Sunday, November 13, 2016

I Have a Lover Ep 31 Part 1

Sebelumnya..... 


Seok : Pada saat itu, seorang pendaki mulai mendaki dinding itu. Itu adalah puisi yang sangat disukai Do Hae Gang

Hae Gang kemudian melanjutkan puisi itu. Seok terhenyak seketika.

Hae Gang : Tanpa setetes airpun, tempat dimana bahkan rumput pun tidak bisa bertahan. Saat orang-orang mengatakan itu adalah dinding yang tidak berpengharapan. Seorang pendaki tanpa terburu-buru, terus bergerak maju.

Hae Gang lantas menatap Seok dengan matanya yang berkaca2.

Hae Gang : Ini aku, Seok-ah.  Aku bilang ini aku, ini On Gi.


Sementara itu, di depan pintu kamar hotel tempat Hae Gang menginap, Jin Eon terduduk lemas sembari menanti balasan SMS dari Hae Gang dengan wajah cemas. Jin Eon pun pasrah karena balasan SMS yang dinantinya tak kunjung datang.


Kembali ke Hae Gang yang mengaku bahwa ingatannya sudah kembali. Ingatannya saat bersama Seok selama 4 tahun juga kembali.

Hae Gang : Seperti cahaya, kau selalu melindungi Do Hae Gang, siang dan malam. Masa laluku dan masaku yang sekarang sedang bertarung, apa kau melihatku tadi? Terkadang, aku merasakan marah yang tidak bisa kukendalikan, aku benci, menyalahkan dan tidak suka padanya. Aku benar-benar ingin mengungkapakan semuanya dan aku tidak bisa memaafkannya. Lalu kemudian, aku merasa aku tidak punya hak untuk memaafkan seseorang atau tidak.


Seok : Kenapa... Kejadian itu tanggal 25 Desember 2011? Kecelakaan itu, saat kita bertemu adalah 26 Desember. Dan saat kau terbangun di rumahku adalah tanggal 29 September. Kenapa kau berpura-pura melupakan aku? Kau tidak hanya menyingkirkan Choi Jin Eon dari hidupmu, tapi juga menghapusku. Kau berusaha membuat aku menyerah dengan menyakitiku. Kau berusaha menyingkirkanku.

Hae Gang : Aku tidak  menyangka kau akan bersikap seperti ini. Aku benar-benar tidak menyangka kau akan menawarkan persahabatan setelah aku begitu mempermalukanmu. Aku kalah denganmu, Baek Seok.


Seok : Jadi, apa rencanamu? Setelah kau menyingkirkan aku, Choi Jin Eon dan semuanya, apa yang akan kau lakukan?

Sementara itu, Jin Eon masih menanti balasan SMS dari Hae Gang.


Hae Gang : Aku akan kembali ke diriku yang dulu. Aku akan kembali ke Farmasi Cheon Nyeon.

Seok terkejut,  Apa?

Hae Gang : Untuk menangkap harimau, kau harus pergi ke sarang harimau. Untuk melindungi Yong Gi, aku harus pergi ke sarang harimau. Tentang Pudoxin, pembunuhan dan kematian Kim Sun Yong, kalau aku tidak punya bukti kuat, aku tidak bisa mengungkapkan semuanya. Kalau aku bertindak gegabah, dia akan dibebaskan tanpa kecurigaan lagi. Yang aku tahu hanyalah situasi 4 tahun yang lalu, itu juga hanya sebagian informasi saja. Aku akan bergabung dengan Min Tae Seok. Setelah bergabung dengannya, aku harus memborgol tangannya

Seok : Meski begitu, kenapa Choi Jin Eon? Dia berada di pihakmu.

Mendengar nama Jin Eon, Hae Gang langsung terdiam. Dengan suara bergetar, ia berkata bahwa untuk memborgol tangan Tae Seok, berarti dirinya harus diborgol juga. Tangis Hae Gang pun seketika pecah. Seok menghela napas mendengar penuturan Hae Gang.


Hae Gang : Aku ingin bertarung dengan masa laluku sendirian. Aku tidak mau membawanya dan menyebabkan dia terluka lagi. Mengungkapkan seluruh jati diriku. Aku malu pada diriku sendiri. Aku akhirnya tahu betapa banyak yang harus ditahannya. Karena kau, aku akhirnya mengetahuinya. Bantu aku supaya aku bisa memperbaiki hidupku, bahkan saat ini, Seok-ah. Aku bisa membersihkan dosa-dosaku, satu persatu. Supaya aku bisa melindungi adikku. Dan supaya aku bisa bersama dengan orang itu, tolong bantu aku Seok.

Sementara itu, Jin Eon terus berupaya menghubungi Hae Gang, namun Hae Gang masih sulit dihubungi. Jin Eon tak menyerah. Ia terus dan terus berusaha menghubungi Hae Gang. Saat terhubung, bukan Hae Gang yang menjawab panggilannya, melainkan Seok.


Jin Eon : Sekarang ini bukanlah perbuatanmu, apakah ini idenya Hae Gang?

Seok : Ya, berhentilah menelponnya, kau sudah terlalu sering menelponnya. Jangan hanya memikirkan perasaanmu saja, pikirkan juga perasaan orang yang tidak mau mengangkat telponnya.

Jin Eon pun emosi.


Jin Eon : Dimana kau sekarang? Apa yang kalian berdua lakukan, dimana... Jam berapa sekarang? Dimana kau? Cepat katakan dimana kau sekarang.

Seok : Itu adalah keputusan Do Hae Gang, apa yang dilakukannya, dengan siapa dan juga dimana. Do Hae Gang bukan isteri ataupun kekasihmu sekarang.


Jin Eon : Hae Gang dan aku yang akan memutuskannya. Jangan ikut campur di antara kami, jangan sok tahu, kau tidak tahu apapun tentang Hae Gang dan aku!

Seok lantas menatap Hae Gang, kemudian memperdengarkankan suara Jin Eon pada Hae Gang.

Jin Eon : Hae Gang adalah isteriku, dan karena dia juga adalah kekasihku. Jangan berani-berani mendekatinya. Aku menyuruhmu jangan mendekati wanita itu. Jangan dekati dia, kau mengerti?

Hae Gang menggeleng dengan mata berkaca2. Kemudian, Hae Gang bangkit dari duduknya dan beranjak ke mejanya.

Jin Eon : Tidak, sekarang ini, bagi Do Hae Gang, kau adalah mantan suaminya, tidak kurang tidak lebih. Terlebih lagi, dia ingin mengakhiri hubungan itu.Tolong tunggu sampai Do Hae Gang menelponmu.

Seok lantas menyudahi pembicaraan dan menghela napas.


Hae Gang : Maaf

Seok : Tidak perlu


Hae Gang lalu melirik fotonya dengan Seok yang bertengger manis di meja. Foto yang diambil saat mereka bermain pistol air. Ingatan Hae Gang pun seketika melayang saat dirinya, Seok dan anak2 bermain pistol air di depan rumah. Hae Gang tersenyum mengingat kenangan manis itu.


Jin Eon yang sudah tidak tahan lagi, akhirnya mendatangi kantor Seok. Sesampainya di sana, ia memergoki Hae Gang yang sedang minum soju dengan Seok. Seok lantas memutar music yang sering didengar Hae Gang saat Hae Gang sedang sakit kepala. Jin Eon terpana melihat keduanya.

Seok : Meski orang-orang tidak ingat apapun yang terjadi dalam hidup mereka, aku yakin bahwa mereka tidak akan pernah melupakah hal yang berharga bagi mereka. Dialog dalam film yang disukai Do Hae Gang.


Hae Gang pun memejamkan matanya, menikmati alunan music yang berputar dari ponsel Seok.

Hae Gang : Tolong volumennya.


Jin Eon menatap Hae Gang dengan tatapan terluka. 




Tak lama kemudian, Jin Eon yang sudah tidak dapat lagi menahan emosinya, akhirnya mendekati mereka. Ia menarik kursi dengan kasar dan duduk di tengah2 mereka.


Jin Eon : Kenapa kau tidak minum? Ayo kita minum sama-sama. Masih hari ini, meski hanya tersisa beberapa menit lagi. Kenapa kau tidak mengatakan selamat ulang tahun padaku? Aku ingin mendengarnya darimu sebelum hari ini berlalu. Aku menunggu seharian. Aku menunggu seharian kemarin, tidak, aku sudah menunggu kata-kata itu selama 4 tahun. Tinggal tersisa 3 menit lagi, tidak bisakah kau mengatakannya?

Hae Gang tetap diam…..


Seok : Sekarang hari ulang tahunmu?


Jin Eon : Hae Gang-ah. Do Hae Gang-ah! Apa yang kau lakukan di sini? Kenapa kau menjadi seperti ini? Sikapmu aneh, ini keterlaluan, reaksimu berlebihan! Dimataku, kau sengaja berusaha menghindari aku. Kau dengan putus asa mengabaikan ulang tahunku dan aku, kau seperti bersembunyi dariku.


Hae Gang : Kalau kau ingin berkhayal, lakukan dengan masuk akal. Memangnya kenapa kalau ini hari ulang tahunmu? Memangnya kenapa denganmu? Sadarlah, apa kau masih belum mengerti? Aku datang karena aku penasaran tentang dia. Aku datang karena aku penasaran tentang 4 tahun yang kulewati setelah airmata pria ini selalu berada di pikiranku. Sekalipun aku tidak pernah memikirkanmu. Karena mata orang ini sangat hangat, dan karena kata-katanya sangat menenangkan,. Aku hanya tidak ingin kembali ke hotel.

Hae Gang lantas bangkit dari duduknya.

Hae Gang : Masih ada sisa satu menit, selamat ulang tahu, kau senang?

Hae Gang lalu mengalihkan pandangannya pada Seok.

Hae Gang : Aku akan pergi, terima kasih untuk hari ini.

Seok : Sudah terlalu malam, aku akan mengantarmu


Namun saat akan pergi, Jin Eon menahan Hae Gang dengan memegang lengan Hae Gang. Melihat itu, Seok pun langsung menyingkirkan  tangan Jin Eon dari lengan Hae Gang.


Seok : Dia bilang akan pergi bersamaku. Aku peringatkan kau, jangan mencoba masuk diantara kami. Aku mohon padamu.Jangan menyentuh tangan Do Hae Gang semudah itu.

Jin Eon pun semakin luka. Setelah mengatakan itu, Seok dan Hae Gang pun beranjak pergi.


Hae Gang berjalan dengan terburu2. Tak lama kemudian, Jin Eon keluar menyusul mereka. Jin Eon terpaku melihat Hae Gang yang naik ke dalam taksi bersama Seok. Hae Gang terlihat sedih. Taksi pun mulai melaju. Jin Eon berlari ke jalanan, menatap taksi yang membawa Hae Gang pergi bersama Seok.


