Friday, August 4, 2017

The Legend Of The Blue Sea Ep 16 Part 1

Sebelumnya....


Yoo Ran menatap Joon Jae dari kejauhan dengan penuh rasa haru. Tak lama kemudian, ia pun mulai melangkah menuju putranya. Sosok Joon Jae yang sudah dewasa mengingatkan Yoo Ran pada sosok Joon Jae kecil yang menangis memanggilnya ‘ibu’ dan begitu pula dengan Joon Jae yang teringat sosok ibunya di masa lalu. Tanpa sadar, keduanya pun berjalan semakin cepat.


Joon Jae hanya bisa diam menatap ibu yang selama ini ia rindukan. Sementara itu, Yoo Ran menatap Joon Jae dengan mata berkaca-kaca. Yoo Ran yang sudah tak tahan lagi, akhirnya memeluk Joon Jae dan menangis dalam pelukan Joon Jae.

Joon Jae-ya,  maafkan aku.” ucap Yoo Ran berkali-kali.


Di belakang, Chung tersenyum memperhatikan pertemuan ibu dan anak ini.


Cairan bening itu akhirnya menyeruak keluar dari sudut mata Joon Jae. Tangisan Yoo Ran berhenti untuk beberapa saat. Ditatapnya, serta disentuhnya wajah Joon Jae sebelum akhirnya menangis kembali dan memeluk Joon Jae.

“Diantara banyak kata yang aku pelajari setelah datang kemari, kata terbaik adalah akhir yang bahagia. Aku yakin bahwa saat ini adalah akhir yang bahagia. Tapi harapan dan keputusasaan dalam hidup yang kau lalui adalah... bahwa waktu terus berjalan dan kenangan berlalu. Dibalik saat yang membahagiakan itu, tak ada seorangpun yang tahu kejadian seperti apa yang menanti mereka.” Batin Chung.


Sekarang, ibu dan anak ini duduk berdua di sebuah kafe. Mereka awalnya tak saling bicara karena tak tahu harus bicara apa, sampai akhirnya Joon Jae memecah keheningan dengan menanyakan kesehatan sang ibu. Sang ibu hanya mengangguk, menjawab pertanyaan Joon Jae. Yoo Ran kemudian balas bertanya, bagaimana kesehatan Joon Jae. Joon Jae pun berkata, bahwa ia baik2 saja. Yoo Ran kembali meminta maaf. Joon Jae pun meminta sang ibu agar berhenti mengucapkan kalimat itu.

“Aku tidak seharusnya... meninggalkanmu seperti itu. Aku kira ayahmu yang kaya akan membesarkanmu dengan baik. Aku kira kau akan hidup dengan baik dan bersekolah di luar negeri.” Ucap Yoo Ran dengan wajah penuh penyesalan.

Joon Jae pun menghibur sang ibu dengan berkata ia hidup dengan baik meskipun tidak belajar diluar negeri. Yoo Ran lalu menanyakan alasan Joon Jae kabur dari rumah. Joon Jae pun berkata, ia kabur karena ia sangat merindukan sang ibu. Mendengar itu, sang ibu kembali tertunduk karena menyesal.

“Aku mengira saat itu aku akan langsung bisa menemukanmu. Tapi ibu tidak bisa ditemukan dimanapun. Aku memikirkan banyak hal. Apakah ibu sudah meninggal? Jadi, berhentilah mengatakan kau minta maaf. Telah hidup sehat seperti ini, aku sangat bersyukur.” Ucap Joon Jae.


Tangis Yoo Ran kembali pecah. Melihat itu, Joon Jae pun langsung berpindah tempat duduk ke samping ibunya. Ia mengambil tisu lalu mengelap wajah sang ibu yang sudah basah karena air mata. Tangis Yoo Ran terus mengalir. Joon Jae pun kembali memeluk ibunya.

“Tapi ibuku menjadi sangat kurus. Saat aku masih kecil, kau selalu memelukku. Aku harus memelukmu setiap hari.” hibur Joon Jae.

