Friday, November 30, 2018

Ice Adonis Ep 4 Part 1

Sebelumnya...


Lanjut gaes.... Di episode ini, Yeon Hwa tahu siapa Yoon Jae...

Calon karyawan J segera menyebar mencari seseorang dengan riasan terbaik.

Yeon Hwa langsung mengedarkan pandangannya mencari sosok dengan riasan terbaik.

Kang Wook yang tidak mengerti, meminta penjelasan Yeon Hwa soal maksud Yoon Hee.

"Carilah seseorang dengan riasan terbaik. Setelah itu, ambil fotonya dengan ponselmu dan kirimkan via MMS. Kau memiliki nomornya, kan?"

Kang Wook pun langsung merogoh sakunya dan mengeluarkan gumpalan kertas berserta dengan beberapa bungkus permen.

Yeon Hwa mengambil gumpalan kertas itu, lalu membukanya dan memberitahu Kang Wook itulah nomor J.


Yeon Hwa kesulitan mencari modelnya sementara teman-teman seperjuangannya sudah menemukan seseorang dengan riasan terbaik.

Disaat Yeon Hwa tengah mengedarkan pandangannya mencari modelnya, pandangannya pun tiba-tiba tertuju pada seorang ajumma yang duduk di pinggir jalan menunggui jualannya dan sedang merias diri.


Sekarang, Yeon Hwa sudah berada di dalam sebuah ruangan bersama para pewawancara.

Yoon Hee meminta penjelasan Yeon Hwa, kenapa Yeon Hwa memilih ajumma itu sebagai seseorang dengan riasan terbaik.

"Pada awalnya, aku juga berusaha mengambil foto beberapa orang dengan riasan terbaik. Tapi semua orang mengatakan, mereka tidak jago merias kemudian pergi dengan terburu-buru sesudahnya. Tapi menurut pendapatku, riasan mereka tidak buruk. Tetapi ajummoni di kios pinggir jalan ini merasa puas meski hanya memakai warna lipstik yang sangat kuno. Hal yang ajaib adalah aku benar-benar merasa bahwa ajummoni yang merasa puas ini sangat cantik. Jadi aku berpikir, kenapa kita memakai make up? Untuk siapa kita memakai make up?"

"Lalu?" tanya Yoon Hee.


"Kita tidak memakai make up untuk orang lain tapi untuk kepuasan diri. Aku adalah salah satu orang yang memakai make up untuk diriku sendiri agar terlihat cantik. Jika aku diterima bekerja di J, aku tidak akan membuat kosmetik yang tidak membuat siapa pun bahagia. Sebagai gantinya, aku akan mencoba mengembangkan kosmetik seperti lipstik yang sederhana yang bisa membawa kebahagiaan dan kepuasan bagi semua orang." jawab Yeon Hwa.

"Jika kau diterima bekerja, akankah kau berhenti bekerja karena masalah keluarga?" tanya Yoon Hee yang sontak membuat Yeon Hwa terdiam.

Yoon Hee lalu menatap tajam Yeon Hwa dan berkata bahwa perusahaannya tidak butuh staff yang tidak bertanggung jawab.

"Aku minta maaf, tapi bisakah aku menanyakan satu pertanyaan juga?" tanya Yeon Hwa.

"... Apa nilai sebenarnya dari J? Seharusnya mereka hanya bersinar di panggung?"

"Apa maksudmu?"


"Hari itu, setelah menemukan adikku yang menghilang, aku kembali ke belakang panggung sesuai janjiku bersama dengan adikku. Setelah pertunjukan, semua kosmetik bertebaran di lantai. Di atas panggung, mereka terlihat sangat cantik digunakan para model. Tapi di belakang panggung, mereka adalah sampah yang tidak seorang pun ingin membersihkannya. Saat aku sedang membersihkan sampah dan menyeka cermin, sebuah pikiran muncul di benakku. Jika aku diberi kesempatan bekerja di J, aku akan membuat kosmetik yang berharga itu menjadi sesuatu yang akan dihargai orang-orang. Aku pastikan akan melakukannya." jawab Yeon Hwa.

Yoon Hee pun menatap Yeon Hwa dengan pandangan berbeda kali ini.


Yeon Hwa sedang membersihkan rumahnya.

Ya, ia kembali ke rumah sewanya.

Saat tengah berbenah-benah, ajumma si pemilik rumah sewa datang dan menasehati Yeon Hwa untuk berdamai dengan putranya yang berusaha melecehkan Soo Ae.