Di ranjangnya, Hae Gang terus2an membaca pesan Jin Eon yang meminta ucapan selamat ulang tahun padanya. Ingatan Hae Gang pun melayang ke saat2 dimana ia menghadiahkan dasi pada Jin Eon. Hae Gang juga ingat saat ia membantu Jin Eon memakai dasi.


Nyonya Hong masih protes karena suaminya yang berniat memberikan perusahaan pada Hae Gang. Nyonya Hong ingin tahu alasannya kenapa suaminya melakukan itu. Presdir Choi pun menyuruh Nyonya Hong duduk.

Presdir Choi : Hae Gang adalah anak dari temanku

“Apa? temanmu? teman apa?” tanya Nyonya Hong bingung.

Presdir Choi : Ji Hoon.

Presdir Choi : Ya

Nyonya Hong : Lalu?

Presdir Choi : Ssanghwasan adalah milik Ji Hoo. Ji Hoo yang mengembangkannya. Setelah dia meninggal, Ssanghwasan, aku mengambilnya darinya, menyatakan bahwa akulah yang mengembangkannya.


Nyonya Hong terkejut.

Presdir Choi : Seperti takdir, Hae Gang datang sebagai menantuku, dan di malam hari, orang itu datang mencariku. Aku menerima Hae Gang sebagai takdirku. Aku akhirnya bisa tidur lagi. Jin Eon bisa mengembangkan obat dan Hae Gang yang menjalankan farmasi Cheon Nyeon, mereka bisa hidup seperti itu.


“Mereka sudah bercerai, mereka tidak punya hubungan apa-apa lagi. Apa maksudmu hidup seperti itu? Bagaimana bisa? Kalau Jin Eon tahu, dia bisa jadi gila. Kenapa kau mewariskan dosa-dosamu kepada anakmu? Kau meluruskan kakimu dan tidur sementara anakku hidup sebagai pendosa di samping Hae Gang selamanya? Tidak, aku tidak akan mengijinkannya. Aku tidak bisa membiarkan dia bersama dengan Jin Eon. Saat dia hidup dan bahkan saat dia mati atau kembali dari kematian. Dia akan menarik, mengguncang, menggali dan melukai anakku. Jin Eon tidak boleh bersamanya. Dengan sikapnya yang  dingin dan beracun, Jin Eon akan terluka lagi. Bahkan sekarang, dia menutupi bekas lukanya, dan yang lebih penting dari itu adalah Ssanghwasan?” protes Nyonya Hong.

Presdir Choi : Dia bilang mereka akan memulai kembali. Karena mereka saling merasa kehilangan, mereka akan berubah. Mari kita percaya pada Jin Eon dan Hae Gang. Bekas luka artinya lukanya telah berlalu. Artinya mereka telah pulih, artinya mereka bisa melaluinya.


Nyonya Hong : Lupakan semuanya dan buatlah keputusan. Aku atau Hae Gang?

Presdir Choi terkejut, Apa?

Nyonya Hong : Jawab aku, kau pilih aku atau Hae Gang?

Presdir Choi : Se Hee-ya….

Nyonya Hong pun menatap suaminya itu dengan tatapan terluka.

Nyonya Hong : Aku harap ingatan terakhirku adalah wajah bahagia anakku.


Sementara itu, di kamarnya, Jin Eon sedang menatap foto2 Hae Gang yang tersimpan di kamera. Tak lama kemudian, Jin Ri datang dan langsung menggoda Jin Eon.


Jin Ri : Kau ditolak? Kau ditendang ke jalanan? Benarkan? Cinta macam apa ini? Ini bahkan bukan roller coaster yang berakhir setelah beberapa teriakan. Berapa lama kau mengantri selama ini? Tapi kau disuruh turun setelah kau naik. Apa kau tidak pusing? Dan kau merasa seperti dilemparkan? Itu semua terlihat di wajahmu, kau terlihat jauh lebih tua daripada aku. Inilah yang aku pikirkan, Jin Eon-ah. Isterimu normal dan kaulah yang tidak normal. Berselingkuh adalah kejahatan, bagaimana itu disebut cinta? Kau sedang bermimpi, siapa yang akan mengerti kenapa kau membuat keributan seperti ini? Kau yang pertama kali menembakan panah beracun, lalu kau berharap dewa asmara membalasnya, apakah itu masuk akal? Kaulah yang aneh, Do Hae Gang yang normal.Kau berbuat salah dan gagal. Aku rasa yang tersisa darimu hanyalah menjadi gila. Aku mengatakan ini karena aku mengkhawatirkanmu. Aku takut kau berlompatan seperti orang gila tanpa tahu kau ada di akhirat atau di bumi. Pikirkanlah, isterimu berusaha melakukan balas dendam. Ayah berusaha memberikan farmasi Cheon Nyeon kepada mantan isterimu, terlebih lagi kau adalah musuh... Tentu saja kau akan jadi gila, kenapa tidak? Bagaimana kau tidak akan kehilangan akalmu? Kakakmu ini benar-benar mengkhawatirkanmu, Jin Eon-ah. Bagaimanapun aku memikirkannya, Hae gang adalah rawa dimana kau akan tenggelam atau mati karena dimakan buaya. Apa yang harus kami lakukan denganmu?

