Thursday, February 1, 2018

My Golden Life Ep 42 Part 1

Sebelumnya...


Do Kyung, Ji An dan Hyuk berhasil mencegat mobil Nyonya No. Hyuk lalu turun dari mobilnya dan berjalan menuju mobil Nyonya No. Ji Soo terpana melihat Hyuk. Sementara Nyonya No yang kaget, menyuruh Sopir Lee mengunci pintu mobil tapi terlambat karena Ji Soo keburu menarik gagangnya. Hyuk pun membuka pintu mobil, lalu mengulurkan tangannya mengajak Ji Soo pergi.

“Andwae, Seo Ji Soo.” Larang Nyonya No sembari memegangi lengan Ji Soo.

“Ji Soo-ya, ayo pergi.” ajak Hyuk.

Perlahan Ji Soo meraih tangan Hyuk. Setelah berpikir sejenak, Ji Soo pun akhirnya menghempaskan tangan Nyonya No dan mengikuti Hyuk. Nyonya No murka, ia menyuruh Sopir Lee mengejar Hyuk, namun terlambat.


“Ingat jalan pintas yang kuberi tahu tadi? Lewat situ, ya. Cepat.” Suruh Ji An pada Hyuk.


Nyonya No tambah kesal saat melihat Do Kyung.


Do Kyung mau pergi, tapi sayangnya mobil Seketaris Yoo sudah tak mampu berjalan lagi. Kepulan asap nampak keluar dari kap mobil Seketaris Yoo. Tak lama kemudian, polisi datang. Nyonya No menyuruh mereka menangkap Ji An. Ji An mau pergi, tapi mobilnya keburu dihadang mobil polisi.


Sekarang, Do Kyung dan Ji An duduk di kantor polisi. Polisi pun menginterogasi keduanya dengan wajah heran. Do Kyung menjelaskan, kalau ia mengejar sang ibu untuk memberikan sesuatu tapi ibunya salah paham dan melaporkannya.

“Apa yang mau kau berikan padanya?” tanya polisi.

“Dia akan tahu saat anda bilang Seo Ji Soo.” Jawab Do Kyung.

“Siapa wanita ini?” tanya polisi.


“Aku juga mengejarnya. Mobilku tergores karena dia ugal-ugalan. Aku hendak mengantar pesanan ke studio mebel.” Jawab Ji An.

“Kenapa kau menghalangi mobil yang lainnya?” tanya polisi.

“Karena dia mengejar mobil itu. Kukira aku harus menghentikan mobil itu agar bisa menangkap dia.” Jawab Ji An.


Do Kyung lantas mengajak Ji An membuat kesepakatan. Ji An setuju. Dan polisi pun akhirnya membebaskan keduanya.


Begitu keluar dari kantor polisi, mereka pun mengenang pertemuan pertama mereka.

Flashback...


Saat itu, Ji An kebut-kebutan di jalan raya karena sedang buru-buru menuju kediaman Manajer Lee. Ngebut, mobil yang Ji An kendarai nyaris saja menabrak mobil Do Kyung. Untunglah, Do Kyung sempat menghindar tapi mobilnya malah menabrak pembatas jalan. Do Kyung tak terima dan langsung mengejar mobil Ji An.

Ji An berhenti di lampu merah. Tak lama kemudian, mobil Do Kyung datang dan tanpa sengaja menubruk mobil yang Ji An kendarai dari belakang.

“Bisakah kuperbaiki sendiri? Bosku melarangku menggunakan asuransi.” Ucap Ji An.

“Bisakah kau membayar biaya perbaikannya tanpa asuransi?” tanya Do Kyung.

Flashback end...


Ji An tersenyum dan mengulangi perkataan Do Kyung saat itu.

“Bisakah kau membayar biaya perbaikannya tanpa asuransi?” tanya Ji An.

“Ya, akan kubayar tunai.” Jawab Do Kyung.

“Tunai? Setidaknya akan menghabiskan 2.000 dolar untuk perbaikannya.” Ucap Ji An.

Do Kyung pura-pura terkejut. Lalu, Ji An tersenyum dan kembali teringat kata-katanya saat itu.

Flashback..


“Apa? Tidak bisakah kau mengecat bagian bumper yang tergores saja? Tidak bisakah kau mengecat semuanya?” tanya Ji An.

Flashback end...


“Kau punya berapa?” tanya Ji An lagi.

“Sekarang aku hanya punya 270 dolar.” Jawab Do Kyung.

“Kalau begitu, berikan 200 dolar. Sekarang.” Ucap Ji An.

“Ingatanmu bagus.” Puji Do Kyung sembari tertawa.

“Tapi aku tidak akan pelit, atau membuatmu bekerja di suatu tempat, atau pamer, jadi, berikan uangnya.” Jawab Ji An.

“Aku akan menyicil.” Ucap Do Kyung. Keduanya lalu tertawa.


Dari kejauhan, di dalam mobilnya, Nyonya No menatap kesal keduanya.


Sambil berjalan menuju mobil, Ji An berkata pada Do Kyung kalau ia tak pernah meminta diskon. Do Kyung pun ingat saat itu Ji An menyuruhnya mengecat ulang bagian mobilnya yang rusak.

Aku amat berterima kasih.” Ucap Ji An.

“Aku merasa bersalah.” Jawab Do Kyung.

“Soal apa?” tanya Ji An.

“Aku melaporkan perkelahianmu dengan Yoon Ha Jung hingga kau terpaksa ke kantor polisi. Aku membuatmu menghabiskan 5.000 dolar sebagai uang damai padahal kau harus membayar kepadaku.” Jawab Do Kyung.

“Aku yang berkelahi.” Ucap Ji An.

“Tadinya kau akan diterima menjadi pegawai tetap, tapi perusahaan kami melanggar janji itu. Jika aku tidak meminta 5.000 dolar, kau pasti akan meminta bosmu untuk menghubungi pihak asuransi.” Jawab Do Kyung.


“Mungkin. Meski itu soal mendapatkan pekerjaan tetap, aku tetap tidak bisa membayar 20.000 dolar.” Ucap Ji An.

“Jika aku tidak memberimu 20.000 dolar untuk menjaga harga dirimu, kau pasti tidak akan meminta uang dari ibuku. Kau juga tidak akan bergegas bergabung dengan keluargaku. Aku tokoh jahat dalam hidupmu.” Jawab Do Kyung.

“Jangan bilang begitu. Mungkin kau yang memulainya, tapi aku yang memutuskan.” Ucap Ji An.

“Setiap memikirkanmu, aku merasa bersalah atas banyak hal.” Jawab Do Kyung.

“Itu karena kau masih menganggapku lemah. Sudah kubilang, jangan berpikir begitu. Sungguh tidak perlu seperti itu.  Kini aku sungguh baik-baik saja.” Ucap Ji An.

Do Kyung pun tersenyum membalas ucapan Ji An.


Sementara Nyonya No yang melihat Do Kyung dan Ji An, jadi teringat masa lalunya dulu.

Flashback...


Nyonya No tampak menunggu seseorang di depan bioskop. Tak lama kemudian, Tuan Choi yang ditunggu-tunggunya itu datang sambil membawa dua buah tiket nonton. Tuan Choi bertanya, apa Nyonya No yang meletakkan dua tiket itu di mejanya.

“Aku harus membalas jasamu atas insiden muntah itu.” Jawab Nyonya No.

“Jadi, kau membelikan dua tiket nonton?” tamya Tuan Choi.

“Ya.” Jawab Nyonya No.

“Bagaimana jika aku pergi dengan orang lain?” tanya Tuan Choi.

“Bukankah sudah jelas aku orangnya?” ucap Nyonya No.

“Kenapa?” tanya Tuan Choi.

“Berarti ada banyak wanita yang bisa kau ajak?” balas Nyonya No.

“Kau berharap tidak ada?” jawab Tuan Choi. Keduanya lalu tertawa.

Flashback end...


Lamunan Nyonya No pun buyar karena Seketaris Min memanggilnya. Seketaris Min memberitahu, kalau orang2nya sudah bersiap sesuai perintah Nyonya No.

“Baiklah, laksanakan.” Suruh Nyonya No.


Hyuk menepikan mobilnya. Ji Soo yang masih takut dengan ancaman Nyonya No, ingin kembali. Tapi Hyuk menahannya. Hyuk mengingatkan, kalau Ji Soo lah yang membuka pintu mobil dan menggenggam tangannya.

