Sunday, March 25, 2018

My Golden Life Ep 51 Part 3

Sebelumnya...


Nyonya No akhirnya merestui hubungan Do Kyung dan Ji An, tapi Do Kyung bilang hubungannya dengan Ji An sudah berakhir. Tuan Choi bertanya, kenapa? Do Kyung menjawab, bahwa seharusnya sejak dulu ia tidak memulai hubungan dengan Ji An. Do Kyung lantas melarang ibunya membicarakan Ji An lagi dan naik ke lantai atas.


Keesokan harinya, Tuan Seo keluar dari kamarnya sambil menenteng gitar dan sebuah koper.

“Astaga, gitar ini seperti belahan jiwa ayah.” Ucap Ji An, lalu membantu sang ayah membawa gitar itu.

Ji An juga ingin membawakan koper ayahnya tapi sang ayah buru2 menjauhkan koper itu dari Ji An. Mereka lalu keluar rumah.


Tuan Seo duduk di kursi belakang dan menghirup udara yang sangat segar.

“Udaranya segar sekali.” Ucap Tuan Seo.

Tak lama kemudian, mobil Hyuk yang dikendarai oleh Ji Soo memasuki sebuah tempat yang mirip rumah sakit.


Dan benar saja, itu memang rumah sakit. Kini Tuan Seo sedang memakai seragam pasien. Tuan Seo kemudian heran melihat keluarganya masih berdiri di sana dengan wajah sedih. Ia lalu menyuruh keluarganya pulang.

“Kau bisa tetap di rumah jika ingin.” Ucap Nyonya Yang.

“Di sini ada dokter. Aku merasa lebih aman di sini. Pergilah.” Jawab Tuan Seo.

“Ayo, Bu. Tempat ini tidak jauh dari rumah kita. Kita bisa berkunjung setiap hari.” Ucap Ji Soo.

Mereka pun pergi, tapi sebelum pergi, Ji An menggenggam tangan ayah dan berkata akan sering menghubungi ayah.


Dalam perjalanan pulang, semua nampak sedih.


Seorang perawat menjawab telepon ayah yang berdering. Do Kyung yang menelpon, merasa heran karena bukan ayah yang menjawab.


Ji Soo pulang ke rumahnya, menemui orang tua kandungnya. Ia meminta izin untuk pindah ke Daebang-dong. Nyonya No mengizinkan. Ji Soo bilang, ia akan pindah untuk selamanya.

“Tapi apa rumahnya tidak terlalu kecil? Keluarga kakakmu juga tinggal di sana. Bagaimana jika kita belikan rumah lebih besar?” tanya Nyonya No.

“Kami tidak membutuhkan itu. Keluarga kakakku akan pindah ke selatan bersama Ibu.” Jawab Ji Soo.

“Kenapa? Berarti hanya kau, Ji An, dan ayahmu yang tinggal di Seoul?” tanya Tuan Choi.


Sambil menangis, Ji Soo pun berkata kalau ayahnya juga akan segera pergi. Sontak, Tuan Choi dan Nyonya No kebingungan dengan pernyataan Ji Soo itu.


Do Kyung akhirnya datang ke rumah sakit itu. Ia masuk ke kamar ayah dan mendapati ayah sedang duduk menatap keluar jendela.

Do Kyung pun teringat saat Ji An menangis di pelukannya waktu itu. Barulah ia sadar kenapa Ji An menangis waktu itu.


Merasa ada seseorang di belakangnya, ayah pun menoleh dan terkejut melihat Do Kyung. Do Kyung langsung mendekati ayah, kemudian berlutut sambil menangis dan meminta maaf.

Ayah menyuruh Do Kyung berdiri dan berkata kalau Do Kyung tidak perlu minta maaf.

Do Kyung meminta maaf karena sudah membuat Ji An patah hati.


Ayah lalu mendekati Do Kyung dan membantunya berdiri.


Tuan Choi dan Nyonya No yang sudah mengetahui penyakit ayah, merasa heran kenapa ayah masih menolong mereka dalam kondisi seperti itu. Nyonya No pun bertanya, apa yang harus mereka lakukan. Tuan Choi bilang, mereka harus menemukan jalannya. Ia yakin, ada jalan keluar.


Di rumah, Ji Tae memahami perasaan Ji An yang berat meninggalkan ayah di rumah sakit. Ji An lantas mengingatkan Ji Tae soal buku catatan ayah yang dibacanya di Jeongseon.

“Ya, kita ke restoran bulgogi dan makan sup kentang. Seperti yang Ayah inginkan.” Jawab Ji Tae.

“Dalam daftar keinginannya juga tertulis bermain gitar di makam orang tuanya.” Ucap Ji An.

“Dia ingin tampil untuk orang tuanya?” tanya Ji Tae.

“Dia menulisnya saat sendirian dan ingin mati.” Jawab Ji An.

“Saat dia tidak berpikir kita keluarga. Jadi, dia ingin memainkannya untuk orang tuanya.” Ucap Ji Tae.

“Kakak melihat sendiri dia mengemas gitarnya lebih dahulu.” Ucap Ji An.

“Tapi menurutmu itu mungkin?” tanya Ji Tae.


Tuan Choi menghubungi dokter kenalannya.

“Dokter Mark? Sudah melihat grafiknya?” tanya Tuan Choi dalam Bahasa Inggris.


Malam harinya, Tuan Choi menahan rasa sakit di perutnya. Ia berteriak tanpa suara.


Di rumah, Nyonya Yang menangis menatap foto suaminya.


Sedangkan Ji Tae, sedang membacakan cerita untuk bayinya.


Ayah mengisi hari2nya dengan memainkan gitar di depan pasien2 lain.


Di hari lain, ayah menerima kunjungan dari anak2nya.

“Bagaimana kabar Goldie?” tanya ayah.

“Goldie? Itu nama panggilan bayi kami?” tanya Soo A antusias.

“Kau meminta ayah menamainya. Ini tahun anjing emas.” Jawab ayah.

“Aku suka itu. Goldie.” Ucap Ji Tae.

“Ayah tampak lebih sehat.” Jawab Soo A.

“Sungguh. Kenapa Ayah tampan sekali?” tanya Ji An.

“Ayah berselingkuh?” goda Ji Soo.

“Mana bisa saat ibumu berkunjung hampir setiap hari?” jawab Tuan Seo sambil tertawa.

“Ayah tertawa lepas. Sudah lama aku tidak melihat Ayah tertawa.” Ucap Ji Tae.

“Suasana hati ayah sedang bagus. Pokoknya ayah bahagia.. Tidak apa jika ayah mati besok atau bahkan sekarang. Ayah bahagia sekali.” Jawab ayah.

Anaknya merasa sedih, tapi tetap tersenyum di depannya.


Ji An dan Ji Tae berkonsultasi dengan dokter. Dokter bilang, kondisi ayah baik. Ji Tae pun bertanya, apa ayah boleh keluar selama satu hari. Dokter mengizinkan, jika ayah pakai kursi roda karena ayah akan kelelahan jika terlalu banyak bergerak.


Keesokan harinya, Ji An, Ji Soo dan Nyonya Yang menjemput ayah. Ji Soo bilang, cuaca sedang bagus jadi mereka datang untuk menyelamatkan ayah dari ruangan itu. Nyonya Yang mengajak Tuan Seo piknik.


Ji An, Ji Soo dan Nyonya Yang membawa Tuan Seo ke sebuah tempat. Tuan Seo ingat, tempat itu adalah lokasi pernikahan Ji Tae dulu. Ji Soo berkata, mereka akan mengadakan acara keluarga di tempat itu.


Ji An dan Ji Soo lantas melambaikan tangan mereka pada Ji Tae dan Ji Ho. Ji Tae dan Ji Ho nampak sibuk menyiapkan konser untuk Tuan Seo. Beberapa kursi tamu juga sudah terlihat dan ayah terkejut membaca tulisan ‘Konser Seo Tae Soo’ yang dibawa Ji Ho.

“Ayah selalu bermain gitar untuk semua orang kecuali kami.” Ucap Ji An.

“Kau ingin ayah tampil di sana?” tanya Tuan Seo.

“Ayah malu?” tanya Ji An.


“Ayah, Kakek dan Nenek juga akan bergabung.” Ucap Ji Soo, sambil menunjukkan foto kakek dan nenek yang ia bawah.

“Aku juga ingin mendengar permainan gitar solomu.” Bujuk Nyonya Yang.

“Tapi terlalu banyak orang.” Ucap Tuan Seo.

“Semua yang hadir di sini sudah seperti keluarga kita.” Jawab Ji Soo.

“Hanya dua lagu. Bagaimana?” pinta Ji An.


Meskipun gugup, ayah akhirnya mulai memetik gitarnya. Ayah nampak menikmati permainan gitarnya, begitu juga dengan mereka yang mendengarkan. Lagu yang dimainkan ayah, membuat semua orang terharu.


Ji An tiba2 menoleh ke arah pepohonan, ia ingat saat dulu ia datang bersama Do Kyung ke pernikahan Ji Tae.


Ayah selesai memainkan lagu pertama. Semua orang bertepuk tangan. Ayah lantas memainkan lagu keduanya.


Setelah ayah selesai, giliran Ji Tae yang menyanyikan sebuah lagu. Lagu yang dinyanyikannya bernuansa mellow. Sepanjang Ji Tae bernyanyi, Ji An terus menatap ayah yang duduk disampingnya.


Tanpa Ji An sadari, Do Kyung datang namun ia hanya berdiri di balik pepohonan, menatap Ji An dengan sedih. 




Tak ingin merusak suasana, Do Kyung pun memutuskan pergi.


Selesai Ji Tae bernyanyi, ayah berfoto bersama keluarganya.


Ayah kemudian diperkenalkan dengan Tuan Sunwoo. Mereka saling menyapa dan ayah kemudian memuji Tuan Sunwoo karena sudah membesarkan Hyuk dengan baik. Ayah lalu meminta Tuan Sunwoo untuk menjaga Ji Soo.


Ji Ho kemudian mempersilahkan para tamu mencicipi sandwich dan minuman buatan Ji Soo.


“Tuan Seo, apa ini konser pertamamu. Kau terlihat profesional.” Puji Ji An sambil membawakan kursi roda ayahnya. Ji An lalu menyuruh ayahnya duduk dan mengajak ayahnya makan di restoran bulgogi.

“Hari ini ayah akan mengizinkanmu makan lima porsi.” Ucap ayah.

“Ayah yakin?” tanya Ji An, lalu mulai mendorong kursi roda ayahnya.


Ji An lantas ingat kalau ia belum mengambil foto kakek dan neneknya. Ji An pun meninggalkan ayahnya sebentar untuk mengambil foto kakek dan neneknya yang tadi mereka bawa.


Setelah Ji An pergi, ayah kemudian menatap matahari yang bersinar cerah.


Semua orang memuji suara Ji Tae. Ji Soo lalu bertanya, kapan mereka akan keluar bersama lagi. Ji An memberi saran, agar mereka pergi bersama satu pekan sekali. Tapi Ji Soo mengajak mereka semua keluar setiap hari. Ji Ho pun menyindir Ji Soo. Ia bilang, kalau mereka semua memiliki pekerjaan. Kesal, Ji Soo pun memukul kepala Ji Ho dan berkata kalau ia akan segera mendapatkan pekerjaan.


Ibu pura2 marah, ia memukul kepala Ji Soo dan Ji Ho pura2 merajuk dan memeluk ibunya.

Ji An pun menirukan suara ayahnya.

"Siapa yang peduli dengan kecerdasan? Semua orang punya talenta khusus."


Ji An lantas menoleh pada ayahnya, “Benarkan ayah?”

Tapi ayah diam saja. Ji An pun bergegas mendekati ayahnya karena mengira ayahnya tertidur.


Tangan ayah terkulai lemas dan kepalanya terkulai ke samping. Ji An pun langsung menghentikan langkahnya.


Ji An hanya merasakan keheningan dan desiran angin. Perlahan2, Ji An melangkah sambil terus memanggil ayahnya.


Hingga akhirnya, Ji An berlari dan berteriak, “APPA!”

No comments:

Post a Comment