Sunday, October 15, 2017

My Golden Life Ep 10 Part 1

Sebelumnya...


Do Kyung menangkap Ji An yang jatuh saat berusaha memanjat tembok rumahnya. Ji An memohon, minta Do Kyung tidak mengganggunya untuk malam ini saja. Tapi Do Kyung malah mengajaknya keluar untuk minum. Sontak, Ji An kaget.

“Kenapa kau melakukan ini? Tolong tinggalkan aku sendiri.” Pinta Ji An.

“Bagaimana jika ayah dan ibu tahu kau keluar sendirian. Aku bahkan enggan membayangkannya.” Jawab Do Kyung.

Do Kyung lantas mengembalikan boneka kayu Ji Soo. Ji An senang sekaligus terkejut Do Kyung bisa mendapatkan bonekanya. Do Kyung menyuruh Ji An melupakan barang2 yang lain. Do Kyung bilang, Ji An tak bisa mengambil barang2 itu dari tong sampah atas perintah ibu.

“Kau mengambil ini dari tong sampah?” tanya Ji An.

“Aku bisa membelikanmu benda2 yang lebih bagus tapi benda itu berbeda. Itu sangat berarti untukmu.” Jawab Do Kyung.

Ji An pun tertegun…


Akhirnya Do Kyung dan Ji An bisa bicara dengan santai. Mereka berakhir di depan minimarket kesukaan Ji An. Do Kyung yang baru keluar dari minimarket, langsung merebut minuman yang hendak diminum Ji An. Do Kyung protes karena Ji An tidak mengelap kalengnya terlebih dahulu sebelum meminumnya.

“Akan butuh lebih dari 10 tahun untuk mengajarimu.” Ucap Do Kyung.


Do Kyung lalu menyahut lagi, menyuruh Ji An minum pelan2. Do Kyung juga mengatakan, tidak akan menoleransi kebiasaan saat mabuk. Do Kyung lantas tersenyum dan mengaku kalau ia tahu Ji An serius saat mengucapkan kata menyesal.

“Aku juga tahu kau sudah berusaha sebisamu,  meski lebih banyak kesalahan dibandingkan usahamu. Aku akan menerimamu sebagai adikku. Aku tidak mau adikku kehilangan semangat.” Ucap Do Kyung.

“Bagaimana kau tahu?” tanya Ji An.

Do Kyung pun menceritakan semuanya.


Flashback…

Nyonya No bicara dengan Do Kyung di kamarnya. Nyonya No kesal karena Ji An meminta dipanggil Ji An. Nyonya No lantas bercerita soal Ji An yang mengembalikan semua barang2 yang tadinya Ji An beli untuk keluarga lama Ji An. Nyonya No merasa kalau mulai sekarang mereka harus bisa mengendalikan Ji An.

Pembicaraan mereka pun seketika terhenti lantaran Tuan Choi yang masuk ke kamar. Karena ayahnya sudah pulang, Do Kyung langsung meninggalkan kamar orang tuanya.

Begitu keluar dari kamar orang tuanya, Do Kyung melihat Ji An mencari-cari bir di kulkas.

Flashback end…


“Kau meminta kalungnya kembali dari Seohyun. Kau mengembalikan semua hadiah untuk keluarga lamamu. Kau bahkan bertahan saat aku bersikap kejam kepadamu. Katamu kau menyesal dan menerima keluhanku. Kau benar-benar tulus saat bilang menyesal. Jadi aku juga harus mempercayaimu, bukan?” ucap Do Kyung.

Do Kyung lantas menyuruh Ji An mengembalikan uang 20.000 dollar itu pada ibu mereka.  Ji An pun mengaku bingung harus bilang apa pada ibu saat mengembalikan uang itu.

“Boleh kuberi tahu dia tentang kecelakaan itu?” tanya Ji An.

Do Kyung langsung panic dan melarang Ji An memberitahu ibu. Do Kyung bilang, kalau sampai ibu tahu, dirinya akan terkena masalah.

“Lantas, bagaimana dengan 20.000 dolarnya?” tanya Ji An.