“Aku bingung. Aku tidak sadar dengan tindakanku.” Jawab Ji Soo.

“Tidak. Kau tampak senang saat melihatku.” Ucap Hyuk.

“Itu tidak benar. Aku ikut denganmu hanya karena keadaannya kacau. Aku harus kembali sekarang.” Jawab Ji Soo.

“Ji Soo-ya,  kau memutuskan pergi karena mencemaskan sesuatu, bukan?” tanya Hyuk.

Ji Soo tidak menjawab pertanyaan Hyuk. Ia balik bertanya, bagaimana Hyuk, Ji An dan Do Kyung bisa tahu ia mau pergi.

“Menurutmu bagaimana? Kami langsung mengejarmu saat mendengar kabarnya. Aku tidak bisa membiarkanmu pergi seperti ini. Kami bertiga tidak bisa membiarkanmu pergi.” Jawab Hyuk.

Ji Soo tertegun, kau juga?

“Tampaknya begitu.” Jawab Hyuk.


Ji An dan Do Kyung pulang bersama. Ditelpon, Do Kyung meminta maaf pada Seketaris Yoo karena sudah membuat mobil Seketaris Yoo rusak. Do Kyung lalu mengirimkan nomor bengkelnya Seketaris Yoo.

Sementara itu, Ji An bicara dengan Hyuk. Lalu, Ji An memberitahu Do Kyung bahwa Hyuk sudah menjelaskan apa yang terjadi pada Yong Gook.


“Dia akan menjaga rumahnya, jadi, Ji Soo bisa dibawa ke sana.” Ucap Ji An.

“Dia berpikir ibu akan menjemput paksa Ji Soo?” tanya Do Kyung.

“Mungkin.” Jawab Ji An.

“Tidak mungkin.” Ucap Do Kyung.

“Dia bilang Ji Soo amat gelisah.” Jawab Ji An.

“Kini kita harus bagaimana? Aku yakin ibu marah besar.” Ucap Do Kyung.

“Mungkin begitu.” Jawab Ji An.

“Kau punya rencana?” tanya Do Kyung.


“Saat tahu dia dipaksa pindah ke luar negeri, aku tidak sempat memikirkan rencana. Yang kupikirkan hanyalah Ji Soo. Aku tidak bisa membiarkan Ji Soo pergi. Ji Soo akan menderita di sana.” Jawab Ji An.

“Kita susun rencana sekarang. Rencana untuk hal yang akan terjadi nanti.” Ucap Do Kyung.

“Sebaiknya kita memikirkan rencana setelah bicara dengan Ji Soo. Pendapatnya penting. Aku takut dengan Nyonya No, tapi kurasa kita harus mengutamakan pendapat Ji Soo.” Jawab Ji An.


Orang-orang Seketaris Min mulai berjaga di depan rumah Tuan Seo.

  
Mereka juga berjaga di depan toko roti dan Kafe Hee.


Yong Gook keluar dari rumah kosnya dan melihat banyak orang berjaga di depan rumahnya. Tak lama kemudian, polisi datang. Yong Gook pun menyapa polisi itu dengan ramah dan melaporkan orang-orang itu karena sudah parkir ilegal di depan rumahnya. Orang-orangnya Nyonya No langsung pergi.


Tak lama setelah orang2 itu pergi, mobil Hyuk tiba. Hyuk pun langsung memapah Ji Soo ke dalam.


Nyonya No dapat laporan dari Seketaris Min tentang Ji Soo yang pergi ke rumah kos Yong Gook. Nyonya No yang tahu mereka tidak akan bisa menyentuh rumah kos itu pun kesal. Ia heran, kenapa Ji Soo harus pergi ke sana.


Hyuk menjelaskan ke Ji Soo, kalau ia dan Ji An tidak tinggal berdua di rumah itu. Ji Soo kemudian limbung. Untung saja, Hyuk langsung menangkapnya. Ji Soo bilang, ia tidak percaya kalau dirinya masih bersama dengan Hyuk saat itu. Hyuk pun berkata, Ji Soo akan aman dan nyaman tinggal di rumah kos nya.


