Skip to main content

My Golden Life Ep 10 Part 2

Sebelumnya...


Di sekolah, Seohyun diprotes oleh temannya atas ketidakikutsertaan dirinya di acara sekolah. Seohyun menjawab singkat, kalau dirinya hanya enggan. Teman Seohyun memaksa Seohyun memberitahu alasannya.

“Aku harus memberitahumu? Itu tidak sopan.” Jawab Seohyun.

“Tidak sopan? Hei, kau yang tidak sopan. kau mengabaikan kami.” ucap temannya.

“Aku tidak mengabaikan kalian. Aku memang seperti itu.” jawab Seohyun.

“Kau hanya ingin memamerkan latar belakangmu. Kau mengabaikan pengumuman di ruang obrolan kita. Tapi kenapa mau mengadakan resital bersama kami? Kenapa menghadiri kelas di ruang musik bersama kami? Kenapa tidak bermain solo saja? Kau putri satu-satunya pemilik Perusahaan Haesung. Kini profesor berusaha menyenangkanmu. Kau juga ingin kami memperhatikanmu? Tapi kami akan membuat ruang obrolan baru tanpa dirimu. Saat kami berlatih untuk resital kelulusan dan saat menghadiri kelas musi kau harus menanyakannya secara langsung kepadaku.” Ucap temannya.

Seohyun mulai kesal, tapi ia berusaha menahan emosinya. Ia lantas mengaku kalau sebenarnya ia bukan tidak memeriksa ruang obrolan mereka, tapi ia sengaja mematikan notifikasinya.

“Ada seseorang yang memberitahuku. Kau tidak tahu? Bisa-bisanya kau menyebut dirimu perwakilan siswa.” Jawab Seohyun.


Teman Seohyun marah, ia mau menampar Seohyun tapi gak jadi karena Seohyun mengancam akan membuatnya dikeluarkan dari sekolah. Seohyun juga memperingatkan temannya, kalau ia bukanlah seseorang yang akan diam saja kalau dibully.


Saat sudah berada diluar kelas, teman Seohyun yang membenci Seohyun berniat menyiram Seohyun dengan air bekas pel. Sopir Seohyun tak tinggal diam. Ia dengan sigap melindungi Seohyun. Ia mendekap Seohyun dan menyembunyikan Seohyun dibalik jasnya. Seohyun terpana menatap sopirnya.


Ji An mengajak Do Kyung makan siang di sebuah pasar. Inilah dia rencana rahasia yang dimaksud Do Kyung dan Ji An. Do Kyung sudah berjanji akan mengabulkan satu permintaan Ji An, asalkan Ji An mau tutup mulut soal hutang mereka. Ji An pun mengajak Do Kyung makan siang di pasar.

Tapi sayangnya, Do Kyung gak mau makan meski sudah dibujuk2 Ji An kalau makanannya enak. Terpaksalah Ji An makan sendiri. Do Kyung melongo melihat cara Ji An makan. Do Kyung tambah melongo melihat Ji An menghabiskan dua porsi nasi hanya dalam waktu 12 menit.


Saat hendak menuju mobil, kalung Ji An dijambret seorang pria. Do Kyung dan Ji An pun langsung mengejar si penjambret dan berhasil mendapatkan kalung Ji An meski Do Kyung harus merasakan kelelahan karena gak pernah lari. Do Kyung juga tertawa bangga karena berhasil melumpuhkan si jambret yang nyaris menusuk Ji An.


Selamat dari penjambret bersenjata,  Do Kyung pun memarahi Ji An yang nekad mengambil kembali kalung itu. Tapi Ji An malah ngomel2 gara2 rantai kalungnya putus. Ji An kemudian menakuti Do Kyung. Ia pura2 panik sembari menatap ke arah Do Kyung. Do Kyung yang mikir si penjambret balik lagi, terkejut dan langsung menatap ke belakang. Saat itulah, Ji An mengagetkan Do Kyung dengan menepuk bahu Do Kyung.

Ji An tertawa melihat ekspresi kaget Do Kyung. Do Kyung awalnya marah, tapi kemudian ia senang menyadari Ji An yang sudah mulai memanggilnya kakak. Do Kyung lalu mengajak Ji An pergi.


Ji Tae dan teman2nya pergi minum. Sebenarnya mereka pergi minum untuk merayakan salah satu teman mereka yang akan menikah. Seorang teman Ji Tae yang tahu hubungan Ji Tae dan Soo A, bertanya, kenapa Ji Tae dan Soo A tidak menikah. Mereka pun terkejut saat Ji Tae bilang ia dan Soo A sudah putus.

“Kau tampak biasa saja. Kau bilang hanya akan putus jika perasaan salah satunya berubah. Siapa?” tanya temannya.

“Hanya aku yang menentang pernikahan. Soo A, dia harus menikah. Dia sebaya denganku.” Jawab Ji Tae.

“Lupakan harga dirimu dan kembalilah kepadanya.” Ucap temannya.

“Aku memahami situasimu dan pandanganmu akan masa depan, tapi sebelumnya kau tidak pernah begitu menyukai seseorang sampai memacarinya selama itu. Dapatkan dia kembali atau kamu akan menyesalinya.” Tambah temannya yang lain.

“Untuk apa? Agar kami bisa hidup di ruangan sempit? Kami bekerja beberapa tahun hanya untuk memiliki tempat tinggal. Jika punya anak, semuanya akan berhenti. Kita hanya bisa menyewa apartemen dengan dua kamar di Seoul.” Jawab Ji Tae.


Sementara itu, Soo A yang juga terluka karena hubungannya kandas dengan Ji Tae, mengubah gaya rambutnya.


