Wednesday, December 6, 2017

My Golden Life Ep 27 Part 2

Sebelumnya...


Ji Ho mengajak Seohyun ke tempat main bowling. Seohyun yang memang baru pertama kali ke sana, protes karena harus memakai sepatu sewaan. Tapi akhirnya dia setuju setelah Ji Ho mengancam mau pulang.


Ji Ho juga mengajari Seohyun cara bermain bowling. Setelah Seohyun mengerti, Ji Ho menyuruh Seohyun mundur.


Ji Ho mulai bermain dan berhasil melakukan strike. Ji Ho pun menantang Seohyun.


Seohyun mulai melempar bolanya tapi bolanya tidak mengenai pin bowlingnya sama sekali. Dengan tatapan galak, Ji Ho pun menyuruh Seohyun mencobanya sekali lagi.Seohyun melakukannya berkali2 dan tidak ada satu pun pin yang terjatuh. Ji Ho menyuruh Seohyun mencoba lagi, tapi Seohyun menolak. Ji Ho tak peduli. Ji Ho bilang Seohyun tak boleh berhenti sebelum Seohyun berhasil.


Ji Ho mengajari caranya sekali lagi, dan kali ini…. Seohyun berhasil! Sontak, mereka berdua berteriak dan melompat-lompat kegirangan.


Hyuk dan Ji An akhirnya tiba di rumah. Hyuk melihat kotak yang ditinggalkan Do Kyung dan memberikannya pada Ji An. Ji An pun mengajak Hyuk masuk tanpa membuka kotaknya terlebih dahulu.

Dan ternyata, Do Kyung belum pergi. Ia masih berada di dalam mobil dan menunggu sampai Ji An pulang. Do Kyung terkejut melihat Ji An dan Hyuk masuk bersama. Do Kyung lalu ingat kata-kata Hyuk kalau Ji An tinggal di rumah sang kakak. Do Kyung pun sewot.

“Meskipun itu kakaknya, tapi ini sudah malam!”


Tapi tak lama kemudian, Do Kyung pun tersadar dan bertanya-tanya, kenapa juga ia harus peduli.

“Dia sudah mengambil kotak itu, itu bagus. Selamat tinggal Seo Ji An.” Ucap Do Kyung, lalu melajukan mobilnya.


Di kamarnya, Ji An membuka kotak itu. Ia terdiam melihat isinya. Tak lama kemudian, ia pun mulai menatap patung2 itu di atas meja sambil berusaha menahan kesedihannya.


Habis main bowling, mereka singgah untuk makan di kaki lima. Seohyun terlihat senang bisa main bowling bersama Ji Ho. Seohyun pun mengajak Ji Ho main lagi besok.

“Kau tidak punya teman? Pergilah dengan teman-temanmu.” Jawab Ji Ho.

“Aku tidak punya teman dan aku tidak seharusnya bergaul dengan teman-teman.” Jawab Seohyun.

“Kenapa tidak?” tanya Ji Ho.

“Aku punya tunangan.” Bisik Seohyun.

“Tunangan?” tanya Ji Ho.


“Aku harus bijaksana. Aku tidak boleh mendapat masalah.” Jawab Seohyun.

“Apa ini Dinasti Joseon? Apa aku kembali ke masa lampau?” tanya Ji Ho.

“Itulah yang kami lakukan. Kami memeriksa keluarga, latar belakang, kompetensi, tampang, dan bahkan kepribadian. Memangnya kenapa kalau begitu? Kakakku juga punya tunangan. Dia akan menemuinya kali pertama besok.” Jawab Seohyun.

“Lantas, Ji Soo akan menikahi siapa pun yang orang tua kalian pilih?” tanya Ji Ho.

“Pada akhirnya begitu, tapi sekarang mustahil.” Jawab Seohyun.

“Kenapa?” tanya Ji Ho.

“Dia tidak punya latar belakang yang mengagumkan.” Jawab Seohyun.


Saat sadar apa yang sudah ia makan, ia pun panic. Ia bilang, ia tak seharusnya makan jajanan pasar. Ji Ho pun langsung merebut makanan Seohyun. Tapi Seohyun meminta Ji Ho mengembalikan makanannya. Seohyun lalu makan lagi dan memuji rasa makanannya.


Begitu masuk ke rumah, Tuan Seo langsung dihampiri Ji tae. Ji Tae mengembalikan uang yang diberikan sang ayah dan berkata, tidak akan pindah. Tapi Tuan Seo tidak peduli dan menyuruh Ji Tae melakukan apa yang ingin Ji Tae lakukan. Itu membuat Ji Tae tambah kesal.


Setelah Tuan Seo masuk ke kamar, Nyonya Yang menghampiri Ji Tae. Rupanya ia mendengar pembicaraan Ji Tae dan Tuan Seo tadi. Ia protes karena Ji Tae mau beremigrasi.


Ji Tae kembali ke kamarnya. Ia memberitahu Soo A kalau sudah mengembalikan uang ayahnya. Soo A memuji perbuatan Ji Tae dan mengajak Ji Tae berlibur. Soo A mengingatkan Ji Tae kalau mereka pernah berjanji akan berlibur sebulan sekali.

Saat mereka lagi memikirkan hendak liburan kemana, Nyonya Yang mengetuk pintu kamar mereka.


Ji Tae membukakan pintu kamar. Awalnya Nyonya Yang membicarakan soal emigrasi Ji Tae. Ia merasa Ji Tae ingin pindah karena dirinya. Ji Tae bilang, masalah itu sudah selesai.

“Ibu kemari bukan untuk membahas itu. Wakil presdir Perusahaan Haesung memutuskan memaafkan kita. Ibu akan bekerja di restoran sebagai manajer sampai mereka menemukan pemilik baru.” Ucap Nyonya Yang.

Mereka memaafkan kita?” tanya Ji Tae kaget.


“Ibu rasa itu karena Ji Soo.” Jawab sang ibu.

“Sudah kuduga. Pasti itu mengusiknya.” Ucap Ji Tae.

“Itu bagus, Ibu.” Jawab Soo A.

“Ayahmu bilang Ji An baik-baik saja. Tapi dia tidak mau memberi tahu detailnya kepada ibu. Seperti yang kau lihat, dia amat lega sampai tidur berhari-hari setelah mengetahui Ji An baik-baik saja.” Ucap Nyonya Yang.

“Kenapa dia tidak memberitahuku?” kesal Ji Tae.

Soo A lantas menyuruh Nyonya Yang istirahat.


Begitu terjaga, yang pertama kali dilihat Ji An adalah patung2 keluarganya. Setelah terdiam untuk beberapa saat, Ji An pun membalikkan patung ayah, ibu dan Ji Soo.

Saat hendak keluar kamar, Ji An tanpa sengaja melihat kalender.

“Ujian masuk universitas Ji Ho. Itu sudah lewat.” Gumam Ji An.

Ji An lalu mengambil patung Ji Ho dan menatapnya sembari menghela napas.


Do Kyung memberitahu ibunya kalau ia akan menemui So Ra. Sang ibu lalu memastikan, apakah Do Kyung sudah memesan makanan yang istimewa. Do Kyung bilang dia sudah memesan wine favorit So Ra.

“Bagus. Ini langkah pertama pernikahanmu dengan So Ra.” Ucap sang ibu.


Ji An keluar kamar dan bertemu dengan para penyewa kamar di rumah itu. Hee lantas mengajak Ji An sarapan bersama. Ji An bilang, dia akan pergi dan minum susu saja sebagai sarapan. Hyuk pun datang dan membawa Ji An menjauh dari orang2 itu.

“Pria di atas membawa teman2nya semalam.” Ucap Hyuk.

“Tidak masalah.” Jawab Ji An.

Ji An lalu meminta izin untuk datang terlambat ke kantor. Hyuk pikir itu karena tangan Ji An sakit. Ji An bilang, itu karena dia mau pergi membeli ponsel.


Ji An pergi membeli ponselnya dan meminta nomor baru. Di tengah jalan, ia menyimpan nomor sang ayah, lalu mengirimi sang ayah pesan.


Tuan Seo yang saat itu sedang menyendiri di taman, membaca pesan Ji An. Dalam pesannya, Ji An mengaku baik-baik saja dan meminta sang ayah tidak khawatir. Setelah membaca pesan Ji An, Tuan Seo menyimpan kembali ponselnya masih dengan wajah tanpa ekspresi.


Ji Ho yang masih tidur, langsung ngomel2 karena ponselnya berdering. Namun, ia langsung bangkit dari kasurnya begitu tahu Ji An lah yang menelpon.

“Apa ujianmu lancar?” tanya Ji An.

“Itu tidak penting. Kakak di mana? Kak, aku harus menemui Kakak. Aku akan menghampiri Kakak di mana pun Kakak berada. Kakak di mana?” rengek Ji Ho.

“Aku akan memberitahu nanti. Sampai jumpa.” Jawab Ji An.

“Kak, jangan ditutup. Kak, kumohon. Kumohon biarkan aku menemui Kakak. Aku harus bilang sesuatu. Kumohon, Kak. Kumohon.” Rengek Ji Ho.


Do Kyung ditemani Seketaris Yoo pergi mengecek produk terbaru mereka di toko. Saat melihat2 produk mereka, Do Kyung malah keingatan Ji An.

Do Kyung pun menghela napas, lalu keluar dari toko diikuti Seketaris Yoo. Seketaris Yoo mengajak Do Kyung makan, tapi Do Kyung menyuruh Seketaris Yoo makan sendiri dan mengaku harus pergi ke suatu tempat. Do Kyung beranjak pergi. Seketaris Yoo kebingungan sampai menepuk jidatnya sendiri.

Ji An izin keluar makan siang lebih awal karena ingin menemui seseorang. Boss nya mengizinkan dan menyuruhnya makan dengan baik.


Ji An berdiri di tepi jalan, menunggu seseorang. Tak lama kemudian, orang yang ditunggunya muncul di seberang jalan. Dia Ji Ho. Ji Ho melambaikan tangannya dan Ji An membalasnya. Ji Ho kemudian berlari secepat mungkin ke arah sang kakak.

Mata Ji Ho langsung berkaca2 begitu melihat sang kakak. Ji An pun sama.

“Sudah kuduga. Kakak tampak buruk. Sekarang aku kesal.” Ucap Ji Ho.

“Ini karena kakak lapar.” Jawab Ji An, lalu mengajak Ji Ho makan.


Sambil makan, Ji Ho mengaku kalau selama ini ia bekerja di department store. Ji Ho minta maaf karena tidak memberitahu sang kakak sejak awal. Ia berkata, seandainya ia memberitahu sang kakak sejak awal, sang kakak pasti akan merasa sedikit lega.

“Apa maksudmu?” tanya Ji An.

“Aku tahu Kakak mau mendapatkan pekerjaan yang layak untuk membayar biaya kuliahku dan berbagi beban Kak Ji Tae.” Jawab Ji Ho.

“Tidak. Itu karena ketamakan kakak.” Ucap Ji An.

“Maaf. Kakak mau aku berkuliah dan membayar lesku sebelum aku wajib militer. Lalu aku menyerah.” Jawab Ji Ho.

“Tidak, Ji Ho-ya.  Mungkin kau benar. Kau tampak bahagia. Alih-alih berkuliah tanpa tujuan, melakukan keinginanmu mungkin membuatmu bahagia.” Ucap Ji An.

Ji Ho pun senang didukung kakaknya. Ji Ho lalu menyuruh sang kakak melupakan masalah mereka sejenak. Ji Ho meminta kakaknya itu melakukan apapun yang disenangi sang kakak.

“Tidak pelu mengkhawatirkan biaya kuliahku. Karena kini aku sudah mengaku, Aku akan memberikan kakak uang jajan.” Ucap Ji Ho.

“Kakak menolak. Kakak bisa mengurus diri kakak sendiri. Sekarang kakak adalah  kakak perempuanmu satu-satunya.” Jawab Ji An.

“Kenapa?” tanya Ji Ho.


“Ji Soo mungkin pergi ke rumah itu.” jawab Ji An.

“Bagaimana kakak tahu? Kakak sudah bicara dengannya?” tanya Ji Ho.

“Tidak.” Jawab Ji An.

“Lantas bagaimana kakak tahu?” tanya Ji Ho.

“Kakak hanya merasa dia akan pergi. Ji Soo mengamuk saat marah.” Jawab Ji An.

“Ya. Itu yang kukhawatirkan. Cinderella bilang kepadaku bahwa keluarganya mengatur seluruh hidupnya. Dia punya tunangan dan kakaknya juga. Lucunya, mereka belum bertemu. Kakaknya menemui tunangannya hari ini.” ucap Ji Ho.