"Dia tertangkap?" tanya Yeon Hwa kaget.

"Ketika hidup seseorang terbalik, bahkan air pun terjebak di antara gigi. Aigo, aku tidak beruntung soal suamiku dan sekarang, anakku membuatku sakit kepala. Tapi apa yang bisa kulakukan? Berdamailah dengannya."

Yeon Hwa menolaknya.

Mendengar itu, si ajumma pun kesal dan menyuruh Yeon Hwa pergi dari rumahnya.

"Ajummoni!" protes Yeon Hwa, tapi si ajumma tidak peduli dan bergegas pergi.


Yeon Hwa menghela nafas. Lantas kemudian, ponselnya berbunyi. Telepon dari J yang mengatakan dirinya memenuhi syarat bekerja di J. Yeon Hwa pun senang mendengarnya.


Yoo Ra berjalan menuju kantornya dengan wajah sumringah, tapi wajah sumringahnya itu langsung hilang saat ia melihat Yeon Hwa sedang berjalan menuju ke tempat yang sama dengannya.

Yoo Ra pun langsung menarik Yeon Hwa ke lobbi J.

Kang Wook yang melihat itu pun berkata, bahwa Yoo Ra nampak seperti akan memakan Yeon Hwa.


"Kau serius mau bekerja disini? Bagaimana bisa kau membuat semua orang gila? Bagaimana jika aku memberimu pekerjaan di tempat lain? Akan kuminta ayahku mencarimu pekerjaan di perusahaan yang lebih baik dari J."

"Tidak perlu. Aku bisa sampai tahap ini karena kemampuanku sendiri. Hari ini adalah wawancara terakhir. Aku ingin bekerja disini setelah aku dinyatakan memenuhi syarat. Bergabung di J Cosmetic adalah mimpiku."

"Kenapa harus J diantara banyaknya perusahaan kosmetik? Jujur saja disini, kau juga tidak suka melihatku, kan?"

"Jika kau tidak nyaman, akan kurahasiakan hubungan kita."

"Aku tidak ingin kau disini! Di rumah, ada ibumu. Disini ada kau. Aku bisa mati lemas!"


Sekarang, Yoo Ra sudah berada di ruangannya. Ia mondar mandir dengan wajah resah memikirkan Yeon Hwa yang akan bekerja di J.

Tak lama kemudian, Tim HRD datang membawakan CV peserta yang lolos ke tahap akhir dan menyuruh Yoo Ra memberikannya pada Yoon Jae.


Yoo Ra memeriksanya. Saat melihat CV Yeon Hwa, Yoo Ra langsung merobeknya.

Yoon Jae tiba-tiba datang dan Yoo Ra langsung menyembunyikan CV Yeon Hwa yang telah dirobeknya ke dalam dompetnya.


Di ruangannya, Yoon Jae melihat CV peserta yang lolos. Tak menemukan CV Yeon Hwa, Yoon Jae pun mengira Yeon Hwa tidak lolos.


Mengira Yeon Hwa tak lolos, Yeon Jae pun mengirimkan pesan untuk menyemangati Yeon Hwa.

Yeon Hwa sendiri sedang menunggu di ruang tunggu bersama kandidat lain.

Ia tersenyum saat membaca SMS Yoon Jae.


Di ruangan interview, Yoon Hee memberitahu Yeon Jae bahwa ada satu pelamar lagi yang akan mereka interview.


Tak lama kemudian, Yoo Ra membukakan pintu ruangan dengan wajah menahan kesal dan mempersilahkan Yeon Hwa masuk.

Disinilah Yeon Hwa tahu kekasihnya adalah Presdir J Cosmetic. Yeon Hwa sontak kaget, begitu pun dengan Yoon Jae.

Yeon Hwa pun teringat Yoon Jae dulu pernah menanyakan padanya bagaimana kalau ia ternyata Presdir J.

Mata Yeon Hwa seketika berkaca-kaca menatap Yoon Jae.

"Seol Yeon Hwa-ssi, kau baik-baik saja?" tanya Yoon Hee yang langsung menyadarkan Yeon Hwa.


Yeon Hwa pun meremas tangannya untuk menenangkan diri dan Yoon Jae melihat itu.

"Kau ingin berdoa sebelum interview nya kita mulai?" tanya Yoon Jae.

"Tidak perlu." jawab Yeon Hwa.

"Kalau begitu, interview nya akan segera kita mulai." ucap Yoon Jae.

Yeon Hwa menatapnya canggung.