Tak lama kemudian, Ji An dan Do Kyung tiba. Ji Soo pun langsung memeluk erat Ji An.


“Astaga, kau melupakan kakak kandungmu.” Celetuk Do Kyung sembari tertawa.

“Oppa!” panggil Ji Soo.

“Reuninya nanti saja. Bagaimana jika kita bicara dahulu?” ucap Yong Gook.


Ji Soo pun cerita, kalau Nyonya No mengancamnya akan menghancurkan kafe Hee dan toko roti. Do Kyung terkejut mendengarnya. Hyuk lalu meyakinkan Ji Soo, kalau itu tidak akan terjadi. Hyuk yakin itu hanya ancaman.

“Tidak, dia sungguh sanggup melakukan itu. Saat kubilang aku tidak mau ke luar negeri, dia merebut restoran ibu. Jadi, sejujurnya, aku masih khawatir.” Ucap Ji Soo.

“Jangan khawatir. Kakak akan menemui orang tua kita setelah berganti baju.” Jawab Do Kyung.

“Aku kaget kakak juga tinggal di sini.” Ucap Ji Soo.

“Ji Soo-ya, sebaiknya kau ke kamar dan beristirahat. Dia hampir pingsan.” Jawab Hyuk.

“Baiklah, Ji Soo, ayo ke kamar.” Ajak Ji An.


Setelah kedua gadis itu masuk ke kamar, Do Kyung pun langsung menatap Hyuk dengan galak. Do Kyung protes karena Hyuk menyukai adiknya setelah menyukai Ji An. Hyuk pun menjelaskan, kalau Ji An adalah cinta pertamanya tapi sekarang ia menyukai Ji Soo.

“Aku tidak bisa memercayaimu. Kau ingin mengencani adikku? Jangan mimpi!” ucap Do Kyung, lalu beranjak pergi.

“Tapi, aku sudah mengencaninya.” Ucap Hyuk.


Yong Gook pun meledek Hyuk. Ia bilang, Hyuk sedang dalam masalah besar. Hyuk pun tersenyum geli.


Di kamarnya, Ji An mengomeli Ji Soo yang berpura-pura bahagia tinggal di rumah Haesung. Ji An bilang, Ji Soo harusnya cerita padanya. Ji An kemudian meminta maaf karena tidak memberi Ji Soo kesempatan untuk bercerita padanya, padahal ia tahu Ji Soo hanya bisa bercerita padanya.

“Dulu kau juga seperti itu, kan? Itu sebabnya kau mendatangiku pada hari itu, kan? Kau hanya bisa membicarakannya denganku. Tapi aku malah menamparmu. Kau kira aku akan memihakmu.” Jawab Ji Soo.

“Hanya kau yang kumiliki.  Aku amat merasa bersalah dan malu, tapi hanya bisa bersandar kepadamu.” Ucap Ji An.

“Itu sebabnya kau ingin mengakhiri hidupmu.” Jawab Ji Soo.

“Bagaimana kau tahu?” tanya Ji An.


“Dalam perjalanan ke bandara, aku juga merasa ingin mengakhiri hidupku. Ini kali terakhirku menjadi Seo Ji Soo. Saat kembali setelah belajar, aku akan menjadi Choi Eun Seok. Saat memikirkan itu, aku teringat semua yang telah terjadi.” Jawab Ji Soo.

Lalu, Ji Soo teringat alasan Hyuk menyukainya. Hyuk berkata, ia menyukai Ji Soo apa adanya.

Kemudian, Ji Soo ingat kata-kata Hyuk tentang Ji An yang mau bunuh diri.

“Seseorang yang kukenal naik ke gunung di malam hari untuk mengakhiri hidupnya.” Ucap Hyuk.

Ji Soo juga ingat bagaimana cemasnya Tuan Seo saat Ji An menghilang.

“Akhirnya aku mengerti. Aku baru bisa mengerti saat itu.” Ucap Ji Soo.

“Kini aku baik-baik saja. Semua itu hanya masa lalu.” Jawab Ji An.

“Maafkan aku.” Ucap Ji Soo.


“Aku yang lebih merasa bersalah. Setelah tinggal dengan keluarga itu, aku mulai memahami karakter mereka, tapi aku percaya saat bilang kamu bahagia.” Jawab Ji An.

“Aku sungguh mengira kau membenciku.” Ucap Ji Soo.

“Mana mungkin aku bisa membencimu? Kau bagian dari diriku.” Jawab Ji An.

Kedua gadis itu lantas berpelukan.


Diluar, Do Kyung, Hyuk dan Yong Gook sedang menyusun rencana. Do Kyung yakin ibunya hanya mengancam Ji Soo. Ia melarang Hyuk cemas.

“Aku tidak cemas. Aku juga sudah memikirkannya.” Jawab Hyuk.

“Apa pun yang kau bayangkan, keadaan bisa lebih buruk daripada itu.” Ucap Yong Gook.

Do Kyung pun menghela nafas.


Ji An menyusul Do Kyung keluar. Ia mau ikut ke rumah Haesung, tapi dilarang Do Kyung. Ji An pun berkata, Nyonya No melihatnya jadi ia juga harus meminta maaf.

“Aku akan bicara kepadanya baik-baik.” Jawab Do Kyung.

“Jika aku tidak ke sana, dia akan makin marah. Mungkin dia juga akan salah paham denganku. Aku ingin bilang bahwa aku harus melakukannya meski tanpamu. Meski sudah tahu aku pasti akan diteriaki.” Ucap Ji An.

“Baiklah kalau begitu. Karena kita melakukannya bersama, mari perbaiki bersama.” Jawab Do Kyung.


Di kamar, Nyonya No uring-uringan. Tuan Choi terkejut mengetahui Ji Soo sudah punya pacar.

“Bisa-bisanya dia turun dari mobil. Bisakah kau memahaminya? Dia putri pemilik Perusahaan Haesung. Aku mengirimnya ke sana agar dia bisa menjadi salah satu dari kita!”

“Bisakah kau tenang lebih dahulu? Ini tidak sepertimu.” Ucap Tuan Choi.

“Mana bisa aku tenang? Aku hanya akan makin marah. Dia melepaskan tanganku dan masuk ke mobil pria itu.” Jawab Nyonya No.

“Kau bilang Ji An dan Do Kyung juga di sana. Jika ada mereka di sana, mereka pasti punya alasan bagus.” Bela Tuan Choi.

“Apakah itu penting dalam keadaan ini? Kita harus memikirkan cara mendapatkan Ji Soo kembali.” Ucap Nyonya No.

Perdebatan itu akhirnya terhenti karena Seketaris Min memberitahu soal kedatangan Do Kyung dan Ji An.


Nyonya No semakin marah melihat Ji An. Ia mengusir Ji An dan hanya mau bicara dengan Do Kyung. Tapi Tuan Choi ingin mendengar penjelasan keduanya. Lalu, mereka duduk.

“Kudengar kau menghalangi mobilnya saat dalam perjalanan ke bandara dan mengambil Ji Soo. Pacar Ji Soo juga membantumu.” Ucap Tuan Choi sambil menatap Ji An.

“Aku meminta bantuan Ji An. Aku tidak bisa membiarkan Ji Soo pergi.” Jawab Do Kyung.

“Apa maksudmu tidak bisa membiarkan Ji Soo pergi?” tanya Tuan Choi.

“Aku mengancamnya sedikit.” Jawab Nyonya No.

“Apa maksudmu? Apa yang kau katakan padanya?” tanya Tuan Choi.


“Kenapa kau ikut campur? Pikirmu kau berhak ikut campur?” ucap Nyonya No pada Ji An.

“Aku amat mengenal Ji Soo. Dia tidak akan bisa belajar di luar negeri. Harus ada yang merawatnya. Dia juga tidak bisa bertahan jika tidak ingin pergi.” Jawab Ji An.

“Itu bukan urusanmu. Siapa kau berhak bilang begitu?” sentak Nyonya No.

“Ji Soo adalah adikku.” Jawab Ji An.

“Jangan membodohiku dengan ucapanmu. Kau berbohong soal tinggal bersama Do Kyung di rumah itu.” Marah Nyonya No.


Do Kyung mau menjelaskan, tapi Tuan Choi menyuruhnya diam.

“Kalian tinggal bersama, tapi kau bilang tidak tertarik. Katamu kau membenci keluarga kami.” Ucap Nyonya No.

