Wednesday, September 28, 2016

I Have a Lover Ep 23 Part 1

Sebelumnya....


Hae Gang masih belum siuman. Diluar, Jin Eon terus berteriak ingin kembali dengan Hae Gang. Di dalam, Hae Gang mulai sadar. Jin Eon terus berteriak, memohon agar Hae Gang mau memberinya satu kesempatan lagi. Baek Seok yang sudah tidak bisa menahan dirinya lagi pun langsung mencengkram kerah baju Jin Eon.

“Bagaimana bisa begitu mudah bagimu? Bagaimana mungkin cinta sesederhana itu bagimu? Apa? Kau ingin kembali? Bagaimana caranya kau kembali? Dia ditikam setelah menemukan jalan pulangnya! Di depan mataku, dia hampir mati! Baik kau dan aku tidak memiliki tempat untuk kembali. Kau lah satu2nya orang yang mendorongnya ke jurang! Kau orang yang mendorongnya ke jurang sebanyak dua kali! Kau mencampakkannya! Setelah kau mencampakannya, kenapa? Kenapa sekarang, setelah semua yang terjadi? Tidak ada ingatan tentangmu selama 4 tahun ini! Kenapa? Kau membuatku mencintainya, lalu kenapa? Saat cintaku begitu sulit… saat aku mencintaimu, membuatku bahkan tidak bernapas…” ucap Baek Seok.

Baek Seok akhirnya melepaskan cengkramannya, ia menangis.


“Jika tidak ada jalan untuk kembali, maka aku dan Hae Gang akan memulainya kembali. Tidak peduli itu jurang atau tebing, kali ini aku akan melakukannya dengan benar tanpa melarikan diri lagi dan memulainya lagi. Tidak peduli apapun yang orang2 katakan, aku akan menemukan Hae Gang dan dengan istriku, aku akan memulainya lagi.” Jawab Jin Eon.

“Kau tidak boleh memulainya. Kau tidak boleh melakukan apapun. Aku pastikan kau tidak akan bisa memulainya!” ucap Baek Seok.


“Tes DNA sudah keluar. Dia istriku! Dia Hae Gang!” jawab Jin Eon, sambil menunjukkan hasil tes DNA itu.

Tapi Baek Seok malah merobek hasil tes DNA itu.

“Istrimu? Mungkin maksudmu mantan istrimu. Mantan istri yang kau campakkan. Istrimu sudah tidak ada dan tidak pernah ada di masa depan!” teriak Baek Seok.


“Biarkan Hae Gang yang memilih. Biarkan Hae Gang yang membuat keputusan.” Jawab Jin Eon.

“Itu benar, dan ketika ingatannya kembali dia akan menghukummu.” Ucap Baek Seok.

(Kata2 Baek Seok ada benarnya, tapi aku merasakan kecemburuan Baek Seok saat Baek Seok mengatakan hal itu pada Jin Eon. Kelihatan banget Baek Seok takut kalau Hae Gang balikan ama Jin Eon).


Tak lama berselang, Hae Gang sadar. Hae Gang terus menangis dan menyebut2 nama Eun Sol. Perawat pun langsung menghubungi dokter. Pintu ruangan UGD terbuka, dokter masuk dengan terburu2. Jin Eon ikut masuk, dan Baek Seok semakin kesal melihat Jin Eon.

“Dokgo Yong Gi-ssi, apa kau bisa mendengarku?” tanya dokter sembar memeriksa Hae Gang.


Hae Gang diam saja dan terus menangis dengan napas terengah2. Jin Eon dengan wajah menyesal mendekati ranjang Hae Gang. Jin Eon pun menutupi kaki Hae Gang dengan selimut dan menggenggam kaki Hae Gang erat2. Hae Gang, dengan napas terengah2  terus memanggil Eun Sol.


“Eun Sol-ah. Andwae! Kau tidak boleh, Eun Sol-ah…. Eomma, ini eomma sayang. Eun Sol-ah, ayo pergi. Kita pergi, demi ayahmu.” ucap Hae Gang dengan napas terengah2.


Jin Eon pun hanya bisa menangis dan menatap wajah Hae Gang dengan penuh penyesalan. Hae Gang terus memanggil2 nama Eun Sol dengan napas terengah2, sebelum akhirnya menutup matanya. Grafik jantung Hae Gang pun berubah menjadi garis lurus. Tangis Jin Eon langsung pecah. Dokter datang, mencoba menyadarkan Hae Gang. Dokter akhirnya menyerah karena grafik jantung Hae Gang belum berubah sama sekali.


Jin Eon perlahan2 mendekati ranjang Hae Gang. Ia berusaha menyadarkan Hae Gang, sama seperti waktu itu, saat Hae Gang nekad mengakhiri hidup dengan meloncat ke dalam sungai.

“Bernapaslah! Buka matamu. Sadarlah, Yeobo… Hae Gang-ah!” teriak Jin Eon sambil mengguncang2 tubuh Hae Gang.

“Aku yang salah. Aku mencinataimu. Aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi, meskipun hanya sesaat. Aku tidak akan pernah berhenti mencintaimu, meskipun hanya sesaat. Bukankah kau juga merasakan hal yang sama? Aku tahu kau juga mencintaiku! Kau sudah berjanji! Kita sudah membuat kesepakatan untuk terus bersama sampai hari terakhir. Kau berjanji akan selalu berada di sisiku. Kau harus menepati janjimu! Buka matamu! Hae Ganga-ah, buka matamu! Bernapaslah! Kumohon bernapaslah, Hae Gang-ah!” teriak Jin Eon.


Hae Gang pun kembali!! Dokter datang dan langsung memeriksa Hae Gang. Jin Eon menarik napas lega. Tak lama kemudian, Hae Gang mulai membuka matanya.


Tae Seok sedang sendirian di ruangannya begitu Jin Eon datang. Tae Seok kesal dan menyuruh Jin Eon mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk ke ruangannya. Jin Eon membela diri, ia berkata bahwa ia datang bukan untuk berbicara dengan Tae Seok. Tae Seok langsung berdiri dan menghampiri Jin Eon. Jin Eon menatap tajam Tae Seok. Saat Tae Seok hendak bertanya alasan Jin Eon menemuinya, Jin Eon langsung memberinya bogem mentah. Tae Seok pun terjatuh karena pukulan Jin Eon.

“Kau tahu, aku tidak bisa berdiri di tengah2 orang yang bersih. Bahkan kau tahu, bagaimana cara mengambil tempat yang bersih itu. Karena kau sangat2 bersih. Tidak ada hal kotor sekecil apapun di tanganmu. Bagaimana bisa kau menjadi manusia sebersih itu? Karena kau orang yang baik? Karena kau begitu mulia?” ucap Tae Seok sambil mengelap darah di ujung bibirnya.

Tae Seok kemudian tersenyum sinis dan berkata bahwa itu karena ada orang kotor di belakang Jin Eon. Orang2 yang begitu rapi tidak memiliki kemurahan hati. Tae Seok lantas menyuruh Jin Eon mendengarkannya. Tae Seok bilang bahwa Jin Eon tidak bisa mengancamnya. Tae Seok bilang segera setelah Jin Eon menemukan orang itu, orang itu akhirnya akan meninggal. Tae Seok bilang bahwa kekuatannya lebih kuat daripada tinju yang dihadiahkan Jin Eon padanya.


Tae Seok akhirnya berdiri. Jin Eon yang sudah kesal berkata bahwa orang yang coba dibunuh Tae Seok dua kali adalah Hae Gang, bukan Yong Gi. Tae Seok terkejut dan langsung menatap Jin Eon. Jin Eon menatap tajam Tae Seok, ia berkata bahwa Hae Gang masih hidup. Jin Eon bilang empat tahun lalu tidak ada seorang pun di sisi Hae Gang tapi sekarang ia ada untuk Hae Gang. Jin Eon juga bilang tidak akan mengampuni atau mentolerir Tae Seok. Jin Eon juga mengatakan bahwa ia tidak mengancam Tae Seok, tapi yang coba ia lakukan adalah menangkap Tae Seok. Tae Seok terkejut.


Baek Seok yang masih di rumah sakit, melihat hasil tes DNA yang sudah disobeknya dengan wajah sedih.


Di ruang UGD, Hae Gang sudah sadar dan mendapatkan kembali ingatannya. Ia ingat ada yang melarikan mobilnya saat itu.


Seol Ri duduk termenung di kamarnya. Ia masih kepikiran soal Hae Gang yang ditusuk di depan matanya. Lamunannya pun buyar saat Yong Gi masuk. Yong Gi bilang ada yang mau ia bicarakan. Wajah Seol Ri tampak pucat. Yong Gi bertanya apa Seol Ri baik2 saja. Seol Ri pun berkata bahwa dirinya baik2 saja.

“Apa yang ingin kau katakan?” tanya Seol Ri.


“Wanita yang bernama Do Hae Gang. Aku melihat paspornya saat aku sedang bersih2. Bagaimana kau bisa mengenalnya?”

Seol Ri sedikit terkejut dengan pertanyaan Yong Gi.

“Kenapa paspornya ada bersamamu?”

“Kenapa kau ingin tahu tentangnya?”

“Karena dia menyelamatkan hidupku. Aku selalu ingin bertemu dengannya jadi aku bisa meminta maaf dan mengucapkan terima kasih tapi aku tidak punya keberanian untuk melakukannya. Kalau kau memiliki nomornya atau alamat rumahnya, bisa beritahukan padaku? Jadi aku bisa menemuinya sebelum aku kembali ke China.”

“Jangan temui dia. Akan lebih baik jika kau tidak menemuinya.”

“Kenapa?”


“Dia wanita yang dicintai kakakku dan dia istri dari pria yang kucintai. Yang lebih penting, dia adalah menantu Cheon Nyeon Farmasi. Eonni, aku tahu kau pernah bekerja di Cheon Nyeon Farmasi, dan aku juga tahu kau si pengungkap masalah.”

Yong Gi pun kaget.

“Kau sudah bertemu Song Mi Ae? Dia sekarang bekerja sebagai seketaris di Cheon Nyeon Farmasi. Jika kau menemui wanita itu, itu akan sangat berbahaya bagimu. Aku akan mencari tahu sehingga kau bisa kembali ke China dengan aman. Mulai dari wanita itu, Cheon Nyeon Farmasi, aku akan melakukan sebisaku untuk melindungimu dan Woo Joo.”

Yong Gi resah, tapi ia tampak mulai termakan omongan Seol Ri.

SHIT! Seol Ri berusaha membuat Hae Gang dibenci semua orang. Geram banget sama cewek satu ini.

Jin Ri yang sedang merias dirinya, tampak memikirkan kata2 Tae Seok. Ia penasaran, kematian siapa yang diinginkan Tae Seok. Sementara Tae Seok di ruang makan sedang memikirkan kata2 Jin Eon bahwa orang yang coba dibunuhnya dua kali adalah Hae Gang.Tak lama kemudian, Jin Ri datang dan heran melihat Tae Seok yang makan sendirian. Jin Ri pun semakin curiga dengan Tae Seok saat Tae Seok meminta semangkuk nasi lagi pada pelayan.


“Kenapa kau makan sendirian? Bukan kah ibu tiri sudah mengajak kita untuk sarapan bersama?” tanya Jin Ri, namun Tae Seok diam saja.

“Oya, sepertinya Jin Eon tidak pulang semalam. Apa kau tahu dimana dia menghabiskan waktuanya semalam?” tanya Jin Ri, tapi Tae Seo tetap diam dan terus menghabiskan sarapannya. Jin Ri pun kesal. Jin Ri lantas menanyakan arti pernikahan mereka. Namun lagi2 Tae Seok tidak menanggapi Jin Ri dan hanya menyuruh Jin Ri makan. Jin Ri pun semakin kesal.

Jin Ri kemudian mengambil sumpitnya dengan wajah kesal, kemudian mengarahkan sumpitnya itu pada Tae Seok. Tae Seok terkejut, Jin Ri terus menatap tajam Tae Seok.


“Apa kesamaannya? Setiap sumpit memiliki pasangan. Yang satu adalah kau sayang, dan yang satunya lagi adalah aku. Dengan hanya satu sumpit saja, kau bisa menyodok matamu keluar. Kau tidak bisa makan menggunakan itu. Kau tidak bisa makan daging, tidak bisa makan ikan, tidak bisa makan sayuran. Jangan coba melakukannya sendiri. Kau bisa menggunakanku.” Ucap Jin Ri, yang membuat Tae Seok terpana.


Nyonya Hong menatap Presdir Choi yang sedang membaca koran dengan wajah lesu. Presdir Choi yang menyadari Nyonya Hong pun tengah menatapnya pun bertanya apa yang mau dikatakan Nyonya Hong. Nyonya Hong mengajak Presdir Choi bercerai. Presdir Choi kaget. Nyonya Hong bilang mereka harus bercerai tanpa melibatkan pengacara, karena itu akan berdampak buruk pada citra perusahaan.

“Ada apa ini? Apa kau menemukan sesuatu yang baru. Berapa kali kau mengatakan soal perceraian?” tanya Presdir Choi.

“Tidak ada yang kuinginkan. Aku sudah sering mengatakan ini, tapi itu hanya masuk ke telinga kanan dan keluar lewat telinga kiri.” Jawab Nyonya Hong.

“Maksudku kau sering kali bilang ingin hidup denganku tapi kadang2 kau membicarakan perceraian.” Ucap Presdir Choi.


“Aku menikah denganmu saat aku berusia 20 tahun dan aku memiliki Jin Eon saat aku berusia 21 tahun. Dan setiap hari aku berjuang membesarkan Jin Ri. Aku tidak bisa mengalaminya lagi saat aku berusia 20 atau 30 tahun nanti. Jika aku membiarkan hidupku berakhir seperti ini, maka aku tidak akan bisa hidup sebagai Hong Se Hee walaupun hanya sehari.” Jawab Nyonya Hong.

“Jika kita bercerai, apa hidupmu akan berubah?” tanya Presdir Choi.

“Setidaknya aku tidak akan membebanimu sepanjang hidupmu.” Jawab Nyonya Hong.

“Apa? Beban? Apa pernah aku mengatakan kau adalah beban dalam hidupku?” tanya Presdir Choi.

“Perceraian dengan kesekapatan memerlukan waktu berbulan2 juga kan? Aku ingin prosesnya berlangsung cepat tanpa diketahui anak2.” Jawab Nyonya Hong.

“Apa kau serius menginginkan hal ini?” tanya Presdir Choi.

“Aku tidak ingin kau melihatku dalam keadaan yang buruk. Aku ini Miss Korea, Hong Se Hee.” Jawab Nyonya Hong.


Jin Eon dan Baek Seok masih menunggui Hae Gang. Tak lama kemudian, Hae Gang dibawa keluar dari ruang ICU. Baek Seok langsung menyapa Hae Gang. Hae Gang tersenyum pada Baek Seok. Baek Seok menangis, sementara Jin Eon menatap cemas ke arah Hae Gang. Hae Gang meminta Baek Seok untuk tidak menangis. Hae Gang lalu dipindahkan ke ruang perawatan. Baek Seok mendampingi Hae Gang. Jin Eon terpaku menatap cemas Hae Gang.


Hae Gang masih tampak lemas. Dokter sedang memeriksa luka Hae Gang. Baek Seok terus mendampingi Hae Gang. Hae Gang menoleh ke pintu dan menemukan Jin Eon sedang menatapnya. Jin Eon masih menatap cemas Hae Gang. Hae Gang hanya terdiam menatap Jin Eon.


Produser Kim memberitahu Tae Seok bahwa Hae Gang sudah sadar. Tae Seok menyuruh Produser Kim membunuh Hae Gang. Tae Seok kemudian kaget saat Produser Kim memberitahua bahwa Jin Eon ada di rumah sakit menjaga Hae Gang.

(Bukan cuma Yong Gi tapi Tae Seok juga ingin membunuh Hae Gang…. Omo…..)


“Tidurlah. Jangan pikirkan apapun. Hanya tidur.” Ucap Baek Seok pada Hae Gang.

“Kudengar kau orang pertama yang menemukanku. Terima kasih karena sudah menemukanku lagi.” Jawab Hae Gang.

Hae Gang lantas menanyakan Seol Ri. Baek Seok bilang bahwa Seol Ri belum tahu kalau Hae Gang sudah sadar. Baek Seok pun heran karena Hae Gang menanyakan Seol Ri. Hae Gang berkata bahwa ia hanya penasaran saja. Baek Seok menyuruh Hae Gang tidur. Tapi Hae Gang malah bilang kalau ia mengingat sesuatu. Baek Seok pun terlihat cemas.


“Aku ingat ketika aku memarkirkan mobilku di pemberhentian Won Joo. Aku melihat wanita itu. Wanita itu membawa mobilku. Ini bukan mimpi. Pakaianku, yang kupakai saat aku kecelakaan… aku mengenakan itu. Aku pikir ingatanku akan kembali, Seok-ah.” Jawab Hae Gang.

“Tapi aku penasaran siapa dia, wanita itu.” ucap Hae Gang lagi.

“Apa kau tidak mendengar kata2 dokter? Istirahat dulu, tidak peduli apa yang terjadi.” Jawab Baek Seok.

“Bisakah kau membawakan pakaian itu? Jika aku melihatanya, ingatanku mungkin akan kembali. Setidaknya aku mengingat hari itu. Aku ingin ingatanku kembali.” Ucap Hae Gang.

“Kau masih lemah jadi mari kita hentikan pembicaraan ini.” jawab Baek Seok.

“Baiklah, aku akan tidur sembari menunggumu datang membawa pakaian itu.” ucap Hae Gang.


Baek Seok keluar dari kamar Hae Gang dan bertemu Jin Eon yang duduk di depan kamar Hae Gang. Baek Seok menghela napas kesal melihat Jin Eon. Baek Seok lantas mendekati Jin Eon.

“Dia bilang dia ingat saat memarkirkan mobilnya di pemberhentian Won Joo. Setelah dia pulih, kita harus mengakui semuanya. Aku mengakui kesalahanku dan kau mengakui kesalahanmu. Hanya seorang pengecut yang bersembunyi di balik ingatannya yang hilang dan bergantung pada hasil tes DNA. ” Ucap Baek Seok.

Baek Seok pun beranjak pergi, dan Jin Eon hanya bisa diam dalam duduknya.


Di rumah, Baek Seok sedang melipat pakaian yang dikenakan Hae Gang pada hari kecelakaan. Tuan Baek menghampiri Baek Seok. Ia terkejut saat Baek Seok mengatakan bahwa ingatan Hae Gang sudah mulai kembali. Baek Seok lantas berkata bahwa ia tidak tahu bagaimana menceritakan semuanya pada Hae Gang.

“Pada akhirnya dia akan mengetahui putrinya meninggal karena kesalahannya sendiri. Bagaimana kau akan memberitahunya? Dia tidak akan sanggup menerimanya. Apa yang harus kulakukan, ayah? Ini akan sangat menyakitinya.” Ucap Baek Seok cemas.


Hae Gang tidak bisa tidur. Nama Eun Sol selalu berputar2 di benaknya. Hae Gang tidak mengerti kenapa nama Eun Sol selalu berputar di benaknya. Hae Gang lantas menutupi wajahnya dengan selimut. Jin Eon menatap Hae Gang dari balik pintu. Jin Eon kemudian masuk dan mendekati Hae Gang. Jin Eon menurunkan selimut yang menutup wajah Hae Gang, juga menyibakkan rambut yang sedikit menutupi wajah Hae Gang. Hae Gang pun memejamkan matanya dan berkata bahwa ia memimpikan Jin Eon.


“Itu adalah mimpi yang kumiliki dan kau muncul dalam mimpi itu. Dalam mimpi itu, aku tenggelam dan seorang pria datang menolongku. Menurutmu kenapa aku jadi begini? Aku memimpikanmu. Sebuah mimpi, dimana kau memegang tanganku. Kau menangis.”

“Apa kau mengingat yang lain?”

“Eun Sol-ah. Sepertinya itu nama anak kecil. Nama itu tidak mau pergi dari kepalaku. Siapa anak itu?”


Jin Eon diam saja. Karena Jin Eon diam saja, Hae Gang bertanya apa yang Jin Eon pikirkan.

“Aku ingin memelukmu. Aku ingin tidur disampingmu. Aku memikirkan hal itu.”

“Semua makhluk di dunia ini saling membutuhkan. Kau untukku, dan aku untukmu. Apa hanya kebetulan saja kau mengatakan itu padaku saat aku di ICU? Itu seperti suaramu, Choi Jin Eon-ssi.”

“Itu memang suaraku.”

“Kau bilang kau ingin membantuku menemukan ingatanku. Bersama, denganku… kita berdua akan mencari ingatanku.”


Tae Seok tampak berjalan di lorong rumah sakit dengan wajah tegang.


Yong Gi juga ada di rumah sakit yang sama. Ia memeriksakan kesehatan Woo Joo. Dengan wajah sedih, Yong Gi menanyakan pengobatan Woo Joo. Gyu Seok balik bertanya, apa Yong Gi percaya padanya. Yong Gi pun terkejut. Gyu Seok lalu bertanya apa Woo Joo mempercayainya. Woo Joo dengan cepat menggeleng.



Hahah.. gemes pengen nyubit pipi Woo Joo…

Yong Gi lalu bertanya apa yang akan terjadi jika mereka mempercayai Gyu Seok. Gyu Seok berkata, akan ada pengobatan dan pengembangan obat. Gyu Seok ingin mengikutsertakan Woo Joo dalam uji klinis.

Yong Gi kaget. “Jika itu uji klinis, berarti obatnya masih belum ditemukan?”

“Dalam kasus ini, hanya ada satu obat di Amerika tapi obatanya sangat mahal.” Jawab Gyu Seok.

Yong Gi pun langsung menatap wajah polos Woo Joo dengan tatapan sedih.

“Jika kau mempercayaiku, aku akan mengikutsertakan Woo Joo dalam uji klinis.” Ucap Gyu Seok.


Tae Seok terus menyusuri lorong rumah sakit dan celingak celinguk mencari kamar Hae Gang. Ia pun akhirnya menemukannya dan melihat Jin Eon sedang bersama Hae Gang. Wajah Tae Seok tampak tegang. Sementara itu di dalam, Hae Gang menyuruh Jin Eon pergi. Jin Eon pun menolak.


“Memangnya tidak apa2 kalau kau tidak bekerja?”  tanya Hae Gang.

“Tidak masalah.” Jawab Jin Eon.

“Tapi aku merasa tidak nyaman. Seok akan segera datang. Dia akan terluka jika melihat kita bersama.” Ucap Hae Gang.

“Aku juga akan terluka melihatmu bersama pria lain, khususnya pria itu yang seperti cahaya bagimu.” Jawab Jin Eon.

Hae Gang pun kesal. Jin Eon mengalah. Ia berkata, ia akan keluar tapi ia tidak akan pergi dan akan menunggu diluar. Ia meminta Hae Gang tidak melupakan fakta bahwa ia menunggu diluar. Jin Eon pun beranjak pergi. Hae Gang menatap kepergian Jin Eon sambil berpikir. Entah apa yang dipikirkan Hae Gang.


Yong Gi dan Woo Joo keluar dari ruangan Gyu Seok. Yong Gi terus berjalan, sementara Woo Joo tampak asyik memainkan bola di tangannya di belakang Woo Joo. Yong Gi lalu melihat Baek Seok yang berjalan dengan wajah lesu. Yong Gi memanggil Baek Seok, tapi Baek Seok tidak menoleh. Yong Gi lantas menyadari Woo Joo tidak ada di sampingnya. Yong Gi pun berbalik dan memanggil Woo Joo dengan nama Woo Joo. Tapi tak lama, ia langsung memanggil Woo Joo dengan nama Zhang Ling.


Baek Seok menuju kamar Hae Gang dan mendapati Jin Eon duduk di depan kamar Hae Gang. Baek Seok berkata, bahwa dalam perjalanan ke bandara Hae Gang memutar mobilnya dan berhenti di pemberhentian Won Joo. Baek Seok curiga ada seseorang yang mau ditemui Hae Gang.

“Dia ingin menemuiku.” Jawab Jin Eon, yang membuat Baek Seok kaget.

Tepat saat itu, Yong Gi dan Woo Joo datang. Yong Gi menghentikan langkahnya begitu melihat Baek Seok.

“Pada hari itu, aku ada di Gangneung. Apa yang kau katakan benar. Memulainya lagi dengan istriku, bahkan jika kami harus mengakhiri hubungan kami, aku akan tetap memulainya. Hanya itulah cara agar kami dapat menyelesaikannya.” Ucap Jin Eon.

Baek Seok pun mengalah. Ia meminta Jin Eon menjaga Hae Gang dengan alasan bahwa besok pagi ia ada persidangan yang sangat penting. Baek Seok berkata bahwa malam ini hingga besok malam ia tidak bisa menginap di rumah sakit. Baek Seok lantas masuk ke kamar Hae Gang dengan wajah sedih.


Woo Joo terus memainkan bolanya, hingga akhirnya bolanya menggelinding ke kaki Jin Eon. Woo Joo pun berlari untuk mengambil bolanya. Yong Gi terkejut melihat Woo Joo bersama pria yang tidak dikenalnya.

“Kau menyukai Pororo juga?” tanya Jin Eon.

“Paman juga menyukainya?” tanya Woo Joo.

“Putriku yang menyukaianya.” Jawab Jin Eon.

Woo Joo lalu sadar kalau ia bicara menggunakan Bahasa Korea. Woo Joo pun cepat2 meralat, ia berkata bahwa ia orang China, bukan Korea dan namanya adalah Zhang Ling. Jin Eon tersenyum geli mendengarnya.


Tepat saat itu, Tae Seok muncul. Yong Gi panic dan langsung membawa pergi Woo Joo.


Taek Seok hendak mengejar Yong Gi tapi langkahnya dihentikan oleh Jin Eon. Jin Eon menatap Tae Seok dengan tatapan tajam.


Yong Gi terus berlari sambil menggendong Woo Joo. Tiba2, ia terjatuh. Yong Gi pun menggunakan tubuhnya sebagai tameng agar tubuh Woo Joo tidak membentur lantai. Yong Gi meringis kesakitan. Ia mencoba bangun, tapi tidak bisa. Tepat saat itu, Gyu Seok datang tersenyum geli melihat Yong Gi. Gyu Seok pikir, Yong Gi sedang berakting karena itulah ia tidak mempedulikan Yong Gi. Namun Yong Gi dengan cepat memegangi kaki Gyu Seok dan memohon agar Gyu Seok membawa pergi Woo Joo.


Sekarang, Gyu Seok ada di dalam taksi bersama Yong Gi dan Woo Joo. Betapa terkejutnya Gyu Seok saat Yong Gi meminta supir taksi mengantarnya ke alamat Nyonya Kim.


Jin Eon menarik Tae Seok ke ruangan Gyu Seok, namun pintu tidak kunjung terbuka saat Jin Eon menggedor2 pintu ruangan Gyu Seok.

“Bagaimana caranya aku menghentikanmu! Kenapa kau ke sini! Beraninya kau datang ke sini!” bentak Jin Eon.

Tak lama, suster datang dan memberitahu mereka bahwa Gyu Seok sedang pergi. Tae Seok pun mengajak Jin Eon bicara diluar.


“Apa yang harus kulakukan agar kau berhenti, Kakak Ipar? Sejauh mana aku harus pergi agar kau berhenti melakukannya? Jangan ganggu Hae Gang. Jangan pernah kau menyentuh rambutnya. Kau membunuh Kim Sun Yong, Tae Joon, dan Hae Gang, lalu selanjutnya aku. Ini bukan masalah yang bisa kau tutupi.” Ucap Jin Eon.

“Kaulah yang akan mengakhirinya. Kau akan mengakhirinya dengan tanganmu sendiri.” Jawab Tae Seok.

“Sesuai yang kuduga, mungkin akan lebih efektif jika aku bicara dengan adikmu.” Ucap Jin Eon.

“Aku berpikir akan lebih efektif mendengarkan apa yang ayahmu bicarakan. Jika kau menusukku dengan sebilah pisau, ayahmu lah yang akan terluka. Aku bukanlah lawanmu, tapi lawanmu adalah ayahmu sendiri.” Jawab Tae Seok.


Hae Gang sedang melihat2 pakaian yang ia kenakan saat kecelakaan itu terjadi. Baek Seok melarang Hae Gang berusaha keras. Hae Gang cemas, ia takut kalau ingatannya tidak kembali. Baek Seok menatap cemas Hae Gang saat Hae Gang menyebut nama Eun Sol. Hae Gang bilang bahwa nama Eun Sol tidak mau pergi dari pikirannya.

“Mulai dari kecelakaan itu, satu per satu… anak itu dan orang itu, aku akan mencoba mengingatnya.” Ucap Hae Gang.


Hae Gang lantas memejamkan matanya. Ia mencoba mengingat2 kecelakaan itu. Ingatan tentang kecelakaan itu pun kembali. Ia ingat saat dirinya ditabrak dari belakang oleh sebuah truk. Ingatan itu langsung membuatnya syok. Baek Seok mencoba menenangkan Hae Gang. Ia menyuruh Hae Gang mendengarkan music atau membaca buku agar Hae Gang lebih rileks.

“Aku ingat. Aku tiba2 ditabrak dari belakang. Seseorang… siapa di dunia ini? Kenapa?” tanya Hae Gang.

“Ada yang mau kukatakan padamu. “ jawab Baek Seok.


“Aku juga ingin mengatakan sesuatu. Sebenarnya, aku mulai ingat orang itu. Kilasan2 memoriku. Entah itu mimpi, entah itu ingatanku, entah itu khayalanku, atau keinginanku. Bahkan meskipun itu bukan aku, tidak peduli itu mimpi atau bukan, aku mencintainya. Bahkan saat aku kehilangan kesadaranku, bahkan setelah kesadaranku kembali, orang yang aku pikirkan bukan dirimu, tapi orang itu. Jangan menungguku lagi, Seok-ah.” Ucap Hae Gang.

Baek Seok pun terluka mendengar kata2 Hae Gang. Baek Seok lalu beranjak pergi meninggalkan Hae Gang tanpa bicara sepatah kata pun. Hae Gang menangis, ia tampak merasa bersalah sudah melukai hati Baek Seok.

(Kasihan Baek Seok, si Hae Gang terang2an ngaku mencintai Jin Eon. Rumit banget kisah cinta mereka)


Nyonya Kim sedang memasak. Yong Gi mengepel lantai. Tiba2, Yong Gi meringis sakit sambil memegangi pinggangnya. Yong Gi pun teringat pertemuannya dengan Tae Seok di rumah sakit. Yong Gi berusaha mengenyahkan pikiran itu, ia terlihat sangat takut. Nyonya Kim kemudian menghampiri Yong Gi dan menyuruh Yong Gi istirahat.


“Bagaimana bisa anda menyuruh seseorang sepertiku yang bekerja di rumahmu untuk istirahat? Kau juga sangat baik pada putriku. Aku mungkin tidak memiliki keberuntungan yang lain, tapi aku percaya aku dilahirkan dalam keberuntungan karena bertemu dengan orang2 baik. Aku bertemu banyak sekali orang baik.” Ucap Yong Gi, membuat Nyonya Kim merasa bersalah.


Yong Gi lalu memuji rumah Nyonya Kim. Yong Gi berkata, ia akan sangat bahagia kalau bisa memiliki rumah seperti rumah Nyonya Kim.

“Bagaimana kabar anakmu?” tanya Nyonya Kim.


“Aku belum menemukan dokter lain yang mengetahui penyakit ini, tapi Ahjumma, Dokter Min itu orang seperti apa?” tanya Yong Gi sambil melirik ke arah kamar Gyu Seok.

“Dia bicaranya memang seperti itu, jadi kau tidak perlu cemas dan percayalah padanya.” Jawab Nyonya Kim.

Bersambung ke part 2

No comments:

Post a Comment