Monday, January 15, 2018

My Golden Life Ep 37 Part 1

Sebelumnya...


Nyonya No marah mendengar pengakuan Ji An yang tidak mau menjadi bagian dari Haesung lagi.  Dia juga kesal karena Ji An tidak mau memberitahu dimana Do Kyung. Dia menuduh Ji An sengaja menyembunyikan Do Kyung.

“Itu tidak benar. Sudah kubilang tidak ada apa-apa diantara kami.” Jawab Ji An.

“Apa kau ingin aku percaya bahwa Do Kyung tetap menyukaimu walaupun kau tidak menyukainya? Kenapa kau buru-buru kesini saat mendengar aku berada disini?” tanya Nyonya No.

“Aku bekerja disini. Dari apa yang kudengar, aku pikir orang itu adalah dirimu. Tapi aku tidak akan datang jika tahu anda masih disini.” Jawab Ji An.

“Kau tahu dia pergi dari rumah karena siapa. Jadi kau pasti tahu nomornya, tapi kau tidak mau memberitahuku dimana dia. Terlepas dari semua ini, benarkah tidak ada apa-apa diantara kalian?” tanya Nyonya No.

Ji An pun diam saja....


“Kau tidak menginginkan apapun yang berhubungan dengan Haesung. Kau tidak menyukai keluargaku. Itu maksudmu?” tanya Nyonya No lagi.

“Benar.” Jawab Ji An, mengejutkan Nyonya No.

“Anda tidak mempercayaiku, jadi tidak ada yang bisa kulakukan. Tapi karena aku sudah mengatakan perasaanku, kuharap anda tidak menemui orang tuaku lagi untuk menanyakan Do Kyung.” Ucap Ji An.

“Kalau begitu, suruh Do Kyung pulang. Dengan begitu, aku akan mempercayaimu.” Jawab Nyonya No.


“Ini adalah hidupnya, dia akan mengambil keputusan sendiri. Aku tidak mau bertemu lagi denganmu untuk hal apapun yang berhubungan dengan dia.” Ucap Ji An.

“Kau cukup berani.” Jawab Nyonya No kesal.

“Aku minta maaf.” Ucap Ji An.

“Kau tidak bertanya, bagaimana aku bisa tahu dia menyukaimu? “ tanya Nyonya No.

“Aku sadar bahwa anda selalu mendapatkan jawaban atas pertanyaan anda.” Jawab Ji An.


“Benar. Itulah kekuatan yang kumiliki. Jangan lupakan itu.” Ucap Nyonya No.

“Tidak akan kulupakan.” Jawab Ji An.

“Suruh Do Kyung menemuiku.” Suruh Nyonya No.

“Akan kusampaikan pesanmu jika aku bertemu dengannya.” Jawab Ji An.

“Jangan berani bermimpi memiliki Do Kyung, Ji An-ah.” Ucap Nyonya No.

“Jika anda selesai, bolehkan aku pergi sekarang?” tanya Ji An.


Nyonya No kesal dengan semua penolakan Ji An. Sementara itu, Hee yang bersembunyi di dapur, gemetaran mendengar pembicaraan Nyonya No dan Ji An.

Nyonya No akhirnya pergi. Dia pergi dengan wajah kesal.


Setelah Nyonya No pergi, barulah Ji An gemetaran. Sementara di mobil, Nyonya No heran dengan keberanian Ji An.


Ji An kembali ke dalam kafe. Hee langsung mendekati Ji An.

“Kau baik-baik saja? Wajahmu pucat.” Ucap Hee cemas.

“Kau bilang dia sudah pergi.” Jawab Ji An.

“Aku pikir dia sudah pergi.” Ucap Hee.


Hee lalu menjelaskan, saat tadi dia menelpon Ji An, dia terkejut melihat Nyonya No sudah berdiri di belakangnya. Nyonya No pun memutuskan menunggu Ji An. Hee ingin melarang Ji An datang, tapi Ji An keburu menutup teleponnya. Hee lalu mengirimi Ji An pesan, melarang Ji An datang. Tapi sayangnya, Ji An tidak membaca pesan Hee.

“Jadi Do Kyung anak dari keluarga Haesung? Apa yang akan kau lakukan sekarang, Ji An-ah? Jadi itu sebabnya Hyuk sangat mencemaskanmu?” tanya Hee.

“Eonni, jangan beritahu Hyuk soal ini. Aku akan menanganinya sendiri.” Jawab Ji An.


Do Kyung sedang melihat-lihat pabrik yang akan memproduksi produknya. Pemilik pabrik pun berkata, akan segera menghubungi Do Kyung setelah berbicara dengan atasannya. Pemilik pabrik juga menegaskan, akan menerima pesanan Do Kyung karena mereka kekurangan pekerjaan.


Di ruangannya, Tuan Choi sedang meminum obatnya. Tiba-tiba, Nyonya No menerobos masuk ke ruangannya dan ia pun langsung menyembunyikan obatnya di laci.