“Pakai saja uangnya untuk melunasi utangmu.” Jawab Do Kyung.

“Memang ada pinjaman yang harus kulunasi tapi pasti uangnya masih tersisa.” Ucap Ji An.

“Sungguh? Jika ada yang tersisa, kau harus memakainya.” Jawab Do Kyung.

“Kau membuatku berbohong? Itu menjatuhkan martabatku.” Ucap Ji An.


“Semua ini demi dirimu. Pikirkan perilaku dan sikapmu selama insiden ini. Ingatlah selalu tentang betapa keras kepala dan bebalnya dirimu. Saat Ibu mendengar tentang hal ini, dia pasti akan menambah latihanmu. Kau bahkan akan sulit bernapas.” Jawab Do Kyung.

Do Kyung lantas berkata lagi, ada harga yang harus dibayar untuk membuat kesepakatan.

“Sebagai ganti aksi bungkammu, beri tahu aku satu hal yang kamu inginkan dariku.” Ucap Do Kyung.


Tuan Choi lagi marah sama Nyonya No yang bersikap terlalu keras pada Ji An. Nyonya No beralasan, itu karena Ji An terlalu banyak menghabiskan waktu bersama keluarga Seo yang miskin.

“Saat kali pertama kita bertemu, kau lihat sendiri dia makan sebelum orang tua. Aku harus bersikap kejam untuk mengubah sikapnya. Aku harus bersikap tegas kepadanya.” Ucap Nyonya No.

“Tapi itu bukan salah Eun Seok. Bukan salahnya dia kesulitan beradaptasi dengan keluarga kita. Apa kau punya hak untuk memarahinya begitu? Eun Seok putriku juga.” jawab Tuan Choi.

“Sudah kuduga kau akan berpikir begini. Kau selalu saja menyalahkanku. Kau menyalahkan dan membenciku  karena kehilangan putri kita. Tapi meski membenciku, kau tidak bisa meninggalkanku.” Ucap Nyonya No

Nyonya No kemudian meminta Tuan Choi mencamkan kata2nya.

“Aku akan memperkenalkan dia sebagai putri tertua Haesung yang sudah menjadi takdirnya sampai tidak akan ada yang berpikir soal 25 tahun yang hilang itu.”

Tuan Choi tambah kesal, tapi ia hanya bisa menghela napas saja.


Do Kyung dan Ji An sudah hampir sampai di rumah. Do Kyung mengingatkan Ji An, kalau Ji An harus segera mengambil keputusan apakah bergabung dengan keluarganya atau tidak.

“Jangan sampai itu membingungkanmu. Harus melupakan keluarga lamamu atau tidak. Pikirkan siapa yang akan menguntungkanmu.” Ucap Do Kyung.

“Aku tidak memilih bukannya karena bingung.” Jawab Ji An.

“Kau bingung. Kebanyakan orang merasa bingung meski mereka telah mengetahui jawabannya. Kau mungkin saja menginginkan sebagian dari sesuatu yang harus kau buang. Meski kau tahu bahwa tidak semuanya bisa dimiliki.” Ucap Do Kyung.


Ji An hanya menunduk mendengar kata-kata Do Kyung. Melihat Ji An menunduk, Do Kyung menyahut lagi kalau Ji An tidak ada sopan-sopannya sama sekali. Ji An pun langsung mendongak dikatai tidak sopan.

‘Lihat ini. Benda kesayanganmu sudah kembali.” Ucap Do Kyung.

“Terima kasih sudah menemukannya.” Jawab Ji An.

“Beri tahu aku jika kau sudah tidak sanggup. Tapi kau tidak boleh merengek. Beri tahu saat kau amat kesulitan. Sapalah aku sebagai kakakmu saat kau sudah siap. Sampai saat itu, tidak perlu memanggilku  kakak.” Ucap Do Kyung, sembari tersenyum.

Do Kyung masuk ke rumah duluan. Disusul kemudian dengan Ji An, yang sedikit tersenyum setelah mendengar kata-kata Do Kyung.


