Kamis, 06 Oktober 2016

Fantastic Ep 10 Part 1

Sebelumnya...


Hae Sung dan Chang Suk yang sudah rapi dan mau pergi terkejut melihat So Hye menyiapkan sarapan pagi. Chang Suk pun langsung mengabadikan hal itu dengan kamera ponselnya. So Hye berkata, kalau ia membuat sup rumput laut dan makanan lainnya. Hae Sung pun ikut mengabadikannya dengan kameranya. So Hye menatap Chang Suk.

“Ini bukan apa2, tapi tolong nikmatilah.” Ucap So Hye pada Chang Suk.


Hae Sung dan Chang Suk pun buru2 mencicipi masakan So Hye. Hasilnya, Chang Suk memberikan jempolnya untuk So Hye. Hae Sung juga ikut memuji So Hye dengan mengatakan kalau So Hye jago memasak dan menulis. Chang Suk juga berkata, kalau masakan So Hye lebih baik daripada masakan chef mereka.


So Hye pun tersipu malu. Ia lantas mengaku bahwa dirinya sedang dalam tahap belajar. So Hye kemudian beranjak ke dapur untuk mengambil kue. Begitu So Hye pergi, Hae Sung dan Chang Suk langsung memuntahkan makanan itu. Hae Sung lalu menyuruh Chang Suk membuang makanan itu sebelum So Hye kembali.


Hahahahah…. Begitu So Hye kembali membawa kue, So Hye terkejut melihat sarapannya sudah ludes. Hae Sung pun mengaku kalau masakan So Hye sangat enak. So Hye lantas menyuruh Hae Sung mencicipi kuenya. Dengan wajah terpaksa, Hae Sung pun terpaksa mencicipi kue So Hye yang rasanya tidak karuan itu. Hae Sung yang tidak mau menderita sendiri pun memanggil Chang Suk dan memasukkan kue itu ke mulut Chang Suk.


“Jika memungkinkan, aku akan memasak setiap hari.” Ucap So Hye.

“Jangan!” larang Hae Sung yang membuat So Hye heran.


“Kau bisa lelah. Aku akan mencari chef. Kau tidak boleh mengerjakan apapun dan hanya perlu istirahat.” Ucap Hae Sung.

“Baiklah. Tapi aku akan membuatnya dari waktu ke waktu.” Jawab So Hye, bikin Hae Sung dan Chang Suk panik.



Untuk menghindari masakan So Hye, Hae Sung dan Chang Suk beralasan kalau mereka harus segera tiba di lokasi shooting. So Hye berkata akan menyimpan kue itu di kulkas jadi Hae Sung dan Chang Suk bisa memakannya kembali nanti. Hae Sung dan Chang Suk pura2 terharu untuk membuat So Hye senang.


Hae Sung dan Chang Suk sarapan di salah satu toko kue. Hae Sung bertanya, kapan chef mereka akan datang. Chang Suk bilang chef mereka akan datang minggu depan. Chang Suk kemudian berkata kalau mereka harus makan makanan Korea karena mulai hari ini Hae Sung akan melakoni adegan aksi.

“Kita di daerah ini, kita harus mengunjungi semua tempat yang pernah kita kunjungi.” Ucap Hae Sung.

Chang Suk pun menatap bingung Hae Sung.


“Kau tidak ingat tempat ini?  Saat itu, kita tidak punya cukup uang. Jadi kita hanya memesan satu makanan dan membaginya jadi dua.” Jawab Hae Sung.


Chang Suk pun langsung tersenyum lebar begitu mengingatnya. Chang Suk lantas mengajak Hae Sung menghabiskan semua makanan itu. Tak lama kemudian, seorang ahjumma datang menyapa mereka. Hae Sung pun terkejut melihat ahjumma itu. Ia tidak menyangka ahjumma itu masih bekerja di sana.


“Chang Suk, kau ingat? Dia bilang padaku kalau aku akan sibuk dalam waktu sebulan. Dan kemudian, aku bertemu So Hye dan aku mendapatkan peran dalam sebuah drama pendek.” Ucap Hae Sung.

“Itu benar, aku ingat.” Jawab Chang Suk sambil menatap ahjumma itu.

“Sudah lama sekali. Haruskah kita mencobanya lagi?” tanya ahjumma itu.