“Itu Seo Ji An. Wanita yang disukai Do Kyung adalah Seo Ji An.” Ucap Nyonya No.

Tapi Tuan Choi tidak terlalu terkejut mendengarnya. Tuan Choi penasaran, darimana Nyonya No tahu kalau gadis itu Ji An.

“Aku memikirkannya kembali. Dia satu-satunya wanita dalam hidup Do Kyung.” Jawab Nyonya No.

“Melegakan jika itu Seo Ji An.” Ucap Tuan Choi.

“Melegakan? Ayah mungkin benar-benar akan menolaknya jika itu Seo Ji An. Dia akan lebih kecewa lagi pada kita karena membawa Seo Ji An masuk dan menyebabkan Do Kyung menyukai Seo Ji An.” Jawab Nyonya No.

“Itu tidak akan terjadi. Ji An tidak akan sampai sejauh itu.” Ucap Tuan Choi.

“Bagaimana kau tahu?” tanya Nyonya No.


“Dia tidak kasar dan juga pintar. Dia tahu dengan baik bagaimana keluarga kita.” Jawab Tuan Choi.

“Tapi dia tidak memberitahuku dimana Do Kyung.” Ucap Nyonya No.

“Kau menemuinya?” tanya Tuan Choi kaget.

“Aku baru saja bertemu dengannya. Aku tidak tahu apakah dia benar-benar tidak bersalah atau dia mencoba menipu kita. Aku tidak bisa membaca pikirannya.” Jawab Nyonya No.

“Kita akan mencari tahu begitu Do Kyung kembali.” Ucap Tuan Choi.

“Dia bahkan tidak memberiku nomor Do Kyung.” Jawab Nyonya No.

“Dia akan menceritakan kunjunganmu pada Do Kyung. Bahkan jika dia tidak menceritakannya, kau akan memastikan Do Kyung kembali ke rumah.” Ucap Tuan Choi.


Hyuk melamun di kantornya. Tak lama kemudian, Yong Gook datang sambil bernyanyi.

“Aku tidak tahu apa yang salah denganku. Biasanya ini ada hubungannya dengan cinta. Siapa dia?”

“Hyung, Ji Soo bertingkah aneh tiba-tiba. Tapi aku juga bertingkah aneh.” Jawab Hyuk.

“Kau sudah lama bertingkah aneh.” Ucap Yong Gook.

“Sudah lama?” tanya Hyuk.


“Kau bingung, kan? Kau memutuskan menyukai Ji An, tapi kau terus memikirkan Ji Soo. Pada Malam Natal, Ji An ada bersamamu, tapi kau terus melihat keluar. Kau menunggunya, kan?” ucap Yong Gook.

“Ya, itu dia.” Jawab Hyuk.

“Saat kau bertemu Ji An, kau bilang itu takdir. Jadi itu omong kosong.” Ucap Yong Gook.

“Omong kosong apanya? Dia cinta pertamaku.” Jawab Hyuk.

“Cinta pertamamu dari 10 tahun yang lalu. Apa menurutmu itu mungkin menyukai seseorang setelah 10 tahun? Kau terjebak dalam kalimat cinta pertama. Hyuk-ah, kau dan aku sudah seperti saudara. Sedangkan aku dan Do Kyung hanyalah teman yang tidak terlalu akrab. Kau pikir aku akan membiarkan dia tinggal di rumah kos jika kau benar-benar menyukai Ji An? Dia adalah musuh adikku.” Ucap Yong Gook.

“Hyung, kau berpikir jauh ke depan.” Jawab Hyuk.

“Selain itu, kau tahu Ji An menyukai Do Kyung. Tapi kau tidak cemburu. Kau hanya khawatir padanya sebagai seorang kakak. “ ucap Yong Gook.

“Itu karena apa yang dia alami tidak terbayangkan.” Jawab Hyuk.

“Gadis yang kau cemaskan dan gadis yang selalu kau pikirkan, menurutmu siapa yang kau cintai?” tanya Yong Gook.

Yong Gook lalu meminta Hyuk berhenti mencemaskan orang lain. Yong Gook juga bilang, orang yang dicemaskan Hyuk akan menemukan jalannya sendiri setelah waktunya tiba.

“Apakah aku berpura-pura?” tanya Hyuk.

“Kau bekerja keras sejak masih muda. Aku menyukaimu karena kau bertanggungjawab.” Jawab Yong Gook.


Pembicaraan mereka pun terhenti karena ponsel Hyuk berdering. Hee yang menelpon, menyuruh Hyuk datang kafe. Hee memberitahu Hyuk kalau tadi Nyonya No datang menemui Ji An.

“Ibunya Choi Do Kyung menemui Ji An?” tanya Hyuk kaget. Yong Gook yang mendengar juga kaget.


Hyuk pun langsung ke kafe menemui kakaknya. Hyuk penasaran, bagaimana Nyonya No bisa tahu soal Ji An.