Jin Eon : Kalau kau sudah selesai bicara, keluarlah. Seperti yang kau lihat, aku tidak bisa berbuat apa-apa hari ini. Kalau kau tetap di sini, kau mungkin akan tersambar kemarahanku, jadi pergilah.

Jin Ri : Apa kau tidak berpikir saat ini akan datang? Kau benar-benar tidak memikirkannya?

Jin Eon : Tentu saja aku memikirkannya, aku benar-benar memikirkannya. Aku sudah menduganya, aku bersiap menerimanya dan memikirkannya, tapi sekarang aku menghadapinya, tepat di depan mataku, aku tidak tahu harus berbuat apa. Jadi tolong jangan ganggu aku, Noona.


Jin Ri : Jadi kau hanya akan duduk di sana dan menerimanya? Kau akan membiarkan posisimu dan farmasi Cheon Nyeon diambil darimu begitu saja? Mari kita gabungkan kekuatan, bergabunglah denganku. Mari kita sama-sama menghalanginya untuk mendapatkan perusahaan. Kau pasti membencinya seperti aku. Apakah dia salmon? kenapa dia kembali? Siapa yang menunggunya? Kau seharusnya membiarkan saja dia jadi menantu di keluarga itu, kenapa menganggu kebahagiaan orang lain dan menyebabkan kekacauan ini? Kaulah yang bodoh. Kaulah penyebab semua ini. Saat dia bersama keluarga itu, dia terlihat bahagia, dia terlihat seperti manusia. Seandainya kau membiarkan dia menikah dengan kakaknya Seol Ri dia akan bahagia, begitu juga kita. Lagipula itu tidak akan berhasil. Kau menghancurkan semuanya, cinta egoismu menghancurkan kalian berdua, apa kau tahu itu, Jin Eon-ah?

Jin Eon : Keluar. Aku bilang keluar.

Tapi Jin Ri malah terus menatap dan mengganggu Jin Eon.

“NOONA!” teriak Jin Eon, membuat Jin Ri kaget.

Jin Eon : Apa kau tidak mendengarku? Keluar, KELUAR!”


Jin Ri terkejut dan buru2 pergi. Jin Eon menghela nafas. Tapi kemudian dia balik lagi gangguin Jin Eon.

“Tapi apa kau tahu? Do Hae Gang membuangmu untuk Seol Ri. Karena dia membuangmu, dia menyuruhku untuk menyingkirkanmu dari pandangannya. Kau bukannya sampah yang harus dibuang atau dibersihkan, wanita itu, dasar!” ucap Jin Ri.

Jin Eon pun hanya bisa menghela nafas….


Sementara itu, di hotel. Sambil membaca sebuah dokumen, Hae Gang berbicara dengan Tae Seo via telepon. Hae Gang mengaku bahwa ia sudah mendapatkan apa yang dipinta Tae Seok. Tae Seok pun terkesima mendengarnya dan penasaran bagaimana cara Hae Gang mendapatnya.

“Aku rasa Dokgo Yong Gi tidak akan memberikannya kepadamu semudah itu. Apakah adikmu memberikannya kepadamu. Apakah dia mempercayaimu?” ucap Tae Seok.

“Aku mencurinya tanpa sepengetahuannya.Pasword tasnya adalah ulang tahunnya, dia tidak mengetahuinya.” Jawab Hae Gang.

Tae Seok pun tertawa puas mendengarnya. Hae Gang tampa muak mendengar tawa Tae Seok itu.

“Jabatan Choi Jin Eon...maksudku, jabatanku, siapkan segera.” Suruh Hae Gang.

“Senjataku selalu terisi penuh dengan peluru, jadi jangan khawatir. Apa kau tidak akan menyesalinya? Apa kau yakin nanti tidak akan menyesalinya, pengacara Do?” tanya Tae Seok.

“Sudah terlalu banyak yang aku sesali.” Jawab Hae Gang.

“Baiklah, aku akan berada di kantor jam 2 nanti, sampai jumpa di sana. Aku akan menemuimu nanti.” Ucap Tae Seok.


Usai berbicara dengan Tae Seok, Hae Gang pun menatap dokumen Kim Sun Yong di tangannya.

“Aku akan mempercayainya sekarang dan mencurigainya nanti. Aku bisa melihat gerakannya hanya kalau aku percaya padanya sekarang. Aku bisa tahu apakah dia palsu atau asli selama itu.” ucap Tae Seok.


Sementara itu, Jin Ri lagi ngadu ke ayahnya tentang Hae Gang yang menginginkan posisi Jin Eon. Jin Ri juga berkata tentang Hae Gang yang mau bales dendam pada Jin Eon. Namun Presdir Choi memilih untuk mempercayai Hae Gang. Presdir Choi yakin Hae Gang bukanlah orang seperti itu. Mendengar itu, Jin Ri kecewa.


Jin Ri : Ayah dan anak sama saja, bagaimana kalian bisa tidak melihat dengan baik pada seorang wanita? Ayah dan Jin Eon telah ditipu oleh Do Hae Gang. Ahh, ini sangat membuat frustasi. Apa yang dilakukannya setelah dia kembali hidup, setelah dia kembali? Dia itu monster ayah, dia itu iblis, setan. Tolong sadarlah!


Presdir Choi pun mulai resah setelah mendengar perkataan putrinya.


