Wednesday, July 26, 2017

The Legend Of The Blue Sea Ep 8 Part 1

Sebelumnya...


Sim Chung asyik berenang sambil memikirkan kata2 Jung Hoon tentang manusia yang tidak akan pernah menerima keberadaan mereka.  Menurut Jung Hoon, pria yang dicintai Sim Chung juga sama jadi ia meminta Sim Chung berhati2 agar tidak ketahuan bahwa ia putri duyung. Bersamaan dengan itu, Joon Jae masuk ke rumah dan terkejut melihat Sim Chung di kolam renang.

Sim Chung panic melihat Joon Jae, ia langsung berteriak melarang Joon Jae mendekatinya.

“Oh, baiklah, baiklah, baiklah. Aku tidak akan melihat.” Jawab Joon Jae sambil menutup matanya.

Tapi dia berbalik lagi menatap Sim Chung untuk minta penjelasan. Sim Chung pun berteriak lagi, kubilang jangan berbalik!

“Kubilang aku tidak akan melihat.” Jawab Joon Jae.


Sim Chung mengambil pakaiannya yang tergeletak di tepi kolam renang sambil terus mengawasi Joon Jae. Joon Jae melangkah mundur mendekati pintu sambil minta penjelasan kenapa Sim Chung tidak bersih2 rumah seperti yang disuruhnya tapi malah bermain2 di air.  Sim Chung pun lagi2  berteriak melarang Joon Jae berbalik. Joon Jae pun menjelaskan kalau ia hanya mau menutup pintunya.

“Jangan tutup pintunya! Jangan tutup pintunya!” teriak Sim Chung, bikin Joon Jae stress. 


Sim Chung sudah berpakaian. Joon Jae yang masih membelakangi Sim Chung ingin bertanya satu hal tapi Sim Chung langsung melarangnya bertanya dengan galak.  Sim Chung lalu memberitahu Joon Jae kalau ia sudah selesai, sambil merapatkan baju handuknya. Joon Jae berbalik, tapi dia langsung salah tingkah melihat Sim Chung yang hanya mengenakan baju handuk.

“Apanya yang selesai?” tanya Joon Jae.

“Apa pertanyaanmu?” tanya Sim Chung.


Joon Jae pun langsung menasehati Sim Chung kalau Sim Chung tidak boleh ceroboh seperti itu di rumah yang dipenuhi banyak pria. Sim Chung beralasan kalau dia tidak tahu Joon Jae akan kembali. Sim Chung pun balik menasehati Joon Jae kalau Joon Jae tidak boleh pergi ataupun datang ke rumah tiba2 seperti itu.

“Ini rumahku! Rumah ini ada agar aku bisa datang dan pergi sesukaku. Beban untuk berhati2 memangnya ada di pundakku atau di pundakmu!” protes Joon Jae.

“Di pundakmu.” Jawab Sim Chung.

“Di pundakmu! Kau harusnya bersyukur karena aku yang datang. Bagaimana kalau pria lain yang datang!” ucap Joon Jae.

“Apa yang membuatku beruntung?” tanya Sim Chung.

Dan Joon Jae pun gelagapan menjawab pertanyaan Sim Chung itu. Joon Jae yang kebingungan harus menjawab apa, langsung mengalihkan pembicaraan dengan bertanya apa mereka sedang lomba cerdas cermat. Joon Jae lalu menyuruh Sim Chung segera berpakaian. Sim Chung pun pun berkata, ia akan pakaian setelah Joon Jae pergi.


Joon Jae pun makin salah tingkah, dan pergi begitu saja tanpa mengambil ponselnya. Sambil menuju mobilnya, Joon Jae tak henti2nya menghela nafas memikirkan Sim Chung. Sebelum masuk ke mobil, ia memperingatkan Nam Doo dan Tae Oh untuk membunyikan bel sebelum masuk ke rumah.

“Apa alasannya?” tanya Nam Doo.

“Aku juga akan melakukannya. Jadi bunyikan bel sebelum kalian masuk. Buat suara untuk mengumumkan kehadiran kalian.” Jawab Joon Jae.

“Aku bertanya, kenapa kami harus melakukannya?” tanya Nam Doo.

“Astaga, kenapa kau masih mempertanyakan permintaan si pemilik rumah?” protes Joon Jae.


Nam Doo pun langsung diam dengan muka gedek begitu Joon Jae menyebut2 kalimat si pemilik rumah. Joon Jae lalu melarang Tae Oh masuk ke rumah diam2 dengan memakai kunci lainnya. Tae Oh hanya berkata, omong kosong kemudian masuk ke mobil. Joon Jae lalu mengeluhkan cuaca yang panas, padahal yang ngerasain panas ya dia sendiri. Nam Doo meledek Joon Jae dengan berkata wajah Joon Jae memerah.


Sim Chung kembali menemui Jung Hoon. Ia cerita, kalau dirinya hampir ketahuan.

“Itu bisa jadi masalah besar. Aku sudah menyuruhmu hati2, kan? Dari sudut pandangnya, dia akan terus bertanya ini itu karena dia mencurigaimu dan memaksamu bicara.” Jawab Jung Hoon.

“Dia sudah melakukannya. Dia bertanya, apa yang terjadi di Spanyol? Kenapa dia tidak ingat? Dia menyuruhku pergi kalau aku tidak menjawabnya.” Ucap Sim Chung.

“Jangan pernah mengaku.” Jawab Jung Hoon.

“Aku tidak akan pernah mengaku.” Ucap Sim Chung.


“Untunglah sesuatu seperti berbohong ada di sini. Kau tahu? Begitu aku memikirkan sesuatu, semua orang dalam radius 10 km akan tahu isi hatiku.” Jawab Jung Hoon.

