Monday, December 16, 2019

Selection : The War Between Women Ep 1 Part 1

Nulis sageuk lagi.... Terakhir sageuk yg saya tulis sih Haechi..... Semoga kalian suka ya sama tulisan sy... Happy reading gaes...


Di jalan perkampungan, terlihat iring-iringan rombongan Raja. Para penduduk langsung menyingkir, memberikan jalan dan bersujud. Raja yang berada di tandunya, paling depan, tak henti-hentinya menatap ke belakang, melihat tandu permaisurinya sembari tersenyum.


Melihat itu, Eunuch Hwang menegur Raja.

"Yang Mulia, ini adalah parade di mana anda membawa Permaisuri Ratu ke istana untuk pertama kalinya. Harap berperilaku dengan benar." pinta Eunuch Hwang.


Tapi Raja tidak mendengarkan dan terus saja menatap ke belakang.

"Yang Mulia! Yang Mulia!" tegur Eunuch Hwang lagi.

"Astaga, kau menjadi hama, seperti kakak ipar saja. Bahkan Kasim Besar tidak melakukan apa pun. Kenapa Kau terus mengeluh? Apakah kau cemburu?" jawab Raja.

"Kumohon duduk yang tegak. Lagi pula, Kasim Besar tidak banyak bicara, tapi dia sudah batuk berulang kali sejak tadi. Apakah Anda tidak memperhatikan sama sekali?" ucap Eunuch Hwang melirik Kasim Besar yang berdiri di depannya.

"Baiklah, Aku tahu. Aku akan menjaga martabatku dan tidak akan berbalik apa pun yang terjadi." jawab Raja.


Tiba2, sekelompok orang tidak dikenal berpakaian ninja, muncul. Mereka bersembunyi di atap diam2, lalu mengarahkan senjata pada rombongan Raja.


Tembakan meletus. Para penduduk sontak ketakutan.

Raja kaget.

Eunuch teriak, lindungi Yang Mulia Raja dan Yang Mulia Ratu!

Orang2 misterius itu terus menembaki rombongan Raja.


Raja menatap cemas ke tandu Ratu.

Tiba2, tembakan itu mengenai Ratu. Darah langsung memercik ke tirai tandu Ratu.

Raja terkejut melihat Ratunya tertembak.

Raja : Andwae!


Giliran pengawal khusus Raja yang tertembak.

Berikutnya, tandu Raja terkena tembakan, sehingga Raja terjatuh ke tanah.


Para penduduk langsung berlarian menyelamatkan diri. Begitu juga dgn para pelayan Raja dan Ratu.

Eunuch Hwang menatap Raja.

"Yang Mulia, anda baik-baik saja?"


Raja tidak menjawab dan terus menatap ke tandu Ratu.

Raja : Eun Ki-ya...

Raja berdiri dan berusaha berjalan ke tandu Ratu.

Melihat itu, Eunuch Hwang yang juga terluka, langsung mencegah Raja tapi gagal. Pengawal khusus Raja yang tertembak di lengan tadi, juga berusaha menyusul Raja tapi ia tidak sanggup berdiri karena lukanya.


Raja terus berjalan ke arah tandu Eun Ki. Yang ia pikirkan sekarang hanyalah Eun Ki nya.

Tiba2, seorang penembak menghadangnya. Si penembak memiliki bekas luka di dekat matanya. Raja terhenyak.

Si penembak lantas melepaskan pelurunya. Dan peluru itu mengenai kepala Raja.


Raja terjatuh.

Sambil menahan sakit, Raja memanggil nama Eun Ki dan menggapaikan tangannya ke tandu Eun Ki.


Di halaman istana, Eun Bo mengangkat tangannya tinggi. Seekor merpati datang dan hinggap di tangan Eun Bo. Eun Bo lalu mengambil surat yang terikat di kaki si merpati dan membacanya.

[Geupyong: masalah mendesak]


Lalu seseorang datang. Eun Bo pun langsung menerbangkan merpatinya.

Beberapa wanita yang berpakaian sama dengannya berlarian menuju istana, salah satunya Yeo Wul. Yeo Wul melihat Eun Bo.

Yeo Wul : Apa yang kau lakukan disana? Nyonya Istana ingin melihat kita.


Para pengawal berlarian ke istana.

Sementara Eun Bo, berjalan keluar dari istana dengan langkah cepat.


Eun Bo lantas masuk ke sebuah rumah. Di dalam, seorang pria bernama Wal duduk sambil mengangkat kaki ke atas meja. Si Wal ini lah yang mengirimkan surat tadi kepada Eun Bo melalui merpati.

Eun Bo menatap Wal kesal.

Eun Bo : Raja meninggal. Para prajurit ada di mana-mana, di istana dan kota empat gerbang.Apa artinya itu menurutmu?

Wal : Emang Apa artinya?

Eun Bo : Itu berarti aku hampir mati dalam perjalanan ke sini karenamu!


Eun Bo lantas duduk.

Eun Bo : Mulai besok malam, aku akan sangat sibuk merawat tubuh almarhum Raja dan Ratu. Dan apa artinya itu? Itu berarti hal ini akan menjadi sangat penting.

Wal : Ada senjata.

Eun Bo : Apa maksudmu?

Wal : Parade ini diikuti oleh puluhan orang termasuk para penjaga kerajaan dan mereka terbunuh seketika. Kunci korek api harus diisi dengan bubuk mesiu dan dinyalakan. Apakah itu mungkin?

Eun Bo : Mungkin itu bukan korek api.

Wal : Benar. Jika itu masalahnya, menurutmu dari mana mereka mendapatkan senjata yang bukan korek api?

Eun Bo : Mungkin dari Amerika melalui Dinasti Qing ...

Tiba2 saja, Eun Bo menyadari sesuatu. Ia kaget dan tidak percaya.

Eun Bo : Mungkinkah Tuan Wang?


Wal : Benar. Informasi yang kau jual tiga bulan lalu. Itu pedagang senjata.

Eun Bo : Tidak, aku ... aku tidak tahu dia akan membunuh Raja dengan senjata itu. Apakah itu benar? Apakah mereka benar-benar membunuhnya dengan Tuan Wang ...

Wal : Hei, diam. Apa yang sudah kau dengarkan? Ketika mereka mencari tahu seluruh cerita, bisnis informan ini tidak akan ada lagi. Aku telah membangun reputasi sebagai informan terbaik di kota Hanyang. Dan karena kau, aku akan kehilangan para sarjana, bangsawan, pedagang, dan kelas menengah. Aku akan kehilangan semua pelanggan tetapku yang tak terhitung jumlahnya ... karenamu. Apa yang akan kau lakukan? Apa yang akan kau lakukan?

Eun Bo stress.


Wal menggebrak meja. Eun Bo kaget.

Wal : Itu sebabnya aku katakan ketika kau melakukan transaksi, kau harus ekstra hati-hati! Bukankah aku selalu mengatakan itu padamu? Hei! Apakah telingamu tersumbat? Tidak bisakah kau mendengar apa yang aku katakan? Apakah kau tidak mengerti ...

Eun Bong : Diam! Kau ribut sekali!

Wal : Apakah namaku Wal karena aku menggonggong seperti anjing?


Eun Bo berdiri dan membekap mulut Wal.

Wal protes. Wal lalu memukul tangan Eun Bo. Eun Bo pun kembali duduk.


Wal : Aku mengerti. Kalau Begitu... siapa dia? Siapakah orang gila yang melakukan bisnis denganmu?

Eun Bo : Aku tidak tahu karena itu aturannya. Tapi itu terjadi pada hari Chinyoung. [Chinyoung: Upacara di mana Raja membawa Ratu ke istana] Mungkin seseorang yang membenci konstitusi baru.

Wal :  Mungkinkah... keluarga yang tidak memilih Ratu?

Eun Bo terkejut, pemilihan ratu?

Wal pun menjelaskan.


Wal : Keponakan perdana menteri keluarga Kim Ahndong.

Tuan Kim di kamarnya, menoleh ke belakang, menatap Jo Young Ji yang berdiri sambil memegang baki berisi pakaian.

Tuan Kim : Kau pasti bahagia. Karena kau tidak membuat pilihan, kau harus menyelamatkan hidupmu.

Tuan Kim melemparkan hanbok ke Young Ji.


Sekarang, Young Ji sudah mengganti hanboknya dan berlari histeris keluar dari rumah Tuan Kim.

Young Ji : Aku perlu melihatnya secara langsung. Bagaimana mungkin Yang Mulia ...

Pelayan Young Ji mengejar Young Ji.

Young Ji terjatuh di tanah.

Young Ji menangis.

Young Ji : Yang Mulia! Tidak mungkin... Yang Mulia ...

Seorang pria datang, menatap Young Ji dari luar.


Wal : Anak perempuan dari menteri negara bagian kiri keluarga Jo Pungyang. Tak satu pun dari mereka membuat pilihan.

Eun Bo : Tetapi mereka akan berusaha untuk menjadi Ratu berikutnya jika dia menikah lagi. Apakah mereka benar-benar harus membunuh Raja?

Wal : Kepala menteri negara dari keluarga Ratu yang cukup kuat untuk membuat burung jatuh dari langit. Bahkan anak-anak berusia tiga tahun tahu betapa bangganya dan dia bisa sembrono. Dia mungkin baru saja membunuh mereka. Mereka tidak hanya memanggilnya S.B.K.  tanpa alasan.

Eun Bo : S.B.K.?

Wal : Sederhana. Bodoh. Kasar.

Eun Bo : Bagaimana dengan menteri negara kiri? Menteri negara kiri bisa menjadi dalang di balik pembunuhan itu. Mereka mengatakan menteri negara kiri sama liciknya dengan rubah berusia 100 tahun. Siapa yang tahu apa yang dia pikirkan?

Wal : Tidak peduli dari sisi mana, itu pasti salah satunya. Keduanya pasti menyadari bahwa Raja muda tidak begitu mudah selama proses seleksi.


Eun Bo : Mereka memutuskan untuk menggantikan Raja dan memulai pemerintahan baru.

Wal : Hei, mengapa kau mengubah topik pembicaraan? Aku bertanya kepadamu apa yang akan kau lakukan.

Eun Bo tidak menjawab.


Tabib berhasil mengeluarkan peluru dari kepala Raja.

Dibalik tirai, ibu dan nenek Raja tampak menunggui Raja.


Tabib lalu keluar, menemui Wangdaebi.

Tabib : Anda dapat melihat wajah bersih Yang Mulia untuk terakhir kalinya.

Wangdaebi meminta peluru yang menewaskan putranya.

Wangdaebi : Berikan padaku. Itu satu-satunya bukti yang menguatkan. Aku perlu memegangnya sendiri.


Tabib memberikan saputangan yang berisi peluru pada Wangdaebi

Tabib kemudian pergi. Wangdaebi menggenggam kuat peluru dibalik saputangan itu.


Wangdaebi lalu memanggil cenayang yang berdiri di belakangnya sejak tadi.

Wangdaebi : Itu hal-hal kecil yang malang.  Tolong bantu mereka naik ke surga sehingga mereka memiliki jalan yang mudah menuju keabadian.

Cenayang : Malam ini, aku berencana menggunakan cenayang perempuan terakhir untuk menggabungkan semangat yin dan yang mereka.

Kepala Pelayan masuk, memberitahu Wangdaebi bahwa Menteri Negara Kiri, Jo Heung Gyeon dan Inspektur Jenderal, Baek Ja Yong ingin bertemu.


Wangdaebi pergi menemui Tuan Jo da Tuan Baek.

Tuan Jo : Karena Raja tidak memiliki putra mahkota, tidakkah anda seharusnya menunjuk Raja baru di antara anggota keluarga?

Wangdaebi : Apakah Kalian punya rekomendasi?

Tuan Jo : Lee Jae Hwa, Cucu Pangeran Agung Sang Hae yang tinggal di Jaemulpo.

Wangdaebi : Dia tidak cocok untuk menjadi Raja.

Tuan Jo : Jika demikian, ada Pangeran Jeon Ryang, Yang Mulia.

Tuan Baek : Pangeran Jeon Ryang hampir berusia 40 tahun. Dia sudah cukup tua untuk mengetahui situasi di dalam dan di luar istana.

Tuan Jo : Cucu Pangeran Agung Sang Hae, maka anda akan menjadi Wali Pendamping Yang Mulia sebagai ibunya, itu tidak akan menjadi masalah sama sekali.

Tuan Baek : Aku memiliki pendapat yang sama dengan pendapatnya. Dia mungkin tidak cukup bijak, tapi aku dengar dia baik. Tidak akan merepotkan jika anda membantunya.


Wangdaebi heran Tuan Baek sependapat dgn Tuan Jo kali ini.

Tuan Jo : Mungkin hal ini berarti adalah keputusan yang tepat. Jika anda memberi aku perintah, aku akan membawanya ke sini sendiri.

Wangdaebi : Maksudmu, kau akan melakukannya sendiri?

Tuan Jo mengangguk.

Wangdaebi : Lakukan saja.


Di kediamannya, Man Chan  berkumpul dgn antek2nya.

"Aku tidak percaya Raja baru itu adalah pedagang gelandangan. Dia pada dasarnya sama bodohnya dengan tunawisma." ucap Hyung Chan.

"Apakah dia bisa menguasai Seribu karakter China? Anda seharusnya berada di sana untuk menyuarakan pendapat anda. Kenapa anda hanya duduk dan menyaksikan?" ucap pria yang duduk disamping Hyung Chan.

"Aku sudah tahu siapa kandidatnya. Itu akan menjadi kesepakatan yang sama, tidak peduli siapa yang menjadi Raja. Akan menjadi kekacauan yang sama tidak peduli apa pun itu. Mengapa Aku harus repot-repot melangkah? " jawab Tuan Kim sembari menyalakan pipa cerutunya.


"Tapi Hyungnim, orang yang seharusnya menjadi raja baru adalah..."

Man Chan memukulkan ujung pipanya ke asbak. Hyung Chan langsung diam.

Man Chan : Kau tidak tahu apa yang kau bicarakan. Latih saja dia agar bisa menjadi baik. Mudah mengendalikannya dengan tanganku sendiri. Almarhum Raja terlalu polos dan sombong. Jo Heung Gyeon itu datang dengan ide bagus.


"Pokoknya, keluarga Kim hampir mengalami kesulitan melalui seleksi ini juga." ucap pria yang duduk di depan Hyung Chan.

"Kita tidak bisa membiarkan seorang gadis selatan menjadi Ratu." jawab Man Chan.


" Tentu saja tidak. Juga, kasih sayang mendiang Raja terhadapnya begitu menjengkelkan. Jika kita biarkan saja, dan para bangsawan selatan akan berkolusi juga. Pikirkan tentang apa yang terjadi terakhir kali. Lembaga negara yang menyelamatkan pengemis muncul. Pasti pengaruh orang-orang Selatan itu." ucap Hyung Chan.

"Kupikir kita hanya perlu melakukannya seperti yang diinginkan si salamander tua, Jo Heung Gyeon." jawab pria disamping Hyung Chan.

"Ngomong-ngomong, menurutmu siapa yang membunuh Raja?" tanya Hyung Chan ke Man Chan.


"Mungkin...." Hyung Chan menatap pria disampingnya.

"Apa? Bukan aku!" bantah pria disamping Hyung Chan.

Pria disamping Hyung Chan kesal. Ia lalu kembali menatap Hyung Chan.

"Sepertinya kau bersalah tentang sesuatu, Paman." ucap pria itu.

"Kau gila yah?" sewot Hyung Chan.

"Yang pasti itu bukan aku!" jawab pria disamping Hyung Chan.


"Apa yang akan kalian lakukan jika kalian menemukannya? Musuh keduanya ada di mana-mana dan di mana pun pada saat yang sama." ucap Man Chan.

"Tapi penembak itu rupanya ditangkap. Mereka mungkin mencari tahu siapa yang ada di belakangnya." jawab pria di depan Hyung Chan.

Man Chan mengangguk2, lalu menghisap cerutunya.


Petugas Uigeumbu menyiksa si penembak di hadapan Hakim Min Young Wan. Si penembak menjerit kesakitan saat petugas Uigeumbu meletakkan besi panas ke dadanya.

Hakim Min Young Wan lantas mendekati si penembak dan meminta anak buahnya berhenti sebentar.

Hakim Min : Katakan, untuk siapa kau bekerja?  Dia adalah pengkhianat yang berencana memicu bencana ini. Katakan siapa dia sekarang juga!

Si penembak tetap bungkam.

Hakim Min kesal.


Tiba2, Wangdaebi datang.

Hakim Min terkejut dan bergegas menghampiri Wangdaebi.

Wangdaebi menatap si penembak dengan tatapan marah.

Wangdaebi : Kau cukup berani. Jadi kau menggunakan tangan kotormu untuk membunuh Raja dan Ratu negara ini? Itu sepertinya tidak bisa dipercaya. Katakan padaku!

Si penembak masih bungkam. Wangdaebi lalu mencabut pedang petugas dan mengarahkannya ke leher si penembak.

Barulah si penembak bicara.

"Jembatan Supyo... ada desas-desus yang beredar di antara para pengemis.

"Apa?Jembatan Supyo?" tanya Wangdaebi.

"Jika kami belajar menembak, mereka memberi kami makanan sehari. Aku hampir mati kelaparan. Mereka mengatakan akan memastikan perutku selalu penuh. Itu saja. Aku mengatakan yang sebenarnya." jawab si penembak.


Wangdaebi lantas mengayunkan pedangnya ke lengan si penembak, lalu menjatuhkan pedangnya.

Wangdaebi : Bawa dia ke tabib kerajaan.

Hakim Min heran, apa?

"Aku tidak akan membiarkanmu mati. Ketika kau pulih dan berpikir dirimu selamat, aku akan memotongmu lagi dan lagi. Itu tidak akan pernah berakhir. Kau akan berpikir akan lebih baik jika anggota tubuhmu dirobek dan mati. Aku akan membuatmu berpikir begitu. Kau sebaiknya mengingatnya dengan cepat  jika ingin mati dengan mudah. Kau harus menemukan bukti apa pun itu. Aku akan memastikan untuk mencari tahu siapa di belakang-mu dan membakar mereka sampai mati." ucap Wangdaebi dengan tatapan tajam.


Wal membawa Eun Bo ke toko senjatanya Tuan Wang, pria yang disebut2 Eun Bo tadi.

Tuan Wang menunjukkan senjatanya pada mereka.

Eun Bo : Tuan Wang, apa kau ingat siapa yang membeli senjata ini?

Tuan Wang yang tidak mengerti bahasa Eun Bo, terdiam bingung.

Eun Bo menatap Wal.

Eun Bo : Terjemahkan.

Wal kesal Eun Bo menyuruh-nyuruhnya ini itu seenaknya. Tapi akhirnya ia tetap menerjemahkan pertanyaan Eun Bo tadi ke Bahasa China.

Tuan Wang : Tentu saja aku ingat! Dia meminta lima senjata yang paling cepat dan termudah untuk digunakan.


Wal kaget, lima dari itu semua?

Tuan Wang mengangguk.

Wal : Seperti apa tampangnya?

Eun Bo penasaran dgn jawaban Tuan Wang. Ia pun langsung meminta Wal menerjamahkan kata2 Tuan Wang. Tapi Wal cuek. Tuan Wang mengaku ingat.

Tuan Wang : Dia tinggi dan besar, tapi dia berpakaian seperti seorang sarjana. Jadi aku katakan, kalau dia tidak cocok memegang senjatanya.

Wal : Apa katamu? Pria jangkung dan besar!

Eun Bo kesal dan memukul Wal.

Eun Bo : Bagikan informasinya!

Wal : Dia bilang dia tinggi dan besar!


Eun Bo : Tinggi dan besar? Sepertinya begitu ketika dia mengunjungi Agensi Buyoung juga. Dari keluarga rendahan dan pelayan.

Tuan Wang lalu memberikan senjatanya ke Eun Bo. Eun Bo coba memakainya. 

Melihat itu, Tuan Wang teringat sesuatu. Tuan Wang pun mengatakan, bahwa pria itu terlihat seperti sudah biasa menggunakan senjata api.

"Dia bilang dia mahir menggunakan korek api, senjata api maksudnya." ucap Wal pada Eun Bo.


"Kalau begitu bisakah kau menemukan bukti kunci soal itu kalau dia membunuh raja dengan pistol ini?" tanya Eun Bo.

Wal pun kembali menjadi penerjemah Eun Bo.

Wal : Secara kebetulan, dapatkah kau menemukan bukti kunci bahwa dia membunuh raja dengan senjata ini?

Tuan Wang : Tentu saja. Aku bisa tahu dengan hanya melihat peluru. Aku satu-satunya orang yang bisa impor senjata ini ke Joseon. Hanya Tuan Wang yang bisa!

Wal menatap Eun Bo.

Wal :  Menurut dia, dia bisa tahu kalau dia menjual pistol itu dengan melihat pelurunya. Dia tampaknya agak terlalu percaya diri padaku.

Wal dan Eun Bo kemudian pergi.


Eun Bo berpikir, mencari peluru itu. Ia yakin bisa menemukan pelakunya jika menemukan peluru itu.

Wal :  Hei, apa yang kau bicarakan?

Eun Bo : Apakah kau tidak ingin tahu siapa yang membunuh Raja?

Wal : Tidak, tidak sama sekali.

Eun Bo : Bagaimana bisa? Kau akan memperoleh informasi penting. Dengan Pelaku yang membunuh raja Aku yakin itu akan sangat berguna ...


Wal : Tutup mulutmu! Apakah kau gila atau hilang akal? Aku memperingatkanmu untuk berhenti ikut campur. Orang rendahan seperti kita tidak mungkin menggunakan informasi seperti itu.

Eun Bo :  Aku akan menjualnya kepada Ibu Suri!

Wal : Apa?

Eun Bo berjalan pergi.

Wal : Hei, idiot!


Eun Bo berbalik dan menjulurkan lidahnya ke Wal.

Eun Bo : Aku bercanda.

Eun Bo kemudian pergi.

Wal : Kau mau kemana?

Eun Bo : Sudah hampir jam tujuh.

Bersambung ke part 2....

No comments:

Post a Comment