Tuesday, March 13, 2018

Good Witch Ep 1 Part 2

Sebelumnya...


Giliran Oh Pyeong Pan berpidato di hadapan ribuan staff nya.

“Berkat kalian semua, Maskapai Donghae bisa menghasilkan penjualan sebesar 12 miliar dolar! One Air juga akan didirikan tahun ini. 30 tahun usai berdirinya Maskapai Donghae, aku, Oh Pyeong Pan, akhirnya bisa mewujudkan impianku! Ini terasa luar biasa!”

Tuan Oh (selanjutnya kita panggil begini ya) lantas mengajak hadirin bersulang untuk hari jadi Maskapai Donghae yang ke-30.

Tuan Oh lalu menyuruh para hadirin menikmati hidangan yang telah disiapkan.


Do Hee terus memperhatikan Woo Jin.  Rekan Do Hee heran, kenapa Woo Jin memakai jas biru hari itu. Do Hee bilang, warna biru tua menekan insting seorang pria. Rekannya bertanya lagi, kenapa Woo Jin ingin menekan instingnya.

“Aku sudah memeriksa latar belakang pribadinya dan tampaknya dia tidak meyakini pernikahan. Tubuh dan jiwanya sudah terlatih untuk menjauh dari wanita. Sejak bergabung dengan perusahaan ini, dia tidak pernah berkencan atau makan dengan pramugari.” Jawab Do Hee.

Rekan Do Hee bertanya lagi, kenapa Do Hee tertarik pada Woo Jin, sedangkan Woo Jin tidak tertarik pada pernikahan.


“Kau menginginkan batu yang bergelimangan di tanah atau tiara edisi terbatas yang dipajang di toko barang mewah?” tanya Do Hee.

“Tentu saja, tiara edisi terbatas.” Jawab rekan Do Hee.

“Kenapa?” tanya Do Hee lagi.

“Karena itu langka.” Jawab rekannya.

“Sama seperti Woo Jin. Dia pria langka. Dia seperti barang langka yang ada di pasaraya atau museum.” Ucap Do Hee.


Do Hee lantas beranjak pergi. Rekannya, Joo Ye Bin, mengingatkan kalau sesi lelang amal untuk membantu anak-anak di Afrika baru akan dimulai. Tapi Do Hee menolak. Do Hee bilang, tidak ada gunanya membantu anak2 di negara lain.

“Orang-orang melihat. Setidaknya pura-puralah ikut serta. Terkadang kau tampak agak kejam.” Ucap Ye Bin.

“Lupakan saja. Orang-orang pasti akan menyebutku penyihir berhati dingin. Aku tidak peduli jika mereka bilang begitu. Itu tidak memengaruhi kehidupanku sama sekali.” Jawab Do Hee, lalu mencium pialanya dan beranjak pergi.


“Dasar penyihir jahat. Melakukan semua hal sesuka hatinya sendiri. Dia sangat menyebalkan.”  Gumam Ye Bin setelah Do Hee pergi.


Di pesawat, Tae Ri mulai bertingkah. Dia menyiramkan mie panas ke kepala pramugari yang melayaninya. Tae Ri tidak terima pramugari itu menyajikan mie panas untuknya. Ia bilang wadah steik memang harus dihangatkan, tapi tidak untuk wadah mie instan. Pramugari itu meminta maaf. Tapi Tae Ri malah menyiramnya dengan mie panas.


Chae Kang Min, suami Tae Ri, pun datang. Ia gemas melihat istrinya yang tidak bisa menjaga sikap. Apalagi orang2 di pesawat merekam saat Tae Ri menyiramkan mie panas itu ke si pramugari.


Akibatnya, setelah pesawat mendarat, Tae Ri pun ditangkap pihak keamanan.

“Dasar jalang! Jalang!” teriak Tae Ri pada pramugari itu.


Video Tae Ri menyiram pramugari itu pun tersebar di internet. Netizen mengutuk perbuatan Tae Ri yang bertindak semena-mena.


Gong Hyun Joon pun langsung melaporkan masalah itu pada Tuan Oh. Tuan Oh kesal dan menyuruh asistennya menyelesaikan masalah itu diam-diam.


Cheon Dae yang baru bangun, langsung menyambar ponselnya dan ber-selfie ria. Ia senyum2 sendiri sambil memuji ketampanannya. Setelah itu, ia mau meng-upload fotonya ke medsos. Tapi belum selesai mengupload, ia dikejutkan dengan telepon Sun Hee. Uniknya, ringtone ponselnya adalah rekaman suara Sun Hee yang memintanya berhenti memainkan medsos.