“Kau benar.” ucap Sim Chung.

“Setidaknya di sini, kita bisa menyembunyikan perasaan kita dengan kebohongan karena mereka tak bisa dengar pikiran kita.” jawab Jung Hoon.

“Apa orang-orang banyak berbohong?” tanya Sim Chung.

“Mereka tidak hanya banyak berbohong, tapi selalu berbohong setiap membuka mulut.” Jawab Jung Hoon.


Jung Hoon lalu bertanya apa Sim Chung sudah mengusai Hangeul. Sim Chung mengangguk. Jung Hoon lalu mengetes Sim Chung. Ia menunjuk banner yang ditempel di tiang dan menanyakan tulisannya.

“Ponsel gratis 100%... Bosnya gila!” jawab Sim Chung.

“Ponsel gratis 100%... Bosnya gila! Menurutmu pernyataan itu benar, dan itu artinya bosnya gila?” tanya Jung Hoon.

“Artinya bukan itu?” tanya Sim Chung.

“ Tentu bukan. Karena kami akan mengganti kerugian menggunakan apa pun yang diperlukan, kau hanya perlu datang dan habiskan uangmu. Itu artinya.” Jawab Jung Hoon.

“Ah, itu artinya?” tanya Sim Chung.


“Ketika kau datang ke toko pakaian, karyawannya selalu mengatakan, "Baju ini cocok sekali denganmu. Ini dibuat untukmu!" apa pun yang kamu pakai, kan? Tahu apa artinya?” tanya Jung Hoon.

“Apa artinya itu tampak bagus?” tanya Sim Chung.

“Bukan. Artinya, karena aku memujimu, kamu harus membeli sesuatu.” Jawab Jung Hoon.

Sim Chung mengangguk2 mendengarkan.

“Dan ini poin yang penting. Di tempat ini, kata "cinta" sangat umum. Tapi kau  tidak boleh tertipu. Itu tidak berarti mereka benar-benar mencintaimu. Kau mau lihat?” tanya Jung Hoon.


Jung Hoon menunjukkannya dengan menekan angka 114 di ponselnya. Terdengar lah suara operator, aku mencintaimu, Pelanggan.

“Hanya karena seseorang bilang "aku mencintaimu" padamu, lalu kau berpikir dia mengajakmu kencan.” Ucap Jung Hoon.

“ ini akan sulit. Lalu bagaimana kau tahu ketika orang berbohong padamu?” tanya Sim Chung.


“Itu tidak mudah. Satu metode yang kutemukan sejauh ini adalah orang yang berbohong tidak dapat memandang matamu, terbata-bata, atau menyentuh telinga mereka. Kadang-kadang mereka menyentuh bibir atau menyilangkan lengan dengan posisi bertahan.” Jawab Jung Hoon.


Kita lalu melihat Nam Doo mengomentari Joon Jae yang sangat peduli pada Sim Chung. Joon Jae pun berkata itu tidak benar sambil menyentuh bibirnya. Nam Doo berkata lagi, kalau ini kali pertama ia melihat Joon Jae melakukan itu pada seorang wanita. Mempersoalkan aturan berpakaian.

“Ah, ayolah. Kau tahu aku memberimu aturan berpakaian juga. Aku memperhatikan baju Tae Oh juga.” jawab Joon Jae.


Joon Jae lalu bertanya pada Tae Oh yang duduk di belakang kenapa Tae Oh selalu berbaju tipis akhir2 ini. Ia berkata sambil menyentuh telinganya. Tae Oh hanya mendengus sambil menatap layar ponselnya.

“Kupikir tidak begitu.” ucap Nam Doo.

“Itu benar.” jawab Joon Jae. Joon Jae yang tak mau ditanyai2 lagi, pun menyuruh Nam Doo menurunkannya di tepi jalan. Nam Doo bertanya alasan kenapa Joon Jae tak mau pergi bersama mereka padahal mereka sudah sepakat memeriksa galeri mereka bersama2.

“Tak bisakah kalian pergi berdua saja sekarang? Aku ada urusan.” Jawab Joon Jae.

“Kenapa? Bertemu Si A?” tanya Nam Doo.

Joon Jae tidak menjawab dan langsung turun dari mobil begitu mobilnya berhenti….

Si A senang sekali dikunjungi Joon Jae. Joon Jae menanyakan soal kapal yang karam di laut Yangyang. Si A senang Joon Jae mengingat kata2nya. Joon Jae berdalih dengan berkata kalau Nam Doo yang memberitahunya kemarin. Joon Jae lalu menanyakan pemilik benda2 itu.

“Kim Dam Ryung. Dia adalah kepala desa Heupgok bernama Kim Dam Ryung.” jawab Si A.


Si A lalu menunjukkan guci yang bergambar putri duyung sedang mencium seorang pria.

“Hanya dengan melihat tahun yang tercantum di Mok Gan, ini pasti berasal dari era Joseon pertengahan tapi lihat pakaian prianya. Ini seperti pakaian era modern, seakan dilukis dengan membayangkan masa depan. Selain itu, bukankah ini benar-benar mistis untuk melihat putri duyung?” ucap Si A.

Joon Jae menyentuh dan melihat lukisan putri duyung itu dari dekat. Seketika, ingatannya saat ia tenggelam di laut dan dicium oleh putri duyung kembali. Joon Jae terkejut dan langsung menjauhkan tangannya dari lukisan itu.


Joon Jae menemui psikiater. Ia cerita, kalau belakangan ini dirinya merasa aneh. Selain mengalami mimpi yang aneh dan terus berulang, saat melihat lukisan pria yang dicium putri duyung, ia merasa pria itu adalah dirinya. Psikiater mendengarkan cerita Joon Jae dengan seksama.

