Friday, July 7, 2017

Ruler : Master Of The Mask Ep 22

Sebelumnya...


Moo Ha protes karena Woo Bo mengalihkan semua tugas padanya, sementara Woo Bo enak2an tidur. Woo Bo mengancam akan memecat Moo Ha. Diancam seperti itu, membuat nyali Moo Ha ciut dan langsung menuruti perintah Woo Bo. Kwang Ryul tiba-tiba menerobos masuk. Sambil menangis, ia memberitahu kalau Seja meninggal. Woo Bo dan Moo Ha terkejut. Kwang Ryul menunjukkan surat dari Jae Hon yang isinya tentang Jae Hon yang akan memanggil pasukan untuk membalas Pyunsoo-hwe yang sudah membunuh Seja. Tangis Woo Bo dan Moo Ha pun seketika pecah. Tak lama kemudian, Chung Woon datang bersama Seja. Seja terkejut membaca surat dari Jae Hon. Woo Bo beserta Moo Ha dan Kwang Ryul pun langsung memeluk Seja. Mereka bersyukur Seja selamat.


Jae Hon sedang di perjalanan untuk memanggil pasukannya. Ia berencana membunuh Dae Mok di perayaan ulang tahun Daebi Mama.


Seja dan yang lainnya tengah membahas cara untuk menghentikan Jae Hon memanggil pasukan. Chung Woon berencana menyusul Jae Hon. Ia yakin bisa mengejar Jae Hon jika menyusulnya sekarang. Kwang Ryul berpendapat lain. Ia berkata, tidak ada yang bisa mencegah Jae Hon memanggil pasukan.

“Meskipun dia tahu aku masih hidup?” tanya Seja.

“Dia setia dan penuh ambisi. Tapi Yang Mulia memang pernah nyaris tewas. Dia akan meyakini bahwa dia harus membawa pasukannya dan melindungi Yang Mulia dengan cara apapun.” Jawab Kwang Ryul.

“Apa itu berarti kita tidak bisa menghindari peperangan?” tanya Moo Ha.

“Hanya ada satu pilihan. Kita harus berhasil agar dia tidak memobilisasi pasukan dari perbatasn.” Jawab Seja.


Seja dan Chung Woon langsung menemui Hwa Gun. Hwa Gun terkejut mengetahui Pyunsoo-hwe berusaha membunuh Seja lagi. Seja berkata, untunglah ada seseorang yang menolongnya. Hwa Gun berkata, ia sangat berterimakasih pada orang yang sudah menyelamatkan Seja. Seja lantas mengaku bahwa ia datang untuk membahas sesuatu yang penting. Seja memberitahu rencana Jae Hon.

“Aku ingin mencegahnya. Maukah kau membantuku?” pinta Seja.

“Izinkan aku bertanya sesuatu. Kelompok Pyunsoo yang ingin kau lenyapkan. Kenapa kau berusaha mencegah Jenderal Jae Hon menghabisi mereka?” tanya Hwa Gun.

“Kita tidak boleh mengorbankan nyawa yang tidak bersalah. Jangan sampai orang tidak beradab menyerang bangsa ini.” jawab Seja.

“Bagaimana caranya aku membantumu?” tanya Hwa Gun.


Hwa Gun langsung mendatangi kakeknya. Ia marah karena mengira sang kakek lagi2 berusaha membunuh Seja. Dae Mok terkejut, ia tidak menyangka si Kepala Pedagang itu juga memiliki banyak musuh. Hwa Gun juga terkejut menyadari bukan sang kakek lah yang mendalangi pembunuhan Seja. Hwa Gun lantas meminta izin menggelar rapat.


Dalam rapat itu, Hwa Gun memberitahukan rencana Jae Hon. Dae Mok heran sendiri Hwa Gun bisa mengetahuinya, padahal orang2nya saja begitu susah menyelidiki Jae Hon. Hwa Gun mengaku ia mengetahuinya dari kelompok pedagang. Dae Mok tidak mempercayai Hwa Gun begitu saja.

“Aneh karena pedagang di Utara dan Suku Jurchen bertransaksi lagi baru-baru ini, jadi aku memeriksanya. Ternyata Jenderal Jae Hon membuat kesepakatan damai dengan Suku Jurchen.” Jawab Hwa Gun.


Hwa Gun lantas bertanya pendapat mereka apa alasan Jae Hon menyembunyikan hal itu. Pyunsoo-hwe terdiam.  Dengan wajah bangga, Hwa Gun menjelaskan semua itu karena Jae Hon ingin mengerahkan pasukan secara diam2.

Pejabat Pyunsoo-hwe setuju dengan asumsi Hwa Gun. Hwa Gun lantas berkata bahwa ia sudah memikirkan solusinya. Ia berencana memindahkan para pedagang di Utara dan menghentikan perdagangan makanan mereka dengan Suku Jurchen. Lalu, Suku Jurchen akan merasa terancam dan mulai berulah dan otomatis Jae Hon akan batal menggerakkan pasukan ke ibukota karena masalah ini.


Pejabat Pyunsoo-hwe memuji rencana Hwa Gun. Dae Mok tidak menyangka Hwa Gun bisa sepintar itu. Dae Mok lalu menyuruh Tae Ho ke perbatasan untuk membunuh Jae Hon jika rencana Hwa Gun itu gagal.


Sementara itu, Seja dan Sun lagi surat-suratan. Dalam suratnya, Sun menulis tentang Daebi Mama yang sudah tidak sabaran bertemu Jenderal Jae Hon di perayaan ulang tahunnya. Seja membakar surat Sun, kemudian membalas surat Sun. Dalam suratnya, Seja menulis kalau ia sudah mencegah agar Jae Hon tidak datang. Seja beralasan kalau ia tak mau rakyatnya menderita akibat peperangan.


Seja lantas menulis surat yang baru. Dalam suratnya, ia mengaku mencemaskan Ga Eun dan meminta izin menemui Ga Eun. Wajah Sun langsung berubah kesal membaca surat Seja. Seja lantas menulis lagi bahwa Ga Eun tidak tahu dirinya Putra Mahkota dan meminta Sun merahasiakan hal itu dari Ga Eun.  Sun meremas surat itu, sambil menatap tajam Seja, kemudian membakar surat Seja. Setelah itu, ia menyuruh Kepala Kasim membawa Ga Eun masuk.

Ga Eun masuk. Seja menatap Ga Eun dengan penuh kerinduan. Ga Eun membalas tatapan Seja dengan senyuman. Sun kemudian bertanya, apa Ga Eun sudah menerima obat yang dia kirimkan. Ga Eun mengiyakan. Sun lalu menanyakan kondisi Ga Eun. Ga Eun mengaku baik2 saja. Sun lantas mengingatkan Ga Eun kalau Ga Eun bekerja untuk Raja jadi Ga Eun harus menjaga kesehatan. Seja pun kesal melihat Sun yang mengkhawatirkan Ga Eun. Dan Ga Eun sontak menatap ke arah Seja.


Setelah Ga Eun pergi, Sun mengajak Seja bicara di rumah hijau.

Di rumah kaca, Sun memperingatkan Seja kalau mendekati dayang istana merupakan kejahatan serius. Seja membela diri. Ia berkata, Ga Eun hampir tenggelam saat berusaha menolongnya. Seja lalu menyuruh Sun menjaga Ga Eun dengan baik. Mendengar itu, Sun semakin marah.

“Kenapa kau menyuruhku menjaganya dengan baik? Aku sudah mengenalnya lebih lama darimu. Dahulu aku begitu hina hingga tidak punya nama, dialah yang memberiku nama. Kami tumbuh bersama, belajar pengobatan bersama!” teriak Sun.

“Kau mencintainya?” tanya Seja.

“Dia membenciku saat aku memakai topeng. Kau tahu kenapa? Dia berpikir aku adalah kau. Dia membenciku karena dia yakin akulah yang membunuh ayahnya. Itu artinya dia membencimu! Kenapa kau tidak mengungkapkan jati dirimu! Sampai kapan kau akan menipunya dengan nama Chun Soo!”

“Aku…!” Seja lantas terdiam.

“Tahta ini milikmu. Jika waktunya tiba, aku akan mengembalikannya padamu. Namun ingatlah ini, Ga Eun Aghassi bukan milikmu.” Ucap Sun.

Seja pun syok mendengarnya.


Dae Mok bicara berdua dengan Hwa Gun. Ia penasaran, kenapa Jae Hon tiba2 bersikap agresif. Hwa Gun beralasan itu karena Jae Hon membenci Pyunsoo-hwe. Dae Mok yakin, Jae Hon tidak akan berburu tanpa perintah seseorang. Hwa Gun berkata, Daebi Mama lah yang menyuruh Jae Hon mengerahkan pasukan.

“Harabeoji, aku ada ide untuk mengalahkannya.” Ujar Hwa Gun.


Mae Chang bicara dengan Kepala Kasim. Ia berkata, bahwa Dae Mok berusaha membunuh Seja lagi. Seja nyaris tenggelam, tapi untung dia selamat dari insiden itu. Kepala Kasim berkata, bukan Dae Mok pelakunya tapi Daebi Mama. Mae Chang pun terkejut. Ia bertanya, apa alasan Daebi Mama melakukannya.

“Daebi Mama pasti berpikir bisa mengusai pasukan Jenderal Jae Hon sepenuhnya kalau Putra Mahkota mati. Kali ini dia melampaui batas. Ayah harus memberinya peringatan. Siapkan hadiah ulang tahun untuk Daebi Mama. Putra Mahkota harus hadir saat Daebi Mama menerima hadiah itu.” ucap Kepala Kasim.


Istana mulai mempersiapkan segala sesuatu untuk perayaan ulang tahun Daebi Mama. Setelah semuanya beres, Daebi Mama pun mulai memasuki tempat acara dengan wajah sumringah. Namun senyumnya langsung hilang karena begitu ia tiba disana, ia melihat Dae Mok duduk di singgasana miliknya.

“Selamat ulang tahun Daebi Mama. Duduknya bersamaku disini.” Ucap Dae Mok.


Dengan wajah tegang, Daebi Mama pun mendekati Dae Mok. Daebi Mama duduk di singgasana nya dan berkata, kalau Dae Mok datang di waktu yang salah. Dae Mok berkata, ia sendiri lah yang mengatur semua itu. Daebi Mama tertawa, kemudian berkata, jika Dae Mok ingin mengatakan sesuatu, Dae Mok bisa menemuinya kapan saja.

“Ini hari ulang tahun Daebi Mama. Aku harus menunjukkan rasa hormatku.  Karena ingin mengucapkan selamat secara langsung, aku mengatur ini. Guna merayakan ulang tahun Yang Mulia, aku membawakan hidangan khusus.” Ucap Dae Mok.


Dae Mok lantas membuka tutup kotak kayunya dan… terlihat lah gulungan kertas di atas piring. Dengan tangan gemetar, Daebi Mama mengambil gulungan kertas itu dan membacanya. Ia terkejut, tapi berusaha untuk bersikap tenang dengan tersenyum.

“Suku Jurchen menimbulkan masalah di perbatasan. Sungguh mengecewakan.” Ucap Daebi Mama.

“Yang Mulia pasti kecewa karena Jenderal Jae Hon tidak bisa datang.” jawab Dae Mok.

“Apa maksudmu? Dia baru saja meninggalkan ibukota. Akankah dia kembali begitu cepat?” ucap Daebi Mama.

“Aku terpikir untuk membuatnya tidak pernah kembali. Namun punya elang yang memantau perbatasan utara tidak lah buruk. Jadi aku membiarkannya hidup.” jawab Dae Mok.


Daebi Mama pun langsung menatap Dae Mok dengan wajah kesal. Dae Mok tertawa, lalu memberikan hadiah keduanya. Gulungan kertas juga, dan kali ini Daebi Mama mulai ketakutan.

“Apa maksudmu dengan ini?” tanya Daebi Mama.

“Cucuku bilang wajar bagi pria dewasa memiliki istri. Orang tua harus lengser dan membiarkan kaum muda mengambil alih tugas. Bukankah itu aturan hidup?” sindirnya, membuat Daebi Mama semakin tegang.


Dae Mok memberikan hidangan terakhir, kali ini isinya semangkuk darah harimau. Daebi Mama benar2 ketakutan. Dae Mok menatap tajam Daebi Mama dan mengingatkan Daebi Mama akan perbuatan Daebi Mama di masa lampau. Setelah mengatakan itu, Dae Mok beranjak pergi sambil menepuk2 tangannya.


Perayaan ulang tahun Daebi Mama dimulai. Daebi Mama duduk di singgasana bersama Sun. Sun berkata, ada yang mau memberikan hadiah khusus untuk Daebi Mama. Tak lama kemudian, masuklah Seja yang membawakan hadiah untuk Daebi Mama. Sontak Daebi Mama terkejut melihat sosok Seja. Begitu pula Menteri Choi yang langsung menjatuhkan cangkirnya. Woo Bo yang juga ada di sana, menangkap gelagat aneh mereka.

“Kudengar Daebi Mama menghargai bakatnya, maka aku mengizinkannya menghadiri pertemuan ini. Jika Yang Mulia tidak suka…”

Daebi Mama langsung memotong kata2 Sun, tidak Jusang.


Lalu dengan suara bergetar, Daebi Mama berkata bahwa sudah lama ia tidak bertemu Seja. Seja beralasan kalau dia hanyalah rakyat jelata yang tidak bisa seenaknya menemui Daebi Mama. Daebi Mama yang syok, membenarkan hal itu. Ia lalu berkata, mulai sekarang Seja bisa menemuinya kapan saja.


Perayaan berlangsung hingga malam hari. Ga Eun masuk membawakan teh untuk Sun. Ketika berjalan melewati Seja, Ga Eun tersenyum manis. Seja pun membalas senyum Ga Eun. Ga Eun lalu berjalan menuju Sun. Sambil menatap Ga Eun dengan lirih, Seja berkata dalam hatinya kalau Putra Mahkota bodoh yang membunuh ayah Ga Eun adalah dirinya.


Sun melihat ke arah Seja. Melihat Seja yang terus memandangi Ga Eun, Sun pun marah dan mulai memanasi Seja. Ia memegang tangan Ga Eun dan menyuruh Ga Eun menemaninya. Seja langsung kesal melihatnya. Dan Ga Eun, dia langsung menatap ke arah Seja.


Pertunjukan dalang ala Joseon pun dimulai dengan mengisahkan latar istana negeri Tiongkok. Dalang mengisahkan bahwa Kaisar tidak memiliki ahli waris dan seluruh kerajaan khawatir. Namun seorang Selir, tiba2 melahirkan seorang putra untuk Raja. Raja menjadi sangat bahagia dan memberikan nama untuk selirnya.

“Jika kamu menuliskan nama putra itu di tubuhnya dengan darah harimau, dia akan tumbuh kuat dan sehat.” Cerita sang dalang.


Muncul lah masa silam, saat Dae Mok menyuruh Menteri Choi memberikan hadiah untuk Putra Mahkota. Tapi Menteri Choi malah memberikan hadiah itu pada Daebi Mama.


Kembali ke masa kini, dimana dalang terus mengisahkan bahwa Ratu tidak tahan melihat Raja yang begitu menyayangi si selir. Singkat cerita, Ratu berniat mencampurkan ramuan ke dalam darah harimau itu.

Kembali ke masa lalu, dimana dayang Daebi Mama (sekarang sudah menjadi Kepala Dayang) menukar darah harimau itu dengan ramuan racun.


Kembali ke masa kini—Daebi Mama syok melihat pertunjukan itu. Woo Bo yang menyadari apa yang terjadi sesungguhnya, langsung menatap Daebi Mama. Woo Bo pun berbisik pada Seja. Ia memberitahu Seja kalau pertunjukan itu adalah kisah nyata. Seja bingung. Namun saat Woo Bo menjelaskan kalau Seja benar2 diracuni saat masih bayi, ia terkejut.


Seja pun langsung teringat cerita ayahnya, bahwa ia diracuni sesaat setelah dirinya lahir. Seja syok, ia tidak menyangka Daebi Mama lah yang berusaha membunuhnya selama ini.


Dalang kemudian berkata, jika Putra Mahkota tahu apa yang dilakukan Daebi Mama, ia pasti tidak akan membiarkan Daebi Mama hidup. Daebi Mama syok. Tubuhnya langsung melemas, hingga ia harus dipegangi oleh Sun dan Menteri Choi. Sun berteriak, memerintah untuk mematikan pertunjukan. Daebi Mama menatap ke arah Seja dengan ekspresi ketakutan.

No comments:

Post a Comment