Saturday, June 16, 2018

Live Up To Your Name Ep 3 Part 1

Sebelumnya...


Di episode sebelumnya, kita melihat Im yang mengobati Ha Ra dengan akupuntur. Tak lama kemudian, Ha Ra kembali bernapas.

Bersamaan dengan itu, Yeon Kyung datang dan langsung memeriksa Ha Ra.

"Jika mengenai sakit jantungnya, aku menghidupkannya kembali." ucap Im.

Tapi Yeon Kyung malah menampar Im. Yeon Kyung salah paham. Ia menuduh Im sengaja membuat Ha Ra berlari untuk balas dendam karena Ha Ra yang sudah melukai tangan Im.

Tak hanya itu, Yeon Kyung juga mengancam akan membunuh Im jika sesuatu terjadi pada Ha Ra.


Yeon Kyung dan tim nya lalu membawa Ha Ra pergi. Sementara staff keamanan mengamankan Im.


Dengan suara lemas, Ha Ra pun menjelaskan kalau Im tidak bersalah. Tapi Yeon Kyung tidak mau mendengar.


Min Jae terkejut melihat bekas tusukan jarum di jari2 Ha Ra. Yeon Kyung pun menyuruh Min Jae membawakannya sistem monitor holter.


Polisi menangkap Im atas tuduhan pemerasan. Im pun menjelaskan, kalau dia hanya berusaha menyelamatkan pasien jantung dengan akupuntur.

"Jadi kau mengancam seseorang dengan jarum? Untuk apa kau memakai jarum disini? Seharusnya kau memakai jarum di sana."


Polisi lalu menunjuk ke arah rumah sakit pengobatan oriental Shinhye.


Yeon Kyung dan Min Jae memeriksa jantung Ha Ra dengan monitor holter.

"Ini serangan jantung. Jadi dia menyelamatkannya tanpa menggunakan alat kejut jantung." ucap Min Jae.

Yeon Kyung pun syok, ia menggeleng tidak percaya.


Yeon Kyung lantas mengecek CCTV. Ia pun terkejut melihat Im melakukan akupuntur pada Ha Ra.


Di kantor polisi, Im heran sendiri melihat suasana kantor polisi. Im lalu menyuruh polisi menelpon rumah sakit. Ia menjelaskan, bahwa dirinya tidak melakukan apapun sehingga harus dibawa ke kantor polisi. Tapi polisi yang menangkap Im, malah menanyakan nama Im.

"Nama akhir Heo, nama depan Im." jawab Im.

"Heo dan Im. Nama yang menarik." ucap polisi. Polisi lalu menanyakan usia Im.

"Usia muda ... 30 tahun." jawab Im.

"30? Kau terlihat tua." ucap polisi.

"Aku terlihat muda." balas Im.


Polisi kemudian meminta KTP Im. Im pun memberikan tanda pengenalnya, berupa papan nama kecil yang bertuliskan namanya. Polisi pun mulai kesal.

"Bukankah kau meminta identitasku. Ada namaku disitu." ucap Im.

"Hari ini kondisiku tidak baik." jawab polisi itu. Polisi itu kemudian memegangi perutnya yang terasa sakit. Ia meminta Im tetap diam disana, sebelum akhirnya beranjak pergi.

"Pasti sakit. Aku juga sakit." ucap Im sambil memegangi wajahnya yang tadi ditampar Yeon Kyung.


Kakek Yeon Kyung (mulai hari ini, sy panggil Kakek Choi aja ya) menyeret seorang pria ke kantor polisi sambil marah-marah. Kakek bilang, pria itu harusnya dipukul kuat2 karena sudah menipunya memakai obat palsu.

"Lepaskan aku ! Kakek ini punya masalah dengan mata ! Ini asli ! Asli buatan Vietnam ! Ini adalah gaharu alami kelas satu dari Vietnam." jawab pria itu.

"Kelas satu darimana! Kau bercanda!Kentara sekali kau melubanginya dengan obat-obatan lalu kau pulas dengan minyak!" sentak Kakek Choi.

"Kau lihat ?! Kau lihat aku memulasnya dengan minyak ?!" tanya pria itu.

"Kau tidak punya nurani. Mana nuranimu!" ucap Kakek Choi jengkel.

Kakek Choi dan pria itu pun berdebat. Kakek Choi yakin itu barang palsu, sementara pria itu yakin barangnya asli.


"Itu palsu." ucap Im, membuat Kakek Choi kaget.


Yeon Kyung menyusuri lorong rumah sakit sambil bertanya-tanya siapa Im sebenarnya. Yeon Kyung lalu duduk di meja jaga. Suster Jung datang memberitahu Yeon Kyung bahwa Ha Ra baru saja tertidur. Min Jae pun memuji Yeon Kyung. Ia berkata, jika bukan karena Yeon Kyung, mereka sudah kehilangan Ha Ra.

"Bukan karena aku." jawab Yeon Kyung.

"Lalu siapa?" tanya Min Jae.

"Si Gila." jawab Yeon Kyung.

"Kunyuk yang tadi? Bagaimana caranya?" tanya Min Jae tak percaya.

"Akupuntur." jawab Yeon Kyung.

"Jadi dia dokter pengobatan oriental? Tapi bagaimana bisa dia menghentikan serangan jantung dengan akupuntur?" tanya Min Jae.

"Kau yakin? Bukankah Dokter Choi tahu hal serupa?" tanya Suster Jung.

Yeon Kyung pun langsung teringat sesuatu setelah mendengar pertanyaan Suster Jung. Ia lalu menyuruh Suster Jung menjaga Ha Ra dan beranjak pergi.


"Gaharu harusnya membengkok dan melilit karena menderita begitu lama.  Harusnya tidak sehalus ini.  Ini tidak ada tanda penderitaannya." ucap Im sambil memeriksa kayu itu.

"Memangnya kau siapa sok tahu segalanya?!" jawab pria itu kesal.

"Gaharu adalah tanda stamina dan obat keajaiban. Efek medisnya pada seluruh tubuh. Tapi obat langka ini tidak bisa tumbuh disini. Setelah Jepang memberikan hadiah pada Raja Sejong 30 akar gaharu, ia nyaris tertupi dan memberinya seluruh ukiran tripitaka. Aku melihatnya karena penasaran pada obat langka yang ternyata dianggap biasa di sini. Ternyata tidak." ucap Im, lalu melemparkan kayu itu ke meja.


Polisi pun langsung mengamankan pria itu.


Kakek Choi lalu menatap pakaian Im. Tiba-tiba, polisi yang menangkap Im tadi datang dan langsung menjebloskan Im dalam sel.


Im teringat saat polisi itu memborgol tangannya tadi, ia sempat memeriksa nadi si polisi.

"Sebelumnya kau pasti bekerja sangat keras.  Maksudku, alasan perutmu sakit ... bukankah karena kau menggunakan energi terlalu banyak sekaligus ?" ucap Im.

"Orang ini pasti sudah gila." jawab si polisi, tapi setelah itu, si polisi malah bertanya pada Im sambil bisik- bisik. Ia bertanya, Im tahu darimana. Im pun langsung tersenyum.


Kakek Choi meninggalkan kantor polisi sambil memikirkan Im.

"Heo dan Im?" tanyanya. Kakek lalu berkata, bahwa hal seperti itu tidak mungkin terjadi lagi.

*Hal seperti ini tidak mungkin terjadi lagi? Mungkinkah Kakek Choi tahu Im dari Joseon? Kalau iya, berarti dulunya hal kayak gitu pernah kejadian dong. Sy langsung ingat Heo Jun yang kaget pas lihat kotak jarum akupuntur Im. Jangan-jangan, yang dimaksud Kakek Choi itu Heo Jun lagi.


Di sebuah ruangan, Im pun memberikan terapinya pada si polisi. Ia meletakkan handuk hangat di atas perut polisi itu. Si polisi pun mengancam akan membunuh Im jika Im membohonginya.

"Orang dulu berkata, tubuhmu harus selalu hangat jika kau merasa lelah dan tidak bertenaga.  Beberapa bagian tubuhmu saat ini terlalu lelah. " ucap Im.

Im lalu mengeluarkan jarumnya dan meminta si polisi percaya padanya. Im bilang, akupuntur dapat dilakukan dengan benar jika pasien percaya pada dokternya.


Im pun mulai menusukkan jarumnya yang berukuran kecil ke bagian belakang pinggang si polisi.

Setelah itu, ia menusukkan jarumnya ke kaki si polisi. Si polisi langsung meringis kesakitan dan memukuli Im.

Tepat saat itu Yeon Kyung datang dan terdiam melihat Im yang melakukan akupuntur pada si polisi.


Yeon Kyung membebaskan Im dari kantor polisi. Ia mencabut laporannya. Yeon Kyung lalu teringat kata-kata polisi tentang Im padanya. Polisi bilang, Im tidak punya identitas dan bahkan Im tidak tahu apa itu ponsel. Im juga punya sidik jari.

"Aku tidak tahu kenapa, tapi jari telunjuk dan jempolnya berkilau.  Semuanya habis terkikis, jadi tak ada sidik jari. Aku berusaha mengecek identitasnya dengan jari yang lain. " ucap polisi.

Tapi Yeon Kyung masih saja menuduh Im yang bukan-bukan.


"Kenapa menuduhku seperti itu? Aku dokter terbaik di Joseon." jawab Im.

"Shixuanxue di sepuluh jari. Itu titik akupuntur bagi aliran qi dan darah. Kau tahu itu darimana? Kau mempelarinya dari siapa?" tanya Yeon Kyung.

"Aku belajar dari guruku. Murid sudah menjadi guru. Sudah lama aku melampauinya." jawab Im.

"Berapa lama kau mempelajarinya? Tiga bulan? Sepertinya kau tidak punya izin prakter pengobatan oriental." ucap Yeon Kyung.

"Kau sedang apa ? Kau menginterogasiku mirip polisi?" jawab Im.


"Heo dan Im-ssi." ucap Yeon Kyung.

"Namaku bukan Heo dan Im." jawab Im.

"Siapa dirimu? Bagaimana kau menyelamatkan pasien sekaratku dengan akupuntur?" tanya Yeon Kyung lagi.

"Namaku bukan Heo dan Im.  Keluargaku dari Hayang. Nama akhirku Heo dan namaku Im.  Aku tidak tahu di sini aku sebagai apa, tapi sebelum kemari,  Aku dokter yang hidup di jaman Joseon.  Aku mengobati lusinan bahkan ratusan pasien di Haeminseo." jawab Im.

Kesal, Yeon Kyung pun meninggalkan Im. Im mengejar Yeon Kyung.


"Tadi kau tanya siapa aku. Aku hanya menjawab pertanyaanmu. Tidak sopan pergi saat aku memberi penjelasan padamu." ucap Im.

"Aku tidak perduli kau bercanda atau menipuku. Tapi, kau kira akupuntur cuma lelucon ? Apa nyawa orang cuma lelucon?!"

"Siapa yang bercanda? Kenapa marah sekali?" tanya Im bingung.

"Kau pasti mempelari ini di suatu tempat tidak terdaftar selama beberapa bulan. Kau tak tahu kau bisa membunuh orang dengan begitu? Jangan melakukan itu lagi. Jika kau melakukannya lagi, aku akan membawamu ke kantor polisi." ucap Yeon Kyung.


Lalu, Yeon Kyung beranjak pergi. Im mengejar Yeon Kyung. Yeon Kyung pun berhenti melangkah dan kembali menatap Im.

Yeon Kyung menghela nafas, lalu memberikan obat pada Im.

"Ini apa?" tanya Im.

"Kau tidak tahu? Ini obat. Pereda sakit dan anti radang." jawab Yeon Kyung.

Yeon Kyung lalu menatap luka Im, tidak sakit?

"Aku baru sadar kenapa aku merasa sakit dari tadi."

"Minum ini tiga kali sehari selepas makan. Besok datanglah ke rumah sakit." ucap Yeon Kyung.

"Buat apa ke rumah sakit? Kau mau memasukkan aku ke rumah sakit jiwa?" tanya Im.

"Perbanmu harus diganti. Kau tahu ini bisa infeksi jika dibiarkan." jawab Yeon Kyung.


"Kau tidak menganggapku gila, tapi juga tidak mempercayaiku. Kenapa kau baik sekali?" tanya Im.

"Tanggung jawab. Kau terluka karena pasienku. Sudah tugasku sebagai dokter merawatmu sampai sembuh." jawab Yeon Kyung.

Im lalu menanyakan Ha Ra. Ia menyebut Ha Ra sebagai si gadis daging.

"Kau cuma gadungan yang sedang beruntung. Jangan merasa bangga. Kau lah yang membuat dia berlari seperti itu." omel Yeon Kyung.

"Itu..." Im ingin mengatakan sesuatu tapi Yeon Kyung lagi-lagi memotong perkataannya.

"Jangan pernah dekati pasienku lagi. Mengerti." ucap Yeon Kyung.

Setelah itu, Yeon Kyung beranjak pergi. Im pun berkata, dia hanya ingin Yeon Kyung memeriksa jantung Ha Ra.


Im menyusuri jalanan tanpa tahu harus kemana. Langkahnya kemudian berhenti di depan sebuah rumah sakit jawa.

"Aku musafir yang sedang lewat. Boleh aku tinggal semalam di sini?" teriak Im.

Karena tak ada yang menjawab, Im pun mendekati pintu rumah sakit. Namun tiba2, sebuah lampu menyala begitu ia menginjakkan kakinya di teras. Ia lalu mengetuk2 pintu kaca. Kali ini, sebuah alarm berbunyi. Im ketakutan dan bergegas pergi.


Im kemudian melihat ibu dan anak yang masuk ke rumah setelah memencet bel.

Im pun mengikutinya. Ia memencet bel.

"Siapa ini?" tanya si pemilik rumah lewat layar intercom.

"Apa ini? Apa isinya ini?" tanya Im sambil mendekatkan wajahnya ke layar.

Si pemilik rumah pun marah. Im pun kabur sebelum si pemilik rumah keluar dari rumah.


Yeon Kyung mengobrol dengan Bok Man.

"Aku hanya mampir untuk menengok Bok Man lalu pergi lagi. Nuna ... rasanya ...  lelah seperti anjing.  Hari ini melelahkan sekali ... gara-gara satu manusia aneh." ucap Yeon Kyung.

Yeon Kyung lalu melirik piring Bok Man yang masih penuh dengan nasi.

"Kenapa tidak menghabiskan makananmu? Tidak nafsu makan?" tanya Yeon Kyung.


Kakek Choi pun keluar. 

"Kau mencemaskan anjing tua, tapi tidak meperdulikan kakekmu ? Belakangan ini dia pemilih soal makanan. Ia tidak makan dengan baik." ucap Kakek Choi.

"Berhenti memberinya makanan berlemak." jawab Yeon Kyung.

"Dia tidak akan makan makanan tawar. Setidaknya harus yang seperti ini." ucap Kakek Choi sambil memperlihatkan makanan Bok Man yang dibawanya.


Kakek Choi lalu bertanya, apa Yeon Kyung akan tidur di rumahnya. Yeon Kyung menjawab dengan cepat, tidak.

"Kau makan teratur ?" tanya Kakek Choi.

"Di rumah sakit ada makanan." jawab Yeon Kyung.

"Jika membuat kesalahan karena perutmu kosong,  kau bisa membuat banyak orang dalam masalah." ucap Kakek Choi.

Kakek Choi lantas memberi Yeon Kyung obat herbal, tapi Yeon Kyung dengan tegas menolaknya.


Yeon Kyung masuk ke mobilnya. Di mobil, ia pun teringat masa kecilnya, saat ia mempelajari akupuntur. Ia bahkan bercita-cita menjadi dokter pengobatan oriental seperti kakeknya.


Sekarang, Yeon Kyung sedang melihat fotonya bersama sang ibu.

"Jangan kesal. Ibu, putrimu sangat hebat.  Terus perhatikan aku.  Aku akan jadi dokter sehebat apa." ucap Yeon Kyung.

Yeon Kyung lalu melajukan mobilnya.


Tepat setelah Yeon Kyung pergi, Im pun muncul. Ia heran, kenapa orang2 di sekelilingnya dingin dan kasar kepadanya.

Im lalu buang air kecil di dinding rumah Kakek Choi.

Kakek Choi sedang memberi makan Bok Man. Tapi Bok Man tidak mau makan dan terlihat gelisah.


"Kenapa dia begini? Apa ada orang diluar?" tanya Kakek Choi, lalu memeriksa keluar. Ia pun marah melihat Im yang kencing di tembok rumahnya.


Prof. Hwang menyuruh Yeon Kyung tutup mulut. Yeon Kyung pun heran, kenapa? Menurut Yeon Kyung, orang tua Ha Ra harus tahu.

"Kudengar orang itu bukan dokter oriental. Dia tak punya izin. Jika walinya mengamuk dan diketahui Dirut, bisa-bisa

kau..."

"Aku tidak akan menyusahkan Profesor." jawab Yeon Kyung.

"Yang penting kita harus sembuhkan anak itu. Kau tak mau operasi?" tanya Prof. Hwang.


Tanpa mereka sadari, Man Soo menguping pembicaraan mereka dan tersenyum licik.


Setelah itu, Suster Jung memberitahu Yeon Kyung tentang permintaan Ha Ra. Ha Ra tak ingin orang tuanya tahu soal akupuntur yang diterimanya.

"Oh Ha Ra berkata begitu? Kenapa?" tanya Yeon Kyung.

"Mungkin ingin menyelamatkan orang yang sudah menolongnya atau tidak ingin dokternya kena masalah.  Aku tak tahu pemikirannya.  Sepertinya dia paham perasaanmu saat membiarkan dia pergi.  Kadang tidak ada salahnya mendengarkan pasienmu." ucap Suster Jung.


Yeon Kyung pun langsung menemui orang tua Ha Ra. Dia meminta maaf atas kejadian hari ini. Ayah Ha Ra berterima kasih karena Yeon Kyung sudah menyelamatkan Ha Ra.


Setelah itu, ayah dan ibu Ha Ra berdebat. Ha Ra pun langsung memunggungi orang tuanya dan menyembunyikan diri di bawah selimut. Mengerti perasaan Ha Ra, Yeon Kyung pun menyuruh orang tua Ha Ra keluar.


Yeon Kyung menatap Ha Ra sejenak. Ia kasihan melihat Ha Ra. Tak lama kemudian, ia beranjak pergi meninggalkan Ha Ra yang mulai menangis.


Im sendiri masih ada di depan rumah Kakek Choi. Ia terkejut membaca tulisan 'Haeminseo' di depan rumah Kakek Choi.

"Tempat ini... adalah tempat akupuntur." ucap Im.

"Biasanya orang memanggil kami Sinse." jawab Kakek.

"Apa Haeminseo yang itu artinya...?"

"Haeminseo yang ada di Joseon?" tanya kakek.

"Kudengar tempat itu sudah lama musnah. Lalu kenapa tulisannya ada disini? tanya Im heran.

Kakek Choi pun menatap Im dengan curiga.

"Aku bukan orang gila." ucap Im.

"Memangnya aku bilang apa ?" tanya Kakek.


Kakek lalu mengajak Im masuk. Im terkejut memperhatikan sekelilingnya yang dipenuhi alat2 akupuntur.

"Kau tidak bekerja untuk negara. Mana bisa menggunakan logo Haeminseo." ucap Im.

"Suka-suka aku menggunakan tanda itu." jawab Kakek Choi.

Kakek Choi lalu bertanya, kenapa Im dari tadi membicarakan soal Haeminseo. Kakek juga bertanya, kenapa Im memakai baju seperti itu. Im hanya berkata, dia punya alasan untuk itu.

"Aku tidak perlu tahu kisahmu jika kau hanya tinggal semalam di sini. Aku akan keluarkan selimut. Kau tidur di sini." ucap Kakek Choi.

Lalu perut Im berbunyi. Dia lapar. Haha...


Kakek Choi memberikan Im sisa makanan Bokman.  Im pun heran melihat ukuran mangkoknya yang besar sekali.

"Karena Bok Man tak mau memakannya, makanya kau beruntung." ucap Kakek Choi.

"Bagaimanapun tolong ucapkan terima kasihku pada Bok Man." jawab Im. Kakek Choi pun beranjak pergi.


Sementara Im, dia makan makanan sisa Bok Man sambil menangis haru.

"Bok Man, terima kasih." ucapnya, lalu menghabiskan makanan Bok Man.


Selesai makan, Im pun meminum obatnya. Tapi sebelum meminum obatnya ia teringat kata-kata Yeon Kyung yang akan merawatnya sampai sembuh. Ia pun senyum-senyum sendiri teringat hal itu. Tapi saat teringat Yeon Kyung melarangnya bertemu Ha Ra, ia pun menyebut Yeon Kyung sebagai wanita plin plan.

Im lalu meminum obatnya. Pahit, Im pun bergegas mencari air dan menemukan sekotak susu.


Sebuah taksi berhenti di depan Rumah Sakit Shinhae. Yoo Jae Ha, pria yang wajahnya sangat mirip dengan Tabib Yoo, turun dari taksi. Ia memberikan si supir taksi uang lebih. Jae Ha bilang, itu hadiah karena dia akan menemui seseorang yang dirindukannya.


