Thursday, December 7, 2017

My Golden Life Ep 28 Part 1

Sebelumnya...


So Ra terkejut saat Do Kyung mengajaknya menikah. So Ra heran, kenapa Do Kyung tidak ingin bertunangan lebih dulu. Do Kyung bertanya, apa So Ra ingin bertunangan.  So Ra berkata, bahwa yang biasanya melewatkan pertunangan adalah orang-orang yang tidak sabar ingin tinggal bersama, tapi mereka tidak seperti itu. So Ra bilang, akan muncul gossip jika mereka melewatkan pertunangan. Orang-orang akan menganggap salah satu dari mereka bermasalah jika langsung menikah.

Do Kyung pun setuju mereka bertunangan lebih dahulu, sebelum menikah.  So Ra pun masuk ke hotel. Tapi sebelum berpisah, Do Kyung sempat meminta So Ra menghubunginya sebelum balik ke Amerika.


Hyuk dan Ji An lagi mengepel lantai toko. Hyuk menyuruh Ji An istirahat, tapi Ji An menolak. Ji An bilang akan lebih cepat jika mereka melakuannya bersama.

“Ini mengingatkanku pada saat kita masih SMA.” Ucap Hyuk.

“Apa? Maksudmu saat kau membantuku setiap kali aku membersihkan kelas?” tanya Ji An.

“Kau masih ingat rupanya.” Jawab Hyuk.

“Kenangan itu terkadang menggelikan. Kukira aku sudah melupakannya, tapi saat terjadi sesuatu, semua kenangan itu kembali.” Ucap Ji An.

Hyuk pun terdiam menatap Ji An.


Beralih ke Do Kyung yang baru pulang, langsung ditanyai kedua orang tuanya soal So Ra. Nyonya No penasaran, bagaimana pertemuan Do Kyung dengan So Ra. Nyonya No juga menanyakan pendapat Do Kyung soal So Ra. Sementara Tuan Choi bertanya, apa Do Kyung merasa cocok dengan So Ra.

“Dia tumbuh menjadi gadis yang ceria.” Jawab Do Kyung.

“Kapan dia akan kembali?” tanya Nyonya No.

“Kita bisa mengobrol nanti. Berdiam di luar membuatku merasa terserang flu. Kurasa aku harus minum obat dan beristirahat.” Jawab Do Kyung, lalu naik ke atas.


Boss Kang mengatasi kegalauan hatinya dengan berlatih kick boxing. Pelatihnya memuji gerakannya, sekaligus mengkhawatirkan keadaannya.  Boss Kang tidak menjawab dan hanya berusaha mengatur napasnya karena kelelahan.

Hee membeli beberapa roti di toko roti lain sebagai pengganti roti Boss Kang yang akan dia dijual di kafenya.


Dalam perjalanan pulang, Hee bertemu Boss Kang. Boss Kang menganggukkan kepalanya sedikit, lalu berjalan melewati Hee.

Karya Ji An sudah selesai. Dan saat melihat inisial JS di karyanya, ia tak sadar JS itu singkatan nama Ji Soo.


Hyuk datang ke kafe untuk membantu Hee membersihkan kafe.  Tapi Hee sudah selesai membersihkan kafe. Hee bilang, dia datang lebih awal dan meminta Hyuk tidak perlu lagi datang ke kafe karena sudah bisa mengerjakan semuanya sendiri. Hyuk menolak, ia bilang akan berhenti jika sang kakak sudah mulai mempekerjakan seseorang. Hyuk lalu bertanya, kapan orang itu mulai bekerja. Hee mengaku belum memutuskan. Hee lalu beranjak untuk membuatkan Hyuk kopi.

“Noona, kenapa kau mengganti rotinya?” tanya Hyuk.

“Toko roti itu sudah tidak mau memasok. Dia pasti sibuk.” Jawab Hee.

“Sungguh?” tanya Hyuk.

“Lebih baik seperti ini. Seperti yang kakak bilang, kakak ingin mencoba roti baru.” Jawab Hee.

