Monday, September 10, 2018

Hide and Seek Ep 3 Part 3

Sebelumnya...


Nyonya Park dibawa menuju ambulance.

Darah tampak mengalir di sela-sela tangan Nyonya Park.

Kepala Pelayan Kim langsung naik ke ambulance.

Setelah itu, ia membantu Nyonya Na masuk ke ambulance.


Tepat saat itu, Chae Rin datang. Nyonya Na langsung memarahi Chae Rin. Bukan hanya memarahi, tapi juga menyalahkan Chae Rin. Ia menuduh Chae Rin sebagai penyebab Nyonya Park mengamuk dan tak sadarkan diri.

"Tidak cukup Soo A saja kah? Kau juga ingin membunuh ibunya Soo A?" tanya Nyonya Na.

Nyonya Na lalu naik ke ambulance.

Chae Rin ingin ikut, tapi malah didorong Nyonya Na.

Ambulance pun berlalu dari hadapan Chae Rin.


Chae Rin ingin mengejar, tapi Eun Hyuk langsung menghentikannya.

"Kau selalu hidup seperti ini? Kau hidup sebagai pengganti putri asli keluarga ini? Kau putri palsu yang akan hilang setelah yang asli datang? Tapi kau membual kau lah pemilik perusahaan itu."

Chae Rin pun marah Eun Hyuk ikut campur urusannya.

Eun Hyuk berkata, bahwa dirinya juga tak mau ikut campur tapi ia keburu melihatnya.


"Kau pikir kau bisa mendapat keuntungan dari sini? Jangan bertingkah. Tidak akan ada yang berubah karena ini." jawab Chae Rin.

"Kau salah satu dari orang kaya terlepas kau palsu atau tidak. Kau lah yang seharusnya jangan bertingkah. Kau takut kan kalau putri yang asli benar-benar muncul? Aku akan pura-pura tidak melihatnya. Terus saja lakukan pertunjukanmu yang menyedihkan itu." ucap Eun Hyuk.

Eun Hyuk beranjak pergi.


Tapi Chae Rin menahannya dan mencengkram kerahnya.

Chae Rin menangis.

"Apa yang kau tahu? Kau tahu seperti apa perasaanku harus melakukan pertunjukan seperti ini? Ini mungkin pertunjukan bagimu, tapi bagiku ini ketulusanku dari perasaan yang sebenarnya. Kau tidak tahu apa-apa. Jangan terlalu sombong." ucap Chae Rin.

Chae Rin pun berlari pergi.


Eun Hyuk menghela napasnya dan menatap kepergian Chae Rin dengan tatapan lirih.


Nyonya Na tidak tega melihat kondisi putrinya. Ia berharap Soo A segera kembali.

Ia yakin semua akan berakhir hanya dengan kembalinya Soo A.


Hari mulai gelap. Chae Rin terus berjalan menyusuri taman.

Ia melepas wignya.

Tak jauh darinya, Eun Hyuk terus menjaganya.


Di kamar, Yeon Joo mengoceh tentang kekayaan yang tidak bisa dijadikan tolak ukur kebahagiaan seseorang. Ia mengaku, habis melihat nyonya kaya yang bersikap aneh.

Yeon Joo mengatakannya sambil merapikan gaun pengantinnya.

Yeon Joo lantas duduk disamping Eun Hyuk dan mulai membahas pernikahan.

Tapi Eun Hyuk yang masih memikirkan Chae Rin diam saja.

"Apa yang kau pikirkan?" tanya Yeon Joo.

"Aku memikirkan seseorang." jawab Eun Hyuk.

"Siapa pun dia, jangan pikirkan. Jika kau terus memikirkannya, kau akan mulai memiliki perasaan. Permainan akan berakhir setelah kau memiliki perasaan." ucap Yeon Joo.

Lantas, Yeon Joo memeluk Eun Hyuk.

"Kau hanya boleh memikirkanku." ucap Yeon Joo.

Eun Hyuk tidak menjawab.

"Kau mengerti tidak?" tanya Yeon Joo lagi.

"Aku mengerti." jawab Eun Hyuk.


Di kamarnya, Jae Sang mengaku kalau ia tidak yakin Chae Rin pergi ke kelas memasak hari ini.

"Kau mahir memasak hidangan kerajaan?" tanya Jae Sang.

"Jangan khawatir. Aku akan membuat semua orang mengatakan koki terbaik raja terlahir kembali." jawab Chae Rin.

Jae Sang kemudian berkata, kalau Chae Rin tidak akan pernah bisa kembali lagi ke Makepacific karena keluarganya tidak akan membiarkan menantu mereka bekerja diluar.

Jae Sang juga bilang, bahwa Chae Rin hanya akan berakhir sebagai orang menyedihkan.


"Orang-orang menyebut itu mimpi. Mungkin terlihat menyedihkan bagimu. Meski kau terlahir kembali, kau tidak akan pernah mengerti soal memiliki mimpi seperti itu." jawab Chae Rin.

Chae Rin pun beranjak pergi sambil tersenyum puas.

"Lancang sekali dirimu." ucap Jae Sang kesal.


Jae Sang lagi-lagi memberikan semangat pada pekerjanya lewat pengeras suara.

Namun salah satu pekerjanya yang sedang membawa bahan bangunan, tiba-tiba saja terjatuh dan pingsan karena kelelahan.


Di ruangannya, Presdir Moon sedang meneliti dokumen dengan serius.

Penasaran, Jae Sang juga ingin melihat dokumen itu.

Presdir Moon menutup dokumennya dan menyuruh Jae Sang melihatnya.

Jae Sang terkejut membaca dokumen itu yang ternyata adalah surat perjanjian kerja sama Tae San dan Makepacific.

"Ayah serius mau memulai ini?"

"Aku sudah memulainya sejak lama sekali." jawab Presdir Moon.


Seketaris Presdir Moon datang, melaporkan tentang si pekerja yang pingsan.

"YAAAAK! Kenapa kau melaporkan hal yang tidak penting!" teriak Presdir Moon.

"Konstruksi terhenti. Para pekerja memiliki keluhan karena dipaksa bekerja siang dan malam. Mereka semua kesal terutama karena pesan penyemangat itu."


Sontak, Presdir Moon langsung menatap galak Jae Sang. Jae Sang membela diri dengan mengatakan bahwa mempercepat tenggat waktu di lokasi konstruksi bukanlah hal yang aneh.

Jae Sang lantas berkata pada ayahnya kalau ia akan mengurus masalah itu.


Jae Sang langsung ke pabrik.

Ia mencoba berdialog dengan salah satu pekerja. Ia berkata, perusahaan akan memberikan kompensasi pada pekerja yang pingsan.

Ia juga memberikan uang padanya untuk dibagi-bagikan pada pekerja.

"Aku tahu uang bukan segalanya, tapi untuk saat ini tidak ada cara lain."

"Kami juga tidak merasa tenang karena protes ini. Kami melakukan ini karena apa yang menimpa rekan kami bisa juga terjadi pada kami."

"Karena itu tolong berikan kompensasi ini padanya. Pusat perbelanjaan ini adalah kebanggaan Taesan. Jika terlambat, citra perusahaan lah yang rusak. Jika citra perusahaan rusak, kalian juga akan kena imbasnya. Terlebih lagi, pimpinan sudah tua, akulah putra satu-satunya. Tidak ada yang lain, aku satu-satunya. Dia pria tua yang tidak tahu apa yang akan menimpanya besok. Aku melakukannya untuk menciptakan mal perbelanjaan secepat mungkin. Anggaplah perbuatanku ini tugas sebagai seorang anak. Aku tahu para pekerja mempercayaimu lebih dari penanggung jawab perusahaan." ucap Jae Sang.

Ia pura-pura menangis.

*Ngakak lihat ekspresinya Jae Sang. Yg tadinya super gedek ama tingkah mereka, mendadak jdi ngakak. Sy gk bisa benci karakter mereka, lucu sih. Antagonisnya setengah-setengah.


Para pekerja pun kembali melanjutkan tugas mereka.


Jae Sang yang melihat itu dari ruangannya pun senang.

Tapi semuanya kembali kacau ketika Jae Sang tidak sengaja menyalakan pengeras suara. Otomatis, para pekerja mengamuk mendengar ucapan Jae Sang.

Jae Sang yang tidak sadar, terus mengoceh. Ia meminta pendapat Eun Hyuk soal aktingnya tadi.

Ia juga berkata, akan memecat para pekerja setelah pembangunan selesai.


Jae Sang turun ke bawah. Sampai di bawah, ia dicegat para pekerja.

Pimpinan para pekerja, yang tadi berdialog dengannya pun datang dan menatapnya dengan tatapan serigala.

Takut, Jae Sang ngumpet di belakang Eun Hyuk.


Lain lagi dengan Presdir Moon yang sedang mendengar suara motivasi di ruangan rahasianya.

"Hentikan kemarahanmu. Kemarahan adalah benih kejahatan. Hentikan amarahmu."

"Benar, kemarahan adalah benih kejahatan. Aku harus memaafkan mereka." ucap Presdir Moon.

"Ulangi aku, aku mencintai musuh di hadapanku."

Presdir Moon pun dengan berat hati mengucapkannya.


Setelahh itu, ia menatap galak Jae Sang yang disuruhnya berlutut di pojokan.

Jae Sang minta izin ke kamar mandi.

Presdir Moon terus mengulang-ngulang kata yang didengarnya di radio.

Tapi, ia tidak bisa menahan amarahnya lagi.

"Jika aku punya senapan mesin ringan, aku akan menembakkannya ke kepalamu! Aku mengutusmu untuk memadamkan api, tapi kau kembali setelah memperburuk keadaannya!" teriak Presdir Moon.

Presdir Moon lalu melemparkan radio kecilnya ke arah Jae Sang.


Chae Rin sedang menjaga Nyonya Park.

Ia pun teringat pertemuan pertamanya dengan Nyonya Park.

Flashback...


Chae Rin sedang melihat-lihat kediaman Nyonya Park ketika Nyonya Park datang menghampirinya.

Nyonya Park menanyakan nama Chae Rin.

"Chae Rin." jawab Chae Rin.

"Nama yang bagus. Uri Soo A baru saja meminum obatnya, jadi kau bisa menyapanya nanti." ucap Nyonya Park.

Nyonya Park juga mengucapkan selamat datang di rumahnya pada Chae Rin.

Mendengar itu, Chae Rin senang. Ia berkata, sudah 3 kali ia batal diadopsi.

"Aku tidak akan mengirimmu lagi ke tempat lain." ucap Nyonya Park.

"Terima kasih, Samonim." jawab Chae Rin.

"Panggil aku ibu. Kau juga putriku, sama seperti Soo A." ucap Nyonya Park.


Sontak, Chae Rin senang dan langsung memeluk Nyonya Park. Nyonya Park kaget.

Mencium aroma Nyonya Park, Chae Rin pun berkata aroma itulah yang selalu ia bayangkan saat bisa memeluk ibunya.

"Ini aroma kosmetik. Keluargaku punya perusahaan kosmetik." ucap Nyonya Park.

Chae Rin lantas berjanji, akan selalu berada di sisi Nyonya Park apapun yang terjadi. 
 
Ia juga berjanji, saat besar nanti, akan menjadi seseorang yang membuat kosmetik sama seperti Nyonya Park.

Nyonya Park tertawa. Mereka terlihat bahagia saat itu.

Flashback end... 


 "Siapa? Siapa yang datang ke rumah hari itu? Kudengar, ibu mengalami kejang karena dia." tanya Chae Rin.

"Dia Ha Yeon Joo, penjual keliling di kantor kami. Sepertinya Nyonya Park berpikir, dia adalah Soo A. Dia menemukan kamar Soo A yang ditutup." jawab Kepala Pelayan Kim.

Chae Rin pun kaget.


Ponsel Yeon Joo berdering saat ia sedang berjalan menuju tempat kerjanya.


Setelah itu, ia dan Chae Rin bertemu di kafe. Chae Rin minta maaf karena tiba-tiba saja memanggil Yeon Joo.

Yeon Joo pun mengaku senang ditelpon seseorang seperti Chae Rin. Ia juga berkata, Chae Rin adalah role modelnya dan memuji penampilan Chae Rin saat wawancara televisi waktu itu.

"Terima kasih sudah menganggapku sebaik itu." ucap Chae Rin.

Chae Rin lalu minta maaf atas sikap kasar ibunya pada Yeon Joo. Ia memberitahu Yeon Joo bahwa pikiran ibunya sedikit terganggu, tapi ia tidak bisa menjelaskan detailnya karena itu masalah keluarganya.

"Jangan khawatir. Aku sudah melupakannya." jawab Yeon Joo.

"Kau sepertinya gadis yang baik hati." ucap Chae Rin.


"Aku hanya tidak berpikir panjang. Ibuku bilang, itu karena aku sederhana. Aku sangat sederhana, hingga saat menangis dan mengamuk seperti gadis kecil, dia hanya tinggal memberiku permen untuk membuatku tenang." jawab Yeon Joo.

Chae Rin lalu menanyakan soal kamar itu. Ia penasaran bagaimana Yeon Joo bisa menemukan kamar itu.

Yeon Joo berkata, ia menemukannya begitu saja.


Chae Rin lalu mengantarkan Yeon Joo pulang. Yeon Joo berkata, ia sangat berharap Chae Rin bisa menikmati sajian ibunya.

Chae Rin berjanji, akan mencicipinya lain kali.

Yeon Joo lantas masuk. Nyonya Do langsung menyambutnya.

Chae Rin yang menatap mereka dari luar pun terluka melihat cara Nyonya Do memperlakukan Yeon Joo dengan penuh kasih sayang.


Pil Doo tiba di lingkungan tempat Yeon Joo tinggal.

Ia menanyakan tentang salah satu rumah di lingkungan itu yang mengalami kebakaran 20 tahun lalu pada seorang pria tua.

Ia juga menanyakan wanita gemuk pemilik rumah itu.

"Seorang wanita dari kobaran api itu keluar memegangi seorang anak perempuan. Tapi aku tidak tahu kemana dia pergi." jawab si pria tua.


Di pabrik, para pekerja demo meminta Jae Sang dipecat.

Di Taesan, rapat pun langsung digelar. Para pemegang saham meminta Jae Sang bertanggung jawab atas kejadian di pabrik.


Chae Rin ke Makepacific. Ia menatap kantornya itu dengan penuh kerinduan.

Dua karyawannya lalu menghampirinya. Mereka senang Chae Rin masih ingat pada mereka.


Seketaris Tuan Min datang. Ia mengajak Chae Rin bertemu Tuan Min.



Tepat saat itu, Tuan Min lewat dengan terburu-buru. Chae Rin langsung memanggilnya.

"Kenapa ayah terburu-buru seperti itu?" tanya Chae Rin.

"Ada yang mengaku melihat Tuan Choi, jadi ayah harus segera menemuinya." jawab Tuan Min, lalu beranjak pergi.


Chae Rin pun langsung menanyakannya pada seketaris ayahnya kenapa ayahnya masih mencari-cari Tuan Choi. Seketaris ayahnya pun berkata, bahwa mereka harus membayar lebih untuk mendapatkan bahan mentah. Jadi itulah sebabnya mereka mencari Tuan Choi untuk menyelesaikan masalah itu.

Seketaris ayahnya pun meminta Chae Rin kembali ke perusahaan. Ia berkata, Tuan Min akan terbantu jika Chae Rin kembali dan semua karyawan juga menunggu Chae Rin.

"Aku juga ingin kembali." jawab Chae Rin sedih.


Jae Sang dan Chae Rin berusaha bicara pada Presdir Moon, tapi Presdir Moon marah-marah. Ia bahkan berniat melempar pajangan ke arah Chae Rin. Tapi Chae Rin tidak terlihat takut sedikit pun.

"Ada sesuatu yang ingin kutanyakan. Aku akan berusaha sebaik mungkin sebagai menantu Taesan Group. Aku akan kurangi waktu tidur, lebih mengurus rumah dan belajar memasak. Aku juga akan punya anak banyak sebanyak yang ayah mau." ucap Chae Rin.


Mendengar itu, Presdir Moon langsung meletakkan kembali pajangannya di atas meja dan bertanya kenapa Chae Rin berubah pikiran.

