Wednesday, November 1, 2017

My Golden Life Ep 15 Part 1

Sebelumnya...


Do Kyung tak percaya saat Ji An mengaku bahwa dia bukan adiknya. Tapi Ji An kekeuh, berkata dia bukan Choi Eun Seok. Ji An bilang, ada kemungkinan ibunya berbohong. Ji An mengaku belum memeriksanya tapi ia yakin kalau Ji Soo lah Eun Seok yang asli.

“Foto Choi Eun Seok, yang hilang 25 tahun lalu. Itu bukan fotoku. Itu foto Ji Soo.” Ucap Ji An.

“Kau mengaku bukan Eun Seok karena foto masa kecil?” tanya Do Kyung.

“Saat aku menanyai Seketaris Min, dia bilang telah melakukan tes DNA. Saat itu, aku memercayainya. Tapi tidak, ada yang salah. Waktu itu kau melihat luka di kakiku, bukan? Luka itu kudapatkan setelah ulang tahunku yang pertama. Tanyakan pada ibumu apakah Eun Seok punya bekas luka di kaki kanannya.” Jawab Ji An.

Ji An lalu menjelaskan alasannya muncul di ruang meeting, bukan karena takut mengacaukan rencana CEO No, tapi karena dia bukan Eun Seok, jadi ia tak bisa membiarkan CEO No mengatakan pada semua orang kalau dia Eun Seok.


Do Kyung pun marah, ia tak habis pikir Nyonya Yang tega menukar putri kandungnya sendiri. Ia kemudian mengatakan orang tua Ji An sudah gila. Ji An pun membela ayahnya. Ia tak rela ayahnya disalahkan dalam masalah ini.

Do Kyung menghela nafas. Ia kemudian berkata, akan menanyakan langsung pada ibunya. Setelah itu, Do Kyung pun meninggalkan Ji An begitu saja.


Sementara itu, Nyonya No yang sudah bersiap2 tidur, memuji aksi Ji An hari ini. Ia takjub, Ji An bisa menemukan saksi itu dalam waktu yang sangat singkat. Tuan Choi lantas naik ke tempat tidur. Nyonya No pun bertanya, apa Tuan Choi tidak mau menunggu Eun Seok pulang dulu. Tuan Choi berkata, sudah hampir jam satu.


Sikap Do Kyung ke Ji An berubah drastic. Ia yang tadinya hangat, jadi bersikap dingin pada Ji An. Ia bahkan menuduh Ji An bersekongkol untuk menipu keluarganya. Ji An pun membela dirinya. Ia mengklaim, kalau dirinya bersekongkol, ia tidak akan menghentikan CEO No mengatakan pada semua orang kalau dia Eun Seok.

“Kapan kau tahu? Tidak, kenapa tidak langsung memberitahuku setelah mengetahuinya?” tanya Do Kyung.

“Aku hendak memberitahumu setelah menyelesaikan persiapan acara perayaan itu pada tanggal 23. Aku tidak bisa membahayakan perusahaan. Itu acara perayaan hari jadi yang ke-40. Yoon Ha Jung mengambil alih persiapannya, jadi, tidak akan ada masalah meski tidak ada aku. Itu waktu yang paling memungkinkan. Tolong biarkan aku memberi tahu mereka setelah tugas-tugasku selesai.” Pinta Ji An.

“Kau ingin memberi tahu mereka sendiri? Kenapa? Kau juga sudah gila? Untuk apa aku membiarkanmu?” jawab Do Kyung.

“Kau tidak akan tahu jika aku tidak mengaku.” Ucap Ji An.

“Bagaimanapun, kini aku tahu. Tapi kau ingin aku terus membohongi orang tuaku?” tanya Do Kyung.

“Karena itulah aku memohon kepadamu. Meski orang tuamu tahu sekarang, mereka tidak akan bisa berbuat apa-apa. Orang tuaku tidak punya apa-apa. Mereka tidak akan bisa mengambil uang atau pekerjaan orang tuaku. Jika mereka punya, aku akan membiarkan mereka bertanggung jawab atas perbuatan mereka. Tapi mereka hanya akan dipermalukan. Ibuku yang berbohong dan pada akhirnya, ayahku tidak bisa menghentikanku.  Kau tahu apa yang kukatakan kepadanya sebelum pindah kemari? Aku menghancurkan dan meninggalkan ayahku. Aku tidak bisa membiarkan ayahku dipermalukan lagi. Tidak bisa.” isak Ji An.


Do Kyung pun tambah kesal. Sementara Ji An, dia terus memohon agar Do Kyung tidak memberitahu Tuan Choi dan Nyonya No dulu. Ji An berjanji, akan mengatakan langsung pada orang tua Do Kyung nanti setelah perayaan Haesung selesai.


Tiba2, ponsel Ji An berdering. Ji An terkejut karena itu telepon dari Nyonya No. Do Kyung menyuruh Ji An menjawab telepon ibunya. Tak tahan melihat ibunya dibohongi, Do Kyung merampas ponsel Ji An dan berkata, sedang mentraktir Ji An makan malam.


Selesai bicara dengan Nyonya No, Ji An berterima kasih karena Do Kyung tidak mengatakan apapun pada Nyonya No. Do Kyung menjelaskan, kalau ia sama sekali tidak berminat membantu Ji An. Ia melakukan itu, karena tidak ingin membuat masalah.

Do Kyung lalu menyuruh Ji An pulang sendiri ke rumahnya secara diam2.


Setelah pengakuan itu, Ji An tak bisa lagi tidur dengan nyenyak di rumah itu. Ia selalu tidur di tepi ranjang dan malam itu, ia tidur sambil memeluk boneka keluarganya.


Keesokan harinya, Ji An yang baru keluar dari kamar mandi bertemu Do Kyung di depan kamarnya. Do Kyung melarang Ji An ikut sarapan bersama keluarganya. Do Kyung mengizinkan Ji An menghindari keluarganya untuk sementara waktu.


Pada orang tuanya, Do Kyung mengarang cerita kalau Ji An sangat kelelahan jadi ia sengaja menyuruh Ji An tidur. Nyonya No pun kecewa karena baru bisa menemui putrinya itu esok hari.


“Ibu tidak akan pulang hari ini?” tanya Seohyun.

“Setiap kakekmu pulang ke Korea, kami selalu menghabiskan semalam bersamanya.” Jawab Nyonya No.

“Dia akan pergi lagi? Kupikir dia akan tinggal lebih lama karena kita sudah menemukan Kak Eun Seok.” Ucap Seohyun.


Selesai makan, Do Kyung ke kamar Ji An. Ia mengetuk pintu kamar Ji An, tapi karena tak ada respon, Do Kyung akhirnya masuk ke kamar Ji An dan menemukan Ji An tertidur di tepi ranjang. Do Kyung mulai merasa kasihan pada Ji An. Tak ingin mengganggu Ji An, Do Kyung pun meninggalkan kamar Ji An.

Ji An akhirnya terbangun karena bunyi ponselnya. Do Kyung menelponnya, memberitahu kalau orang tuanya sudah pergi. Ia juga mengizinkan Ji An datang kapan pun ke kantor.


Di bawah, Do Kyung yang sudah hendak berangkat ke kantor, menemui Seketaris Min terlebih dahulu. Ia mengaku penasaran bagaimana keluarganya bisa menemukan Eun Seok.
“Seseorang mengirimkan sikat gigi kakak beradik itu. Aku tidak tahu apa yang terjadi setelahnya. Saat ibu anda menemui istrinya Pak Seo, dia tampak yakin saat keluar dari rumahnya.” Jawab Seketaris Min.


Tuan Seo yang hendak berangkat kerja, bertemu dengan Hae Ja di jalan. Tuan Seo menyuruh Hae Ja menyusul Seok Doo ke Vietnam. Tuan Seo bilang, suami istri tidak boleh terlalu lama hidup berpisah. Hae Ja pun terdiam. Tuan Seo lantas pamit karena harus mengejar kereta. Hae Ja juga mengaku harus mengejar bus.


Hae Ja mampir ke rumah Tuan Seo. Ia memuji Tuan Seo yang nampak gagah menggunakan setelan jas. Hae Ja kemudian menyuruh Nyonya Yang membatalkan pembukaan restoran itu karena yakin Tuan Seo akan kembali sukses.

“Hae Ja-ya, jangan merusak hari pembukaanku.” Pinta Nyonya Yang.

“Tidak ada pria seperti Tae Soo. Dia amat konsisten. Dia hangat dan baik.” Puji Hae Ja.

“Suamimu menghasilkan banyak uang selama ini. Itu sebabnya kau iri karena hal lain. Pria baik hati yang tidak kompeten sungguh membuatku frustasi.” Jawab Nyonya Yang.

“Dahulu juga aku merasa begitu. Tapi uang bukan segalanya.” Ucap Hae Ja.

“Hiduplah sepertiku selama setahun. Kau tidak akan bilang begitu.” jawab  Nyonya Yang.

“Coba saja hidup setahun bersama pria yang hanya memberi uang.” Balas Hae Ja.


Di kamarnya, Ji Soo sibuk mencari buku resepnya. Ia ingat, membuka buku resepnya terakhir kali saat membuatkan roti lapis untuk Ji An di tokonya Boss Kang. Saat lagi sibuk mencari buku resepnya, ingatan Ji Soo melayang pada kata2 Ji An saat ia sudah mau pulang dari kantornya Ji An.

Flashback….

“Kenapa kau mencegahku pergi? Kau bilang tidak akan pergi jika berada di posisi kakak. Kau sungguh akan tinggal jika berada di posisi kakak?” tanya Ji An.

“Tentu saja.” Jawab Ji Soo.

“Jika ini terjadi kepadamu, kau tidak akan pergi setelah mengetahui bahwa orang tua kandungmu amat kaya. Itu sebabnya kau mencegahku pergi. Mianhe, Ji Soo-ya. Karena kakak tidak mendengarkanmu.” Ucap Ji An.

Flashback end…

Ji Soo pun heran, ia bertanya2 sendiri.

“Kini dia menyesal? Mereka menyulitkannya? Jika dipikirkan, dia tidak tampak bahagia.”


Ji Soo kemudian hendak mengambil sesuatu di lacinya, tapi gak jadi karena sang ibu tiba2 masuk kamarnya. Nyonya Yang memberitahu, bahwa ia sudah mendapat pekerjaan tapi gak bilang soal restoran Haesung. Ji Soo pun cemas, ia takut ibunya sakit kalau ikut bekerja. Tapi Nyonya Yang meyakinkan Ji Soo dirinya akan baik2 saja.


Di ruangannya, Tuan Choi sedang melihat barang2 lama Eun Seok. Tak lama kemudian, ia menyuruh seketarisnya membungkus barang2 itu karena akan ia hadiahkan pada Ji An.


Ji Soo seperti biasa mengantarkan roti ke kafe Woo Hee. Saat ia datang, Woo Hee sedang mengobrol dengan Hyuk. Ji Soo berkata pada Woo Hee, kalau boss nya menginginkan uang tunai.

Hyuk heran, kenapa dia tidak mau kami mengirimkan uangnya?

“Aku tidak tahu alasannya, tapi dia bilang butuh uang tunai. Tapi kalian bisa membayar kapan saja. Dia juga memberikan diskon 10 persen.” Jawab Ji Soo.

“Dia baik, ya?” puji Hyuk sembari tersenyum.


Ji Soo gugup, tapi kali ini dia bisa mengontrol dirinya. Hyuk kemudian pergi. Ji Soo juga mau pergi, tapi Woo Hee menahannya dan buru2 mengambil buku resep Ji Soo. Woo Hee bilang, ia menemukan buku itu di dalam kantong rotinya. Ji Soo lega bukunya tidak hilang.

“Ini harta karunku yang kedua. Aku sedih sekali. Kupikir aku menghilangkannya.” Jawab Ji Soo.

“Apa harta karunmu yang pertama?” tanya Woo Hee.

“Keluargaku.” Bisik Ji Soo membuat Woo Hee tersenyum.


Saat mau pergi, Ji Soo tak sengaja melihat sebuah pigura yang tergantung di dinding. Ji Soo menyukai pigura itu dan langsung bertanya pada Woo Hee, dimana Woo Hee membeli pigura itu.

Woo Hee memberitahu Ji Soo ia membeli pigura itu secara online di toko online nya Hyuk. Tapi Ji Soo memutuskan membeli meja rias saja saat melihat foto meja rias yang sangat cantik. Tapi Ji Soo kemudian kaget tahu meja rias itu harus dipasang sendiri, sedangkan Ji Soo tak bisa memasang barang2 seperti itu. Woo Hee pun menawarkan Hyuk yang dipanggilnya manajer untuk membantu Ji Soo. Ji Soo langsung menolak dan meyakinkan Woo Hee kalau ia bisa memasangnya sendiri.

Do Kyung berdiri di depan jendela, memikirkan permintaan Ji An. Tak lama kemudian, ia ingat Ji An sudah diperkenalkan sebagai Eun Seok ke teman2 ibunya.

“Ini masalah besar.” Gumam Do Kyung.


Ji An bertanya pada Ha Jung, apa Ha Jung sudah membuat file profil kedua untuk model pelanggan. Ha Jung mengaku dengan entengnya, kalau ia belum membuatnya. Ji An pun menyuruh Ha Jung agar segera membuatnya. Tiba2, Manajer Lee datang dan memberitahu Ji An kalau Do Kyung meminta laporan.

“Kenapa dia meminta laporan?” tanya Ha Jung heran.

“Berarti dia tidak memercayai kita?” tanya Senior Jo.

“Tidak mungkin. Bukankah dia paling memercayai Ji An?” jawab Manajer Lee.


Adegan pun langsung beralih ke Ji An yang membacakan laporannya di depan Do Kyung.

“60 persen vendor telah menandatangani kontrak. Kami memilih 50 kontestan untuk peragaan busana pelanggan. Kami juga akan segera mengadakan evaluasi terakhir. Kami menyewa beberapa penyanyi untuk konsernya. Kami berpikir topik untuk kontes desain cetak tangan sebaiknya dipersempit menjadi karakter dongeng. xqJadi, kami sedang mendiskusikannya dengan tim desain.” Ucap Ji An.

“Di antara topik yang belum ditentukan, mana yang penting?” tanya Do Kyung, sembari menatap dingin Ji An.


Do Kyung dan Ji An pun mulai berdebat. Karyawan yang lain menatap mereka dengan tegang.

“Hari ini, kami akan rapat bersama vendor terkait Wangi Violet dan menentukan barang-barang serta namanya. Kami akan mengganti tempatnya dan menghubungi tiga vendor pewarna alami. Kami masih mencari Pak Jung Kang Soo.” Ucap Ji An.

“Bukankah acaranya hendak diadakan di taman kita?” tanya Do Kyung.

“Itu rencana awalnya, tapi kurasa akan terlalu dingin di malam hari. Kurasa lebih baik jika diadakan di dalam ruangan.” Jawab Ji An.


Do Kyung lantas menanyakan pendapat Ha Jung. Do Kyung bilang, jika ruangannya diganti maka Ha Jung juga harus mengganti tata letaknya. Ha Jung pun berkata, Ji An lah yang bertanggung jawab atas hal itu.

“Bukankah kalian seharusnya bekerja bersama? Jika memang membantunya, seharusnya kau bisa membuat keputusan saat Nona Seo tidak ada.” Sewot Do Kyung.

“Aku berusaha keras membantunya.” Jawab Ha Jung.

“Kurasa anggarannya juga akan berubah.” Ucap Do Kyung.

“Ya, aku akan menyiapkan revisi rencana anggarannya.” Jawab Ji An.

“Nona Seo, bawakan revisi rencana anggaran dan daftar vendor pewarna alaminya ke kantorku.” Suruh Do Kyung.


Di ruangannya, Do Kyung meminta penjelasan Ji An soal Ji An yang ingin memberitahu orang tuanya secara langsung. Do Kyung juga bilang apa yang dilakukan orang tua Ji An tidak bisa dimaafkan. Ia bilang, orang tua Ji An pantas menerima hukuman.

“Aku tahu. Aku tidak memintamu memaafkan orang tuaku. Aku tahu, aku tidak berhak memohon ampun. Aku akan meminta mereka menyerahkan diri.” Jawab Ji An.

“Lantas kenapa kau ingin memberi tahu orang tuaku langsung?” tanya Do Kyung.

“Aku juga tidak ingin mengacaukan perayaan hari jadi ke-40. Jika kacau karena aku, aku akan sangat menyesal dan malu. Aku akan menyiapkan segalanya dengan baik sampai tanggal 23. Maka itu tidak akan membahayakan acaranya. Aku hanya berharap orang tuamu tidak akan terlalu marah, karena aku sudah berusaha keras. Alasan ibu dan ayahku membuat keputusan itu. Semua karena aku. Jika aku memberi tahu mereka, mungkin mereka tidak akan terlalu marah kepada orang tuaku.” Jawab Ji An.

“Kau ingin membela orang tuamu bahkan setelah mereka melakukan semua ini?” tanya Do Kyung.

“Kau juga tahu apa yang akan orang tuamu lakukan kepada orang tuaku.” Jawab Ji An.

Do Kyung menghela nafas sejenak sebelum menyuruh Ji An keluar. Sebelum keluar, Ji An memohon agar Do Kyung mengizinkannya memberitahu Tuan Choi dan Nyonya No secara langsung.


Soo A ingin menikah pekan depan. Ia mengaku, sudah menemukan lokasi untuk pernikahan mereka. Ia bilang, sangat menyukai tempat itu. Tempat pernikahan di sebuah taman. Tapi hanya tersisa pekan depan untuk bisa menikah di tempat itu.

“Orang tuaku tidak akan datang. Kita akan menemui mereka di Kanada saat bulan madu. Jika orang tuamu tidak masalah, tidak apa-apa. Lagi pula, gedungnya gratis.” Ucap Soo A.

“Kau mau menikah pekan depan karena gratis?” tanya Soo A.

“Tentu saja tidak.” Jawab Soo A.

“Katamu kau tidak mau hidup susah. Katamu kau tidak mau pernikahan seperti itu.” ucap Ji Tae.

“Kini aku tahu, aku akan lebih menderita jika hidup tanpa Seo Ji Tae dibandingkan punya rumah jelek.” Jawab Soo A.


Ji An yang lagi di toko pewangi ditelpon oleh Myung Shin. Tak lama kemudian, Ji An pun sampai di sebuah restoran dimana Myung Shin sudah menunggunya. Myung Shin marah Ji An mengganti nomor ponsel tanpa memberitahunya.

“Katakan alasannya lebih dahulu. Aku akan memaklumi jika kau menghilang karena sedang kesulitan. Tapi kau mendapatkan posisi tetap di Haesung. Aku syok saat mendengarnya dari Ha Jung.” Ucap Myung Shin.

Mendengar kata2 Myung Shin, tangis Ji An pun pecah.


Ji An lalu menceritakan semuanya pada Myung Shin. Myung Shin syok mendengarnya.

“Sebenarnya aku takut sekali.” Ucap Ji An.

“Maka kau harus memberi tahu orang tuamu. Ini bukan perbuatanmu. Kau tidak bisa menghadapi keluarga itu sendiri.” Jawab Myung Shin.

“Karena itu demi aku. Ibuku hidup di balik bayang-bayang ayahku sebagai ibu rumah tangga. Dia selalu segan dan lemah lembut.” Ucap Ji An.

“Aku tahu, dia seperti gadis kecil.” Jawab Myung Shin.

“Tapi kenapa dia melakukannya? Kenapa dia bisa melakukan hal itu? Ayahku juga. Dia menemuiku dan menghentikanku. Tapi kubilang aku ingin pergi. Aku bahkan menyalahkannya karena berusaha menghentikanku. Ayah berpikir aku mengatakan hal itu karena kesulitan mendapatkan pekerjaan. Aku mengkritik ayahku seolah-olah itu kesalahannya. Seolah-olah aku pergi karena dia. Aku membuatnya tertegun.” Ucap Ji An.

“Ayahmu pasti sangat terkejut.” Jawab Myung Shin.


“Kau tahu bagaimana keadaanku di rumah keluarga baruku? Aku kewalahan. Aku merasa terintimidasi dan putus asa. Aku hanya menuruti kehendak mereka. Aku kesulitan menyesuaikan diri bersama keluarga kaya. Tanpa mengetahui aku bukan bagian dari mereka.” Ucap Ji An.

“Tapi itu bukan kesalahanmu.” Jawab Myung Shin.

“Saat gagal mendapat pekerjaan di perusahaan besar, aku berpura-pura menjadi gadis paling malang di dunia ini. Mungkin karena itu ibu melakukan hal ini.” ucap Ji An.

“Tapi tetap saja, Ji An, menyalahkan dirimu sendiri tidak akan menyelesaikan masalah.” Jawab Myung Shin.

“Ini memang kesalahanku. Jika aku tidak langsung bilang ingin tinggal bersama mereka, semua tidak akan seperti ini. Aku yakin ibu mengatakan itu tanpa dipikirkan lebih dahulu. Dia tahu aku pasti mau. Karena itu dia bilang begitu.” ucap Ji An.

“Membela ibumu tidak akan mengubah keadaan.” Jawab Myung Shin.


“Aku tidak membelanya. Aku tidak bisa membelanya dari orang-orang itu. Aku membicarakan diriku sendiri. Aku merasa amat malu dan menyesal. Aku membicarakan diriku. Sejujurnya, aku langsung ingin pergi begitu mengetahuinya. Saat ibu memberitahuku bahwa pemilik Haesung adalah orang tua kandungku... Segera setelah mendengarnya, aku langsung ingin pindah. Untuk menemui keluarga kandungku? Bukan. Uang mereka. Kekayaan mereka. Itu yang kuinginkan. Karena itulah ini kesalahanku dan aku pantas untuk menderita lebih dahulu. Aku merasakannya langsung. Aku mengenal mereka, jadi, bisa menyiapkan diri. Ibu dan ayah tidak akan bisa bertahan. Mereka tidak akan pernah membayangkan apa yang akan terjadi dan bagaimana masa depan mereka. Aku harus berbicara dengan keluarga Haesung dan memohon ampun agar mereka tidak akan terlalu marah kepada orang tuaku.” Ucap Ji An.

“Mereka semenakutkan apa?” tanya Myung Shin.

“Tidak akan ada yang bisa membayangkan betapa menakutkannya mereka.” Jawab Ji An.


Nyonya Yang ini gk sadar dampak dari kebohongannya itu… Tuan Seo, Ji An, bahkan Ji Tae dan Ji Ho bakal ikut menanggung akibatnya….

Kasihan Ji An… dia ini posisinya serba salah. Di satu sisi, dia sadar ibunya salah. Tapi dia gak bisa membiarkan ayahnya ikut menanggung akibat kebohongan ibunya.

No comments:

Post a Comment