Hyuk ingin menyahut lagi, tapi Hee langsung menegaskan kalau ia akan mengurusnya sendiri dan meminta Hyuk tidak ikut campur lagi agar dia bisa mandiri. Hyuk pun senang kakaknya sudah banyak berubah.


Hyuk membawakan kopi ke toko perabotan. Begitu Hyuk datang, Sun Tae langsung memberitahu kalau ada penginapan yang memesan lemari pada mereka dan lemari2 itu harus dikikirimkan hari itu juga. Hyuk bilang itu pekerjaan mudah dan bisa dikerjakan oleh Ji An. Tapi boss nya tidak setuju karena total lemari yang harus mereka kerjakaan jumlahnya banyak. Tapi Ji An setuju mengerjakannya dan menanyakan buku petunjuknya.

Hyuk lalu melihat produk yang sebelumnya ia buat bersama Ji An, sudah terbungkus rapi.

“Hei, Seo Ji An. Kau membungkusnya untukku?” tanya Hyuk.

“Kau bilang itu hadiah.” Jawab Ji An.


Hyuk pun membawa hadiah itu ke toko roti Boss Kang. Ya, produk itu dibuat Hyuk untuk Ji Soo dan juga Boss Kang.

Ji Soo menerima talenan berbentuk ikan. Ia senang, apalagi setelah melihat inisial namanya di sana.

“Ukiran inisial akan lebih membuatmu merasa memilikinya.” Ucap Hyuk.

Berbeda dengan Ji Soo yang antusias menerima hadiah talenan dari Hyuk. Boss Kang justru kecewa karena talenannya biasa saja.  Ji Soo bilang, talenan yang diterima Boss Kang sangat cocok untuk Boss Kang.

Ponsel Ji Soo berdering. Ji Soo pun pergi keluar untuk menjawab teleponnya.


Sepeninggalan Ji Soo, Hyuk bertanya pada Boss Kang kenapa Boss Kang tidak lagi memasok roti ke kafe Hee. Boss Kang pun menyuruh Hyuk bertanya langsung pada Hee. Hyuk terkejut Boss Kang tahu Hee kakaknya.  Ia penasaran bagaimana Boss Kang bisa tahu Hee kakaknya. Boss Kang lagi2 menyuruh Hyuk bertanya pada Hee.


Hyuk pun heran, tapi kemudian ia keluar dan melihat Ji Soo sedang menerima telepon sambil melompat2 gembira.

Ji Soo malu dan langsung ngumpet di samping toko roti. Hyuk tersenyum. Ia bergumam, sisi lain dirinya.


Ji Ho lah yang menelpon Ji Soo. Ji Ho menelpon Ji Soo untuk memberitahu kalau Ji An sudah kembali. Ji Soo terkejut. Ia penasaran, kapan Ji An kembali dan dimana Ji An selama ini.

“Dia bilang hanya rehat sebentar. Dia tidak bisa menghubungi karena ponselnya hilang.” Jawab Ji Ho.

“Ibu dan ayah pasti senang. Putri kandung mereka sudah pulang.” Ucap Ji Soo.

“Dia tidak pulang ke rumah. Dia tinggal bersama orang lain.” Jawab Ji Ho.

“Dia tidak pulang ke rumah?” tanya Ji Soo.

“Tidak, dia tinggal di rumah orang lain. kudengar dia juga bekerja. Dia pasti bekerja di sekitar Universitas Hongik. Kami bertemu di Mapo.” Jawab Ji Ho.


Usai bicara dengan Ji Ho, Ji Soo mencoba menghubungi Ji An, tapi ponsel Ji An tak aktif. Ji Soo heran dan kembali menghubungi Ji Ho untuk menanyakan nomor Ji An.

“Kenapa ponsel Ji An dimatikan lagi?” tanya Ji Soo.

“Dia tidak menggunakan nomor lamanya. Dia sudah mengganti nomornya.” Jawab Ji Ho, membuat Ji Soo kaget.


Ji An yang baru menyelesaikan rangkaian lemarinya, merasa kelelahan. Tiba-tiba, ponselnya berdering. Ji An tahu itu nomor Ji Soo. Sesaat dia ragu untuk menjawab, tapi akhirnya dia menjawab panggilan dari Ji Soo juga.

