Thursday, February 8, 2018

My Golden Life Ep 43 Part 2

Sebelumnya...


CEO No marah, ia bilang karena Do Kyung ia tidak bisa pergi ke Hawaii. Karena Do Kyung, ia harus menghabiskan dua bulannya di Korea. Tapi Do Kyung tidak peduli. Ia meminta kakeknya mendengarkannya. CEO No marah, ia membanting cangkir tehnya.

Do Kyung minta penjelasan kenapa kakeknya datang ke rumah Ji An. CEO No bilang, itu karena Do Kyung tidak pulang juga ke rumah.

“Kenapa kakek pergi ke sana? Kami tidak berkencan.” Ucap Do Kyung.

“Itulah masalahnya. Ji An bilang tidak ada hubungan apa-apa diantara kalian. Katamu kau sudah melupakannya. Jika begitu, kau harus pulang. Jika tidak pulang, artinya kau berbohong. Jadi kakek memperingati mereka. Kalian bahkan bekerja sama untuk membawa Ji Soo. Jika seorang Ji An sampai bisa melakukan itu dan melawan keluarga kita, berarti kau membantunya. “ jawab kakek.

“Dia hanya melakukan itu karena menyayangi adiknya.” Ucap Ji An.

“Lantas kau bisa pulang. Jika kalian tidak berkencan, kau harus pulang. Hanya itu yang bisa membuktikannya. Tapi kau tidak mau pulang. Itu artinya, kalian berdua berbohong.  Menurutmu, kali ini kakek akan berhenti memukuli Seo Tae Soo?” jawab kakek.

Do Kyung pun kaget tahu kakeknya memukul ayah Ji An.


CEO No sendiri terkejut karena Ji An tidak memberitahu Do Kyung. Do Kyung pun menjelaskan, dia tahu kakeknya ke rumah Ji An bukan dari Ji An. Tapi kakek gak mau mendengarkan penjelasan Do Kyung.

CEO No berkata, bahwa ia sudah memukul Tuan Seo dua kali dan memberikan Tuan Seo peringatan keras. Do Kyung pun sadar, kakeknya mengancam untuk menyakiti keluarga Ji An sama seperti yang ibunya lakukan.

“Kau lah yang membuat kakek melakukan sesuatu yang tidak beradab, Do Kyung-ah.”

“Seo Ji An! Kubilang aku tidak akan membawanya pulang! Aku tidak mau kami hidup di keluarga semacam ini!”

CEO No pun kaget, apa?


“Kakek takut aku menikahinya, kan? Jangan cemas, Kek. Aku tidak akan menikahi Ji An. Tidak akan pernah. Aku tidak akan melakukannya karena kami tidak mau hidup begini.  Selain itu, aku juga tidak akan kembali.  Aku tidak akan kembali meski tidak ada hubungannya dengan Ji An. Aku belum mencoba mengelola bisnisku sendiri. Aku juga belum menjalani kehidupanku sendiri.”

“Jadi kau memutuskan melanggar perintah kakek? Kau mau melawan kakek?”

“Aku bukan lagi peliharaan kakek.”


Hae Ja terkejut saat Nyonya Yang bilang mau bekerja. Nyonya Yang berkata, ia mau bekerja untuk menyokong suaminya saat suaminya kembali nanti.

“Bahkan saat Tae Soo kesulitan dan tidak punya uang, katamu kamu terlalu lemah untuk bekerja.” Jawab Hae Ja.

“Kau tahu dia terus mengatakan apa usai menduga dirinya terkena kanker? Dia melarangku membebani anak-anak. Itu melukai hatiku.” Ucap Nyonya Yang.

“Omong-omong, Mi Jung. Bukankah kau kedatangan tamu saat aku datang kali terakhir? Pria tua yang tampak kaya itu. Kenapa dia kemari? Ada urusan apa orang kaya sampai datang ke sini?” tanya Hae Ja.

Enggan menjawab, Nyonya Yang pun menanyakan tujuan Hae Ja ke rumahnya. Hae Ja bilang, ia datang untuk mengajak Nyonya Yang berbelanja.


Usaha Do Kyung dijegal kakeknya lagi. Pemilik pabrik yang sudah disewa Do Kyung, tiba-tiba saja membatalkan kontraknya. Pemilik pabrik juga mengembalikan biaya pembatalan kontrak. Pemilik pabrik bilang, seseorang datang menawar dengan harga dua kali lipat. Do Kyung pun terpukul mengetahui itu ulah kakeknya.


Yong Gook bilang pada Hyuk, kalau ia cukup terkesan pada Do Kyung.

“Tidak kuduga dia akan melakukan ini. Dia tumbuh dalam kenyamanan. Tidak akan mudah memulai dari bawah.” Ucap Yong Gook.

“Memang benar Ji An memberi pengaruh positif. Bagiku juga begitu. Akan butuh lebih banyak sisa kayu saat bisnisnya mulai berjalan. Aku harus memperkenalkannya dengan pemilik kebun kayu Incheon.” Jawab Hyuk.

Yong Gook pun meledek Hyuk yang mendadak baik sama Do Kyung.


Yong Gook lalu menelpon Do Kyung. Ia berniat mentraktir Do Kyung. Tapi ia terkejut saat Do Kyung bilang usahanya gagal lagi. Do Kyung cerita pada Yong Gook, bahwa kakeknya terus mengawasinya dan berniat menghancurkannya.


Di studio, Ji An sedang membuat boneka kayu. Lalu Ji Soo datang, menatap Ji An dengan mata berkaca-kaca. Ji Soo teringat ucapan Hyuk soal hubungann Do Kyung dan Ji An.

Ji Soo lantas mendekati Ji An. Ia langsung memeluk Ji An.

“Kau sudah banyak menderita karena kakakku. Kau membuatku gila. Kenapa tidak memberitahuku?” ucap Ji Soo.

“Kau terlambat. Aku tidak bilang karena semuanya sudah selesai.”

“Ayo pergi dan minum bir dari toserba.” Ajak Ji Soo.

“Tidak. Aku muak meminum bir toserba.” Jawab Ji An.


“Lantas, ayo kita ke bar.” Ajak Hyuk sembari masuk ke studio.

“Kalian mau mentraktirku minum? Tapi jangan hari ini. Lain kali saja. Aku mau menyelesaikan ini.” Jawab Ji An.

“Ukiran? Siapa?” tanya Hyuk.

“Ayahku.” Jawab Ji An.


Ji An lalu menyuruh Hyuk menyapu serpihan2 kayunya, karena Do Kyung akan mengambilnya besok. Ji Soo pun meraih ponselnya, mau menghubungi Do Kyung tapi dilarang Hyuk.

“Pimpinan No memang luar biasa. Dia membeli pabriknya pada saat-saat terakhir.” Ucap Hyuk.

Ji An pun kesal, Lagi? Dia menghentikannya lagi? Untuk apa? Kenapa? Ada apa lagi? Aku sudah pindah dari kontrakan dan kami mengakhiri... Kami berdua sama-sama menyerah. Teganya dia melakukan itu. Do Kyung tidak bisa pulang tanpa mencapai apa pun. Dia juga punya harga diri. Do Kyung itu cucunya. Tidak bisakah dia setidaknya melindungi harga dirinya? Jika sudah begitu, Do Kyung baru bisa berbangga. Teganya dia...


Do Kyung yang mabuk, masuk ke kamarnya. Dia bahkan terjatuh di lantai.


Ji An tak bisa tidur. Ia terus memikirkan Do Kyung. Ia ingat, Do Kyung pernah bilang tidak mau menjadi piaraan Haesung.


Ji An lalu duduk di layar laptopnya, menyiapkan artikel soal pelet kayu.


Besoknya, Ji An meminta Yong Gook menyerahkan artikel itu pada Do Kyung.
                                                                                                                                                
“Ada mesin pelet bekas yang sedang dijual. Aku sudah mencari tahu apa saja yang harus dia beli. Jika sudah punya mesin, dia hanya perlu menemukan pabrik dengan harga murah. Dia sudah menguji ide itu dan mempekerjakan pegawai berpengalaman.” Ucap Ji An.

Ji An juga meminta Yong Gook mencarikan pabrik untuk Do Kyung.

Yong Gook tersentuh dengan usaha Ji An.


Do Kyung berdiri di depan Kantor Haesung. Ia menatap gedung Haesung dengan tatapan lirih.


Di rumah kos, Do Kyung yang baru pulang bertemu Yong Goo. Yong Gook bilang, ia sudah memutuskan akan berinvestasi di bisnis Do Kyung. Do Kyung sontak terkejut.

“Aku tidak menawarkan uang. Aku akan memakai koneksiku untuk mencarikanmu pabrik dan membeli mesin-mesin dengan mengedarkan hal-hal seperti ini.” Ucap Yong Gook.

“Mengedarkan?” tanya Do Kyung.

“Mesin bekas. Mesin yang kau butuhkan untuk membuat pelet. Semuanya ada di sana. Aku mendapatkannya dari Ji An sebelum bekerja. Dia pasti bergadang semalaman.” Jawab Yong Gook, lalu memberikan berkas yang diberikan Ji An tadi padanya.

“Ji An memberimu ini?” tanya Do Kyung.

“Dia memintaku berpura-pura aku yang mengerjakannya, tapi aku tidak mahir menyimpan rahasia. Aku meminta Won Joo mencarikan beberapa pabrik. Dia tertarik dalam ide bisnismu dan sudah melakukan rapat rutin.” Jawab Yong Gook.


“Terima kasih.” Ucap Do Kyung.

“Tapi kau habis dari mana berpakaian seperti itu?” tanya Yong Gook.

“Perusahaan Haesung. Untuk menguatkan diriku. Sekeras apa pun kakekku mencoba menghentikanku, meski harus bekerja paruh waktu selama 100 tahun, kubilang kepada diriku, aku tidak akan memakai uang yang dia berikan kepadaku. Lalu aku mendapat hadiah ini.” Jawab Do Kyung, sambil menunjukkan berkas dari Ji An.


Do Kyung datang ke studio untuk mengambil sisa kayu.


Setelah Do Kyung pergi, Ji An pun minta izin ke kantornya Hyuk. Tapi sampai di sana, dia malah ketemu Do Kyung. Gugup, Ji An pun bilang ada yg mau ia tanyakan pada Yong Gook.

“Aku bisa menjawabnya. Kau bergadang semalaman? Kau tidak bisa memberikannya sendiri. Kau juga tidak bisa menunjukkan kepedulian. Kenapa harus seperti ini?” tanya Do Kyung.

“Ini pertemanan. Yang salah tetap salah dan aku sangat mengerti alasanmu tidak bisa kembali. Kau tidak mau menjadi mainan kakekmu.” Jawab Ji An.
“Mau menikah denganku? Aku tidak akan menikahimu. Kau tidak akan menikahiku, bukan?” ucap Do Kyung.


Do Kyung lalu mengajak Ji An berkencan. Do Kyung bilang, walaupun tidak bisa menikahi Ji An, tapi dia mau mengencani Ji An setidaknya satu kali. Do Kyung bilang, hanya berkencan. Ji An pun setuju.

Mata Ji An terlihat berkaca-kaca.


No comments:

Post a Comment