"Ayahku menderita karena sekarang bekerja sendiri. Mereka masih tidak bisa pulih dari insiden bahan baku, semuanya berjalan untuk sementara tapi menjamin situasi akan pulih sepenuhnya. Tolong biarkan aku bekerja lagi di Makepacific. Aku ingin membantu ayahku. Jika aku dizinkan, aku juga akan menyelesaikan masalah yang dibuat Jae Sang." ucap Chae Rin.


Presdir Moon mulai tertarik. Sementara Jae Sang mencemeeh Chae Rin.


Keesokan harinya, Chae Rin mulai bekerja di pabrik sama seperti para pekerja lainnya.

Si kepala tim pun marah dan langsung menghentikan Chae Rin.

Chae Rin berkata, dia akan bekerja karena itu satu-satunya cara untuk mendapatkan uang.

Sontak, pria itu tambah marah.


"Orang-orang ini mengikutimu karena mereka mempercayaimu. Kau mau bertanggung jawab jika mereka semua dipecat? Kau mau memberi mereka makan? Tidak mau kan? Jika tidak mau, diam saja. Bukan seperti ini cara menyelesaikan masalah." jawab Chae Rin.

Chae Rin pun mendorong kembali gerobaknya tapi pria itu malah mendorongnya.

"Apa Taesan yang mengutusmu?" tanya pria itu.


Chae Rin pun balas mendorong pria itu dan menasihati para pekerja.

Lalu, ia bersusah payah mengangkut 3 karung semen ke dalam gerobak dan mendorong gerobaknya ke tempat lain.

Para pekerja mulai merasa kata-kata Chae Rin benar.

Si pria itu hanya bisa menghela nafas kesal.


Malam harinya, Chae Rin menempelkan plester koyo ke lehernya.

Jae Sang yang duduk sambil membaca koran, bertanya apa Chae Rin yakin bisa menyelesaikan masalah itu.

"Kita lihat saja nanti, mereka akan percaya padaku atau tidak." jawab Chae Rin santai.


Keesokan harinya, Chae Rin kembali mempengaruhi para pekerja yang masih mogok.

Chae Rin berkata, Taesan akan memecat mereka semua dan tidak akan memberikan kompensasi.

Para pekerja wanita mulai terpengaruh.

Chae Rin pun kembali bekerja.


Si pria yang memimpin mogok kerja itu pun datang.

Ia berkata, mereka bisa merekam penyataan Taesan Group diam-diam dan merilisnya ke publik.

"Mereka bisa memberi uang dan terhindar dari masalah."


Chae Rin berdiri di depan lubang galian.

Ia mendapat telepon dari kelas memasak.

"Katakan kepada koki aku tidak bisa masuk untuk sementara. Bilang padanya, aku menantu Taesan Group." jawab Chae Rin.


Tepat saat itu, para pekerja datang dan mendengar kata-kata Chae Rin.

Sontak, si pemimpin demo marah dan mencengkram kerah Chae Rin.

Chae Rin pun menjelaskan kalau dirinya ada di pihak mereka tapi mereka tidak percaya.

"Bukan begini cara menyelesaikan masalahnya! Kalian harus mempertahankan pekerjaan kalian!" ucap Chae Rin.

"Kau tahu apa soal ini Tuan Putri! Kami bekerja keras dan banjir keringat di lubang itu!"

"Setidaknya aku tahu itu lebih baik darimu." jawab Chae Rin.


Chae Rin lantas melepaskan cengkraman itu dan melompat ke dalam lubang.

"Aku sudah lama mati dan bahkan ada pemakaman untukku. Karena itu aku tahu betapa berharganya hidup itu. Aku mempertaruhkan nyawaku untuk memberitahu soal ini. Aku benar-benar mengkhawatirkan kalian." ucap Chae Rin.

Para pekerja tidak percaya. Mereka menganggap Chae Rin hanya berakting dan pergi meninggalkan Chae Rin.


Di rumah, Presdir Moon menanyakan keadaan di lokasi konstruksi pada Jae Sang.

"Mereka sudah pulang, tidak ada satu pun di lokasi." jawab Jae Sang.

"Istrimu belum menelponmu?" tanya Presdir Moon.

Jae Sang menggeleng.


Chae Rin yang masih di dalam lubang itu, teringat masa kecilnya saat ia juga berada di dalam lubang yang besar.


Bersambung.............

1 comment: