Wednesday, March 28, 2018

My Golden Life Ep 52 Part 1 (FINAL)

Sebelumnya...


“Appa.” panggil Ji An seraya berjalan mendekati sang ayah. Tapi tak ada respon dari sang ayah. Hingga akhirnya ia berlari dan berteriak memanggil ayahnya. Ji An terus memanggil ayahnya, tapi sang ayah tetap diam. Ia pun berdiri di depan sang ayah dan terus berusaha membangunkan ayahnya, tapi sang ayah tetap diam.

Tangis Ji An pun pecah. Ia memeluk ayahnya erat2.


Mendengar tangis Ji An, Nyonya Yang syok dan terduduk lemas.


Ji Tae, Ji Soo dan Ji Ho berlari menuju ayah mereka. 




Tangis mereka semua pecah.


Nyonya Yang terus menangis di depan foto suaminya. Ji Soo yang juga menangis terus memeluk ibunya.


Dan Ji An, terduduk lemas di pojokan.


Ji Tae dan Ji Ho berdiri menatap foto sang ayah.


Hae Ja datang bersama Seok Doo, mereka tak kuasa menahan tangis saat memberikan penghormatan terakhir pada Tuan Seo.


Nyonya Yang jatuh terduduk. Ji Tae menyuruh Ji Ho membawa sang ibu keluar.


Ji Ho dan Ji Soo pun memapah ibunya keluar.


Tuan Choi dan Nyonya No juga datang untuk memberikan penghormatan terakhir. Begitu melihat kedatangan mereka, Ji An langsung pergi.


Setelah memberikan penghormatan, Nyonya No menghubungi Do Kyung. Nyonya No menyuruh Do Kyung datang. Tapi Do Kyung bilang, kedatangannya akan membuat Ji An merasa tidak nyaman. Selain itu, Do Kyung juga mengaku ia malu untuk datang.

Do Kyung memutuskan panggilannya begitu saja, padahal Nyonya No belum selesai bicara.

“Dia tidak datang?” tanya Tuan Choi.

“Dia tidak mau karena Ji An akan merasa tidak nyaman. Dia malu untuk datang.” Jawab Nyonya No.

“Dia berlarian kesana kemari dengan kondisi seperti itu untuk menyelamatkan keluarga kita.” Ucap Tuan Choi.


Nyonya Yang dan anak2nya, serta Hyuk, Seok Doo dan Hae Ja ada di komplek pemakaman. Mereka berdiri di depan sebuah pohon. Ji Tae menempelkan papan kayu bertuliskan, ‘Ayahku, Seo Tae Soo, seperti pohon anugerah’.

“Ji An-ah, ayah akan menyukainya. Kau membuatnya dengan baik. Ayah bilang dia bahagia. Dia pergi sambil tersenyum senang. Jadi percayalah kepada ayah dan relakan kepergiannya. Ibu juga.” Ucap Ji Tae.

Cheongju, setahun kemudian.........


Ji Tae sedang memasang wallpaper di sebuah rumah tua. Ia kemudian melirik sesosok pria paru baya yang duduk memunggunginya.


Soo A bekerja sebagai pustakawan.


Ji Tae dan rekannya yang bernama Lee Yoon Tae dapat pujian dari atasan mereka.

“Tapi ngomong-ngomong, bagaimana kau tercetus ide untuk membantu para manula di perusahaan kita?” tanya sang atasan.

“Penduduk menyukainya. Membantu komunitas setempat adalah semangat awal kita. Kuharap cabang kita akan mengurus area pemukiman padat juga.” Jawab Lee Yoon Tae.


Sambil memasak, Nyonya Yang menggendong cucu perempuannya yang bernama Seul Gi. Ya, kini Nyonya Yang tinggal bersama Ji Tae dan Soo A.

“Seul Gi-ya, ibumu datang. Dia datang. Lima, empat, tiga, dua, satu.”


Dan benar saja, Soo A pulang. Soo A berkata, akan mencuci tangannya terlebih dahulu.


Di depan kamar mandi, Soo A berpapasan dengan Ji Tae.


Ji Tae ke dapur dan menggendong Seul Gi. Seul Gi menangis. Soo A pun datang mengambil Seul Gi dari gendongan Ji Tae.


“Hari ini Ibu lelah?” tanya Ji Tae.

“Tidak. Ibu pergi ke apotek membeli minuman probiotik untuk Seul Gi hari ini dan membelikan ini juga untuk Soo A.”

Nyonya Yang lantas memberikan Soo A vitamin.

“Ibu lah yang bekerja amat keras.” Ucap Soo A.

“Kau bermain dengannya sepulang kerja. Lebih berat bagimu daripada bagi ibu.” Jawab Nyonya Yang.

“Akan kumakan setelah Ibu.” Ucap Soo A, lalu memberikan vitamin itu ke tangan Ji Tae.


Ji Tae pun membukakan vitamin untuk ibunya.

“Kapan Ji An pulang?” tanya Ji Tae.

“Katanya dia kembali sesuai rencana.” Jawab Nyonya Yang.

Helsinki, Finlandia...


Ji An tampak serius mengikuti kuliah desainnya.


Selesai kuliah, Ji An bekerja di bar.


Sekembalinya ke rumah, Ji An mengisi waktunya dengan belajar.


Kembali ke Korea, dimana Ji Soo sedang melihat2 bangunan untuk toko rotinya. Hyuk membujuk Ji Soo agar membuka toko rotinya nanti saja setelah mereka menikah.

“Aku tahu sedikit soal bisnis. Semuanya butuh setidaknya setahun untuk stabil.” Ucap Hyuk.

“Lantas, aku akan segera membuka dan menstabilkannya juga.” Jawab Ji Soo.

“Dan kita tidak bisa menikah selama setahun.” Ucap Hyuk.

“Tidak bisakah kita menikah setahun lagi? Tidak bisakah kita berkencan lebih lama selagi membangun karier?” tanya Ji Soo.

“Apa?” protes Hyuk.

Hyuk kemudian melirik jamnya dan mengajak Ji Soo untuk bergegas pergi.


Hyuk dan Ji Soo pergi ke Bandara untuk menjemput Ji An. Ji Soo protes, dia sebal karena Ji An sudah terlalu lama menghilang. Ji Soo bilang, saat dia mengirimi Ji An pesan 10 kali tapi Ji An hanya membalasnya satu kali.

“Dia mengalami masa-masa sulit di Korea. Kau tahu dia pergi tepat setelah pemakaman.” Jawab Hyuk.

“Dia melarangku menyebutkan Do Kyung atau Haesung.” Ucap Ji Soo.


Seseorang tiba2 menepuk bahu mereka, membuat mereka kaget.

“Ini aku.” Ucap orang itu sambil melepas kacamatanya.

Ji Soo dan Hyuk pun terkejut melihat penampilan baru Ji An.

“Sudah kubilang tidak perlu datang. Aku menemui Myung Shin.” Ucap Ji An.

“Kau kira aku kemari karena merindukanmu? Aku belajar mengemudi.” Jawab Ji Soo.

“Lihat dirimu. Kau bisa mengemudi sekarang?” goda Ji An.
“Kami hampir putus saat aku mengajarinya.” Ucap Hyuk.

“Kami memang putus sekali.” Balas Ji Soo.

“Kalian makin mesra.” Goda Ji An.


Ji An lantas meminjam ponsel Ji Soo untuk menghubungi Myung Shin.

Myung Shin yang saat itu tampak lemas di kasurnya, mengaku bahwa ia demam setelah hujan2an karena putus dari kekasihnya, Jung Soo.  Myung Shin pun meminta maaf karena tidak bisa menjemput Ji An di bandara.


“Kau tidak jadi bertemu temanmu? Tidak ada orang di rumah sekarang. Ibu dan Kak Ji Tae akan datang besok siang. Katamu kau mau menemui Myung Shin, jadi aku menjanjikan rapat dengan desain interiorku.” Ucap Ji Soo.

“Jangan khawatir. Aku banyak tujuan.” Jawab Ji An.


Ji An lalu mengajak mereka pergi.

Begitu mereka pergi, Seohyun pun muncul di bandara yang sama.


Hyuk nampak tegang karena Ji Soo yang menyetir. Ji An bertanya, kenapa Hyuk tegang. Ji An bilang, Ji Soo sudah mengemudi dengan baik. Hyuk pun beralasan, kalau dia hanya mengawasi Ji Soo saja.

“Hyuk, wanita tidak suka sikap seperti itu. Dia bisa mengemudi lebih baik dengan kepercayaanmu.” Jawab Ji An.

Hyuk pun menyerah, aku lupa kalian saudara kembar.

“Ji An, kau tidak merasa dirimu terlalu kejam? Kenapa kau amat susah dihubungi?” tanya Ji Soo.

“Di samping itu, sudah setahun sejak kau meninggalkan Korea, tapi kau kemari hanya selama empat hari.” Tambah Hyuk.

“Aku berniat tinggal tiga hari setelah mengunjungi ayah. Aku menginap semalam lagi untuk pameran.” Jawab Ji An.


Mobil Hyuk yang dikemudian Ji Soo, akhirnya berhenti di satu tempat. Setelah menurunkan Ji An, Ji Soo masih ingin menyetir lagi. Hyuk menghela napas. Ia masih saja cemas jika Ji Soo yang menyetir.


Ji An berjalan menuju sebuah tempat, tapi kemudian langkahnya terhenti karena ia melihat Do Kyung.


Do Kyung duduk di bak mobil sambil menikmati sebungkus roti dan sekotak susu. Begitu ponselnya berbunyi, Do Kyung bergegas pergi. Do Kyung mengendarai mobil pick up yang bertuliskan, ‘DK Eco Tech’.


Ji An ke galeri, di sana ia mengambil beberapa foto.


Seohyun pergi ke toko rotinya Ji Ho. Ya, Ji Ho kini sudah memiliki toko roti. Ia bekerja bersama kekasihnya. Ji Ho terkejut melihat sosok Seohyun.

Seorang wanita lantas keluar dari toko rotinya Ji Ho dan menatap waspada Seohyun.

“Jangan merasa terintimidasi. Kami hanya teman.” Ucap Seohyun menjelaskan, membuat wanita itu lega.

“Kau Yoon Mi, kan?  Kau selalu muncul di akun media sosial Ji Ho.” Ucap Seohyun.

“Apa kau temannya yang pergi ke Amerika? Aku sudah mendengar banyak tentangmu dari Ji Ho.” Jawab Yoon Mi.


“Apa yang terjadi denganmu? Apa kabar?” tanya Ji Ho.

Seohyun tidak menjawab. Ia hanya mengendikkan bahunya sambil tersenyum.


Ji Ho lantas menyuruh Seohyun mencicipi rotinya. Seohyun memuji roti Ji Ho. Ji Ho lalu menanyakan hubungan Seohyun dengan Pangeran New World. Seohyun bilang, pria itu membosankan.

“Tapi dari fotonya, dia tampak tampan.” Ucap Ji Ho.

“Dia memang tampan, tapi itu tidak ada gunanya saat kami mulai berbincang. Aku tidak bisa hidup dengan pangeran yang membosankan.” Jawab Seohyun.

“Lantas kau tidak akan pergi lagi?” tanya Ji Ho.

“Ya, kini, tidak ada alasan bagiku untuk belajar di luar negeri.” Jawab Seohyun.

“Kau akan melakukan apa di Korea?” tanya Ji Ho.


“Aku akan kembali ke Haesung dan mendapatkannya kembali.” Jawab Seohyun, membuat Ji Ho yang lagi minum tersedak.

“Aku akan tidur di hotel malam ini dan menjernihkan pikiranku. Akan kuberi tahu mereka besok.” Ucap Seohyun.


Tuan Choi menjadi dosen kelas bisnis sesuai cita-citanya.


Di depan kampus, Nyonya No duduk sendirian menunggu Tuan Choi. Tak lama kemudian, Tuan Choi datang. Nyonya No langsung memberikan Tuan Choi teh bunga balon. Nyonya No bilang, seorang dosen membutuhkan suara yang sehat jadi ia membawakan teh itu.

“Ayo pergi.” Ajak Tuan Choi.


Mereka pun pergi mengunjungi galeri.

“Aku suka yang ini.” Ucap Tuan Choi sambil menatap sebuah lukisan.

“Kini kau paham cara melihat seni?” tanya Nyonya No.

“Semua karena aku berbagi hobi dengan istriku.” Jawab Tuan Choi.


Jin Hee pun datang. Ia memuji Tuan Choi dan Nyonya No yang nampak romantis, sementara ia jarang bertemu suaminya karena sang suami amat sibuk.

“Apa kau masih suka menyombongkan suamimu yang menjadi pimpinan itu?” ucap Nyonya No.
“Bukan begitu. Memilki suami pekerja keras tidak sebaik yang Kakak bayangkan.” Jawab Jin Hee.

“Lebih buruk lagi jika kau mengelola galeri.” Ucap Nyonya No.

“Jae Sung,  apa yang kamu sukai dari kakakku?” tanya Jin Hee.

“Jadi, kenapa kau membuat galeri sebelum kakakmu?” balas Tuan Choi.

“Dia juga bisa mengelolanya.” Jawab Jin Hee.

“Kau kira kakak akan menirumu?” ucap Nyonya No.

“Kakak hanya mau menghabiskan waktu dengan suami Kakak. Kenapa menyalahkanku?” protes Jin Hee.


Jin Hee lalu pamit. Nyonya No tersenyum menatap kepergian adiknya.

“Kau iri? Kau mau mengelola sesuatu juga?” tanya Tuan Choi.

“Menganggur tidak terlalu buruk.” Jawab Nyonya No sambil tersenyum.

Tidak ada lagi pertengkaran diantara mereka. Hubungan mereka kini sudah membaik.

No comments:

Post a Comment