“Aku tidak berbohong. Aku tidak meminta izinnya. Dia juga tidak ingin anda tahu. Aku tidak bisa melaporkannya begitu saja. Serta aku juga tahu anda akan segera mengetahuinya” jawab Ji An.

“Aku ke rumah itu karena Yong Gook. Aku tahu Ji An di sana, jadi, aku pindah ke sana.” Ucap Do Kyung.


“Ucapanmu tidak penting. Ucapan tidak ada artinya, bukan?” sindir Nyonya No.

“Aku akan segera pulang ke rumah orang tuaku.” Jawab Ji An.

“Ibu tidak perlu mencemaskan soal Ji An. Aku akan menepati janjiku kepada Ibu.” Ucap Do Kyung.

“Ji Soo, kuharap anda akan mengizinkan Ji Soo hidup sesuai keinginannya.” Pinta Ji An.

Nyonya No pun meledak.

“Keluar! Putraku saja tidak cukup? Kini kau ingin menghancurkan hidup putriku juga? Kau ingin menghancurkannya karena dia memiliki semua yang kau inginkan, bukan?” tuduh Nyonya No.

“Itu sudah cukup. Sebaiknya kau pergi, Ji An.” Suruh Tuan Choi.


Ji An pun pergi. Setelah Ji An pergi, Do Kyung pun meminta penjelasan pada ayahnya tentang ancaman ibunya yang akan menghancurkan Hyuk, Kafe Hee dan toko roti Boss Kang. Do Kyung mengira ayahnya menyetujui hal itu. Tuan Choi pun kaget.

“Saat kusuruh pergi, dia menolak. Dia marah karena hal itu. Semua karena pria itu.” Jawab Nyonya No.

“Ibu, teganya Ibu melakukan itu kepadanya. Aku pun tidak memercayainya saat Ji Soo memberitahuku.” Ucap Do Kyung.

“Kau tidak percaya? Kenapa? Ibu hanya melanggar beberapa aturan dan menggunakan cara untuk mengirimnya ke luar negeri dan melindungi keluarga kita. Seharusnya kau lebih tahu daripada siapa pun. Bawa Ji Soo kembali sekarang.” Jawab Nyonya No.

“Do Kyung-ah, sebaiknya kau pergi.” Suruh Tuan Choi.

“Aku harus tahu apa yang akan Ibu lakukan kepada Ji Soo. Ibu akan memaksanya belajar di luar negeri lagi? Dia harus memperbaiki dirinya.” Ucap Do Kyung.

“Ayah menyuruhmu pergi!” ucap Tuan Choi lagi dengan suara meninggi.

Sontak, Nyonya No kaget mendengarnya.

“Ayah akan bicara dengan ibumu. Bilang kepada Ji Soo untuk tidak cemas.” Suruh Tuan Choi.


Do Kyung pun pergi. Setelah Do Kyung pergi, Tuan Choi langsung menatap tajam istrinya dan berkata bahwa ia butuh waktu sendiri.


Hyuk membuatkan Ji Soo nasi goreng kimchi. Ji Soo bilang, rasanya seperti mimpi bisa makan masakannya Hyuk.

“Jangan terlalu takut. Kedua kakakmu di sini. Aku juga di sini.” Jawab Hyuk.

“Maafkan aku.” Ucap Ji Soo.

“Kenapa meminta maaf? Itu bukan salahmu.” Jawab Hyuk.


Tak lama kemudian, Do Kyung dan Ji An pulang. Do Kyung protes karena Hyuk baru memberi makan adiknya jam segitu. Ji Soo menjelaskan, kalau tadi ia tidak lapar. Ji Soo lalu menanyakan apa yang terjadi.

“Ayah akan bicara dengan Ibu. Dia bilang kau tidak perlu khawatir. Ayah tidak tahu.” Jawab Do Kyung.

“Ayah bilang aku tidak perlu khawatir? Bisakah?” tanya Ji Soo.

“Apa yang ingin kau lakukan sekarang? Itu yang paling penting.” Ucap Ji An.

“Aku ingin kembali bekerja di toko roti. Aku juga tidak bisa tinggal di rumah orang tuaku sekarang, jadi, aku ingin tinggal di sini untuk sementara.” Jawab Ji Soo.

“Tentu saja. Kakakmu di sini.” Ucap Do Kyung. Ji Soo langsung senyum.


Di rumah lamanya, Tuan Seo resah karena belum ada kabar dari Ji An soal Ji Soo. Tak lama kemudian, pesan dari Ji An pun masuk ke ponselnya.

"Ayah, Ji Soo tidak pergi. Dia kembali. Aku akan segera mengunjungi ayah bersama Ji Soo dan menjelaskan keadaannya."

Begitulah bunyi pesan Ji An. Tuan Seo pun penasaran, apa yang menyebabkan Ji Soo kembali.


Ji An dan Ji Soo sudah tidur.


Sementara Hyuk dan Do Kyung sama2 tidak bisa tidur.


Keesokan harinya, Ji An dan Ji Soo terbangun karena suara alarm ponsel Ji An. Ji An pun bergegas mematikan alarmnya dan menyuruh Ji Soo tidur lagi.

Ji Soo lalu melihat boneka kayunya.

“Sudah lama aku tidak melihatnya. Ada aku juga.” Ucapnya senang.


Lalu, Ji An memberikan ponsel lamanya pada Ji Soo. Kedua gadis ini kemudian tertawa.


Seketaris Miin memberitahu Tuan Choi kalau Nyonya No sudah pergi pagi-pagi sekali. Lalu, Tuan Choi mendapat telepon dari nomor yang tidak dikenalnya.


Di kantor, Nyonya No menyuruh orang2nya menangkap Ji Soo begitu Ji Soo keluar dari rumah kos itu.


Namun untunglah, orang-orang Nyonya No gagal menangkap Ji Soo karena ada Tuan Choi di sana.


Tuan Choi membawa Ji Soo ke kafe.

“Kenapa tidak memberitahu ayah? Ayah sudah bilang kau tidak perlu pergi.”

“Aku ingin memberitahu ayah. Tapi itu akan membuat ayah kesulitan. Ayah bekerja untuk Kakek dan dia memutuskan segalanya. Kupikir aku akan menyulitkan ayah.”

“Jadi, kau kesulitan memercayai ayah? Tapi tidak apa-apa. Kau sudah menghubungi ayah.”

“Tolong aku, ayah.  Aku ingin hidup sebagai Seo Ji Soo. Aku tidak ingin hidup sebagai Choi Eun Seok.”


Nyonya No memberitahu ayahnya soal Ji Soo yang tinggal di rumah Yong Gook. Nyonya No bilang, ia tidak bisa membiarkan Ji Soo di sana. Tapi CEO No malah bilang kalau membawa pulang Ji Soo tidaklah penting. CEO No kemudian mengaku, punya firasat buruk soal ini.

“Tidak akan mudah mengontrol Do Kyung. Kita harus bagaimana? Hubungan mereka sungguh rumit. Ji An tidak bisa dihancurkan.” Ucap CEO No.


“Ji Soo lebih penting sekarang. Aku tidak bisa merelakan Ji Soo. Do Kyung akan segera pulang. Dia belum lupa bahwa dia ahli waris Haesung. Tapi jika aku tidak memperbaiki Ji Soo sekarang, dia akan tumbuh menjadi manusia tanpa arti. Aku tidak bisa membiarkan putriku seperti itu. Aku No Myung Hee. Aku tidak bisa membiarkan hidup putriku rusak seperti itu. Aku tidak sanggup.” Jawab Nyonya No.

“Kau tidak bisa merelakan Eun Seok? Ayah tidak bisa merelakan Do Kyung.” Ucap CEO No.

“Ayah!” pinta Nyonya No.
“Tangani Ji Soo. Ayah akan menangani Do Kyung.” Jawab CEO No.

Tuan Seo pulang ke rumahnya. Bersamaan dengan itu, CEO No tiba di rumah Tuan Seo,


Nyonya Yang jelas senang melihat suaminya pulang. Tuan Seo pun mengaku ia pulang karena Ji Soo.

Lalu, bel rumah mereka berbunyi. Begitu pintu dibuka, CEO No langsung menerobos masuk ke dalam. Tuan Seo dan Nyonya No terkejut dengan kedatangan CEO No.

No comments:

Post a Comment