Si ahjumma itu ternyata seorang peramal. Ia menyuruh Hae Sung memilih satu kartu dan mulai meramal Hae Sung. Si peramal berkata, bahwa Hae Sung akhirnya jatuh cinta pada wanita yang dulu pernah dicintai Hae Sung dan Hae Sung akan melihat bagaimana cinta sejati itu.


Hae Sung dan Chang Suk pun langsung sumringah karena ucapan si peramal benar. Si peramal lantas menyuruh Hae Sung memilih dua kartu. Berdasarkan kartu pertama pilihan Hae Sung, si peramal bilang ada iblis di dekat Hae Sung. Chang Suk pun membenarkan hal itu. 




Si peramal menyuruh Hae Sung berhati2 karena iblis itu akan lebih ganas. Lalu, berdasarkan kartu ketiga si peramal bilang akan ada kematian. Si peramal mengambil satu kartu lagi dan berkata dalam waktu dekat seseorang yang dekat dengan Hae Sung akan mati. Hae Sung terkejut. Wajahnya pun langsung berubah cemas.


Setelah meninggalkan kafe, Chang Suk meminta Hae Sung melupakan ramalan tadi. Chang Suk bilang kalau si peramal tadi hanya mengatakan omong kosong. Hae Sung pun berubaha tidak peduli, namun kecemasan tetap terlihat di wajahnya. Hae Sung pun semakin cemas karena tidak bisa menghubungi So Hye. Hae Sung lantas menghubungi Joon Gi.

“Kau bicara dengan So Hye hari ini?” tanya Hae Sung.

“Tidak.” Jawab Joon Gi.


“Dia tidak menjawab teleponnya. Bisakah kau pergi mengeceknya?” pinta Hae Sung.

Joon Gi menolak dengan alasan sibuk. Hae Sung protes, “Apa maksudmu kau sibuk? Kau itu kan seorang direktur.”

“Lupakan itu. Aku ini direktur yang sibuk. Sudah dulu, ya.” ucap Joon Gi.

Ada yang aneh dengan Joon Gi. Wajah Joon Gi nampak begitu pucat. Ada apa dengan Joon Gi???


So Hye tiba2 merasa pusing. Tapi So Hye berusaha menahannya dan beranjak ke dapur. Ia kemudian membaca daftar di pintu kulkas, lalu mengeluarkan beberapa sayuran dari dalam kulkas. So Hye lalu melihat tangannya yang masih dipenuhi bercak kemerahan. Tak lama kemudian, ponsel So Hye berbunyi. So Hye menerima panggilan dari Joon Gi.


“Hae Sung bilang kau tidak bisa dihubungi jadi dia menyuruhku mengecek keadaanmu.” Ucap Joon Gi.

“Maafkan aku, tadi aku di kamar mandi. Kenapa dia selalu membuat kekacauan.” Jawab So Hye.

“Aku rasa dia mengira aku ini dokter pribadimu. Kau tahu kan aku direktur rumah sakit. Dia menyuruhku menjalankan tugasku.” Ucap Joon Gi.

Joon Gi lalu tertawa… So Hye pun meminta maaf atas nama Hae Sung.

“Tapi Joon Gi, bercak kemerahanku semakin memburuk.” Ucap So Hye.

“Taruh lebih banyak pelembab seperti yang kubilang padamu. Jangan lupa makan dengan baik.” Jawab Joon Gi.


“Aku tahu aku harus makan, tapi aku tidak bisa merasakan apapun. Bisakah aku membawakan sesuatu dan mengunjungimu di rumah kaca? Kupikir aku akan lebih baik jika makan dengan seseorang.” ucap So Hye.

“Sekarang aku sedang meeting. Aku akan sedikit lebih sibuk. Bagaimana kalau nanti siang?” jawab Joon Gi.

“Baiklah.” Ucap So Hye.


“Kau harus makan yang banyak dan merasa lebih baik saat datang ke sini. Haruskah aku memberimu tips bagaimana cara untuk menikmati makananmu? Untuk orang2 yang tidak bisa merasakan apapun seperti kita, ingatlah rasa makanan itu. Kita akan menikmati makanan dengan ingatan itu. Dan ada banyak acara memasak. Tontolah itu saat kau makan dan kau akan merasa lebih baik.” tanya Joon Gi.

“Itu tips yang sempurna. Baiklah, aku akan mengunjungimu siang ini.” jawab So Hye.


Benar saja!! Usai berbicara dengan So Hye, Joon Gi merasakan rasa sakit di dadanya. Joon Gi berusaha kuat menahan rasa sakit itu. Tak lama kemudian, Jamie datang. Ia marah karena Joon Gi tidak menghubunginya. Joon Gi yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit berkata kalau ia melarang Suster Song memberitahu Jamie.

“Aku tidak akan mati sekarang. Jangan cemas.” Ucap Joon Gi sembari tersenyum.

“Kau benar2 ingin bercanda? Lalu kenapa… kenapa kau terlalu keras pada dirimu sendiri? Haruskah aku memakai obat lain?”


“Aku masih bisa menahannya. Aku akan baik2 saja setelah tidur sebentar.”

“Periksa dirimu secepatnya.”

“Aku tahu kondisi kesehatanku lebih baik dari orang lain. Aku baik2 saja.”

“Kau tidak akan menyerah, kan?”

“Kenapa aku harus menyerah? Kau tidak tahu siapa aku? Sampai detik terakhir yang Tuhan berikan padaku, aku akan melakukan yang terbaik dan menikmati momen kesendirianku. Jangan cemas.”

“Baiklah, hubungi aku jika kau merasa tidak enakan.”

Jamie pun beranjak pergi setelah sebelumnya memeriksa infuse Joon Gi.


Hae Sung kembali ke ruang make up dan langsung mengecek ponselnya. Ia tersenyum lega mendapat banyak sekali SMS dari So Hye. Dalam pesannya, So Hye bilang ia tidak menjawab ponsel Hae Sung karena sedang mandi. So Hye juga menyemangati Hae Sung dan meminta Hae Sung tidak mengganggu Joon Gi lagi.


So Hye mencoba saran dari Joon Gi. Ia makan sambil menonton acara memasak di TV. Tak lama kemudian, Hae Sung menelponnya lewat video call. So Hye pun merasa sedikit risih karena Hae Sung suka menelponnya lewat video call. Gara2 si peramal nih, si Hae Sung jadi over gini…

“Princess ku, kau sedang istirahat?” tanya Hae Sung.

“Aku sedang makan. Bagaimana shootingmu? Kau melakukannya dengan baik? Kau akan di sana sepanjang malam. Kau baik2 saja?” jawab So Hye.


“Aku tidak baik2 saja.Aku pikir ada yang aneh dengan diriku.” ucap Hae Sung.

“Aneh? Aneh apanya?” tanya So Hye cemas.

“Lihat aku. Aku masih tampan, kan?” tanya Hae Sung.

“Apa kau benar2 harus seperti ini!” jawab So Hye kesal.


“Aku tahu kau menyukainya. Berikan aku ciuman.” Ucap Hae Sung.


So Hye pun menghela napas kesal, tapi biarpun kesal ia tetap memberikan ciuman untuk Hae Sung. Hae Sung langsung ketawa lebar dan berkata So Hye melakukannya dengan baik. Sebelum mengakhiri pembicaraan mereka, So Hye mengingatkan Hae Sung untuk tidak melakukan kesalahan.


Usai bicara dengan So Hye, Hae Sung dikejutkan dengan kemunculan Chang Suk yang tiba2 di belakangnya. Chang Suk berkata, kalau Hae Sung sudah membuatnya merinding. Chang Suk juga berkata kalau ia mungkin akan segera berubah menjadi ayam dan terbang jauh. Hae Sung pun tersenyum geli melihat Chang Suk yang menirukan gaya ayam.

“Bersiaplah, kita harus ke lokasi shooting selanjutnya.” Ucap Chang Suk.


Tapi Hae Sung malah memberinya jurus kamehameha… Hahaha…. Chang Suk pura2 terluka akibat serangan kamehameha Hae Sung. Hae Sung masih ingin memberi Chang Suk jurus kamehamehanya tapi Chang Suk menyuruhnya berhenti dan berkata kalau Hae Sung akan shooting adegan laga. Tapi tiba2, Chang Suk ngasih Hae Sung jurus yang sama. Hae Sung pura2 terluka. Hae Sung pun membalas Chang Suk dengan melakukan hal yang sama. Chang Suk pun kabur.


Sang Wook yang baru pulang dari kantornya, terkejut mendapati motor Seol di depan asramanya. Petugas yang biasa menjaga lingkungan asrama pun memberikan sebuah amplop berwarna pink pada Sang Wook. Sang Wook pun buru2 membuka amplop itu dan membaca isinya. Surat itu dari Seol…

“Brother Kim Sang Wook, terima kasih atas semuanya. Aku sangat berhutang padamu. Aku tidak yakin apakah ini cukup membayar hutangku. Ini hadiah dariku.”

Sang Wook langsung lemas membaca surat Seol itu…


Di gudang, Seol sedang mengobati lukanya. Seol tiba2 teringat kata2 Sang Wook waktu itu. Seol terdiam… ia lantas mengambil ponselnya. Sepertinya ia ingin menghubungi Sang Wook…


Mi Sun datang membawakan banyak makanan untuk So Hye. So Hye pun terheran2 karena Mi Sun membawakan begitu banyak makanan untuknya. Mi Sun beralasan, ia mau menjual makanan itu jadi itulah kenapa ia datang karena ingin membagi sedikit makanannnya untuk So Hye.

“Kau tidak menghabiskan semua simpananmu, kan?” tanya So Hye.

“Jangan cemas. Kami baik2 saja.” Jawab Mi Sun.


Tak lama kemudian, So Hye menerima panggilan dari Seol. Ooooh, jadi yang ditelpon Seol itu So Hye toh, bukan Sang Wook…

“Apa aku membangunkanmu? Apa aku menelponmu terlalu dini?” tanya Seol khawatir.

“Tidak, aku sedang sarapan.” Jawab So Hye.

“Benarkah? Kau baik2 saja, kan?” tanya Seol.

“Tentu saja. Kau juga baik2, kan?” tanya So Hye balik.


“Aku…. kabarku selalu sama. So Hye-ya, ada sesuatu yang mau kusampaikan padamu. Motor yang kau berikan padaku sebagai hadiah kuberikan pada orang lain untuk melunasi hutangku.”

“Itu bagus. Nanti kalau aku sudah punya uang, aku akan membelikanmu yang baru.”

“Benarkah? Kedengarannya menarik.”

“Sepertinya ada cerita panjang dibalik ini.”

“Ceritanya yang panjang. Aku akan menceritakannya kapan2 kalau kita bertemu.”

“Baiklah. Hey, Soul. Aku bersama Mi Sun sekarang. Dia membawakanku banyak makanan pagi ini.”


“Hey, Soul! Aku juga ingin melakukannya untukmu.” Ucap Mi Sun.

“Minggu ini aku tidak bisa. Aku akan meluangkan waktu minggu depan. Aku akan menelponmu lagi nanti.” Jawab Seol.


Usai bicara dengan kedua sahabatnya, mata Seol langsung berkaca2.  Sementara di seberang sana, So Hye dan Mi Sun curiga ada yang tidak beres dengan Seol. Mi Sun bahkan merasa kalau Seol diperlakukan seperti budak, bukan menantu. So Hye pun mengajak Mi Sun mengunjungi Seol minggu depan. Mi Sun setuju dan mengajak So Hye mengunjungi tetangga Seol juga.


Jin Tae masih merasakan sakit di punggungnya. Ia hanya bisa tidur tengkurap di kasur. Sang ibu dan juga kakaknya menatapnya prihatin. Tak lama kemudian, Seol datang dan memberitahu mereka kalau ia sudah menghubungi Dokter Mang. Seol lantas berlari keluar begitu Dokter Mang sudah datang.


“Aku harus pergi bekerja. Aku ada pertemuan dengan pembantu dari Kementerian Kesetaraan Gender dan Keluarga.” Jawab Jin Tae.

“Tunda saja. Setelah kau menjadi anggota dewan, maka kau akan menjadi bos mereka. Kenapa kau harus bertemu dengan mereka?” ucap sang ibu.

“Ibu, karena aku naik jabatan, aku harus lebih rendah hati. Aku harus jadi contoh yang baik bagi bawahanku.” Jawab Jin Tae.

“Oh itu benar. Jaksa Choi kami benar. Aku tidak tahu kau punya alasan. Mungkin karena aku sudah tua jadi aku tidak memikirkan hal2 macam itu.” ucap sang ibu.


Tak lama, Seol pun masuk sembari memapah Dokter Mang yang ternyata tukang pijat. Dokter Mang pun mulai mengobati punggung Jin Tae yang sakit. 




Ibu dan kakak Jin Tae menatap Seol penuh kebencian.


So Hye mencari Joon Gi di rumah kaca, namun ia tak menemukan Joon Gi di sana. Beberapa saat kemudian, ia mendengar Joon Gi memanggilnya. So Hye pun terkejut melihat Joon Gi yang tiba2 muncul dari dalam peti mati.

“Apa yang kau pikirkan? Aku seperti drakula?” tanya Joon Gi, yang langsung membuat So Hye ketawa geli. Joon Gi pun ikut ketawa.


“Jadi apa yang kudengar sebelumnya itu benar? Kau seorang psikopat?” tanya So Hye.

“Kau baru menyadarinya?” Joon Gi balik bertanya.


Joon Gi lantas menyuruh So Hye berbaring di dalam peti mati itu. Joon Gi mengaku rasanya sangat nyaman. So Hye jelas menolak, ia berkata itu sangat aneh. Tapi Joon Gi memaksa. So Hye pun akhirnya mencoba berbaring di dalam sana.

“Kau benar. Ini sangat nyaman.” Ucap So Hye.


“Berbaring di sana kau terlihat seperti putri tidur.” Jawab Joon Gi, yang lagi2 bikin So Hye ketawa.

“Kematian begitu sederhana. Kau datang dengan tangan kosong dan kau pergi dengan tangan kosong.” Ucap So Hye.

“Apa kau pernah menulis surat wasiat?” tanya Joon Gi.

“Tidak.” Jawab So Hye.


“Cobalah menulisnya. Aku bisa melihat bagaimana aku harus hidup saat aku menulis surat wasiat. Itu akan sangat membantumu membuat daftar keinginan. Orang2 selalu berbicara tentang kesejahteraan. Aku pikir kita harus membicarakan kematian dulu. Saat kau berpikir bagaimana kau akan mati, kau akan tahu bagaimana kau harus hidup. Dalam surat wasiatku, aku menulis bagaimana pemakaman yang kuinginkan dan siapa yang kuinginkan datang ke pemakamanku. Aku bahkan menulis tidak mau mengundang bajingan itu.” ucap Joon Gi.

“Kau menulis hal itu juga?” tanya So Hye sembari tertawa geli.


“Tentu saja. Itu akan menjadi pemakamanku. Aku akan melakukan apapun yang kuinginkan. Aku menyembunyikan ini di belakang potku, jadi tolong rawat dia.” jawab Joon Gi sembari melirik tanamannya.


“Bagaimana kau bisa tahu aku akan hidup lebih lama daripada dirimu.” Ucap So Hye.

“Itu harapanku.” Jawab Joon Gi.

“Baiklah, aku akan menulis surat wasiatku dan membiarkanmu mengetahuinya.” Ucap So Hye.


So Hye yang sudah kembali ke rumah Hae Sung mulai menulis surat wasiatnya. Awalnya So Hye bingung harus menulis apa, tapi kemudian ia menemukan sesuatu untuk ditulisnya.

Aku ingin pemakamanku diluar ruangan dengan latar yang bagus. Aku ingin mengundang semua orang yang kucintai. Aku berharap mereka bisa saling melengkapi satu sama lain. Jadi ketika aku sudah tiada… ketika mereka merindukanku, mereka akan saling melengkapi dan mengingat diriku. Hal2 yang mereka butuhkan untuk pemakamanku. Musik, music yang ada di ponselku. Jangan pernah memutar music yang sedih. Makanan. Makanan yang  simple dan minuman lezat. Jangan pernah mengundang Choi Jin Sook. Aku ragu dia mau datang. Daftar orang2 yang akan kuundang dan hal2 yang akan kutinggalkan untuk mereka. Dan Hae Sung….


Tangis So Hye pecah saat menulis nama Hae Sung. So Hye tiba2 batuk. Tapi batuknya itu tidak berlangsung lama. So Hye kemudian menghapus air matanya dan menatap foto Hae Sung.

“Sekarang aku memikirkan hal itu. Kita hidup dibawah atap yang sama sekarang tapi kita tidak pernah berkencan.” Ucap So Hye.


Hae Sung yang baru saja kembali ke ruang make up, mendapatkan pesan dari So Hye. Dalam pesannya, So Hye ngajak dia kencan. Hae Sung senang bukan kepalang dan langsung menghubungi So Hye. Sementara itu, Chang Suk yang duduk di belakang Hae Sung senyam senyum mendengarkan pembicaraan mereka.

