Monday, October 16, 2017

My Golden Life Ep 10 Part 2

Sebelumnya...


Di sekolah, Seohyun diprotes oleh temannya atas ketidakikutsertaan dirinya di acara sekolah. Seohyun menjawab singkat, kalau dirinya hanya enggan. Teman Seohyun memaksa Seohyun memberitahu alasannya.

“Aku harus memberitahumu? Itu tidak sopan.” Jawab Seohyun.

“Tidak sopan? Hei, kau yang tidak sopan. kau mengabaikan kami.” ucap temannya.

“Aku tidak mengabaikan kalian. Aku memang seperti itu.” jawab Seohyun.

“Kau hanya ingin memamerkan latar belakangmu. Kau mengabaikan pengumuman di ruang obrolan kita. Tapi kenapa mau mengadakan resital bersama kami? Kenapa menghadiri kelas di ruang musik bersama kami? Kenapa tidak bermain solo saja? Kau putri satu-satunya pemilik Perusahaan Haesung. Kini profesor berusaha menyenangkanmu. Kau juga ingin kami memperhatikanmu? Tapi kami akan membuat ruang obrolan baru tanpa dirimu. Saat kami berlatih untuk resital kelulusan dan saat menghadiri kelas musi kau harus menanyakannya secara langsung kepadaku.” Ucap temannya.

Seohyun mulai kesal, tapi ia berusaha menahan emosinya. Ia lantas mengaku kalau sebenarnya ia bukan tidak memeriksa ruang obrolan mereka, tapi ia sengaja mematikan notifikasinya.

“Ada seseorang yang memberitahuku. Kau tidak tahu? Bisa-bisanya kau menyebut dirimu perwakilan siswa.” Jawab Seohyun.


Teman Seohyun marah, ia mau menampar Seohyun tapi gak jadi karena Seohyun mengancam akan membuatnya dikeluarkan dari sekolah. Seohyun juga memperingatkan temannya, kalau ia bukanlah seseorang yang akan diam saja kalau dibully.


Saat sudah berada diluar kelas, teman Seohyun yang membenci Seohyun berniat menyiram Seohyun dengan air bekas pel. Sopir Seohyun tak tinggal diam. Ia dengan sigap melindungi Seohyun. Ia mendekap Seohyun dan menyembunyikan Seohyun dibalik jasnya. Seohyun terpana menatap sopirnya.


Ji An mengajak Do Kyung makan siang di sebuah pasar. Inilah dia rencana rahasia yang dimaksud Do Kyung dan Ji An. Do Kyung sudah berjanji akan mengabulkan satu permintaan Ji An, asalkan Ji An mau tutup mulut soal hutang mereka. Ji An pun mengajak Do Kyung makan siang di pasar.

Tapi sayangnya, Do Kyung gak mau makan meski sudah dibujuk2 Ji An kalau makanannya enak. Terpaksalah Ji An makan sendiri. Do Kyung melongo melihat cara Ji An makan. Do Kyung tambah melongo melihat Ji An menghabiskan dua porsi nasi hanya dalam waktu 12 menit.


Saat hendak menuju mobil, kalung Ji An dijambret seorang pria. Do Kyung dan Ji An pun langsung mengejar si penjambret dan berhasil mendapatkan kalung Ji An meski Do Kyung harus merasakan kelelahan karena gak pernah lari. Do Kyung juga tertawa bangga karena berhasil melumpuhkan si jambret yang nyaris menusuk Ji An.


Selamat dari penjambret bersenjata,  Do Kyung pun memarahi Ji An yang nekad mengambil kembali kalung itu. Tapi Ji An malah ngomel2 gara2 rantai kalungnya putus. Ji An kemudian menakuti Do Kyung. Ia pura2 panik sembari menatap ke arah Do Kyung. Do Kyung yang mikir si penjambret balik lagi, terkejut dan langsung menatap ke belakang. Saat itulah, Ji An mengagetkan Do Kyung dengan menepuk bahu Do Kyung.

Ji An tertawa melihat ekspresi kaget Do Kyung. Do Kyung awalnya marah, tapi kemudian ia senang menyadari Ji An yang sudah mulai memanggilnya kakak. Do Kyung lalu mengajak Ji An pergi.


Ji Tae dan teman2nya pergi minum. Sebenarnya mereka pergi minum untuk merayakan salah satu teman mereka yang akan menikah. Seorang teman Ji Tae yang tahu hubungan Ji Tae dan Soo A, bertanya, kenapa Ji Tae dan Soo A tidak menikah. Mereka pun terkejut saat Ji Tae bilang ia dan Soo A sudah putus.

“Kau tampak biasa saja. Kau bilang hanya akan putus jika perasaan salah satunya berubah. Siapa?” tanya temannya.

“Hanya aku yang menentang pernikahan. Soo A, dia harus menikah. Dia sebaya denganku.” Jawab Ji Tae.

“Lupakan harga dirimu dan kembalilah kepadanya.” Ucap temannya.

“Aku memahami situasimu dan pandanganmu akan masa depan, tapi sebelumnya kau tidak pernah begitu menyukai seseorang sampai memacarinya selama itu. Dapatkan dia kembali atau kamu akan menyesalinya.” Tambah temannya yang lain.

“Untuk apa? Agar kami bisa hidup di ruangan sempit? Kami bekerja beberapa tahun hanya untuk memiliki tempat tinggal. Jika punya anak, semuanya akan berhenti. Kita hanya bisa menyewa apartemen dengan dua kamar di Seoul.” Jawab Ji Tae.


Sementara itu, Soo A yang juga terluka karena hubungannya kandas dengan Ji Tae, mengubah gaya rambutnya.


Habis minum2, Ji Tae dan temannya pergi karaoke. Saat Ji Tae tengah asyik bernyanyi, satu temannya yang tahu soal kisah hidupnya, keceplosan mengatakan tentang bisnis ayah Ji Tae yang bangkrut padahal saat itu Ji Tae hampir masuk sekolah music.

Di saat teman2 Ji Tae sudah pada teler, Ji Tae terus bernyanyi. Namun tak lama, tangis Ji Tae keluar.

Soo A juga tak kuasa menahan kesedihannya.


Tuan Seo heran sendiri karena Ji Tae belum pulang. Ia terus menunggu Ji Tae di luar rumah. Tak lama, ia melihat Ji Tae yang baru turun dari taksi dipapah oleh supir taksi. Tuan Seo pun dengan susah payah memapah Ji Tae ke rumah.


Sampai di kamar, Ji Ho yang kaget melihat kakaknya mabuk, merasa kakaknya baru putus dari pacarnya. Tuan Seo pun refleks, teringat pertengkaran Ji Tae dan Soo A di tepi jalan. Tuan Seo lalu melarang Ji Ho memberitahu Ji Tae kalau ia yang membawa Ji Tae pulang.


Keesokan paginya, rekan2 Ji An di Haesung dulu lagi membahas pegawai baru yang akan masuk tim mereka. Salah satu rekan Ji An yakin, kalau pegawai baru itu adalah Ji An. Ha Jung tidak yakin itu Ji An, karena nomor ponsel Ji An sudah tidak aktif lagi.


Tak lama kemudian, Ji An datang dan Ha Jung langsung melongo menatap Ji An.

No comments:

Post a Comment