King Maker : The Change Of Destiny Ep 11 Part 3

Sebelumnya...


Paginya, Goo Cheol yang baru bangun dikejutkan dengan Pal Ryeong yang datang menyeret Man Seok. Pal Ryeong mendorong Man Seok, lalu memanggil semua orang. Pal Ryeong memberitahu semua orang bahwa Man Seok memata-matai mereka untuk Keluarga Kim. Man Seok menyangkal, pembohong!

Pal Ryeong : Bukankah kau diam-diam memeriksa barang Tuan?

Pal Ryeong bilang, Nyonya Paeng juga melihat Man Seok memeriksa barang Chun Joong.

Nyonya Paeng :  Aku tidak melihatnya langsung, tapi...


Pal Ryeong mencengkram Man Seok dan minta Man Seok mengaku.

Chun Joong  menatap Pal Ryeong, apa yang kau lakukan?

Pal Ryeong terus memaksa Man Seok mengaku.

Chun Joong : Berhenti!


Pal Ryeong : Apa maksudmu berhenti? Menjadi senaif itu membuat pria ini bisa menyelinap! Sudah kuduga dia mencurigakan.


Pal Ryeong kembali mencengkram Man Seok.

Saat itulah dia menemukan surat warisan itu.

Pal Ryeong mengambilnya, apa ini? Lihat ini!

Man Seok : Kembalikan!

Pal Ryeong membuka amplopnya.

Pal Ryeong : Lihat ini. Ayolah, apa yang kukatakan? Apa kau diberi hadiah?


Tapi saat tahu itu surat warisan untuk Chun Joong, Pal Ryeong kaget.


Man Seok mengambil surat warisan itu dan menjelaskan semuanya ke Chun Joong.

Man Seok : Saat aku tahu Chae In Gyu mengikutiku, aku segera menyembunyikan surat warisan ini. Akhirnya kudapatkan kembali tadi malam. Maaf, Tuan, seharusnya aku memberitahumu lebih awal. Tapi aku tidak mau In Gyu tahu, jadi, aku pindah diam-diam.


Man Seok berlutut dan memberikan surat itu pada Chun Joong.

Man Seok : Paman Kakekmu, Choi Hwan, menitipkan surat warisanmu padaku. Agar bisa mati dengan tenang, aku harus memberikannya kepadamu. Kupersembahkan warisan Keluarga Choi, Tuan!


Chun Joong mengambil surat itu dan membacanya.

Pal Ryeong juga membaca surat warisan salinannya.

Pal Ryeong :  Bunjaegi-myeongmun, warisan 1.200 majigi dan rumah. Tanah seluas 1.200 majigi? 1.200 majigi, sekitar 800.000 meter persegi. Yang lain ikut membaca. Semua kaget.


Chun Joong membeku. Ja Young menatap Chun Joong.

Ja Young : Tuan, kini kau kaya.

Pal Ryeong : Benarkah? Miliuner? Kita semua miliuner!

Semua senang.


Man Seok menatap sebal Pal Ryeong. Pal Ryeong minta maaf dan langsung mengembalian surat itu.

Nyonya Paeng menendang, dan menjewer Pal Ryeong.

Nyonya Paeng : Semua tindakanmu salah, Bodoh.


Setelah itu, Chun Joong bersama Man Seok melakukan ritual untuk menghormati leluhurnya.

Chun Joong : Aku akan menerima hadiah leluhurku dengan rasa hormat. Tolong maafkan keturunan yang tidak layak ini.


Hakim Lee kaget saat kakak-kakaknya bilang setuju memberikan posisi kosong Ha Jeon pada Jae Hwang. Mereka bilang itu keputusan semua orang.

Hakim Lee senang dan terus mengucapkan terima kasih.


Kedai Nyonya Paeng ramai lagi.

Goo Cheol minta Chun Joong meramal dua temannya.

Goo Cheol : Dua orang bodoh ini adalah teman-temanku dari kampung. Mereka sama sekali tidak belajar, juga tidak bekerja di kebun. Setiap hari disia-siakan dan orang tua mereka sangat khawatir.

"Tuan! Aku juga mengkhawatirkan masa depanku. Apa kami ditakdirkan dapat cukup uang untuk makan?"

"Tuan Choi, tolong beri tahu takdir kami. Tolong baca nasib kami."

Chun Joong tanya, apa yang mereka berdua lakukan.

"Kami bernyanyi."


Kedua orang itu mulai bernyanyi.

Goo Cheol sewot, diam!  Apa bernyanyi memberimu makan?

Chun Joong : Cukup bagus. Kalian berdua harus menjalani hidup dengan bernyanyi.

Goo Cheol :Tuan! Bagaimana kau bisa mengatakan hal sekejam itu?

Chun Joong : Ini tidak kejam! Mereka berdua berbakat menarik perhatian orang. Takdir seorang penghibur. Hidup sembari lakukan hal yang paling kalian nikmati, dan suatu hari kalian akan dapat imbalannya.


Kedua teman Goo Cheol senang.

"Reputasimu memang pantas untukmu."

Kedua teman Goo Cheol bernyanyi lagi. Semua terhibur dan ikut berjoget. Pal Ryeong datang dan ikut berjoget.

Pal Ryeong : Siapa mereka?

Goo Cheol : Teman-temanku dari kampung.

Pal Ryeong lalu menyerahkan surat dari Ibu Suri pada Chun Joong.

Pal Ryeong : Ibu Suri memerintahkanmu dan Tuan Heungseon-gun datang ke istana. Kenapa dia memanggil kita?


Hakim Lee masuk ke kamar Jae Hwang dan mendapati Jae Hwang sudah tidur.

Hakim Lee melihat selimut di kaki Jae Hwang terbuka.

Hakim Lee : Kakimu pasti kedinginan...

Hakim Lee memasukkan kaki Jae Hwang ke balik selimut.


Jae Hwang terbangun, ayah.

Hakim Lee : Kau sudah bangun. Ayah membangunkanmu.

Jae Hwang : Tidak, Ayah. Ayah mau tidur?

Hakim Lee : Ya. Jae Hwang-ya,  ayah punya pertanyaan untukmu. Di negeri yang jauh, pernah ada Raja muda yang seumuran denganmu. Namun ayahnya bukan raja, hanya seorang pria biasa.

Jae Hwang : Ayah sang raja bukan seorang raja?

Hakim Lee : Benar. Jadi, haruskah sang raja memperlakukan ayahnya sebagai bawahan atau tetap memperlakukannya seperti ayahnya sendiri meski dia raja?

Jae Hwang : Tapi dia tetap ayahnya... Bagaimana bisa seseorang memperlakukan ayah mereka sendiri seperti bawahan? Bahkan seorang raja harus menghormati ayahnya.

Hakim Lee :  Benar, Nak. Putra ayah Jae Hwang, kau putra yang baik.


Hakim Lee memegang kedua pipi Jae Hwang.

Hakim Lee : Ibu Suri telah memanggilmu ke istana.


Jae Hwang diam saja. Hakim Lee memeluk Jae Hwang.

Hakim Lee : Besok Jae Hwang-ah. Besok adalah harinya.


Besoknya, Hakim Lee datang ke istana bersama Jae Hwang dan Chun Joong.

Hakim Lee : Mendengar kesehatan anda sudah pulih, membawa kebahagiaan bagi kami, Ibu Suri.

Ibu Suri : Aku menerima kabar baik tidak terduga yang membantuku sembuh.



Bong Ryeon dan Chun Joong saling menatap.


"Apa yang terjadi? Kenapa dia memanggil Tuan Chun Joong dan aku?" batin Bong Ryeon.


Ibu Suri : Karena kita sudah berkumpul, ada yang ingin kutunjukkan. Dia akan menjadi aset besar untuk takhta di masa depan.

Hakim Lee : Siapa yang mau anda tunjukkan?

Ibu Suri menyuruh seseorang masuk.


Dua pria masuk. Ibu Suri langsung berdiri dan mendekati salah seorang pria.

Ibu Suri : Heungseon-gun, lihat anak ini. Bukankah dia tampak menjanjikan? Dia mengingatkanku pada Ha Jeon.

Hakim Lee tak mengerti, Dojeonggung? Apa maksudmu...

Ibu Suri : Dia mirip dengan Ha Jeon saat masih muda. Dia memiliki takdir yang sama dengan Ha Jeon, dan dia juga kerabat Raja. Dia Yeongun-gun Lee-min, putra mendiang Hoepyeong.

Hakim Lee : Hoepyeong dinyatakan mati muda tanpa anak... Siapa yang membawa anak ini dan mengeklaimnya sebagai putra Hoepyeong?

Ibu Suri : Tuan Lee Hang Ro membawa anak ini kepada kami. Seorang peramal terkenal seperti Tuan Choi juga menyatakan dia pantas menjadi raja.


Ibu Suri menyuruh pria satu lagi berbalik.

Dia Song Jin. Chun Joong kaget lihat Song Jin. Song Jin tersenyum tipis.

Ibu Suri : Pria ini adalah Song Jin, dia menemukan keturunan Hoepyeong, dan membaca takdir anak ini.

Song Jin : Suatu kehormatan bisa bertemu denganmu, Tuan Heungseon-gun.


Hakim Lee : Bagaimana anda bisa memercayai pria ini, Ibu Suri?

Ibu Suri : Dia di sini dengan restu Tuan Hang Ro! Tuan Hang Ro bukan Tuan biasa, apa lagi yang kau butuhkan? Anak ini membuatku takjub, seolah-olah Ha Jeon ku bangkit dari kematian. Aku akan menjadikan anak ini raja berikutnya menggantikan Ha Jeon!


Hakim Lee kaget luar biasa.


Bong Ryeon pun begitu.


Song Jin senang.


Chun Joong kaget.

Bersambung...

0 Comments:

Post a Comment