“Kau ingin kita pergi kemana? Fancy cuite? Haruskah kita pergi ke Hongkong dan makan dim sum? Bagaimana kalau menyewa kapal pesiar?” tanya Hae Sung.

So Hye berkata kalau ia ingin melakukan hal itu. Hal yang pernah mereka lakukan dulu. Hae Sung pun bertanya, apa So Hye mau ke taman hiburan atau ke Namsan Tower. So Hye pun kesal karena Hae Sung tidak ingat. Hae Sung tersenyum, lalu berkata kalau ia tidak mungkin melupakan hal itu.

Flashback…


12 tahun lalu… So Hye dan Hae Sung sama2 keluar dari sebuah gedung. So Hye berterima kasih karena Hae Sung sudah mau berpartisipasi dalam dramanya. Hae Sung berkata, kalau dirinya lah yang seharusnya berterimakasih karena So Hye sudah mendapuk artis baru seperti dirinya menjadi pemeran utama dalam drama So Hye.  So Hye pun mengaku kalau ia menerima banyak pujian karena memilih artis baru yang sudah popular seperti Hae Sung. Hae Sung pun merendah. Ia berkata, kalau tidak seorang pun yang mengenal dirinya.

Benar saja yang dibilang So Hye. Meskipun artis baru, tapi Hae Sung sudah memiliki nama. Hal itu terbukti saat dua orang yang melintas di depan mereka mencuri pandang ke arah Hae Sung. Hae Sung pun bertanya, apa So Hye yakin dia bisa melakukannya dengan baik. So Hye bilang Hae Sung hanya perlu berlatih sedikit lagi…

“Ngomong2, apa kau sibuk minggu ini?” tanya Hae Sung.


“Minggu ini aku tidak sibuk.” Jawab So Hye.

“Kalau begitu maukah kau kemping denganku?” ajak Hae Sung.

“Kemping?” tanya So Hye.


“Di tim kami, ada seseorang yang bernama Chang Seok. Dia bilang ada tempat kemping yang bagus di kampung halamannya. Bagaimana kalau kita kesana, makan barbeque dan membaca script disana.” Jawab Hae Sung.

“Baiklah.” Ucap So Hye.

“Benarkah?  Aku sangat pintar dalam hal barbeque.” Jawab Hae Sung.

“Baiklah Kabari aku kapan kita akan pergi.” Ucap So Hye.

“Baiklah, aku akan menelponmu nanti.” Jawab Hae Sung.

Flashback end…


Hae Sung tertawa lebar teringat hal itu. So Hye senang Hae Sung masih mengingat kenangan itu. Hae Sung pun berkata, bahwa ia tidak mungkin lupa. Hae Sung lantas berkata kalau ia masih harus shooting sampai besok pagi jadi mereka tidak bisa pergi jauh. Hae Sung mengajak So Hye pergi kemping akhir pekan nanti. Tapi So Hye ingin pergi sekarang. So Hye berkata tidak akan ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Hae Sung pun mengalah dan menuruti keinginan So Hye.


So Hye pun senang dan langsung merias dirinya…


Di tempat kemping, Chang Suk membantu Hae Sung menyiapkan tenda dan beberapa makanan lainnya. So Hye bersender di depan mobil. Begitu semuanya beres, Chang Suk langsung pergi meninggalkan dua sejoli yang lagi kasmaran itu. Hae Sung memberikan selimut pada So Hye begitu So Hye duduk. Ia berkata akan jadi masalah kalau So Hye kedinginan.

“Apa yang kau pikirkan? Bukankah rasanya seperti kita benar2 pergi kemping?” tanya Hae Sung.

“Ini sangat sempurna.” Jawab So Hye.


“Oh! Aku rasa aku mendengar suara burung.” Seru Hae Sung.

Begitu So Hye menoleh ke belakangnya, Hae Sung pun langsung memindahkan kursinya ke samping So Hye. Hae Sung juga menirukan suara burung. So Hye pun langsung tersenyum geli menyadari maksud Hae Sung.

“Suaramu tidak mirip seperti burung.” Ucap So Hye.

“Aku bukan seekor burung. Lalu bagaimana suaraku tadi?” tanya Hae Sung.