Sekembalinya ke kamar, Ji An terkejut melihat kelima bonekanya sudah kembali bertengger manis di meja. Ji An langsung memeluk kelima bonekanya dan menarik napas lega.

“Dia seharusnya memberitahuku jika menaruhnya di kamarku.” Ucap Ji An.

Ji An lantas teringat kata-kata Do Kyung tadi.

“Aku mengembalikan kenanganmu karena semua kenangan itu berharga.”


Ji An kemudian meletakkan kelima bonekanya di atas meja dan menatap bonekanya satu per satu.

“Chusungeyo, Eomma, Appa. Mianhae Oppa, mianhae Ji Soo-ya, mianhae Ji Ho-ya.  Aku akan menyesuaikan diri dengan keluarga ini dahulu demi menjadi anak yang baik untuk orang tua baruku. Setelah itu, akan kutaruh kalian di atas meja lagi.” Ucap Ji An.

Setelah itu, Ji An memasukkan boneka-bonekanya ke dalam tas kecil.


Ji Soo bangun tidur dengan perut sakit efek minum semalam, tapi ia tidak ingat apa yang terjadi dan malah menanyakannya pada sang ibu. Sang ibu pun memberinya air madu, kemudian berkata itulah yang mau dia tanyakan. Ibu memberitahu Ji Soo, kalau semalam Ji An lah yang mengantar Ji Soo pulang.


Ji Soo pun kaget, ayah yang lagi siap2 di kamar juga kaget mendengar Ji An pulang.

“Tidak mungkin, Bu.” Sangkal Ji Soo.

“Dia memberi tahu ibu kalian bicara di telepon.” Jawab Nyonya Yang.

“Tidak mungkin aku bicara dengannya.” Ucap Ji Soo.


Tak lama kemudian, Ji Soo teringat kalau semalam ia memang bicara di telpon dengan Ji An. Ji Soo pun langsung membuat alasan, kalau dia hanya menjawab telepon Ji An saja.

“Selain itu, dia tidak sengaja mengganti nomor ponselnya.” Ucap Ji Soo.


Ponsel Ji Soo pun berdering. Tahu Ji An yang menelponnya, Ji Soo buru2 lari ke atas.

“Kau tidak apa-apa? Kau bisa pergi bekerja?” tanya Ji An.

“Aku bilang apa padamu kemarin?” tanya Ji Soo lemas.

“Kau bertingkah seperti robot saat bertemu dengan Pak Sun.” jawab Ji An.

Ji An lalu memberikan saran pada Ji Soo.

“Saat melarangmu mengatakan sesuatu, bukan berarti kau tidak boleh menyapa. Maksudku kau tidak boleh menyatakan perasaan, memata-matai dia, atau menunjukkan perasaanmu. Jadi, jangan lemah. Perlakukan dia seakan-akan tidak terjadi apa-apa.”

“Bagaimana bisa aku melakukan itu? Mana mungkin aku tidak lemah? Aku harus bagaimana?” tanya Ji Soo.

Ji Soo pun kembali menjadi adik penurut yang mendengarkan semua saran kakaknya.


Selesai bicara dengan Ji An, Ji Soo malah jadi nyesel karena nurutin saran2nya Ji An padahal mereka lagi marahan. Ji Soo pun menyalahkan Ji An yang menelponnya saat ia lagi mabuk, jadinya mereka punya kesempatan untuk baikan seperti kemauan Ji An.


Hae Ja menghubungi Nyonya Yang. Hae Ja mengundang Nyonya Yang dan Tuan Seo makan malam di rumahnya. Tuan Seo pun nyeletuk, menyuruh Nyonya Yang mengatakan kalau mereka akan datang.


Tuan Seo seperti biasa, lagi di kafe internet, mencari tahu soal produk2 ekspor dari Vietnam. Tak lama kemudian, Tuan Seo teringat percakapannya dengan Seok Do saat mereka makan malam di sebuah restoran setelah Tuan Seo melihat pertengkaran Ji Tae dan Soo A.

“Apa yang terjadi padaku? Aku tidak pernah beristirahat sehari pun sejak menikah. Aku berlari dan terus berlari. Tapi nyatanya, aku ayah paling tidak berguna di dunia ini.” ucap Tuan Seo.

“Astaga, Tae Soo. Aku tidak pernah melihatmu begini. Apa harga dirimu terluka saat Ji An pergi ke keluarga barunya begitu dia mengetahuinya?” tanya Seok Do.


“Harga diriku? Tidak semua orang bisa mempertahankan harga diri. Aku bahkan tidak bisa mengurus anak-anakku sendiri. Aku tidak punya harga diri.” Jawab Tuan Seo.

Tuan Seo lalu teringat niat Seok Do untuk menutup pabrik.

“Katamu kau berniat menutup pabrik dan beralih mengimpor barang, bukan? Jika aku terpikirkan barang bagus, aku bisa bergabung, bukan?” tanya Tuan Seo.

“Tentu saja bisa. Tapi sekarang, ada banyak persaingan untuk sepatu dan baju dari Vietnam. Kita butuh titik balik dalam industri ini.” jawab Seok Do.

“Baiklah. Mari temukan itu. Benda yang akan mengubah industri ini.” ucap Tuan Seo.

“Kau terdengar sangat bertekad.” Puji Seok Do.


“Aku mau memperbaiki semuanya. Aku mau memperbaiki kehidupanku. Aku melakukan kesalahan. Aku telah berbuat salah. Seharusnya aku melawannya. Tapi aku terlalu cepat merasa lelah. Aku seharusnya menghadapi rasa takut itu, tapi aku malah berhenti. Lagi pula, aku tulang punggung keluarga. Istri dan anak-anakku ingin bergantung kepadaku. Tapi aku meminta mereka untuk memberiku kelonggaran. Itu sebabnya mereka tidak memercayaiku lagi.” Ucap Tuan Seo.

“Aku masih memercayaimu.” Jawab Seok Do, membuat Tuan Seo sedikit tersenyum.


Ji Soo yang mau nganterin roti ke kafenya Woo Hee, latihan mengucap sapaannya untuk Mr. Sun nya terlebih dahulu. Dia mengucapkannya dengan nada dan ekspresi yang berbeda.


Tapi pas ketemu Mr. Sun nya di depan kafe, dia malah bersikap seperti robot lagi.

Setelah Ji Soo pergi, Woo Hee pun langsung mengajak Hyuk membahas perasaan Ji Soo. Woo Hee yakin kalau Ji Soo sangat menyukai Hyuk. Hyuk pun mengaku tidak peduli meski Ji Soo marah padanya.


“Menurutmu dia marah kepadamu?” tanya Woo Hee.

“Lantas, apa lagi?” tanya Hyuk balik.

“Dia malu.” Jawab Woo Hee.

“Jika begitu, aku makin tidak menyukainya. Aku membenci orang-orang yang tidak bisa mengendalikan perasaan mereka sendiri.” Ucap Hyuk.

“Kau tidak seperti ini saat masih kecil. Maksud kakak, kau tidak jahat, tapi terkadang sikapmu terlalu dingin.” Jawab Woo Hee.

“Karena kakak tidak melihatku saat aku bertumbuh dewasa.” Ucap Hyuk.


Woo Hee pun langsung sadar. Ia terdiam sejenak, sebelum akhirnya minta maaf pada Hyuk. Tak enak pada kakaknya yang minta maaf, Hyuk pun mengalihkan topic pembicaraan. Ia mengungkit soal film favorit sang kakak.

“Apa itu hari sebelum pernikahan? Kakak membuatku menontonnya dan kakak menangis kencang. Mata kakak bengkak karena menangis dan Ibu memarahi kakak, bukan?” ucap Hyuk.

Woo Hee pun langsung mengaku tidak ingat dan bergegas berdiri, membawa masuk roti2 Ji Soo. Hyuk menghela nafas, mengerti perasaan sang kakak.


Adegan lalu beralih pada Ji Soo yang minta Nam Goo nganterin roti ke kafe Woo Hee. Nam Goo jelas menolak dengan alasan kalau ia pemilik roti2 itu. Belum tuntas Nam Goo bicara, Ji Soo pun sadar dan buru2 menarik ucapannya.

