Monday, August 20, 2018

Ice Adonis Ep 1 Part 1

-Februari 2007, Penjara Wanita Cheongju-


Seol Yeon Hwa diserang sekelompok tahanan yang lebih tua. Ia jatuh tersungkur.  Tapi masih saja dipukuli, ditendang dan diinjak tahanan lain.

Yeon Hwa yang sudah terkapar itu, tanpa sengaja melihat bunga 'adonis' yang tumbuh di tanah.


Sontak, ia langsung teringat percakapannya dengan Yeon Jae tentang bunga tersebut.

"Pasti dingin dan sulit untuk melewati es." ucap Yeon Hwa.

"Jadi itulah bunga adonis." jawab Ha Yeon Jae.

"Begitu pahit, sehingga ingin balas dendam?" tanya Yeon Hwa.

"Sebenarnya jika kau sanggup bertahan dan menderita, kau akan menikmati berkat besar dan kehidupan panjang. Bunga keberuntungan." jawab Yeon Jae.


Para sipir pun langsung melarikan Yeon Hwa ke RS. Tapi begitu tiba di RS, Yeon Hwa justru melarikan diri. Ia bahkan sempat tertabrak sebuah mobil ketika melarikan diri.

Lalu sebuah mobil berhenti tepat di depan Yeon Hwa. Si pengendara--seorang wanita--menyuruh Yeon Hwa masuk ke mobilnya.


Si pengendara kaget melihat wajah babak belur Yeon Hwa. Ia mengumpat para tahanan yang memukuli Yeon Hwa.

Tak lama berselang, terdengar sirine polisi. Mereka menoleh ke belakang dan terkejut melihat mobil polisi yang mengejar mereka.

"Cepat pergi dari sini!" teriak Yeon Hwa.

Dan si pengendara langsung menambah laju mobilnya.


Polisi tak tinggal diam. Mereka langsung menyebarkan foto Yeon Hwa di jalanan.


Yeon Hwa dan temannya berhenti di depan sebuah gereja dan menukar mobil. Yeon Hwa mengambil sebuah tas dari jok belakang dan bergegas membuka sweaternya.


Para polisi mulai memblokade jalan. Mereka juga mengerahkan anjing pelacak untuk membantu mereka mencari Yeon Hwa.

Yeon Hwa sudah mengganti seragamnya. Ia juga menutupi luka-luka di wajahnya dengan riasan tebal dan memakai kacamata hitam.

Tak hanya itu, Yeon Hwa juga melemparkan beberapa potongan kue ke jok belakang.

Saat melihat polisi yang tengah melakukan razia, keduanya pun syok. Teman Yeon Hwa memasukkan permen karet ke mulut Yeon Hwa agar Yeon Hwa tidak gugup.


Yeon Hwa dan temannya sama2 menurunkan jendela. Yeon Hwa gugup ketika anjing pelacak mengendusnya. Untunglah tadi Yeon Hwa sempat melemparkan beberapa potongan kue ke jok belakang, sehingga temannya Yeon Hwa bisa berdalih dengan mengatakan kalau anjing pelacak itu sedang mengendus kue.


Lalu polisi yang berdiri di samping teman Yeon Hwa, menyuruh Yeon Hwa melepas kacamata. Terpaksa lah Yeon Hwa melepas kacamatanya. Mengira Yeon Hwa adalah orang lain, polisi pun melepaskan mereka.


Para sipir menggeledah sel Yeon Hwa dan menemukan undangan pernikahan Yeon Jae dan Choi Yoo Ra.


Benar saja! Yeon Hwa memang datang ke pernikahan itu. Ia bahkan sempat merusak foto prewed Yeon Jae dan Yoo Ra yang terpajang di lobby.


Di sebuah ruangan, Yoo Ra gelisah menunggu Yeon Jae yang belum datang.

Tak lama berselang, ia mendapatkan pesan masuk dari seseorang. Tadinya ia mengira, pesan itu dari Yeon Jae, tapi wajahnya langsung berubah begitu membaca pesan itu.

Seseorang menyuruhnya naik ke atap. Kalau Yoo Ra tidak datang, ia mengancam akan mengungkapkan kebenarannya.


Yeon Jae yang baru tiba di gedung, terkejut melihat foto pernikahannya rusak.


Di atap, Yoo Ra terkejut melihat sosok Yeon Hwa.

"Choi Yoo Ra, aku tahu kau akan datang." ucap Yeon Hwa.

"Bagaimana kau bisa? Hukumanmu belum selesai." jawab Yoo Ra.

"Kau mengirimiku undangan. Kau tidak mengundangku?" ucap Yeon Hwa.

Yeon Hwa lalu beranjak mendekati Yoo Ra.

"Apa yang kau takutkan? Bahwa kebenaran menjijikkanmu akan diketahui dunia?" tanya Yeon Hwa.

Yoo Ra mencoba kabur tapi Yeon Hwa langsung mencengkram nya.

"Aku bertanya-tanya, siapa yang menjebloskanku ke dalam penjara. Siapa yang diuntungkan."

Yoo Ra pun mendorong Yeon Hwa.


"Kau yang tidak bisa menjaga pacarmu. Aku menyukai Yoon Jae sejak kecil. Aku yang pertama. Dia milikku sejak dulu." ucap Yoo Ra.

"Jika dia milikmu sejak dulu, kenapa kau mengirimku ke penjara? Karena orang yang kau bunuh adalah keluarganya? Kau melakukan hal yang mengerikan!" jawab Yeon Hwa.

"Aku tidak membunuhnya. " ucap Yoo Ra. Dia terus berjalan mundur ke belakang.

"Jika kau tidak melakukannya, lalu apa yang kau takutkan? Apa kau bahagia setelah menjebak seseorang tak bersalah untuk kejahatanmu?" tanya Yeon Hwa.

Yoo Ra sudah tersudut ke tepi atap. Ia terkejut.


"Kau apakan ibu dan adikku? Apa menjahatiku saja belum cukup!" tanya Yeon Hwa.

Yeon Hwa lantas mencekik Yoo Ra.

"Bunuhlah aku. Kau akan dihukum untuk pembunuhan lain. Adikmu akan sangat bangga." jawab Yoo Ra.


Mendengar itu, Yeon Hwa tambah emosi. Ia memborgol tangannya dan tangan Yoo Ra, lalu mengajak Yoo Ra mati dengannya.


Tepat saat itu, Yoon Jae datang. Yeon Hwa langsung menyuruh Yoo Ra mengakui kebenarannya pada Yeon Jae tapi Yoo Ra bersikukuh tidak membunuh orang itu.

"Bertobatlah Seol Yeon Hwa!" pinta Yeon Jae.

Mendengar itu, Yeon Hwa tambah luka.

"Katamu kau percaya semua yang kukatakan. Aku tidak menyangka cintamu begitu lemah. Aku tidak membunuhnya. Mana mungkin aku membunuh keluarga pria yang kucintai." jawab Yeon Hwa.


Tak lama kemudian, polisi datang dan langsung menodongkan pistol pada Yeon Hwa.

"Katakan sejujurnya Choi Yoo Ra!" desak Yeon Hwa.


Lalu... Yeon Hwa dan Yoo Ra jatuh dari atap.

Terdengar narasi Yeon Hwa, "Bolehkah kembali dari awal?"

-3 bulan sebelumnya-


Di rumahnya yang kecil, Yeon Hwa sedang latihan wawancara sambil mendadani adiknya.

Setelahnya, Yeon Hwa mengajak adiknya pergi.


Di meja, terlihat foto Yeon Hwa bersama adik dan ibunnya.


Yeon Hwa menitipkan adiknya pada ahjumma pemilik warung. Ahjumma pemilik warung memuji penampilan Yeon Hwa yang sangat cantik. Yeon Hwa memberitahu ahjumma pemilik warung kalau ia akan pulang terlambat karena harus pergi bekerja setelah wawancara.

"Tidak apa-apa. Ini lebih baik bagiku karena aku tidak akan kesepian." jawab si ahjumma.

"Gomapseumida ajumoni." ucap Yeon Hwa.

Lalu, Yeon Hwa bicara pada adiknya.