So Hye diam saja dan hanya tersenyum geli….


Hae Sung lantas membuka tutup botol jus nya. Hae Sung menyuruh So Hye menganggap jus itu sebagai wine. Tapi So Hye ingin minum wine. So Hye berkata, akan sangat menyenangkan jika mereka bisa minum wine disaat seperti itu. Hae Sung pun mengaku kalau ia tidak mau minum lagi. So Hye terkejut. Hae Sung berkata, ia berjanji tidak akan minum lagi. So Hye tersenyum.

“Tempat ini benar2 bagus. Kenapa tidak terpikirkan olehku sebelumnya? Harusnya aku bertanya padamu tentang kencan pertama kita.” ucap Hae Sung.

“Sebenarnya, aku menunggumu mengajakku berkencan tapi sekarang malah aku yang memintanya darimu.” Jawab So Hye.


Hae Sung lantas menuangkan jus nya ke dalam gelas. Mereka lalu meminum jus seolah2 jus itu adalah wine. Usai meminum jus nya, So Hye menyenderkan kepalanya di bahu Hae Sung.

“Bagaimana shootingmu hari ini? Apa kau melakukan banyak kesalahan lagi?” tanya So Hye.

“Aku melakukannya dengan baik beberapa hari ini. Aku bukan si Foot Caprio lagi. Sekarang, aku adalah Hand Caprio.” Jawab Hae Sung.


“Apa maksudmu? Kau menaikkan levelmu dari dari Foot menjadi Hand?” tanya So Hye.

“Itu kemajuan yang besar. Aku dapat melakukannya lebih baik. Sedikit demi sedikit.” Jawab Hae Sung.


So Hye tersenyum, ia lantas kembali menyenderkan kepalanya di bahu Hae Sung.

“Apa yang kau makan saat makan siang?” tanya So Hye.

“Aku memesan nasi kotak lagi.” Jawab Hae Sung.

“Tidak baik kalau kau memakannya setiap hari.” Ucap So Hye.

“Sutradara Yoon sepertinya sangat menyukainya.” Jawab Hae Sung.

“Aku tahu dia menyembunyikan sesuatu.” Ucap So Hye.


So Hye lalu merangkul Hae Sung dan berkata kalau ia merasa menjadi pacar Hae Sung sekarang. So Hye bilang mereka tinggal di atap yang sama tapi lantaran kesibukan masing2 mereka tidak pernah membicarakan hal lain. Hae Sung berkata, kalau itu adalah kencan pertama mereka setelah 12 tahun. So Hye membenarkan.


Hae Sung kemudian memperlihatkan sepasang cincin pada So Hye. Hae Sung mengaku ia membeli cincin itu sudah lama. Hae Sung bilang, kalau ia merasa saat itu adalah saat terbaik melamar So Hye. So Hye tersenyum haru. Hae Sung berkata lagi. Ia mengaku kalau saat itu, 12 tahun yang lalu, ketika ia mengajak So Hye kemping, sebenarnya ia mau mengatakan perasaan cintanya pada So Hye. Hae Sung juga berkata, kalau sekarang ia akan mengatakan apa yang tidak bisa dikatakannya saat itu.


“Aku mencintaimu, Lee So Hye.” ucap Hae Sung.

So Hye pun kembali tersenyum haru…


So Hye lantas meminta Hae Sung memasangkan cincin itu ke jarinya. Tapi cincinnya malah kebesaran. Hae Sung merasa heran, ia merasa sudah membeli dengan ukuran yang pas. So Hye pun berkata kalau ia telah kehilangan berat badannya. Hae Sung merasa kecewa karena salah membeli cincin. So Hye pun langsung menenangkan Hae Sung dengan berkata kalau mereka bisa menyesuaikan ukurannya nanti.


Hae Sung kemudian mengambil ponselnya. Ia mau mengabadikan momen2 kencan pertama mereka. So Hye awalnya menolak di foto, tapi Hae Sung memaksa. So Hye pun menurut. Ia memamerkan cincin di jarinya saat Hae Sung mengambil foto mereka.

Bersambung ke Part 2

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hide and Seek Ep 8 Part 2

Sebelumnya... Di ruangannya, Jae Sang kesal karena selingkuhannya tidak bisa dihubungi. "Selingkuhan yang tidak takut apapun, Wa...