“Pasti sangat sulit bagimu... selama 10 tahun, anak kecil tumbuh sebesar ini. Untuk waktu yang sangat lama, kau sendirian tanpa ibu. Anakku, ini pasti sangat sulit untukmu. Kau pasti sangat kesepian. Ibu tidak memikirkannya...” ucap Yoo Ran.


Tangis Joon Jae pun kembali menyeruak keluar.

“Itulah sebabnya kau tidak boleh pergi lagi. Saat kita terpisah, kau tidak mengetahui apapun. Jadi, jangan pergi lagi.” Jawab Joon Jae.


Chung yang sudah kembali ke rumah memberitahu Nam Doo soal ibunya Joon Jae. Nam Doo terkejut mengetahui ahjumma yang bekerja di rumah Si A adalah ibunya Joon Jae. Chung berkata, kalau sekarang Joon Jae sedang bicara dengan sang ibu.

“Bukan hanya Joon Jae yang mencari ibunya, aku juga mencarinya kemana-mana. Tapi aku tidak bisa percaya selama ini dia berada di sekitar kita!” seru Nam Doo.


Si tunawisma sambil terus mengunyah sepotong ayam goreng berkata, bahwa ini adalah sesuatu yang harus dirayakan. Nam Doo pun terheran-heran. Dari semua hari, kenapa harus di hari ultahnya Chung Joon Jae bertemu ibunya.


“Itu karena aku memilih hari yang tepat saat Heo Joon Jae bertemu dengan ibunya.” Jawab Chung.

“Benar juga, kau bukan hanya pandai bicara tapi logikamu juga sempurna.” Ucap Nam Doo.


Si tunawisma lantas memberikan piringnya yang sudah kosong pada Nam Doo. Nam Doo dengan wajah kesal, akhirnya mengambil piring itu dan beranjak ke dapur. Tapi saat ia mau beranjak ke dapur, kakinya tersandung kursi dan itu mengingatkannya pada saat kakinya tersandung sebanyak dua kali di hari ia mengetahui bahwa Chung adalah putri duyung. Nam Doo pun bingung. Chung menegur Nam Doo, menyadarkan Nam Doo dari kebingungannya dan beranjak ke dapur.

“Ini membuatku gila. Apa ini? Aku yakin pasti ada sesuatu. Sesuatu yang besar.” Ucap Nam Doo sembari melihat Chung dari dapur.


Joon Jae sudah berada di dekat rumah bersama sang ibu. Sang ibu mengaku bahwa ia tidak bermimpi kalau rumah yang pernah ia datangi adalah rumah Joon Jae. Joon Jae pun berkata, bahwa ia juga tak pernah menyangka bahwa selama ini ia memakan masakan yang dibuat ibunya sendiri.


Yoo Ran lantas teringat soal Si A yang ngaku2 pacarnya Joon Jae dan langsung menanyakan soal itu pada Joon Jae. Joon Jae berkata, bahwa Si A hanyalah teman kampusnya. Yoo Ran pun bertanya lagi, apakah Chung pacarnya Joon Jae. Ia bertanya dengan senyum mengembang. Mendengar pertanyaan sang ibu, Joon Jae tersipu malu.

“Omo, lihatlah bagaimana kau tersenyum. Kau sangat menyukainya?” tanya sang ibu.


Senyum Joon Jae pun semakin melebar mendengar kata2 sang ibu.

“Tapi... kalian sudah tinggal bersama?” tanya Yoo Ran.

“Dia tidak punya tempat yang bisa dia kunjungi karena keadaannya.” Jawab Joon Jae.


“Takdir memang aneh. Aku sering mendapatkan pertolongan dari Chung. Dia menolongku saat aku dicopet, dan dia juga menyelamatkanku dari kecelakaan mobil saat aku berjalan linglung.” Ucap Yoo Ran.

Mendengar sang ibu hampir kecelaakaan, Joon Jae pun kaget.

