Monday, October 2, 2017

My Golden Life Ep 7 Part 1

Sebelumnya...


Do Kyung langsung marah begitu melihat Ji An ada di rumahnya. Ia yakin, Ji An melakukan itu untuk merusak reputasinya.

“Kau mengambil gambar dirimu saat sedang memberiku uang!” tuduh Do Kyung.


Ji An sendiri kaget tahu Do Kyung salah satu penghuni rumah besar yang dimasukinya. Tak lama kemudian, Seketaris Min datang menengahi mereka. Terkejut lah Do Kyung menyadari gadis di hadapannya adalah Eun Seok.


Tuan Choi akhirnya keluar. Do Kyung langsung berbisik pada Seketaris Min, meminta Seketaris Min merahasiakan hal itu dari orang tuanya. Tuan Choi hendak memeluk Ji An, namun tidak jadi dan akhirnya hanya menepuk2 bahu Ji An saja. Tuan Choi mengajak Ji An masuk.


Namun langkah Ji An terhenti saat mereka hampir tiba di depan pintu. Tuan Choi yakin Ji An mengingat sesuatu, karena mereka sudah menghuni rumah itu sebelum Ji An lahir.

“Kami membiarkan kamarmu apa adanya, tapi ibumu baru merenovasinya.” Ucap Tuan Choi.


Sementara itu, Do Kyung sendiri masih tidak menyangka gadis yang sering cekcok dengannya adalah Eun Seok.


Setibanya di dalam, Nyonya No langsung memberikan pelukan hangatnya pada Ji An. Ji An sendiri nampak kaku. Tuan Choi lantas mengajak mereka duduk. Tuan Choi menyuruh Do Kyung dan Seohyun memperkenalkan diri. Namun semua langsung menatap Do Kyung, karena Do Kyung bicara begitu formal pada Ji An. Do Kyung pun buru2 mengganti bahasanya. Tapi tetap saja, ia kebingungan saat bicara dengan Ji An.

“Kenapa kau memperlakukannya seperti orang asing? Seo Hyun mungkin tidak mengingatnya, tapi kau pasti ingat.” Ucap Nyonya No.

“Aku hampir tidak mengingatnya, Bu. Itu sudah lama sekali. Semua kenangan itu tidak cocok dengannya.” Jawab Do Kyung.


Tuan Choi kemudian bertanya, apa Ji An inget sama kakeknya?

“Kudengar kakek menghabiskan sebagian besar waktunya di Hawaii karena penyakit paru-parunya.” Jawab Ji An.

“Begitukah rumornya?” tanya Nyonya No kaget.

“Itu memang benar.” jawab Seohyun.


“Paru-parunya hanya tidak berfungsi dengan baik. Jika publik mengetahuinya, bisnis kita bisa terpengaruh. Siapa yang menyebarkan rumor itu?” ucap Nyonya No kesal.


Tuan Choi yang mendengar kata2 istrinya, hanya bisa menghela napas. Untuk mencairkan suasana yang mulai terasa tegang karena topic soal CEO No, Seohyun buru2 menyerahkan hadiahnya.

“Kupikir Kakak akan merasa kamarnya kurang familier, jadi, kubelikan lilin aromaterapi dan pengharum untuk menenangkan. Aku tidak tahu mana yang akan Kakak suka, jadi, kubelikan semua yang sekiranya cocok.” Ucap Seohyun.

“Do Kyung juga pasti membelikan sesuatu?” tanya Nyonya No.


Do Kyung pun masih dengan wajah kakunya berkata kalau tadi ia membeli kue. Tapi Seketaris Min buru2 datang dan mengatakan kalau Do Kyung membelikan sebuket bunga. Seketaris Min meletakkan bunga itu di meja. Nyonya No tersenyum melihat kotak yang terselip di buket bunga itu.

“Seleramu memang bagus.” Puji Nyonya No.


Seohyun terkejut melihat hadiah kalung yang dibelikan Do Kyung untuk Ji An. Seohyun sebenarnya juga menginginkan kalung itu tapi gak berhasil mendapatkan kalung itu karena kalung itu edisi terbatas. Seohyun bingung sendiri kakaknya bisa mendapatkan kalung itu.


Nyonya No menyuruh Do Kyung memakaikan kalung itu ke Ji An. Sontak, Do Kyung dan Ji An sama2 menolak. Do Kyung beralasan, kalau ia tidak mau membuat Eun Seok merasa gak nyaman.


Nyonya No lalu menagih hadiah Tuan Choi. Tuan Choi pun langsung mengeluarkan hadiahnya. Ya, pena itu. Sebuah pena yang ada ukiran nama Eun Seok nya. Tuan Choi berkata, tadinya ia mau memberikan hadiah itu saat Eun Seok masuk kuliah. Tuan Choi bilang Do Kyung dan Seohyun juga memiliki pena yang sama.

“Selamat atas kembalinya nama aslimu, putri ayah.” ucap Tuan Choi.

“Terima kasih. Akan kupakai dengan baik.” Jawab Ji An.


Nyonya No mengantarkan Ji An ke kamar. Nyonya No bilang, karena ia tidak tahu selera Ji An, jadi ia mendekorasi kamar Ji An sesuai dengan seleranya.


Ji An langsung berterima kasih saat pelayan selesai meletakkan barangnya. Mendengar itu, Nyonya No pun menegur Ji An. Ia melarang Ji An berterima kasih seperti itu pada pelayan karena pelayan hanya melakukan tugas mereka. Nyonya No bilang, Ji An boleh berterima kasih tapi saat mereka membantu Ji An.
Nyonya No lalu menyuruh Ji An istirahat. Ia akan memanggil Ji An kalau makan siang sudah siap.


Sepeninggalan Nyonya No, Ji An frustasi karena Do Kyung adalah kakaknya.


Do Kyung yang berdiri di halaman rumahnya, juga tidak mengerti kenapa gadis yang sering cekcok dengannya bisa menjadi adiknya. Tak lama kemudian, Seketaris Min menghampiri Do Kyung. Do Kyung mengira Seketaris Min datang untuk memberitahunya kalau makan siang sudah siap.

“Aku hanya khawatir. Bagaimana anda bisa mengenal Nona Choi Eun Seok?” tanya Seketaris Min.


Do Kyung pun bingung menjelaskannya. Tapi saat Seketaris Min memintanya memperlakukan Ji An dengan baik, dia langsung sewot. Seketaris Min menjelaskan, kalau ia tidak pernah melihat Do Kyung semarah itu.

“Seketaris Min! Kau tahu, kau berbicara dengan siapa! Meskipun dia musuh yang ingin kusingkirkan, itu sebelum aku mengetahui bahwa dia adalah adikku. Memangnya salahku jika hidupnya menderita? Tidak, kan? Itu karena penculiknya dan ibuku. Eun Seok hanyalah korban.” Sewot Do Kyung.

“Maafkan aku. Kekhawatiranku tidak beralasan.” Jawab Seketaris Min.

“Itu cenderung terjadi saat orang-orang mulai menua. Mereka mulai mengkhawatirkan hal-hal tidak berguna. Aku mengerti alasanmu merasa khawatir.” Ucap Do Kyung.

Setelah itu, Do Kyung mengatakan bahwa orang tuanya tidak perlu tahu masalahnya dengan Eun Seok.

“Aku mengerti. Aku tidak melihat apa pun.” Jawab Seketaris Min, lalu beranjak pergi.

Tapi pas berjalan menjauhi Do Kyung, Seketaris Min mengumpat Do Kyung dengan suara pelan. Seketaris Min kesal dibilang tua oleh Do Kyung yang ia urus sejak kecil.

Baru kali ini sy tertawa liat Seketaris Min…

Ternyata yg ngebesarin Do Kyung itu Seketaris Min toh… artinya Seketaris Min ini baik dong…. Sosok Seketaris Min ini ingetin sy sama seketarisnya Kim Tae Hee di Yong Pal…


Sepeninggalan Seketaris Min, si Do Kyung ngoceh sendiri.

“Benar. Aku benar. Ini bukan salahnya Eun Seok. Apa salah dia jika tumbuh menjadi tidak patuh, kasar, dan angkuh? Bukan. Tentu saja bukan. Egonya besar. Jika dia dibesarkan di keluarga kami, dia pasti akan menjadi agak arogan.” Ucap Do Kyung.

Do Kyung lalu teringat, saat melihat Hyuk menjemput Ji An di malam itu. Dari sini, Do Kyung mengambil kesimpulan kalau sikap kasar Ji An itu karena Hyuk.

“Baiklah. Aku, Choi Do Kyung, akan menerimamu sebagai adikku.” Ucap Do Kyung lagi.


Do Kyung akhirnya nyamperin Ji An di kamar. Ji An sendiri masih canggung pada Do Kyung. Do Kyung mengajak Ji An baikan, juga memperkenalkan dirinya sebagai kakak Ji An. Tapi Ji An malah mengira Do Kyung sedang meledeknya.

“Meledek? Kenapa? Kau adikku yang kembali setelah 25 tahun hilang. Faktanya adalah kau Choi Eun Seok, adikku yang menghilang. Aku kakakmu, Choi Do Kyung. Bisakah kita mengubah fakta itu? Tidak. Karena tidak bisa, aku akan melupakan masa lalu dan menerima dirimu.” Jawab Do Kyung.

“Aku hanya agak terkejut sekarang. Aku tidak tahu harus bilang apa dalam situasi seperti ini.” ucap Ji An.
“Keluarkan ponselmu. Kau memblokir nomorku, kan? Langkah pertama kita harus membuka blokirannya.” Jawab Do Kyung.


Ji Tae merasa kalau mereka harus membawa sang ayah ke rumah sakit. Sang ibu pun meyakinkan kedua putranya itu kalau ayah mereka baik2 saja. Ji Ho penasaran, kenapa sang ayah tiba2 saja pulang. Ia bertanya2, apa sang ayah pulang untuk mengantarkan Ji An.

Ji Tae yakin bukan itu alasannya. Ji Tae berkata, ayah mereka pulang untuk mencegah Ji An pergi. Ji Tae heran, kenapa sang ayah berusaha mencegah kepergian Ji An. Nyonya Yang pun berkata, ada hal yang tidak akan bisa mereka pahami.


Tak lama kemudian, Ji Soo pulang dan langsung mencari ayahnya. Ji Ho pun mengaku kalau ia memberitahu Ji Soo soal kondisi ayah. Nyonya Yang marah Ji Ho memberitahu Ji Soo dan bergegas menyusul Ji Soo ke kamarnya.


Ji Soo menggenggam erat tangan ayahnya yang terbaring lemah. Ji Soo berjanji, akan mengurus ayahnya sama seperti Ji An mengurus ayah. Ji Soo bilang, itu karena dia putri kandung ayahnya. Nyonya Yang lantas mengajak Ji Soo keluar. Sepeninggalan Ji Soo, Tuan Seo membuka matanya.


“Ayah sungguh tidur? Dia tidak sakit? Kenapa dia pingsan di jalanan? Karena anemia?” tanya Ji Soo.

Namun, Nyonya Yang tidak menjawab dan menyuruh Ji Tae membawa Ji Soo pergi.


Ji Soo menangis dan bersumpah akan membunuh Ji An. Ji Tae membela Ji An, ia berkata itu karena mobil Ji An melaju begitu cepat.

“Seharusnya dia tidak pergi sejak awal. Aku bahkan bilang kepadanya tidak mau menjadi adiknya.” jawab Ji Soo.
Ji Tae pun menghentikan langkah Ji Soo.

“Kau tidak bisa memahami Ji An?” tanya Ji Tae.

‘Tidak. Aku tidak bisa memahaminya.” Jawab Ji Soo.

“Kenapa? Dia akan memberimu lebih banyak uang jajan sekarang.” ucap Ji Tae.

“Oppa!” protes Ji Soo.


Dan… ponsel Ji Tae berdering. Telepon dari Soo A. Ji Tae pun mengaku sedang sibuk dan buru2 mematikan panggilan Soo A. Tanpa Ji Tae sadari, Soo A sudah berada di dekat rumahnya. Soo A yang baru turun dari bis, menatap Ji Tae yang terlihat dekat dengan Ji Soo dengan tatapan kecewa.

“Kau luar biasa, Seo Ji Tae.” Ucap Soo A, lalu berbalik arah dengan wajah kecewa.

Sepertinya Soo A mikir Ji Tae selingkuh nih…. Feeling sy mereka akan putus sebentar lagi…


Tuan Seo yang masih berbaring di kasurnya, teringat kata2 Ji An yang ingin pergi. Tuan Seo juga ingat kata2 Ji Tae tadi, kalau ia seharusnya tidak mencegah kepergian Ji An jika memang menyayangi Ji An. Rupanya, sedari tadi Tuan Seo mendengarkan percakapan istri dan kedua putranya.


Tak lama kemudian, Tuan Seo bangun dan beranjak ke lemari untuk mengambil kaus kakinya. Saat itulah, ia menemukan surat kontrak franchise dari Haesung Group yang sudah disetujui istrinya. Tuan Seo pun marah.


Ji An yang hendak makan siang bersama keluarga barunya, kebingungan melihat peralatan makan di depannya. Nyonya No pun mengaku sudah menyiapkan sesuatu yang special karena itu makan malam pertama mereka setelah 25 tahun.

Melihat Ji An yang kebingungan, Do Kyung pun menenangkan Ji An dengan berkata kalau mereka tidak melakukan itu setiap hari jadi Ji An tak perlu cemas.

Tuan Choi, Nyonya No, Do Kyung dan Seohyun pun mulai membuka serbet dan meletakkan serbet itu di pangkuan mereka. Ji An yang kebingungan, nampak mengikuti yang dilakukan ‘keluarga kandungnya’.


“Baiklah. Haruskah kita memulai makan malam penyambutan untuk Eun Seok? Ayo bersulang untuk Eun Seok.” Ucap Tuan Choi.

Tapi Ji An malah mengangkat gelas yang berisi air mineral. Seohyun pun langsung berbisik, menyuruh Ji An mengangkat gelas yang satunya.

Tapi Ji An lagi2 membuat kesalahan. Ia bangkit dari duduknya, mau mendentingkan gelas minumannya ke gelas Tuan Choi saat Tuan Choi mengucapkan selamat datang. Tuan Choi dan Nyonya No pun tersenyum geli melihatnya.

“Koki kami pernah bekerja di Blue House. Dia sangat andal.” Ucap Nyonya No.


Sementara Ji An, sibuk bertanya2 sendiri dalam hatinya bahwa ia harus memulai makan dengan pisau yang paling luar.

“Dagingnya agak alot hari ini. Kurasa Eun Seok tidak akan suka jika dimasak matang-matang.” Ucap Tuan Choi.

“Tidak, ini amat lezat.” Jawab Ji An dengan mulut yang penuh potongan daging steak.


“Kakak bisa menjawab perlahan saat sedang makan. Jangan berbicara dengan mulut penuh.” Ucap Seohyun.

“Ajari dia pelan-pelan. Ini hari pertamanya.” Tegur Tuan Choi.

“Ibu menyuruhku membantunya, jadi, aku hanya bersikap baik.” Jawab Seohyun.


“Kau harus mencoba akur dengannya lebih dahulu. Jika ada yang ingin kau ketahui, tanyakan saja kepadanya.” Ucap Tuan Choi.

“Aku belum mengetahui apa pun tentang dirinya. Sekolah, jurusan, dan masa lalunya.” Jawab Seohyun dengan wajah agak kecewa.

“Tidak di sini. Kalian tidak memberi kami informasi apa pun tentangnya.” Ucap Do Kyung.

Ji An pun langsung batuk mendengar ucapan Do Kyung.


“Kenapa kalian membutuhkannya? Tentang kehidupannya selama 25 tahun belakangan. Tidak ada alasan bagi kalian untuk mengetahuinya. Ini baru permulaan.” Jawab Nyonya No.

“Ibu akan melakukan apa dengan Eun Seok sekarang?” tanya Do Kyung.

“Kau akan mengetahuinya saat kakekmu kembali. Pastikan tidak ada berita tentangnya sampai saat itu.” jawab Nyonya No.

“Kapan kakek akan datang?” tanya Do Kyung.

“Dia akan datang saat Chuseok untuk menemui Eun Seok.” Jawab Tuan Choi.

Ji An yang gugup mendengar soal kakeknya, tanpa sengaja menjatuhkan sendoknya ke lantai. Ji An mau mengambil sendoknya, tapi dilarang Do Kyung. Do Kyung kemudian bangkit dari duduknya dan berdiri di belakang Ji An. Ia menyuruh Ji An berdiri.


Rupanya Do Kyung mau memberikan hadiah kalungnya pada Ji An. Ji An bilang, Do Kyung tidak perlu memberinya kalung. Do Kyung pun berkata, ia bukan mau memberi Ji An kalung tapi mau memakaikan kalung itu.

Ji An tidak bisa menolak Do Kyung yang mau memakaikan kalung itu. Nyonya No dan Tuan Choi tersenyum geli melihat ekspresi Ji An. Sementara Seohyun nampak iri menatap kalung Ji An.


Nyonya No lantas menyuruh Seketaris Min menghubungi salon kecantikan. Nyonya No berniat mengubah penampilan Ji An. Tuan Choi minta Nyonya No mengajari Ji An pelan2, tapi Nyonya No tidak setuju. Menurut Nyonya No, justru karena itu hari pertama Ji An tinggal di rumah mereka. Nyonya No tidak ingin Ji An merasa seperti orang asing di rumah sendiri.


Nyonya Yang bertemu Hae Ja di pasar. Hae Ja protes karena Nyonya Yang tidak memberitahunya soal kepergian Ji An. Nyonya Yang beralasan, semuanya terjadi begitu saja. Hae Ja lantas terkejut melihat Nyonya Yang membeli kerang abalone. Ia sudah bisa menebak, kerang itu untuk siapa.

“Sudah kuduga. Kasihan Tae Soo. Dia amat menyayangi Ji An.” Ucap Hae Ja.

Nyonya Yang lantas mengganti topic pembicaraan dengan mengomentari belanjaan Hae Ja yang begitu banyak. Hae Ja bilang, itu karena suaminya akan segera pulang dari Vietnam. Nyonya Yang terkejut mendengarnya.


Setibanya di rumah, Nyonya Yang heran karena tidak bisa menemukan suaminya. Nyonya Yang mengecek ke kamar, tapi yang ia temukan hanyalah surat kontrak franchise yang sudah terbuka. Nyonya Yang pun cemas. Ia takut suaminya itu pingsan lagi di jalan. Namun sayangnya, ponsel Tuan Seo mati.


Tuan Seo sendiri berjalan menyusuri stasiun kereta. Tiba2, seorang bocah laki2 memanggilnya kakek. Bocah itu memberitahu alas kaki yang dipakai Tuan Seo tidak lah sama. Tuan Seo pun langsung melirik kakinya. Benar saja, kaki kanannya mengenakan sandal rumah sementara kaki kirinya mengenakan sepatu. Tuan Seo pun langsung kesal pada dirinya.


Tiba2 saja, Tuan Seo merasa ingin muntah. Tuan Seo bergegas ke toilet. Setelah muntah, Tuan Seo pun menangis pilu.


Ji An sendiri sedang melakukan perawatan kecantikan di salon. Seketaris Min menemani Ji An yang sedang di make over.


Hyuk nampak stress memikirkan darimana Ji An bisa mendapatkan uang 20.000 dollar itu. Ia membahas itu dengan sunbae nya. Menurut sunbae nya, Ji An mendapatkan pinjaman itu dengan menjaminkan dirinya sendiri. Mendengar itu, Hyuk pun berencana meminjamkan tabungannya untuk Ji An, padahal sunbae nya udah melarang karena sunbae nya tahu tabungan itu mau Hyuk gunakan untuk memperbesar bisnisnya.


Toko rotinya Nam Goo kedatangan seorang reseller. Tapi Nam Goo menolak rotinya dijual di toko lain. Si reseller pun membujuk Nam Goo dengan mengatakan akan memesan 50 roti dalam sehari, namun Nam Goo tetap menolak. Akhirnya, reseller itu pergi dengan wajah kesal.


“Tuan Kang, kenapa Anda tidak mau meneken kontrak dengannya?” tanya Ji Soo penasaran.

“Karena aku tidak tertarik menghasilkan uang.” Jawab Nam Goo.

“Tapi kau sedang menghasilkan uang. Maksudku, orang-orang mengantre untuk membeli rotimu.” Ucap Ji Soo.


Nam Goo pun menyuruh Ji Soo pulang karena roti mereka habis lebih awal daripada biasanya. Ji Soo lantas kembali ke mejanya. Ia membuka celemeknya dan mengambil satu bungkus roti Nam Goo. Ji Soo bilang, ia sudah membayar roti itu dan mengaku akan memberikan roti itu untuk ayahnya. Nam Goo pun tersentuh mendengarnya.


Ji Soo mondar-mandir di depan kafe nya Woo Hee. Ia sibuk mikirin cara mendekati Mr. Sun nya. Ji Soo yakin, hubungannya dengan si Mr. Sun bisa berakhir bahagia tanpa bantuan Ji An. Setelah mondar-mandir cukup lama, akhirnya Ji Soo mendapatkan ide mendekati Mr. Sun nya. Lewat roti!


Ji Tae yang menunggu Soo A di depan asrama Soo A, heran sendiri karena Soo A mengabaikan telepon dan pesannya.

Sementara di kamarnya, Soo A akhirnya setuju ikut kencan buta setelah dipaksa oleh temannya.

Gedek sama Soo A… mustinya dia dengerin dulu lah penjelasan Ji Tae… ini malah main ikut kencan buta segala… dugaan sy bener nih… mereka bakal putus…


Seohyun turun ke bawah karena dipanggil ibunya. Wajah Seohyun pun langsung berubah kecewa karena sang ibu memanggilnya hanya untuk menyuruhnya menyapa Ji An yang baru pulang karena Ji An merasa gugup.


Seohyun terkejut melihat penampilan baru Ji An. Begitu pun dengan Tuan Choi dan Nyonya No. Tapi Nyonya No bilang, Ji An harus dipoles sedikit lagi agar terlihat sempurna.

Ji An sendiri merasa tidak nyaman dengan penampilannya. Nyonya No pun berkata, karena Ji An sudah menjadi bagian dari keluarganya, jadi Ji An harus terlihat sempurna.

Tak lama kemudian, Do Kyung dan ikut2an memuji penampilan baru Ji An. Ji An pun semakin merasa tidak nyaman.


Setibanya di kamar, Ji An menatap wajahnya yang penuh riasan di cermin. Ji An pun makin tidak nyaman.


Tiba2 terdengar ketukan pintu. Ji An buru2 membuka pintu. Begitu pintu dibuka, Ji An mendapati Tuan Choi berdiri di depan pintu. Setelah dipersalahkan Ji An, Tuan Choi masuk ke kamar Ji An. Tuan Choi datang untuk memberikan Ji An uang jajan. Ji An jelas menolak. Namun Tuan Choi memaksa. Tuan Choi mengaku sudah menunggu momen itu selama 25 tahun. Ji An pun terpaksa menerima uang jajan dari Tuan Choi.


Tuan Seo yang sudah balik ke tempat kerjanya, dapet telepon dari seorang pria bernama Jang Seok Doo. Sepertinya pria itu adalah teman lama Tuan Choi.


Ji Tae yang baru pulang heran tidak melihat ayahnya di rumah. Ji Soo bilang, ayah mereka sudah kembali Daejeon. Ji Tae bingung kenapa sang ayah kembali Daejeon begitu cepat. Ji Soo berkata, sang ayah tidak betah berlama2 di rumah, karena takut teringat pada Ji An.


Ji Tae kemudian memberikan minuman ginseng yang dibawanya pada ibu. Sang ibu pun berkata, Ji Tae seharusnya tidak perlu repot2 membelikannya minuman ginseng. Ji Tae beralasan, karena sebentar lagi Chuseok.

“Tapi apa ibu baik-baik saja? Maksudku, membiarkan Ji An pergi begitu saja, pasti ibu merasa lebih kesal daripada kami.” ucap Ji Tae.

“Aku baik2 saja. Masa depan Ji An akan lebih baik disana. Kalian semua sudah cukup dewasa untuk pindah.” Jawab Nyonya Yang.


Ji Soo pun berniat menyusul sang ayah ke Daejeon untuk memberikan minuman ginseng itu. Tapi Nyonya Yang langsung meneriakinya, melarangnya pergi ke menyusul ayah. Ji Soo terkejut, sekaligus heran. Nyonya Yang pun langsung menambahkan kalimatnya dengan berkata, Tuan Seo akan pulang saat Chuseok tiba. Ji Soo pun menurut, lalu membukakan satu bungkus minuman ginseng itu untuk ibu.


Ji An meletakkan pahatan replica ayah, ibu, kakak serta kedua adiknya di meja. Saat sedang memandangi kelima boneka pahat itu, Seohyun datang ke kamarnya. Seohyun memberitahu Ji An, untuk ikut sarapan jam tujuh.

Ji An pun terkejut, jam tujuh?

“Ibu dan ayah makan pada jam segitu. Do Kyung Oppa juga. Aku bergabung di hari tertentu jika mereka memintaku. Biasanya jam makanku menyesuaikan jadwal latihanku.” Ucap Seohyun.

“Terima kasih sudah memberitahuku.” Jawab Ji An.

“Seketaris Min yang menyuruhku.” Ucap Seohyun.

“Kalau begitu, kakak harus berterima kasih kepada Seketaris Min karena telah memberi kakak alasan untuk berbicara dengan adik kakak yang belum pernah kakak temui selama 25 tahun.” Jawab Ji An.


“Kakak bicara begitu luwes padaku, tapi kenapa tidak pada Do Kyung Oppa? Dia berusaha keras untuk bersikap pada kakak. Kakak takut pada pria? Dia bahkan membelikan kakak kalung edisi terbatas. Aku juga sudah memesan tapi tidak mendapatkannya.” Ucap Seohyun.


Dan Ji An pun langsung memberikan kalung itu pada Seohyun. Seohyun awalnya senang, tapi begitu teringat itu hadiah dari Do Kyung untuk Ji An, ia terpaksa menolaknya. Ji An pun berkata, bahwa ia tidak suka dengan kalungnya agar Seohyun mau menerima kalung itu.


Malam semakin larut, namun Ji An malah tidak bisa tidur di kamar barunya yang luas. Ji An akhirnya beranjak dari kasurnya dan menatap keluar jendela dengan tatapan lirih. Hingga akhirnya, Ji An bisa tertidur dan paginya, ia terbangun karena terkejut dengan bunyi alarm ponselnya.


Ji An keluar dari kamar mandi. Bersamaan dengan itu, Do Kyung keluar pula dari kamarnya. Do Kyung menyapa Ji An dengan hangat. Tapi Ji An yang masih merasa canggung, hanya menjawab sapaan Do Kyung sekenanya. Do Kyung heran sendiri Ji An masih tidak mau memanggilnya Oppa.


Dan ketika sarapan, Ji An mengeluhkan rasa sup, ikan dan sayurannya yang terasa hambar. Tapi saat ditanya Nyonya No, Ji An mengaku menyukai sarapannya. Nyonya No pun berkata itu sup jamur matsusake. Nyonya No kemudian menyuruh Seohyun menjelaskannya pada Ji An.


“Jamur matsutake mengandung vitamin B1, B2 dan ergosterol yang baik untuk tubuh kita. Ergosterol adalah steroid yang ditemukan pada ergot, ragi, dan jamur. Saat terkena sinar matahari, itu akan berubah menjadi vitamin D2. Disebut juga dengan provitamin D.” ucap Seohyun.

Ketika Ji An bertanya, apa itu ergot, Seohyun pun menjawab dengan suara pelan sambil melirik sang ibu bahwa dia tidak tahu.


Agar Ji An tidak bertanya2 lagi, Nyonya No pun mengakhiri pembicaraan itu dengan memberikan Ji An uang untuk shopping. Nyonya No menyuruh Ji An menghabiskan uang itu. Ji An pun terkejut mengetahui uang jajan yang diberikan Nyonya No sebanyak 30.000 dollar.


Do Kyung dan Seohyun tersenyum geli melihat ekspresi Ji An. Sementara Tuan Choi, dia diam saja sambil menatap lirih Ji An.


Dalam perjalanan menuju kantor, Tuan Choi berkata misi yang diberikan Nyonya No pada Ji An terlalu sulit. Nyonya No dengan angkuhnya berkata, 30.000 dollar bahkan tidak cukup untuk membeli jam bagus.

Tuan Choi pun tersenyum dan berkata, Ji An membuatnya teringat saat pertama kali ia menginjakkan kaki di rumah Nyonya No.


Misi menghabiskan cek 30.000 dollar pun dimulai, tapi Ji An kebingungan bagaimana cara menghabiskannya. Akhirnya, setelah membeli beberapa barang, ia memutuskan membelikan semua anggota keluarga lamanya beberapa barang juga.


Sementara Ji Soo juga lagi melancarkan misinya mendekati Hyuk. Ia pura2 membagikan sampel roti gratis dan meminta Woo Hee mencicipinya. Awalnya Woo Hee menolak karena takut badannya membengkak. Tapi saat Ji Soo bilang ada roti labu manis, Woo Hee pun mau mencicipinya.

Saat mencicipi roti labu manis yang Ji Soo bawa, Woo Hee tertegun. Tapi pada Ji Soo, ia berkata roti nya sangat lezat. Ji Soo pun menawarkan rotinya untuk ditaruh di kafenya Woo Hee.


Do Kyung yang lagi bicara sama Gi Jae di telepon soal ‘gadis 20.000 dollar’ terpaksa menyudahi pembicaraannya karena sang ibu menelpon. Sang ibu menyuruh Do Kyung membantu Ji An yang lagi berbelanja di department store.

Do Kyung awalnya mengeluh, tapi ia teringat kalau dirinya adalah kakak Ji An. Akhirnya Do Kyung pun terpaksa menyusul Ji An.


Ji Tae dan temannya dapat tugas ke luar kota. Di sela2 pekerjaannya, Ji Tae menghubungi Soo A. Ji Tae meminta penjelasan, kenapa Soo A mengabaikan telepon dan pesannya. Ji Tae bahkan mengira Soo A berselingkuh.

“Kemarin aku tidur seharian. Kami sedang sibuk dengan penyelidikan pajak.” Jawab Soo A.

Ji Tae lantas mengajak Soo A makan malam diluar besok. Tapi Soo A yang akan pergi kencan buta besok malam, menolak ajakan Ji Tae dengan alasan akan tugas keluar kota.

Soo A berbohong….. harusnya Soo A ini putusin aja Ji Tae kalau emang udah gak sanggup jalin hubungan tanpa kepastian bakal nikah apa gak… lah tapi ini dia malah bohong… ngaku keluar kota padahal mau ikut kencan buta…

Sy rasa alasan Ji Tae gak mau nikahin Soo A karena kondisi keluarganya yang miskin… dia takut gak akan bisa menghidupi anak dan istrinya…. Mana keluarganya juga banyak masalah kan… jadi kalau dia nikah sekarang, otomatis malah nambah masalah baru….

Dan… scene nya Tuan Seo selalu membuat air mata sy menetes….

No comments:

Post a Comment