Habis minum2, Ji Tae dan temannya pergi karaoke. Saat Ji Tae tengah asyik bernyanyi, satu temannya yang tahu soal kisah hidupnya, keceplosan mengatakan tentang bisnis ayah Ji Tae yang bangkrut padahal saat itu Ji Tae hampir masuk sekolah music.

Di saat teman2 Ji Tae sudah pada teler, Ji Tae terus bernyanyi. Namun tak lama, tangis Ji Tae keluar.

Soo A juga tak kuasa menahan kesedihannya.


Tuan Seo heran sendiri karena Ji Tae belum pulang. Ia terus menunggu Ji Tae di luar rumah. Tak lama, ia melihat Ji Tae yang baru turun dari taksi dipapah oleh supir taksi. Tuan Seo pun dengan susah payah memapah Ji Tae ke rumah.


Sampai di kamar, Ji Ho yang kaget melihat kakaknya mabuk, merasa kakaknya baru putus dari pacarnya. Tuan Seo pun refleks, teringat pertengkaran Ji Tae dan Soo A di tepi jalan. Tuan Seo lalu melarang Ji Ho memberitahu Ji Tae kalau ia yang membawa Ji Tae pulang.


Keesokan paginya, rekan2 Ji An di Haesung dulu lagi membahas pegawai baru yang akan masuk tim mereka. Salah satu rekan Ji An yakin, kalau pegawai baru itu adalah Ji An. Ha Jung tidak yakin itu Ji An, karena nomor ponsel Ji An sudah tidak aktif lagi.


Tak lama kemudian, Ji An datang dan Ha Jung langsung melongo menatap Ji An.

Comments

Popular posts from this blog

I Have a Lover Ep 50

Sebelumnya.... “Aku rasa aku jatuh cinta lagi padamu.” Ucap Jin Eon begitu Hae Gang menghampirinya. “Aku sudah tahu.” jawab Hae Gang. “Berikan tasmu.” Pinta Jin Eon. “Tidak mau, tas melambangkan harga diri seorang wanita.” Jawab Hae Gang. “Berikan padaku. Tas wanitaku melambangkan harga diriku.” ucap Jin Eon. Hae Gang pun tersenyum, lalu memberikan tas alias keranjangnya yang berisi peralatan mandi pada Jin Eon. Jin Eon kemudian menyuruh Hae Gang menggandeng lengannya. Hae Gang pun menggandeng lengan Jin Eon, dan selanjutnya keduanya beranjak pergi menuju sauna dengan senyum terkembang. “Kau akan memakai itu?” tanya Hae Gang saat melihat Jin Eon sedang memilih2 baju sauna. “Aku pernah memakainya dulu.” Jawab Jin Eon. “Tak bisa kubayangkan…” dan Hae Gang pun tersenyum geli, “… tapi entah bagaimana tampaknya akan lucu.” “Awas ya kalau kau jatuh cinta padaku.” Ucap Jin Eon.   Ajumma penjaga sauna kemudian memberitahu bahwa Jin Eon...

I Have a Lover Ep 29 Part 2

Sebelumnya... Seok sedang galau di kamar yang dulu ditempati Hae Gang. Tak lama kemudian, sang ayah datang. Seok mengaku bahwa mungkin dia harus keluar dari rumah untuk sementara waktu karena ia tidak bisa mengendalikan dirinya. “Berusaha melupakan dengan putus asa akan membuatmu bertambah putus asa. Tidak bisakah putus asamu berkurang sedikit?” tanya sang ayah. “Aku punya penyesalan. Aku menyesal dan itu membuatku gila. Aku seharusnya menikahinya saat kau menyuruhku tahun lalu. Maka dengan begitu, dia akan berada di sampingku selamanya. Setidaknya, aku bisa mengatakan padanya untuk tinggal, untuk memohon padanya untuk tinggal. Aku rasa aku tidak bisa melepaskannya. Aku rasa tidak bisa membiarkan itu terjadi. Aku rasa aku tidak akan pernah bisa melepaskannya.” Jawab Seok. “Hanya kau menahan seseorang, hanya karena kau menyukainya, itu hanya akan membuat tanganmu sakit.   Tanpa bisa merasakan kehangatan, kau akan berteriak kesakitan. Itu sebabnya cinta bertepuk sebelah ...

I Have a Lover Ep 17 Part 2

Sebelumnya <<< Hae Gang di rumah sakit, menunggui Moon Tae Joon yang sedang di operasi. Wajahnya tampak cemas. Tak lama kemudian, Jin Eon datang. Dua staf keamanan Jin Eon yang sudah duluan tiba di sana, langsung menemui Jin Eon begitu Jin Eon datang. "Bagaimana dengan Moon Tae Joon?" tanya Jin Eon. "Dia sedang di operasi." jawab salah satu staf keamanan Jin Eon. "Lalu Do Hae... ah, maksudku Nona Dokgo Yong Gi?" tanya Jin Eon. "Dia menunggu di depan ruang operasi." jawab staf keamanan itu lagi. "Kau sudah mendapatkan nomor platnya?" tanya Jin Eon. "Sudah." Staf keamanan Jin Eon pun memberikan nomor plat kendaraan yang menabrak Tae Joon pada Jin Eon. Jin Eon menatap nomor plat itu dengan wajah cemas. Ia lalu menyusul Hae Gang ke ruang operasi. Keluarga Moon Tae Joon menyalahkan Hae Gang atas kecelakaan yang menimpa Tae Joon. Kakak Tae Joon berkata, jika saja Tae Joon mendengarkannya untuk m...