Wednesday, January 3, 2018

My Golden Life Ep 33 Part 1

Sebelumnya...


어소 데로ㅘ/Eoso derowa. Ucap Do Kyung sambil tersenyum dan melambaikan tangannya pada Ji An.


Sontak, Ji An dan Hyuk terkejut. Ji An mendekati Do Kyung dan bertanya bagaimana bisa Do Kyung ada di kosnya. Yong Gook pun menyuruh mereka menyapa Do Kyung dan memperkenalkan Do Kyung sebagai temannya. Yong Gook juga bilang kalau Do Kyung akan tinggal bersama mereka mulai hari itu.


Dia temanmu? tanya Hyuk kaget.

Ada sebuah grup bernama N-Gaon yang kami buat saat di tingkat tiga. Jawab Yong Gook.

Meski Yong Gook pergi usai mengikuti wajib militer. Tambah Do Kyung.


Kupikir kau akan pergi ke kantor cabang di Eropa. Ucap Ji An. Ji An pun penasaran, kenapa Do Kyung mau tinggal bersama mereka.

Dan, Do Kyung teringat saat bertemu Yong Gook di depan rumah tadi. Ia langsung mengajak Yong Gook bicara.


Flashback...

Yong Gook terkejut mendengar cerita Do Kyung. Do Kyung bilang, ia diusir saat mengatakan mau hidup sendiri. Yong Gook pun teringat cerita Hyuk tentang cucu konglomerat yang putus asa mencari seorang gadis biasa. Ia juga ingat saat Ji An meminta bantuan Hyuk menyiapkan acara ulang tahun Haesung.

Tidak kusangka kau melakukan ini. Ucap Yong Gook.

Itu sebabnya sekarang aku tidak punya tujuan. Jawab Do Kyung.

Lantas apa rencanamu? tanya Yong Gook.

Aku akan mencari pekerjaan paruh waktu. Aku harus menghasilkan uang. Jawab Do Kyung.

Lantas? tanya Yong Gook.

Aku akan mencari investor. Jawab Do Kyung.

Kau punya barang? tanya Yong Gook.

Ada, jika tidak berhasil aku akan mencarinya. Jawab Do Kyung.

Kakekmu tidak mudah dihadapi, apa kau akan baik-baik saja? tanya Yong Gook.

Yong Gook-ah, pikirmu mudah bagiku melakukan ini? jawab Do Kyung.

Flashback end...


Yong Gook mengatakan, mereka tidak sengaja bertemu dan Do Kyung memiliki sebuah alasan, jadi ia mengajak Do Kyung tinggal bersama mereka.

Ji An pun mengajak Do Kyung bicara diluar. Ia juga menyuruh Do Kyung membawa tasnya sekalian.

Kenapa kau memerintahku? ucap Do Kyung, lalu berjalan keluar duluan tanpa membawa tasnya.


Sementara, Hyuk mengajak Yong Gook bicara di kamar. Hyuk bilang, Do Kyung tidak boleh tinggal bersama mereka. Hyuk berkata, kisah yang pernah ia ceritakan pada Yong Gook adalah kisah Do Kyung dan Ji An.

Apa hubungannya denganku? tanya Yong Gook, membuat Hyuk heran.

Seseorang mengganggu kehidupan cintamu? tanya Yong Gook.

Bukan seperti itu. Ji An akan menderita karena ini. Jawab Hyuk.

Itu terserah Ji An. Ucap Yong Gook.

Hyung! protes Hyuk.


Hyuk-ah,  mereka menjalani hidup masing-masing. Tapi aku menyukai fakta bahwa Do Kyung membuat pilihan itu. Jawab Yong Gook.

Fakta dia pindah kemari demi Ji An? tanya Hyuk.

Bukan, dia meninggalkan keluarganya dan kini tidak punya tempat tinggal. Jawab Yong Gook.

Hyuk pun kaget.


Ji An minta penjelasan Do Kyung kenapa Do Kyung tidak jadi pindah ke kantor cabang di Eropa. Do Kyung bilang, ia tidak pernah mengatakan akan pindah.

Itu yang kau yakini. Ucap Do Kyung.

Saat kubilang melihat pengumumannya dan saat kutanya apa itu akhir dari pertemuan kita, kau tidak mengatakan apapun. Jawab Ji An.

Kau bilang akan makan denganku. Kurasa aku beruntung. Ucap  Do Kyung.