Yong Gi panik karena tidak menemukan dokumen dan USB yang berisi rekaman video Sun Yong di tasnya. Ia bahkan menanyakan dokumen itu pada Woo Joo, namun Woo Joo yang kadung berjanji dengan Hae Gang memilih menutup mulutnya. Tiba2 terdengar teriakan Nyonya Kim yang mengajak Woo Joo makan. Yong Gi pun seketika tersadar saat mendengar teriakan Nyonya Kim. Ya, dia pikir Nyonya Kim yang mencurinya!!


“Pemisi, permisi, apakah kau menyentuh barang-barang milikku?” tanya Yong Gi.

“Apa maksudmu?” tanya Nyonya Kim bingung.

"Tasku! Apa kau memeriksanya?” tanya Yong Gi.

“Apa? Tidak, kenapa aku memeriksa barang-barangmu tanpa meminta ijin?” jawab Nyonya Kim.

“Karena...karena...”


Yong Gi pun langsung tersadar dan menatap sebal ke arah kamar Gyu Seok. Yess, sekarang ia berpikir Gyu Seok yang mengambilnya maka Yong Gi bergegas ke kamar Gyu Seok.

“Tidak bisakah kau mengetuk?” protes Gyu Seok yang saat itu tengah mengenakan kaus kakinya.

“Pikiranku terbakar seperti gunung berapi sekarang, saat kau ada di kepalaku, pikiranku mendidih seperti lava panas.” Jawab Yong Gi.


 “Itu bukan urusanku, seperti yang kau bilang, aku hanyalah ikan kuning.Lupakan, kau harus melupakannya dengan cepat, Nona Dokgo Yong Gi.” ucap Gyu Seok.

Kau menyuruhku untuk mempercayaimu, kau bilang "mari kita hidup bersama"! Kau menyuruhku untuk tinggal di samping si ikan kuning itu. Apa alasanmu? apa tujuanmu? apa yang kau rencanakan? Katakan sejujurnya padaku!” sewot Yong Gi.

Tak lama kemudian, Woo Joo nongol dan cuma diem ngeliat emaknya marah2.

“Aku mengkhawatirkanmu, nona Dokgo Yong Gi. Aku menyukai Dokgo Woo Joo. Yong Gi dan Woo Joo adalah kata-kata yang sering aku ingat dengan perasaan buruk terlebih dulu (Yong Gi) dan perasaan baik setelahnya (Woo Joo).Itulah alasanku, tujuanku dan rencanaku, Nona Dokgo Yong Gi.” jawab Gyu Seok.


“Bukankah kau yang mengambil amplop di dalam tasku?” tuduh Yong Gi.

“Untuk apa aku mengambilnya?” tanya Gyu Seok.

“Itu karena...karena...”

“Karena...selesaikan kata-katamu.” Suruh Gyu Seok.

“Kakakmu! Untuk menyerahkannya ke farmasi Cheon Nyeon.” Tuduh Yong Gi.


“Jadi maksudmu, isi dari amplop itu ada kaitannya dengan farmasi Cheon Nyeon? Seperti dokumen pembuka rahasia, benarkan? Apa kau mengunci tasmu?” tanya Gyu Seok.

“Tentu saja aku menguncinya.” Jawab Yong Gi.

“Kalau begitu seseorang pasti membuka tasmu dan mengambil amplop itu, apa paswordmu?” tanya Gyu Seok.

“Ulang tahunku.” Jawab Yong Gi.

“Kalau begitu, pelakunya pastilah orang yang mengetahui ulang tahunmu.” Ucap Gyu Seok.

“Kalau seseorang ingin tahu hari ulang tahunku, bukankah mudah saja? Terutama kalau aku dipermainkan?” protes Yong Gi.

“Aku akan menemui kakakku.” Jawab Gyu Seok.


Gyu Seok pun langsung mengalihkan pandangannya pada Woo Joo. Woo Joo menghela napas. Ingatannya melayang ke saat ia memergoki Hae Gang mengambil dokumen itu. Melihat reaksi Woo Joo, Gyu Seok pun bisa menebak siapa pelakunya.


Hae Gang akhirnya menyerahkan dokumen itu ke Tae Seok!!

“Kita bisa membuat kopian videonya, tapi catatannya ditulis tangan itu sebabnya kau mempertaruhkan hidupmu demi catatan harian Kim Sun Yong?” tanya Hae Gang.

“Apakah adikmu tahu kalau pengacara yang mewakili perusahaan untuk menuntut Kim Sun Yong adalah kau, pengacara Do?” ucap Tae Seok.


“Itu sebabnya dia membenciku, dia bilang akan membalasku. Untuk menangkapku dan Presdir Min Tae Seok.” Jawab Hae Gang.

“Jadi, apa rencanamu untuk menghalangi adikmu kali ini?” tanya Tae Seok.

“Mari kita dengarkan dulu rencanamu untuk menyingkirkan Choi Jin Eon.” Jawab Hae Gang.


Sementara di ruangannya, Jin Eon sedang memeriksa sebuah dokumen. Hyun Woo sibuk mengocek bahwa alat untuk menghentikan penyadapan yang ada di meja Jin Eon bernilai ₩ 30 juta.

Hyun Woo : Pada saat seperti ini aku menyadari kau benar-benar anak orang kaya. Aku sangat mengagumimu sebanyak yang aku bisa. Apa kau menerima beberapa milyar won dari saham sejak kau berumur 6 atau 7 tahun dan membuatnya menjadi 10 milyar won dalam 10 tahun?

Jin Eon : Mungkin saja

Hyun Woo : Hei, Chaebol, bagaimana kalian hidup? Kenapa kau berusaha keras sekali, padahal kau sudah memiliki segalanya?

Jin Eon : Kami hidup dengan saling bertarung. Melihat kelemahan orang lain, kami hidup dengan bergantung pada kelemahan orang lain.

Hyun Woo : Apa?

Jin Eon : Ini adalah catatan perusahaan kakak iparku. Mari kita hantam dia dengan ini, dia memiliki 10 rekening bank.


Hyun Woo :  Wow, dia menyimpan banyak sekali, baguslah kita melakukan hacking. Semua kelemahan Presdir Min Tae Seok ada ditanganmu sekarang, bagaimana dia bisa menyingkirkanmu? Dialah yang berbuat, dan Hae gang tidak tahu apa-apa. Tapi tidakkah Hae Gang terlalu berlebihan? Bahkan sampai melaporkanmu ke polisi, sepertinya dia ingin mempermalukanmu. Kelihatannya seperti pertarungan anjing diantara kalian berdua. Mari kita bersihkan diri kita dan biarkan mereka saling mengejar. Mari kita bereskan barang-barang kita dan pergi ke departemen penelitian Kau dan Hae Gang sudah bertemu kembali, tapi pertarungan ini,Ini tidak benar, Jin Eon. Bukan hanya cintamu, tapi jiwamu juga bisa hancur.

“Meskipun seseorang tidak bisa mengingat apa yang terjadi dalam hidup mereka aku yakin bahwa mereka tidak akan pernah melupakan hal yang paling berharga bagi mereka.” Jawab Jin Eon.

Hyun Woo : Apa?


Jin Eon : Itu adalah dialog dari film yang kami tonton sama-sama di musim gugur tahun 2003, dialog kesukaan kami. Meski dia kehilangan ingatannya, meski ingatan terburuknya kembali, aku yakin dia tidak akan pernah melupakan hal yang berharga baginya. Nanti, setelah waktu berlalu... Supaya masa menyakitkan ini menjadi masa yang berharga aku tidak punya pilihan selain bertarung, aku harus menang. Kalau aku menang…


Belum lagi selesai kata2 Jin Eon, kita sudah dialihkan ke adegan Tae Seok yang mengaku bahwa dirinya sudah mengirim uang ke rekening Jin Eon.

Tae Seok : Besok pemeriksaan akan dilaksanakan. Minggu depan, akan ada pertemuan pemegang saham, dalam waktu sebulan kita bisa menyingkirkan dia. Kau juga tahu bahwa itu tidaklah sulit.


Tae Seok kemudian hendak mengambil dokumen Kim Sun Yong tapi sebelum Tae Seok sempat menyentuhnya, Hae Gang sudah keburu mengambilnya dan berkata kalau mereka harus menyimpan dokumen itu di tempat yang aman.

Hae Gang : Menurutku, kalau ini berada di tanganmu, aku kehilangan jaminan atas keselamatan adikku. Aku bisa menyimpannya di brangkas, tapi aku tidak bisa menyerahkannya kepadamu.


Tae Seok : Mari kita siapkan brangkas, yang hanya bisa dibuka kita berdua. Kedengarannya bagus

Hae Gang : Kau boleh menyimpan USBnya. Aku punya kopiannya

Tae Seok : Bagaimana rencanamu untuk menutup mulut adikmu?

Hae Gang : Apalagi selain mengirimnya keluar negeri? Sulit bagiku melakukan lebih dari itu, karena dia adalah adik kandungku.

Tae Seok : Pastikan kau mengirimnya, dia harus pergi, kalau tidak…

Hae Gang emosi, kemudian melemparkan dokumen Kim Sun Yong ke meja.


Hae Gang : Ini ada bersamaku. Kenapa semuanya menjadi perbuatanku? Kenapa di tempat yang seharusnya tertera nama Min Tae Seok menjadi namaku? Setelah membuat aku mati, kau memberikan penghormatan. Kau menenangkan ibuku dengan membuat perayaan kematianku setiap tahunnya. Bagaimana kau bisa melakukannya? Bahkan setelah 4 tahun, kau bersikap manusiawi, meskipun sebenarnya kau tidak layak melakukannya. Berikan semua dokumen yang memuat namaku.Kalau tidak, aku akan membuat ini menjadi masalah.

Wajah Tae Seok pun semakin terlihat tegang setelah mendengar ancaman Hae Gang.

Jin Eon keluar terburu2 dari ruangannya, ditemani Hyun Woo. Jin Eon langsung menghampiri Seketaris Nam.Seketaris Nam berkata kalau ia sudah menyelidiki fax yang diminta Jin Eon dan fax itu berasal dari sebuah toko.

“Dan lihatlah semua CCTV yang berada dalam radius 1 km.” suruh Jin Eon

Seketaris Nam : Ah, ya, aku mengerti

Manajer Byeon lantas memberitahu Jin Eon tentang keberadaan Hae Gang di ruangan Tae Seok. Mendengar Manajer Byeon menyebut Hae Gang sebagai istri Jin Eon, Hyun Woo pun menyahut dengan berkata bahwa Hae Gang tidak pernah semenit pun menjadi istri Jin Eon.

Jin Eon lantas mengajak Hyun Woo makan. Hyun Woo terkejut, ia bertanya apa Jin Eon tidak mau menemui Hae Gang?