Diluar, Yoo Ra menatap Yeon Hwa dengan cemas. Ia takut Yeon Hwa lolos.


Selesai interview, Yoon Jae menemui Yeon Hwa di kafe. Begitu duduk, Yoon Jae memegang tangan Yeon Hwa dan mencoba menenangkan Yeon Hwa. Tapi Yeon Hwa langsung menarik tangannya, membuat Yoon Jae terkejut.

"Sunbae, nuguyeyo?"

Yoon Jae pun meminta maaf dan menjelaskan alasannya membohongi Yeon Hwa. Yoon Jae mengatakan, karena ia menyukai Yeon Hwa yang apa adanya.

"Kenapa kau menginjak harga diriku seperti ini? Ibuku yang sudah menikah lagi tidak peduli padaku. Aku mengurus Soo Ae yang tidak diinginkan siapa pun. Lalu aku menemukan seorang pria yang latar belakangnya sama denganku, yang mengatasi kesulitan dengan cinta dan hidup bersama."

Yeon Hwa juga mengaku, saat ia tahu siapa Yoon Jae sebenarnya, ia merasa malu dan rendah.

Yoon Jae tidak mengerti kenapa Yeon Hwa harus merasa rendah.

"Aku selalu mencari uang dengan cara yang lurus. Aku tahu situasiku. Aku akan mencoba melupakanmu jadi aku tidak akan terluka lagi." jawab Yeon Hwa, lalu beranjak pergi.


Yoon Jae menyusul Yeon Hwa.

"Kenapa kau tidak percaya pada dirimu?" tanya Yoon Jae.

"Sunbae, kenapa kau tidak percaya padaku? Kau takut aku mengganggumu saat aku tahu kau anak seorang pimpinan? Kau pikir, aku akan memorotimu? Itulah kenapa kau berpura-pura miskin?"

"Bukan seperti itu. Sejak awal, aku tidak pernah ingin menceritakan latar belakangku pada siapa pun. Benar. Aku merahasiakan itu demi diriku, untuk kenyamananku. Saat aku bertemu denganmu di sekolah, kita berbagi 1000 won kimbap dan ramen, belajar bersama, aku berbagi pikiran yang tulus denganmu. Bagiku, mereka terlalu berharga jadi aku tidak ingin menghancurkannya. Aku takut kita putus, takut kita berakhir."

"Kau seharusnya bilang padaku!"

"Kau menyukai anak sulung dari keluarga miskin. Apalagi yang bisa kukatakan? Kau menyukaiku karena aku miskin."

Yeon Hwa menangis. Yoon Jae pun memeluk Yeon Hwa dan meminta maaf.


Yoon Jae kemudian melepas peluknya dan menatap Yeon Hwa.

"Jangan ragu pada dirimu. Jangan ragu pada cintaku." pintanya.

"Aku ingin menjadi Cinderella juga. Aku juga ingin pamer di depan orang lain. Kebahagiaanku sampai aku merasa seperti ingin menari."

"Kenapa kau tidak membiarkanku mencintaimu? Apa yang kau takutkan?"

"Berikan waktu untuk kita. Itu akan lebih baik untuk kita."

Yeon Hwa lalu beranjak pergi.


Yeon Hwa berjalan menyusuri jalanan dengan wajah kecewa.

Yoon Jae hanya bisa duduk terdiam memikirkan Yeon Hwa.


Malam harinya, Yoon Jae berdiri di depan rumah Yeon Hwa. Menunggu Yeon Hwa.

Sementara Yeon Hwa menangis di dalam.


Yoon Jae lantas menghubungi Yeon Hwa dan meminta Yeon Hwa keluar.

Tapi Yeon Hwa tidak mau dan menyuruh Yoon Jae pulang.

"Kau tidak pernah marah seperti ini sebelumnya. Aku benar-benar tidak tahu. Apa yang harus kulakukan untuk merubah pikiranmu? Katakan padaku, akan kulakukan apapun."

"Mianhaeyo, kututup teleponnya."


Yeon Hwa lantas menatap fotonya bersama Yoon Jae. Ia terus menangis.

Dan Yoon Jae terus menunggu Yeon Hwa di depan rumah.


Yoon Jae menunggu di depan rumah Yeon Hwa sampai pagi.

Dua orang, ahjussi dan ajumma datang untuk melihat-lihat rumah Yeon Hwa.

Sontak, Yoon Jae terkejut mendengar Yeon Hwa akan pindah. Ia pun langsung beranjak pergi.

Bersambung ke part 2...............

No comments:

Post a Comment