Bisa-bisanya kau berbohong dan pergi makan. Protes Ji An.

Aku sudah siap kau pukuli. Tapi aku menyukainya. Itu menyenangkan. Jawab Do Kyung.

Choi Do Kyung-ssi. Protes Ji An.


Aku suka melihat wajah tenangmu. Itu kencan pertama kita. Jawab Do Kyung.

Itu bukan kencan. Itu hari terakhirmu, jadi aku bersikap baik. Ucap  Ji An.

“Aku tahu, tapi aku melihat kau bersikap tulus hari itu. Aku senang.” Jawab Do Kyung.

“Aku tidak tulus. Karena itu kali terakhir.” Ucap Ji An.

“Semuanya tetap sama.” Jawab Do Kyung.

“Kau benar-benar menipuku. Tapi ini tidak akan memengaruhi apa pun. Kau pasti berniat datang ke sini sesuka hatimu karena ini rumah temanmu.” Ucap Ji An.

“Kini aku hanya punya 80 dolar. Aku diusir tanpa membawa apa pun. Aku tidak bisa berfokus kepadamu. Dengan kata lain, aku tidak sanggup mengusikmu. Kau tidak perlu khawatir.” Jawab Do Kyung.


“Kau memberi tahu keluargamu tentang aku?” tanya Ji An.

“Pikirmu aku sudah gila? Itu hanya akan menyebabkan masalah.” Jawab Do Kyung.

“Lantas, kenapa kau diusir?” tanya Ji An.

“Mereka mengusirku saat kubilang aku akan memulai bisnis sendiri. Tidak ada hubungannya denganmu.” Jawab Do Kyung.

“Hidup mandiri? Kenapa kau tiba-tiba ingin hidup mandiri?” tanya Ji An.

“Aku ingin menghasilkan uang sendiri. Tadinya aku mau berkeliaran di sekitarmu agar kau memercayaiku dan menyadari tulusnya perasaanku. Tapi itu tidak berjalan sesuai rencana. Jadi, prioritasku sekarang adalah kembalinya diriku dan kemandirian.” Jawab Do Kyung.


Do Kyung lantas mengaku, kalau ia ingin tinggal bersama Ji An karena tidak rela Ji An dan Hyuk tinggal mereka.

“Kau sudah gila.” Ucap Ji An.

“Kau boleh berkata begitu.” Jawab Do Kyung.

“Hentikan dan kembalilah.” Suruh Ji An.

“Maukah kau berkencan denganku jika aku kembali?” tanya Do Kyung, membuat Ji An terdiam.

“Kau tidak boleh memerintahku jika tidak mau melakukan itu.Kau juga tidak berhak memintaku.” Ucap Do Kyung.

“Semua ini karena aku.” Jawab Ji An.


“Aku tidak pernah bilang kau satu-satunya alasan. Perlakukan aku sebagai bagian dari rumah kos. Aku pun begitu. Kau tidak berharap aku akan membahas cinta hanya dengan 80 dolar, bukan?” ucap Do Kyung.

Do Kyung pun pura2 kedinginan agar Ji An tak bertanya lagi. Ia mengajak Ji An masuk dan mulai berjalan duluan. Ji An mengikuti Do Kyung tapi nyaris jatuh karena tiba-tiba Do Kyung berbalik menatapnya. Do Kyung pun langsung memegangi Ji An dengan satu tangannya. Do Kyung menatap Ji An dengan intens.

“Kau juga tidak boleh makin dekat dengannya.” Ucap Do Kyung.

Ji An pun langsung berdiri, Itu bukan urusanmu.

“Baiklah. Jangan hiraukan aku juga. Aku tidak punya tempat tinggal.” Jawab Do Kyung, lalu masuk duluan.


Sampai di dalam, Yong Gook menyuruh Do Kyung tidur di kamarnya.

“Aku akan menginap di rumah orang tuaku. Kau bisa memakai kamarku bersama Hyuk.” Ucap Yong Gook.

Yong Gook lalu meminta Do Kyung membayarnya 30 dollar. Semula, Do Kyung ingin membayar dengan uang pas tapi karena Do Kyung membutuhkan uang kecil untuk naik bus, akhirnya ia meminta kembaliannya. Setelah memberikan kembalian uang Do Kyung, Yong Gook pun pergi dan Do Kyung masuk ke kamar Yong Gook.