"Aku akan segera kembali, Soo Ae-ya."

"Ppali wa, Eonni. Aja aja, fighting!" jawab Soo Ae.


Yeon Hwa pun mulai beranjak pergi. Tapi ponselnya tiba-tiba berdering. SMS dari sang ibu yang memberinya kata-kata penyemangat.


Setelah mengirimi pesan penyemangat pada Yeon Hwa, Nyonya Han mengetuk pintu kamar Yoo Ra. Ia mengajak Yoo Ra sarapan.

Tak lama kemudian, ia masuk ke kamar Yoo Ra dan terkejut melihat betapa berantakannya kamar Yoo Ra.

"Bukankah sudah kubilang jangan masuk." ucap Yoo Ra yang kala itu sedang merias dirinya.

"Ayah dan nenekmu sudah menunggu." jawab Nyonya Han.

"Sudah kubilang aku tidak mau sarapan." ucap Yoo Ra.

"Akan kubuatkan jus sayur segar untukmu. Jadi kau harus meminumnya." jawab Nyonya Han.

Nyonya Han lalu menghela nafas melihat kasur Yoo Ra yang dipenuhi berbagai macam sepatu. Setelah itu, ia beranjak keluar dari kamar Yoo Ra.

Yoo Ra pun menghela nafas kesal.


Begitu masuk ke ruang makan, Yoo Ra langsung dimarahi ayahnya karena tidak bisa berhemat. Nyonya Han yang sedang menuangkan sup di dapur, langsung menenangkan suaminya.

Yoo Ra beralasan, bahwa dirinya membutuhkan semua itu karena kalau tidak, ia bisa gila.

Tuan Choi pun menyalahkan ibunya yang terlalu memanjakan Yoo Ra. Nyonya Jo membela diri. Ia berkata, Yoo Ra membutuhkan sepatu dan baju baru karena dia akan mulai bekerja.


Nyonya Han datang dan menyajikan sup ikan.

"Kau tahu kan sup ikan pollack terlalu amis untukku!" ucap Yoo Ra kasar.

Mendengar itu, Tuan Choi tambah marah. Tapi Nyonya Jo langsung menenangkannya. Kesal, Tuan Choi pun memilih pergi tanpa sarapan.


Setelah Tuan Choi pergi, Yoo Ra menyalahkan Nyonya Han. Ia menuduh Nyonya Han yang mengadukannya pada sang ayah. Nyonya Han membela diri.  Ia berkata, kalau

Tuan Choi melihat tagihan kartu kredit Yoo Ra.

Yoo Ra pun makin kesal. Bahkan ia menyuruh neneknya mencarikan apartemen untuknya. Ia mengaku, bisa gila kalau terus-terusan tinggal di rumah itu.


Setelah Yoo Ra pergi, Nyonya Jo mengajak Nyonya Han ke suatu tempat.


Yoon Jae yang baru tiba di kantornya, disambut oleh ribuan karyawannya. Saat mendengar kalau ayahnya lah yang menyuruh para karyawan menyambutnya, ia langsung mengajak supirnya ke rumah sakit.


Choi Kang Wook baru saja tiba di Korea. Ia terheran-heran melihat gadis Korea yang tinggi-tinggi.


Di rumah sakit, Nyonya Jang sedang bicara dengan seseorang di telepon. Ia mengaku, sangat2 merindukan orang itu. Ia terkejut saat orang itu berkata, sudah berada di Korea.

"Jigeom eodiya?" tanya Nyonya Jang.


Kang Wook mengarahkan ponselnya ke pesawat.

Nyonya Jang mengaku ingin berteriak karena bahagia. Namun, ia langsung mematikan ponselnya begitu Yoon Jae datang.


Yoon Jae menatap Nyonya Jang tajam.

"Jangan menatapku seperti itu. Apa kau mau membuat lubang di wajahku? Jika ingin menjenguk ayahmu, masuklah." ucap Nyonya Jang.

Nyonya Jang lalu beranjak pergi. Yoon Jae pun menghela nafas kesal.

Bersambung ke part 2.......

No comments:

Post a Comment