Sunday, November 13, 2016

I Have a Lover Ep 31 Part 2

Sebelumnya....


Seol Ri mulai membakar barang2 Hae Gang. Ia memasukkan barang2 Hae Gang ke dalam tong dengan kasar. Tak lama kemudian, Baek Jo pulang dan mengagetkan Seol Ri.

Baek Jo : Ayah bilang kau akan datang, kau benar-benar datang. Apa kau benar-benar akan tinggal bersama kami sekarang?

Seol Ri : Yeah.


Baek Jo : Kau tidak akan pergi kemanapun kan? Kau tidak akan meninggalkan kami kan?

Seol Ri : Yeah.

Baek Jo : Siapa yang memerlukan Yong Gi Eonni? Kami juga tidak memerlukan orang seperti dia. Dia bilang dia melupakan kami, dia melupakan semuanya. Dia bahkan bilang tidak tahu siapa kami. Apakah itu masuk akal? Aku juga sudah melupakannya. Kami juga sudah melupakan Yong Gi Eonni. Seol Ri Eonni, aku bersungguh-sungguh.


Baek Jo mulai menangis. Tangis Seol Ri juga pecah. Tangis Baek Jo semakin menjadi saat melihat barang2 Hae Gang yang dibakar Seol Ri. Seol Ri pun memeluk Baek Jo. Sementara Baek Jo terus memanggil2 Hae Gang.


Hae Gang pergi ke lemari besi nya. Ia bermaksud menyimpan dokumen Kim Sun Yong di sana. Namun saat membuka brankasnya, ia tertegun melihat sebuah obat. Ingatannya pun melayang saat ia menemukan obat itu di laci Seol Ri, juga saat ia melihat Seol Ri meminum obat itu ketika dirinya mendatangi Seol Ri di kafe tempat Seol Ri bekerja.

Hae Gang lantas membaca dokumen yang berisikan daftar peserta yang mengikuti tes uji klinis Pudoxin. Nama Seol Ri termasuk di dalamnya.


Tak lama kemudian, Hae Gang menerima panggilan dari Presdir Choi. Presdir Choi mengundang Hae Gang untuk makan malam di rumahnya dan mengaku ada sesuatu yang mau ia konfirmasi. Hae Gang menolak. Ia mengaku tidak nyaman berada di rumah Presdir Choi dan mengajak Presdir Choi makan diluar.

“Aku memang ingin membuatmu merasa tidak nyaman, jadi jangan katakan apapun dan datanglah. Aku tunggu di rumah.” Jawab Presdir Choi.

Pembicaraan selesai. Hae Gang menghela nafas usai bicara dengan Presdir Choi.


Jin Eon menerobos masuk ke ruangan Tae Seok sambil membawa sebuah dokumen. Jin Eon mengaku bahwa ia baru saja mendengar tentang dirinya yang dituduh menggelapkan dana oleh tim audit. Tae Seok menghela napas, kemudian berkata bahwa Jin Eon tahu bukan itu yang diinginkannya.

Tae Seok : Pada posisiku sekarang, sulit untuk menolak permintaan pengacara Do. Aku juga harus bertahan. Kalau kau bersedia menerima jabatan sebagai kepala laboratorium, maka aku akan memerintahkan tim audit untuk berhenti. Meski kau sedikit kehilangan wajahmu, tapi kau tidak akan kehilangan wajahmu sepenuhnya. Mari kita usahakan kau berhenti dari jabatanmu sekarang secara terhormat.

Jin Eon kemudian duduk di hadapan sang kakak ipar.

Jin Eon : Aku rasa kau dan Hae Gang, terlalu remeh memandangku. Kenapa kau berpikir aku hanya akan duduk saja dan menerimanya? Kenapa kau tidak berpikir kalau aku yang akan menghentikanmu duluan?

Tae Seok : Menghentikan aku? Kau, adik ipar? Bagaimana? Apa yang bisa kau lakukan?


Barulah Jin Eon menunjukkan dokumen itu pada Tae Seok.

Jin Eon : Aku tidak akan menemui tim audit, aku akan langsung menemui jaksa. Penyelidikan Transfer ke rekening bank asing.

Tae Seok terkejut melihat dokumen itu. Ia panic dan bertanya bagaimana Jin Eon bisa mendapatkan dokumen itu.