Bersamaan dengan itu, Yeon Kyung keluar dari Ruang IGD sambil menguap lebar. Man Soo langsung menutup hidungnya begitu melihat Yeon Kyung. Yeon Kyung pun protes karena pagi2 Man Soo sudah mencerewetinya.

"Kenapa? Kau frustasi karena kalah dari wanita, padahal kau laki-laki?" tanya Yeon Kyung.

"Aku kasihan dengan pria yang akan menikahimu. Lihat saja dirimu." jawab Man Soo.


"Menurutku lumayan." ucap Jae Ha sembari berjalan ke arah mereka.

Yeon Kyung pun terkejut melihat Jae Ha.

"Jae Ha-ya." ucapnya.

"Biasanya dalam seminggu dia tidak mandi. Dia juga suka menyumpal mulut para pria dengan kaos kaki 10 harinya, terutama pria yang cerewet dan bawel." jawab Jae Ha.


Mendengar itu, Man Soo langsung pergi. Setelah Man Soo pergi, Jae Ha pun memeluk Yeon Kyung.


Pagi2, Im sudah membuat seisi Haeminseo heboh. Byung Ki dan seorang wanita yang berseragam perawat terkejut melihat ada orang asing yang tidur tanpa mengenakan baju. Mendengar jeritan keduanya, Im pun terbangun.


Kakek Choi masuk ke dapur dan terkejut melihat kotak susunya sudah kosong.

"Kenapa ini kosong? Seingatku masih ada setengah. Ada yang meminumnya? Padahal ini sudah kadaluarsa." ucap Kakek.


Im mules-mules dan buru-buru masuk ke toilet. Kakek Choi langsung menyuruh Byung Ki menyiapkan ume putih atau quince. Byung Ki bilang, yang ada hanya quince.

"Lalu siapa dia ? Apa orang itu tamu Kepala?" tanya Byung Ki.

"Jika dugaanku tepat, orang sepertinya tidak bisa disebut tamu. Sepertinya kalian akan mengalami kesulitan." jawab

Kakek Choi lalu masuk ke dalam.


Benar saja, Im buang air besar di lantai! Si perawat pun langsung mengatai Im sinting.


"Kau punya ume putih ? Berikan padaku.  Kasih bawang putih juga.  Menurut buku pengobatan baru namanya "Bencao Gangmu" jika bawang putih yang digiling di letakan di kaki, maka bisa mengobati gangguan perut akut." ucap Im pada Byung Ki.

Byung Ki seketika kaget.


Yeon Kyung dan tim nya serta Prof. Hwang menemui Ha Ra. Mereka memberitahu ibu Ha Ra kalau Ha Ra akan dioperasi besok. Prof. Hwang bilang, ia menunda operasi lain besok hari agar bisa mengoperasi Ha Ra. Prof. Hwang juga memuji Yeon Kyung sebagai dokter yang hebat dalam operasi.

Tapi Ha Ra tidak mau dioperasi dan malah meminta pulang.


Kakek Choi memarahi Im yang sudah mencuri susunya. Kakek memberitahu Im kalau susu itu sudah basi. Mengerti lah Im kenapa perutnya mules2 sejak tadi.

"Ngomong2 namamu Heo dan Im?" tanya Kakek Choi.


Tapi Im tidak menjawab pertanyaan Kakek Choi dan malah mendekati Bok Man. Kakek pun melarang Im mendekati Bok Man karena Bok Man anjing yang galak. Kakek Choi terheran-heran melihat Bok Man nya yang akrab dengan Im yang notabene nya orang asing.

"Biasanya dia tidak begitu." ucap Kakek Choi.

"Ngomong-ngomong, siapa namanya?" tanya Im.

"Bok Man." jawab Kakek Choi, lalu masuk ke dalam.

Sontak, Im teringat makanan sisa Bok Man yang dimakannya semalam. Menyadari makanan yang dimakannya adalah sisa anjing, Im pun langsung muntah.


Di dalam, kakek teringat saat Im menyebut tentang Joseon beberapa kali. Curiga, Kakek Choi pun memeriksa baju Im dan menemukan kotak jarum akupuntur itu di sana. Kakek Choi terkejut.

"Sesange, kenapa ini terjadi lagi?" ucap Kakek Choi.

Bersambung ke part 2...

Nah kaaan dugaan sy bener, si Kakek Choi memang tahu Im dari Joseon. Berarti dulu, Heo Jun juga pernah nyasar ke Seoul.

No comments:

Post a Comment