“Bagaimana bisa kau hampir kecelakaan? Tolong berhati-hatilah.” Ucap Joon Jae.

“Tapi... bagaimana kau bisa hidup di rumah yang sebagus ini.” tanya Yoo Ran.


“Aku menghasilkan banyak uang. Ini adalah rumah sewaan. Setidaknya aku bisa mendapatkan rumah untuk kita hidup bersama. Jadi... berhentilah bekerja keras dan tinggallah bersamaku.” Jawab Joon Jae.

“Pekerjaan apa yang kau lakukan, Joon Jae?” tanya Yoo Ran.

Joon Jae pun terdiam mendengar pertanyaan sang ibu. Wajahnya langsung berubah. Akhirnya, Joon Jae hanya bisa bilang kalau pekerjaannya hanya ini dan itu. Agar sang ibu tidak bertanya lagi soal pekerjaannya, Joon Jae pun mengalihkan pembicaraan dengan mengajak sang ibu masuk ke rumaahnya.


Mereka pun mulai merayakan ulang tahun Chung. Setelah lagu ulang tahun selesai dinyanyikan, Chung mau langsung meniup lilinnya tapi Joon Jae melarang dan menyuruh Chung mengucapkan satu keinginan terlebih dahulu sebelum meniup lilin. Tapi Chung malah mengucapkan keinginannya itu keras2 bahwa ia ingin hidup bahagia dalam waktu yang lama bersama Joon Jae.

“Permohonan harus di batin agar menjadi kenyataan. Jika kau mengatakan dengan keras itu tidak akan terkabul.” Ucap Nam Doo.

“Benarkah? Oh, apa yang harus kulakukan?” jawab Chung panik.

“Tidak masalah. Itu akan menjadi kenyataan meskipun kau mengatakannya dengan keras.” Ucap Joon Jae.


Chung lalu menyuruh Joon Jae menyalakan lagi lilinnya untuk merayakan pertemuan Joon Jae dengan Yoo Ran. Tapi setelah Joon Jae dan Yoo Ran meniup lilinnya, Chung minta dinyalakan lagi untuk merayakan keberhasilan Yoo Na mendapatkan nilai 100 dalam test Bahasa Inggris. Tapi abis itu, Chung lagi2 minta lilinnya dinyalakan.

“Hentikan, hentikan!” seru Nam Doo.


Si A yang lagi di lab, terkejut saat menerima telepon dari Nam Doo. Nam Doo menyuruh Si A datang ke ultah Chung serta memberitahu Si A kalau Joon Jae sudah menemukan sang ibu. Mendengar itu, Si A pun panic dan hampir saja ia menjatuhkan gucinya. Nam Doo mengira kalau Si A dan Yoo Ran pasti sudah sangat akrab karena tinggal di rumah yang sama dan menyuruh Si A datang.

“Datanglah kemari. Di sini ada pesta besar. Seorang anak sekolah dan gelandangan bahkan ada di sini.” Ucap Nam Doo.


Nam Doo lalu melirik si tunawisma yang asyik makan. Si tunawisma yang tahu dilirik Nam Doo, langsung memberikan tatapan tajamnya. Melihat tatapan tajam si tunawisma, Nam Doo merasa takut dan langsung memberikan senyumnya.

Usai bicara dengan Nam Doo, Si A pun langsung terduduk lemas.


Pesta selesai, Tae Oh pun berencana mengantarkan Yoo Na pulang. Sebelum pulang, Yoo Na mengucapkan selamat ulang tahun pada Chung dan selamat pada Joon Jae karena sudah menemukan sang ibu. Joon Jae tersenyum mendengarnya dan berterima kasih pada Yoo Na sembari mencubit gemas pipi Yoo Na.


Sementara Nam Doo, dia lagi membersihkan sofa yang tadi diduduki si tunawisma.


Sebelum pergi, si tunawisma minta tas yang biasa diberikan kalau datang ke pesta ulang tahun. Nam Doo pun berkata dengan heran, apakah si tunawisma mau ia membungkuskan makanan. Si tunawisma pun berkata bahwa ia tak makan makanan yang sudah lewat dua jam dimasak. Nam Doo pun mengerti dan menyuruh si tunawisma pergi.

“Hai, ada apa dengan semua temanmu? Apakah tidak ada yang normal satupun?” protes Nam Doo ke Chung.

“Kenapa? Aku menyukai mereka. Aku menyukai semua temanku di sini. Ibunya Heo Joon Jae juga temanku.” Jawab Chung.


“Hai, bagaimana bisa ibuku menjadi temanmu?” protes Joon Jae.

‘Benar. Kami berteman.” Jawab Yoo Ran sambil melirik Chung dan tersenyum.

“Lihatlah?  Kami berteman.” Ucap Chung, lalu pergi bersama ibunya Joon Jae.

“Hei, jika kau berteman dengan ibuku lalu aku bagaimana?” protes Joon Jae menyusul keduanya.

“Rumah ini menjadi semakin aneh.” Gumam Nam Doo gara2 temannya Chung.


Nam Doo memberitahu Yoo Ran betapa sulitnya ia mencari Yoo Ran. Ia mendatangi semua alamat lama Yoo Ran dan mendatangi semua teman dan saudara Yoo Ran. Yoo Ran berkata, bahwa ia menetap diluar negeri setelah bercerai.

“Dan setelah itu dengan uang tabunganku aku kembali, dan bekerja sebagai pembantu. Jadi sangat sulit untuk menemukanku.” Ucap Yoo Ran.

“Kau pasti sangat menderita.” Jawab Nam Doo.


Nam Doo lalu mengajak mereka bersulang untuk merayakan pertemuan Joon Jae dan Yoo Ran. Usai bersulang, Nam Doo menanyakan soal Kang Ji Hyun pada Yoo Ran. Yoo Ran terkejut dan ingin tahu kenapa mereka menanyakannya.

“Ada beberapa masalah, jadi kami sedang mencari Kang Ji Hyun. ID tempat tinggalnya telah dibatalkan dan tidak ada catatan mengenainya.” Jawab Nam Doo.

“Dia adalah seseorang yang aku kenal. Yang aku kenal cukup baik.” Ucap Yoo Ran.

“ Benarkah?” tanya Joon Jae.

“Kau juga mengenalnya.” Jawab Yoo Ran.


“Aku... mengenalnya?” tanya Joon Jae.

“Joon Jae-ya, dia adalah ibu tirimu.” Jawab Yoo Ran.

Joon Jae dan Nam Doo terkejut. Yoo Ran menjelaskan, bahwa Ji Hyun sudah mengganti namanya menjadi Kang Seo Hee.

“Dia mengganti namanya? Jadi pasti ada catatan yang tertinggal tapi tidak ada sama sekali.” Ucap Nam Doo.

“Aku tidak tahu mengenai semua itu, tapi namanya saat di sekolah adalah Kang Ji Hyun. Aku yakin itu.” jawab Yoo Ran.

“Kang Ji Hyun adalah wanita itu?” gumam Joon Jae tidak percaya.

“Apa ini? Ada apa?” tanya Yoo Ran.


Nam Doo hendak memberitahu, namun Joon Jae mencegahnya dan berkata tidak ada apa2. Tapi Yoo Ran tidak percaya. Nam Doo pun menjelaskan kalau Ji Hyun punya hubungan dengan buronan bernama Ma Dae Young. Chung bertanya, apa hubungan mereka. Disaat Nam Doo mau menjelaskan, Joon Jae langsung menyela kata2 Nam Doo dengan berkata kalau detektif yang mereka kenal lah yang menanyakan itu.


Si A mondar mandir di depan rumah Joon Jae. Tak lama, Tae Oh datang dan ingin tahu apa yang Si A lakukan. Si A balik bertanya, apa ibunya Joon Jae masih di dalam. Tae Oh hanya berkata, mungkin.

“Apa mungkin... dia mengatakan sesuatu tentang... aku?” tanya Si A terbata-bata.

“Tentang apa?” tanya Tae Oh balik.

“Lupakan.” Jawab Si A.

“Apa kau tidak akan masuk?” tanya Tae Oh.

“Tae Ho-ya, kau mau minum bersamaku?” pinta Si A.

“Aku... tidak ingin minum bersamamu, Noona.” Jawab Tae Oh.

“Ayolah, kita minum.” Paksa Si A, lalu menggandeng Tae Oh dan menyeretnya pergi.


“Aku tidak tahu seberapa besar kau menyukaiku, tapi kau ingin aku membuatmu tidak menyukaiku lagi? Aku... tahu bahwa ahjumma itu adalah ibunya Joon Jae.” Ucap Si A.

“Lalu kenapa kau tidak mengatakan apapun?” tanya Tae Oh.

“Aku... telah memperlakukannya dengan buruk. Jadi kami tidak akrab. Tapi kemudian aku mengetahuinya bahwa dia adalah ibu Joon Jae. Jadi aku mencoba memperbaiki hubunganku dengannya dan akan mengatakan pada Joon Jae. tapi sekarang semuanya telah berakhir. Karena dia sudah mengetahuinya, dia pasti tidak akan mau berteman denganku lagi bukan? Dia akan menyuruhku pergi 'kan?” ucap Si A.

Tangis Si A pecah. Tae Oh dengan setia mendengarkan curhatan Si A.


“Aku tahu bahwa aku wanita yang mengerikan. Bagaimana perasaanmu? Setelah mendengarnya, apa ada perasaanmu untuk ingin pergi jauh dariku? Bersyukurlah. Keinginanku adalah perasaanku pada Joon Jae menghilang seutuhnya. Tapi aku tidak bisa melakukannya, ini sangat sulit untukku. Aku mengatakan ini padamu sehingga kau tidak menderita seperti aku. Perasaanmu padaku, cinta itu, buanglah jauh-jauh.” Ucap Si A.

Si A menangis lagi. Tae Oh tersenyum geli mendengar curhatan Si A.


Joon Jae memberitahu Detektif Hong kalau Kang Ji Hyun adalah ibu tirinya. Detektif Hong pun menduga kalau alasan Dae Young mengejar Joon Jae atas permintaan sang ibu tiri, tapi yang masih tidak dimengerti Detektif Hong adalah alasan Ma Dae Young mau membunuh Joon Jae. Asisten Detektif Hong pun berbisik itu karena Joon Jae melakukan sesuatu yang menjengkelkan. Mendengar itu, Detektif Hong pun langsung menendang kursi asistennya.


Ingatan Joon Jae melayang pada kata2 Chi Hyun tentang sang ayah yang memberikan semua kekayaan pada Chi Hyun dan Seo Hee.

“Hal pertama yang bisa aku katakan mungkin adalah warisan.” Jawab Joon Jae.


Awalnya, Detektif Hong mengira Joon Jae berusaha menipunya. Ia tak percaya bahwa Joon Jae anak seorang chaebol. Tapi kemudian, Detektif Hong mendadak terhenyak.

“Apakah sekarang itu penting? Bisakah kau menangkapnya sekarang?” ucap Joon Jae.
“Kita tidak bisa melakukannya tanpa bukti yang akurat. Dan itu akan membuatnya tahu bahwa kita mencurigainya, jadi kita harus berhati-hati sampai kita menemukan bukti.” Jawab Detektif Hong.


“Aku memiliki firasat akan hal ini. Puzzlenya mulai menyatu. Dan kita juga tidak punya cukup waktu untuk menunggu.” Ucap Joon Jae.

“Sekarang apa yang akan kau lakukan?” tanya Detektif Hong.


“Aku akan melakukannya dengan caraku. Aku akan menemukan bukti dan mengungkap segalanya secepat mungkin.” jawab Joon Jae.


Adegan berpindah pada dokter yang menjelaskan kondisi Sopir Nam. Dokter bilang, mereka beruntung karena Sopir Nam dalam keadaan masih bernafas dengan usaha sendiri dan itu terjadi saat mereka menggunakan alat bantu pernafasan sebagai pendukung sehingga tidak terjadi serangan jantung yang fatal.

“Dia hampir saja mati. Bagaimana bisa sesuatu seperti ini terjadi lagi?” ucap istri Sopir Nam.

“Dalam kasus pasien ini, dia mengalami cidera aksonal difuse. Dalam kasus seperti ini, terkadang pasien akan tiba-tiba bangun dari komanya. Karena kita tahu dengan jelas bagaimana proses pemulihan cidera otak, kita hanya menyebutnya keajaiban.” Jawab dokter.

“Aku mengharapkan keajaiban, Dokter.” Ucap istri sopir Nam.


Dalam keadaan masih belum sadar, Sopir Nam kembali melihat kehidupan masa lalunya. Dalam mimpinya, ia yang bersembunyi di ruang rak buku mengintip sosok bercincin logam itu. Sopir Nam lantas buru2 mengambil gulungan kertas, namun diluar ia dipergoki oleh sosok Chi Hyun dan Nam Doo. Sopir Nam pun berusaha melarikan diri dari kejaran Chi Hyun dan Nam Doo.


Bersamaan dengan itu, jari2 Sopir Nam bergerak. Ya, Sopir Nam mulai sadar!


Adegan lalu berpindah pada Seo Hee yang sedang mengurusi tanaman bunganya. Tak lama, Chi Hyun datang dan langsung menatap Seo Hee dengan marah. Seo Hee pun bertanya, ada apa.

“Apakah dia ayahku? Ma Dae Young?” tanya Chi Hyun.

Seo Hee awalnya diam saja. Tapi akhirnya ia mengakui bahwa Dae Young adalah ayah kandung Chi Hyun. Chi Hyun kecewa.

“Aku tidak mengerti, Chi Hyeon. Tanpa mengetahui apapun, tanpa melakukan apapun, jika kau hanya duduk dan menunggu, aku akan melakukan semuanya untukmu, jadi kenapa kau ingin tahu?” tanya Seo Hee.

“Kenyataan bahwa aku adalah anak dari seseorang seperti dia...!” teriak Chi Hyun.


Seo Hee terkejut. Dengan nafas tercekat, Chi Hyun berkata, bahwa ia membenci Dae Young. Seo Hee pun menjelaskan, kalau seharusnya ia memiliki saudara kembar. Mereka terlahir di waktu yang sama dan dimasukkan ke dalam keranjang yang sama dan dikirim ke panti asuhan, tapi adiknya diadopsi oleh keluarga kaya, sedangkan ia sendiri tidak.

“Seorang ayah yang melakukan kekerasan setiap dia mabuk dan ibu yang menyedihkan... menjadi miskin tanpa masa depan... bahkan dalam keadaan seperti itu, masih ada satu hal yang bagus untukku.” Ucap Seo Hee.

Chi Hyun menangis mendengarnya. Ingatan Seo Hee lalu melayang ke masa lalu.

Flashback…


Seo Hee remaja menangis di kantor polisi. Ia menjelaskan, bahwa ia tidak tahu apapun. Awalnya, ia mengira ayahnya tertidur setelah minum, namun saat ia bangun di pagi hari, ia menemukan ayahnya… Seo Hee tak sanggup melanjutkan ceritanya.

Setelah itu, kita melihat Seo Hee sedang meratapi kematian suaminya.

Flashback end…

“Orang-orang terlihat percaya dengan apapun yang dikatakan orang lemah... Sampai sejauh ini menggunakannya sebagai senjataku, ini adalah jalan yang panjang dan sulit.” Ucap Seo Hee.


Chi Hyun hanya bisa tertunduk sedih mendengarnya. Seo Hee lalu bangkit dan mendekati putranya.

“Chi Hyun-ah,  aku tidak ingin kau mengambil jalan yang lebih panjang lagi. Entah itu Ma Dae Young atau Heo Il Joong, mereka hanyalah jembatan untuk kita.” ucap Seo Hee.


Chi Hyun marah dan menghempaskan tangan sang ibu yang memegang wajahnya dengan kasar.

“Pakai saja jembatan itu untuk mendapatkan sinar matahari. Dan hiduplah bukan sebagai gumpalan lumpur kotor tapi sebagai bunga.” Ucap Seo Hee dengan mata berkaca-kaca.


Tae Oh mengantarkan Si A pulang. Si A berterima kasih karena Tae Oh sudah mau mengantarnya. Saat membuka pagar, Si A tiba2 saja jatuh dan Tae Oh dengan sigap memegangi Si A. Tae Oh lalu berkata, kalau ia akan berhenti menyukai Si A.

“Apa? Oh, cepat sekali.” Jawab Si A.

Tae Oh membenarkan. Si A pun terkejut karena mengira Tae Oh sudah melupakannya.

“Jadi Noona, kau harus mengungkapkannya pada Hyung Joon Jae dengan benar.” ucap Tae Oh.

“Di situasi seperrti ini? Bagaimana aku bisa? Bagaimana jika aku tidak bisa melihatnya lagi?” tanya Si A cemas.

“Apakah ada artinya untuk terus menemuinya seperti ini?” ucap Tae Oh.


Tae Oh lalu beranjak pergi. Si A yang menatap kepergian Tae Oh pun bertanya2, bagaimana bisa Tae Oh melupakannya secepat itu.


Yoo Ran memberitahu Jin Joo, kalau ia akan menginap di rumah Joon Jae.

“Omo, jadi kau bertemu dengan putramu? Reuni yang dramatis sekali!” komentar Jin Joo.

Di pinggir kolam renang, Chung minta Nam Doo memberitahunya hubungan Ma Dae Young dengan ibu tiri Joon Jae. Nam Doo balik tanya, kenapa Chung mau tahu soal itu. Chung bilang itu karena Dae Young berusaha menyakitinya dan Joon Jae.


“Ma Dae Young punya seorang wanita dihidupnya dan itu adalah Kang Ji Hyun. Dan disekitarnya terjadi kematian yang misterius. Dan anggota keluarga yang mengadopsinya semuanya mengalami serangan jantung. Bunuh diri, kecelakaan... Setelah kedua suaminya kehilangan penglihatan mereka, mereka meninggal karena sakit dan kecelakaan. Kau tidak mengerti apa yang aku katakan bukan?” ucap Nam Doo.

“Tidak, aku mengerti segalanya. Kau tahu, akhir-akhir ini aku sering melihat berita.” Jawab Chung.

“Tetapi, Kang Ji Hyun punya seorang anak. tapi kita tidak dapat menemukannya karena tidak ada catatan. Tapi jika Kang Ji Hyun adalah ibu tirinya Joon Jae, lalu siapa anak itu, Heo Chi Hyeon, kakak tirinya Joon Jae, mungkin saja adalah anak itu.” ucap Nam Doo.


Chung pun diam dan nampak memikirkan sesuatu.

“Ada apa dengan ekspresimu?” tanya Nam Doo.

“Hanya saja... aku merasa Heo Joon Jae sangat kesepian... “ jawab Chung.

“Dia pasti kesepian. Tapi pasti adalah anugrah dia bertemu denganku setelah lari dari rumah. Entah kenapa rumah itu cukup mengerikan...” ucap Nam Doo.

“Jika kau mengetahui yang lainnya, pastikan kau memberitahuku.” Pinta Chung lalu beranjak pergi.


Setelah Chung pergi, Nam Doo pun memikirkan apa yang terjadi pada hari dimana ia memergoki Chung sebagai putri duyung. Namun Nam Doo tak bisa mengingatnya. Yang diingat Nam Doo hanyalah bahwa saat itu ia menyuruh Chung menangis. Nam Doo pun terheran-heran kenapa ia menyuruh Chung menangis saat itu.

No comments:

Post a Comment