Ji Soo mengajak Ji An bertemu. Ji An tidak menjawab, sehingga Ji Soo harus mengulang ajakannya. Ji An pun setuju bertemu dengan Ji Soo setelah pulang bekerja.


Gi Jae mengajak Do Kyung makan siang bersama karena ia penasaran hasil pertemuan Do Kyung dengan So Ra. Gi Jae mengaku, ia sampai melewatkan rapat penting demi menjawab rasa penasarannya itu.

“Aku tidak menyangka kau penasaran dengan hal seperti itu. Kenapa penasaran dengan hal yang mudah diprediksi?” jawab Do Kyung.

“Apa yang mudah diprediksi?” tanya Gi Jae.

“Jang So Ra. Dia cantik, ceria, berkelas, berpendidikan, dan dari keluarga baik-baik. Kenapa aku tidak menyukainya?” jawab Do Kyung.

“Dia cantik?” tanya Gi Jae.

“Masih harus ditanyakan? Kau melihat fotonya bersama sepupumu.” Jawab Do Kyung.

“Maksudku Seo Ji An. Kau menyukainya karena dia cantik?” tanya Gi Jae.

“Jangan bergurau soal dia. Aku sedang tidak ingin.” Jawab Do Kyung.

“Tidak ada alasan untuk tidak menyukai Jang So Ra. Karena dia paket lengkap,” ucap Gi Jae.


Gi Jae lalu bertanya, apa Do Kyung sudah mengambil keputusan. Do Kyung bilang sudah. Gi Jae bertanya lagi, apa yang membuat Do Kyung tertarik pada Ji An. Gi Jae bilang, tidak ada hal yang menarik dari Ji An selain penampilan Ji An.

“Aku tidak bermaksud. Terjadi begitu saja.” Jawab Do Kyung.

“Lantas kini kau sudah melupakannya?” tanya Gi Jae.

“Ini yang ingin kau ketahui? Kau penasaran perasaanku terhadapnya?” tanya Do Kyung balik.

“Ya. Satu gerakan kecil bisa membuat sahabatku bahagia atau menderita.” Jawab Gi Jae.

“Ada yang lebih memilih menderita daripada bahagia?” tanya Do Kyung.

Ponsel Do Kyung berdering. So Ra yang menelpon, mengajaknya bertemu. Do Kyung bilang, dia sudah ada janji tapi So Ra menyuruh Do Kyung membatalkan janjinya.


So Ra dan Do Kyung bertemu di arena ice skating.  Do Kyung mengaku, sudah punya firasat kalau So Ra akan mengajaknya bertemu di sana. So Ra lantas berkata, sudah membawakan 3 sepatu dengan ukuran berbeda.  Do Kyung bilang, di tempat itu juga menyewakan sepatu.

“Untuk apa memakai sepatu bekas orang lain?” jawab So Ra.

So Ra lalu berkata, suka melihat sisi Do Kyung yang tidak terduga.


Do Kyung mengajari So Ra meluncur. So Ra mengaku, ia tidak pernah bermain ice skating sejak SD. Do Kyung terus mengajari So Ra. Saat So Ra mulai meluncur sendirian, seseorang tak sengaja menyenggol So Ra.  So Ra hampir terjatuh. Do Kyung pun dengan sigap memegangi So Ra sebelum So Ra jatuh. So Ra pun tersenyum.


Dalam perjalanan pulang, Do Kyung menyuruh pulang. Do Kyung yakin, badan So Ra terasa pegal. Karena itulah, ia menyuruh So Ra pulang agar So Ra bisa istirahat tapi So Ra malah membahas hal lain.

“Wanita itu, kau akan terus menemuinya atau putus dengannya?” tanya So Ra.

“Apa maksudmu?” tanya Do Kyung heran.

“Saat menikah, kita harus punya anak. Bukankah tidak adil jika menikahiku tapi masih menemui wanita lain? Baik secara fisik maupun emosional.” Jawab So Ra.

“Aku tidak mengerti.” Ucap Do Kyung.

“Ada seorang wanita. Yang kau cintai.” Jawab So Ra.

“Kau suka menyimpulkan sendiri.” Ucap Do Kyung.
“Aku tidak gegabah. Saat bertemu denganku kemarin, matamu menyiratkan sesuatu. Jadi, hari ini aku mengetesmu.” Jawab So Ra.

“Dalam hal apa?” tanya Do Kyung.

“Kau akan menyentuhku atau tidak. Sejujurnya, saat masih SD aku atlet seluncur indah. Kau terlalu berhati-hati saat hendak menyentuhku. Kau tidak ingin menyentuhku. Saat pria seperti itu, berarti dia memikirkan wanita lain. Aku tidak ingin berpura-pura menikah.” Jawab So Ra.

“Kurasa pikiranmu terlalu jauh.” Ucap Do Kyung.

“Kau memanggilku Nona Jang sepanjang hari. Kau juga memanggilnya seperti itu?” tanya So Ra, membuat Do Kyung terdiam.


Habis mengantar So Ra, Do Kyung langsung menemui Gi Jae.  Do Kyung menanyakan lagi, apa yang dibilang Gi Jae padanya saat acara Haesung waktu itu. Gi Jae tidak mengerti maksud Do Kyung. Do Kyung bilang, cara dia menatap Ji An.

“Mukamu masam, kau tampak sedih, lalu tiba-tiba tersenyum. Begitulah kau saat itu.”jawab Gi Jae.

“Sungguh separah itu?” tanya Do Kyung.

“Kenapa membicarakan Ji An setelah menemui So Ra?” tanya Gi Jae.

“So Ra bilang aku punya wanita lain. Dia bilang aku jatuh cinta. Dia ingin aku membereskan urusanku dengannya dahulu.” Jawab Do Kyung.

“Bagaimana dia tahu?” tanya Gi Jae.
“Mataku menyiratkan aku jatuh cinta.” Jawab Do Kyung.


 “Di AS dia menjadi cenayang?” tanya Gi Jae.

“Maka itu. Bagaimana dia bisa tahu? Bagaimana ekspresiku? Aku melakukan apa? Bagaimana So Ra bisa tahu?” tanya Do Kyung bingung.

“Do Kyung-ah, kau barusan bertanya bagaimana So Ra bisa tahu.” jawab Gi Jae.

Do Kyung pun terdiam menyadari pertanyaannya.


Ji Soo dan Ji An bertemu di sebuah kafe. Ji Soo pun protes karena Ji An sudah memesankan minuman untuknya tanpa bertanya padanya dulu.

“Caffe mocha.” Jawab Ji An.

“Kau bahkan mengingat hal tidak penting.” Ucap Ji Soo.

Ji An lantas menyuruh Ji Soo bicara. Ji Soo bertanya, kenapa Ji An tidak pulang.

“Katakan yang ingin kau sampaikan. Jangan menanyaiku.” Jawab Ji An.

“Aku datang untuk menanyaimu, tapi kau malah melarang.” Ucap Ji Soo.


“Jangan menanyakan hal yang berkaitan denganku. Aku hanya akan menjawab pertanyaan yang berkaitan denganmu.” Jawab Ji An.

“Saat mengetahui ternyata bukan dirimu, kenapa tidak langsung memberitahuku?” tanya Ji Soo.

“Aku tidak bisa memercayaimu. Kalau kau tahu, kau pasti akan marah dan menuduh kami mengkhianatimu.” Jawab Ji An.

“Bisa-bisanya kamu berpikir begitu.” protes Ji Soo.

“Fakta bahwa kau memukulku, membuktikan bahwa aku benar.” jawab Ji An.

“Aku menamparmu karena kau tidak memercayaiku. Andaikan kau memberitahuku, aku bisa membantumu.” Ucap Ji Soo.

“Orang tuaku mengirimku ke rumahmu. Kau tidak merasa dikhianati? Apa kau akan memahami ayah dan ibu? Apakah itu alasanmu pergi ke rumah itu?” tanya Ji An.


“Aku pergi ke sana bukan karena uang.” Jawab Ji Soo.

“Ada lagi yang ingin kau sampaikan?” tanya Ji An.

“Sebelum pergi, kau hanya menemuiku. Kenapa kau hanya menemuiku? Hari itu, kau hanya menemuiku.” Ucap Ji Soo.

“Kau ingin tahu alasannya sekarang? Kau tidak ingin tahu hari itu?” tanya Ji An kecewa.

“Aku syok, jadi, sikapku berlebihan.” Jawab Ji Soo.


“Hari itu, aku punya alasan untuk menemuimu seorang. Ada yang ingin kusampaikan hari itu. Tapi sekarang tidak ada. Tidak ada alasan untuk mengatakannya sekarang.” ucap Ji An.

“Apa yang ingin kau sampaikan?” tanya Ji Soo.

“Tidak ada alasan untuk mengatakannya sekarang, jadi, aku akan diam.” Jawab Ji An.

“Bisa-bisanya kamu bilang begitu.” protes Ji Soo.

“Hanya itu saja yang mau kau tanyakan?” tanya Ji An.

“Kau belum menjawab.” Protes Ji Soo.

“Aku pamit.” Jawab Ji An, lalu bangkit dari duduknya.

“Eonni!” panggil Ji Soo.


“Aku bukan kakakmu. Sesungguhnya, kau lebih tua. Kau tahu itu? Eun Seok lahir bulan Maret, sedangkan Ji Soo dan aku lahir bulan Desember. Kau jauh lebih tua. Aku bersikap seperti kakak karena berpikir aku terlahir tiga menit lebih dahulu. Tapi sebenarnya, kau lebih tua. Jangan berani-berani memanggilku kakak.” Jawab Ji An.

“Kau tidak ingin aku menghubungimu lagi?” tanya Ji Soo.

“Saat menamparku sebelum mendengar penjelasanku, aku tahu kita sudah selesai.” Jawab Ji An.

“Aku tidak ke sana karena uang.” Ucap Ji Soo.

“Aku tidak peduli apa alasanmu pindah ke sana. Bukan itu yang kupedulikan. Kini kita sudah tidak punya urusan. Itu maksudku. Kini kita orang asing.” Jawab Ji An.


Ji An pun pergi. Ji Soo menangis dan menyusul JI An. Tapi Ji An tetap berlalu sambil berusaha menahan tangisnya.


Tuan Seo berdiri di depan rumah lamanya dan teringat masa lalunya.

Flashback…


Tuan Seo terpaksa minum demi menyenangkan rekan bisnisnya. Setelah kembali ke rumah, Tuan Seo membawakan hadiah mahal untuk keluarganya. Tuan Seo tersenyum melihat senyum yang terukir di bibir keluarganya.


Bisnis Tuan Seo kemudian bangkrut, tapi ia tetap ingin membahagiakan Ji An dan Ji Soo yang saat itu menginginkan baju ski baru.

Flashback end…


Ji An kembali ke toko perabotan dan mendapati bossnya lagi membuat produk baru. Boss nya bilang, jika tidak ada kegiatan setelah bekerja, ia iseng membuat beberapa barang dan bisa dijualnya online untuk pendapatan tambahan.

“Anda mendesainnya juga?” tanya Ji An.

“Tidak, Pak Sunwoo mendesain semuanya. Saat bosan, dia menggambar hal aneh dan memberikannya kepadaku.” Jawab si boss.

“Itu kayu walnut Amerika Selatan.” Seru Ji An.

Si boss takjub mengetahui Ji An tahu banyak soal kayu. Boss lalu meminta Ji An membantunya mengamplas kayu jika Ji An tidak keberatan. Ji An pun langsung bersemangat.


Nyonya No senang menerima kabar tentang So Ra dan Do Kyung. Ia bahkan berencana mengadakan makan malam. Saat tengah asyik berbincang tentang Do Kyung dan So Ra, Ji Soo pulang. Melihat Ji Soo makan sambil jalan, Nyonya No langsung menyudahi pembicaraannya dan menyuruh Ji Soo duduk.


“Bisa-bisanya kau makan itu di pinggir jalan. Kau wanita berusia 28 tahun.” Tegur Nyonya No.

“Itu karena aku stres. Saat stres, aku makan.” Jawab Ji Soo.

“Setidaknya kau harus makan di rumah. Ibu akan menyiapkan tutor untuk mengajarimu tata krama.” Ucap Nyonya No.

“Tata krama?” tanya Ji Soo.

“Mungkin kau nyaman dengan cara hidupmu selama ini. Tapi yang selama ini kau kira nyaman ternyata tidak tahu tata krama.” Jawab Nyonya No.

“Aku tidak sopan karena makan sesukaku?” tanya Ji Soo.

“Tentu saja. Kenapa kalian begitu berbeda? Caranya membesarkanmu sungguh berbeda.” Jawab Nyonya No.

“Siapa? Maksudnya ibuku?” tanya Ji Soo.

“Benar, aku membicarakan Yang Mi Jung.” Jawab Nyonya No.


Ji Soo pun mulai kesal. Ji Soo bilang, ibunya tidak pernah pilih kasih.

“Bagaimana mungkin dia tidak memperlakukanmu berbeda? Dia mengirim putrinya kemari. Bukankah itu cukup? Dia ingin putrinya hidup sejahtera.” Ucap Nyonya No.

“Dia melakukan itu, tapi tidak membesarkanku secara berbeda. Dia sungguh tidak begitu.” jawab Ji Soo.

“Tapi kau bukan putri kandungnya. Mustahil dia memperlakukan kalian dengan sama. Dia tidak memperlakukanmu dan membesarkanmu dengan baik. Karena itulah dia mengirimmu ke SMK. Dia tidak peduli dengan nilai-nilaimu.” Ucap Nyonya No.

“Sudah kubilang bukan itu. Keadaannya tidak begitu!  Ibuku berusaha keras agar aku belajar. Nilaiku jelek karena aku bodoh.” Jawab Ji Soo.

“Kenapa kau bodoh?” tanya Nyonya No.

“Nilaiku jelek karena aku bodoh.” Jawab Ji Soo.

“Kau tahu betapa pintarnya kakakmu dan Seo Hyun?” tanya Nyonya No.


“Ibuku menyiapkan tutor khusus untukku sebelum ayahku bangkrut. Ada tiga tutor. Dia menghabiskan 1.500 dolar sebulan untuk itu. Hanya aku yang mendapat pelajaran karena aku amat bodoh. Ji An mempelajari seni karena dia pintar. Ibu bilang akan mempekerjakan tutor untuk Ji An setelahnya.” Jawab Ji Soo.

“Benarkah?” tanya Nyonya No kaget.
“Bukan hanya itu. Dia tahu aku suka makan. Dia selalu membelikanku sosis, biskuit, dan mangga kering impor. Dia memastikan stoknya tidak pernah habis. Ibuku juga tidak pernah membandingkanku dengan Ji An. Dia tidak pernah mengungkit betapa pintarnya Ji An. Pakaianku lebih banyak daripada Ji An. Dia memperlakukanku lebih baik dalam segala hal.  Apa dia mengasihaniku karena memungutku dari jalanan?” jawab Ji Soo.

Tangis Ji Soo pun pecah. Nyonya No membeku melihat tangis Ji Soo.


Di restoran, Nyonya Yang sedang melihat foto2 Ji Soo di ponselnya. Dan foto terakhir yang dilihatnya adalah foto Ji Soo dan Ji An.

“Meski dia pergi dari rumah karena marah, kukira dia akan menghubungiku setidaknya setelah sepekan. Kini dia bersama keluarga kandungnya. Kurasa dia hidup bahagia bersama keluarga kaya.” Ucap Nyonya Yang.


Tuan Seo berada di pinggir Sungai Han dan bicara sendiri.

“Hei, Yang Mi Jung!  Kau bilang tidak bisa memercayaiku lagi? Kau memercayaiku jika uangku banyak, dan kau tidak memercayaiku jika aku tidak punya uang? Kau tidak ingat keadaanku sebelum bangkrut? Baru 10 tahun berlalu!” teriak Tuan Seo.


Tuan Seo kemudian ingat kata-kata Ji Tae saat Ji Tae bertengkar dengan Soo A di pinggir jalan.

“Aku tidak ingin mewariskan kemiskinanku kepada anak-anakku. Karena itulah aku tidak ingin menikah.”

“Seo Ji Tae, dasar berandal. Kau kuliah tahun kedua saat kita bangkrut. Sebelumnya kau hidup dengan baik, bukan?” tanya Tuan Seo.


Setelah itu, Tuan Seo ingat kata-kata Ji An saat mereka bicara di taman setelah Ji An memutuskan pindah ke rumah Haesung.

“Aku amat menderita. Aku ingin mati setiap hari. Di dunia ini, tidak cukup jika hanya bekerja keras.”

“Ayah juga sudah melewati itu. Bagi ayah pun tidak cukup jika hanya bekerja keras.” Ucap Tuan Seo.


Tuan Seo juga ingat kata-kata Ji Soo saat Ji Soo memutuskan pindah ke rumah Haesung.

“Jangan mengikutiku. Tidak ada yang berhak melihatku pergi.” Ucap Ji Soo dengan tatapan terluka.

“Ji Soo-ya, maaf karena kami mengambilmu. Maaf karena membuatmu menjadi putri ayah. Tapi tetap saja, kau adalah putri ayah selama 25 tahun. Tidak bisakah mendengarkan ayah setidaknya sekali saja?” tanyanya.


Tuan Seo kembali meneggak sojunya.

“Sejak aku menikah, yang kulakukan hanya bekerja keras. Aku hanya bekerja. Semuanya menjadi kacau 10 tahun lalu. Yang Mi Jung,  24 tahun itu tidak berarti bagimu? Seo Ji Tae,  23 tahun itu tidak berarti bagimu? Seo Ji An,  17 tahun itu tidak berarti bagimu? Ji Soo,  kau juga sama. Kau masih hidup, jadi, ayah mencemaskan Ji An karena dia bisa saja tewas.” Ucap Tuan Seo.


Tuan Seo kemudian ingat saat Nyonya Yang mengeluhkan hidup mereka setelah berbohong pada keluarga Haesung dengan mengatakan Ji An adalah Eun Seok.

“Sudah 10 tahun berlalu sejak aku bangkrut. Yang Mi Jung, pernahkah kau menghiburku sejak kejadian itu? Ji Tae, Ji An-nie, Ji Soo, pernahkah kalian memeluk ayah?” tanyanya.


Tuan Seo lalu berkata, kalau dia adalah ayah yang buruk.

“Seo Tae Soo, kau gagal dalam hidupmu. “ ucap Tuan Seo.



Ji Tae mengajak Soo A membeli sebuah kulkas kecil. Soo A setuju dan mengajak Ji Tae membeli mesin pembuat kopi serta ketel listrik juga. Soo A bilang, kalau ada ketiga barang itu, mereka akan merasa seperti tinggal di rumah sendiri. Mereka tidak perlu turun ke bawah kecuali untuk mandi.

“Ayo beli.” Ajak Ji Tae.

“Apa kau tahu?  Orang-orang yang tidak beruntung soal orang tua harus hidup tegar.” Ucap Soo A.

“Aku mencoba menghilangkan kebiasaanku sebagai putra tertua.” Jawab Ji Tae.

“Aku tidak membicarakanmu. Maksudku, orang-orang seperti kita yang tidak beruntung jika menyangkut orang tua. Jika terus berusaha merawat keluarga kita, kita tidak akan bisa menikmati hidup.” ucap Soo A.

“Kau benar. Tapi mereka menyayangiku dan aku terikat pada mereka. Tidak mudah meninggalkan mereka.” Jawab Ji Tae.

“Aku menyadarinya sekali lagi. Melihat orang tuamu membuatku berpikir keputusan kita tidak punya anak adalah pilihan bijaksana.” Ucap Soo A.

“Aku juga merasa begitu.” jawab Ji Tae.


Ji An menatap patung keluarganya.  Tak lama kemudian, ia mengambil patung Ji Soo dan menyimpannya di laci.


Ji Soo tak bisa tidur. Tapi ia pura2 tidur begitu seseorang mengetuk pintu kamarnya. Saat mendengar suara ayahnya, Ji Soo pun menyuruh ayahnya masuk dan bangkit dari tempat tidur.

“Kau besok libur, bukan?” tanya Tuan Choi. Ji Soo mengiyakan.

“Lantas, ayo berkencan dengan ayah.” ajak Tuan Choi.

“Kau pasti tidak punya janji untuk siang dan malam sekaligus. Makanlah dengan ayah sekali. Makan siang atau malam?” tanya Tuan Choi.

“Aku akan makan siang dengan ayah.” jawab Ji Soo.

“Baiklah. Kau menyukai roti. Ayo makan pasta dan pizza.” Ajak Tuan Choi.


Keesokan harinya, Seohyun protes karena sudah dibangunkan ayahnya pagi2 padahal dia tidak ada kelas, sedangkan Ji Soo masih boleh tidur saat libur. Nyonya No pun menegur Seohyun. Seohyun langsung minta maaf dengan wajah sedih.

“Do Kyung-ah, kau perlu bertindak. Kau harus menenangkan dan membimbingnya. Sikapnya tidak bisa cepat diubah, tapi setidaknya, gelagatnya harus diubah.” Ucap Nyonya No.

“Dia tidak akan terbuka kepada kita semudah itu.” jawab Do Kyung.

“Biarkan saja dia. Kita orang tuanya. Kita yang harus membuka hatinya.” Ucap Tuan Choi.


“Omong-omong, bagaimana jadinya? Kita akan membuat pengumuman pada hari jadi perusahaan. Tapi itu untuk Ji An.” Ucap Seohyun.

“Maaf ibu belum memberitahumu. Kami memutuskan mengubah tanggalnya. Tidak akan ada pengumuman tentang dia juga.” jawab Nyonya No.

“Kapan hari jadi yang sebenarnya?” tanya Seohyun.

“Tanggal 7 Desember.” Jawab Nyonya No.

“7 Desember? Ada konser kelulusan pada hari itu.” ucap Seohyun.


Semua terkejut. Seohyun bertanya lagi.

“Jadi, kalian tidak akan menghadiri konserku?  Kak Do Kyung juga?” tanya Seohyun.

“Maafkan ibu, Seohyun-ah. Semua ini rencana kakekmu. Kami tidak punya pilihan.” Jawab Nyonya No.

“Kami akan menghadiri konsermu setelah acara itu.” ucap Tuan Choi.

“Ibu menyuruhku berlatih keras karena ibunya So Ra dan keluarga New World akan datang. Jadi, mereka juga tidak akan datang?” tanya Seohyun.


“Kita tidak bisa meminta mereka datang jika keluarga kita saja tidak menghadirinya.” Jawab Do Kyung.

“Maafkan ayah, Seohyun-ah.” Ucap Tuan Choi.


Tangis Seohyun pecah. Ia sedih karena keluarganya melupakan hari kelulusannya.

“Ada masalah yang lebih rumit di keluarga ini. Kau sudah cukup dewasa untuk bisa memahaminya.”  Ucap Nyonya No.

“Aku mengerti. Maafkan aku.” jawab Seohyun kecewa.


Do Kyung menatap sedih adiknya. Ia mengerti perasaan adiknya.


Do Kyung hendak masuk ke kamar, tapi Seketaris Min memanggilnya untuk menyerahkan tas JI An. Seketaris Min cerita, Ji An meninggalkan tasnya saat terakhir kali Ji An datang ke rumah mereka.


Flashback…

Tuan Choi marah besar setelah mengetahui fakta Eun Seok yang sebenarnya. Ia menuduh Ji An ikut bersekongkol menipu keluarganya hanya karena Ji An sudah tahu dia bukan Eun Seok. Tuan Choi mengusir Ji An. Ji An yang ketakutan, pergi begitu saja meninggalkan kediaman Haesung dan melupakan tasnya.

Flashback end…


Do Kyung menerima tas itu. Ia lalu masuk ke kamar, kemudian membuka tas Ji An dan menemukan dompet serta ponsel Ji An di sana.

“Dia pergi tanpa uang.” Ucap Do Kyung dan menggenggam erat ponsel Ji An.

Bersambung ke part 2…

No comments:

Post a Comment