“Dia tidak mengatakannya dan Ji An juga tidak bertanya. Tapi Hyuk, ibunya Do Kyung sangat menyeramkan. Tapi Ji An sangat tenang menghadapinya.” Jawab Hee.

“Dia tahu mereka akan bertemu suatu hari nanti.” Ucap Hyuk.

“Pada hari kau membawa Ji An ke rumah, Ji An tampak lesu. Itu ada hubungannya dengan dia, kan? Apakah Ji An menjalin hubungan dengan Do Kyung?” tanya Hee.

“Aku tidak bisa menceritakannya padamu karena aku tidak berhak. Berpura-pura lah kau tidak tahu dan jangan tanyakan apapun pada Ji An.” Jawab Hyuk.

“Hal yang sama juga berlaku padamu. Ji An melarangku memberitahumu tapi kakak rasa kau harus tahu.” Ucap Hee.

“Dia tidak mau membuatku cemas.” Jawab Hyuk.


Beralih ke Ji Ho yang sudah mendapatkan kontrak franchise nya. Tapi seketika, ia teringat nasehat ayahnya yang melarangnya berbisnis franchise. Ji Ho juga ingat saat melihat ayahnya muntah-muntah ketika mereka baru keluar dari kafe.

“Seharusnya dia bilang padaku kalau belum makan!” kesal Ji Ho. Tapi kemudian, Ji Ho memikirkan hal lain tentang ayahnya.


Tuan Seo sendiri sedang latihan di tempat kursusnya.

“Berapa banyak anda berlatih? Perkembanganmu luar biasa.” Puji mentornya.

“Aku hanya melakukannya untuk mengisi waktu.” Jawab Tuan Seo.

“Tidak mungkin. Saya yakin, anda dulu pernah memainkannya.” Ucap mentornya.

Tuan Seo lalu terdiam saat mentornya menanyakan berapa lama ia akan pergi.


Ji Ho bicara dengan Ji Tae di telepon. Ia yakin, sang ayah sedang sakit. Ia tidak percaya sang ayah muntah-muntah hanya karena minum kopi saat perut kosong.

“Akan kutanyakan nanti.” Jawab Ji Tae, lalu menutup teleponnya.

Usai bicara dengan Ji Ho, Ji Tae dapat SMS dari Soo A.


Mereka pun bertemu di taman. Ji Tae terkejut Soo A datang membawa koper. Soo A bilang, pagi-pagi sekali ia mengemasi barangnya dan pergi. Soo A mengaku, melakukan itu karena tidak mau bertengkar di depan ayah dan ibu Ji Tae.

“Aku akan tinggal di rumah Seung Hoon. Katakan pada orang tuamu, aku pergi seminar.” Ucap Soo A.

Ji Tae kaget, Lee Soo A...


“Jika kau datang ke rumah sakit pada hari aku dioperasi, maka kita akan pulang bersama. Tapi jika kau tidak datang, aku akan menandatangani surat cerai.” Ucap Soo A.

“Apakah kau sudah mendengar detak jantung bayi kita?” tanya Ji Tae.

“Aku tahu aku melakukan dosa. Tapi anak bukanlah mainan. Aku harus melahirkan dan membesarkan anak itu. Tidak ada seorang pun yang berhak menentukan apa yang harus kulakukan.” Jawab Soo A.

“Jadi maksudmu aku harus memilih antara dirimu dan bayi kita?” tanya Ji Tae.


“Pikirkan kenapa dulu kau tidak ingin menikah atau punya bayi. Aku akan mengirimkan tanggal operasinya. Sampai jumpa.” Jawab Soo A, lalu pergi meninggalkan Ji Tae.


Ji Tae minum sendirian di warung tenda. Tidak ada seorang pun yang bisa diajaknya bicara.


Hyuk pergi ke studio menemui Ji An dan mengingatkan Ji An kalau mereka akan bertukar kamar karena Hee sudah pindah ke rumah Boss Kang. Ji An pun menyuruh Hyuk pulang duluan, karena masih ada pekerjaan yang harus diselesaikannya.

“Aku sudah mengemas barangku dan meletakkannya di kamar Hee Eonni. Jadi kau bisa menggunakan kamarmu sekarang.” Ucap Ji An.

“Bagaimana kelasmu?” tanya Hyuk.

“Menyenangkan.” Jawab Ji An.

Hyuk pun ingat tentang Ji An yang melarang Hee memberitahunya soal kedatangan Nyonya No, tapi ia memutuskan tidak menanyakan apapun pada Ji An dan pamit duluan.


Do Kyung membawa barang-barangnya keluar dari kamar Yong Gook dan mau pindah ke kamar Hyuk. Tepat saat itu, Hyuk pulang dan menghentikan Do Kyung.

“Apa yang kau lakukan? Kenapa kau mau masuk ke kamar itu?” tanya Hyuk.

“Ji An pindah ke kamar kakakmu, jadi aku akan pindah ke kamar Ji An.” Jawab Do Kyung.


Hyuk pun mengambil koper Do Kyung dan membawanya masuk kembali ke kamar Yong Gook.

“Kau hanya bisa memakai kamar ini. Kamar Ji An aslinya adalah kamarku.” Ucap Hyuk.

“Ini adalah rumah kos, jadi tidak ada seorang pun yang boleh memiliki kamar.” Jawab Do Kyung.

“Aku bisa. Lagipula kau sendiri yang memilih kamar ini.” Ucap Hyuk.

“Tidak bisakah kita bertukar kamar?” pinta Do Kyung.

“Kau membenci kenyataan bahwa aku memakai kamar yang pernah digunakan Ji An, kan?” tanya Hyuk.

“Itu salah satunya, tapi aku hanya ingin menggunakan kamar Ji An.” Jawab Do Kyung.


“Choi Do Kyung-ssi, ini bukan waktu yang tepat meributkan soal ini. Ibumu menemui Ji An.” Ucap Hyuk.

Do Kyung pun terkejut.


Ji An melangkah pulang tanpa semangat. Ia lalu berpapasan dengan Do Kyung yang baru saja keluar dari minimarket.

“Kebetulan sekali. Aku lapar jadi aku keluar untuk membeli cemilan.” Ucap Do Kyung.
“Benarkah?” tanya Ji An.

“Ngomong-ngomong, kau pulang terlambat. Berbahaya untukmu karena sudah malam.” Jawab Do Kyung.


“Bakpao kukus? Kau makan itu juga sekarang?” tanya Ji An.

“Ini bakpao sayuran.” Jawab Do Kyung, lalu memberi Ji An satu.

“Terima kasih.” Ucap Ji An.

Do Kyung juga mengembalikan ponsel Ji An.

“Aku menggunakannya dengan baik. Terima kasih. Jika ibuku sudah menemuimu, tidak ada alasan bagiku untuk terus bersembunyi.” Ucap Do Kyung.


Do Kyung lalu bertanya, kenapa Ji An tidak langsung menghubunginya.

“Kau bilang bertemu banyak investor hari ini.” Jawab Ji An.

“Jadi kau menunggu karena tidak ingin mengganggu pekerjaanku?” tanya Do Kyung.

“Ini bukan masalah mendesak. Ibumu menyuruhmu menemuinya.” Jawab Ji An.

“Bagaimana ibuku bisa tahu?” tanya Do Kyung.

“Ibumu tidak mengatakannya dan aku tidak bertanya.” Jawab Ji An.

“Kau tidak penasaran?” tanya Do Kyung.

“Tidak.” Jawab Ji An.

“Apa yang kau katakan pada ibuku?” tanya Do Kyung.


“Kau harus mendengarnya dari ibumu. Aku sudah mengatakan apa yang aku pikirkan padanya.” Jawab Ji An.

“Jangan khawatir. Ini terjadi lebih cepat dari dugaanku. Tapi aku akan mengurusnya. Lagipula aku tidak bisa menyembunyikannya dalam waktu yang lama dan aku juga tidak mau menyembunyikannya.” Ucap Do Kyung.

Do Kyung juga memberitahu Ji An kalau dia hampir selesai menemukan pabrik OEM dan mengurangi budgetnya secara signifikan agar investor setuju menanamkan modal mereka.

“Aku akan segera mendapatkan investasinya dan menjadi mandiri. Percayalah padaku.” Ucap Do Kyung.

Tapi Ji An tidak merespon perkataan Do Kyung. Ia berjalan duluan sambil berkata, bakpao nya enak. Do Kyung pun tersenyum dan menyusul Ji An.


Do Kyung dan Ji An sampai di rumah kos dan bertemu Hyuk yang baru selesai mandi. Setelah mengucapkan selamat malam pada Ji An, Do Kyung masuk ke kamarnya.


Ji Soo memakan banyak camilan dan berkata pada dirinya sendiri kalau ia pasti bisa melakukannya. Seohyun mendengarnya dan bertanya apa Ji Soo akan mengikuti kompetisi. Ji Soo bilang, kalau dia hanya sedang membuat resolusi saja.

“Kau dicampakkan bukan?” tanya Seohyun.

“Apa... apa...? Apa maksudmu?” tanya Ji Soo panik.

“Aku mendengarmu menangis beberapa hari lalu dan matamu sembab. Aku juga pernah merasakannya.” Jawab Seohyun.

“Apa kelihatan jelas?” tanya Ji Soo.

“Jadi kau mengatakan pada dirimu bahwa kau bisa melupakannya?” tanya Seohyun.

“Aku berlatih untuk melupakannya dengan cara yang keren. Aku juga berharap dia bahagia.” Jawab Ji Soo.

“Kau juga mengharapkan kebahagiaannya?” tanya Seohyun.

Ji Soo pun memberitahu Seohyun apa yang akan ia katakan pada Hyuk.

“Aku sama sekali tidak menyukaimu. Aku sama sekali tidak tertarik padamu. Jadi aku berharap kau bahagia bersama orang yang kau sukai sejak lama.” Ucap Ji Soo.


