Thursday, March 29, 2018

My Golden Life Ep 52 Part 3 (FINAL)

Sebelumnya...


Nyonya No minta penjelasan kenapa Seohyun pulang tiba-tiba. Ia juga bertanya soal Pangeran New World yang menyukai Seohyun. Jawaban Seohyun mengejutkan Nyonya No. Seohyun bilang, ia tidak menyukai pria itu. Ia juga mengaku, muak karena kebodohan pria itu.

Seohyun lantas minta maaf karena kembali tanpa minta iziin dulu dan mengaku ingin mempelajari manajemen hotel.

“Kau mempelajari Sastra Inggris setelah lulus dari sekolah musik.” Jawab Nyonya No.

“Semester lalu, aku menghadiri kelas hotel manajemen dan menurutku itu menarik. Selagi bepergian, aku sudah melihat banyak hotel, dan aku familier dengan hal itu. Aku ingin mulai sebagai pegawai di Hotel MJ. Seperti Ibu. Kudengar Ibu mulai sebagai pegawai di Haesung Apparel.” Ucap Seohyun.


Nyonya No langsung memijat kepalanya. Ia tidak menyangka dengan keputusan Seohyun itu.

“Kurasa kami butuh waktu untuk memikirkan ini. Beri kami waktu untuk memikirkannya.” Jawab Tuan Choi.


Ji Soo pun tersenyum melirik Seohyun.


Myung Shin ke rumah Ji An. Ia penasaran dengan kelanjutan kencan buta Ji An dan Do Kyung. Ji An curiga, Myung Shin yang mengatur kencannya dengan Do Kyung. Myung Shin menyangkal, ia bilang ia tidak akan menyuruh Ji An ke sana kalau tahu dia Do Kyung.

“Jadi, bagaimana perasaanmu?” tanya Myung Shin.

“Aku senang bertemu dengannya lagi. Aku senang melihatnya baik-baik saja. Jika itu memang kebetulan, sikapnya aneh. Dia sedang kencan buta, kau tahu dia mau apa?” ucap Ji An.

“Apa dia bilang ingin mulai dari awal lagi?” tanya Myung Shin.

“Seakan-akan kami orang asing. Seakan-akan kami baru bertemu.” Jawab Ji An.

“Astaga. Dia belum melupakanmu. Lalu kau bilang apa?” tanya Myung Shin.

“Menurutmu apa? Aku akan kembali ke Finlandia lusa.” Jawab Ji An.

“Kau akan mempertimbangkannya jika tidak akan pergi?” tanya Myung Shin.

“Tidak. Melihatnya lagi masih menyakitkan.” Jawab Ji An.


Ji Soo membuatkan roti untuk keluarganya sebagai menu makan malam. Seohyun memuji roti Ji Soo dan ingin makan roti Ji Soo setiap hari. Ji Soo pun senang. Nyonya No lalu menyuruh Seohyun menyiapkan aplikasi lamaran untuk Hotel MJ. Seohyun kaget.

“Kakakmu mengganti peraturannya sebelum keluar dari Haesung. Tidak ada trik atau bantuan. Ayah tidak akan membuatmu melakukan hal yang tidak kau inginkan. Tapi kau tidak boleh membuang waktumu. Apa yang akan kau lakukan?” ucap Nyonya No.

“Aku akan bersiap untuk pendaftarannya.” Jawab Seohyun, mengejutkan mereka.


Hee nampak sibuk di telepon dengan urusan bisnisnya. Boss Kang juga ada di sana, lagi mengomentari roti buatan Ji Soo. Boss Kang bilang, adonan roti Ji Soo kurang mengembang dan menyuruh Ji Soo menaikkan suhunya saat memanggang.

“Yes, Sir!” jawab Ji Soo.


Hee lantas mengajak Boss Kang pergi karena anak-anak sudah menunggu. Boss Kang memberitahu Ji Soo, kalau mereka rutin mengirimkan roti ke panti asuhan.


Ji An menemui Ji Ho di toko roti. Ia ikut senang karena toko roti Ji Ho sangat ramai. Ji Ho bilang, toko rotinya ada di peringkat ketiga dalam hal penjualan.

“Mereka menghargaiku karena ide waralabaku, jadi, keuntunganku lebih tinggi.” Ucap Ji Ho.

“Adik bungsu kakak akan segera kaya.” Puji Ji An.

“Noona,  aku membuat segalanya seakan itu untuk ibu dan ayah... maksudku orang tua kita. Aku ratusan kali mengatakan itu kepada diriku selagi memanggang dan menjual.” Ucap Ji Ho.

“Sungguh? Baguslah, Ji Ho.” Jawab Ji An.


Do Kyung tiba-tiba datang dan Ji Ho bilang kalau Do Kyung agak terlambat hari ini. Ji Ho memberitahu Ji An kalau Do Kyung adalah pelanggan tetap toko rotinya. Ji Ho bilang, Do Kyung selalu memberi rotinya sebelum berangkat kerja.

Ji An menatap heran ke arah Do Kyung. Do Kyung tersenyum, lalu meminta pesanan rotinya.

Ji Ho langsung mengambilkannya. Ia juga meminta Do Kyung menandatangani bukti pengambilan roti untuk DK Eco Tech.


Penasaran, Ji An menyusul Do Kyung keluar. Ia bertanya, kenapa Do Kyung membeli roti di toko adiknya padahal pabrik Do Kyung jauh dari sana. Do Kyung pun berkata, kalau ia tinggal di dekat situ. Ji An kaget.

“Aku terlalu tua untuk tinggal dengan orang tuaku. Sudah lama aku pindah.” Jawab Do Kyung.

Do Kyung lantas mengajak Ji An ke pabriknya. Do Kyung bilang, karena Ji An tidak tahu apa-apa soal dirinya, jadi ia mau menunjukkan kegiatannya pada Ji An.

“Berkencanlah denganku untuk kali kedua.” Pinta Do Kyung.

“Baiklah, aku penasaran dengan pabrikmu.” Jawab Ji An.


Sampai di pabrik, Do Kyung mengenalkan Ji An pada Seketaris Yoo.

Do Kyung : Tuan Yoo, sapalah. Ini Seo Ji An, aku bertemu dengannya kemarin saat kencan buta. Ji An, dia Wakil Presdir Yoo Gwan Woo.

Seketaris Yoo : Senang bertemu denganmu, aku Yoo Gwan Woo.

Ji An : Maka aku harus mengatakan, senang bertemu denganmu. Aku Seo Ji An.

Do Kyung : Aku merintis perusahaan ini setahun lalu, tapi tiba-tiba terjadi sesuatu jadi aku meminta dia menanganinya.

Seketaris Yoo : Maafkan aku. Aku hanya menuruti ucapannya.

Ji An : Aku tahu.

Do Kyung : Aku menyelesaikannya enam bulan lalu dan bekerja keras sampai penjualan kami menjadi dua kali lipat.

Ji An :  Kau harus memperluas pabrikmu.

Do Kyung : Jadi, kau paham soal bidang ini. Kau mempersiapkan sesuatu yang berhubungan dengan kayu. Setelah itu, kami berencana pindah ke gedung yang lebih besar.

Ji An pun terkejut mendengar ucapan Do Kyung.


Do Kyung lalu mengajak Ji An ke tempat yang ingin Ji An tuju. Semula Ji An agak keberatan, tapi akhirnya dia menerima ajakan Do Kyung.


Ji An mengajak Do Kyung ke galeri.

“Jadi, kau suka pahatan kayu?” tanya Do Kyung. Ji An mengiyakan. Do Kyung lantas mengatakan, harta karun paling berharganya adalah lampu kayu yang dibuat oleh cinta pertamanya.

Ji An berusaha bersikap acuh. Ia bilang, cinta pertama di usia itu bukankah berlebihan.

“Dia cinta serius pertamaku. Dia banyak mengubahku dan membuatku bisa melihat dunia dari sudut pandang berbeda.” Ucap Do Kyung.


Ji An pun menatap Do Kyung. Ia bilang, Do Kyung sangat mahir bicara.

“Wanita itu pasti akan terharu saat mendengarnya.” Ucap Ji An.

“Itu saja tidak cukup baginya. Dia menyukai kayu. Itu sebabnya aku juga mulai menyukainya.” Jawab Do Kyung.


Ji An tidak menjawab dan malah beranjak pergi meninggalkan Do Kyung. Do Kyung mengikuti Ji An keluar.

Do Kyung pun meminta Ji An memberinya kesempatan. Ia meminta Ji An melupakan masa lalu dan mengajaknya memulai hubungan mereka lagi. Tapi Ji An menolak. Do Kyung memaksa, ia bilang tidak perlu sering bertemu untuk tetap saling mencintai.

“Kau mulai lagi. Aku menolak, tapi kau memaksakan keinginanmu.” Ucap Ji An kesal.

“Kali ini berbeda. Aku menuruti keinginan ayahmu. Aku sudah mendapat izin dari ayahmu.” Jawab Do Kyung.

Flashback...


Setelah berlutut dan meminta maaf, Tuan Seo menyuruh Do Kyung bangun dan mengajaknya bicara.

Do Kyung menceritakan, saat ia akhirnya menyadari bahwanya cintanya sangat egois dan ia bersikap seperti seorang pengecut.

“Seharusnya aku meninggalkan keluargaku untuk mendekati Ji An. Tapi aku malah menjadikan Haesung sebagai tempat kembali jika aku tidak bisa mendapatkannya.” Ucap Do Kyung.


“Kurasa kau sudah tahu itu jauh dalam lubuk hatimu.” Jawab Tuan Seo.

“Aku hanya berpikir untuk mendapatkannya. Anda melakukan segala yang anda bisa untuk keluarga kami meski dalam kondisi seperti ini. Tapi aku hanya menyakiti Ji An sampai tidak bisa diperbaiki. Itu menyakiti hatiku, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku sungguh minta maaf.” Ucap Do Kyung.

“Tapi aku tidak membantumu sebagai penebusan kesalahan atas Ji Soo atau masa laluku yang kelam. Aku ingin Ji An bisa berdiri dengan bangga di hadapanmu.” Jawab Tuan Seo.


“Apa maksud anda?” tanya Do Kyung.

“Aku melakukannya karena tahu betapa pedulinya dia kepadamu. Setelah aku meninggal, saat dia tidak punya ayah untuk tempatnya bersandar, aku takut dia akan dihina lagi. Jika aku menebus perbuatanku dan istriku, Ji An pasti bisa bertahan. Ji An tahu aku ditampar, diancam, dan berlutut. Kini kau tahu kau berutang kepada Ji An. Maka tebuslah. Aku belum merestui hubunganmu dengan Ji An. Dia juga pasti menentangnya karena alasan yang sama. Tapi hati yang terluka hanya bisa diobati oleh orang yang melukai. Kau melukainya, jadi, kau harus mengobatinya.” Jawab Tuan Seo.

“Tapi dia akan pergi ke Finlandia. Dia bahkan enggan menemuiku.” Ucap Do Kyung.

“Kau harus menunggu.” Jawab Tuan Seo.

“Apa?” tanya Do Kyung kaget.

“Kenapa terburu-buru?  Sampaikan permintaan maafmu. Tunjukkan bahwa kau tulus. Goresan dalam luka yang besar butuh waktu lama sampai menghilang. Kau menghampirinya saat dia berusaha keras menjauh darimu. Kini, kau seenaknya merengek hanya karena dia menolakmu. Apa perasaanmu tulus? Kau ingin menikahinya? Jika tulus, kau bisa menunggu selamanya.” Jawab Tuan Seo.


Do Kyung pun tersenyum, ia senang karena mendapatkan restu ayah.

“Kau tersenyum. Ya, tersenyumlah. Tunggu dan tersenyumlah sampai Ji An datang kepadamu. Jika kau bisa.” Ucap Tuan Seo.

“Aku bisa.” Jawab Do Kyung yakin.

“Bagaimanapun, Ji An sudah tidak berutang kepada keluargamu. Kini kalian setara.” Ucap Tuan Seo.

Flashback end...


Ji An terkejut mengetahui Do Kyung sempat menemui ayahnya. Do Kyung bilang, ia datang untuk berterima kasih serta meminta maaf. Ji An pun bingung karena ayahnya tidak pernah mengatakan hal itu padanya.

“Jadi, aku menunggumu, dan aku masih bisa menunggumu. Kau melakukan hal yang kau sukai selama setahun di Finlandia. Lanjutkanlah. Aku akan tetap menunggu selagi bekerja. Sebelumnya, aku mendekatimu demi diriku sendiri. Kini, aku akan mendekatimu demi dirimu.” Ucap Do Kyung.

“Bagaimana jika aku masih berpikir kau egois?” tanya Ji An.

“Aku ingin mengantarmu pulang, tapi harus menghadiri rapat. Mau kupanggilkan taksi?” ucap Do Kyung.

Ji An menolak. Ia juga menolak saat Do Kyung mau ikut ke bandara untuk mengantarnya besok.

“Jika kita berjodoh, kita akan bertemu saat aku kembali. Kita lihat apakah kamu masih menyukaiku.” Ucap Ji An.

“Jika kita bertemu lagi, bisakah kita mulai dari awal?” tanya Do Kyung.

“Entahlah. Jika aku mau, mungkin bisa.” Jawab Ji An.

“Baiklah. Aku harus pergi sekarang. Pebisnis tidak boleh terlambat.” Ucap Do Kyung, lalu pergi.