Jin Eon : Ayo kita pergi

Tak lama setelah kepergian Jin Eon, Hae Gang keluar dari ruangan Tae Seok. Hyun Woo pun langsung memberitahu Hae Gang bahwa Jin Eon berada di lift.

Hae Gang : Kau terlihat lebih baik dalam jas lab daripada yang kau pakai sekarang, kalian berdua.

Hyun Woo : Oh, benarkah? Ada yang ingin kubicarakan, apa kau mau makan siang?

Hae Gang : Apa yang ingin kau bicarakan denganku?

Hyun Woo : Mari kita bicara sambil makan, ayo kita pergi.

Jin Eon yang sudah menunggu Hyun Woo di dalam lift pun terkejut kala melihat Hyun Woo datang bersama Hae Gang.

Sementara itu, sambil menatap ke arah lift, Manajer Byeon mengoceh dengan berkata berapa banyak kepribadian yang dimiliki Hae Gang.

Manajer Byeon : Do Hae Gang, berapa banyak wajah yang dia miliki?


Hyun Woo berdiri di tengah2 Jin Eon dan Hae Gang. Terlihat mata Hae Gang yang berkaca2. Hyun Woo memberitahu Jin Eon bahwa mereka akan makan siang bersama Hae Gang.

Jin Eon : Apa kau bilang aku juga ikut?

Hyun Woo : Tidak.

Jin Eon : Tanya lagi padanya


Hyun Woo : Sebenarnya, dia ikut bersamaku, bolehkan aku membawanya? Kalau kau keberatan, orang yang mirip dengan orang Arab ini, aku akan memakaikan kopiah padanya dan membuatnya duduk tenang di sampingku. Anggap saja kau membawa kuda piaraanmu yang kau rawat di rumahmu.

Hae Gang diam saja, sementara Jin Eon berkata tidak mau ikut.

“Tidak boleh, kalau kau menerima hadiah ulang tahun, kau harus membalasnya. Sadarlah, dasar kau anak orang kaya.” Ucap Hyun Woo.


Hae Gang pun semakin memalingkan wajahnya. Kesedihan terlihat jelas di raut wajahnya. Jin Eon menatap Hae Gang dengan tatapan memohon, tapi karena Hae Gang tetap dengan sikap dinginnya, akhirnya Jin Eon kembali memalingkan wajahnya dari Hae Gang dengan wajah kesal.

“Aku akan menelpon restoran Jepang di Hotel Hal Ra, kau pergilah kesana.” Ucap JiN Eon.

“Kau tidak akan pergi?” tanya Hyun Woo.

“Tidak, makanlah dengan nyaman.” Jawab Jin Eon, lalu keluar dari lift.


Mata Hae Gang kembali berkaca2 saat melihat Jin Eon yang keluar dari lift. Sementara di depan lift, Jin Eon masih menunggu Hae Gang mengejarnya. Tapi pintu lift kemudian menutup. Jin Eon pun akhirnya memutuskan untuk pergi.


Hyun Woo : Apakah dia tidak bisa dimaafkan selamanya karena membuat satu kesalahan? Kita bukan Tuhan, kita ini manusia. Sebagai manusia, kita berbuat salah dan saling memaafkan dengan beberapa tamparan di pipi. Tidak ada yang namanya manusia sempurna ataupun cinta yang sempurna. Setiap orang akan mengisi kekurangan masing-masing. Ada lagu yang berjudul "jembatan di air yang bermasalah"

Rona kesedihan Hae Gang pun semakin terlihat jelas di wajah cantiknya.


Jin Eon menyusuri jalanan dengan wajah lesu. Langkahnya kemudian terhenti. Ia mematung sejenak, sebelum akhirnya kembali melanjutkan langkahnya. Tanpa di sadari Jin Eon, Hae Gang ada di belakangnya. Hae Gang menatap Jin Eon dengan tatapan sedih.


Jin Eon lantas duduk di emperan kafe. Ia mematung sejenak, sebelum akhirnya menyantap ramen nya.

Tanpa disadarinya, di dalam kafe, Hae Gang duduk tepat disampingnya, sedang menyantap ramen sambil memperhatikannya.


Jin Eon kemudian pergi ke game center, tempat yang didatanginya terakhir kali bersama Hae Gang ketika ingatan Hae Gang belum kembali sepenuhnya. Tanpa ia sadari, Hae Gang menatapnya di belakang dengan tatapan cemas.


Jin Eon kemudian berdiri di depan asrama Hae Gang saat masih kuliah dulu. Ingatan Jin Eon seketika kembali ke masa lalu.

Flashback….

Tampak Jin Eon yang menunggu Hae Gang di bawah jendela. Tak lama kemudian, Hae Gang membuka jendela dan menyuruh Jin Eon pergi. Hae Gang lantas kembali menutup jendela dan beranjak ke mejanya. Namun tak lama, ia kembali membuka jendela dan menerbangkan pesawat kertas ke arah Jin Eon. Jin Eon memungut pesawat kertas itu dan membukanya, lalu membaca tulisan di dalamnya.

Saat sedang belajar, aku lupa dan berkencan dengan seseorang. Orang itu mungkin adalah kau. Kalau aku gagal dalam ujian dan menjadi gila dan pergi minum semalaman bersama seseorang, orang itu mungkin adalah kau. Kalau aku tiba-tiba memikirkan seseorang saat sedang belajar, orang itu mungkin saja adalah kau. Kalau aku merindukan seseorang saat berada di kamar ini, orang itu mungkin saja adalah kau. Karena hidupku, hidupnya Do Hae Gang adalah milikmu, Choi Jin Eon. Bisakah kau pergi kalau begitu?  Pergilah saat aku menyuruhmu pergi. Aku benar-benar harus belajar, Choi Jin Eon.

Jin Eon kemudian pergi dengan gembira…

Flashback end……


Jin Eon : Aku percaya padamu, matamu yang bersinar dan membutakan. Saat kebersamaan kita dan kenangan kita , aku percaya padamu, Hae Gang-ah. Bahwa kau tidak akan melupakan hal yang berharga. Aku percaya padamu, Do Hae Gang.

Jin Eon lantas beranjak ke asrama Hae Gang, tanpa sadar kalau Hae Gang terus mengawasinya dengan mata berkaca.


Hae Gang : Aku tidak akan lupa. Saat-saat kebersamaan kita... Kenangan kita... Aku akan menghargainya dan bergantung padanya selamanya. Choi Jin Eon.


Jin Eon kemudian berdiri di bawah jendela asrama Hae Gang. Hae Gang akhirnya pergi dengan tangisnya yang terus mengalir.

Woo Joo memulai pengobatannya. Yong Gi duduk disamping Woo Joo dengan muka lesu sambil memijit kaki Woo Joo. Gyu Seok menyuruh Woo Joo tidur karena pengobatan yang diterima Woo Joo akan memakan waktu 2 jam lebih.

“Dokgo Yong Gi-ssi, kau harus bekerja, aku akan membawanya setelah selesai.” Ucap Gyu Seok pada Yong Gi.

Gyu Seok lantas beralih ke Woo Joo.


Gyu Seok : Tutup matamu dan tidurlah, Dokgo Woo Joo-ssi.

Woo Joo : Tapi aku tidak mengantuk dokter. Jantungku berdetak sangat kencang. Bisakah kau menyanyikan lagu supaya aku tertidur, dokter?

Gyu Seok : Menyanyi?

Woo Joo : Jantungku terus berdetak kencang

Gyu Seok : Baiklah, aku akan menyanyi, tutup matamu, Woo Joo-ssi

Woo Joo pun mulai memejamkan matanya. Dan Gyu Seok mulai bernyanyi. Tapi begitu mendengar nyanyian Gyu Seok, Woo Joo malah membuka matanya dan Yong Gi tersadar dari lamunannya. Yong Gi dan Woo Joo tertawa geli mendengar nyanyian Gyu Seok.


Di ruangannya, Gyu Seok sedang menatap dua USB. Tak lama kemudian, ponselnya berdering dan ia menerima pesan singkat dari sang adik. Ya, Gyu Seok mengirimi Tae Seok SMS. Dalam SMSnya, ia bertanya apa Tae Seok mengambil barang Yong Gi. Gyu Seok juga mengaku akan ke kantor sang kakak jam empat nanti untuk mengambil barang Yong Gi. Tae Seok pun panic.


Seol Ri sedang membereskan kamar Yong Gi. Ia membuka laci dan memasukkan isi laci ke dalam kardus dengan kasar. Seol Ri kemudian tertegun saat melihat kertas2 di dalam kardus di bawah meja. Seol Ri mengeluarkan kardus itu dari bawah meja dan membaca kertas2 yang ditulisi anak2.


“Aku sungguh, sungguh mencintaimu   Yong Gi Eonni.” Tulis anak2.


Ingatan Seol Ri pun langsung melayang pada kata2 Hae Gang kemarin ketika mereka bertemu di kafe.

“Kau tidak bisa dibandingkan denganku, Kang Seol Ri. Meski aku mati, bahkan meski aku menjadi orang yang berbeda. Bahkan saat aku kehilangan ingatanku, kau tidak pernah menang sekalipun dariku. Kau tahu kenapa? Karena kau tidak pernah memiliki pria itu.Karena tidak pernah sekalipun kau menerima cinta dari pria itu, kau hanya terus berharap. Kau saja yang menyebut itu cinta, kau menyebutnya cinta. Kau hanya bersikeras saja, apa kau mengerti?”


Seol Ri emosi… ia memasukkan barang2 Hae Gang ke dalam kardus dengan kasar. Tak lama kemudian, Tuan Baek datang dan terkejut melihat yang dilakukan Seol Ri. Tuan Baek menyuruh Seol Ri berhenti dan berkata ia yang akan membersihkan kamar itu.

Seol Ri : Tidak, aku yang akan melakukannya. Aku sendiri yang akan membuangnya, aku akan membuang semuanya.

Seol Ri mengatakannya dengan emosi.

Tuan Baek : Kenapa dibuang? Kau bisa memberikannya kepada orang yang memerlukannya.

Seol Ri : Aku tidak mau. Aku ingin membakarnya ayah, harus dengan tanganku sendiri, semua ini, tanpa menyisakan satupun, aku akan membakar semuanya.

Sorot mata Seol Ri tampak menunjukkan kebencian yang mendalam.


Tuan Baek : Baik, bakarlah kalau begitu. Bakar saja semuanya, tapi semuanya harus berakhir hari in. Jangan hanya membakar barang-barang itu saja tapi bakar juga hati itu, mengerti?

Tuan Baek pun beranjak meninggalkan Seol Ri. Tangis Seol Ri pecah. Ia lantas kembali memasukkan barang2 bekas Hae Gang ke dalam kardus dengan emosi. 

Bersambung ke part 2......

7 comments: