Saturday, November 12, 2016

I Have a Lover Ep 30 Part 1

Sebelumnya...


Hae Gang akhirnya kembali ke perusahaan. Sementara itu di ruangannya, Jin Eon yang sedang memeriksa berkas2 teringat perkataan Hae Gang malam itu.

Flashback On…


“Maaf, tapi aku tidak ingat aku pernah jatuh cinta padamu.Yang tersisa hanyalah kebencian, hanya itu saja!” ucap Hae Gang.

Flashback end…


Tak hanya itu, Jin Eon juga ingat kebersamaannya dengan Hae Gang setelah mereka hujan2an di depan kantor.


Hae Gang sendiri tengah berada di ruangan Tae Seok. Ia mengaku sudah memutuskan untuk kembali bekerja di perusahaan dan menyuruh Tae Seok menyiapkan jabatan untuknya.

“Kau akan melindungi aku?” tanya Tae Seok.

“Kau bukan tipe orang yang akan masuk penjara sendirian. Setelah kematianku selama 4 tahun, pasti ada pelanggaran yang kau buat dengan mengatas namakan aku, benarkan? Untuk itu, bayar aku dengan pantas. Untuk semua waktu ku yang hilang dan juga hidupku yang hilang.” Jawab Hae Gang.

“Berapa banyak? Apakah ₩ 2 billion cukup?” tanya Tae Seok.


“Apa kau bercanda? Memangnya berapa banyak gajiku dulu? Berapa banyak dana yang telah digelapkan oleh Presdir Min selama 4 tahun setelah membunuhku?” jawab Hae Gang.

“Kalau begitu ₩ 5 billion.” Ucap Tae Seok.

“₩ 5 billion plus Presdir Choi Jin Eon dan Dogko Yong Gi.” pinta Hae Gang.

“Presdir Choi Jin Eon dan Dokgo Yong Gi?” tanya Tae Seok penasaran.


“Singkirkan Presdir Choi, dan lindungi Dokgo Yong Gi. Berikan jabatan Presdir Choi Jin Eon padaku.” Jawab Hae Gang.

“Apa kau bilang?” tanya Tae Seok.

“Menjamin keselamatan Dokgo Yong Gi. Suka atau tidak, dia adalah adikku, aku tidak bisa membiarkan dia berada dalam bahaya.” Jawab Hae Gang.

“Lalu kenapa dengan adik iparku?” tanya Tae Seok.


“Haruskah aku mengatakannya padamu? Siapa yang telah menghancurkan hidupku? Betapa mengejutkan dan kejamnya hidup yang kujalani.... Aku harus membalaskan sakit yang kuterima. Kirim dia ke pusat penelitian, dia akan cocok di sana.” Jawab Hae Gang.

“Ayah mertua tidak akan pernah mengijinkannya.” Ucap Tae Seok.

“Kalau aku memerlukan ijinnya, aku tidak akan repot-repot datang kesini. Jadi, gunakan cara apa saja untuk menghancurkannya dan kirim dia ke pusat penelitian. Kirim dia ke lab dan buat supaya dia tidak bisa kembali ke kantor utama.” Jawab Hae Gang.


“Apa kau masih membencinya?” tanya Tae Seok.

“Masih? Itu bukan "masih" bagiku. Berkat kau, lukaku yang tertutup selama 4 tahun, akhirnya terbuka lagi. Mulai dari sekarang, menurutku.” Jawab Hae Gang.

“Itu bisa dimengerti.” Ucap Tae Seok.

“Kalau begitu...” Hae Gang bangkit dari duduknya.

“Hubungi aku setelah kau berhasil mendapatkan jabatan itu untukku. Mari kita berusaha yang terbaik sekali lagi.” Ucap Hae Gang.

Hae Gang lantas mengajak Tae Seok berjabat tangan. Semula, Tae Seok hendak menyambut tangan Hae Gang, tapi urung ia lakukan. Ia berkata, mereka akan berjabat tangan lagi.


“Laporan jurnal Kim Sun Yong dan video yang dimiliki adikmu… Dengan cara apapun, serahkan itu kepadaku. Dan rencanamu untuk membuat adikmu tetap diam.” Ucap Tae Seok.

“Kenapa kau memerlukan aslinya, padahal kau bisa membuat duplikatnya?” tanya Hae Gang.

“Aku hanya bisa percaya padamu kalau kau serahkan itu kepadaku, jadi serahkan itu padaku, pengacara Do, mengerti?” jawab Tae Seok.

Hae Gang mengangguk sambil tersenyum menyeringai. Hae Gang lantas beranjak pergi. Bersamaan dengan itu, Jin Eon beranjak masuk ke ruangan Tae Seok.


“Sepertinya bukan hanya aku yang berubah, bahkan melihatmu di sini di kantor. Aku dengar bahwa kau sekarang adalah Presdir dari divisi produksi.” Ucap Hae Gang.

“Kenapa kau ada di ruangan ini? Untuk apa kau datang? Jawab aku.” pinta Jin Eon.

“Benar, kau bilang kau akan bekerja di perusahaan kalau ayahmu menyingkirkan aku. Bagaimana rasanya bisa menyingkirkan aku dalam sekejap seperti debu? Lakukan saja pekerjaanmu, seperti aku akan menghilang seperti debu.” Jawab Hae Gang.


Hae Gang lantas mengalihkan pandangannya ke Tae Seok.

“Setelah semuanya telah siap, hubungi aku.” pinta Hae Gang.

“Baiklah kalau begitu.” jawab Tae Seok.


Hae Gang ingin pergi, tapi Jin Eon menghalangi langkahnya.


“Pergilah ke ruanganku, 10 menit, 5 menit, tolong dengarkan aku lalu pergilah.” Pinta Jin Eon.

Hae Gang diam saja. Ia hanya menatap Jin Eon dengan tatapan dingin, lalu beranjak pergi. Begitu Hae Gang pergi, Tae Seok mendekati Jin Eon.


“Wow, aku bahkan terkejut, kau pasti diujung kecerdasanmu.” Ledek Tae Seok.

“Kenapa dia datang kemari?” tanya Jin Eon.

“Dia ingin kembali bekerja, dia ingin aku mencarikan posisi untuknya.Tapi, dia menginginkan jabatanmu. Dia ingin menghancurkanmu, sebenarnya dia ingin balas dendam.” Jawab Tae Seok.


Jin Eon pun terhenyak mendengarnya.

“Oh, bukankah kau datang kesini karena suatu alasan? Apa itu?” tanya Tae Seok.


Jin Eon tak menjawab dan beranjak pergi begitu saja. Jin Eon bergegas ke ruangannya, namun ia tak mendapati Hae Gang di sana. Jin Eon mau menyusul Hae Gang, tapi langkahnya langsung terhenti.


Jin Ri berpapasan dengan Hae Gang di pintu keluar. Dengan susah payah Jin Ri mengejar Hae Gang. Jin Ri dengan seenaknya menyuruh Hae Gang mengikutinya karena ia ingin bicara. Jin Ri pun berjalan duluan. Tapi Hae Gang berjalan ke arah lain. Jin Ri yang menyadari hal itu langsung menghela napas kesal. Ia pun berlari ke arah Hae Gang, mau mendorong Hae Gang. Tapi Hae Gang yang menyadari itu langsung menghindar. Akibatnya, Jin Ri jatuh terjerembab.


“Ikuti aku, kalau kau bisa berjalan.” suruh Hae Gang, lalu pergi.


Dengan terpincang2 dan wajah murka, Jin Ri masuk ke sebuah kafe dimana Hae Gang sudah menunggunya di sana. Hae Gang menyuruh Jin Ri memesankan minuman untuknya. Jin Ri menolaknya mentah2.

“Kau bilang ingin berbicara denganku.” Ucap Hae Gang.


Jin Ri pun akhirnya dengan wajah murka pergi mengambilkan minuman untuk Hae Gang.


“Bagaimana pikiranmu, bagaimana kau hidup? Aku tidak bisa mempercayainya, berdemo, merawat anak-anak yatim piatu itu.... Bagaimana mungkin itu adalah kau? Orang yang sama. Apa kau benar-benar tidak ingat?” tanya Jin Ri.

“Tidak.” Jawab Hae Gang.


“Bagaimana dengan pria yang tinggal bersamamu? Kakaknya Kang Seol Ri, seorang pengacara?” tanya Jin Ri.

“Apa kau bilang? Kakaknya Kang Seol Ri?” tanya Hae Gang balik.

“Kalian secara tidak langsung sudah bertunangan. Saat pertemuan keluarga Jin Eon dan keluarga Seol Ri, kalian duduk berdua seperti pasangan. Dan sekarang kau bilang kau tidak ingat padanya, bagaimana dengan pria malang itu?” jawab Jin Ri.

“Pertemuan keluarga? Kau bilang mereka mengadakan pertemuan keluarga?” tanya Hae Gang kesal.

“Kau menghancurkan kedua pria itu dan menghancurkan cinta mereka. 'Aku tidak ingat, aku tidak ingat apapun'. Ini bukan kerusakan, tapi kehancuran. Ingatan macam apa yang melupakan tentang perceraian dan hal lain yang ada di pikiranmu dan menumbangkan semuanya? Apa kau sedang melakukan pertunjukkan? Dengan sengaja berpura-pura hilang ingatan?” jawab Jin Ri.


“Memangnya kenapa aku berbuat begitu?” tanya Hae Gang.

“Apa maksudmu kenapa? Supaya kau bisa balas dendam.” Jawab Jin Ri.

“Balas dendam? Ada satu yang ingin aku tanyakan.” Ucap Hae Gang.

“Sepertinya itu bukan pertunjukan, dan bahkan dengan Jin Eon.Tapi, dengan perusahaan? Kenapa?” tanya Jin Ri.


“Presdir bilang dia ingin mempercayakan Farmasi Cheon Nyeon kepadaku. Mengatakan aku akan masuk dengan layak.” Jawab Hae Gang.

Jin Ri pun langsung kesal, apa!

“Kau tidak perlu terlalu waspada, itu tidak akan segera terjadi. Usiaku juga akan bertambah, dan orang-orang akan menyaksikan, jadi tidakkah kau pikir itu akan memerlukan waktu setidaknya 5 - 6 tahun? Ah, tentu saja hanya jika aku masih bisa bertahan setelah bertarung melawah kau dan suamimu.” Ucap Hae Gang.

“Jadi tujuanmu adalah untuk mendapatkan farmasi Cheon Nyeon?” tanya Jin Ri.


“Ya, aku yakin bisa membuatnya menjadi farmasi yang terkenal di dunia.” Jawab Hae Gang.

“Impianmu terlalu tinggi.Mimpi tidak perlu tahu tentang siapa kau, situasimu, atau kau layak atau tidak.” Ucap Jin Ri.

“Yah, itulah mimpi.” jawab Hae Gang.

“Tapi apa yang harus kita lakukan saat mimpi buruk datang. Kau akan berakhir dengan mimpi buruk, kau akan tidak berdaya dengan mimpi terburuk.” Ucap Jin Ri.

“Aku bisa mengatasinya dengan minum obat tidur, Hyungnim. Aku meminumnya tadi malam dan tertidur dengan nyenyak tanpa mimpi buruk.” Jawab Hae Gang.

“Benarkah? Kau seharusnya tidak boleh terbiasa minum obat tidur. Aku mengkhawatirkanmu, hari dimana kau akan meminum semua pil itu.” ucap Jin Ri.


Seol Ri lagi2 menemui Shin Il Sang, kali ini dia menemuinya di sebuah kafe. Seol Ri memberikan Shin Il Sang sebuah amplop. Seol Ri berkata kalau ia sudah tak membutuhkan itu lagi. Shin Il Sang membuka amplop itu. Tubuhnya bergetar menahan amarah membaca dokumen yang ada di amplop itu. Dokumen itu adalah dokumen tentang strategi untuk menghadapi tuntutan Farmasi Mi Do, perusahaannya sendiri.

“Itu adalah untuk tekanan darah, obat yang mereka ambil darimu. Farmasi Cheon Nyeon menjualnya sebagai Pancilate, benarkan? Kau sudah kalah dalam kasus itu. Merubah Mododipin menjadi Panscilate/ Saksi kunci yang menyerahkan perubahan Panscilate sudah bunuh diri. Sepertinya sulit untuk mendapatkan hak paten, apa yang akan kau lakukan?” ucap Seol Ri.


“Aku bahkan tidak memikirkannya. Aku tidak bisa memikirkan apapun. Dia bahkan tidak mengenaliku.  Bagaimana dia bisa... padaku! Dia tidak bisa melakukan ini padaku.” Jawab Shin Il Sang.

Seol Ri tersenyum puas karena berhasi memanasi Shin Il Sang.

“Dia menyebabkan puterinya meninggal dan dia menghancurkan keluargaku dan membuat anakku menjadi anak dari seorang pembunuh! Bagaimana dia bisa, dengan wajah setenang itu.... Dengan wajah percaya diri itu...” ucap Shin Il Sang syok.

“Do Hae Gang akan mengenalimu sekarang tuan. Berkat kau, dia mendapatkan ingatannya kembali. Kau bisa berbicara dengannya kalau kau bertemu lagi dengannya. Pelaku dan korban. Sepertinya akan ada banyak hal yang harus diselidiki.” Jawab Seol Ri.

Shin Il Sang pun semakin termakan dengan hasutan Seol Ri.


Jin Eon terkejut mengetahui bahwa Shin Il Sang telah dibebaskan. Jin Eon pun langsung mengkhawatirkan Hae Gang.

Sementara itu, Hae Gang membawa ibunya ke hotel tempat ia menginap. Nyonya Kim melihat2 sekeliling hotel tempat Hae Gang menginap, sementara Hae Gang meletakkan setumpuk belanjaannya di atas meja.


“Kenapa kau malah tinggal di hotel daripada di rumahmu? Pulanglah. Kalau kau tidak mau sekamar dengan ibu, kau bisa memakai kamar ibu dan ibu akan tidur bersama Yong Gi.” ucap Nyonya Kim.

“Bukannya aku merasa tidak nyaman, tapi karena aku tidak menyukai rumah itu. Aku tidak menyukainya, rumah itu.” jawab Hae Gang.


Tiba2, ponsel Hae Gang berdering. Namun Hae Gang memilih tidak menjawab panggilan dari Jin Eon itu.

“Kenapa kau tidak mengangkatnya? Jawab lah.” Suruh sang ibu.

Hae Gang tidak menjawab perkataan sang ibu dan malah memberikan baju dan sepatu untuk sang ibu dan juga Yong Gi. Hae Gang lantas menyesal karena tidak membelikan apapun untuk Woo Joo.

“Aku akan memberikan uang pada ibu, tolong belikan sesuatu untuknya kalau nanti ibu pulang.” Ucap Hae Gang.

“Berhentilah membuatnya menderita dan angkatlah telponnya. Aku harus mengganti nomorku. Ibu akan tetap memberitahunya nomormu.” Jawab Nyonya Kim.

“Ibu!” ucap Hae Gang sebal.

“Saat mendengar kau sudah meninggal dia bolak balik antara pemakaman dan rumah setiap hari seperti orang mati. Aku membencinya, menyalahkannya, dan merasa kasihan padanya. Jin Eon... dia mencintaimu. Pikirkanlah sudah berapa lama kau dicintai olehnya. Kau ingin itu sia-sia percuma? Semuanya berharga. Kembali ke masa itu dan dia, kau pikir kau bisa hidup? Kau tidak akan bisa, bukan Jin Eon, tapi kau yang tidak bisa hidup. Maafkanlah dia. Aku ingin kalian berdua bersatu kembali. Ibu ingin melihat kau menjalani hidupmu dengan dicintai, Hae Gang-ah.” Jawab Nyonya Kim.

“Itu tidak akan terjadi. Itu tidak akan pernah terjadi bu, aku tidak akan memaafkan Choi Jin Eon.” Ucap Hae Gang.


Hae Gang yang tak ingin membicarakan Jin Eon lagi pun beranjak ke meja riasnya. Ia mengambil lipsticknya dan merias dirinya.

“Aku harus pergi ke firma hukum untuk mengambil barang-barangku, aku harus ada di sana jam 4, jadi aku harus segera pergi.” Ucap Hae Gang.

“Hae Gang-ah.” Bujuk Nyonya Kim.


Di kantornya, Seok yang sedang memberesi barang2 Hae Gang teringat sikap dingin Hae Gang. Tak lama kemudian, Hae Gang datang. Seok langsung menghampiri Hae Gang. Hae Gang berkata, bahwa ia ingin tahu tentang hubungannya dengan Seok.

“Aku dengar kita akan menikah, apakah itu benar?” tanya Hae Gang.

“Tidak, itu hanya harapanku saja.” Jawab Seok.

“Apa kita saling mencintai?” tanya Hae Gang.


“Tidak, cintaku bertepuk sebelah tangan.” Jawab Seok.

“Apa aku membuat janji?” tanya Hae Gang.

“Kau tidak pernah membuat janji. Do Hae Gang tidak pernah sekalipun menerima perasaanku.” Jawab Seok.

“Kalau begitu aku tidak bertanggung jawab atas apapun.” Ucap Hae Gang.

“Itu benar.” jawab Seok.

“Aku datang kemari bukan untuk mengambil barang-barangku.” Ucap Hae Gang.

“Kalau begitu... kenapa?” tanya Seok.

“Aku datang untuk membuangnya, membuang semuanya. Jadi...aku ingin kau membuangku juga.” jawab Hae Gang.


Hae Gang mulai memberesi barang2nya. Ia memasukkan papan namanya ke dalam sebuah kardus, kemudian membuka lemari kecilnya dan memindahkan semua barang2nya di sana ke dalam kardus. Seok terusik saat melihat Hae Gang memasukkan kotak berisi setumpuk surat ke dalam kardus. Seok menyuruh Hae Gang membawa surat itu. Tapi Hae Gang menolaknya.


Seok pun emosi. Dengan mata berkaca2, ia berkata surat2 itu bukanlah sampah. Surat2 itu adalah surat terima kasih yang dikirimkan klien untuk Hae Gang.

“Ini dari ayahnya Hye Yoon. Ini dari kakek Shilimdong. Ini dari Ha Yeon. Dan ini...”

“Aku sudah bilang aku tidak mau, aku akan membuangnya. Bagiku, semua itu adalah sampah. Dan aku bukan manajer kantor, Dokgo Yong Gi,Tapi pengacara Do Hae Gang sekarang.” ketus Hae Gang.

“Apa yang kau lakukan! Ambil itu, jangan dibuang dan ambillah. Ambil, sekarang!” teriak Seok.

Bukan hanya surat, Seok juga melarang Hae Gang membuang semua barang2 itu.

“Hanya karena kau membuangnya, hanya karena kau membuang semuanya, bukan berarti semuanya juga menghilang. Di saat itu, bukan hanya ada kau satu-satunya. Bukan hanya kau satu-satunya yang hidup di saat itu! Orang-orang ini mengingatmu. Aku ingat padamu, kami ingat padamu! Meskipun kau melupakannya, meski kau membuang kami semua, kami ingat padamu. Bagi kami, kau masih...masih...masih!” teriak Seok.

“Menganggu sekali, orang-orang itu, emosi mereka membuatku merasa tidak nyaman, aku tidak menyukainya.  Ada banyak yang harus kuterima dan kupelajari, jadi aku ingin menghilangkannya sebisa mungkin.” jawab Hae Gang.


Seok makin terluka dengan jawaban Hae Gang. Beberapa saat kemudian, Seok menatap tajam Hae Gang dan mengusir Hae Gang. Hae Gang pun pergi. 




Namun tak lama, Seok menyusul Hae Gang. Seok berteriak dengan speaker yang biasa digunakan Hae Gang dulu ketika Hae Gang masih amnesia. Seok menyuruh Hae Gang berhenti. Hae Gang pun berhenti. Seok menghela napas, kemudian beranjak mendekati Hae Gang.


“Do Hae Gang sialan, kau tidak punya teman, benarkan? Kalau memang ada, sebutkan satu saja nama teman dekatmu. kau tidak punya, benarkan? Seseorang yang kau pikirkan, nama seseorang yang kau pikirkan, tidak ada satupun, benarkan?” tanya Seok.

Hae Gang diam saja dan menatap Seok.


“Baek Seok! Mulai dari sekarang, kalau ada yang bertanya siapa teman baikmu, dengan suara yang nyaring, katakan Baek Seok! Dengan percaya diri. Mengerti? Kau Do Hae Gang sialan? Mari kita berteman.” Ucap Seok.

“Haruskah?” tanya Hae Gang dingin.

“Kau membuatku kehilangan selera makanku. Kau terus dalam pikiranku. Karena kita mendapatkan tenaga dari makanan, aku tidak boleh kehilangan selera makanku. Aku akan membantumu membuat orang-orang itu kehilangan selera makannya.” Jawab Seok.

“Bagaimana?” tanya Hae Gang.

“Mari kita makan dulu. Lebih baik makan bersama-sama daripada sendirian. Mari kita mulai lagi, dari nol. “ jawab Seok.


Seok lantas mengulurkan tangannya, mengajak Hae Gang bersalaman.

“Senang bertemu denganmu, aku Baek Seok.” Ucap Seok, namun Hae Gang diam saja.

“Tidak apa-apa, karena kau juga bisa berjabat tangan saat kita terpisah. Kau bilang ingin membayarku kembali, mari kita bicarakan hari ini. Seberapa banyak yang aku inginkan.” Ucap Seok.

Hae Gang diam saja. Tak lama kemudian, Hae Gang beranjak pergi begitu saja meninggalkan Seok.


Jin Eon tampak menunggu seseorang di suatu tempat. Sembari menunggu, Jin Eon melihat foto Shin Il Sang. Tak lama kemudian, seseorang yang ditunggu2nya itu tiba. Hae Gang yang ditunggu2nya itu hanya diam dan menatap tajam ke arahnya.

“Aku pergi ke Buamdong, tapi ternyata kau ada di sini. Aku tertinggal selangkah lagi. Mari kita bicara.” Ucap Jin Eon.

“Tidak ada yang ingin kukatakan dan juga kudengar.” Jawab Hae Gang.

Hae Gang kemudian beranjak pergi…


Hae Gang keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Terdengar teriakan Jin Eon dari luar yang memintanya untuk membukakan pintu. Namun Hae Gang tak bergeming. Hae Gang duduk di depan meja riasnya dan mulai mengeringkan rambutnya dengan hair dryer.

“Buka pintunya! Buka! Buka pintunya, Hae Gang! Do Hae Gang! Do Hae Gang! Sayang! Aku tidak akan pergi, aku tidak bisa pergi! Bagaimanapun kau mendorongku, aku tidak akan pergi sayang. Aku tidak akan pergi lagi! Aku juga akan kembali ke waktu itu. Ke saat menyakitkan itu, aku akan kembali sayang.Mari kita pergi bersama-sama, mari kita bersama-sama, Hae Gang. Denganku... Bersama denganku, Hang Gang. Kumohon!” teriak Jin Eon.

Jin Eon lantas melirik ke arah cleaning service yang menatap aneh ke arahnya. Jin Eon kemudian mengambil kunci kamar dari cleaning service itu dan membuka pintu kamar Hae Gang dengan kunci itu. Setelah mengembalikan kunci itu ke si cleaning service, Jin Eon pun langsung menerobos masuk ke kamar Hae Gang.


Jin Eon terpana menatap Hae Gang yang dalam balutan gaun tidur. Hae Gang beranjak ke arah Jin Eon sembari menatap Jin Eon penuh arti.


“Katakan padaku, katakan padamu semua yang ingin kau katakan. Keluarkan semuanya dan jangan disimpan saja.Tapi mulai besok, jangan muncul lagi di hadapanku.” Ucap Hae Gang.

Perlahan2, Jin Eon mengangkat tangannya dan mau menyentuh wajah Hae Gang.

“Kau membuat kulitku meremang.” Ucap Hae Gang sambil menghempaskan tangan Jin Eon dengan kasar.

“Aku seharusnya berdebar-debar, tapi aku malah merinding. Pasti beginilah yang kau rasakan dulu. Sekarang aku mengerti bagaimana perasaanmu saat hidup bersamaku.” Ucap Hae Gang.


Hae Gang lantas menyuruh Jin Eon duduk, tapi Jin Eon malah berlutut padanya.

“Maafkan aku. Maafkan aku, Hae Gang. Waktuku selalu salah. Entah aku melangkah terlalu lambat atau bahkan terlalu cepat. Aku seharusnya lebih cepat kembali, lebih cepat memohon maaf padamu. Tapi aku kira kau hidup dengan baik.Karena kau adalah Do Hae Gang. Aku pikir kau akan hidup dengan baik tanpa aku. Aku pikir aku mungkin akan menyakitimu lagi. Karena itu aku takut untuk kembali. Aku tidak punya keberanian untuk berhadapan denganmu, yang aku kira hidup dengan baik. Aku tidak punya keberanian untuk menemuimu, yang pasti hidup dengan baik bersama pria lain. Aku salah, aku salah, aku salah memahamimu, Hae Gang. Kau seperti tidak terpengaruh apapun... Kau berusaha sekuat tenaga untuk tidak jatuh, tapi aku tidak tahu itu dan aku.... Aku mengira kau memutuskan untuk melupakannya. Aku pikir kau memutuskan untuk melupakan Eun Sol, aku kira kau melupakannya. Aku tidak tahu kau hancur di dalam, dan aku tidak tahu kau menangis di dalam. Mari kita atasi bersama-sama. Bahkan sekarang, untuk Eun Sol. Mari kita bebaskan dia dan hati kita dan mengirimnya pergi. Mari kita mulai dari sana. Di sana, kau dan aku, mari kita mulai dari sana.” Ucap Jin Eon.


Hae Gang mulai tersentuh…. namun ia tetap diam saja.


Hae Gang lantas mengambil wine dan dua buah gelas. Ia menyuruh Jin Eon berdiri sembari menuangkan wine ke dalam gelas.

“Itu bukan sesuatu yang membuatmu sampai harus berlutut memohon. Aku tidak punya hati untuk memaafkan. Aku bilang bangunlah, aku tidak akan memaafkanmu.Kau terlambat, bukan hanya selangkah. 4 tahun telah berlalu, 4 tahun yang panjang!” jawab Hae Gang.


Hae Gang lantas mengajak Jin Eon minum, namun ia langsung tersadar kalau Jin Eon tidak pernah mau minum bersamanya. Cairan bening itu mulai mengalir, tampak mengalir dari kedua mata Jin Eon. Tak lama kemudian, Jin Eon berdiri dan mendekati Hae Gang dengan langkah gontai.

“Aku berjani tidak akan lelah denganmu kali ini. Aku akan menepati janjiku. Jadi jangan buat dirimu lelah juga. Aku tidak tahu apa yang kau pikirkan, tapi aku tidak akan pergi hanya karena kau menyuruhku pergi. Aku akan menempel seperti permen karet, tepat di sampingmu.” Ucap Jin Eon.


“Kang Seol Ri. Kenapa kau keluar dari hidup Kang Seol Ri?” tanya Hae Gang.

“Karena aku merasa malu. Bagimu dan Seol Ri, aku adalah pengecut, aku tidak seharusnya melarikan diri seperti itu. Dulu, aku merasa seperti menangkap jerami. Aku ingin menyakitimu. Aku ingin kau tahu aku terluka dengan melakukan itu. Aku kejam padamu dan juga pada Kang Seol Ri.” Jawab Jin Eon.

“Aku hanya ingat hari dimana aku melompat ke sungai. Aku menggeretakkan gigiku karena kesal dan merasa dipermalukan. Tatapan matamu saat memandangnya, tertawamu dan jarimu yang kau gunakan untuk membelai rambutnya. Aku tidak bisa melupakan itu. Kita sudah berakhir. Semua sudah berakhir. Aku sudah selesai dengan Choi Jin Eon. Aku tidak bisa mengatasinya bersama Choi Jin Eon. Bagiku, aku sama sekali tidak bisa memaafkan Choi Jin Eon.” Ucap Hae Gang dengan suara bergetar.

Keesokan harinya, Jin Ri yang masih berbaring di kamarnya terngiang2 ucapan Hae Gang dan sang ayah.

“Ayah bilang ingin mempercayakan perusahaannya padaku.” Ucap Hae Gang.

“Bukan karena orang lain tapi karena dirimu sendiri.” Ucap Sang ayah.


Do Hae Kang bisa dan aku tidak? Kenapa? Dia lebih jahat daripada aku dan kepribadiannya jauh lebih kotor daripada aku. Kenapa dia dan bukan aku? Apa alasannya, apa!” teriak Jin Ri kesal.

Tepat saat itu Tae Seok yang habis berolahraga datang dan terkejut mendengar teriakan Jin Ri. Jin Ri dengan wajah kesal memberitahu Tae Seok bahwa sang ayah ingin menyerahkan perusahaan pada Hae Gang.

Tae Seok kaget.

“Tidak secara instan, tapi ayah bilang dia menerimanya, jadi dia mempelajarinya selangkah demi selangkah.” Ucap Jin Ri.

“Kata siapa? Siapa!? Kursi pimpinan adalah milikku.” Jawab Tae Seok kesal.

“Masalahnya adalah ayah masih menjabat sebagai presdir. Singa ompong tetaplah seekor singa.” Ucap Jin Ri.

“Dia membunuh temannya dan ingin meminta maaf pada anak temannya itu?” sinis Tae Seok.

“Suruh dia untuk meminta maaf padaku, anak kandungnya, atau ibuku!” sewot Jin Ri.

“Sepertinya dia memulai permainan denganku, dengan memanfaatkan dia. Sikapku adalah tetap tidak perduli.” Jawab Tae Seok.

“Saat kita didorong sampai ke sudut, bagaimana kita akan menelan kue beras? Bagaimana? Sampah itu kembali hidup dan menghancurkan semuanya dan membuat aku marah!  Apa yang akan kau lakukan dengan Do Hae Gang? Ayah menggelikan sekali, jadi kau ingin menyerahkan perusahaan kepadanya?” ucap Jin Ri.

“Mari kita periksa terlebih dulu, apakah itu makanan anjing atau kue beras madu. Saat kita bisa memenjarakan waktu, kita tidak perlu terburu-buru.Do Hae Gang meminta jabatan adik ipar.” Jawab Tae Seok. 


Jin Ri kaget,  Apa? Jabatan Jin Eon?

“Itulah yang aku katakan. Aku pikir dia akan meminta jabatan sebagai wakil Presdir, tapi dia ingin menyingkirkan Jin Eon. Dia memintaku untuk menyingkirkannya ke laboratorium.” Jawab Tae Seok.

“Dia mengatur balas dendamnya tinggi sekali. Tentu saja, Do Hae Gang tanpa amarah dan harga dirinya, dia bukan apa-apa.” Ucap Jin Ri.

“Beritahu ibu dengan cara yang halus.” Suruh Tae Seok.

“Apa? Tentang menghancurkan Jin Eon?” tanya Jin Ri.

“Bukan. Bahwa ayahmu berpikir untuk mewariskan perusahaan pada Hae Gang bukan pada Jin Eon.” Jawab Tae Seok.


“Itu benar. Aku juga bisa membuat ibu beraksi! Dia bisa mengganggu ayah dan juga Do Hae Gang. Baiklah. Aku akan menuang sedikit bensin kalau begitu.” ucap Jin Ri.

Sementara itu, Presdir Choi lagi sarapan dengan istrinya. Saat sang istri hendak mengambil lauk, Presdir Choi buru2 meletakkan lauk itu di mangkuk Nyonya Hong. Nyonya Hong terheran2.

“Apa? Apa aku membuatmu marah lagi?” tanya Presdir Choi.

“Kenapa kau melakukan hal yang tidak biasa kau lakukan? kau bertingkah aneh karena masalah perceraian itu?” ucap Nyonya Hong.


“Aku berusaha keras, jadi kita tidak perlu bercerai.” Jawab Presdir Choi.

“Kau seharusnya lebih cepat bersikap baik padaku. Kau memperlakukan aku seperti boneka dan jarang melihatku, kenapa memulainya sekarang?” tanya Nyonya Hong.

“Aku menyesalinya.” Jawab Presdir Choi.

“Apa kau bilang? Menyesal kau bilang?” kaget Nyonya Hong.

“Siapa yang perduli berapa banyak uang yang kau miliki? Pada akhirnya, kau hanya akan memakai pakaian yang mahal. Kenapa aku hidup hanya untuk uang, kenapa aku melakukannya? Aku tidak bisa membawa uangku saat aku mati,t api aku bisa membawa kenangan indah bersamaku. Aku bahkan tidak tahu itu.” jawab Presdir Choi.

“Sayang, aku rasa kau sedikit berubah.” Ucap Nyonya Hong.

“Benarkah? Aku akan semakin berubah, jadi pikirkan lagi tentang perceraian.” Jawab Presdir Choi.


Keharmonisan pasangan ini pun langsung rusak karena ulah Jin Ri. Jin Ri memanasi Nyonya Hong dengan berkata bahwa Presdir Choi berniat menyerahkan perusahaan kepada Hae Gang, bukan Jin Eon.

“Apakah itu benar? Jawablah! Apakah yang dikatakan Jin Ri itu benar?” tanya Nyonya Hong kesal.

“Itu benar, itu sudah diputuskan.” Jawab Presdir Choi.

“Kenapa? Kenapa anaknya Kim Gyu Nam dan bukan anakku? Kenapa? Kenapa? katakan padaku. Yakinkan aku kenapa bukan anakku, tapi anaknya Kim Gyu Nam!” ucap Nyonya Hong.


Nyonya Hong lantas menyiram Presdir Choi dengan air dan meminta cerai. Presdir Choi pun menghela napas.




Sementara Jin Ri tersenyum puas berhasil menyulut api di tengah2 ayah dan ibu tirinya.

Waiter datang mengantarkan sarapan ke sebuah kamar. Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka dan Jin Eon keluar dari dalam. Jin Eon berkata kalau ia dan istrinya akan makan di ruang utama.


Sementara itu, Hae Gang yang sedang bersiap2 buru2 membukakan pintu saat mendengar bunyi bel. Hae Gang yang merasa tidak pernah meminta pelayanan room service pun terheran. Tak lama kemudian, Jin Eon masuk diikuti waiters yang membawa makanan mereka.

“Kau mau pergi kemana? Sarapanlah sebelum kau pergi.” Ucap Jin Eon sambil membuka paksa jas Hae Gang.

“Makanlah sebelum kau pergi, aku tidak akan membiarkanmu pergi kalau kau tidak makan. Kalau kau tidak mau aku memelukmu di hotel ini seharian. Makanlah sebelum kau pergi.” Ucap Jin Eon.


Jin Eon pun memaksa Hae Gang sarapan. Hae Gang menolaknya dengan kasar. Berkali2. Tapi Jin Eon memaksa. Hae Gang yang kesal akhirnya beranjak pergi. Jin Eon memeluk Hae Gang erat2 dari belakang. Hae Gang berontak, namun Jin Eon semakin mengeratkan pelukannya.

“Cobalah keluar kalau kau bisa. Kau bisa membenciku, aku akan tetap mencintaimu. Silahkan benci aku, karena aku akan mencintaimu. Aku bisa merasakan kau berdebar-debar di lenganku. Dengan tatapan dinginmu, jantungku berdebar-debar. Aku tidak menyuruhmu untuk mencintai.  Mari kita berjuang, Hae Gang. Dengan saling menatap, mari kita bertengkar, mari kita berjuang. Mari kita bertarung dulu ya?” ucap Jin Eon.

Hae Gang pun menyerah.

“Aku akan makan.” Ucapnya dengan suara pelan.


Namun begitu Jin Eon melepaskannya, ia malah menampar Jin Eon.

“Santai saja, lalu pergilah.” Ucap Hae Gang, lalu beranjak pergi.

Jin Eon terus dan terus menunggu Hae Gang. Lalu tak lama kemudian, terdengar bunyi. Ia tersenyum, lalu bergegas membukakan pintu. Namun yang datang bukanlah Hae Gang tapi polisi.


“Kami menerima laporan tentang penguntit.Silahkan ikut dengan kami.” ucap para polisi itu.

Jin Eon pun tersenyum geli….

Jin Eon kini duduk di kantor polisi. Polisi pun menyuruh Jin Eon menulis surat pernyataan. Tak lama kemudian, Hyun Woo datang menjemput Jin Eon.


“Kau seharusnya tidak seperti ini, Presdir, ini memalukan. Memalukan sekali... Apa-apaan itu? Apa sebenarnya itu? Cinta macam apa yang selalu menimbulkan keributan? Tidak pernah ada tenang-tenangnya. Putus sajalah dengan dia. Putus saja! Apa yang kau lakukan sekarang? Bagaimana bisa dia melaporkanmu sebagai penguntit? Apa dia sudah gila? Kenapa dia melakukan itu? Huh? Ini berlebihan, reaksi berlebihan, ini sudah keterlaluan. Dia terlalu jauh melangkah, ini bertentangan dengan keadaan yang biasanya.” Ucap Hyun Woo.

“Reaksi berlebihan... Dia bukan tipe seperti itu, berlebihan.” Jawab Jin Eon yang mulai menyadari sesuatu.


Di kamarnya, Yong Gi sedang melihat2 tas hadiah dari Hae Gang. Sementara Woo Joo melihat beberapa baju hadiah dari Hae Gang untuk ibunya.

“Apakah cocok dengan ibu?” tanya Yong Gi sambil memegang tas barunya.

Woo Joo mengangguk.

“Benarkah? Haruskah ibu mencobanya kalau begitu? Yang mana? Woo Joo yang pilihkan.” Ucap Yong Gi.


Pilihan Woo Joo pun jatuh pada sebuah dress berwarna biru yang pernah digunakan Hae Gang dulu saat menemui Seol Ri kafe…

“Bagaimana penampilan ibu?” tanya Yong Gi setelah mencoba dress itu.

“Apa ibu terlihat cantik?” tanya Yong Gi. Woo Joo menggeleng.


“Tidak cantik? Kenapa aku tidak cantik padahal kami terlihat sama? Kenapa gaun ini tidak cocok untuk ibu, Woo Joo?

Tiba2, terdengar suara Gyu Seok yang mengatakan bahwa sekarang  sudah jam 12.

“Haruskah kita bertanya pada dokter ibu?” tanya Woo Joo.

“Tolong jawab, Dokgo Yong Gi-ssi. Sekarang sudah jam 12.” Teriak Gyu Seok.

“Aku dengar! Selalu saja jam 12... Aku akan memberikannya padamu! Tunggu sebentar, aku akan segera keluar.” Jawab Yong Gi.

“Aku akan masuk.” Ucap Gyu Seok.

“Jangan! Tidak boleh! Jangan!” teriak Yong Gi.

“Sekarang sudah jam 12 lewat satu menit.” Ucap Gyu Seok.


Gyu Seok pun masuk. Ia pun menahan tawanya saat melihat penampian Yong Gi.

“Apa itu tadi? Kau barusan menyeringai, benarkan? Woo Joo, kau melihatnya juga kan?” protes Yong Gi.

“Menyeringai itu apa? Apakah itu tertawa hujan?” tanya Woo Joo polos.

“Dokter, kau pikir siapa yang lebih cantik, apakah ibuku yang baik hati, atau ahjumma jahat yang mirip dengan ibuku?” tanya Woo Joo.

 
“Gen mereka sama, tidak ada gunanya membandingkannya. Tidak ada yang lebih cantik diantara mereka berdua bagiku. Dimataku, Dokgo Woo Joo adalah yang tercantik.” Jawab Gyu Seok.

Woo Joo pun langsung tersenyum imut.

“Dokgo Woo Joo ingin berkonsultasi padamu.” Ucap Yong Gi.

“Kenapa gaunnya tidak terlihat bagus di ibunya padahal mereka punya gen yang sama. Katakan pada Dokgo Woo Joo, percuma saja memakai gaun yang sama padahal dia bukan Hello Kitty.” Suruh Gyu Seok.


“Dokgo Woo Joo penasaran, bagaimana supaya ibunya bisa terlihat lebih baik.” Jawab Yong Gi.

“Katakan padanya, apapun yang dilakukannya tidak ada harapan. Semakin dia berusaha, semakin dia terlihat lusuh. Beritahu ibumu untuk tidak melakukan apapun. Suruh saja dia hidup seperti apa adanya.” Ucap Gyu Seok.

Yong Gi pun langsung menatap sebal Gyu Seok.


Sekarang, Woo Joo dan Gyu Seok duduk di ruang makan. Woo Joo pun bertanya, apa Gyu Seok tidak menyukai ibunya.

“Begitukah menurutmu, Dokgo Woo Joo-ssi?” tanya Gyu Seok.

“Tidak bisakah dokter menyukai ibuku?” pinta Woo Joo.

“Kenapa aku harus melakukan itu?” tanya Gyu Seok.

“Dia adalah ibu mertuamu dan dokter adalah menantu kami. Tidak bisakah kau akrab dengan ibuku? Ibuku merasa sedih belakangan ini. Ibu tidak mengatakannya, tapi dia benar-benar bersedih.” Jawab Woo Joo.

“Bagaimana kau tahu ibumu bersedih padahal dia tidak mengatakannya?” tanya Gyu Seok

“Ibu terus saja bernyanyi. Ibu terus saja bersenandung sepanjang hari. Saat ibuku bersedih, dia akan menyanyi. Ini adalah rahasia.” Jawab Woo Joo.

Kemudian, terdengar suara Yong Gi yang menyanyi keras2 di dalam kamar. LOL

“Woo Joo-ssi, aku akan berusaha akrab dengan ibumu.” Ucap Gyu Seok.

“Bisakah kau berjanji padaku?” tanya Woo Joo sembari mengulurkan jarinya.

Gyu Seok tersenyum dan mengkaitkan jarinya dengan Woo Joo. Sementara itu, Yong Gi terus bernyanyi lagu China. Gyu Seok tertawa geli mendengar suara Yong Gi.


Seol Ri membuatkan secangkir minuman untuk ayahnya. Sang ayah berkata, bahwa rumah Seol Ri terasa kosong. Seol Ri lantas menanyakan kabar anak2.

“Kau tidak bisa membayangkannya, mereka menangis. Mereka sangat menyukainya dan menganggapnya sebagai ibu mereka. Itu sudah berlangsung lama. Pergi memang masalah, tapi mereka terkejut karena dia tidak bisa mengingat mereka.” Jawab Tuan Baek.

 “Bagaimana dengan Oppa?” tanya Seol Ri.

“Haruskah aku memberitahumu? Empat tahun kebersamaan mereka menghilang dalam semalam. Seperti asap, itu menghilang dalam sekejap. Dia bilang akan membayar semuanya. Dia bilang akan membayarnya supaya kami tidak kecewa. Aku tidak bisa berkata-kata.” Jawab Tuan Baek.


“Apa ayah bilang? Dia akan melakukan apa? Membayar?” ucap Seol Ri kesal.

“Kembalilah ke rumah. Kau harus pulang dan menenangkan anak-anak. Tinggalah bersama mereka dan tenangkan mereka.” Pinta Tuan Baek.

Seol Ri tidak menjawab. Dia hanya menghela napas. Sorot matanya memancarkan kebencian yang begitu mendalam pada Hae Gang.


Hae Gang pulang ke rumahnya. Bersamaan dengan itu, Woo Joo keluar dari kamar. Woo Joo takut2 menatap Hae Gang. Hae Gang menyapa Woo Joo dengan kaku. Hae Gang lantas berkata ingin bicara dengan ibunya Woo Joo. Woo Joo bilang kalau ibunya sedang bekerja.

“Bagaimana dengan nenek?” tanya Hae Gang.

“Dia pergi keluar ke toko buah.” Jawab Woo Joo.

“Kalau begitu kau sendirian?” tanya Hae Gang.

“Tidak, aku bersama dokter. Dokter libur hari ini.” jawab Woo Joo.

“Apa kau mau duduk?” tanya Hae Gang.

Woo Joo menggeleng, lalu pergi begitu saja.


Wajah Hae Gang langsung berubah sedih setelah Woo Joo pergi. Namun begitu melihat ke arah kamar Yong Gi yang pintunya dibiarkan terbuka oleh Woo Joo, Hae Gang langsung tertegun dan teringat kata2 Tae Seok yang meminta dokumen Kim Sun Yong dan video yang dimiliki Yong Gi.

Bersambung ke part 2

No comments:

Post a Comment