“Akulah pelaku hacking waktu itu.” aku Jin Eon.

Tae Seok kaget, Apa?


Jin Eon : Aku yang memegang garis kehidupanmu, bukan Hae Gang. Tanganku, tangan ini, bisa melakukan apapun. Dan yang terpenting, ini sangatlah mudah. Kalau aku menekan mouse, maka semuanya akan berakhir. Aku akan mempertahankan posisiku, aku tidak akan pergi kemanapun. Farmasi Cheon Nyeon tidak akan menjadi milikmu ataupun Hae Gang, aku yang akan mendapatkannya. Jadi jangan bawa masuk Hae Gang ke perusahaan. Halangi dia masuk kembali ke perusahaan, kau harus melakukannya tanpa gagal, maka aku akan menahan tangismu karena merasa malu dihadapan jaksa. Aku mengijinkan kau menjaga wajahmu dan tetap berada di posisimu. Karena aku punya banyak kartu tersembunyi, aku bisa menyingkirkanmu kapan saja


Gyu Seok membawa Woo Joo ke kantor Jin Eon. Gyu Seok datang untuk menemui Tae Seok. Begitu melihat Woo Joo, Manajer Byeon langsung memamerkan tingkah konyolnya membuat Woo Joo nyaris tertawa. Gyu Seok pun langsung menyuruh Manajer Byeon berhenti bersikap konyol. Seketaris Nam menyuruh Gyu Seok masuk ke dalam.

Tae Seok : Adikku ada di sini. Tolong pergilah.

Jin Eon : Aku akan menantikan jawabanmu.


Jin Eon keluar. Bersamaan dengan itu, Gyu Seok masuk bersama Woo Joo. Woo Joo pun langsung memanggil Jin Eon dengan panggilan Paman Pororo. Jin Eon tersenyum dan menyapa Woo Joo sejenak. Jin Eon kemudian mengalihkan pandangannya ke Gyu Seok.


Jin Eon : Sudah lama tidak bertemu. Aku akan membawa Woo Joo saat kau berbicara dengan kakakmu. Tolong panggil aku setelah kalian selesai bicara.

Gyu Seok menatap si imut Woo Joo.

Gyu Seok : Dokgo Woo Joo-ssi, maukah kau bermain dengan paman Pororo sebentar?

Woo Joo mengangguk. Gyu Seok kemudian berkata lagi.


Gyu Seok : Apa kau ingat pada Ahjussi ini?

Woo Joo mengangguk sembari menatap Tae Seok dengan wajah takut.

Gyu Seok. Ini adalah Hyung. Hyung ku. Dia adalah kakak yang baik. Seperti ibumu, dia membesarkan aku. Kalau bukan karena kakakku, aku tidak akan berada di sini. Beri salam padanya sebelum kau pergi.


Woo Joo pun langsung memberi salam pada Tae Seok dengan senyum mengembang. Namun senyumnya menghilang karena Tae Seok menatapnya tajam. Jin Eon lantas mengajak Woo Joo keluar. Begitu mereka pergi, Tae Seok langsung menatap sang adik dengan wajah tegang.


“Ini sangat enak, tapi kenapa paman Pororo tidak memakannya?” tanya Woo Joo sambil asyik menikmati es krim.

Jin Eon : Melihatmu makan sudah membuat paman senang. Manis sekali melihatmu makan. Ini rahasia yang hanya paman katakan kepadamu tapi belakangan ini paman sangat sedih, dan tanduk paman tumbuh. Tapi saat paman melihatmu, tanduk paman meleleh. Dan seluruh kesedihan dihati paman telah meleleh, semuanya hilang karena dirimu sangat cantik.


Woo Joo : Ibu juga bilang begitu padaku. Hanya dengan melihatku, ibu akan meleleh. Semuanya meleleh

Jin Eon : Apa kau sudah bertemu dengan bibimu?


Mendengar pertanyaan Paman Pororo-nya, Woo Joo langsung diam.

Jin Eon : Ahjumma cantik yang mirip dengan ibumu. Apa kau juga berbicara dengannya?

Woo Joo : Dia tidak suka padaku. ‘Apa kau tidak akan pergi? Keluar, sekarang!’ Begitu dia berteriak padaku.  Apa kau kenal dengan Ahjumma itu?”

Jin Eon : Paman kenal dia lebih baik daripada seluruh orang di dunia ini

Woo Joo : Kalau begitu, dia baik atau jahat?

Jin Eon : Tentu saja dia sangat baik. Dia adalah saudara ibumu dan juga bibimu

Woo Joo : Kalau begitu, apakah dia juga menepati janjinya?

Jin Eon : Apa kau membuat janji dengan bibimu? Janji apa?

Namun Woo Joo menolak mengatakannya.


Gyu Seok terkejut saat Tae Seok berkata kalau Hae Gang lah yang mencuri barang2 Yong Gi.

Jin Eon : Janji apa yang kau buat dengan bibimu? Kau tidak akan memberitahuku?

Woo Joo tetap diam.

Jin Eon : Dia pasti menyuruhmu untuk tidak mengatakannya pada siapapun?

Woo Joo mengangguk. Tak lama kemudian, Gyu Seok datang dan menyuruh Jin Eon mengatakan pada Hae Gang untuk mengembalikan barang milik Yong Gi.


Jin Eon kaget , Apa?

Gyu Seok : Barang yang diambil tanpa sepengetahuannya?

Woo Joo : Dokter kau juga tahu? Oh, tapi itu kan rahasia?

Jin Eon terhenyak mendengar kata2 Woo Joo.

Jin Eon : Tolong katakan secara mendetil apa yang diambilnya. Dengan begitu aku bisa mengembalikannya


Gyu Seok : Do Hae Gang mengambil video dan jurnal Kim Sun Yong tentang pengembangan obat Pudoxin.

Jin Eon terkejut, Apa? Apa kau bilang?


Jin Eon langsung ke hotel. Setibanya di sana, ia melihat Seok membawa sebuket bunga di lobby. Seok beranjak menuju lift. Jin Eon mengejar Seok, namun pintu lift keburu tertutup. Jin Eon berusaha mencari lift lain tapi karena terlalu lama akhirnya Jin Eon memutuskan ke kamar Hae Gang dengan menaiki tangga darurat.


Napas Jin Eon memburu. Keringat membasahi sekujur tubuhnya ketika ia tiba di atas. Sesampainya di atas, ia melihat Hae Gang yang menerima bunga Seok dengan wajah sumringah. Jin Eon pun semakin terluka. 


Seok : Apa kau sengaja menyuruhku untuk membelinya supaya Choi Jin Eon melihatnya?

Hae Gang : Kalau dia melihat kau datang kesini, dia akan beranggapan kita sedang berkencan.

Seok :  Aku tidak apa-apa dengan kencannya. Supaya terlihat nyata, lebih baik kalau kita berkencan sungguhan.

Hae Gang tersenyum geli mendengar kalimat Seok itu.

Hae Gang : Apakah tuntutan Mon Tae Joon diambil alih oleh ibunya?


Seok : Yeah. Ini adalah dokumen orang-orang yang berpartisipasi pada tes klinis Pudoxin. Mari kita berpencar menemui orang-orang ini dan memeriksa efek sampingnya pada mereka. Mari kita beri mereka peringatan akan bahayanya dan buat mereka memasukkan tuntutan.

Seok : Wow, bagaimana dokumen ini...?

Hae Gang : 4 tahun yang lalu, aku menyimpan dokumen ini karena Kang Seol Ri.

Seok terkejut, Apa?

Hae Gang : Kang Seol Ri juga ikut berpartisipasi pada tes klinis Pudoxin.

Seok semakin terkejut , Apa kau bilang?

Hae Gang : Bawa dia ke rumah sakit untuk pemeriksaan. Mungkin bukan apa-apa, hanya untuk berjaga-jaga.

Seok pun langsung kehilangan kata2. Ia tidak menyangka bahwa adik angkatnya ikut mengkonsumsi Pudoxin.


Sementara diluar, Jin Eon melangkah gontai menuju kamar Hae Gang. Ia bahkan sampai menjatuhkan jaketnya ke lantai.

Tangan Jin Eon terangkat, ia mau memencet bel.


Sementara di dalam, Hae Gang mulai menuangkan wine ke dalam dua gelas. Hae Gang menghela napas… kesedihan kembali terlihat di wajahnya.


Dan diluar, Jin Eon tiba2 saja limbung…..

Bersambung……………

Preview Ep 32

5 comments: