkan tali sepatu Hae Gang. Tangisnya pun mengalir. Sementara Hae Gang tampak terkejut dengan apa yang dilakukan Jin Eon.
Jin Eon lalu berdiri dan menatap Hae Gang. Tangisnya semakin deras mengalir.
“Kenapa kau menangis?” tanya Hae Gang bingung.
Jin Eon lalu menarik Hae Gang ke dalam pelukannya. Hae Gang pun terkejut.

Bersambung ke episode 15

3 comments:

  1. Saya menangis baca adegan terakhir episode ini.
    Terimakasih sudah menulis sinopsisnya eonni :')

    ReplyDelete
  2. Aku harap mereka bersatu lagi.. Huhuhu mewek baca adegan terakhir, entah kenapa kesel banget sama Kang Seol Ri, kaya nenek sihir berusaha memisahkan yg salong mencintai

    ReplyDelete
  3. disatu sisi sy senang lht Jin Eon kembali bersama Hae Gang, tp disisi lain kalau ingat perbuatn Jin Eon rasanya jd sebal lagi. semudah itukah? klu mmg Jin Eon cinta sama ex-wife ya kenapa di ceraikan dan mesra2an sama wanita lain. ga jels nih si Jin Eon

    ReplyDelete