Ji An terkejut. Ingatannya langsung melayang ke kata-kata Do Kyung yang bilang akan menikahi So Ra. Ji An juga ingat cerita Seohyun yang akan calonnya di yang kuliah di New York.


Terakhir, Ji An ingat kata2 Nyonya No.

“Kami kehilanganmu 25 tahun. Kau sebaiknya segera mendapatkan itu kembali. Kau tidak boleh pergi sendiri. Kau tidak bisa berbuat sesukanya. Kita ada formalitas. Tidak ada yang tanpa usaha. Karena kau, ibu, ayahmu, Do Kyung, dan Seo Hyun. Haruskah kita semua menjadi gosip?”

Ji An dan Ji Ho pun cemas, mereka takut Ji Soo tidak akan bisa bertahan di keluarga itu.


Sebelum berpisah, Ji Ho memeluk Ji An. Ji Ho pun sedih karena merasakan kakaknya semakin kurus. Ji Ho menyuruh kakaknya makan dengan teratur.


Begitu kembali ke tempat kerjanya, ia langsung kesal melihat kehadiran Do Kyung. Do Kyung bilang, ada sesuatu yang tak berani ia katakan saat terakhir kali mereka bertemu. Ji An masih tak ingin bicara dengan Do Kyung. Dia bilang, pembicaraan mereka hari itu sudah selesai.

“Aku tidak menyuruhmu menjaga diri. Hiduplah lebih baik daripada sekarang.” ucap Do Kyung.


Do Kyung pun berbalik, hendak pergi. Tapi Ji An tiba2 memanggilnya. Do Kyung pun senang, namun wajahnya berubah kecewa karena Ji An memanggilnya hanya untuk menanyakan keadaan Ji Soo.

“Jika kau menanyakan apa dia bahagia, aku tidak tahu tapi tampaknya dia baik-baik saja.” Jawab Do Kyung.

“Jaga dia untukku.  Dia akan kesulitan bertahan di rumahmu.” Pinta Ji An.

“Dia adikku. Kau tidak perlu khawatir.” Jawab Do Kyung.

“Ya. Dia adikmu.” Ucap Ji An.


Dan, Do Kyung pun teringat saat ia memperkenalkan diri sebagai kakaknya Ji An pada Ji An ketika Ji An pertama kali menginjakkan kaki ke rumahnya. 


Do Kyung juga ingat saat mereka mengejar penjambret di pasar. Terakhir, dia ingat kata-kata Ji An yang bilang senang bisa menjadi adiknya.


Do Kyung pun menatap lirih Ji An. Sekali lagi, Ji An menyuruh Do Kyung menjaga Ji Soo. Ji An lalu pamit, dan masuk ke dalam.

Do Kyung menghela nafas. Sorot matanya tampak sedih menatap langkah Ji An yang masuk ke toko perabotan. Setelah membeku sejenak, Do Kyung akhirnya masuk ke mobilnya.


Tanpa mereka sadari, Hyuk memperhatikan mereka dari atap gedung sedari tadi.

“Kenapa datang terus jika dia tidak bisa bertanggung jawab?” ucap Hyuk sembari menatap kepergian Do Kyung.


Do Kyung lalu pergi ke restoran, tempat ia dan So Ra janjian. Tak lama kemudian, So Ra menelponnya memberitahu kalau ada kejadian darurat dan meminta Do Kyung datang ke tempatnya.


Sementara itu, Ji An menyapa boss nya dan Sun Tae dengan semangat. Mereka pun heran melihat Ji An yang begitu semangat.


Do Kyung sampai di sebuah pasar, tapi ia tak menemukan So Ra di sana. Sampai akhirnya, seseorang memanggilnya dan melambaikan tangan dari atap gedung.


Do Kyung lalu naik ke atas, menyusul So Ra. Begitu bertemu, keduanya berjabat tangan dan saling menyapa. Do Kyung penasaran, bagaimana So Ra bisa menemukan tempat itu.

“Ini tempat mereka syuting film yang kusukai. Yang menarik adalah kita harus mengambil wortel, mentimun, dan gelasnya sendiri. Jadi, aku pergi dan mengambilnya.” Jawab So Ra.

“Lantas, apa yang harus kulakukan?” tanya Do Kyung.

“Pilih mau makan apa. Mereka memberikan kertas dan pensil saat masuk. Tuliskan pesananmu dan berikan kepada mereka.” Jawab So Ra.

“Itu menyenangkan.” Ucap Do Kyung.


Do Kyung lalu memperhatikan sekelilingnya dan mendapati pengunjung yang sedang memperhatikan mereka.

“Menyenangkan, bukan? Bukankah ini menarik” tanya So Ra.

Pilih sesuatu dahulu.” suruh Do Kyung.

“Aku sudah.” Jawab So Ra.

“Aku harus tahu kau memesan apa agar pesanan kita tidak sama.” Ucap Do Kyung.

“Memangnya akan sama? Karena sudah penasaran, aku tidak tahu.” jawab So Ra.

“Kau selalu mencari kesenangan.” Ucap Do Kyung sembari tertawa.


So Ra lalu memberikan Do Kyung selimut. Do Kyung lalu mulai memilih makanannya dan pilihannya jatuh pada semur ikan. So Ra terkejut. Do Kyung heran melihat ekspresi So Ra. So Ra bilang kalau dia tidak makan makanan amis.

“Ini cukup enak.” Jawab Do Kyung.


Beralih ke Hyuk dan Ji An yang masih menyelesaikan produk mereka yang berbentuk ikan. Ji An lalu menyuruh Hyuk memeriksa produk ikan yang dikerjakannya.

“Ini cukup indah. Serta dibuat dengan baik.” Puji Hyuk.

“Tidak buruk untuk karya pertamaku setelah 10 tahun?” tanya Ji An.

“Sia-sia jika memberikan karya pertamamu setelah 10 tahun kepada orang lain.” Jawab Hyuk.

“Jangan konyol. Torehkan inisialnya.” Ucap Ji An.

Hyuk pun mulai menuliskan inisial nama Ji Soo. Saat Hyuk menuliskan inisial nama Ji Soo, Ji An mengaku lapar. Hyuk bilang sudah memesankan makanan untuk Ji An.


So Ra bertanya apakah makanan Do Kyung tidak amis. Do Kyung menggelengkan kepalanya, lalu menyuruh So Ra mencicipinya tapi So Ra menolak. So Ra lantas menuangkan soju untuk Do Kyung.

“Tidak bisakah kamu menghubungi sopir pengganti sesekali?” pinta So Ra.

“Kau tidak suka acara mengejutkan saat SMP.” Jawab Do Kyung.

“Aku amat pemalu dan pendiam.” Ucap So Ra.


“Serta mudah takut. Kau menangis sejam karena tidak bisa naik kuda.” Jawab Do Kyung.

So Ra pun senang Do Kyung masih ingat kejadian saat mereka di SMP dulu.

“Jang So Ra-ssi, kenapa kau memanggilku Oppa?” tanya Do Kyung.

“Kenapa memanggilku Nona Jang?” tanya So Ra balik.

“Selain adikku, aku tidak pernah memanggil wanita seperti itu.” jawab Do Kyung.

“Walaupun kalian berkencan?” tanya So Ra.

“Aku begitu saat berkencan.” Jawab Do Kyung.

“Kau benar. Kini kita tidak berkencan.” Ucap So Ra.

“Kurasa tidak.” Jawab Do Kyung.

So Ra lalu menenggak sojunya, lalu berkata kalau Do Kyung tidak tidak sembarang memanggil nama orang.


Do Kyung pun teringat saat mencari Ji An di gunning.

Flashback…

“Seo Ji An! Ji An-ah!  Seo Ji An, yang benar saja. Kau sudah gila?” sewot Do Kyung.

Flashback end…


Hyuk memesankan ayam untuk Ji An. Hyuk lantas berkata, kalau Ji An masih belum berubah. Ya, sejak dulu Ji An tidak akan pernah berhenti sebelum pekerjaannya selesai.


Sekarang, Do Kyung dan So Ra sudah di perjalanan. So Ra penasaran, bagaimana Do Kyung akan memanggilnya. So Ra-ya? Jang So Ra-ssi?

“Kau akan mengetahuinya saat kita bertemu lain kali.” Jawab Do Kyung.


Setelah tiba di hotel, So Ra memberitahu Do Kyung kalau dia akan kembali ke Amerika dan kembali ke Korea setelah lulus. So Ra lantas bertanya, kapan mereka akan tunangan.

Do Kyung pun mengajak So Ra menikah. So Ra tertegun.

No comments:

Post a Comment