“Hai, Sayang. Kau mengejutkanku. Kau mau membunuhku sekarang? Kau penyelamatku.” Ucap Cheon Dae.

“Maaf sudah mengejutkanmu. Tapi apa maksud perkataanmu barusan?” tanya Sun Hee.

“Kau sangat kuno. Aku hidup berkat istriku. Kau ingin jantungku berhenti, lalu mati karena dirimu?” jawab Cheon Dae.

Sun Hee pun tersipu malu mendengar gombalan Cheon Dae. Sun Hee lalu menyuruh Cheon Dae makan. Ia bilang sudah membuatkan Cheon Dae sarapan sebelum pergi kerja.


Para ahjumma yang ikut bekerja bersama Sun Hee pun gemes melihat Sun Hee yang masih saja mengurus Cheon Dae.

“Kau tidak perlu mengurus suami pengangguranmu seperti itu. Dia kesulitan mendapatkan pekerjaan. Dia membuat istrinya bekerja. Dia bermain ponsel seharian, tapi kamu masih mengurusinya.” Ucap salah satu ahjumma.

“Bukan dia yang menyuruhku. Aku yang ingin melakukan hal ini.” Jawab Sun Hee.

Sun Hee juga mengaku, kalau dia mati-matian bekerja karena ingin membuka bisnis food truck.

“Begitu memulai bisnisku, aku akan memberi kalian diskon 50 persen seumur hidup.” Ucap Sun Hee, membuat para ahjumma itu senang.

Sun Hee lalu membagi-bagikan minuman vitamin pada ahjumma2 itu.


Tuan Oh yang baru sampai di kantor, langsung disambut oleh berita TV soal video Tae Ri menyiram pramugari dengan ramen panas.  Sontak, Tuan Oh kesal dan merutuki putri sulungnya itu. Tuan Oh heran, kenapa putrinya bisa jadi gila begitu padahal ia sudah menghabiskan uang banyak untuk mendidik dan membesarkan putrinya.


Tuan Oh lalu bertanya kapan Tae Ri kembali ke Korea. Hyun Joon bilang, Tae Ri akan segera tiba di Bandara Incheon.


Tae Ri baru saja tiba di Bandara Incheon. Para wartawan pun langsung mengerubunginya, menanyakan video ramen panas itu. Salah satu wartawan bahkan sampai menarik masker Tae Ri. Sontak, Tae Ri murka dan menghantamkan kepalanya ke si wartawan sampai wartawan itu mimisan. Tak cukup membuat wartawan itu mimisan, Tae Ri juga berteriak-teriak seperti orang gila.


Kang Min pun bergegas menyeret istrinya pergi dari sana.


Saat Do Hee tidak ada di rumah, Sun Hee mampir untuk memberinya persediaan kimchi. Sun Hee juga mengingatkan Do Hee kalau hari itu adalah hari kematian ayah mereka.


Begitu masuk, Sun Hee terkagum2 melihat isi rumah Do Hee. Dia juga iseng, mencoba seragam Do Hee dan mematut diri di kaca seolah2 dia adalah pramugari.


Setelah itu, Sun Hee masuk ke dapur dan meletakkan kimchi nya di kulkas.


Sun Hee lalu keluar untuk membuang sampah. Tapi tiba2, seorang pria bermasker membekap mulutnya dan memanggilnya Do Hee. Pria itu mengancam, akan memberi Do Hee waktu 4 hari untuk menyerahkan barangnya. Setelah itu, pria itu kabur dan Sun Hee meneriakinya perampok tapi tak ada satu pun yang datang.


Tepat saat itu, Do Hee pulang tapi dia hanya menatap Sun Hee yang syok dengan dingin.
“Dia menyebut namamu. Dia menyebutkan sesuatu dan empat hari. Apa yang dia inginkan darimu? Apakah kau diperas? Dia pria jahat, bukan?” ucap Sun Hee panic.

Do Hee pun menyuruh Sun Hee melupakan pria itu. Do Hee kemudian bertanya, apa Sun Hee melihat wajah pria itu? Apa ada yang melihat kejadian itu? Sun Hee bilang pria itu memakai topi jadi ia tak melihat wajahnya dan tidak ada satu pun saksi yang melihat kejadian itu. Sun Hee lantas mengajak Do Hee melaporkan kejadian itu pada polisi.