“Biar aku saja. Maafkan aku. Aku sangat bodoh sampai... Aku menjadi makin bodoh di depan Pak Sun. Aku hanya malu. Itu saja.” Ucap Ji Soo.

Nam Goo sampai menarik nafas dan duduk di kursi saking gemesnya ama Ji Soo.


Akhirnya tibalah hari dimana CEO No kembali di Korea. Semua keluarganya datang menjemputnya ke bandara. CEO No menepuk pipi Nyonya No dan berkata senang melihat Nyonya No. Nyonya No pun tersenyum. Do Kyung dan Seohyun ikut menyapa sang kakek. CEO No senang melihat semua keluarganya datang menjemputnya.

“Mana mungkin kami melewatkannya? Sudah setengah tahun. Ayo lekas pulang.” Ucap Jin Hee sembari merangkul lengan sang ayah.


Tapi CEO No langsung menepis rangkulan Jin Hee dan minta Jin Hee tidak bersikap berlebihan. CEO No lalu menyuruh Jin Hee menemani seorang wanita yang ikut dengannya makan malam. CEO No bilang ia mau menemui Eun Seok.

“Ayah, sudah lama tidak berjumpa. Kita harus makan bersama.” Ucap Myung Soo.

“Kami juga ingin menemui Eun Seok.” Ucap Jin Hee.

“Lain kali saja.” Jawab CEO No, lalu berlalu bersama keluarga putri sulungnya.

Myung Soo langsung kesal karena disuruh mengurus wanita simpanan CEO No.


Sementara itu, Nyonya No penasaran alasan ayahnya mengusir Jin Hee. Sang ayah mengaku kalau ia perlu menemui Eun Seok lebih dulu. Tuan Choi ikut bicara. Ia yakin, Jin Hee dan Myung Soo tersinggung. CEO No tersenyum dan menduga kalau Tuan Choi dan Nyonya No lagi berantem.

Seohyun yang menjawab, kalau orang tuanya kembali akur sejak Eun Seok kembali.


Setibanya di rumah, CEO No langsung memeluk cucunya yang sudah hilang bertahun2. Ji An pun secara perlahan-lahan mengangkat tangannya dan membalas pelukan sang kakek. Seohyun tertegun melihat pemandangan itu. Sementara Tuan Choi dan Nyonya No hampir menangis melihat mereka, sedangkan Do Kyung tersenyum bahagia.

“Kau pasti sangat kesulitan karena jauh dari kami. Kau hebat.” Puji CEO No.

“Tidak, kakek.” Jawab Ji An lembut.


Adegan pun beralih pada the real Choi Eun Seok yang lagi ngelapin rak sambil mikirin hubungannya dengan si Mr. Sun. Nam Goo yang takut raknya rusak, memanggil Ji Soo dan menyuruh Ji Soo menguleni adonan. Ji Soo langsung melompat senang disuruh menguleni adonan.


CEO No menuangkan makgeolli untuk Ji An. Nyonya No hanya bisa terdiam kesal melihat ayahnya mengajak putrinya minum makgeolli. CEO No berkata, tidak ada satu pun yang menyukai makgeolli di rumah itu. CEO No juga menyuruh Ji An menghabiskan makgeolli nya karena itu tuangan pertama.

“Sekarang, kakek akan memberi makanan untuk menurunkan makgeolli-nya. Makanlah ini.”


CEO No kemudian menyuapi Ji An hongeo. Seohyun langsung menutup hidungnya karena hongeo itu baunya seperti toilet umum. Sementara Tuan Choi menatap Ji An khawatir. Nyonya No menegur ayahnya, tapi Ji An malah menerima suapan sang kakek.

“Ikan skate ini difermentasi dengan baik.” Ucap Ji An.


CEO No senang karena akhirnya menemukan cucu yang satu selera dengannya. Mendengar itu, Seohyun langsung memasang tatapan iri.


Ji Soo yang masih menguleni adonan, mencoba mencari tahu bahan rahasia yang dicampurkan Nam Goo ke adonan itu. Tapi tak lama kemudian, ia pun teringat akan janjinya yang tidak akan mencari tahu soal bahan rahasia itu lagi.


Sambil menyantap makan siang, Tuan Choi mengaku sudah mengatur agar Ji An bisa kembali masuk ke perusahaan sebagai pegawai tetap. CEO No tidak setuju. Nyonya No pun heran, karena setahunya, sang ayah sudah setuju Ji An masuk perusahaan sebelum diperkenalkan ke public.

“Kita membutuhkan sesuatu dengan dampak yang lebih kuat untuk mengarang cerita. Itu saja tidak cukup.” Jawab CEO No.

CEO No lantas menyuruh Tuan Choi mengangkat Do Kyung sebagai wakil pimpinan. Sontak semua terkejut.


“Eun Seok bekerja di Tim Pemasaran dan Do Kyung menjadi wakil pimpinannya. Dia pun melihat seorang pegawai berbakat. Eun Seok perlu melakukan sesuatu yang signifikan. Wakil pimpinan muda yang ambisius, yang mencoba mengembangkan Haesung Apparel akan mengundang beberapa pegawai berbakat untuk makan malam dengannya. Selagi mereka minum bersama, dia akan berbaur dengan para pegawai dan menanyai mereka tentang latar belakang keluarga. Lalu, mulailah dari sini. Seorang pegawai bernama Seo Ji An, menceritakan tentang kenangan yang hampir dia tidak ingat. Katanya dia pernah dikurung di kandang burung. Setelah mendengar cerita itu, Do Kyung pun terkejut. Dialah yang mengurungnya di sana.” Ucap CEO No lebih lanjut.


Do Kyung terkesiap. Ia menyangkal pernah mengurung Eun Seok di kandang burung tapi kemudian ia teringat kalau memang pernah mengurung Eun Seok di kandang burung dan bahkan kandang burung itu masih ada di halaman depan rumah mereka. Do Kyung lantas bercerita, saat itu ia langsung dipukul sang ayah.


Ji An mengaku tak ingat pernah dikurung Do Kyung di kandang burung saat kecil. Seohyun pun cepat-cepat memotong kata-kata Ji An dengan menanyakan soal kakaknya yang dipukul ayah.

“Dia mengurung Eun Seok di kandang burung dan memberinya permen karet sebagai makanan.” Jawab Nyonya No.

“Dia akan berpikir bahwa Ji An adalah adiknya yang menghilang. Dia mencari tahu soal Ji An dan ternyata orang tuanya yang sekarang bukanlah orang tua kandungnya.” ucap CEO No.


CEO No pun mengatakan lebih lanjut caranya mengenalkan Ji An pada public.

“Hari yayasan perusahaan jatuh pada bulan Desember. Jadi, pada pertengahan November, takdir akan menuntunmu menemukan adikmu yang telah lama hilang.” Ucap CEO No.

“Dengan begitu, media tidak akan mengetahui tentang cara kita menemukannya.” Jawab Do Kyung.

“Jika satu sisi begitu dramatis, sisi yang lain akan diabaikan.” Tambah CEO No.


“Mengenai cara kita kehilangan dan menemukannya, apa pun yang kita katakan akan dianggap sebagai kebenaran. Sampai itu terjadi pada bulan November, kita masih punya waktu untuk melatih Eun Seok.” Jawab Nyonya No.

“Lantas, kini Kak Do Kyung menjadi wakil pimpinan?” tanya Seohyun.

“Kau memastikan semuanya bungkam? Beri mereka uang sebanyak yang mereka inginkan.” ucap CEO No pada Tuan Choi.

“Kami sedang melakukan itu.” jawab Tuan Choi.

“Jangan sampai hal itu memengaruhi pernikahan Do Kyung. Eun Seok tidak boleh merusak kariernya.” Ucap CEO No.

“Kami akan memastikannya.” Jawab Nyonya No.