Keesokan harinya, Ji An turun sambil membawa kopernya. Ia kemudian menatap foto bersama ayah.

Flashback...


“Karena kau bukan seorang ibu. Cobalah punya anak. Kau akan merasa cintamu tidak cukup.” Ucap ayah.

“Maksud Ayah aku harus menikah?” tanya Ji An.

“Tentu saja. Jika kau bertemu dengan seseorang yang seperti udara.” Jawab Tuan Seo.

“Udara? Aku harus selalu bersamanya?” tanya Ji An.

“Bukan. Seseorang yang membuatmu merasa nyaman di sisinya. Seseorang yang kau butuhkan. Jika kehadiranmu juga seperti udara bagi orang itu, sebaiknya kalian menikah.” Jawab Tuan Seo.

“Itu sulit. Bisakah aku bertemu dengan orang seperti itu?” ucap Ji An.

“Ji An-ah,  Beri dirimu kesempatan sekali lagi. Suatu hari, saat kau kembali menemui ayah, jika kau memikirkannya alih-alih ayah, jangan melakukan hal yang akan kau sesali. Jangan abaikan perasaanmu karena hal yang menyakiti keluargamu. Kaulah yang terpenting. Meski ayah bisa hidup, ayah tidak mau. Demi ayah, jangan pernah membohongi perasaanmu.” Jawab Tuan Seo.

“Aku sudah bilang semua sudah berakhir. Aku muak dengannya.” Ucap Ji An.

“Jika kau bisa melupakannya, lupakan saja dia. Tapi jangan memaksakan dirimu demi ayah atau keluarga kita. Anak-anak boleh bersikap egois.” Jawab Tuan Seo.

Flashback end...


Ji An sudah check in di bandara. Ia memandang sekelilingnya. Sepertinya ia berharap Do Kyung datang mengantarnya.

Tanpa Ji An sadari, Do Kyung memang datang. Tapi ia sengaja menyembunyikan dirinya. Ia hanya menatap Ji An dari kejauhan dengan pandangan sedih.

Flashback...


Saat ayah meninggal, ternyata Do Kyung ada di sana. Ia menatap Ji An dari kejauhan dan ikut menangis.


Do Kyung juga datang ke rumah duka dan melihat Ji An yang menangis bersama Myung Shin.


Do Kyung ada di sana sampai malam hari. Begitu melihat Myung Shin, ia langsung menghampiri Myung Shin.


Satu tahun kemudian......... saat sedang bekerja, Do Kyung menerima telepon dari Myung Shin.

“Ji An sedang di bandara. Dia akan ke Galeri Lane.” Ucap Myung Shin.


Do Kyung lalu pergi ke jalanan yang akan dilalui Ji An. Ia tersenyum saat melihat Ji An dari kaca spionnya yang tengah menatapnya.

“Senang bertemu denganmu, Ji An-ah.”


Saat di makam ayah pun, dia melihat Ji An sedang tertawa bahagia bersama keluarganya.


Do Kyung juga melihat Ji An yang masuk ke kafe untuk menggantikan Myung Shin kencan buta.

Flashback end...


Ji An sendiri yang sudah berada di pesawat, menatap patung Do Kyung buatannya.


Sesampainya di Finlandia, Ji An kembali ke rutinitasnya. Ia nampak sibuk melayani para pengunjung di kafe.

Pemilik kafe lalu menyuruh Ji An melayani meja tiga.


Saat menuju meja tiga, tiba2 saja langkahnya terhenti karena melihat sosok Do Kyung yang tersenyum dan melambaikan tangan padanya. Ji An pun mendekati Do Kyung.

“Halo, Seo Ji An-ssi.  Kita bertemu lagi.” Sapa Do Kyung.

“Bagaimana kau bisa ke sini?” tanya Ji An.

“Aku ada perjalanan bisnis. Aku membutuhkan kayu birch Finlandia. Aku merayakan sendiri setelah bekerja.” Jawab Do Kyung.

“Itu alasannya?” tanya Ji An.

“Kurasa aku akan sering datang. Bukankah sepadan mencoba hubungan jarak jauh?” jawab Do Kyung.


Ji An akhirnya tersenyum dan bertanya apa yang mau dipesan Do Kyung. Tapi Do Kyung malah bertanya, apa dia bisa menunggu Ji An selagi Ji An bekerja. Ji An lantas memesankan segelas miniuman untuk Do Kyung, lalu beranjak untuk mengambil minumannya.


Tapi kemudian, ia kembali menoleh pada Do Kyung dan tersenyum.

Do Kyung pun membalas senyuman Ji An.


TAMAT!!

No comments:

Post a Comment