“Dia salah satu mantan pacarku.” Ucap Do Hee.

“Kenapa mantan pacarmu memerasmu?” tanya Sun Hee.

“Itu bukan urusanmu. Sejak kapan aku menceritakan hal semacam itu denganmu?” jawab Do Hee.


Do Hee juga bilang kalau dia sedang diet dan tidak butuh makanan pendamping dan menyuruh Sun Hee pergi. Ia juga tak peduli dengan Sun Hee yang begitu mencemaskannya. Saat mau pergi, Sun Hee melihat surat kontrak rumah di meja.

“Kau akan pindah lagi? Tapi Kau baru saja pindah kemari. Kau mencoba menghindarinya, bukan?” tanya Sun Hee.

“Kubilang pergi.” Ucap Do Hee dingin.


Tuan Song dan Nyonya Kim sedang memata-matai Woo Jin. Mereka duduk di mobil dan menunggu di depan rumah Woo Jin. Tuan Song yang sudah lelah dan lapar, mengajak istrinya pulang. Ia juga tak mau orang2 salah paham dan mengira mereka penguntit.


Nyonya Kim tidak mau dan menunjukkan video Woo Jin yang sedang melakukan yoga untuk menekan gairah terhadap wanita. Terkejutlaah Tuan Song anaknya melakukan itu.


“Promosimu sebagai kepala kantor di cabang Jerman itu kabar baik. Tapi kurasa aku tidak bisa pergi karena dia. Jika kita pergi, Woo Jin bisa saja melajang seumur hidup dan menjadi pria tua lajang yang aneh. Putra kita salah langkah. Jangan takut dengan masalah yang mungkin akan terjadi. Sebagai ibunya, aku harus melakukan hal yang benar.” Ucap Nyonya Kim.

“Jangan bilang kau akan melakukan seperti katamu waktu itu.” Cemas Tuan Song.

“Rahasiakan itu dari Woo Jin.” Ucap Nyonya Kim, lalu menghubungi Tuan Jung dari Real Estate Song Wool.


Nyonya Lee sedang menata hidangan untuk peringatan hari kematian suaminya. Sun Hee berusaha menghubungi Do Hee, tapi tidak diangkat. Sun  Hee pun cemas. Ia takut terjadi sesuatu pada Do Hee.

“Dia pasti sengaja mengabaikan telepon Ibu.” Ucap Cho Rong.

“Biarkan saja. Sudah lima tahun dia tidak mengikuti upacara peringatan kematian ayahmu. Dia bilang kita menyedihkan. Do Hee mengabaikan dan membencimu, kenapa kau baik sekali kepadanya? Kau lupa perlakuannya kepadamu?” jawab sang ibu.

Cho Rong langsung menggenggam tangan ibunya. Sementara Sun Hee teringat salah satu perlakuan Do Hee padanya.


Flashback...

Do Hee ternyata datang ke nikahan Sun Hee. Tapi dia datang untuk melabrak Sun Hee yang diterima menjadi kru kabin di perusahaan penerbangan lain.

“Aku baru saja terpilih sebagai model untuk kru kabin perusahaanku. Tapi menurutmu apa yang akan terjadi jika mereka tahu kembaranku bekerja di perusahaan saingan? Kau pikir mereka akan tetap menjadikanku model kru kabin?” ucap Do Hee kesal.

“Aku tidak berusaha menghancurkan kehidupanmu. Kau juga tahu, sejak kecil aku ingin bekerja sebagai pramugari.” Jawab Sun Hee berkaca-kaca.
“Cari pekerjaan lain. Lakukan hal yang cocok untukmu.” Ucap Do Hee.

“Omong kosong apa ini? Kalian berdua mirip. Kenapa kau boleh bekerja, tapi istriku tidak?” protes Cheon Dae.

“Hanya karena kami mirip, bukan berarti dia sekompeten diriku.” Jawab Do Hee.

Nyonya Lee dan Nyonya Byeon pun datang. Mereka terkejut melihat pertengkaran itu.


“Kau mengetahuinya, bukan? Jika kau berada di dekatku, aku akan dianggap serendah dirimu. Aku bahkan pindah rumah agar orang-orang tidak tahu tentangmu. Jangan pernah mendekati bandara. Paham?” ucap Do Hee.

“Kau jahat sekali. Terlepas dari yang kau rasakan, seharusnya kau tidak datang dan melakukan ini di pernikahanku!” tangis Sun Hee.

“Dasar bodoh. Berapa kali lagi harus kutekankan? Aku sangat muak denganmu dan juga Ibu. Aku ingin memutus hubunganku dengan kalian!” ucap Do Hee.


Do Hee lalu pergi. Ia melewati ibunya yang syok begitu saja sambil menatap sang ibu dengan penuh kebencian.

Flashback end...


“Sun Hee-ya,  Ibu benar-benar tidak suka kau baik seperti ayahmu. Ingat kejadian yang menimpanya usai terlalu memedulikan orang lain? Ibu sedih melihat Do Hee tumbuh sangat egois. Tapi di sisi lain, Ibu tidak pernah mencemaskannya. Kau harus bisa hidup seperti dia. Dengan begitu, kehidupanmu akan membaik.” Ucap Nyonya Lee.


Tuan Oh rapat bersama para eksekutifnya. Mereka membahas krisis perusahaan yang terjadi gara2 insiden Tae Ri. Tapi para eksekutif itu tidak bisa memberinya solusi.


Kang Min menjenguk Tae Ri di penjara. Ia memberitahu Tae Ri kalau wartawan itu mau menuntut Tae Ri. Tapi Tae Ri malah menghina wartawan itu dengan menyebut para wartawan sebagai pengemis yang hanya ingin mengambil uangnya.  Kang Min pun kesal.

“Banyak orang kesal karena orang kaya menyalahgunakan kekuasaan mereka. Orang-orang menandatangani petisi untuk memboikot Maskapai Donghae. Nilai merek perusahaan dan harga saham, keduanya anjlok. Menilai dari tanggapan masyarakat, kau tidak akan bebas semudah itu.” Ucap Kang Min.

Kang Min juga mengajak Tae Ri bercerai, karena ia muak mengurusi masalah Tae Ri. Ditambah lagi, Tae Ri juga ingin bercerai dengannya sejak lama jadi ia akan menceraikan Tae Ri sekarang juga.


Pagi2, Sun Hee mendapat telepon yang membuatnya syok. Ia langsung loncat dari tempat tidur dan pergi ke tempat kerjanya.

Ternyata, boss nya menggelapkan uang gaji para ahjumma. Parahnya lagi, Sun Hee ternyata menitipkan uang tabungannya yang akan dipakainya sebagai modal bisnis food truck pada bossnya.

“Pasti dia sudah merencanakannya. Dia sudah berada di luar negeri. Dia mungkin sengaja melakukannya. Dia mungkin berpikir kau mudah dibodohi.” Ucap satu ahjumma.

Sun Hee langsung lemas. Tangisnya pecah, tapi kemudian ia menerima telepon dari bossnya.


Woo Jin lagi2 ke kantor pakai jas biru itu. Woo Jin tak sendiri, tapi ia datang bersama ayahnya yang ternyata seorang pilot juga.


Tuan Oh sedang mengomeli Kang Min yang tidak bisa mengendalikan Tae Ri. Tuan Oh baru saja diberitahu Kang Min soal insiden Tae Ri menyerang wartawan.

“Berapa harga saham kita?” tanya Tuan Oh.

“Sudah turun 13,38 persen. Harganya tidak pernah serendah ini. Ini buruk karena banyak investor asing mulai membeli saham kita.” Jawab Kang Min.

“Bagaimana dengan rencana kita mendirikan maskapai bujet rendah? Jika sampai ada yang tidak beres, tidak ada dari kalian yang aman.” Ucap Tuan Oh.

“Kementerian Pertanahan, Infrastruktur dan Transportasi mengumumkan mereka harus mempertimbangkan rencana bisnis itu.” Jawab Kang Min.

Kesal, Tuan Oh langsung melemparkan sesuatu ke ‘itunya’ Kang Min. Kang Min pun menunduk meminta maaf, dengan wajah kesal dan mengiris kesakitan.


Ternyata Tuan Oh memarahi Kang Min di depan para eksekutif juga. Tuan Oh lalu menanyakan pendapat Kapten Song, ayahnya Woo Jin. Tapi ayahnya Woo Jin malah menyuruh Woo Jin yang memberi solusi.

“Seperti Laksamana Yi Sun Shin yang memiliki 12 kapal, kita juga memiliki seseorang yang sangat berharga yang bisa membantu kita melewati krisis ini.” Ucap Woo Jin.

“Siapa dia?” tanya Tuan Oh.

“ Oh Tae Yang.” Jawab Woo Jin.

“Putraku? Dia tidak punya otak. Dia lebih gila daripada Tae Ri.” Jawab Tuan Oh.

“Fakta bahwa dia gila yang tidak berotak adalah alasan tepat bagi kita untuk memanfaatkannya.” Ucap Woo Jin.


Woo Jin pun berbisik, memberitahu rencananya. Tuan Oh tertawa geli mendengar rencana Woo Jin. Dan setelah itu, dia menyuruh Hyun Joon memanggil Tae Yang.


Tae Yang sendiri ada di Dubai. Ia lagi nge-shisha sambil ngerayu cewek2.


Tuan Oh pun kaget, apa yang dia lakukan disana?

“Katanya semua temannya sedang belajar manajemen bisnis, jadi, dia tidak ingin kembali ke Korea karena akan bosan.” Jawab Hyun Joon.

“Konon, sesuatu tidak akan ditemukan saat sedang dibutuhkan. Bocah berandal itu pergi ke negeri jauh. Baiklah. Ayo tangkap dia. Siapkan pesawat!” suruh Tuan Oh.


Sun Hee pergi ke rumah sakit. Ia masuk ke sebuah kamar dan mendapati boss nya di sana. Boss Sun Hee ternyata salah satu dari ahjumma2 itu.

“Ini putraku. Kau pasti akan bilang aku tidak boleh menghabiskan uang untuk anak yang sekarat, tapi aku tidak bisa membiarkannya mati. Aku tahu operasinya tidak akan berhasil, tapi aku ibunya. Aku tetap harus melakukannya. Aku harus melakukannya sebesar apa pun biayanya. Maafkan aku, Cho Rong Eomma.”

Sun Hee pun iba dan meminta si ahjumma itu melunasi hutangnya dalam 10 tahun.


Do Hee pulang diantarkan seorang pria. Pria itu mengajak Do Hee minum kopi tapi Do Hee menolak.

“Bukankah sikapmu keterlaluan? Aku menjemputmu dari bandara selama tiga bulan. Aku sudah bersikap baik. Kau harus memberiku imbalan.” Ucap pria itu.

“Kau yang mengajakku berkenalan di pesawat. Katamu aku bisa memanfaatkanmu seperti taksi. Kini kau ingin aku memberimu sesuatu? Jangan menjadi pecundang.” Jawab Do Hee.

“Aku tahu kau cepat marah, tapi ini berlebihan. Kau sedang datang bulan?” tanya pria itu.

“Kau benar. Aku sedang merasa kesal. Aku menunggu lama untuk menyelesaikannya dan inilah saatnya. Hal kecil pun bisa menggangguku, jadi, berhentilah merengek.” Jawab Do Hee.


“Menurutmu aku mudah diperdaya?” tanya pria itu.

“Kita tidak perlu bertemu lagi.” Jawab Do Hee.

“Apa arti diriku bagimu? Apa yang selama ini aku lakukan?” tanya pria itu.

“Perlu kujawab? Kau pria yang sudah menikah.” Jawab Do Hee.

Pria itu kaget, apa?

“ Enyahlah. Sebelum aku mengusirmu.” Ucap Do Hee, lalu mengambil kopernya dan pergi.


Tapi begitu masuk rumah, ia mendapati brosnya di karpet. Saat dia mengedarkan pandangannya, dia melihat teko dan gelas yang berisi sisa air di atas meja.


Do Hee pun ketakutan. Tiba2, lampu di rumahnya padam dan pria yang membekap Sun Hee muncul lagi.


Cho Rong lagi menghibur ibunya. Sun Hee pun merasa kalau peran mereka tertukar. Cho Rong lalu meminta ibunya berhenti bersikap baik. Cho Rong minta, ibunya harus jadi lebih kejam dari Do Hee agar tidak dibodohi.


Bel rumah mereka lalu berbunyi. Awalnya mereka mengira yang datang Nyonya Lee. Tapi Cho Rong tak yakin yang datang neneknya. Cho Rong bilang, kalau yang datang neneknya, maka sang nenek akan membunyikan bel seperti orang gila.


Begitu membuka pintu, mereka kaget melihat Do Hee. Do Hee nampak pucat. Tak lama kemudian, Do Hee pingsan. Sun Hee dan Cho Rong pun cemas.


Bersambung..............

No comments:

Post a Comment