“Choi Do Kyung sungguh luar biasa. Tidak kusangka dia dan Yong Gook berteman.” Ucap Hyuk.

“Maafkan aku. Kau bahkan harus berbagi kamar dengan dia karena aku.” Jawab Ji An.

“Kau mau berpura-pura berkencan?” tanya Hyuk.

Ji An pun kaget, apa?

“Aku mencemaskan hal yang akan menimpamu saat Perusahaan Haesung mengetahui dia melakukan ini karena dirimu. Bukankah itu cara termudah untuk membuatnya menyerah?” jawab Hyuk.

“Kau mau mengencaniku?” tanya Ji An.

“Bukan itu maksudku.” Jawab Hyuk.


“Aku bersedia melakukan itu jika hal itu bisa membuatnya menyerah. Tapi itu tidak mungkin. Jangan cemas. Dia tidak akan bertahan lama. Dia bahkan tidak akan bertahan sampai beberapa hari. 50 dolar? Dia belum pernah menaiki bus. Dia belum pernah mengatur meja makan. Mana bisa dia hidup tanpa uang?” ucap Ji An.

“Bagaimana denganmu? Kau akan baik-baik saja?” tanya Hyuk.

“Kenapa aku tidak baik-baik saja? Aku tidak akan memperhatikannya. Dia bilang juga akan begitu.” Jawab Ji An.


Hee pun pulang. Melihat kakaknya pulang, Hyuk pun langsung menanyakan kondisi Boss Kang. Hee bilang, kalau kondisi Boss Kang sudah membaik. Ji An berniat memasakkan sesuatu untuk Hee.

“Tidak usah, Ji An-ssi.  Aku sudah memastikan apa bisa memasak bubur sayuran besok. Kemarin dia hanya bisa memakan bubur.” Jawab Hee.

“Kakak berkemas untuk pergi. Apa kakak tidak jadi pergi?” tanya Hyuk.


Ji An pun menggoda Hee dengan mengatakan kisah cinta Hee dan Boss Kang sangat menyentuh hati.

“Itu tidak menyentuh sama sekali. Astaga, aku malu.” Jawab Hee.

“Ayolah. Tidak perlu malu soal cinta.” Ucap Ji An.

“Jadi, Kakak akan tinggal di mana? Kakak harus menikah.” Jawab Hyuk.

“Benar. Kakak tidak bisa membiarkannya tinggal sendirian. Saat melihat kamarnya, kakak hampir menangis. Kamarnya Nam Goo seperti kapal pecah.” Ucap Hee.


“Kakak berencana tinggal di sana setelah menikah? Tidak mau mencari tempat baru?” tanya Hyuk.

“Kenapa harus begitu? Rumahnya memang gersang dan perlu diperbaiki, tapi toko rotinya ada di sana dan itu akan memakan waktu lama.” Jawab Hee.

“Kalau begitu, aku akan memperbaikinya.” Ucap Hyuk, membuat Hee senang.


Hyuk masuk ke kamar dan terkejut mendapati Do Kyung tidur di kasurnya. Ia protes, tapi Do Kyung tidak mau turun. Do Kyung bilang itu kasurnya Yong Gook.

“Tapi aku tinggal di sini sebelum kau datang.” Ucap Hyuk.

“Itu tidak adil. Mari jangan meributkan itu. Yang lebih dahulu datang, bisa tidur di atas kasur. Mari matikan lampunya, Aku lelah dan mau tidur.” Jawab Do Kyung.

“Sekarang belum pukul 22.00.” ucap Hyuk.

“Benarkah? Lantas, nyalakan saja lampunya.” Jawab Do Kyung, lalu tidur.


Di kamar, Nyonya No dan Tuan Choi membahas Do Kyung. Nyonya No berusaha meyakinkan dirinya kalau Do Kyung tidak akan bertahan lama hidup diluar. Tuan Choi diam saja.

“Kenapa kau tidak menjawabku?” tanya Nyonya No.

“Karena aku tidak mengetahui jawabannya.” Jawab Tuan Choi.

“Semua hal berjalan sesuai rencana kita.” Ucap Nyonya No, lalu beranjak ke kamar mandi.

“Sesuai rencana kita?” gumam Tuan Choi.


Di kamar mandi, Nyonya No terkejut melihat letak sikat giginya berubah. 




Nyonya No pun langsung keluar dari kamar membawa sikat giginya dan menegur Seketaris Min.

“Kenapa kau membuat kesalahan? Sikat gigi suamiku yang hitam dan punyaku yang merah. Kau sudah lama bekerja di sini. Kenapa masih bisa tertukar? Aku sudah merasa stres karena Do Kyung.”

“Aku tidak mengganti sikat giginya.” Jawab Seketaris Min.

“Jika bukan kau, siapa lagi yang masuk ke kamar mandi kami?” tanya Nyonya No.


Di lantai atas, Ji Soo yang sedang mengobati lukanya teringat kata-kata Hyuk yang menyuruhnya menghubungi Hyuk jika ada hal mendesak. Ji Soo juga ingat saat Hyuk memberinya talenan.

“Dia bilang aku bisa menghubunginya. Dia bahkan membuatkanku talenan. Dia bersikap baik kepadaku belakangan ini. Apa ini bagian dari delusiku?” gumam Ji Soo.

Seketaris Min naik ke lantai atas dan memanggil2 Seohyun. Ji Soo langsung berdiri dan heran sendiri melihat Seketaris Min memanggil Seohyun dengan panic.


Di lantai bawah, Seohyun disidang orang tuanya. Seohyun membela diri. Ia bilang, hanya ingin mencari tahu kenapa ia diperlakukan berbeda dari Ji An dan Ji Soo.

“Tidak ada yang memperhatikanku, tapi kalian membiarkan Ji Soo melakukan sesuka hatinya. Kupikir kalian bisa saja mengadopsiku setelah kehilangan Kak Eun Seok. Selama ini aku menjalani hidup sambil mematuhi perintah kalian, tapi kalian melupakan konser kelulusanku. Kalian bahkan lupa bahwa kalian melupakan tentang konser itu. Aku seperti tidak dianggap di rumah ini.” Ucap Seohyun.

Nyonya No pun marah.

“Kenapa pikiranmu dangkal sekali? Kami membesarkanmu sebagai putri kami yang sempurna, tapi Ji Soo...

“Aku terlalu banyak kekurangan?” tanya Ji Soo memotong kata-kata Nyonya No.

“Seo Hyun itu putri yang sempurna. Ji An lebih pintar dariku dan beradaptasi dengan baik. Tapi Ibu berharap aku bukan putri Ibu karena aku tidak cukup baik. Itukah sebabnya Ibu melakukan tes DNA dengan sikat gigiku?” tanya Ji Soo.


“Ji Soo, itu tidak benar.” Jawab Tuan Choi.

“Bahkan Kakek mengatakan itu. Sebesar itukah harapan Ibu bukan aku orangnya?” tanya Ji Soo.

“Aku hanya enggan mengulangi kesalahan yang sama.” Jawab Nyonya No.

“Duduklah. Dengarkan penjelasan kami.” Pinta Tuan Choi.


“Ibu bahkan tidak menyambutku.” Ucap Ji Soo yang tangisnya mulai pecah.

“Ibu terlalu terkejut. Ibu menerima Ji An sebagai putri ibu setelah 25 tahun. Memang ibu mengalami kesulitan. Ibu menumpahkan kasih sayang yang terpendam selama 25 tahun. Tapi setelah kau datang, ibu mencoba untuk melupakannya. Bahkan setelah mengetahui bahwa dia menghilang, ibu tidak mencoba mencarinya.” Jawab Nyonya No.

“Ibu seharusnya bertanya kepadaku. Dia sudah kembali.” Ucap Ji Soo.


Mendengar Ji An sudah kembali, Nyonya No tersenyum lega tapi ia buru-buru menarik senyumnya dan berusaha menjelaskan, tapi Ji Soo yang sudah terlanjur kecewa tidak mau mendengar penjelasan apapun.

“Maaf karena aku yang menjadi putri kandung Ibu.” Ucap Ji Soo, lalu lari ke atas.


Tuan Choi mengejar Ji Soo. 


Sementara Seohyun protes melihat Tuan Choi yang lari mengejar Ji Soo.


Ji Soo menangis di kamarnya. Ia bahkan tidak membuka pintu kamarnya saat sang ayah memanggilnya.


Di bawah, Nyonya No memberi penjelasan pada Seohyun.

“Setelah kehilangan Eun Seok, ibu berusaha keras membesarkanmu sebagai putri terbaik Haesung. Ibu selalu mengawasimu dengan saksama dan mengajarimu tata krama terbaik. Ibu mengajarimu seperti yang nenekmu ajarkan. Saat Ji An datang, ibu lebih memperhatikan dia karena harus mengajarinya tentang tata krama setelah menghilang selama 25 tahun. Seperti yang kau ketahui, Ji Soo menjalani kehidupan seenaknya dan ibu harus memperbaikinya. Dia juga mudah marah. Demi menjadikannya sepertimu...” ucap Nyonya No.

“Seo Hyun-ah...” lanjut Nyonya No, “Kau mau menjadi seperti Ji Soo?”

“Aniyo.” Jawab Seohyun.
“Ibu merasa aneh melihatmu berubah banyak seperti ini. Ibu mengerti. Konser kelulusanmu memang acara penting, tapi ada acara yang lebih penting. Kami harus memperlihatkan Eun Sok pada hari jadi itu. Ji Soo melarikan diri dari acara itu dan kini Do Kyung pergi dari rumah. Di tengah-tengah semua ini, kami juga harus menjagamu.” Ucap Nyonya No.

“Jwesonghamnida.” Jawab Seohyun.


Seohyun pun kembali ke kamarnya, tapi ia masih merasa diperlakukan tidak adil.


Ji Ho yang sedang minum-minum bersama temannya, bertanya kenapa orang kaya selalu meremehkan orang lain.

“Memang uang itu kekuatan? Memang uang menentukan kelas?” tanya Ji Ho.

“Uang itu kekuatan dan berkelas. Itu yang selalu kau katakan. Itu sebabnya kau bekerja mati-matian.” Jawab teman Ji Ho.

“Aku akan melakukan sebisaku untuk menjadi orang kaya.” Ucap Ji Ho dengan wajah kesal.


Ponsel Ji Ho pun berdering, telepon dari Seohyun tapi Ji Ho enggan menjawabnya.

“Mereka bisa membasuh diri atau tidur di atas uang itu. Kenapa mereka harus pamer? Mereka juga tidak akan memberikannya kepadaku.” Protes Ji Ho.

“Hanya orang kaya baru yang melakukan hal itu. Konon, orang kaya sungguhan tidak akan melakukan hal itu.” Jawab teman Ji Ho.

Seohyun menelpon lagi. Kali ini Ji Ho menjawabnya hanya untuk melarang Seohyun menelponnya lagi. Ji Ho pun memutuskan panggilan.

“Apa maksudnya? Dia menutup teleponku. Apa dia sibuk?” tanya Seohyun.

Seohyun pun mengirimi Ji Ho pesan.

“Aku akan membayarmu empat kali lipat hari ini. Kau hanya perlu mendengarkan semua perkataanku.” Tulis Seohyun.

Pesan terkirim, tapi Ji Ho tidak membacanya.


“Kau mengenal Sung Hyeok dari SMA kita, bukan?” tanya teman Ji Ho

“Ya, aku mengenalnya. Dia peringkat terbawah di kelas. Kudengar ayahnya mengirim dia ke Amerika untuk kuliah, tapi dia malah memakai narkoba dan berpesta sampai ayahnya menyeretnya kembali ke Korea.” Jawab Ji Ho.

“Tapi si sampah itu mengelola kafe bertema khusus dan bisnisnya berkembang. Kau mau melihatnya? Kau bilang mau berbisnis.” Ucap teman Ji Ho.

“Di mana itu?” tanya Ji Ho.


Ji An tak bisa tidur, pikirannya terus tertuju pada kata-kata Do Kyung.

“Tadinya aku mau berkeliaran di sekitarmu agar kau memercayaiku dan menyadari tulusnya perasaanku. Tapi itu tidak berjalan sesuai rencana.” Ucap Do Kyung.
Flashback...

“Kau pasti merindukanku?” tanya Do Kyung sebelum mereka berpisah di halte.

“Mungkin. Tapi merindukanmu tidak akan membunuhku.” Jawab Ji An.

Flashback end...

Ji An pun menyesal karena sudah mengatakan hal itu.


Sementara itu, Do Kyung sudah tertidur pulas. Di lantai, kita juga melihat Hyuk yang sudah tidur pulas.


Paginya, Hyuk mengajak Ji An sarapan roti. Ji An penasaran darimana Hyuk mendapat roti itu. Hyuk bilang, teman tukang rotinya yang memberikannya.

“Temanmu yang baik hati, naif, dan eksentrik itu?” tanya Ji An.


Ji An lantas mencicipi rotinya dan memuji rasanya. Ia tak sadar, roti itu bikinan Ji Soo. Sementara itu, Hyuk teringat saat kepalanya berbenturan dengan kepala Ji Soo. Ia pun tersenyum.

“Kenapa kau tersenyum?” tanya Ji An.

“Aku hanya teringat hal lucu yang kami lakukan.” Jawab Hyuk.

Hyuk lalu memberitahu Ji An kalau Do Kyung sudah pergi saat ia bangun. Hyuk mengira kalau Do Kyung pergi pagi-pagi sekali untuk bekerja. Ji An pun tampak senang, tapi kesenangannya langsung sirna saat Do Kyung kembali ke rumah.


Hyuk menawari Do Kyung roti. Tapi Do Kyung menolaknya dan menunjukkan ramen yang baru dibelinya. Do Kyung bilang, ia akan makan miliknya sendiri.


Sambil menatap Do Kyung yang asyik menyantap ramen, Hyuk mengajak Ji An keluar 20 menit lagi. Ji An setuju. Hyuk langsung pergi sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Sementara itu, Do Kyung terus melahap ramennya. Ji An pun mulai merasa terganggu melihat Do Kyung menyantap ramen. Usai menyantap ramen, Do Kyung buru-buru pergi.


Boss Kang yang baru bangun langsung disuruh sarapan oleh Hee. Hee juga mengingatkan Boss Kang agar tak lupa minum obat.

“Ayo cari kamar siang ini. Hyuk bilang dia akan memperbaiki kamar dan dapurnya.” Ucap Hee.

“Kau akan tinggal di sini?” tanya Boss Kang.

“Katamu kau tidak punya tabungan.” Jawab Hee.

“Kupikir aku akan selamanya hidup sendirian. Aku mendonasikan semuanya ke panti asuhan.” Ucap Boss Kang.

“Kenapa kau menyesal? Ini sudah cukup. Aku baik-baik saja selama kita bersama.” Jawab Hee.

Boss Kang lalu mengajak Hee mendaftarkan pernikahan mereka hari itu juga.


Hyuk dan Ji An menuju suatu tempat. Dari mobil Hyuk, tanpa sengaja Ji An melihat Do Kyung yang sedang berlari mengejar bis. Hyuk juga melihatnya dan berkata bahwa Do Kyung sudah bertekad. Tapi Ji An mengalihkan pembicaraan dengan membahas tempat Boss Kang yang akan direnovasi.

“Kau mau mendesain furnitur mereka?” tanya Hyuk.

“Dia membelikanku pakaian, jadi, aku bisa melakukannya sebagai hadiah pernikahan.” Jawab Ji An.

“Aku akan menurunkanmu dan menemui Pak Yang di lokasi. Aku akan mengukur kamarnya dan datang sekitar tengah hari.” Ucap Hyuk.

Ji An pun setuju. Setelah itu, pikirannya kembali pada Do Kyung.


Di bus, Do Kyung menyalakan ponselnya dan menemukan 3 panggilan tak terjawab dari Seketaris Yoo. Ia pun langsung menelpon balik Seketaris Yoo.

“Pak Choi, anda dimana? Kenapa tidak datang ke rumahku?” tanya Seketaris Yoo.

“Akan kujelaskan nanti. Tolong bantu aku.” Jawab Do Kyung.

“Ya. Katakan saja.” Ucap Seketaris Yoo.

“Kau memiliki dokumen tentang proposal bisnis White Bio milikku, bukan?” tanya Do Kyung.

“Ya. Aku menyimpan semua dokumen proposal Anda.” Jawab Seketaris Yoo.

Do Kyung pun menyuruh Seketaris Yoo menyimpan file yang berkaitan dengan proposalnya dalam sebuah flashdisk serta mengajak Seketaris Yoo bertemu.

Sementara itu, Seketaris Yoo tampak memegang surat pengunduran dirinya.


CEO No menerima informasi tentang Do Kyung yang berada di Jongno. CEO No pun menyuruh orang suruhannya untuk terus memantau pergerakan Do Kyung.

Tuan Choi dan Nyonya No juga ada di sana.

CEO NO : Do Kyung pasti masih ada di Seoul. Kini, aku menjadi penasaran tentang hal yang dilakukannya.

Tuan Choi : Di mana dia menyalakan ponselnya?

CEO No : Kenapa kau lambat sekali? Katanya dia sedang bergerak.

Tuan Choi pun hanya bisa menghela nafas kesal mendengar cacian CEO No.

CEO No : Karena beberapa alasan, dia tidak mau kita mengetahui keberadaannya.


Tak lama kemudian, Tuan Jung dan istrinya datang. Nyonya No langsung kesal melihat Jin Hee, sementara Jin Hee tersenyum senang.


CEO No memberitahu Jin Hee dan Tuan Jung tentang Do Kyung yang menyukai seorang wanita.

Nyonya No protes, ayah...

“Kita sedang di kantor!” sentak CEO No.

“Maafkan aku, Pimpinan.” Jawab Nyonya No.


“Aku ingin memberinya pelajaran. Itulah sebabnya aku mengusir dia.” Ucap CEO No.

“Itukah sebabnya dia pergi tanpa mengabariku?” tanya Tuan Jung.

“Aku mengusirnya. Jika dia tidak sadar juga kali ini, aku akan mengeluarkannya dari keluarga kita.” Jawab CEO No.


Tentu saja, hal itu membuat Jin Hee dan Tuan Jung senang. Ditambah lagi, CEO No berencana mengangkat Jin Soo, putra mereka, menjadi Wakil Presdir Haesung FNB. CEO No mengaku tidak punya pilihan lain dan ingin mengetes kemampuan Jin Soo.

“Lalu, beri tahu semuanya bahwa Do Kyung telah pergi ke Eropa. Jika kebenarannya tersebar, kalian harus bertanggung jawab. Mereka tidak akan mencemarkan nama baik anak sendiri. Jika ada rumor menyebar, pelakunya pasti kalian berdua.” Ucap CEO No.

“Do Kyung akan diusir sampai kapan?” tanya Jin Hee.

“Kau mau dia diusir sampai kapan? Kau bertanya kapan dia akan menyerah kepadaku?” sindir CEO No.

“Maafkan aku.” Jawab Jin Hee.

“Dia harus kembali sebelum mempermalukanku dan merusak reputasi Haesung.” Ucap CEO No.


Di tempat nge-gym, Do Kyung mencari di web tentang perusahaan investasi. Dia berencana mencari perusahaan yang tidak berhubungan dengan Haesung.

Tiba2 seorang pelanggan wanita datang dan bertanya apakah mereka akan buka pada 25 Desember. Do Kyung bilang mereka akan tutup. Do Kyung lalu mengecek kalender dan menyadari bahwa tanggal 25 sebentar lagi.

Seseorang tiba2 melemparkan handuk ke wajah Do Kyung.

“Itu bau. Kau mau aku mengelap tubuhku dengan itu?” tanya pelanggan yang melempar handuk tadi.

“Pak. gym ini tempat yang higienis.” Jawab Do Kyung.

“Bagaimana kau tahu? Kau hanya pekerja paruh waktu.” Sinis pria itu.

“Pekerja paruh waktu juga diberikan pelatihan.” Jawab Do Kyung.

“Kau menyisipkan handuk bekas, bukan?” tanya pria itu.

“Anda tidak bisa menuduhku tanpa melihatnya langsung.” Jawab Do Kyung.

Do Kyung lalu mengajak pria itu mengecek CCTV. Tapi pria itu menolak dengan dalih tidak mau ribut. Pria itu lalu pergi sambil ngomel-ngomel mengatakan kalau pekerja paruh waktu selalu menjadi masalah.

“Yang benar saja. Aku adalah Choi Do Kyung.Ah...” keluh Do Kyung.


Ji An bekerja sambil memikirkan perkataan Do Kyung yang diusir karena ingin hidup mandiri.

Flashback...

Ji An mengingat perkataan Seohyun bahwa Do Kyung sudah dilatih untuk menjadi pewaris Haesung Group sejak Do Kyung dilahirkan dan Do Kyung tidak akan melakukan apapun yang melanggar aturan keluarga.

Ji An juga mengingat kata-kata Nyonya No saat di meja makan ketika ia masih menjadi Eun Seok.

“Menjadi Wakil Presdir bukan apa-apa. Jangan bersikap arogan hanya karena kau diangkat lebih awal.” Ucap Nyonya No.

Flashback end...

“Mereka tidak akan diam saja.” Batin Ji An.

Ji An lalu berteriak, Sebenarnya kenapa dia pergi dari rumah itu!

Tuan Sun dan Sun Tae pun sontak menatap heran ke arahnya.

No comments:

Post a Comment