Paginya, Hee keluar dari kamar dan menemukan suaminya sedang memasak. Boss Kang tanya, kenapa Hee bangun pagi sekali. Hee bilang, ia takut Boss Kang tiba-tiba pergi.

“Aku tidak akan kemana-mana. Aku akan berada di tempat yang bisa kau lihat.” Jawab Boss Kang membuat Hee tersipu.

Hee lalu memeluk Boss Kang.

“Apa yang kau masak? Sudah kubilang jangan memasak.” Ucap Hee.

“Aku tidak bisa tidur.” Jawab Boss Kang.

“Besok aku yang akan memasak.” Ucap Hee.


Hee kemudian menggelitik perut Boss Kang. Boss Kang pun menjatuhkan dirinya ke lantai dan meminta Hee berhenti menggelitiknya padahal Hee sudah berhenti menggelitiknya. Boss Kang pun sadar, lalu berdiri dan mengajak Hee makan dengan wajah serius. Hee pun tersenyum geli melihat ekspresi Boss Kang itu.


Ji Soo datang ke toko roti dan Boss Kang memujinya sebagai asisten yang baik karena datang lebih awal. Boss Kang lantas menyuruh Ji Soo mengemas roti yang akan matang sebentar lagi karena dia mau mengantar Hee ke kafe. Hee pun berjanji akan membuatkan kopi untuk Ji Soo sebagai gantinya.

“Jangan khawatir dan nikmati saja kencan pagi kalian.” Ucap Ji Soo.

“Thank you, thank you.” Jawab Boss Kang dengan suara imut.


Setelah mereka pergi, Ji Soo pun bergumam kalau ia iri pada mereka. Lalu terdengar suara pintu dibuka. Ji Soo pun langsung berkata, mereka belum buka tapi ucapannya terhenti karena yang datang adalah Hyuk.

“Hyung tidak ada?” tanya Hyuk.

“Dia mengantar Woo Hee ke kafe.” Jawab Ji Soo.

“Jadi kita bisa bicara disini? Aku tidak mengerti kenapa kau tiba-tiba melakukan ini padaku, Ji Soo.

“Apa yang kulakukan?” tanya Ji Soo.


“Kau bilang tidak menyukaiku. Kenapa kau mengatakan itu? Apa aku melakukan kesalahan padamu?”tanya Hyuk.

“Aku tidak tahu kau sangat lambat dalam berpikir. Sudah kukatakan, aku tidak punya alasan apapun.” Jawab Ji Soo.


Hyuk pun maju, mendekati Ji Soo. Ji Soo hanya bisa mundur sedikit, karena di belakangnya ada meja kasir.

“Tidak. Ada alasannya. Perasaan seseorang tidak mungkin berubah dalam semalam.” Ucap Hyuk.

“Itu karena aku sudah punya pacar. Bukannya aku tidak menyukaimu. Aku hanya tidak tertarik padamu.” Jawab Ji Soo sambil memejamkan matanya berkali-kali dan menghindari tatapan Hyuk.

“Kau sudah punya pacar?” tanya Hyuk.

“Benar. Dia sudah lama mengejarku. Ngomong-ngomong Tuan Sun, apakah salah jika gadis sepertiku tidak menyukaimu?” tanya Ji Soo.


Suara oven berbunyi. Ji Soo pun langsung menjadikan itu sebagai alasan untuk meninggalkan Hyuk. Hyuk terdiam dan menatap Ji Soo dari belakang dengan tatapan sedih.




Tuan Choi yang sedang bersiap ke kantor, bertanya pada istrinya apakah sang istri tidak akan ke kantor.

“Aku merasa Do Kyung akan pulang. Dia tidak bisa datang ke kantor, jadi kupikir dia akan datang ke rumah.” Jawab Nyonya No.


Dan benar saja! Ponsel Nyonya No berdering setelah itu. Telepon dari Do Kyung. Tuan Choi tetap ke kantor karena ada rapat.


Do Kyung pun datang.

“Dia bilang tidak tertarik sama sekali padamu tapi dia langsung menghubungimu, bukan?” tuduh Nyonya No.

“Bukan Ji An yang memberitahuku, tapi seseorang di kafe. Kudengar, ibu menemui Ji An.” Jawab Do Kyung.

“Mereka semua berhubungan dengan Ji An.” Ucap Nyonya No.

“Tapi darimana ibu tahu?” tanya Do Kyung.

“Ji An bilang, dia tahu ibu bisa mencari tahu. Kau ingin tahu apa yang dikatakan Ji An?” ucap Nyonya No.


“Ibu pasti terkejut. “ jawab Do Kyung.

“Aku tidak percaya ini.” Ucap Nyonya No.

“Ji An tidak menerimaku, tapi tetap saja aku meninggalkan rumah. Pasti mengejutkan.” Jawab Do Kyung.

“Apa kau berencana hidup mandiri dan memulai bisnismu sendiri?” tanya Nyonya No.

Do Kyung mengiyakan.


“Apa kau akan tetap melakukannya tanpa Ji An?” tanya Nyonya No, membuat Do Kyung tersentak.

“Apa kau akan keluar rumah jika bukan karena Ji An? Apa kau akan tetap mencari cara bahagia dengan jalanmu meski tanpa Ji An?” tanya Nyonya No lagi.

“Tidak. Aku ingin melakukannya bersama Ji An.” Jawab Do Kyung yakin.

“Pada akhirnya kau melakukan itu demi seorang wanita. Jangan mencoba menutupinya. Apa menurutmu aku terlihat lucu? Apa menurutmu aku sedang bercanda?”


Do Kyung pun mengingatkan kalau dulu sang ibu menyukai dan menerima Ji An. Nyonya No pun berkata, itu karena dia mengira Ji An adalah putrinya. Dia menyayangi Ji An karena Ji An putrinya.

Do Kyung :  Tapi itu bukan salah Ji An.

Nyonya No : Apa?

Do Kyung : Tolong pikirkan tentang Ji An nya saja.

Nyonya No : Seo Ji An saja? Kenapa aku harus melakukannya? Dia bahkan tidak pantas disebut namanya.

Do Kyung : Dia seseorang yang sangat berharga bagiku.

Nyonya No : Apa kau sudah berhasil memenangkan hatinya? Apa kalian sudah pacaran?


Nyonya No lalu memberitahu Do Kyung apa yang dikatakan Ji An padanya. Do Kyung terkejut.

Nyonya No : Dia satu-satunnya orang yang menolak keluarga kita. Dia sangat berani dan kasar. Dia bicara dengan jelas tanpa terintimidasi. Jika ini adalah pertunjukan, kalian berdua pasti sudah merencanakan ini bersama-sama.

Do Kyung : Kami tidak pernah melakukan itu.


Nyonya No pun tidak terima kalau Do Kyung harus meninggalkan segalanya padahal cinta Do Kyung bertepuk sebelah tangan. Nyonya No mengingatkan Do Kyung sebagai pewaris Haesung.Tapi Do Kyung tetap dengan keputusannya. Nyonya No lalu mengajak Do Kyung kembali sebelum CEO No tahu wanita itu Ji An. Tapi Do Kyung kekeuh dengan keputusannya.

Do Kyung lantas pamit. Sebelum pergi, ia melarang ibunya menemui Ji An lagi.


Di jalan pulang, Do Kyung memikirkan ucapan Ji An yang disampaikan ibunya tadi dengan raut wajah sedih.


Ji An sendiri sedang membaca pengumuman kontes desain dimana pemenangnya akan dapat beasiswa. Tak lama kemudian, ia mendapat panggilan dari Do Kyung.


Mereka lalu bertemu di kafe.

“Aku baru saja menemui ibuku. Apa yang kau katakan kepadanya?” tanya Do Kyung.

“Kurasa dia pasti mengatakan hal yang kusampaikan. Dia sudah tahu kau akan menanyaiku seperti ini.” Jawab Ji An.

“Lantas kau sungguh mengatakan semua itu? Bahwa tidak ada hubungan apa pun di antara kita berdua. Serta nantinya tidak akan terjadi apa-apa.” Tanya Do Kyung.

“Itulah yang kurasakan. Sudah kubilang sebelumnya.” Jawab Ji An.


“Tidak bisakah kau memercayaiku dan memberanikan diri? Kau bisa menghindarinya dengan menyuruhnya bertanya kepadaku tentang segalanya.” Ucap Do Kyung.

“Bertanya kepadamu? Apa maksudnya itu? Berarti aku akan menerimamu?” tanya Ji An.

“Aku berusaha keras di sini. Aku berusaha amat keras. Aku pergi dari rumah dan berusaha mandiri. Aku melakukan semua ini untukmu. Tidak bisakah kau melihatnya? Kau tahu itu. Kau tahu segalanya.” Ucap Do Kyung.

“Aku tahu. Sungguh. Tapi aku tidak bisa memahami ini. Jika hatimu di tempat yang benar dan kau berusaha keras karenaku, haruskah aku menuruti keinginanmu? Kenapa?” tanya Ji An.

“Karena kau juga menyukaiku. Karena posisi kita sama.” Jawab Do Kyung.

“Aku menyukaimu, tapi tidak ingin berurusan denganmu.” Ucap Ji An.

“Aku di sini. Kenapa kau tidak bisa melakukan itu? Aku di sini untuk melindungimu. Aku bekerja keras untuk mandiri dari orang tua dan kakekku.” Jawab Do Kyung.


“Apa yang kau inginkan dariku? Kau mau menikahiku?” tanya Ji An.

“Ya.” Jawab Do Kyung lantang.

“Kubilang bukan itu mauku. Aku sudah pernah menjadi bagian dari keluargamu. Jadi, aku tahu aturan keluarga. Aku tahu apa yang akan mereka minta dariku dan aku harus menaati aturan itu. Bukan itu mauku.” Ucap Ji An.

“Kenapa kamu amat membencinya?” tanya Do Kyung.

“Karena aku harus hidup sebagai orang lain. Kau bilang kepadaku bahwa kau tidak mau hidup sebagai bagian dari keluarga Haesung. Itulah alasanmu pindah untuk mandiri.” Jawab Ji An.

“Maksudku, aku akan begitu jika kembali tanpamu. Sekarang keadaannya berubah. Ji An, raihlah tanganku. Tolong percayalah kepadaku.” Pinta Do Kyung.


“Kenapa aku harus percaya kepadamu? Haruskah aku meraih tanganmu. Kenapa? Karena kau kaya? Aku tidak butuh. Aku tidak menyukainya karena kau kaya. Aku baru saja mulai bahagia. Aku baru mulai belajar rasanya hidup santai. Di sini. Sekarang.” Jawab Ji An.

“Apakah kebahagiaanmu memotong kayu di toko mebel? Bagaimana bisa itu membuatmu bahagia? Kau bekerja amat keras untuk menjadi pegawai tetap. Kubilang, aku akan mengakhiri itu untukmu.” Ucap Do Kyung.

“Kenapa kau marah kepadaku? Kau tidak berhak marah. Kenapa menurutmu yang miskin harus terus mendengarkan yang kaya? Apa aku tidak berhak menolak Haesung? Apakah salah tidak menyukaimu karena kau ahli waris Haesung? Aku memang bekerja keras hanya untuk menjadi pegawai tetap dahulu. Tapi tidak lagi. Aku sudah melewati hidup dan mati. Jadi, aku tahu sekarang. Aku tahu. Posisiku, jati diriku, dan di mana aku bisa bahagia.” Jawab Ji An.

“Kau serius?” tanya Do Kyung.

“Jadi, tolong berhenti dan kembalilah.  Aku terus merasa bersalah. Sulit melihatmu berjuang.” Jawab Ji An.

Ji An lalu beranjak pergi dengan alasan harus kembali bekerja.


Diluar kafe, Ji An menatap Do Kyung yang masih duduk di kafe dengan mata berkaca-kaca.

Do Kyung yang masih duduk di kafe juga sama sedihnya.


Tuan Seo kembali ke rumah lamanya dan menempelkan di dinding tulisan yang berbunyi..

“Namaku Seo Tae Soo. Kuharap ini tidak akan terjadi, tapi jika anda menemukanku kolaps di lantai, tolong hubungi Rumah Sakit Hyangrim atau Bu Yang Mi Jung.”


Di kantornya, Ji Tae menerima telepon dari Seok Doo yang mengabari soal kondisi ayahnya. Seok Doo bilang, Tuan Seo menunjukkan gejala kanker perut dan menyuruh Ji Tae membawa Tuan Seo ke rumah sakit.


Hae Ja menemukan Tuan Seo yang sedang kesakitan di depan rumah. Hae Ja mau menghubungi ambulance, tapi dilarang Tuan Seo. Tuan Seo berkata, ia baik2 saja dan buru2 masuk ke rumah.


Ji Soo mengintip Nyonya Yang yang sedang bekerja di restoran dengan tatapan penuh kerinduan.


Ketika ponsel Nyonya Yang berdering, Ji Soo lekas bersembunyi. Tangis Ji Soo pecah.


Hae Ja lah yang menghubungi Nyonya Yang untuk mengabari kondisi Tuan Seo. Hae Ja bilang, kalau awalnya ia tidak percaya saat Seok Doo bilang Tuan Seo menunjukkan gejala kanker perut.

“Dia menunjukkan gejala Seok Doo?” tanya Nyonya Yang kaget.

Ji Soo berdiri sejenak, menatap bangunan restoran.

“Ibuku amat bersemangat. Dia baik-baik saja tanpaku.” Ucap Ji Soo.


Saat hendak pergi, tiba2 saja seseorang menabraknya dari belakang. Ji Soo terkejut melihat seseorang yang menabraknya adalah ibunya. Nyonya Yang tidak menyadari yang ia tabrak adalah Ji Soo karena sedang terburu-buru. Ji Soo melihat ibunya masuk ke dalam taksi.

“Kenapa dia tidak mengenaliku?” tanya Ji Soo heran.


Tuan Seo tidur sampai malam. Saat terbangun dan keluar kamar, ia mendapati Ji Tae, Ji Ho dan Nyonya Yang duduk diluar.

“Seok Doo meneleponku.” Ucap Ji Tae.

“Kau muntah-muntah dan sakit perut. Dia rasa itu gejala kanker perut. Dia bilang sebaiknya kau ke dokter.” Jawab Nyonya Yang.

“Astaga, dia pasti sudah hilang akal.” Ucap Tuan Seo.

“Nenek juga meninggal karena kanker perut.” Jawab Ji Ho.


“Itu bukan hanya beberapa kali. Ji Ho melihatnya dan ibu juga menyadarinya. Serta tadi, Bibi Hae Ja juga melihatnya.” Ucap Ji Tae.

“Dia bicara omong kosong hanya untuk menimbulkan masalah. Ayah baik-baik saja.” Jawab Tuan Seo.

“Mari pergi ke UGD bersama kami.” Ajak Ji Tae.

“Ayah sudah diperiksa agar bisa naik kapal. Ayah hanya radang perut.” Jawab Tuan Seo.

“Lantas, tunjukkan hasilnya. Untuk melihat apa hasil tesnya benar.” Ucap Ji Tae.

“Untuk apa ayah menunjukkan hasil pemeriksaan ayah?” tanya Tuan Seo.


“Lantas, tunjukkan kepadaku agar aku bisa melihatnya juga.” Pinta Nyonya Yang.

“Kenapa kalian mau melihat hasil tes fisikku?” tanya Tuan Seo.

“Karena kami khawatir.” Jawab Ji Tae.

“Kenapa kalian khawatir? Kenapa kalian peduli? Ayah bilang ayah baik-baik saja. Apa hak kalian bertanya?” sewot Tuan Seo.

“Bagaimana bisa kau bilang kami tidak berhak? Kita keluarga.” Jawab Nyonya Yang.


“Kenapa kita keluarga? Sudah kubilang, kita hidup sendiri-sendiri. Jangan ikut campur urusan ayah. Ayah tidak akan meminta kalian membayar biaya dokter. Hentikan.” Ucap Tuan Seo.

“Jangan bilang begitu. Ini bukan soal biaya dokter.” Jawab Ji Tae.

“Lantas, kenapa ribut-ribut?” tanya Tuan Seo.

“Appa, jika ayah terlalu sensitif, kami juga akan kesulitan.” Jawab Ji Ho.

“Abeoji, apakah ayah marah karena aku berniat beremigrasi dan pindah?” tanya Ji Tae.

“Apa tidak pernah terlintas di benakmu alasan kami begitu dan apa yang kami pikirkan? Jika ayah lebih kaya, kau bukan hanya akan menyebutkan emigrasi, tapi juga membahasnya dengan ayah. Jika ayah mampu membayar biaya kuliah, akankah kau tidak bilang sebelum menyerah? Tidak, kau tidak akan menyerah.” Jawab Tuan Seo.

“Ji Tae-ya, tahukah kau betapa riang dan pengertiannya dirimu? Setelah kebangkrutan, kau menjadi pendiam setiap kali pulang. Kau berhenti tersenyum dan tidak bicara dengan ayah.
Kau juga tidak pernah menatap ayah.” Ucap Tuan Seo.

“Itu karena aku masih syok.” Jawab Ji Tae.

“Ayah tahu itu. Kita berubah dari kaya menjadi miskin dalam sehari. Bagaimana bisa kau tersenyum soal itu? Kau mengkhawatirkan masa depanmu, kesal, dan membenci ayah.” Ucap Tuan Seo.

“Lantas, kenapa mengeluh?” tanya Ji Tae.

“Hanya karena ayah tahu dan memahami kalian semua, bukan berarti ayah tidak merasa putus asa. Ayah merasa amat buruk. Ayah tidak tahu harus berbuat apa. Ayah merasa buruk, tapi tidak punya tenaga untuk menenangkan kalian. Jadi, ayah takut di dekat kalian. Ji Tae, Ji An, Ji Soo, Ji Ho, dan kau...” Tuan Seo melirik Nyonya Yang.

“... Tidak ada yang bicara, membahas apa pun, atau mengobrol dengan ayah. Kalian semua hanya tersenyum. Ayah berpura-pura tidak peduli dan ikut tersenyum. Tapi sekarang ayah muak berhati-hati di sekitar kalian. Sekarang ayah tahu ayah orang tua yang tidak berguna dan tidak berarti. Serta suami yang tidak tepercaya. Jadi, ayah akan menjalani hidup ayah sendiri sekarang. Ayah akan menghasilkan uang di kapal nelayan dan melakukan semua yang dahulu tidak bisa ayah lakukan. Jadi, jangan mencampuri hidup ayah sekarang.” Ucap Tuan Seo.

Tuan Seo lalu masuk kembali ke kamarnya. Ji Ho heran kenapa ayahnya tidak menunjukkan saja hasil tesnya.


Nyonya Yang menyusul Tuan Seo ke kamar dan mendapati Tuan Seo sedang bermain gitar.

“Kau akan tetap marah sampai pergi?” tanya Nyonya Yang.

“Apa pedulimu? Kini kau tidak berarti bagiku. Saat pasangan kehilangan rasa percaya, kita sama saja seperti orang asing.” Jawab Tuan Seo.

“Kubilang aku minta maaf.” Ucap Nyonya Yang.

Tapi Tuan Seo tidak mempedulikan permintaan maaf Nyonya Yang dan terus bermain gitar.

No comments:

Post a Comment