Saturday, October 27, 2018

Ruby Ring Ep 91 Part 2

Sebelumnya...


Geum Hee membawakan buah-buahan untuk nenek, Se Ra dan Nyonya Park.

Nenek tengah sibuk merajut dan Se Ra membantu ibunya membersihkan tanaman yang biasa diurus Tuan Bae.

"Mereka layu. Dia sangat menyayangi tanaman ini. Aku akan berusaha yang terbaik mengurus mereka." ucap Nyonya Park.

"Mereka bilang, tanaman juga punya perasaan. Mungkin tanaman ini merasa kehilangan ayah." jawab Se Ra.

"Tanaman-tanaman itu lebih berduka daripada menantunya." ucap nenek.

"Apa maksud ibu?" tanya Nyonya Park.


"Aku tidak seharusnya mengatakan ini tapi saat aku melihat wajah Roo Bi belakangan ini, aku merasa takut. Wajahnya membuatku menggigil. Dan aku juga merasakan, dia harus disalahkan atas kematian Changgeun. Aku terus mengatakan pada diriku bahwa itu tidak benar tapi pikiran seperti ini tidak mau pergi dariku." jawab nenek.

"Mungkin itu karena ibu stres." ucap Nyonya Park.

"Sejujurnya, aku juga merasakan hal yang sama. Karena kita sedang membicarakannya, lebih baik aku mengatakannya. Roo Bi bersikap aneh. Di hari pemakaman, dia tertawa dan menangis seperti orang gila." jawab Geum Hee.


Tiba-tiba, Roo Na datang. Ia keluar dari dapur dan langsung meneriaki Geum Hee.

"Roo Bi-ya, tidak peduli seberapa marahnya dirimu, kau tidak boleh berteriak seperti itu di depan nenek. Kenapa kau terus menggangguku? Jujur saja, kau lebih gila daripada aku!" teriak Roo Na.

"Dimana sopan santumu!" tegur nenek.

"Halmeoni, kau lah yang paling kasar. Aku tidak melakukan kesalahan. Itu kesalahan ahjumma ini." jawab Roo Na.


"Ulke!" tegur Se Ra.

Mendengar teguran Se Ra, Roo Na pun tersadar dan meminta maaf. Ia beralasan, dirinya kehilangan kendali jika mendengar seseorang bicara buruk tentangnya.

Roo Na lalu naik ke atas.

Tak lama kemudian, Gyeong Min pulang dan langsung naik ke lantai atas.


Di kamarnya, Roo Na duduk menghadap cermin.

"Gila? Aku? Katakan apapun yang kau suka. Karena aku Jeong Roo Bi. Jeong Roo Bi. Aku lulusan universitas ternama, istri pewaris JM Group, dan aku akan masuk dunia politik. Aku Jeong Roo Bi." gumamnya.


Ponsel Roo Na lalu berdering. Telepon dari sang ibu.

Belum sempat menjawab, Gyeong Min datang dan mengunci pintu kamar mereka.


Sementara itu, Gilja dan Chorim cemas karena Roo Na tidak menjawab telepon mereka.


Gyeong Min menatap tajam Roo Na. Ditatap seperti itu, membuat Roo Na takut.

Gyeong Min pun meminta Roo Na menjawab pertanyaannya. Ia bersumpah, akan membuat Roo Na membayar mahal jika Roo Na berani berbohong lagi padanya.

"Siapa namamu?" tanya Gyeong Min.

"Gyeong Min-ssi."

"Siapa namamu?"

"Jeong Roo Bi."

"Jeong Roo Bi? Aku tanya sekali lagi. Siapa namamu?"


"Jeong Roo Bi. Kau tidak tahu? Ada apa?"

"Jeong Roo Bi? Jeong Roo Bi? Jeong Roo Bi!"

Gyeong Min membanting kosmetik Roo Na yang ada di meja. Sontak Roo Na kaget dan ketakutan.

"Kau Jeong Roo Bi?"

"Kenapa kau seperti ini? Ada apa?"


Geum Hee yang mendengar ribut-ribut dari bawah pun bergegas ke atas.


"Aku tanya sekali lagi. Siapa namamu?"

"Aku sudah bilang. Ada apa? Aku Jeong Roo Bi. Jeong Roo Bi."

"Jeong Roo Bi. Kau?"

"Gyeong Min-ssi, hentikan. Aku takut."

"Jika kau memang Jeong Roo Bi, kau pasti bisa menjawab pertanyaan ku yang ini. Saat aku melamarmu dan menyematkan cincin ruby di jarimu, aku menyuruhmu berjanji. Apa janjimu padaku?"

Roo Na pun terdiam. Ia tidak bisa menjawab Gyeong Min.

"Kau tidak bisa menjawabnya? Itu karena kau bukan Roo Bi. Kau pikir aku tidak akan pernah menemukannya, Jeong Roo Na?"


"Aniya, apa yang kau katakan? Aku Jeong Roo Bi. Orang yang berdiri di depanmu ini adalah Jeong Roo Bi."

"Aku akan memberimu satu kesempatan. Apa janjimu padaku saat aku memakaikan cincin itu padamu. Katakan!"

"Saranghandago. Yeongwonhi saranghandago. Berhenti, Chagiya. Nan busowo."


"Tidak peduli apapun yang terjadi, aku tidak akan melepaskan cincin ini. Bahkan meski kita terpisah, meski kita mati. Cincin ini adalah simbol cinta abadi kami! Ini milik Roo Bi!"

"Ada apa Gyeong Min-ssi! Ini cincinku. Aku Jeong Roo Bi! Aku lupa, karena kecelakaan itu. Aku berjanji, aku tidak akan lupa lagi. Aku takut."

"Takut? Kau mencuri wajah kakakmu dan berpura-pura menjadi dirinya tanpa memikirkan kakakmu dan sekarang kau bilang, kau takut? Ayahku mati karenamu, kan? Katakan apa yang kau lakukan pada ayahku!"


Geum Hee yang menguping pertengkaran mereka pun gemetaran.

Dibawah, nenek, Nyonya Park dan Se Ra akhirnya mendengar suara pertengkaran itu.

Tak lama kemudian, Geum Hee pun datang dan memberitahu mereka apa yang terjadi di atas.

"Samonim, Roo Bi bukan Roo Bi. Gyeong Min mengatakan, Roo Bi bertanggung jawab atas kematian Changgeun."

Sontak, nenek kaget.


Roo Na terduduk di lantas sambil menangis.

Gyeong Min menuntut penjelasan Roo Na, kenapa Roo Na melakukan itu pada Roo Bi.

Tiba-tiba, Roo Na berhenti menangis. Ia menatap Gyeong Min dengan tatapan kosong.

"Bagaimana jika aku bukan Roo Bi? Kenapa kau berisik sekali? Ketidaktahuan adalah kebahagiaan. Siapa yang peduli jika aku Jeong Roo Bi atau bukan. Kau mencintaiku. Benar, wanita yang kau peluk dan kau cintai adalah Jeong Roo Na. Itu Jeong Roo Na, Bae Gyeong Min-ssi."

Gyeong Min syok mendengarnya.

"Kau menikmatinya juga. Jujurlah pada dirimu. Kau menikmatinya sampai kehilangan akal sehatmu."


Gyeong Min yang sudah tidak tahan lagi pun menampar Roo Na.

Tapi Roo Na, dia malah tertawa.


Se Ra, Nyonya Park, nenek dan Geum Hee langsung ke kamar Gyeong Min dan Roo Na.

Se Ra mengetuk pintu dan menyuruh Gyeong Min membuka pintu.


"Bae Gyeong Min tidak lebih baik. Kau menggunakan kekerasan untuk mengancam wanita. Kau bilang kau mencintainya lebih dari hidupmu. Kau bilang itu cinta? Kau bahkan tidak bisa mengenalinya."

"Kenapa kau melakukan ini?"

"Kenapa? Karena aku cemburu dan marah. Orang-orang sepertimu tidak akan pernah mengerti, sekeras apapun aku berusaha dan mencoba untuk bisa setara denganmu dan menjadi sukses. Itulah alasanku melakukannya. Aku ingin sukses. Aku ingin berada di atas. Kau tidak tahu betapa besarnya  hasratku untuk menjadi sukses.  Kau tahu seberapa kacaunya aku? Kau tidak akan pernah tahu. Karena kau terlahir dengan sendok emas di mulutmu. Tidak ada yang tidak bisa kau dapatkan. Kau bodoh. Kau tidak mengenali cintamu sendiri."


Kesal, Gyeong Min pun berteriak-teriak sambil menghentikkan kursi ke lantai.

Roo Na lalu memeluk Gyeong Min dan meminta Gyeong Min tidak meninggalkannya.

Gyeong Min mendorong Roo Na.


Setelah itu, Gyeong Min beranjak keluar. Se Ra pun langsung menuntut penjelasan.

Mendengar Roo Na mencuri tempat Roo Bi, nenek syok. Untung Nyonya Park langsung memeganginya.

Gyeong Min yang masih syok itu pun langsung pergi.


Roo Na mengejar Gyeong Min. Ia memeluk Gyeong Min dan meminta Gyeong Min tidak meninggalkannya.

Gyeong Min mendorong Roo Na, hingga Roo Na jatuh ke lantai. Lalu, Gyeong Min beranjak pergi.

Bersambung ke part 3.............

No comments:

Post a Comment