“Itu tidak seperti aku mengingat sesuatu. Aku telah melakukan sejumlah eksperimen klinis dan semacamnya untuk kehilangan memori jangka pendek melalui hipnosis kognitif, tapi ini beda. untuk kehilangan memori jangka pendek melalui hipnosis kognitif, tapi ini beda. Ini seakan hanya porsi tertentu dari memoriku di Spanyol yang dihapus. Apa hal semacam ini mungkin, Profesor?” tanya Joon Jae.


“Amnesia episodik bisa terjadi secara sporadis juga. Chae Gye Sung amnesia, kehilangan ingatan khusus untuk suatu momen atau seseorang.” jawab Profesor.


Profesor pun mulai menghipnotis Joon Jae…

“Sekarang ingatanmu untuk satu orang itu akan kembali di mana itu dimulai.” Ucap Profesor.


Ingatan itu pun kembali… dalam ingatannya, Joon Jae melihat Dam Ryung memacu kuda untuk menyelamatkan Sae Wa yang diganggu anak buah Bangsawan Yang. Joon Jae juga melihat Bangsawan Yang yang tersenyum licik di tepi pantai, lalu melihat Dam Ryung membawa Sae Wa ke kantornya.


Joon Jae terbangun saat ia melihat dengan jelas sosok Sae Wa.

“Apakah kau baik2 saja Joon Jae-ya? Apa yang kau lihat? Apakah kamu ingat?” tanya Profesor.
“Profesor Park, Profesor mengatakan kepadaku sebelumnya bahwa hipnosis bisa memunculkan alam bawah sadarku tapi kemungkinan bisa juga memunculkan ilusi. Aku pikir itu adalah apa yang aku lihat, ilusi. Kalau tidak…”

Joon Jae kembali teringat sosok Sae Wa yang mirip Sim Chung.


“… ini tidak masuk akal.” Ucapnya syok.


Di rumah, Nam Doo mengomentari Tae Oh yang asyik main game. Tak lama kemudian, Joon Jae pulang dan bersamaan dengan itu Sim Chung keluar dari kamar dengan pakaian rapi. Melihat Sim Chung, membuat Joon Jae kembali teringat sosok Sae Wa yang dilihatnya saat dihipnosis.

“Heo Joon Jae!” seru Sim Chung.

“Apakah kau mau pergi ke suatu tempat?” tanya Joon Jae.


Belum sempat Sim Chung menjelaskan, Joon Jae langsung berkata, bahwa ia tidak perlu tahu kemana Sim Chung mau pergi dan mengizinkan Sim Chung pergi. Sim Chung pun langsung menuju ke pintu. Tapi tiba2, Joon Jae berkata mulai hari ini mereka ada jam malam.

“Kita punya jam malam?” tanya Nam Doo.

“Ya, mulai hari ini.” jawab Joon Jae.

“Jam berapa?” tanya Tae Oh.

“Jam 8. Kembalilah jam 8, kalau tidak kami akan mengunci pintunya dan tidak akan membiarkan kau kembali.” Jawab Joon Jae.
“Hei, ini jam 7:30.” Protes Nam Doo.

“Itu maksudku. Dia harus kembali jam 8.” Joon Jae berkeras.

“Dia akan pergi kemana di Seoul jika dia harus kembali dalam 30 menit? Kau sama saja melarang dia pergi.” Jawab Nam Doo.

“Siapa yang melarangnya pergi?” sangkal Joon Jae.

Joon Jae lalu berkata, ia tidak peduli Sim Chung mau pergi kemana, mau ketemu siapa, apakah itu pria atau wanita tapi Sim Chung harus kembali jam delapan.


Nam Doo lalu menemukan buku tentang menjadi PNS tingkat 7 di meja. Joon Jae panic dan langsung merebut buku itu. Tapi Nam Doo tidak membiarkan Joon Jae merebut buku itu darinya.

“Apakah kau sedang mencoba untuk menjadi pegawai negri sipil?” tanya Nam Doo.

“Aku hanya membacanya, berpikir itu mungkin membantu pekerjaan kita. Studi seperti apa yang orang-orang lakukan belakangan ini. Aku ingin tahu. Mengenai cara menganalisa tren.” Jawab Joon Jae sambil merebut bukunya.


Joon Jae lalu melihat Sim Chung yang masih berdiri di pojokan.

“Kau tidak jadi pergi?” tanya Joon Jae.

“Tidak, aku tidak akan pergi. Aku akan pergi besok saja.” Jawab Sim Chung.


Joon Jae senang mendengarnya, tapi ia menutupi kesenangannya itu dengan pura2 bersikap galak pada Sim Chung. Joon Jae lalu masuk ke kamar membawa bukunya. Nam Doo langsung mengatai Joon Jae aneh.

“Kau akan pergi kemana pada jam ini, Chung ku?” tanya Nam Doo.

“Aku akan pergi untuk menghasilkan uang.” Jawab Sim Chung.

“Menghasilkan uang? Maksudmu melakukan pekerjaan paruh waktu?” tanya Nam Doo.


“Tidak, aku akan menukar ini dengan uang. Setelah menukarkan ini, aku akan memberikan semua uangnya kepada Heo Joon Jae.” Jawab Sim Chung sambil menunjukkan kantong kreseknya.


Nam Doo mendekat, ia mau tahu apa isi kantong kresek itu. Nam Doo terkejut karena isinya mutiara. Nam Doo ingin tahu darimana Sim Chung mendapatkannya. Sim Chung mengaku ia mendapatkannya dengan bekerja keras.


Kerja keras yang dimaksud Sim Chung adalah menangis saat menonton adegan sedih drama korea.

“Jenis pekerjaan apa yang kau lakukan untuk mendapatkan mutiara-mutiara berkualitas tinggi ini? Kau bahkan menjadi semakin misterius. Kau perlu muncul di program investigasi, "Katakan Kepadaku Yang Sebenarnya".” ucap Nam Doo.


Nam Doo lalu meminta Sim Chung memberikan mutiaranya satu. Sim Chung berkata tidak dengan ekspresi galak. Sim Chung lalu menoleh ke dapur saat menyadari nasinya sudah masak. Ia lalu mengambil mutiaranya kembali dan pergi ke dapur.

“Nasi Chung, Nasi Chung! Dia bukan Sim Chung, tapi Nasi Chung!” ucap Nam Doo yang diam2 mencuri satu mutiaranya Sim Chung.


Keesokan harinya, Sim Chung dan Jung Hoon jalan2 di tepi sungai. Tiba2 saja, Jung Hoon merasakan sakit di dadanya.

“Apakah kau tahu kenapa aku bekerja sebagai penjaga pantai di cuaca yang dingin ini?” tanya Jung Hoon sambil menahan sakitnya.

“Kau tidak punya tempat untuk tidur?” tebak Sim Chung.

“Hei, aku menyewa apartemen seluas 30 Pyeong (100 sqm /1000 sqft) di dekat stasiun kereta bawah tanah. Kehidupanku layak. Aku juga memiliki tempat tidur ukuran king, yang besar.” Jawab Jung Hoon.

“Lalu kenapa?” tanya Sim Chung.

“Hatiku sudah hampir mencapai batasnya. Aku harus berada di dalam air selama beberapa jam sehari untuk bertahan satu hari. Tentu saja aku bahkan tidak tahu kapan jantung ini akan berhenti bekerja.” Jawab Jung Hoon.

“Apa yang akan kau lakukan kalau begitu? Apakah kau punya cara lain?” tanya Sim Chung.

“ Tidak ada. Meskipun cintaku telah kembali kepadaku, tapi itu tidak berhasil. Dia sudah menikah dengan orang lain.” Jawab Jung Hoon.

“Kalau begitu cepatlah kembali ke laut. Apa yang kau lakukan di sini?” ucap Sim Chung cemas.


“Lihat siapa yang bicara? Apa yang kau lakukan di sini? Jika kau harus menghapuskan kenangan dia ketika kau tertangkap saat menyelamatkan dia maka kau harus menganggap itu sebagai kenangan yang indah dan kembali ke laut di mana kamu tinggal. Siapa yang menghargaimu karena menepati janji yang dilupakan? Kenapa kau datang jauh-jauh ke sini? Untuk apa?” tanya Jung Hoon.

Sim Chung terdiam mendengarnya.

“… untuk menanggung semua kecurigaan dan penganiayaan sampai ke tahap penyiksaan? Dan bertanya-tanya kapan dia akan mencintaimu? Cepatlah kembali selagi kau masih memiliki kesempatan. Belum terlalu terlambat untukmu.” Ucap Jung Hoon.

“Bagaimana aku akan hidup saat aku kembali? Aku akan merindukan dia.” jawab Sim Chung.

“Itulah kenapa aku perlahan-lahan mati di sini, juga. Meskipun aku kembali, hidupku sudah cukup banyak yang dilakukan. Jika aku mati di sini, atau kembali untuk menjalani hidup yang tak bernyawa. Aku tahu, sangat tahu itu semua sehingga semuanya sama saja.” Ucap Jung Hoon berkaca2.


Sim Chung yang mendengarnya pun meneteskan air mata.

“Tas plastik hitam. Mengerti.” Jung Hoon mengingkatkan.

Sim Chung pun langsung menampung air matanya di kantong kresek hitam.


Jung Hoon kemudian berdiri, lalu berkata ikan-ikan salmon berenang kembali karena naluri pulang mereka atau putri-putri duyung datang ke daratan mencari cinta mereka karena naluri cinta yang suci...

Sim Chung lalu berdiri dan menatap Jung Hoon.
“Aku ingin dilahirkan kembali sebagai manusia dalam kehidupanku yang berikutnya dan pacaran dengan semua wanita dan menjadi lelaki buaya! Terlalu kejam untuk memiliki hati yang dipesan hanya untuk satu orang.” Ucap Jung Hoon.

“Berapa lama hatiku akan bertahan?” tanya Sim Chung.

“Aku tidak yakin. Sudah 2 bulan sejak aku ditinggalkan di sini. Kau mungkin bisa menebak dari kasusku untuk melihat berapa lama aku bertahan.” Jawab Jung Hoon.

Sim Chung kasihan pada Jung Hoon.

“Jangan mengasihani aku. Ini adalah masa depanmu.” Ucap Jung Hoon.


Tangis Sim Chung makin mengalir. Jung Hoon mengingatkan, tas plastic hitam. Dan Sim Chung pun kembali menampung air matanya.


Malam harinya, Kepala Penyidik menunggu di sekitar perumahan Joon Jae bersama rekannya. Rekannya mulai mengeluh karena target buruan mereka tak kunjung datang. Tapi Kepala Penyidik yakin targetnya akan datang. Lalu tiba2, Dae Young yang menyamar sebagai tukang sapu jalanan menabrak mobil mereka. Dae Young membungkukkan kepalanya meminta maaf, lalu beranjak pergi. Kepala Penyidik tidak sadar target buruan mereka baru saja melintas.


Joon Jae yang sedang meracik minumannya kembali teringat mimpinya soal teman Dam Ryung yang sangat mirip dengan Sopir Nam di masa lalu. Joon Jae yang cemas, menghubungi Sopir Nam tapi ponsel Sopir Nam tak aktif. Joon Jae pun mengirimi Sopir Nam pesan. Joon Jae menyuruh Sopir Nam menghubunginya dalam pesan yang ia tulis.


Seorang pria mabuk membuang rokok ke arah Dae Young yang duduk di sudut jalan. Dae Young menyuruh pria itu memungut puntung rokok itu kembali. Semula pria itu menolak. Tapi setela Dae Young menunjukkan wajahnya dan menatap pria itu dengan tatapan horror, pria itu bergegas mengambil puntung rokok dan buru2 pergi.


Dae Young menerima kiriman SMS dari seseorang. SMS itu, dari Joon Jae! Dae Young tersenyum licik membaca pesan yang Joon Jae kirim untuk Sopir Nam. Dae Young lalu membalas SMS Joon Jae itu seolah2 dia adalah Sopir Nam. Ooow… ponsel Sopir Nam dipegang Dae Young dan Joon Jae dalam bahaya.


Sim Chung yang sedang berbaring teringat percakapannya dengan Jung Hoon tadi. Tak lama kemudian, Sim Chung turun dari kasurnya.


Sementara Joon Jae, dia baru saja menerima SMS dari Sopir Nam! Sopir Nam membuat alasan kalau ia harus pergi ke suatu tempat dan mengajak Joon Jae ketemu setelah ia kembali. Joon Jae mengajak Sopir Nam bertemu besok sore. Sopir Nam setuju dan berkata akan mengabari Joon Jae dimana mereka akan bertemu.

Joon Jae menghela nafas lega karena Sopir Nam nya baik2 saja tanpa sadar kalau yang membalas smsnya bukanlah Sopir Nam, melainkan Dae Young.


Lalu terdengar suara Sim Chung yang mau turun. Joon Jae melarangnya, tapi Sim Chung gak peduli dan tetap turun. Sim Chung kemudian duduk di depan Joon Jae.

“Ada masalah penting yang aku ingin tahu. Menurutmu kapan kau akan mulai menyukaiku? Aku tahu bahwa akau tidak menyukaiku, tapi apakah kau memiliki masa depan...”

Sim Chung berhenti bicara dan terlihat bingung.

“Rencana?” tanya Joon Jae.

“Ya, itu benar. Rencana. Apakah kau memiliki hal semacam itu? Rencana untuk mencintaiku?” tanya Sim Chung.


“Tidak. Aku tidak punya rencana.” Jawab Joon Jae.

“Tidak, daripada menjawab begitu cepat, kau harus memikirkannya baik-baik sebelum menjawab. Apakah kau benar-benar tidak berencana?” tanya Sim Chung.

Joon Jae pun memejamkan matanya dan berpikir sejenak. Sim Chung sangat menantikan jawaban Joon Jae. Joon Jae lantas membuka matanya dan menatap Sim Chung cukup lama.

“Aku tidak tahu bahwa aku begitu pintar memberi nama pada seseorang. Tapi, apakah kau sebodoh ini? Biarkan aku menjawab kau lagi, jadi dengarkan baik-baik. Aku tidak punya rencana untuk mencintai atau hal-hal seperti itu sama sekali.” Jawab Joon Jae.

“Nampaknya sulit bagimu untuk menjawab…

“Kau tidak dengar? Aku menjawab itu dengan benar-benar terus terang barusan.” Jawab Joon Jae sambil menyentuh kupingnya.

Tahulah Sim Chung Joon Jae lagi bohong, karena itu Sim Chung berniat memberikan Joon Jae waktu.

“Aigoo, kalau kau memberikan beberapa waktu padaku, apakah aku harus menerimanya? Kau tahu, untuk menyukai orang lain, apakah itu hal yang sedemikian mudah untuk dilakukan hanya dalam beberapa hari? Itu adalah hal yang paling sulit di dunia.” Jawab Joon Jae.

“Kenapa?” tanya Sim Chung.

“Itu karena...” Joon Jae terdiam, sejenak.

“Dengarkan baik-baik. Hal yang paling mudah di dunia ini adalah untuk dikecewakan oleh orang lain. Bahkan setelah menyukai seseorang karena penampilan luarnya,seseorang akan cepat menjadi kecewa. Begitulah manusia. Tidak ada satupun yang mengalahkan kekecewaan. Jadi, mencintai orang lain adalah hal yang paling sulit.” Ucap Joon Jae.


“Tidak. Bagiku, mencintai seseorang adalah hal yang paling mudah untuk dilakukan. Bahkan ketika aku berusaha begitu keras untuk tidak mencintai seseorang, aku tidak bisa berbuat apa-apa selain mencintai. Tidak peduli berapa banyak aku ingin dikecewakan, aku tidak bisa. Bagiku, cinta mengalahkan semuanya.” jawab Sim Chung.

Joon Jae terdiam mendengar jawaban Sim Chung.

“Kalau kau punya rencana untuk menyukaiku kelak, tolong beritahu aku, Heo Joon Jae.” Pinta Sim Chung.

Sim Chung lalu naik ke kamarnya, sementara Joon Jae masih tertegun dengan jawaban Sim Chung.


Baik Sim Chung maupun Joon Jae sama2 tidak bisa tidur karena memikirkan perasaan mereka.


Keesokan harinya… Jin Joo sedang berbicara dengan ibu mertuanya di telepon. Jin Joo mengaku ia sedang berada di Pusat Budaya Apgujeong dan membuat talenan dengan kayu berkualitas tinggi yang datang dari hujan Amazon. Si A yang duduk di depannya sambil baca koran mendengarnya dengan wajah galak.

“Eonni, kau benar-benar mengagumkkan, aku bahkan sulit untuk menyenangkan ibuku, dan eonni  melakukan semuanya begitu saja untuk memuaskan ibuku.” Ucap Si A begitu Jin Joo selesai bicara dengan ibunya.

“Haruskah aku... memmberikan kamu nasihat, Adik Ipar? Cara untuk mengendalikan hati seorang pria. Seorang pria tidak bisa melakukan apapun pada seorang wanita yang baik pada ibunya.” Jawab Jin Joo.

“Apa itu?” tanya Si A sinis.

“Lihat kakakmu. Setelah bermain-main begitu giat, akhirnya dia menikahiku, yang memperlakukan ibunya dengan paling baik. Jadi, pria yang kau antarkan makanan itu... jika kau ingin memiliki pria itu, maka kau harus meluluhkan bunya. Itu maksudku.” Jawab Jin Joo.

“Tapi, saat itu, dia tidak terlalu banyak bicara tentang keluarganya. Dia tidak pernah mengatakan apapun tentang ibunya, juga.” ucap Si A.

“Dia pergi kemana? Jika ibunya tinggal di Gangnam, aku bahkan bisa mengetahui dia pergi ke Sauna mana.” Jawab Jin Joo.


Tepat saat itu, wanita yang mereka bicarakan pun muncul, mengantar minuman untuk mereka. Si A protes karena itu bukan kopi yang biasa dia minum.

“Kita kehabisan semuanya.” jawab Yoo Ran, ibunya Joon Jae.

“Aku sudah bilang kalau aku tidak akan meminumnya kecuali jika itu adalah produk pameran.” ucap Si A.

“Ya, aku akan membeli itu lagi. Tapi, sementara itu bagus untuk menjadi perhatian terhadap petani kopi di negara jauh, kurasa punya sopan santun terhadap orang yang tinggal di rumah yang sama adalah sama pentingnya.” Balas Yoo Ran.


Si A langsung menatap galak Yoo Ran.

“Ajumoni, apa kau mencoba untuk mengajariku sekarang?” tanyanya.

“Aku bukan berusaha mengajari, tapi jika kau belajar sesuatu, aku senang.” Jawab Yoo Ran lalu beranjak pergi.

Si A pun kesal bukan main…


Si A ke rumah Joon Jae, untuk menemui Nam Doo dan menanyakan soal ibu Joon Jae. Nam Doo pun berjanji akan memberitahu Si A asal Si A menjawab pertanyaannya lebih dulu.

“Joon Jae datang mengunjungimu di museum belum terlalu lama, bukan? Apakah dia tidak bertanya tentang sesuatu?” tanya Nam Doo.

“Dia bertanya apakah kami sudah menemukan panel prasasti kayu. Dia bilang kau yang memberitahunya tentang itu.” jawab Si A.

“Lalu apalagi?” tanya Nam Doo.


“Aku menunjukkan ini padanya.” Jawab Si A sambil menunjukkan lukisan putri duyung itu di ponselnya.

Nam Doo takjub melihatnya dan berkata itu lukisan menarik.

“Jadi pemilik benda ini adalah Dam Ryung juga, kan?” tanya Nam Doo. Si A mengiyakan.

“Wow, apa ini? Pasti ada sesuatu dengan itu. Itu tidak mungkin hanya suatu kebetulan.” Jawab Nam Doo sambil teringat gelang Sim Chung.


“Karena aku sudah memberitahumu, ceritakan padaku tentang ibunya Joon Jae.” Pinta Si A.
“Aku tidak tahu banyak, juga, selain daripada mereka berpisah ketika dia berumur sepuluh tahun, dan bahwa dia masih mencari ibunya.” Jawab Nam Doo.

“Mereka berpisah?” tanya Si A kaget.

“Aku tidak tahu di mana dia bersembunyi. Dia tidak meninggalkan jejak, maka kami tidak bisa menemukanya. Aku bertanya-tanya apakah dia sudah meninggal dunia.” Jawab Nam Doo.

“Aku ingin menemukan ibunya untuknya. Di mana kau, Ibu? Aku yakin bahwa aku bisa memperlakukan ibunya dengan sangat baik.” Ucap Si A.


Yoo Ran tengah menatap foto suami dan anaknya penuh kerinduan. 



Di sisi lain, CEO Heo juga menatap foto itu dengan penuh rasa rindu. 




CEO Heo lalu menghubungi pengacaranya dan mengajak pengacaranya bertemu karena mau bicara soal warisan. Tanpa ia sadari, pengacaranya menjawab teleponnya di depan istri keduanya.


Pengacara Lee memberitahu Seo Hee tentang CEO Heo yang mau menyerahkan warisannya pada Joon Jae.

“Kenapa dia tergesa-gesa?” tanya Seo Hee dengan raut wajah kesal.


Si A dan Nam Doo sudah mau pergi. Tapi Sim Chung yang sudah menunggu dibawah mengajak Si A bicara. Nam Doo pun bergegas pergi meninggalkan kedua gadis yang tengah bersaing merebut cinta Joon Jae ini.

“Ada sesuatu yang ingin kuketahui. Di tempat ini, apa yang harus kulakukan pada seorang pria agar menyukai seorang gadis?” tanya Sim Chung.

“Bagaimana aku tahu itu?” jawab Si A ketus, lalu mau pergi tapi dihalangi Si A.

“Jika kau di hadapan Heo Joon Jae, menyibakkan rambutmu seperti ini. Ketika kau minum, jari-jarimu seperti ini. Aku melihat semuanya. Katakan padaku apa lagi yang harus aku lakukan.” pinta Sim Chung.

“Apa yang kau mau dariku sekarang? Kalau tidak, apa hari ini kau ingin berkelahi habis-habisan!” tanya Si A kesal.

“Aku hanya bertanya. Aku sedang tergesa-gesa, itulah sebabnya.” Jawab Sim Chung.

“Tergesa-gesa tentang apa?” tanya Si A.

Aku ingin Hae Joon Jae segera menyukaiku. Aku tidak punya banyak waktu.” Jawab Sim Chung.

“Ah, begitu?” ucap Si A lalu berpikir untuk mengerjai Sim Chung.


“Joon Jae, dia tidak suka melihat seseorang. Aku pikir itulah yang membuatnya lama untuk orang itu. Jika kau selalu di depannya dan berada di dekatnya dalam satu rumah seperti ini, itu akan menjadi tidak bagus. Dengan kata lain, dia akan menjadi bosan dan muak.” Jawab Si A.

“Benarkah?” tanya Sim Chung.

“Itu yang aku katakan kepadamu.” Jawab Si A, lalu tersenyum sinis.


Sim Chung pun ikut tersenyum sinis meniru Si A, lalu menuding Si A berbohong.


“Ketika kau bicara, kau tidak menatap mataku. Kau menyentuh telinga dan rambutmu. Aku tahu semua itu, bagaimana semua orang di sini berbohong begitu mereka membuka mulutnya. Aku tahu bagaimana caranya berkomunikasi denganmu, Cha Si Ah. Aku hanya perlu melakukan yang berlawanan dengan apa yang baru saja kamu katakan, benar? Cha Si Ah, kau bisa pergi sekarang. Aku akan terus menerus di depan Heo Joon Jae dan menempel padanya.” ucap Sim Chung.

Si A kesal setengah mati.


Joon Jae yang baru keluar dari kamar dan bersiap pergi terus ditempelin Sim Chung. Sim Chung lalu bertanya, Joon Jae mau kemana. Joon Jae berkata, dia mau ke perpustakaan. Sim Chung bertanya, apa itu perpustakaan. Joon Jae menjawab tempat untuk belajar. Tapi Sim Chung terus menghalangi Joon Jae yang mau pergi.

“Menyingkirlah. Ada apa denganmu hari ini? Selalu berada di dekatku.” Ucap Joon Jae.


Sim Chung lalu melirik Tae Oh yang asyik main game di lantai atas, kemudian berbisik pada Joon Jae.

“Apa kau sudah berencana? Rencana untuk menyukaiku?” bisiknya.

Joon Jae pun membalasnya dengan berbisik kalau itu tidak mungkin terjadi dalam satu hari. Sim Chung terus menempeli Joon Jae. Joon Jae sebal, lalu bertanya dimana Nam Doo. Sim Chung bilang Nam Doo sudah pergi. Joon Jae yang tak rela Sim Chung berduaan dengan Tae Oh di rumah, akhirnya mengajak Sim Chung ikut dengannya.


Sim Chung terkagum2 melihat perpustakaan. Joon Jae kemudian menyuruh Sim Chung duduk dan bersuara pelan kalau dia mau mencari sesuatu di bagian dokumentasi kuno dan menyuruh Sim Chung memilih dan membaca satu buku.

“Heo Joon Jae!” teriak Sim Chung saat Joon Jae mau pergi.

“Kau tidak boleh berisik di sini.” Bisik Joon Jae.

“Kenapa?” tanya Sim Chung juga, ia berbisik dengan muka senang.

“Mereka semua sedang belajar.” bisik Joon Jae.

“Aku suka perpustakaan.” Bisik Sim Chung

“Kenapa?” bisik Joon Jae.

“Aku bisa berbisik padamu seperti ini. Aku suka berbisik.” Bisik Sim Chung yang membuat Joon Jae tertawa.


Lalu, seorang wanita meninggalkan pesan untuk Joon Jae. Joon Jae udah ge-er karena mengira wanita itu mengirim pesan cinta, tapi wanita itu menyuruh Joon Jae keluar karena Joon Jae dan Sim Chung sangat berisik. Joon Jae kesal membaca pesan itu, tapi di depan Sim Chung ia bilang kalau wanita itu menyukainya dan memuji ketampanannya.


Sim Chung pun langsung menatap galak wanita itu dan mau menghajar wanita itu. Wanita itu ketakutan dan langsung lari. Joon Jae susah payah menahan Sim Chung. Sim Chung tersenyum lebar karena JooN Jae memeluknya.


Sekarang, Joon Jae berada di ruangan lain, membaca profil Dam Ryung.

“Kim Dam Ryung, tahun kelima Raja Seonjo dari Dinasti Joseon. Tahun Imshin. Lahir 21 September 1572. Dia menikah dengan Sung Kyung Sung, putri dari Menteri Dalam Negeri. Tahun berikutnya, istrinya meninggal karena penyakit parah. Setelah itu, dia tidak menikah lagi. Pada musim semi tahun ke-31 Raja Seonjo, Tahun Moosool (1598), dia diangkat menjadi Kepala desa Hyupgok di provinsi Gangwon.  Di tahun yang sama, pada tanggal 11 Desember,di usianya yang masih muda, 27 tahun... Dia meninggal.”

Joon Jae terkejut…

  
Kembali ke masa lalu—Dimana Dam Ryung terbangun dari tidurnya karena mimpi buruk. Tabib yang sedang merawat Sae Wa bertanya, apa Dam Ryung mimpi buruk lagi.

“Akhir-akhir ini, aku sering mendapatkannya. Sampai-sampai aku merasa takut untuk tidur. Apakah itu mimpi dan apakah itu nyata... sulit untuk ditentukan.” Jawab Dam Ryung.

“Tuan pasti sangat lemah.” Ucap tabib.

“Begitukah?” tanya Joon Jae, lalu memikirkan mimpinya.


Kembali ke Joon Jae yang meneruskan membaca profil Dam Ryung.

“Pada musim semi tahun ke-31 Raja Seonjo, Tahun Moosool (1598), dia diangkat menjadi kepala desa Hyupgok di provinsi Gangwon. Pada tahun yang sama, tanggal 11 Desember, di usianya yang masih muda 27 tahun... dia meninggal.”


Ternyata itulah mimpi yang diingat Dam Ryung saat sosok yang mirip dirinya berkata, ia akan meninggal di usia 27 tahun. Dam Ryung pun langsung bertanya pada tabib, berapa lama lagi waktu yang tersisa sampai bulan purnama di Bulan Desember. Tabib bilang sekitar 20 hari lagi. Tabib lalu mengatakan soal Sae Wa.

“Tuanku, saat aku merawat wanita ini, aku menemukan bahwa dia bukan makhluk biasa. Jika apa yang dikatakan orang-orang itu benar, bahwa dia benar-benar putri duyung, kelihatannya dia tidak akan bisa pulih jika dia tetap tinggal di sini.” Ucap tabib.

“Lalu, apa yang harus aku lakukan?” tanya Dam Ryung.

“Tuan harus segera mengembalikan dia ke laut. Aku yakin bahwa ini adalah cara untuk menyelamatkan hidupnya.” Jawab tabib.


Dam Ryung lalu melepaskan gelangnya dan memakaikan gelangnya itu ke tangan Sae Wa.




Dan sekarang, Joon Jae sedang menatap gelang itu. Joon Jae bertanya2, kenapa Dam Ryung meninggal begitu cepat? Di usia 21, usianya sekarang. Sementara itu, Sim Chung sedang membaca legenda putri duyung. Seorang bocah laki2 yang melintas di depannya terkejut saat menemukan mutiara dan langsung mengatakan pada ibunya. Sim Chung menangis membaca cerita putri duyung.


Chi Hyun yang sedang menjenguk Sopir Nam bertanya soal kotak hitam yang sudah rusak pada istri Sopir Nam. Istri Sopir Nam bilang kotak hitam itu tidak bisa dipulihkan. Chi Hyun kemudian meminta catatan telepon Sopir Nam. Istri Sopir Nam pun langsung memberikan catatannya. Chi Hyun berjanji akan menyelidikinya, ia mengaku memiliki teman di kepolisian dan kejaksaan.

“Nyonya mengatakan kepadaku untuk tidak membuat hal yang sia-sia menjadi besar. Aku tidak punya tempat untuk bertanya.” Ucap istri Sopir Nam.

Chi Hyun pun makin curiga sama ibunya.


Joon Jae dan Sim Chung baru keluar dari perpustakaan. Tiba2, Joon Jae dapat SMS dari Da Young lewat ponsel Sopir Nam yang mengajaknya bertemu di Yeonheung-dong jam 7. Joon Jae pun langsung mengajak Sim Chung pulang tapi Sim Chung berkata mau menemui temannya. Joon Jae langsung sewot menyadari Sim Chung mau menemui Jung Hoon. Joon Jae pun mengingatkan Sim Chung kalau Sim Chung harus pulang jam 8 malam. Joon Jae lalu beranjak pergi, menuju lokasi dimana ia janjian dengan Dae Young yang disangkanya Sopir Nam.


Seo Hee sengaja mengunjungi CEO Heo di kantor. Ia beralasan kalau sengaja mampir setelah urusannya di dekat kantor CEO Heo selesai. Ia mengajak CEO Heo makan malam, agar CEO Heo batal ketemu sama pengacara. CEO Heo menolak, ia mengaku ada janji dengan seseorang, pesta akhir tahun. Seo Hee pun kesal lantaran dibohongi seperti itu. Tepat saat itu, ponsel CEO Heo berbunyi. Telepon dari Pengacara Lee. Pengacara Lee membatalkan janji mereka dengan alasan terjadi sesuatu di rumahnya. Seo Hee yang sudah tahu hal itu pun tersenyum senang.


Sim Chung ke kantor Jung Hoon. Tapi disana tidak ada Jung Hoon, hanya ada dua rekan Jung Hoon. Sim Chung mengaku mencari Jung Hoon. Teman Jung Hoon mengira Sim Chung adalah Kim Hye Jin, kekasihnya Jung Hoon. Sim Chung pun memperkenalkan dirinya, kalau namanya Sim Chung.

“Sebenarnya, temanmu itu saat menyelamatkan seseorang yang jatuh ke sungai Han beberapa hari yang lalu saat fajar, mengalami serangan jantung mendadak. Ketika dia dibawa ke rumah sakit, dia sudah meninggal.” Ucap rekan Jung Hoon.


Bersamaan dengan itu, Kim Hye Jin datang. Ia terkejut mengetahui Jung Hoon sudah meninggal.


“Anak itu pasti sudah tahu sesuatu akan terjadi padanya. Aku tidak tahu bagaimana dia tahu. Dia meninggalkan ini di laci dengan info kontakmu.” Ucap rekan Jung Hoon, lalu memberikan sebuah kotak yang isinya cincin mutiara berwarna merah muda.

Sim Chung pun teringat perkataan Jung Hoon soal mutiara merah muda itu. Jung Hoon berkata, ia mendapatkan mutiara merah itu karena benar2 bahagia.


“Saat dia tinggal di sini, dia pernah menangis bahagia. Dia bilang dia sangat bahagia bahwa dia menangis karenamu. Semua saat bahagia itu, dia pasti ingin meninggalkannya di sini.” Ucap Sim Chung pada Kim Hye Jin.

Kim Hye Jin pun terkejut….


No comments:

Post a Comment