Saat kembali ke kamar, Nyonya No memuji ide ayahnya di depan suaminya. Ia berkata, tidak ada yang bisa meniru ayahnya. Tuan Choi pun menyindir, kalau Nyonya No masih jauh dibawah CEO No. Perjalanan Nyonya No masih panjang untuk bisa menjad seperti CEO No.

“Apa maksudmu?” tanya Nyonya No heran.

“Kita sama-sama tahu bahwa ini bukan hanya untuk mengarang cerita. Dia tidak mengangkat Do Kyung sebagai wakil pimpinan hanya untuk memperkenalkan Eun Seok secara dramatis.” Jawab Tuan Choi.

“Yeobo..” Nyonya No tidak setuju dengan Tuan Choi.

“Kita sudah menduganya, jadi, tidak apa-apa. Tapi aku tidak menyukai fakta bahwa dia memanfaatkan putri kesayangan kita.” ucap Tuan Choi.

“Ini sekali tepuk, dua lalat. Kenapa kau membuatnya tampak jahat?” protes Nyonya No.


“Siapa yang melakukan itu? Siapa yang bertanggung jawab atas hilangnya Eun Seok? Seberapa miskin keluarga tempat Eun Seok tumbuh? Seberapa keras perjuangannya untuk mendapat pekerjaan tetap? Cerita itu akan menghapus semua gosip itu dan kurasa ini sama-sama menguntungkan.” Jawab Tuan Choi.

Nyonya No langsung diam.

“Dia memakai Eun Seok sebagai alasan untuk menjadikan Do Kyung sebagai ahli warisnya. Bagimu dan ayahmu, inilah sekali tepuk, dua lalat.” Ucap Tuan Choi.

“Jangan berpikiran terlalu jauh. Aku mengakui kesalahan kata-kataku.” Jawab Nyonya No.

Tuan Choi pun tidak menjawab lagi dan hanya menghela nafas kesal.


Di atas, Ji An mengucapkan selamat pada Do Kyung atas jabatan baru Do Kyung. Seohyun berkata, tidak ada yang bisa diselamati. Ini baru awal dari tes ahli waris.

“Tes ahli waris?” tanya Ji An kaget.

“Kakek tidak pernah bilang kepada siapa pun tentang orang yang akan menjadi ahli warisnya. Mungkin saja Ayah, Paman Myung Soo, atau putranya Bibi Jin Hee. Kini ada kemungkinan dia orangnya.” Jawab Seohyun.


“Kau hebat hari ini. Lumayan juga.” ucap Do Kyung memuji Ji An.

“Terpaksa memakan ikan skate?” tanya Seohyun.

“Aku tidak terpaksa memakannya. Aku memang menyukai ikan skate dan makgeolli.” Jawab Ji An.

“Selera Kakak sangat aneh.” Ucap Seohyun.

“Kakak tidak begitu menyukainya. Kakak menyukai makanan pedas.” Jawab Ji An.


Do Kyung lantas mengajak Ji An ‘berkencan’ esok hari. Tapi Do Kyung mau Ji An yang menentukan waktu dan tempatnya. Seohyun pun terkejut melihat Do Kyung yang mulai dekat dengan Ji An.


Ji Ho mengendap2 masuk ke rumahnya. Yakin tak ada orang di rumah, Ji Ho pun mencucuk hidungnya dengan pulen. Tepat saat itu, Nyonya Yang turun dari atas dan Ji Ho pun langsung menunjukkan hidungnya yang berdarah. Ji Ho pura2 mimisan. Nyonya Yang jelas panik melihat Ji Ho yang mendadak mimisan begitu.


Nyonya Yang menyumbat hidung Ji Ho dengan tisu dan menyuruh Ji Ho berbaring. Ia heran kenapa Ji Ho bisa mimisan.

“Entahlah. Aku sudah merasa pusing belakangan ini.” jawab Ji Ho.

“Apa kau anemia?” tanya Nyonya Yang.

“Aku hanya kurang tidur. Jadi, jangan cemaskan aku. Pergilah, Bu.” Jawab Ji Ho.

“Ibu ada janji dengan Hae Ja.” Ucap Nyonya Yang.

“Jangan khawatir. Setelah tidur, aku pasti akan baik-baik saja.” Jawab Ji Ho.


Sebelum ibunya pergi, Ji Ho menunjukkan ‘rapornya’ pada sang ibu. Sang ibu terkejut melihat nilai2 Ji Ho yang meningkat. Hampir saja Ji Ho keceplosan, mengaku kalau dirinya sudah merekaya nilai2 itu. Tapi untungnya dia cepat sadar dan berkata kalau dia belajar dengan sangat giat.


Tuan Seo dan Nyonya Yang memenuhi undangan makan malam Seok Do dan Hae Ja. Saat makan malam, Seok Do minta Nyonya Yang berhenti menyulitkan Tuan Seo. Nyonya Yang pun bingung dengan maksud ucapan Seok Do. Tuan Seo menyuruh Seok Do diam, tapi Seok Do malah mengatakan alasan Tuan Seo mau berbisnis lagi. Nyonya Yang pun kaget. Ia bilang, suaminya tidak punya modal untuk mulai berbisnis.

“Aku tidak butuh uang untuk itu. Aku hanya mengurus ekspor dari sini. Seok Doo akan mengimpor barang dari Vietnam.” Jawab Tuan Seo.

“Karena kini Ji An sudah pergi, dia pasti mencemaskan anak-anaknya. Tae Soo mengatakannya saat bertemu denganku di Daejeon. Karena kini tidak ada Ji An, dia harus mulai berusaha keras.” Ucap Seok Doo.


“Seok Doo, hentikan omong kosongmu.” Pinta Tuan Seo.

“Ji An langsung pergi setelah dia mengetahuinya. Aku tahu ini sulit bagi kalian berdua.” Ucap Hae Ja.

“Tapi aku menyukainya. Wajahnya kini tampak hidup. Rasanya Seo Tae Soo muda telah kembali.” Jawab Tuan Seok Doo, membuat Nyonya Yang seketika terdiam.


CEO No yang baru tiba di kantor bersama Tuan Choi dan Do Kyung, langsung disambut oleh ribuan pegawainya.


Sementara, di rumah, Ji An yang baru dapat telepon dari Haesung yang menawarinya posisi sebagai pegawai, langsung memberitahu Seohyun. Tapi Seohyun malah menanggapinya dengan sinis. Seohyun bilang, Ji An hanya diterima sebagai pegawai biasa, bukan sebagai wakil presdir atau semacamnya.


Setelah mengatakan itu, Seohyun bergegas pergi. Dalam perjalanan ke sekolahnya, Seohyun langsung memasang tampang kesal. Melihat wajah kesal Seohyun, sopir Seohyun pun bergegas menurunkan kaca mobil.

“Kurasa nona membutuhkan udara segar.” Ucap sopir Seohyun.

“Aneh. Bagaimana kau bisa memahami perasaanku?” tanya Seohyun heran.


Bersambung ke part 2….

Seohyun ini iri-an banget orgnya… Sumpah, makin sebel ama dia… Ji An dapet ‘lebih’ dikit dari dia, langsung iri…

Itu CEO No sy pikir wataknya sama kayak Nyonya No, tapi ternyata dia gk keras2 banget.. Sukaak scene nya bareng Ji An, pas dia meluk Ji An, terus ngajak Ji An minum makgeolli sama nyuapin Ji An hongeo….

Gk kebayang gimana jadinya klo si kakek tahu Ji An bukan cucunya yg asli…

Soal Ji Soo… selalu dan selalu ngakak liat dia, apalagi klo udah berhadapan ama Mr. Sun nya… ni anak lucu banget…

Oh iya, ngomong2 soal Mr. Sun... jadi keinget ama noona nya… kek nya noona nya si Mr. Sun ini memang punya hubungan special ya sama boss nya Ji Soo…. Jgn2, boss nya Ji Soo dulunya mantan pacar atau mantan suaminya Woo Hee lagi nih… terus Woo Hee jadi takutan gitu sama org banyak jgn2 karena boss nya Ji Soo…

1 comment:

  1. Kerennn ������ ditunggu upnya kak ����

    ReplyDelete